Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-09-16
Words:
877
Chapters:
1/1
Kudos:
44
Bookmarks:
1
Hits:
371

nyanyian di kala macet

Summary:

Ingatkan Sanzu untuk tidak menyanyi di dekat pengendara lain.

Notes:

Disclaimer
Tokyo Revengers © Ken Wakui
wish you were gay © Billie Eilish

Alternate Universe

Work Text:

Sanzu sesekali melihat refleksi wajahnya di spion kiri. Surai sewarna bubuk vanila miliknya masih tergulung rapi dengan jedai hitam menjepit di belakang kepala. Dengan masker hitam menutup area bawah mata sampai dagu, Sanzu bisa dengan bebas menggerakkan bibirnya tanpa takut dipandang aneh oleh orang-orang.

Adalah satu kebiasaan Sanzu mengendarai sepeda motor pada malam hari sambil bernyanyi. Merasakan semilir angin malam yang dingin menerpa kulitnya, membawa senandung suaranya terbang dibawa angin entah kemana.

Kali ini lagu wish you were gay oleh Billie Eilish yang menjadi pilihan. Tidak ada alasan khusus, hanya saja akhir-akhir ini lagu tersebut terngiang-ngiang di kepalanya. Sanzu melantunkan lirik dari awal, berusaha menghayati makna dari lagu yang ia nyayikan.

Jalanan pada pukul sepuluh malam tidak terlalu ramai. Sanzu memacu sepeda motornya pada angka 70, menyalip tiap kendaraan yang melaju lambat di depannya. Ujung kemeja yang ia jadikan sebagai luaran berkibar. Kalau saja rambutnya tidak ia gulung, mungkin penampilannya akan awut-awutan saat berhenti nanti.

"I just wanna make you feel okay…"

Begitu mendekati jembatan, Sanzu memperlambat laju motornya. Kepalanya sedikit menoleh ke kiri, melihat pijar lampu-lampu kendaraan yang berlalu-lalang di bawah sana. Tidak lama karena Sanzu harus kembali memfokuskan pandangannya ke depan mengingat ia sedang berkendara sekarang.

"But all you do is look the other way…"

Kecepatan turun menuju angka 40 dan semakin melambat. Di depan sana ada pasar sayuran yang buka dari sore sampai malam hari. Karena letak pasar yang berada persis di tepi jalan, arus kendaraan menjadi tersendat bahkan macet beberapa saat.

"I can't tell you how much I wish I didn't wanna stay…"

Sanzu tetap menyanyi, tak peduli orang-orang di sekitar mendengarnya atau tidak. Ada jeda saat Sanzu bergumam seperti yang dilakukan Billie. Bersamaan dengan itu, motornya berhenti di belakang mobil yang juga berhenti karena di depannya ada mobil lain yang hendak menyebrang ke ruas kanan.

"I just kinda wish you were gay…"

Kepala Sanzu menoleh ke kanan, melihat ada motor lain berhenti di sebelahnya. Tanpa sadar Sanzu menautkan pandangan dengan si pengendara tersebut saat menyuarakan empat kata terakhir dari bait lagu yang ia nyanyikan. Sedetik kemudian, pandangan Sanzu kembali teralih ke depan, melihat mobil yang masih berusaha menyebrang di jalan yang cukup padat kendaraan ini.

Saat pikirannya masih sibuk merutuki kemacetan di hadapan, Sanzu merasakan dua kali tepukan pelan di bahunya. Ia menoleh, melihat penumpang dan pengendara motor di sebelah memberikan tatapan lurus padanya. Dengan alis terangkat bingung, Sanzu menatap balik si penumpang. Dugaan Sanzu, dialah orang yang menepuk bahunya.

"Kenapa, Bang?" tanya Sanzu.

Yang ditanya menatap bingung. "Lo tadi ngomong apa sama adek gue?"

Kening Sanzu mengerut. Seingatnya, ia tidak mengatakan apa-apa tadi.

Melihat kebingungan di wajah Sanzu, si pengendara berdecak lalu menyikut perut penumpang di belakangnya.

