Chapter Text
Nama kodenya “Executor”. Seorang Sankta dari Laterano yang bekerja untuk Notarial Hall. Meskipun sikapnya sedingin es, dia cukup populer di Rhodes Island. Tentu saja karena paras tampannya yang menawan. Sungguh, siapa yang tidak tertarik melihat sepasang mata birunya yang bagaikan langit cerah di siang hari? Siapa yang tidak merasa nyaman menatap wajahnya yang putih bersih dan rambutnya yang halus bagaikan sayap bidadari? Ekspresi dan nada bicaranya yang datar sangat bikin penasaran. Mereka ingin tahu seperti apa senyum, tawa, tangis, marahnya.... Banyak sisi yang tak dimunculkan oleh Executor. Semakin misterius, semakin bikin orang ingin tahu.
Ah, tunggu. Ngomong-ngomong soal misterius, bukankah operator “Flamebringer” jauh lebih bikin penasaran lagi? Masa lalunya tidak banyak diketahui orang, malah seperti sengaja dikubur dalam-dalam.Konon katanya dia pernah membunuh jendral dan putra mahkota. Senyumnya hanya nampak di medan pertempuran dengan darah yang berlumur di sekujur tubuhnya. Gaya pakaian serba gelap memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan elegan. Sebagian wajahnya mungkin ternoda kristal oriphaty, tapi itu tak memudarkan pesonanya sama sekali. Dia juga senang merawat bunga, yang mana sisi tersebut terlihat cukup manis. Beberapa operator medic sering melihatnya di rumah kaca menyiram bunga-bunga. Ketimbang Executor yang hidupnya terlihat datar saja, mengulik kehidupan Flamebringer terasa jauh lebih menarik.
Lantas kenapa topik Flamebringer jarang diperbincangkan padahal mereka direkrut di periode yang sama. Apakah ini karena faktor ras? Status infeksi?
Tersebutlah sebuah gerombolan operator wanita teknisi. Sejak kedatangan pertama Executor ke departemen mereka, Sankta ini mulai jadi topik obrolan baru. Biasa, obrolan wanita lajang yang sedang hangatnya berandai-andai tentang pasangan hidup. Menghayal punya pacar seperti Executor terlihat tidak buruk juga, bukan?
“Kemarin tanganku kesetrum sampai terbakar. Lalu Executor menanyakan bagaimana kondisiku dan memberiku pertolongan pertama. Ah… rasanya seperti mimpi ><,” seorang gadis Feline, sebut saja Operator A, bercerita dengan wajah berseri-seri. Segala kesibukan mereka yang melibatkan Executor terasa seperti drama romantis saja.
“Aku iri! Apa aku harus membakar tanganku juga agar Executor mau memperhatikan aku?” sahut teman Perro-nya, sebut saja Operator B.
“Dasar gadis-gadis sinting. Memangnya Sankta robot itu bakal tertarik padamu?” tentu saja operator lelaki di sana agak jengkel dengan obrolan si rekan wanita. Padahal dalam hati, mereka juga terpukau dengan keindahan sang malaikat. Hanya saja mereka tidak mau mengorbankan harga dirinya untuk jatuh hati pada Sankta itu.
Reaksi berbeda ditunjukkan oleh gadis yang satu ras dengannya. Bukan lari karena tersipu malu, tapi karena takut. Takut akan hukuman sang eksekutor. Dia seperti wujud nyata penegakan hukum dan birokrasi. Tidak main-main, mereka bisa saja tega untuk mengangkat senjata pada sesama kaumnya.
“Ehh? Surat cinta?” Ambriel takjub melihat Operator A menghampirinya untuk menyampaikan seucuk surat wangi ini pada Executor. “Surat cinta? Untuk orang Notarial Hall itu?”
“Iya!” Sang Feline mengayunkan ekornya. “Kamu satu kampung halaman dengannya ‘kan? Kamu pasti punya relasi khusus dengan Executor. Tolong sampaikan ini padanya.”
Ambriel memutar bola matanya, “Kamu minta tolong orang lain saja deh, asal jangan aku.”
“Lho? Kenapa?”
“Ya gitu deh. Pokoknya jangan minta tolong padaku. Sudah, ya. Dah!” Ambriel cepat-cepat kabur dari situ, meninggalkan gadis Feline ini sendirian.
