Work Text:
Pagi itu tidak jauh berbeda dari biasanya. Alarm miliknya berbunyi di samping ranjangnya, burung-burung yang mulai berkicauan untuk menyambut hari baru, dan semburat sinar matahari yang menembus gorden dan menerangi kamarnya, semuanya tidak berubah.
Di antara itu semua, Artem Wing mengerjapkan matanya, kantuk yang disebabkan overtime pada hari-hari sebelumnya mulai menyerang. Sangat ingin ia kembali memejamkan matanya dan terlelap barang sepuluh menit lagi, namun mendadak ia teringat akan tumpukan berkas yang menunggu di ruang kerjanya. Sang pengacara mengerutkan kening dan menggerutu pelan, sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba bangkit dari ranjang—
Dimana tak sampai 5 detik, tubuhnya tertahan paksa oleh lengan yang memeluk pinggangnya erat. Artem menahan nafas, sedikit terkejut. Bagaimana ia bisa lupa bahwa kekasihnya sedang menginap? Pria yang berusia hampir kepala tiga itu tersenyum dalam diam melihat raut wajah Marius yang berubah semenjak dirinya bangun.
"Artem…"
Artem tidak menjawab, namun tangannya mengelus rambut keunguan milik pria yang lebih muda itu dengan pelan. Perlahan, Marius menggerakkan kepalanya, seakan meminta Artem untuk meneruskan elusan pada rambutnya. Sang pengacara tertawa kecil.
Ah, ia sungguh mencintai Marius.
Dalam hati ingin ia tetap berada di ranjang bersama kekasihnya itu, namun— ponselnya bergetar, menunjukkan pengingat yang ia setel sehari sebelumnya. Artem menghela nafas. Ia meraih ponselnya untuk menghentikan alarmnya, sebelum matanya tertuju pada kening Marius yang terlihat diantara rambutnya yang berantakan. Ia tersenyum pada dirinya sendiri, sebuah ide terlintas di benaknya.
Artem menundukkan kepala, memberi ciuman lembut pada kening sang kekasih dengan hati-hati, mencoba untuk tidak membangunkan Marius.
"Kutunggu di meja makan," Ia berbisik, tidak peduli pria lainnya mendengarkannya atau tidak.
Sang pengacara meregangkan tubuhnya, dan mulai berjalan menuju dapur.
Artem tidak tahu, bahwa Marius kini tengah duduk di ranjang dengan pipi yang menunjukkan semburat merah, dengan senyum menghiasi wajahnya.
