Work Text:
Seharusnya Tuhan menghukumnya saja.
Bukan hal senonoh saat jelas-jelas kau terlibat hubungan dengan satu orang, tapi terlihat sangat berantakan di bawah orang lain. Akal sehat memang terkadang bisa menghilang, tapi bukan dengan begini; telanjang, dipergunakan dengan sungguh kasar, menangis penuh nafsu sampai ditertawakan dengan air matanya yang asin. Ini hanya perumpamaan, kalau-kalau Takemichi dijeburkan ke neraka terdalam dimandikan oleh panasnya, ia tak akan berusaha komplain.
Sudah melakukan yang terbaik sampai sejauh ini adalah keajaiban untuknya. Takemichi tidak pernah sekalipun menyesali hidup, alih-alih merasa tiap lembaran waktunya adalah yang terbaik sejagad raya. Tapi dosa itu berbagai macam, jangan merasa paling suci saat kau mendapati temanmu ditiduri seperti jalang, dan kau merasa dirimu bukanlah jalang di waktu lainnya.
Kau hanya belum, nantikan saja bagaimana rasa denial menjadi rasa nikmat saat kau sadar kalau kehidupan ini bukan selalu hitam dan putih, atau antonim dan sinonim. Dosa bukanlah polisemi yang minim.
Harusnya bukan begini, hati kecil Takemichi meraung keras. Badannya tidak bisa digerakkan dengan caranya sendiri, seseorang di atasnya tidak peduli dengan apa ekspresi Takemichi mau itu terangsang atau memias. Kalau bisa, orang itu berpikir, ia akan merusaknya lagi dan lagi, menatapnya dari atas dengan mata menelanjangi tubuh itu dengan panas.
“Hei, katakan padaku sebuah kebohongan,” suaranya berdesing di telinga Takemichi dengan begitu halus, dijilatnya daun telinga yang memerah itu bermaksud membuka suara yang sedang mendesah dibawah. Kedekatan seksual yang membuat Takemichi kehilangan arah. “Apapun bentuknya, katakan.”
Pergerakan itu berhenti saat Takemichi hanya diam, bibir basah membengkak ia buat makin memerah dengan mempekerjakan gigi buat menggigitnya. Menggeram dingin, Takemichi merengek dan menatap mata penuh kemisteriusan didepannya. Harusnya tidak begini jalan perasaannya. Bukan menuruti seseorang selain kekasihnya, bukan pula merasa senang akan diperusak lagi dan lagi oleh si tampan dihadapannya.
Takemichi tak sempat berpikir metafora apa yang ia gunakan untuk mengatakan kalimat yang orang itu mau. Tak biarkan otaknya berputar lebih keras untuk menyiapkan diksi yang lebih hirau. Kepalanya terlalu kotor untuk berpikir, dan nafsunya kacau.
“Aku mencintai kamu,” dua orang itu tahu ragu jikalau itu hanya kebohongan tak berujung di maknanya, tapi tak peduli, toh memang sedari awal cinta itu semu. “Lebih dalem, kasih aku semua yang kamu mau.” Tangan Takemichi mengikuti jalur dagu yang diatas, ingin mengecup tapi malah tersenyum dengan mata memerah sebab tangis habis pencapaian yang lalu. “Lebih berantakin aku lagi Kak, aku itu hak milik kamu.”
Bibir mereka berpagut, sangat lembut untuk seukuran dosa besar. Mereka tidak memperdulikan apa kata hukum alam, hukum dunia atau sisanya karena terlalu berakar. Seolah orang-orang paham saja cara mengajar. Enak sekali menghakimi dua orang bahagia seperti mengelompokkan burung dalam sangkar. Ia dan Takemichi hanya menginginkan satu; kebahagiaan singkat tanpa mendengarkan tiap-tiap kelakar.
Persetubuhan mereka, kata-kata kotor mereka, atau perasaan yang saling mengait tanpa mereka sadari dengan jelas adalah hal yang sungguh bukan urusan manusia lainnya. Takemichi paham dimana posisinya, begitupun lelaki yang tengah merengkuhnya setelah berjam-jam bermain seks dengannya. Yang tidak mereka berdua pahami hanya, kemana akan berakhir? Perasaan atau nafsu mereka yang akan membimbing, itu urusan waktu saja.
Harusnya Takemichi sudah harus tidur, besok adalah hari aktif dan dia banyak kegiatan. Tapi yang ia lakukan adalah tetap memijarkan netranya, menatap paras paling tampan yang pernah ia lihat, dan mengelusnya dengan jemarinya; begitu samar-samar supaya tidak membangunkan Sang pangeran.
Ada hal paling mengganjal di hati Takemichi saat kelopak mata itu bergetar tertangkap penglihatannya, atau saat suara lembut dari nafas teratur lelaki itu menghasilkan aroma aneh yang sangat Takemichi suka. Seperti aroma hujan di pagi hari yang terkadang merepotkan manusia.
“Ganteng.”
“Aku tahu,” sahutan itu dibalas tawaan kecil, tangan di pinggang telanjang Takemichi mengerat tapi tidak menyakiti si pemilik. “Tidur, aku sama kamu sibuk buat besok.”
“Kak, kenapa kamu sering banget nginep disini alih-alih pulang ke rumah? Emma gak kesepian?”
“Gak ada alasan, aku cuma mau ketemu kamu.” Jawabnya malas, tanda ia mengantuk. “Emang kamu gak suka aku kesini?”
“Aku juga gak punya alasan buat nolak Kakak kesini.”
“Bagus.”
“Kak,”
Deheman sebagai jawaban, Takemichi bungkam beberapa detik sebelum memulai perkataannya lagi.
“Kakak, apa gak ada niatan cari pacar?”
Mata itu terbuka, menatap dari dekat dengan hangat berubah menjadi dingin secepat kilat. “Kenapa?”
“Cuman, apa Kakak gak ada niatan buat selesai sama aku?” ada perih di logika Takemichi saat mengatakan itu, matanya memanas tanpa sebab dan hatinya amburadul. “Aku punya pacar, dan kita ini, bukan sesuatu yang benar Kak.”
Jawabannya selalu sesuai perkiraan, tangan di pinggang Takemichi mengendur, menjauh dan lawan bicaranya bangkit dari tidurnya; menoleh kesana kemari mencari kemana semua kain yang tadi menempel di tubuh kurusnya. Takemichi hanya menghela nafas, pasti beberapa hari kedepan ia akan di acuhkan besar-besaran.
“Aku gak pernah ngerti apa mau kamu.” Katanya dengan memunggungi Takemichi yang setengah duduk untuk memperhatikan lelaki itu. Ia sudah berdiri dan memasang pakaian awal kedatangannya, abu-abu. “Atau memang aku yang berpikir terlalu mudah. Hubungan aku sama kamu, bukan hal yang nggak bisa diterjemahkan. Semua juga karena kamu yang gak bisa menekan A atau B di hidup kamu, dan bikin semua jadi seperti ini.”
Rambut hitam itu diusak frustasi, matanya kosong saat berbalik menghadapi Takemichi yang membeku. “Aku yang dipermainkan disini, jadi kamu cukup diam dan mainkan aku. Aku yang kasih kamu akses buat sepenuhnya ngotak-atik apa yang ada dalam diri aku, aku juga yang dengan lancangnya mau hubungan lebih sama kamu. Aku Michi, si Sano Manjiro ini yang kamu bolak-balikkan hatinya seperti gak ada habisnya.” Suaranya seperti desau angin malam, tanpa badai dan tanpa suara keras lainnya yang mengganggu. Buat Takemichi yang mendengarnya hanya bisa tergugu. “Kalau dari awal aku orang yang bisa dengan mudah berpaling, aku gak akan berbuat hal paling gila ini dan terus bertahan selama lima tahun. Harusnya kamu yang sadar lebih dari aku atau orang lain. Tapi kamu.”
Di awal tahun, kehangatan tak bersisa saat sudah keluar dari dalam rumah. Maunya Takemichi adalah membuka suara berkata ‘jangan pergi’ tapi keadaan mana bisa peka akan kemana pikiran terarah? Yang ada Takemichi hanya diam, sendinya kaku secara tiba-tiba saat menatap Manjiro keluar dari kamarnya yang tak begitu mewah.