“E-eh tunggu!!! Huh? Apa dia naksir Executor juga?” dia menggaruk pipi. Surat itu didekapnya erat-erat, berharap perasaan ini bisa tersampaikan pada malaikat itu. “Sudahlah. Aku harus cari cara lain.”
Operator A terus berjalan mendekati area dormitory operator pria. Beberapa orang berlalu lalang di situ, mencari orang yang sekiranya bisa membantu untuk jadi kurir suratnya. Kalau bisa sih, orang yang punya Halo di kepalanya.
“P-Permisi!” dia menemukan satu. Name tag-nya bertuliskan nama "Adnachiel", seorang anak lelaki muda dengan halo miring.
“Halo! Ada apa, ya?” senyumnya terkembang ramah, beda sekali dengan si Sankta gebetan.
“Anu. Ini, bisakah kamu antar surat ini ke Executor? Aku… malu kalau harus menyampaikannya langsung >< . Tolong aku ya. Aku mohon…"
Wah, surat cinta? Manis sekali! Gadis ini tampaknya punya sisi lembut untuk Executor di hatinya. Adnachiel menerima permintaan itu dengan senang hati!
"Tentu saja! Gak masalah! Kebetulan aku ada latihan menembak dengannya hari ini. Aku akan sampaikan."
"Makasih banyak! Kamu benar-benar berhati malaikat!" Pujian itu membuat Adnichiel canggung karena secara teknis dia memang ras malaikat. Hati berdebar kencang saat Adnachiel pergi dari sana membawa surat itu. Semoga saja Executor akan membalas suratnya.
Sepucuk surat ditujukan untuk Operator A dua hari kemudian. Sebuah amplop putih bergaya formal dengan nama kode "Executor" terketik rapi di muka. Suara jeritan pun menggema di penjuru dorm ini, sontak mengundang gadis penghuni dorm lainnya untuk mengerubungi Operator A.
"KYAAA!!! EXECUTOR MEMBALAS SURATKUUU!!!" Si gadis Feline membuka suratnya dengan gemetaran. Harap-harap cemas dengan balasan sang pujaan hati. Hal pertama yang dia lihat di dalam adalah kop surat Notarial Hall Laterano. Tanggal, Nomor Surat, Nama penerima dan isi surat diketik dengan komputer menggunakan font Times New Roman ukuran 12. Isi suratnya adalah sebagai berikut:
Pengajuan hubungan kerja sama sedang kami pertimbangkan. Terima kasih atas perhatian Anda.
--Operator LT01 Executor
Rhodes Island, dd mm yyyy.
"......"
Sebentar. Apa surat ini benar-benar balasan untuk surat cintanya kemarin? Apa tidak salah kirim? Tapi kenapa di surat itu terdapat namanya sebagai penerima?
"Ehh? Gini doang?" Operator A membolak-balik, melihat, meraba, menerawang sepucuk surat ini, siapa tahu ada kode rahasia tersembunyi di dalamnya. Namun dia tak menemukan apapun. Inilah seluruh isi surat balasan Executor. Dia hanya mengucapkan terima kasih dengan gaya yang sangat formal. Lalu kenapa dia menggunakan kata ganti "kami". Apakah surat cintanya disampaikan juga ke Notarial Hall?
Orang pun bertanya-tanya. Apakah Executor sedemikian sibuk sampai menggunakan bot untuk membalas surat-suratnya. Operator A yang patah hati dan bingung ini pun curhat di forum lambe turah (?) Operator R.I. . Rupanya bukan hanya dia seorang yang mendapatkan jawaban tersebut.
[APA-APAAN INI EXECUTOR?? AKU MAU LIAT TULISAN TANGANMUUU 😭😭😭]
[Sudahlah menyerah saja. Mungkin dia memang beneran robot.]
[Aku takut surat cintaku dilaporkan ke atasannya.]
[Jawabannya "dipertimbangkan", 'kan? Bukan ditolak jadi masih ada harapan. Semangat!]
Semakin banyak yang speak up, semakin jelas banyaknya jumlah fans Executor di sini. Bukan cuma gadis-gadis, beberapa bujangan pun ada yang mencoba mengirim surat cinta padanya. Jawaban Sankta itu tetap sama, berupa sepucuk surat formal dengan kop Notarial Hall. Uniknya, para fans Executor saling mengutarakan ide bagaimana cara untuk meluluhkan hati 'robot' ini. Mereka sharing info dan foto-foto ala paparazi Executor saat bekerja. Ada info yang bilang dia suka makanan manis. Ada juga yang bilang dia aromantik dan aseksual. Ada lagi yang menyebutkan Executor suka wanita muda yang seksi. Entah mana yang benar mana yang hoax. Kehidupan Executor amat sangat datar. Kerja, kerja, pulang, makan, ke WC, kerja, kerja… . Sedikit sekali info unik yang bisa mereka dapatkan.
