Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-09-16
Words:
1,129
Chapters:
1/1
Kudos:
6
Hits:
96

Menjadi Asing

Summary:

Karena pernah sekali mencinta, mereka menjadi asing.

Notes:

The fic based on Clara Mae - Loved You Once

Work Text:

Lucu, seluruh orang pernah berkata bahwa cinta adalah perasaan paling suci—walau sesungguhnya memang benar, karena menyatukan dua kepala untuk saling memberi afeksi akan terdengar lucu. Namun segalanya terasa mungkin saat salah satu mulai merasakan benih-benih perasaan.

Hal klise, saling berpandangan, tersenyum kecil dan memalingkan wajah saat terpergok memandangi. Bermuara pada satu perkenalan dan kesepakatan bersama bahwa mereka mungkin akan berakhir baik jika berjalan bersama.

Sekedar bertautan tangan dan memandang iris mata pada sinar senja sore hari; tak akan menyesali tentang perkenalan yang membawa mereka pada status sepasang kekasih.

Walau, dengan pahit akan dinyatakan; bahwa kata kekasih hanyalah kosa kata temporer.

Cinta mereka berakhir pada hari ke 365; hanya karena Pria Choi itu telah merasa kosong. Kehilangan segala pernak-pernik manis di hatinya dan memandang dirinya tanpa hasrat.

Seungwoo telah melakukan segalanya untuk bertahan; tak akan berbohong memang jika rasa jenuh terkadang menghampiri. Namun ia percaya pada kekuatan kasih sayang dan berbangga diri karena pada penghujung hari ia bisa kembali berdebar pada Choi Byungchan.

Apakah akan dilabeli ironi jika ia berharap Byungchan melakukan hal yang sama?

Sekedar berharap pria itu akan mengusahakan segala cara, setidaknya membicarakan rasa penat pada hubungan dari pada memutuskan sepihak bahwa perpisahan adalah jawaban?

Tak peduli jika hatinya berkata konyol, apa salah untuk Seungwoo yang menuruti kata hatinya bahwa mungkin kata pria dengan senyum semanis madu itu benar?

Benar jika dirinya hanya menipu diri sendiri demi menunda perpisahan? Akhirnya menyerah dan memberikan persetujuan dengan berat hati bahwa kisah mereka berhenti sampai di sana.

Untuk sekali waktu, Seungwoo merasa mungkin Byungchan benar.

Hingga membawanya pada kesenjangan hubungan, patah hati yang begitu dalam dan duka yang mengental.

Juga, tentang rindu. Tertutupi oleh harga diri dan komitmen membuatnya harus mengubur perasaan tulus itu sedalam-dalamnya. Mencoba menjalani hari dengan anggapan mungkin ini yang terbaik.

Mengikuti alur yang Tuhan berikan, mengatakan pada diri sendiri bahwa ia pasti bisa; pasti bisa melupakan sosok yang dulu terkasih dan lebih membuka hati tentang perpisahan yang telah terjadi.

Walau segalanya tak pernah mudah, melewati bulan-bulan panjang untuk akhirnya bisa mengukir senyum tanpa sayatan dalam hati—namun tetap, nama itu masih terukir di dalam sana.

Hanya saja, setelah perenungan lama … Seungwoo menyadari sesuatu.

Tepat di salah satu meja, duduk sendirian dengan gelas brendi dan tenggorokan yang bergejolak panas akibat minuman beralkohol, Pria Han itu bertanya-tanya.

Haruskah seperti ini? ia menenggak lagi cairan kekuningan tersebut.

Haruskah berakhir seperti ini? Seungwoo melirik ke arah bar. Bersikap asing seolah tak saling mengenal?

Gelas itu diletakkan dengan hentakan keras. Padahal dulu mereka saling menatap seolah masing-masing adalah poros dunia.

Rindu, sakit dan tak paham.

Seungwoo dalam balutan baju denim yang entah ia gunakan sejak kapan, juga tentang tatanan rambut berantakan; yang jelas akan mendapat olok-olok jika seandainya Do Hanse ada di sini.

Benar, Seungwoo tertawa pada dirinya sendiri.

Pria bertato itu jelas akan mengoloknya habis-habisan jika mengetahui ia kacau di bar klasik ini. berkata bahwa Seungwoo begitu bodoh terbutakan cinta tentang pertemuan yang dulu tidak disengaja.

Saat segala prestasinya yang telah terukir cantik di banyak piagam, ia mencoba memberi satu selebrasi dengan malam penuh alkohol di bar tempat teman lamanya bekerja. Datang penuh percaya diri namun berujung kecewa karena saat ia datang, ternyata pria pemilik dua tindik di wajah itu telah berbulan-bulan berhenti secara tidak baik dari sana.