Tak berselang lama, suara garasi dan dengungan sepeda motor milik lelaki itu—ia hapal diluar kepala tanpa harus menoleh memastikan untuk mengenali suara mesin itu—keluar dari area rumah Takemichi.
Selimut yang terakhir ia remat tidak begitu kuat, menjadi sasaran keputusasaan yang tercetak di kedua mata biru yang anehnya, begitu bersinar di temaram kamar. Memang tidak mengherankan kalau puja-puji Manjiro tidak jauh-jauh dari betapa dinginnya mata Takemichi, seperti laut yang tidak ada batasan akan warna kilaunya untuk pudar.
Ah, semua kacau. Akhirnya Takemichi tak bisa tidur sampai pagi karena kepalanya sakit sudah macam orang sakau.
.
.
.
“Sayang, kamu ngelamun!”
Tuduhan itu diiringi suara tinggi yang sengaja dikeluarkan untuk peringatan. Takemichi hanya memfokuskan matanya, dan tersenyum memohon lewat matanya untuk ampunan. Tachibana Hinata di depannya mendengus, lalu lebih memilih menusuk keik yang baru saja dipesan. Padahal niatnya ini kencan, tapi Takemichi terlihat tidak begitu ada dalam suasana yang memungkinkan.
“Kamu sakit?”
“Mana ada? Aku gak demam kok.” Jawab Takemichi cepat. Menatap Hinata yang memainkan bibirnya curiga akan apa yang matanya dapat.
“Emang sakit itu cuma demam doang apa? Maksudnya bukan fisik kamu, bisa aja kamu sekarang lagi gak baik-baik saja di dalem batin. Ada masalah akhir-akhir ini?” yang ditanya menggeleng, menyeruput kopi hitamnya yang manis dan melempar senyum paling lebar untuk Hinata. Tapi si perempuan seolah sudah curiga dan khawatir, jadi ia berdiri, ambil topi Takemichi di meja. “Bohong. Kita jalan-jalan aja, siapa tahu nanti kamu bisa lebih terbuka.”
Takemichi hanya meringis. Masalahnya, alasan mengapa dia seperti ini juga terlalu buruk sampai pantas untuk dikatakan miris. Bagaimana dia bisa bercerita kalau ia bertengkar dengan Manjiro setelah berhubungan seks, dan berakhir diam, dan berakhir saling bertindak apatis?
“Hin, kok kesini?”
“Hmm?” Hinata hanya terkekeh sebentar, biasanya juga Takemichi tidak terlalu protes kalau diajak kemari. Bengkel milik Draken yang dikelola bersama Manjiro dan Seishu, itu pertanda buruk menjadi alarm dalam hati. Masalahnya, kalau Manjiro ada didalam juga apa yang harus dilakukan Takemichi? Keadaan canggung sangat bikin muak sanubari. “Kamu ada berantem sama Kak Manjiro atau Kak Draken? Oh apa malah Kak Seishu?”
“Ngomong apa sih Hin?”
“Biasanya juga kamu gak ada protes kesini kalau gak ada masalah. Kali ini sama siapa?”
Sano Manjiro.
“Gak sama siapa-siapa.”
“Kamu ya,” Hinata mendekat, menjewer telinga Takemichi sampai mengaduh keras. “Jangan sekali-kali deh bohongin aku? Kamu pikir kita pacaran baru satu tahun aja?” pasalnya, Takemichi mana bisa menyuarakan masalahnya dengan lantang seperti menjelaskan tentang asas!?
“Hin, ke tempat lain aja yuk?” ajak Takemichi lemas, tapi belum-belum Hinata menyempatkan protes, suara yang menginterupsi mereka berdua membuat punggung Takemichi menegang.
“OH! Hinata!” heboh Emma. Yang membuat Takemichi mulas tentu bukan si perempuan yang sedang memeluk Hinata begitu erat dan bercerita dengan berantakan sampai-sampai tak ada jeda. Tapi Kakak lelaki Emma-lah kasusnya disini, “Takemichi, kamu berantem ya sama Mikey?”
Hening sebentar, Takemichi yang tadi bertatapan tanpa kalimat dengan Manjiro langsung menoleh cepat.
“Hah?” suara Takemichi sampai tidak bernotasi.
“Uring-uringan terus dia, dari kemarin ngomel lah, tiba-tiba mode gelap lah. Biasanya kalo nggak berantem sama kamu ya sama Draken.” Jelas Emma. Yang menjadi objek penjelasan hanya mendecih, membuang wajah ke sembarang arah. “Lihat, biasanya juga kalian langsung ngomong apa aja kalo ketemu. Sekarang diem-dieman, bocah banget kalo berantem.” Hinata membenarkan dalam diam, menurut saja saat ditarik Emma masuk ke bengkel dan berniat meninggalkan Takemichi dan Manjiro diluar. “Selesein deh, gak selese gak boleh masuk bengkel.”
“Kan yang punya bengkel aku!” seru Manjiro.
“Draken pacarku.”
“Relevansinya apa?”
“Berisik banget, sana jauh-jauh. Gak boleh masuk kalau belum balikan! Inget ya!” Emma terkikik saat Hinata mengatakan untuk tidak berteriak karena banyak pelanggan. Lalu mereka berdua masuk, meninggalkan Takemichi yang berdiri canggung dan Manjiro yang tetap tak meluputkan pandangannya dari yang lebih muda, seperti itu adalah kebiasaan.
“Mau nemenin aku beli buku gak?”
Mereka bertatapan sebentar, Manjiro memberi senyumnya untuk tidak membuat Takemichi lebih kaku. Lagipula, kalau dikata merindu, itu tentu. Manjiro kadang bisa kehilangan ketenangan hatinya kalau-kalau Takemichi tidak mengabarinya barang sedetik saja; rasanya, Manjiro didominasi rasa kekhawatiran lebih menumpuk akan hal tak eksentris itu.
Ajakan Manjiro dijawab anggukan, mantel Takemichi ikut bergerak saat lelaki itu berbalik badan, berjalan lebih dahulu. Seperti sedang merajuk, Manjiro hanya terkekeh dan mengikuti yang paling lucu saat kekesalannya si netra biru sedang mendominasi penuh. Mereka berjalan, hanya diam dan tak ada perkataan disekitarnya kecuali suara-suara pejalan kaki yang riuh.
Untuk itu, Takemichi sungguh menyukainya. Manjiro memang tidak menyeretnya pada kehangatan, mereka hanya berjalan berdampingan di trotoar, melihat toko-toko yang ramai dan sesekali bertukar kata. Hanya singkat-singkat, seperti memberi komentar tentang bangunan toko yang baru dibuka atau anak kecil yang mengoceh tentang mainan barunya yang menyulut tawa. Gerakan tubuh mereka menunjukkan hal yang menyulut taksa.
Bukan terlihat seperti teman, tapi juga tidak sedekat orang dengan tujuan kencan.
Manjiro mendekat pada Takemichi sebentar, mengelus bahu lawan bicaranya sebelum mengatakan akan masuk ke bagian yang tidak Takemichi suka. Seperti karya ilmiah atau semacamnya. Takemichi tentu tak begitu tertarik dengan diksi-diksi penuh penelitian dan membuat otaknya mampat aksara.
“Kamu mau ke bagian mana? Nanti aku susul kalau aku udah selesai.” Hangat telapak tangan Manjiro memancing impulsivitas paling sialan dalam logika Takemichi. Dengan gugup, yang ditanya menjawab diselingi dengan ringisan tak bersuara.
“Aku ke komik.”
Manjiro tersenyum, “oke. Jangan hilang.”
Rengutan yang didapat atas kalimat itu. “Aku bukan anak kecil.”
“Aku nggak bilang kamu balita.”
“KAK!”
Tawa dengan gemerincing paling menenangkan itu tiga hari penuh tak didengarkan Takemichi. Aduh memang ya, seharusnya sebelum memilih bertengkar dengan Manjiro, Takemichi perlu memikirkan berulang kali tentang regresi. Alih-alih membuat hatinya tenang, yang ada dia merindu sampai rasanya ia mau mati.