Info terbaru mengatakan kalau Executor punya teman sekamar di dormitory. Seorang prajurit bayaran Sarkaz yang direkrut satu angkatan dengannya. Nama kode Sarkaz itu Flamebringer. Dari fotonya, dia terlihat sangat atraktif. Gayanya nyentrik dan modis, sangat percaya diri memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi. Sifatnya? Tak kalah dingin dari Executor. Tapi setidaknya operator ini masih mudah dijumpai di kebun Rhodes-- tidak seperti Executor yang sangat eksklusif dan kantoran. Kaum Sarkaz cukup lazim ditemukan di Rhodes--terutama karena ras mereka rentan terinfeksi sehingga banyak dari mereka berobat di sini. Masa lalu kelamnya juga dinilai cukup berbahaya. Oleh karena itu, orang-orang di forum tidak terlalu tertarik untuk membahasnya.
Meski demikian, tetap saja ada penggemar Executor yang memberanikan diri mendapatkan secuil info dari Sarkaz tersebut. Satu dua orang masih diladeni. Empat… lima…. Tunggu, ada berapa orang yang naksir sama Executor? Lama-lama Flamebringer bisa menarik tarif untuk sebuah informasi tentangnya,
"Astaga. Kenapa kalian gak langsung tanya aja ke orangnya?" Flamebringer mulai malas meladeni pertanyaan sepele para fangirl ini. Bahkan tidak ada seorangpun yang datang menanyakan bagaimana kabarnya, mereka hanya peduli pada Executor.
"K-ki… kita 'kan malu…! Trus Executor selalu saja sibuk dan jarang bisa kita temui."
"Ck. Udah tahu orangnya kayak gitu kenapa masih dikejar-kejar sih? Realistis aja, emangnya dia bakal suka sama cewek gak jelas macam kalian?"
"Yee suka-suka kita lah! Yang penting ada usahanya! Gimana? Bisa tolong sampein surat ini? Tolong yaaa nanti kita traktir makan deh!"
"Orang aneh," Flamebringer mengambil surat-surat itu, "Tapi baiklah. Aku akan tagih janji manis kalian," lalu melenggang pergi dari hadapan mereka.
Para penggemar Exe ini langsung merasa deg-degan saat surat mereka dibawa pergi. "PASTIKAN SURATNYA SAMPAI YA! KALAU DIA BALAS BARU KAMI TRAKTIR!"
Ups! Suara mereka tampaknya terlalu keras. Para gadis ini langsung jaim menutup mulut mereka saat melihat sosok sang idola muncul dari balik dinding koridor. Sosok malaikat dengan jubah putih dan shotgun dalam genggaman. Matanya hanya sekilas menatap para gadis--yang mana membuat mereka langsung mabuk kepayang, setelah itu dia berdiri di hadapan Flamebringer. Sayap hitamnya yang terkembang terlihat turun sedikit, begitu pula halo di atas kepalanya. Dia menatap surat-surat merah muda di tangan Flamebringer.
"Apa ini, Flamebringer?"
"Surat cinta…." Kepalanya menoleh ke belakang, ke gerombolan gadis-gadis yang masih terpana dengan pemandangan indah seorang Sankta di hadapannya.
"Makasih," jawab Executor sambil mengantongi surat-surat itu. Iya. Cuma bilang 'Makasih' dengan muka yang datar banget.
"Hahaha. Pastikan kamu membalasnya. Mereka janji bakal mentraktirku kalau kamu balas surat-surat itu," Sarkaz itu tertawa santai.
"Sungguh? Beruntung sekali."
Flamebringer tertawa sekali lagi. Ini kejadian yang tidak biasa di mata gadis-gadis itu. Seorang petarung Sarkaz dingin yang tertawa hangat di hadapan seorang malaikat kaku. Sulit dijelaskan, tapi sepertinya mereka akrab.
"Yah, kamu boleh ikut. Toh mereka ini yang bayar. Kalian gak keberatan aku makan bareng dia, 'kan?" Pria bertanduk ini menoleh. Para gadis dengan sigap dan senang hati menerima hal tersebut.