Seungwoo menggelengkan kepala, mencoba mengingat apa kata manajemen waktu itu—yang jelas pria menyebalkan itu mengomel marah saat ia membahas Do Hanse. pergi ke ruangannya sendiri dan membuat sosok yang ternyata sejak tadi menguping memberikan jawaban.

Memberitahukan bahwa sang teman lama berhenti secara tidak baik. Berkelahi dengan salah satu pengunjung bar untuk membela kekasihnya dan melangkah keluar seperti jagoan dalam film.

Seungwoo awalnya tak percaya, ia kenal Hanse dengan benar. Pria itu hampir tidak memiliki ekspresi di wajahnya; maka jikalau mungkin, pasti pengunjung itu benar-benar berbuat kesalahan besar hingga membuat seseorang tanpa ekspresi bisa se-meledak itu.

Namun, akhirnya ia percaya—atau lebih ke tidak peduli sebenarnya.

Karena malam yang hendak dihabiskan dengan teman lama mendadak berubah tema. Menjadi duduk di sana dengan gelas brendi yang sama seperti sekarang. Mengukir banyak senyum dan tawa pada bartender muda yang memiliki pesona menyenangkan dari balik meja.

Membuat mereka terlarut dalam obrolan yang mengalir begitu saja.

Tak bertema, membicarakan mulai dari betapa membosankannya bekerja di bagian bir dan tentang dia yang lebih muda bernama Choi Byungchan; memiliki binar mata yang menahan hingga membuatnya terus mendatangi bar itu.

Melakukan kontak curi pandang hingga akhirnya memberanikan berkenalan, dan menghantarkan mereka pada hari-hari kasmaran dan cinta yang terbalas walau hanya sementara.

Benar; hanya tentang Choi Byungchan sang bartender bar lokal yang manis. Yang dulu pernah menjadi dunianya untuk kembali asing walau pernah sekali mencintai.

Choi Byungchan yang sama dengan sosok yang mendiami hatinya. Tak peduli telah berapa lama perpisahan itu telah usang.

Seungwoo masih di sini. Tak lagi berharap banyak walau masih merasa miris karena tentang asing yang membentang. Hanya menatap diam dari kursi di ujung bar, tak bisa melepas pandangan pada sosok yang kini tengah menuangkan tequila.

Begitu mempesona seperti biasa, tersenyum ramah pada seluruh pengunjung dan tampil begitu tampan melalui kemeja putih polos dengan lengan yang digulung berantakan. Masih memiliki lubang begitu dalam pada dua pipi saat tertawa, membuat bayangan yang tak terhindarkan tentang bagaimana dulu itu tempat favoritnya untuk mendaratkan telunjuk tangannya sendiri.

Juga tentang bayangan bahwa sekali lagi masih sama; mereka telah asing. Terbukti dari Byungchan yang bahkan tak repot-repot menatap matanya lebih dari dua detik saat netra mereka bersirobok.

Kembali memandang sesuatu yang lain seolah Seungwoo bukan apa-apa.

Seungwoo yang sampai sekarang masih mencintai dirinya bukanlah apa-apa. Miris, namun itulah yang terjadi.

Tidak bisakah, mereka tak menyentuh tahap asing? Tak perlu sesuatu yang muluk-muluk tentang hubungan yang dirajut kembali, atau menjadi sesuatu yang begitu klise seperti sahabat.

Seungwoo tidak bisa mengerti hal ini, mengapa mereka harus menjadi asing karena pernah saling mencintai?

Apa memang tak ada lagi senyum itu untuk dirinya?

Pertanyaan itu tak akan pernah tertawab seiring dengan tegukan brendi-nya yang terakhir. Meletakkan gelas pada meja bar bersamaan dengan uang dan kembalian yang tak ia pedulikan.

Berdiri sedikit sempoyongan dan beranjak.

Melangkah tak bertenaga pada salah satu meja kosong, meraih tisu di tengah-tengah dan pena di saku.

Sekali lagi melihat pada sosok bercahaya di balik meja bar tersebut dan menghela nafas pada ukiran tinta pertama. Menulis lemah karena kenangan yang menggelayuti dan memandang nanar pada tulisan berantakan di atas permukaan putih.

Lalu melanjutkan langkah tanpa kesadaran tepat pada panjang meja bar, kembali bertatapan pada iris berbayang akibat pencahayaan, sedikit lama tertahan oleh pandangan penuh nostalgia dan menyerahkan tisu itu melalui senyum yang dipaksakan.

Tak mengatakan apapun dan keluar dari bar pinggiran kota dengan langkah khas pemuda mabuk. Meninggalkan Pria Choi yang terpaku menerima sodoran tisu berantakan tersebut, dan menelan saliva berat saat deret huruf yang dituliskan setengah sadar terasa menusuk hati.

Why we have to be strangers, ‘cause I loved you once.

 

.

.

.

END