“Habis dari sini kita bicara,” pipi Takemichi dielus penuh afeksi, mata hitam itu menatapnya lekat sudah seperti memuja Takemichi sampai Manjiro menganggap bisa saja lelaki didepannya ini hanyalah sebuah kuasi. “Mau kan?”
Memang harusnya ada perdebatan lebih dari mereka berdua. Bukan dengan satu terdiam lalu satunya pergi melarikan diri tiba-tiba. Memang seharusnya, sejak awal mereka memahami bagaimana cara hubungan penuh diryah ini akan kemana. Kalau dipikirkan lagi, memang ikatan ini terjadi bukan sepenuhnya salah Takemichi, dan Manjiro tidak pernah menudingnya dengan alasan apapun walau itu berlogika. Mereka saling meremat satu sama lain, saling menahan untuk mencapai keegoisan keduanya yang sungguh krusial, beranggapan mereka hanya mencinta.
Bukankah cinta juga disebut renjana?
“Mau beli komik yang mana?” saat membolak-balikkan satu buku berjudul abstrak, Takemichi melihat Manjiro bersandar di rak buku dan mengawasinya yang tengah serius membaca sinopsis.
“Nggak deh. Kamu udah selesai?”
Manjiro mengangguk, mengangkat alisnya saat Takemichi masih menatap komik yang dibawanya lekat-lekat. Hampir saja tawa Manjiro terlepas, segera ia telan kembali sebab Takemichi bisa marah kalau dia tahu Manjiro menertawakannya tanpa konteks, dan itu gawat. “Beli aja, aku yang bayar.” Itu kata Manjiro. Tapi Takemichi tetap menggeleng walau setengah hati mengembalikan komik ke asal tempat.
“Michi, kamu itu ahli menahan ya?” pertanyaan itu berupa sebuah bisikan, saat Takemichi tepat di samping Manjiro. “Aku nggak tahu itu sisi positifmu atau malah keburukan sifat kamu, tapi kalau kamu mau memiliki, tinggal bilang kalau kamu memang ingin. Selagi kamu berhak memiliki, nggak akan ada yang menghalangi.”
Makna kalimat itu sangat enigmatis, kebiasaan Manjiro jika sedang menyindirnya lewat diksi. Dipikir lagi, mulut Manjiro itu memang setajam sangkur jika kau butuh sebuah indikasi. Terkadang Takemichi hanya bisa tergugu diam, mengalah karena perdebatan kecil yang tengah beresonansi. Tapi tak luput buat kesenangan makin berevolusi dan jika mereka tidak bercekcok, rasanya seperti defisiensi.
“Aku masih banyak bacaan Kak, kan kamu tahu sendiri sebanyak apa komikku yang masih terbungkus plastik, belum kujamah.” Sentak Takemichi. Ia memutar bola mata malas melihat Manjiro dari samping, “tiga hari nggak kerumahku aja udah lupa segalanya.” Lalu ditinggalkannya Manjiro sendiri di pusat buku komik yang sepi.
Sepertinya suasana hati Takemichi mirip sekali seperti Emma tadi pagi. Beberapa waktu tersenyum manis seperti tak ada yang terjadi, detik berikutnya kesal sampai menggertakkan gigi. Manjiro jadi bingung akan semua itu, membatin sepertinya dia sudah mengantongi materi untuk menciptakan satu elegi.
“Kak Jiro! Ayo.” Rengutan Takemichi didapatnya ketiga kali hari ini, Manjiro mengelus dada berusaha tidak kelepasan emosi. Menekankan hatinya jangan sampai ia salah aksi.
“Iya.” Turut Manjiro, mereka keluar dari toko buku, niatnya mencari tempat untuk mengobrol nyaman. Tapi Takemichi tiba-tiba menceletuk, “kita ngomong di rumahku aja, aku jemput Hina terus aku pulangin dia dulu.”
“Gak bisa gitu.”
“Kenapa gak bisa?”
Manjiro membuang nafas, berkata sarkatis. “Yakin kamu langsung balik dari rumah Tachibana? Nanti kaya minggu lalu, aku kamu acuhin sampai subuh karena kamu ngehabisin waktu sama Tachibana.” Bukan egois, ini logis. Mana mau Manjiro menunggu sendiri lagi dirumah Takemichi karena lelaki itu tak memberikan kabar satu harian penuh, sampai-sampai Manjiro sendiri yang perlu mengais.
“Kok malah kayak ngomelin aku sih?”
“Aku emang ngomel.” Cibirnya taktis.
“Aku nanti langsung balik, Kak.”
“Omonganmu udah kayak omongan pemerintah, gak bisa dipercaya. Emangnya aku ini udah berapa kali kamu janjiin langsung balik padahal gak selalu gitu? Untung aku sabar dan gak pernah mikir buat melakukan aneksasi di hubungan kalian.” Manjiro sudah terlanjur melepaskan satu pengait penahan kemarahannya, sudah seperti menyemprot langsung di depan Takemichi yang berdiri beku. “Kita ngomong hari ini, di waktu ini, intinya sekarang. Kalau emang kamu gak mau, yaudah kita selesein aja semuanya, lama-lama muak juga aku sama semua ini.” Pengait kedua terlepas, dijalanan sempit menuju penghubung perumahan setelah area ramai, memang tak ayal akan selalu menjadi temaram; berdua dengan Manjiro serasa diterungku.
“Maaf.” Takemichi menyesal. Tapi ada emosi panas di matanya entah darimana berasal. “Kalau Kakak muak, kita selesai aja. Daripada cinta, bukannya Kakak lebih mendapatkan perasaan rumit kalau sama aku?”
Bukan itu yang diinginkan Manjiro.
“Aku emang terlanjur salah, bikin Kakak emosi hari-hari yang lalu dan sekarang. Aku yang salah karena sering ingkari janji. Aku juga yang salah karena gak punya cukup keberanian buat teriak ke dunia, kalau aku cinta sama Kakak,” mata hitam Manjiro sukses melebar karena itu, Takemichi mundur sedikit sebab tengkuknya seperti ditiupi angin paling dingin. “Sejak awal, emang aku udah tahu bakal begini. Maksudku, aku punya perasaan ke Kakak dan gak mampu ninggalin Hina. Harusnya aku gak mulai ini, ya?”
Baru lima tahun kemudian kah Takemichi sadar kalau arah hubungan mereka ini sudah seperti anomali? Manjiro tidak pernah merasa harus serakah, apalagi memimpin segalanya dengan rakus di hatinya. Tapi fakta bahwa hubungan mereka hanyalah intermezzo semata, membuat Manjiro entah kenapa tak bisa memampatkan emosinya.
“Kamu ngerti gak sih sama yang aku mau?”
Tentu Takemichi paham, tapi tak ada suara yang keluar.
“Kamu bukan nggak bisa memilih, kamu cuma egois. Bukan seperti ini harusnya cara kerja cinta Michi. Kalau kamu ingin aku, teriakin itu ke dunia kalau kamu mau aku. Lima tahun aku nggak pernah jadi penghalang hubungan kamu sama Tachibana, kamu tahu kenapa?” Takemichi hanya diam, meleburkan kedua netra mereka menjadi satu. Manjiro pun sebetulnya sudah tidak ingin dijadikan selingan saja, walau Takemichi tidak pernah bermaksud melakukan itu. “Aku nggak tahu kenapa kita jadi seperti ini, atau emang cuman kebodohan kita aja sampai jadi serumit ini. Apa kita nggak bisa? Rasakan asmara sampai kita pusing akan efeknya? Apa aku, terlalu serakah ya?”
Manjiro melangkah mendekat, mengambil lengan Takemichi untuk dia elus. “Aku sebenarnya pun, nggak mau memaksa kamu. Tapi aku kira, lima tahun ini, kamu lebih mikirin aku, dan gimana kita kedepannya. Aku pikir juga, kamu sadar akan apa yang kamu mau.” Jemari Manjir melingkupi kehangatan lengan si lebih muda yang berlapis mantel berbahan sungguh halus. “Tiap aku lihat kamu ketawa sama Tachibana, aku ngerasa aku adalah yang paling jahat. Tiap-tiap kita ngehabisin waktu sama-sama, aku makin egois. Gimana kalau tiba-tiba aku hilang akal dan bilang ke Tachibana dosa apa yang udah kita lakuin?”