"Apaan sih lo, Bang. Bikin malu aja," gerutunya dengan muka ditekuk. "Dia tuh nyanyi, kek gak pernah denger orang nyanyi aja, lo," ujar si pengendara sambil menatap jengkel penumpang yang manggut-manggut dengan mulut membentuk huruf o.

Sanzu yang terlalu fokus melihat mereka berdua tersadar saat bunyi klakson kencang dari mobil belakang masuk ke pendengarannya. Tak lama si pengendara motor sebelah kembali menatapnya. Raut wajahnya melunak, tidak segalak saat mengocehi penumpang yang ia bawa barusan.

"Maaf, ya. Abang gue suka aneh, kadang," ucapnya diakhiri senyum masam.

"Haha, iya, gapapa, Bang," balas Sanzu sekedarnya. Ia mengangguk maklum, tersenyum meski tak nampak karena terhalang masker.

Percakapan selesai. Pandangan Sanzu kembali ke depan. Ia masih bisa dengar sayup-sayup dua orang itu membicarakannya, namun Sanzu pilih abai dan fokus melaju sedikit-sedikit sambil mengatur keseimbangan motornya agar tidak oleng. Mobil tadi sudah sukses menyebrang, namun arus kendaraan masih tersendat karena ramainya pembeli yang berjalan kaki di sisi jalan.

Di tengah hiruk pikuk keramaian orang pasar dan bunyi klakson yang saling bersahutan, Sanzu kembali merasakan tepukan di bahunya. Pelakunya masih sama. Bedanya kini ada cengiran di wajah itu.

"Gue Ran. Dia adek gue, Rindou," ucapnya sambil menujuk diri sendiri lalu si pengendara yang memboncengnya. Si pengendara yang ditunjuk, Rindou, mengangguk sambil tersenyum simpul. "Sori ya, buat yang tadi," lanjutnya.

Sanzu yang masih heran dengan perkenalan tiba-tiba yang dilakukan oleh Ran pun buyar saat mendapat permintaan maaf. Spontan ia menjawab, "Iya, sama-sama, Bang," tanpa berpikir terlebih dahulu.

"Kalo gitu kita orang duluan, ya. Dadah!" pamit Ran lalu tersenyum dan melambaikan tangan saat melihat ada sela untuk menyalip mobil di depan mereka beberapa saat lagi.

Sanzu yang masih loading pun hanya mengangguk-angguk saja kemudian balas berkata, "Iya, dadah!"

Rindou tersenyum mendengus, merasa lucu melihat respon pengendara bermasker di sebelahnya. "Duluan," ujarnya pelan.

Lagi-lagi Sanzu mengangguk. Namun sepersekian detik setelahnya ia tersentak, sadar ia belum memperkenalkan diri, mengingat Ran sudah melakukannya dan Sanzu merasa tidak sopan jika ia tidak kembali memperkenalkan dirinya. Sepasang netra Sanzu menangkap kakak beradik itu yang baru saja melaju. Belum jauh, sepertinya masih bisa dengar jika Sanzu mengucapkannya sekarang.

Dengan itu Sanzu berteriak, "Nama gue Sanzu!"

Kepala Ran menoleh, ia tersenyum lebar. Tangannya terangkat dengan jempol teracung. Sanzu menghela napas lega, tidak sia-sia ia mengeluarkan tenaga untuk berteriak.

Berteriak…

Manik Sanzu membulat. Lagi-lagi ia telat menyadari sesuatu. Sanzu melihat sekeliling. Banyak orang menatapnya, baik sesama pengendara maupun orang-orang pasar dan pembelinya. Sanzu menangkup kedua tangan di depan dada, mengangguk malu, gestur meminta maaf. Bisa-bisanya ia bertindak tanpa berpikir matang.

Besok-besok lagi jangan nyanyi kalo lagi deketan sama pengendara lain, ingat Sanzu dalam hati. Nanti bikin malu lagi, batinnya meringis.

 

 

 


[fin.]