"OH! TENTU SAJA! APAPUN DEMI EXECUTOR!" Persetan dengan setan itu. Tujuan sesungguhnya adalah bisa ajak Exe makan bareng!
Dari sepuluh orang gadis, hanya tiga orang yang berkesempatan makan bareng dengan Executor. Lainnya terbentur jadwal shift kerja sehingga tidak bisa ikut dalam acara penting ini. Rencana mereka hangat diperbincangkan dalam forum. Mempersiapkan segala sesuatunya demi menyambut malaikat ini. Benar-benar seperti kencan! Mereka rela menyisihkan hartanya demi bisa mengobrol dekat dengan Executor. Tempat makan, pakaian, hadiah, semua direncanakan dengan baik. Padahal awalnya, kalau tidak ada Executor, si Sarkaz itu paling hanya ditraktir seporsi makanan kafetaria.
Tapi bagaimana dengan Executor? Sankta ini tampak tidak memperdulikannya. Dia tetap bekerja seperti biasa dengan wajah datar yang seolah terpatri permanen. Rencana traktir makan itu hanya diletakkan di reminder ponselnya, sama seperti janji Executor yang lain.
BEEP!
Ah, sudah hampir tiba waktunya. Tapi tunggu. Sebentar lagi. Masih ada dokumen yang harus dia kirim ke Doctor. Executor juga sempat membaca surat-surat cinta yang diberikan Flamebringer beberapa hari yang lalu. Isinya sejenis prosa ungu, yang menggambarkan betapa menawannya sang malaikat di mata mereka. Serta harapan-harapan agar dia bisa membuka hatinya suatu hari nanti. Sejujurnya Executor tidak begitu paham prosa ungu, atau kalimat romatis. Ya, dia paham struktur kalimat dan segi kebahasaan dari gaya penulisan tersebut, tetapi tidak paham bagaimana meresapi maknanya secara emosional. Semua kalimat cinta ini tak lebih dari barisan kata-kata yang dia maknai secara harfiah. Cinta yang merupakam konsep abstrak dalam suatu hubungan interpersonal--yang dianggap Executor sebagai bentuk kerja sama antara dua belah pihak. Maka cara membalasnyapun sama seperti surat-surat cinta yang sebelumnya.
"Kau akan berkencan dan hanya pakai baju kerjamu?" Ucap Flamebringer saat rekan sekamarnya hendak keluar.
"Seorang Eksekutor masih dapat mengenakan jubah ini meski di restoran sekalipun," jawab Exe. Bikin Flame geleng-geleng kepala.
"Lupakan sejenak pekerjaanmu dan santailah sedikit. Mereka sangat menantikan dirimu. Pakailah setelan santai…" tangan Sarkaz meraba kain jubah Executor. Desainnya sekilas tampak membingungkan dan entah bagaimana cara pakainya.
"Setelan santai…?" Oh tidak. Jangan-jangan Executor tidak punya. Yang di lemarinya hanya setelan formal dan piyama. Keduanya tidak cocok dipakai untuk berkencan.
"Tidak punya?"
"Apakah kemeja putih dan celana hitam tidak bisa dipakai ke sana?"
"Ini kencan, bukan wawancara kerja!" Ke mana sih common sense makhluk ini? Masa' dresscode santai saja dia tidak paham?
Pada akhirnya Flamebringer meminjamkannya pakaian. Sebuah kaos biru tua tanpa lengan dengan luaran jaket warna hitam-oranye dan celana jeans panjang robek dengan warna senada. Lengkap dengan aksesoris kalung logam, boots, dan tas pinggang bergaya militer. Benar-benar mencerminkan Sarkaz itu, jiwa-jiwa petarung yang memberontak. Meski ukurannya agak kebesaran tetapi tetap cocok dipakai oleh Executor. Skema warnanya mirip seperti image Exe sehari-hari.
"Bagaimana denganmu, Flamebringer?"
"Aku? Begini saja cukup. Bukan aku yang punya acara kencan dengan mereka."
"Kau tidak ingin berkencan denganku juga?"
"...." Flamebringer terdiam. Bingung. Sudah jelas-jelas para gadis itu yang mengajaknya pergi, bukan? Kenapa malah berpikir Flamebringer juga ingin kencan dengannya?
"Aku cuma ikut makan-makan saja. Sudahlah, ayo berangkat. Mereka pasti sedang menunggumu."
-Bersambung-