Takemichi membelalak, tak percaya dengan perkataan Manjiro yang begitu ringan keluar dari kedua belah bibir yang sering ia kecup itu. Ia, tidak berpikir kalau Manjiro bisa berkesimpulan dengan buntu. Takemichi hampir mendapatkan hatinya yang tengah gelisah membiru.
“Itu pilihan terakhir aku.” Ujar Manjiro penuh teka-teki. “Kamu yang pegang kendali di hubungan kita, jadi tentukan.” Gurat wajah tanpa senyum itu memberikan kengerian pada bulu kuduk Takemichi. Manjiro itu penuh taktik, dia juga cerdik dengan caranya sendiri. Kalimatnya tak ada yang munafik, tapi tentu saja, terkadang Takemichi akan selalu kalah dan tak bisa menampik.
Untuk mengakhiri percakapan, Manjiro menarik tubuh Takemichi lalu memagut bibir pemuda yang lebih muda itu lamat-lamat seperti meminum bloody mary. Di dinginnya Tokyo, bukan salah Takemichi jika ia membalas dengan afeksi. Tangan ia lingkarkan di tengkuk Manjiro, membalas lumatan dengan lidah dan mata penuh aksentiasi. Mereka tidak pernah saling memejamkan mata saat berbagi kasih, hanya selalu menatap dan menemukan bahwa keduanya sudah terkena adiksi.
Liur seolah akan selalu menjadi hasil perdecapan, begitupula sebagian wajah yang memerah.
“Kita balik ke bengkel dan,” tangan yang diikat dengan pautan hangat sentuhan lain itu bergetar dengan cemas, Manjiro memaklumi itu. Tapi jika Takemichi tidak ditekan, Manjiro yang jadi menanti sampai kelimpungan sendiri. Mana bisa seperti itu?
“Satu minggu. Kamu harus kasih aku jawaban selama satu minggu. Kalau kamu gak ada reaksi, maka kita selesai saja sampai di halaman ini.”
Dan batin Takemichi makin diremat secara eksentris.
.
.
.
“Kamu harusnya bisa lebih ngendaliin diri kek kalau berantem sama Takemichi,” sebal Emma pada Kakaknya yang masih diam memakan Taiyaki—dibelikan oleh Draken saat lelaki itu tadi mampir kerumah—mendengar saja cacian adik perempuannya tanpa minat yang bersyarat. “Masa suasana hati sudah macam jungkat-jungkit? Mana lagi yang kena itu orang sekitar. Memang kamu udah umur berapa?”
“Em, mau ocha.”
“DIDENGERIN GAK SIH AKU INI?” Manjiro hanya menyangga pipi, menatap Emma dengan setiap rasa yang dapat ia salurkan. Adik kecilnya ini sungguh merepotkan jika tidak diberi penjelasan. Manjiro memang tengah berpikir untuk jujur pada Emma, tapi Takemichi disini bisa saja menjadi pengendala jalan. Bukannya apa, tapi status Takemichi sekarang itu tengah berkencan. Mana bisa Manjiro berbicara serampangan.
“Didengerin, lagian kamu kenapa sih daritadi pagi sensi mulu sama aku? Lebih bahagia dong kan abis kencan sama Kenchin.”
“Aku sebel sama Draken, sekarang sama kamu juga.” Wajah ayunya merengut, hampir saja Manjiro terkekeh kalau tidak diberi tatapan setajam pisau tepat ke matanya. “Aku mau nanya deh sama kamu.”
“Hm, tanya aja ngapain pake izin.”
“Kamu suka sama Takemichi ya?”
Sukses ocha tersemprot dari kedua belah bibir Manjiro, tenggorokannya mengalami kejutan maka dari itu sedikit terasa perih. Bagian mananya dia terlihat terobsesi dengan Takemichi sampai Emma yang kepekaannya kurang dari satu persen memahami itu secara deduksi?
“Hah?”
“Aku nggak tahu apa yang dibilang sama Draken bener apa enggak,” oh si sialan itu, Manjiro membatin penuh emosi. “Tapi dengan mata telanjang saja, aku tahu kamu suka sama Takemichi di definisi paling romantis. Mikey, jujur dong sama aku. Aku nggak akan menghakimi kamu, gak juga menuding Takemichi lewat satu kaca pandang aja. Percaya sama aku, kita kan saudara.”
Ada pahit sebelum Manjiro melepaskan elusan Emma di pergelangan tangannya, mengharap untuk keterbukaan Manjiro atas konklusi perempuan itu. Walau Emma memang tentu menerima apapun penjelasan Manjiro, tapi tentu saja, bukankah lebih baik jika saat ini ia bersibisu?
“Memang kamu mau apa dengan fakta itu?” tapi sudah terlanjur juga disimpulkan, dan tak mau biarkan Emma alami kompulsi. Jadi Manjiro mendukung saja pernyataan adik kecilnya yang sudah berikan dirinya sambaran presisi.
“Jadi benar ya?” Emma tersenyum semanis stevia. Manjiro itu Kakak yang paling dekat dengannya. Karena dari kecil, yang menjaganya lebih sering adalah Manjiro daripada Izana. Ombak hubungan mereka selalu tenang, terkadang ada pertengkaran kecil, tapi Shinichiro selalu memahami tiap-tiap tabiat adiknya dan menyelesaikan itu dengan saling memeluk dan memberi beberapa kata peringatan. “Aku sahabat Hinata, tapi aku adik kamu juga. Aku nggak akan marah atas cinta kamu ke Takemichi, kok. Bukannya emang dari awal berbagi kasih itu urusan paling rumit?”
“Selalu ada pihak yang tersakiti, dan ada juga yang memperparah dengan menguliti. Aku paham itu. Cinta kamu sama Takemichi, atau perasaan Takemichi ke kamu, gak pantas aku hakimi.” Emma merangkai aksara dengan sungguh manis, Manjiro menerima tubuh kecil itu untuk duduk di pangkuannya. Kedua lengan melingkupi pinggang kecil peri cantiknya. “Aku gak bisa ngapa-ngapain deh. Kamu udah terlanjur dirantai terlalu kuat, mana bisa diksi-ku sadarin kamu.”
Manjiro tertawa, “jadi kamu gak mampu ngehentiin perasaan aku gitu?”
“Bukan.” Dahi Manjiro ia kecupi sampai yang diberi afeksi meringis ingin minta henti. “Aku yang kalah sama Takemichi karena dia udah sekuat itu ngunci kamu ke sisinya. Obsesi kamu ataupun Takemichi, kelihatan banget di masing-masing lingkar berwarna kalian. Memuakkan.”
Kekehan didapatkan Emma, perempuan itu merangkul Manjiro erat dan dibalas dengan sentuhan yang sama. “Aku pernah kepikiran buat berhenti jadi penyakat antara mereka berdua, tapi kayaknya aku kalah sama hati. Kalah sama gimana dia narik aku balik pakai mata seindah itu, atau gimana aku langsung tunduk dan hampir bersujud di hadapan dia saat kelintingan tawanya keluar dari mulut itu. Aku pengen cium dia, menerungku dia bagaikan pleci yang kuberi sangkar mahal.” Ada manis macam gula paling halus di mata Manjiro saat ia mengatakan itu pada Emma.
“Jangan nyerah, Mikey.”
Itu dukungan untuk Mikey juga secara satu waktu menjadi bentuk pengkhianatan pada Hinata.
“Aku akan tetap dukung Hinata sama Takemichi, tapi aku juga bakal dukung cinta kamu.” Emma benar menjadi pihak tengah disini. Ia ingin Manjiro bahagia, walau dengan cara tak rapi. Emma hanya berharap, jika memang sumber kebahagiaan Kakak ketiganya itu ada pada sosok yang mempunyai jalinan kasih dengan orang lain, maka doanya akan selalu terselip buat mendukung Manjiro dalam usahanya memiliki Takemichi.
Kata Shinichiro, terkadang cinta itu tak perlu sampai mati, tapi dapatkanlah cinta yang kau mau tanpa pretensi.
.
.
.
“Michi, gak pulang?” Inui Seishu duduk disamping Takemichi dengan mantel melekat di tubuh seramping manekin itu. Pada dasarnya Takemichi itu agak flegmatis, jadi dia bereaksi di sepuluh detik setelah Seishu duduk dan tengah mengeluarkan rokok dari saku. Wajar juga, ini sudah hari kelima, dua hari lagi ia perlu memberi jawaban pada Manjiro atas hatinya yang masih begitu samar macam debu.
Tak bisa disimpulkan sampai sekeras apapun Takemichi berusaha dapatkan deduksi. Ia tidak menghubungi Hinata akhir-akhir ini, merasa batinnya kacau karena berusaha berikan otaknya sedikit-sedikit afirmasi. Demi Tuhan, agaknya Takemichi memerlukan ekskursi.
“Banyak pikiran banget kayaknya, gak mau cerita?” tanya Seishu disampingnya, mulutnya berasap seusai menyesap lintingan nikotin. Tatap Takemichi yang memasang ekspresi tertekan yang Seishu tak sengaja simpulkan, Takemichi seperti membutuhkan aspirin.
“Dijemput Kak Mitsuya?” malah pertanyaan yang didapat Seishu. Begitu juga ia menjawab, anggukan untuk memuaskan tanda tanya yang terpesentasi. “Aku harus apa ya,” Takemichi memulai cerita yang agaknya dengan wajahnya yang sedih sungguh berelevansi. “Aku cinta sama Kak Manjiro.” Tak ada kejut di wajah ayu Seishu, hanya tatapan penuh estimasi. Takemichi juga sadar, satu bengkel pasti paham akan hubungan antara dirinya dan Manjiro yang dipenuhi presepsi. “Tapi aku udah ada Hina. Masa, aku harus korbanin delapan tahunku untuk ukiran baru? apa Hina gak hancur kalau aku pilih retakkan hubunganku dengan dia?”
“Michi, kadang sebuah kalimat aja gak bisa menginterpretasikan apa yang kamu rasakan. Kamu perlu pahami pelan-pelan, apa yang kamu butuhkan. Alih-alih menyakiti hati, apa gak sebaiknya kamu berpikir untuk mengais kebahagiaan diri? Telisik diri kamu sendiri, sentuh hati kamu dan temukan dengan logikamu. Apa perasaan kamu sudah capai adiksi jika tetap dengan Tachibana? Atau malah, kamu cuma pertahankan pretensi?” jarang sekali Seishu menghiraukan nikotin hanya untuk berbicara panjang lebar kecuali dengan kekasihnya. Takemichi ini, sudah ia anggap permata paling penting di hidup Seishu yang bahkan tadinya, tak semanis fruktosa. Sampai orang-orang bertambah, dan ia menambatkan hati pada Mitsuya.
Tapi, Takemichi mana pernah sekali saja meninggalkan sisinya? Diantara banyak orang itu, Seishu menemukan Takemichi yang begitu hangat dan begitu dewasa. Alasan mengapa walau Seishu tau kekotoran hubungan Takemichi dengan Manjiro, dan dia memilih bungkam, adalah karena itu Takemichi; penyelamat Seishu dan cinta pertamanya.
“Dulu aku bertengkar hebat dengan Takashi. Kita berakhir saling pukul, dan mendiamkan diri selama dua bulan. Ternyata masalah kita bisa disebut sepele oleh orang lain, tapi aslinya, berefek paling hebat saat tengah menjalin hubungan.” Mata biru Seishu meredup tunjukkan konstatasi. “Kamu tahu apa yang bikin aku sama Takashi sampai saling caci waktu itu?”
Takemichi masih bungkam, biarkan Seishu menggali kenangan.
“Inkonsisten dalam menjalin hubungan.” Tawa Seishu lolos, putihan salju serasa menusuk-nusuk tengkuk mereka berdua. tapi entah kenapa, tak ada yang terusik atau ingin cepat-cepat bangkit meninggalkan area. “Dalam hubungan, aku orang paling labil di dunia. Takashi berkata kalau aku tetap gak konsisten sama apa yang bakal terjadi di masalah kedepannya, hubunganku sama dia bakal ringkih. Aku keras kepala dong? Mana bisa cintaku dibandingkan kata konsisten? Kalau aku cinta ya aku gak bakal beralih, begitukan?”
“Sayangnya, Michi. Konsisten dan inkonsisten itu begitu berakar. Saat kamu gak lagi mendengarkan pasangan kamu, pun kamu berbohong atas perasaan kamu, itu lebih sakit untuknya waktu kamu diam-diam melakukan sesuatu dibelakangnya hanya untuk menjaga hatinya.” Seishu mengernyit, menghisap nikotin dan menata respirasi tubuhnya. “Jangan jadi brengsek gak punya hati, Chi. Dengan kamu pakai topeng untuk nggak menyakiti Hinata, yang ada malah kamu menguncinya bahkan pecuti dia dari dalam.” Lirikan Seishu sarat akan insinuasi. Ia tatap Takemichi dengan mata mengeluarkan kobaran anotasi.
“Kalau memang cintanya dengan Mikey, maka terima dia. Menahan Tachibana juga agaknya waktu yang percuma. Memangnya kamu gak sadar, dari sejak kapan perempuan itu tahu kamu dengan Mikey lakukan kebejatan?”
Takemichi melebarkan mata, tentu saja, batin Seishu. Mana tahu Takemichi suasana sekitar saat tengah bercumbu dengan Manjiro entah lewat mata mereka saja, atau perlakuan tipis-tipis menyiratkan kelakuan mengandung taksa tersembunyi diantara udara keduanya. Tapi Seishu sadar, Tachibana sudah memahami itu jauh sebelum Manjiro jujur pada Seishu atas perasaannya yang ditujukan tuk Takemichi enam bulan yang lalu.
Secara reflek, Takemichi berdiri. Sudah diduga juga dengan Seishu bahwa setelah itu Takemichi pamit dan berlari membelah jalan yang mulai memutih pasi. Pasti rumah Tachibana yang dijadikan tujuan untuk menundukkan diri. Ah, dasar. Bukankah sejak awal harusnya tak perlu terjemahkan perasaan seperti manifestasi langka? Mengapa juga bertindak macam infiltran hanya untuk saling mencinta?
Cinta itu sering dianggap bagaikan utopia Sei. Tapi ujung-ujungnya, yang disimpulkan juga tidak jauh dari pengertian bahwa cinta itu tidak se-luar biasa tanzanite apalagi bebatuan opal yang mengkilau indah. Alih-alih hanyalah sebuah kandela. Mudah meredup, tapi mudah juga tersulut cahaya.
Seishu terkekeh karena tiba-tiba teringat insepsi Mitsuya akan apa itu cinta. Merepresentasikan cinta memang seharusnya tak perlu sebegitu rumit seperti memecahkan rumus fisika, memangnya asal mencumbu dan saling berbagi kata paling manis di dunia tidak bisa jadi pemuas dalam saling mencinta?
.
.
.
“Takemichi-kun?” Tachibana Hinata temukan kekasihnya ambil napas sangat sempit lewat hidung, dan menunduk saat ia baru bukakan pintu. Seperti habis dikejar sesuatu yang klenik saja, sampai harus berlari membelah salju. “Masuk dulu, kenapa sampai ngos-ngosan begitu?”
“Gak usah masuk, kita ngomong diluar aja cukup Hin.” Takemichi menolak dengan gerakkan kepala, Hinata memilih menurut dan bilang akan ambil mantel sambil buatkan sesuatu yang hangat untuk sang kekasih. Takemichi hanya mengangguk tak membalas menggunakan verbalisasi. Ia memutar otak untuk menyiapkan suatu diksi yang tak begitu menyakiti gadisnya saat ini. Tapi kiranya bisa berpikir lebih penuh aksara, yang ada Takemichi tergugu setengah mati saat Tachibana ada di hadapannya kenakan mantel putih.
“Diminum dulu,” suruh Hinata. “Mau ngomong apa kok sampai harus sekarang?”
Dua seruputan, dapatkan hangat di tenggorokan Takemichi. Tapi alih-alih pikirannya jernih, yang ada matanya melirik kesana-kesini. Bagaimana dia me-manifestasikan isi hati ini?
“Maaf.”
Ah, agaknya Hinata sedikit memahami arah pembicaraan mereka di tengah musim bersalju ini. Sedikit nyeri di dada kanannya pertanda bahwa ia siap menjadi orang paling emosional di jagad raya ini. Setidaknya, untuk malam ini.
“Aku, nyakitin kamu ya?” pertanyaan Takemichi tidak mendapatkan balasan. Hanya netra lemah Hinata yang mengait tatapan keduanya tanpa gunakan alasan. “Kayaknya, walau aku minta maaf ke kamu ribuan kali, agaknya itu bakal terlihat seperti mempertahankan harga diri?” Hinata memberi senyum geli, tapi lingkar yang berkilau cokelat ditengah dinginnya malam ini seolah menjelaskan eksposisi paling sempurna. “Aku, masih sayang kamu seperti biasa. Tapi saat aku keruk lagi, bukan nama kamu lagi yang mendominasi. Tadinya aku berpikir itu hanyalah nisbi, gak bakal lama. Tapi ternyata, saat aku paksa cari tahu semua, nama kamu udah hangus. Tergantikan orang lain.” Yang Takemichi pikirkan dulu ia hanya butuhkan ekskursi belaka, tapi ternyata, hatinya lebih memilih memecah. Hening menyusupi mereka berdua, tak ada yang mengeluarkan satupun kata. Takemichi lamat menatap kedepan, menganggap salju yang berjatuhan lebih menarik daripada sang lawan bicara.
“Hina,” bermaksud menghancurkan keheningan yang tak membuatnya nyaman, panggilan Takemichi digantikan oleh suara lembut Hinata dengan anotasinya atas kalimat panjang kali lebar milik Takemichi.
“Aku cinta sama kamu itu tanpa tapi Takemichi-kun.” Kalimat pertama itu membuat jantung Takemichi merasakan ganjalan besar semacam batu kerikil yang menyakitkan. “Sejak pertama kali kita pacaran, aku berikan semua isi hatiku ke kamu. Dan aku yakin, saat itu kamu juga berikan aku perasaan yang sama. Tapi berjalannya hubungan kita yang makin menua, aku nggak tahu, hanya perasaanku belaka, atau kamu memang mulai melepaskan aksentiasi di hubungan kita?” Hinata memang lemparkan pertanyaan, tapi Takemichi sadar gadis itu tidak membutuhkan jawaban. “Lucu ya? Sudah tahu begitu, aku masih bertahan padahal Senju sudah berikan aku wejangan untuk jangan asal memperjuangkan.”
Jika disuruh menerawang tentang lelaki disampingnya ini, Hinata pasti sudah menemukan pipinya yang memerah, tatapan penuh cinta dan verbalitas memuja tanpa batas. Ia memang dapat dengan lantang mengakui kalau Takemichi masih mendominasi hati si gadis bukan hanya seutas. Hinata memilih mendekat, melebarkan lengannya untuk menerima hangat yang sebentar lagi punya batas.
“Tapi aku gak punya penyesalan. Hatiku buat kamu, bukan kesalahan. Walau aku juga gak mau membenarkan apapun yang kamu lakukan di belakang punggungku. Tapi aku memang yang mau-mau saja ditawan.” Ujarnya Hinata seperti tidak ada lagi kesedihan yang melingkupi. Buat Takemichi terpana takut mendekat ke pihak yang tersakiti. “Peluk aku Takemichi-kun, setelah itu, baru aku bisa melepaskan kamu tanpa tapi.”
Perlahan, kikisan jarak membentuk afeksi paling hangat malam ini. Tangan Takemichi memutari tubuh kecil Hinata yang menimbulkan kenyamanan paling menyedihkan di hari ini. Hinata juga tidak menuntut banyak, hanya menelusupkan kepalanya ke atas bahu Takemichi, menghirup aroma yang paling membuatnya jatuh hati. Si gadis mendesah lagi, jadi ini namanya perpisahan paling terpenuhi emosi.
Takemichi sendiri hanya mengeratkan pelukan, habiskan waktu selama yang Hinata pinta. Beri kenyamanan level tinggi untuk gadis yang pernah ia cinta.
Tetap mengelus punggung sempit itu saat suara isakan mendominasi heningnya tempat yang mereka pijak. Hinata hanya meracau bahwa dia membenci Takemichi karena membuatnya menjadi budak cinta. Gadis itu juga mengomentari bagaimana Takemichi sungguh menjengkelkan atas ketidakjujurannya.
Malam itu, sampai jam satu pagi, mereka berdua berpelukan sampai kaki tak lagi kuat tuk berdiri. Tubuh mereka berakhir di lantai dingin dan Takemichi hampir tertawa saat Naoto muncul dari balik pintu dengan membawa dua selimut tebal karena khawatir setengah mati. Untuk hari ini, setidaknya Hinata bisa tidur dalam pelukan Takemichi tuk terakhir kali.
.
.
.
Angka tujuh ditunjukkan jam di ruang tengah rumah Takemichi. Ia menunggu Manjiro yang masih belum pulang dari bengkel, berkata banyak sekali pelanggan jadi dia hanya bisa menunda pertemuan di malam hari ini. Sebetulnya juga, Takemichi bukan yang mengejar jawaban, jadi dia tidak begitu tergesa dan menolak keluarkan estimasi. Kapan saja Manjiro datang ke rumahnya, Takemichi tak perlu buang waktu tuk berdiri. Pemuda dengan ekspresi lempeng itu mempunyai kunci rumahnya tersendiri.
Jadi si netra biru hanya menselonjorkan kakinya malas di sofa, menonton acara musim dingin dari televisi. Sebab dia tidak tahu kapan putra ketiga keluarga Sano itu datang, Takemichi habiskan saja waktunya dengan bersantai seperti di pantai.
Saat cookies kelima Takemichi hampir mencapai mulut, suara pintu terbuka ia dengar tapi tak alihkan perhatian si pemuda itu. Lagian Takemichi tahu siapa satu-satunya pelaku.
“Saljunya gila-gilaan aku hampir mati kedinginan mana rumahmu jauh dari bengkel,” keluhan dimulai. Dari sudut mata saja Takemichi tahu bahwa Manjiro mengumpat karena mantelnya basah sebab salju yang deras berjatuhan mirip tirai. “Kok kamu gak nyambut aku sih? Bawa selimut hangat kek buat kupakai atau bilang ‘okaeri’ biar lebih romantis. Dasar flegmatis.”
“Wah, bisa-bisanya yang buat aku nunggu lima jam bilang kayak gitu.” Takemichi bersungut kesal, lemparkan remot TV kebelakang sampai kenai dada Manjiro yang sedang menunduk, bersihkan bekas salju yang bisa saja masih laten di lipatan bajunya.
“Aduh sakit!”
“Mandi sana, bau oli.”
“Kamu udah mandi?”
“Ya udah lah? Orang sinting aja yang dirumah seharian tapi jam tujuh malem belum mandi.”
“Sensi beneran deh,” cibir Manjiro sambil mendekat, telisik Takemichi dari samping. “Mau dong cokelat hangatnya.”
Takemichi balas mengernyit, keluarkan kata sedetik setelahnya. “Tinggal minum?”
“Kamu yang minum dulu dong, siapa tahu didalemnya ada sianida atau arsenik. Kamu kan kadang punya dendam kesumat yang pelik sama aku.”
Takemichi mendecih, dipikir dirinya peracik racun apa? Tapi tak ayal, perintah konyol itu tetap ia turuti untuk yakinkan yang lebih tua. Diteguknya satu kali cairan pekat itu, lalu melotot kesal pada lelaki yang kenakan kaus tebal tuk hindari dingin yang menerjang tulang. “Tuh, masih hidup—“ mulut terbuka Takemichi dipenuhi oleh lidah Manjiro kurang dari dua detik saja. Lelaki itu membuang mantelnya, mendekatkan tubuh untuk duduk di pinggiran sofa supaya bisa lebih mudah memagut bibir beraroma kacang dan cokelat premium kesukaan si netra terang.
Sentuhan Manjiro tuk elus leher si lebih muda timbulkan hawa paling tidak menyenangkan diantara keduanya.
Intensitas udara disekitar mereka mulai menghangat, Takemichi sudah tidak paham mana angka satu dan mana angka dua. Yang ia rindukan sekarang ada didepan mata, membalas desiran asmara dari lelaki didepannya sudah bukan dosa semata. Takemichi menggeser tubuhnya, memberi jalan Manjiro untuk duduk di sofa lebih benar, lalu ia tarik Takemichi keatas pangkuannya dan mencumbu yang lebih muda tanpa ada jeda. Tungkai kaki Takemichi dielus oleh Manjiro, biru di netra yang berkilauan paling cantik itu ditatap penuh damba. Tidak ada salah satu dari mereka yang lepaskan fabrik penutup raga, tapi nafsu mereka membumbung sampai angkasa.
“Kayaknya kamu udah tahu ya.” Tuding Takemichi disela ciuman, Manjiro menyeringai berkeinginan untuk memberantakkan wajah itu sekali lagi. Bohong jika Manjiro tidak tahu menahu masalah Tachibana dengan Takemichi dua hari lalu yang bikin Manjiro terjatuh dalam kontemplasi. “Gak seru, padahal aku nunggu buat hari ini.” Rengek Takemichi.
“Aku juga nunggu buat hari ini, kok.” Dada Takemichi ia elus, menemukan benjolan kecil yang ia incar. Orang dipangkuan tanpa sadar bergetar tanda nafsunya mulai berputar. “Aku nunggu lima tahun buat hari ini, dimana aku bisa ganti kata seks biasa dengan seks penuh cinta.” Bisikan Manjiro di depan perut Takemichi ciptakan afirmasi paling manjur, “lama ya nunggu kamu sadar betapa indahnya hubungan kita? Atau memang kamu yang daridulu nggak tahu definisi renjana yang sesungguhnya?”
“Cinta itu bukan selalu sebuah renjana.”
“Buatku gitu.”
“Itumah emang otakmu selangkangan aja.” Manjiro tertawa mendengarnya. Mereka bertatapan sampai sesuatu berdentum di dada mereka buat keduanya ukir kekehan. Mengaitkan mata satu sama lain saja sukses buat akal mereka hilang entah kemana. “Aku punyanya kamu.”
Tuhan, kata itu bahkan lebih indah dari ‘aku cinta kamu’ yang seharusnya sangat Manjiro inginkan keluar dari belah bibir basah itu. Hanagaki Takemichi ini, barangkali memang didampingi para malaikat saat diciptakan; tak ada satupun garis tubuhnya terasa kurang dimata Manjiro, buat pendapatnya tentang Takemichi hanya akan menemukan jalan buntu.
“Kak, dijawab dulu kek! Agh—“ alih-alih bertukar kata bernuansa romansa, Manjiro malah sudah menelusupkan satu jarinya untuk memasukki bagian belakang si marga Hanagaki. Mau tak mau, protesannya berubah jadi desahan kacau tak berdiksi. “Nghhhh, bentar, Kak, kita ngomong dulu.”
“Aku cinta kamu, mau selamanya sama kamu,” tangan Takemichi yang tadi ingin hentikan jemari Manjiro terhenti, saat wajah yang dikubur sengaja ke perut yang lebih muda itu menggetarkan kalimat. “Aku nggak tahu seberapa lama rasaku bakal terpaut cuma sama kamu, aku nggak tahu juga sebanyak apa obsesiku kalau itu menyangkut kamu, juga gairahku yang gak ada batasnya walau cuman dengar nama kamu. Aku segila ini saat mencintai seseorang, Michi. Bagiku itu tipe cintaku. Kamu nggak keberatan?”
Memangnya Takemichi orang bodo macam apa? Niatnya untuk mengakhiri hubungan dengan gadis bermarga Tachibana bukan tanpa sebab yang tak nyata. Ia juga paham bagaimana mata kelam itu menginginkan auranya di tiap detik walau terkadang hanya hasilkan enigma semata. Manjiro itu bukan orang yang mudah ditebak lewat sekedar kata saja. Rumitnya lelaki itu mengalahkan semua orang yang pernah Takemichi bagikan tawa.
“Kalau aku keberatan, kamu mau ngelepas aku?” kontradiksi di mata Takemichi acungkan pedang tuk menunggu jawaban Manjiro. Kernyitannya juga tak berkurang barang satu detik saja. Kenapa juga jebak-jebakan dengan kata penuh ambiguitas seperti ini?
“Tadinya, kalau kamu gak akhiri hubungan kamu sama Tachibana, iya. Aku mau lepasin kamu. Kemarin, yang aku ucapkan semua tidak ada kebohongan. Aku muak kamu jadikan selingan semata. Aku cuman mau duduk sendiri di dalam hati kamu, bukan dengan kekasihmu yang kini sudah jadi mantan itu.” Nafas berdetak sangat halus melewati ruam kulit Takemichi saat kausnya disibak dan ciuman hujani perut ratanya. Manjiro masih merasakan keheningan sang pujaan. Tapi ia tidak peduli, tangannya masih terus menggeraya tanpa jeda.
“Kakak tahu kan aku cinta sama Kakak?”
“Hmm.”
“Kesannya kok kayak gak percaya gitu sih?” rambut yg lebih pendek darinya itu ditarik oleh Takemichi, buat kekehan geli sambangi bibir Manjiro. “Aku ini loh, sayang cuman sama Kakak.”
“Iyaa tahu itu kenapa aku jawab kamu kan?”
“Jadi aku kelihatan keberatan nggak sama obsesi kamu?”
Manjiro tahu dalam sekali pandang saja. Takemichi, sudah tidak mengalami kebimbangan seperti biasa. Alih-alih hanya diliputi jutaan cinta di kedua netra lautnya. Saat masih didalam hubungan sembunyi-sembunyi, Manjiro selalu rasakan dinginnya rasa bersalah disana. Betapa tidak puasnya Manjiro saat mengatahui kalau seusai mereka melakukan seks, yang diceritakan Takemichi tidak jauh-jauh adalah Hinata.
Sejak awal bertemu, Manjiro sudah tunjukkan obsesi. Tapi Takemichi hanya melihatnya dengan mata cerah tapi tak ada hati yang beresonansi. Manjiro paham saat ia menawarkan satu malam panjang pada Takemichi, ia hanya akan temukan jalan buntu dan gelap karena hanya menjadi aneksasi. Tapi Manjiro mana mau paham? Yang penting ia bisa lakukan apapun jika memang ia harus jadi infiltran dalam hubungan si pujaan hati. Karena ia yakin, untuk terbalasnya perasaan yang sama, Manjiro dua ratus persen percaya akan adanya ambivalensi.
Manjiro menciumnya hangat, seolah kukuhkan pada dunia bahwa ia pantas jadi ekuitas nan dikara seperti Hanagaki Takemichi.
Saat satu persatu fabrik terlucuti, tawa mereka diiringi desah kuasi yang begitu indah. Mereka lupa akan lebatnya salju diluar sana atau televisi yang menyala begitu terangnya. Lidah mereka hanya tahu saling mengincip, ciptakan decapan keras penuh kata asmara. Saat telunjuk panjang itu beralih dari memberi penetrasi di analnya, Takemichi paham kemana arah selanjutnya.
Manjiro tipikal orang paling halus saat melakukan seks, tidak suka terburu-buru tapi buat yang dicinta seolah mabuk kepayang. Ciuman seperti kupu-kupu itu berhenti di dada Takemichi tanpa ancang-ancang. Beralih pada bibir merah muda Takemichi yang keluarkan liur tanda kesadarannya sudah diawang.
“Jilat.” Perintah Manjiro diberi tatapan kosong sebentar, tanda Takemichi masih memproses apa maksudnya. Saat memahami kemauan sang dominan, Takemichi julurkan lidahnya, lumuri dua jari Manjiro yang mungkin belum cukup beri basah di analnya. Gerakan itu seperti berikan kenikmatan oral seks; keahlian Takemichi biasanya. Lidahnya berputar, kepalanya maju mundur tanpa sebab, dan netra lautnya tak tinggalkan kubangan kelam kekasihnya.
“Hei, jangan.” Cegah yang lebih tua saat jemari Takemichi mulai rambati bagian bawahnya. “Aku cuman mau lubangmu, mau penuhi kamu sama cairanku. Bukan sama tanganmu yang payah itu.”
Takemichi menghentikan beri kebasahan di dua jari Manjiro, mengernyit protes walau tak tahu harus bereaksi dulu pada perkataan mesum Manjiro atau kalimatnya yang mengandung anotasi.
“Jahat banget.” Saking dongkolnya, Takemichi cuman lontarkan perkataan itu saja.
Manjiro hanya acuhkan komentar si netra biru, memilih angkat pinggul ringan itu dan posisikan dua jemarinya masuk lagi. Takemichi melotot saat tak ada tanda apapun untuknya mempersiapkan diri. Jari Manjiro terlalu panjang untuk memperpendek waktu sampai ditujuan si surai legam ingini. Prostat Takemichi langsung disodok tak butuh waktu satu menit seperti biasa mereka lakukan jauh-jauh hari.
“K-kak, b-bentar—ngh, berhenti dulu aku aaaah,” seringai Manjiro melebar, decauan Takemichi makin tak berdasar. Gerakan menggunting tanda didalamnya bolak-balik sentuh titik pusat desahan walau Takemichi tahu maksud Manjiro hanya memperlebar.
“Hoo, kok udah gini aja?” pertanyaan itu tidak didengarkan Takemichi secara jelas, yang ia tahu, tangan Manjiro yang lainnya sudah mengelus batang kemaluannya naik turun. Cairan tanda ejakulasi agaknya jadi tujuannya, tapi Takemichi sudah rabun. Nafsunya akan dua stimulasi di bawah tidak membawanya pada kewarasan penuh sopan santun.
Kalau diibaratkan, mereka berdua itu sudah seperti avonturir. Tak tahu kemana tujuan keduanya setelah inipun, mereka tetap maju tanpa banyak pikir. Mereka hanya ingin ciptakan desir walau hanya sebagai amatir. Cinta mereka tidak kenal kikir meski sudah cukup kocar-kacir. Ahh, lebih-lebih jika Manjiro pikirkan, Takemichi itu selalu seperti air mengalir atau sebuah kincir.
Ia harus temukan pemicu untuk mencinta. Pantas Tachibana Hinata begitu mendambanya. Lelaki ini bukanlah berita buruk, bukan pula berita penuh nada ceria. Ia hanya Takemichi Hanagaki, yang mudah buatmu jatuhkan obsesi, dan mudah pula bagi dirinya untuk jatuhkan diri sampai jadi budak cinta.
Manjiro tidak pernah rasakan sesal sudah jadi penghalang hubungan Takemichi dengan Hinata. Ia juga tidak pernah berpikir dua kali tuk terjang apapun supaya jatuhkan posisi dengan sedikit serakah. Toh, selama lima tahun ia telah jadi penikmat drama. Apa salahnya jika ambil peran sewaktu ini saja?
Saat mata gelapnya menatap Takemichi yang menuju sampainya pelepasan dengan duduk di pangkuannya, racaukan bagaimana miliknya penuhi lubang sempit itu, Manjiro tahu ia sudah terikat makin dalam pada sebuah renjana. Sewaktu tangan Takemichi mencengkram bahunya, menggulir kepalanya kebelakang dan lebarkan mulutnya untuk mendesah, Manjiro hanya rasakan letupan asmara. Dari skala paling besar untuk mencinta, Manjiro berani bersumpah bahwa ia sudah sampai di level khianati dewa hanya tuk bisa bersama pujaannya.
Begitu Takemichi menggeram, Manjiro obrak-abrik liang senggamanya dengan sangat kacau, berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan dengan gerakan pinggul lebih cepat, dan keluarkan suara penuh elusif.
“Hei,” elusan di tengkuk Takemichi buat deheman lemah sebagai jawaban. “Masih mau lagi?”
“Aku kira kamu bakal bilang ‘kasih aku satu kebohongan, apapun itu’ ternyata udah beda ya?”
Manjiro tertawa sampai Takemichi rasakan tubuhnya bergetar karena aura bahagia. “Kalau udah ditahap hubungan ini, mana mau aku diberi omong kosong? Toh kamu sudah jadi milikku, aku udah nggak butuh kata cinta cuman buat pemuas semata.”
“Terus butuhnya apa? Kalo jawab butuhnya aku doang, kayaknya terlalu sampah.”
Takemichi paham betul tabiat Manjiro jika sudah berdiksi. Bisa menjadi sangat manis bagai fruktosa, bisa juga begitu tak jelas sampai Takemichi sulit dapatkan eksposisi. Kadang pula, bisa sungguh menyakitkan jika sudah keluarkan aksara berlumur insinuasi.
“Butuh kamu di sisi aku terus sih,” Manjiro keluarkan dengusan sambil menekan kata, “jangan lihat aku kayak lihat hal memuakkan gitu dong?” Takemichi berikan tatapan rendah, meremehkan kalimat yang diluncurkan Manjiro memang tidak terkandung enigma, tapi malah jatuhnya seperti pujangga. “Aku serius tahu. Gak ada lagi yang aku mau, udah dapat kamu ini.”
“Emang ya, udah diberi tempat jadi penggawa, masih keruk kesempatan buat jadi raja.”
Manjiro tertawa saja, memang benar ya dia se-serakah itu? Ah mana peduli dia jika memang keadaanya jadi begitu. Yang penting dia cuman mau jadi nomor satu.
“Aku cinta kamu.” Ujar Manjiro saat mata mereka berpaut, merantai satu sama lain dalam obsesi yang mereka ciptakan. Takemichi juga selalu membalas senyum, seperti mendapat persuasi tersendiri dari tiap-tiap kalimat yang Manjiro keluarkan.
Memang sudah seperti ini seharusnya; menjadi paling terfiksasi satu sama lainnya adalah frasa paling tepat untuk ungkap perasaan mereka.
“Filantropiku cuman kutujukan untuk kamu.”
Lalu mereka berbagi ciuman hangat, tertawa akan cokelat panas yang sudah mendingin karena tergerus waktu yang lamat. Jika Manjiro ditanya, apakah definisi cinta harus sangat luar biasa? Jawabannya, mungkin iya, mungkin pula bukan seperti itu arti cinta sampai karat. Lalu, jika ditanya lagi, apakah kau harus mencinta sampai jadi egois tak tahu tempat?
Manjiro akan menjawab, tentu saja. Memangnya, bagian mananya kau tidak mau jadi yang utama? Atau ambil kesimpulan bahwa cinta bukan hanyalah aksara yang dibuat pujangga saja, tapi cinta itu adalah pujangganya. Yang mengendalikan dirimu adalah cinta namanya. Yang buatmu jadi manusia tersampah juga cinta namanya. Dan yang menjadikan dirimu bagai makhluk terkeras kepala hanyalah cinta namanya.
Dulu Manjiro remehkan Kakaknya yang tunduk setengah mati dengan Haitani Ran. Ia mengatakan kalau Shinichiro itu lemah karena terbelenggu cinta yang tak dapat terjangkau penglihatan. Kakaknya tertawa, menyesap kopinya lalu legam yang sama dengan Manjiro tetap menatapnya penuh kehangatan. Lalu teralirkanlah sebuah penjelasan:
Cinta itu bukan sesimpel kamu memakan taiyaki, lalu tenggak ocha tuk hentikan sedak di tenggorokan kamu, Jiro. Kadang kamu perlu menilik dari bawah kaki kamu, lalu biarkan mata kamu simpulkan, apakah logika kamu masih diperlukan? Kalau logika kamu tersendat, maka itu namanya cinta. Kalau kamu tidak bisa berkata dan hanya bisa gumamkan damba, itu namanya cinta. Rumit ya? Namanya juga kuasi paling dikara.
Tapi bagi Manjiro selalu percaya bahwa cinta itu memang tak mudah, jika menginginkan kebersamaan, maka pikiranmu akan jadi dangkal. Apapun caranya, ia harus dapat cinta itu sampai ke pangkal.
Dan orang paling egois sejagat raya terlahir; orang dimabuk cinta.
