Actions

Work Header

The First Time I Saw You, I Fell in Love With You

Summary:

Pertemuan pertama Jeon Jeongguk dengan Kim Taehyung tidak sampai tiga puluh menit, tetapi Jeongguk telak jatuh hati padanya.

Semakin dirinya mengenal lebih dalam, semakin menyadari pula banyak hal besar yang Taehyung sembunyikan dari dunia luar.

Notes:

Prompt:

 

 

 

Jeongguk bekerja sebagai head chef, suatu hari ia mengantarkan salah satu keluarganya ke rumah sakit untuk kontrol bulanan. Jeongguk bosen terus jalan-jalan ke rumah sakit lalu ketemu sama Taehyung yang lagi melamun di bangku taman rumah sakit.

Taehyung terkena penyakit hanahaki karena ia ditinggal nikah sama teman masa kecilnya, penyakitnya sudah semakin buruk dan Taehyung gak mau kalau harus operasi, akhirnya ia melakukan terapi yang hanya bisa memperpanjang umurnya, namun tidak menyembuhkannya. Lama-lama juga pasti akan ada masanya untuk ia pergi dari dunia.

Lalu datanglah Jeongguk yang awalnya hanya penasaran melihat Taehyung di rumah sakit lama-lama semakin ingin mengenal Taehyung. Cara pendekatan Jeongguk ke Taehyung juga unik dengan memberikan berbagai makanan terlebih Jeongguk seorang chef. Pendekatan yang lain dan alur setelahnya mengikuti author aja enaknya gimana, pekerjaan dan umur taekook juga diserahkan ke author.

Endingnya taekook bersama dan tae mau dioperasi karena ternyata ia sudah menemukan cinta yang baru yaitu Jeongguk.

Do: tambahin konflik angst juga tidak apa-apa :D (lebih bagus), happy ending, jelasin dikit perkerjaan gguk sebagai seorang chef, gak perlu detail banget tapi dikit aja gpp authornim.

Dont: cheating, gguk with oc, toxic relationship

Work Text:

 “Main course untuk meja 18!”

 

Sibuk. Itu satu kata yang cukup untuk menggambarkan kondisi main kitchen salah satu restoran ternama yang mengusung konsep fine dining di distrik metropolitan Korea Selatan. Semua orang berlalu-lalang tanpa henti demi menyajikan hidangan sempurna di hadapan pelanggan. Hawa panas yang bersumber dari salah satu dapur rupanya tidak menyurutkan semangat pria berusia awal 30 tahun ini. Sebaliknya, ia berhasil menciptakan atmosfer penuh energi sehingga tidak ada satu pun koki maupun trainee yang berani merehatkan tubuhnya bahkan hanya untuk sekadar beristirahat sejenak. Kaki tangannya aktif mengarahkan koki yang sedang sibuk berkutat dengan kobaran api di hadapannya.

 

“Periksa kematangan daging sapi. Saya tidak mau menerima keluhan dari pelanggan terkait daging overcooked. Sangat tidak profesional.”

 

Jeon Jeongguk. Pria berusia 30 tahun yang berhasil meraih posisi sebagai head chef pada usia yang cukup dini; tentunya menjadi penghargaan yang tidak main-main. Kemampuannya tidak perlu diragukan, dia menguasai seluruh teknik memasak pada umur 27 tahun. Bahkan pada usia semuda itu Jeon Jeongguk bisa menguasai teknik gastronomi.

 

‘Tidak mungkin koki semuda itu menjadi head chef’.

 

Kalimat itu sudah sering Jeongguk dengar dari orang-orang di sekitarnya. Kelihaiannya dalam memasak berhasil meyakinkan petinggi restoran dan kritikus makanan bahwa dia pantas untuk menduduki posisi head chef.

 

Main course terakhir sudah dihidangkan, Chef!” seru salah satu waiter seraya mengacungkan jempolnya agar terlihat oleh sang head chef. Jeongguk tampak mengangguk puas ketika hidangan-hidangan berhasil terpatri indah di hadapan pelanggan.

 

Good job,” ucap Jeongguk sembari menepuk pundak salah satu koki yang bertanggung jawab pada hidangan utama. Kaki jenjangnya kembali melangkah lebar pada pastry kitchen. Saat membuka pintu pastry kitchen, tubuh Jeongguk merasakan perubahan suhu yang cukup signifikan. Aroma lelehan vanila dan cokelat menyerbu indra penciumannya. Tidak ada teriakan maupun suara bising tubrukan antara spatula dengan wajan. Semuanya berjalan dengan tenang.

 

“Yena! Mulai kembali plating untuk hidangan penutup! Kita punya pelanggan yang sedang menunggu! Selesai lima belas menit dari sekarang!” perintah Jeongguk lantang, berhasil membuat beberapa anak buahnya yang sedang menyiapkan pastri berjengit kaget.

 

Yes, Chef!” Salah satu koki yang bertanggung jawab pada pastri menjawab dengan lugas.

 

Jemarinya bergerak dengan samar, ditelitinya kue itu satu per satu untuk memastikan semuanya sempurna. Sempurna. Pahatan alis tegas itu mengerut saat tangan kanannya merasakan hal janggal, lantas dia memisahkan dua buah potongan kue dari loyangnya. Salah satu trainee yang menangkap pergerakan tangan Jeongguk segera mendekatinya dengan pundak yang berangsur tegang.

 

“Saya tidak paham mengapa dua kue ini terasa keras. Potongan kue yang sudah saya pisahkan jangan dihidangkan, mengerti?! Bagaimana jika pengunjung memakan dua potongan kue ini? Tolong untuk selalu mengecek kualitas makanan!” Mata tajam Jeongguk menatap satu per satu tiap orang yang berada di pastry kitchen.

 

Sosok Jeongguk tidak serta merta meninggalkan ruangan itu. Dia tetap mengawasi semuanya berjalan.

 

Satu per satu hidangan penutup itu diletakkan di piring dan ditata seindah mungkin. Meskipun semua berjalan sempurna, tapi mata awas Jeongguk tidak lantas lepas dari gerak dinamis para koki di hadapannya. Bahkan satu detail pun tidak ada yang lolos dari pandangannya. Hidangan penutup ditata dengan indah dan elegan, tergambar rasa puas dari sang head chef ketika melihat hidangan di hadapannya. Anggukan kecil ditangkap oleh waiter yang secara langsung mengantarkan hidangan penutup itu kepada pengunjung restoran, seakan tahu apa yang Jeongguk maksud.

 

"Hidangan penutup terakhir telah dihidangkan, Chef!"

 

-–•°•–-

 

"Terima kasih atas kerja keras kalian pada hari ini, semua berjalan dengan sangat lancar. Tidak ada evaluasi khusus, saya harap hari-hari selanjutnya tetap berjalan seperti ini," ujar Jeongguk pada kumpulan orang yang membentuk lingkaran kecil di hadapannya.

 

Setelah Jeongguk memberi beberapa kata penutup, kumpulan orang di hadapannya mulai membubarkan diri. Beberapa orang koki mengucapkan salam yang dibalas anggukan kecil oleh Jeongguk. Semua orang sudah meninggalkan dapur hingga yang tersisa di ruangan luas itu hanya Jeongguk dan seorang pria yang berada di sampingnya, juga beberapa orang yang sedang membenahi peralatan dapur.

 

"Ada yang salah dengan oven itu," kata Jeongguk tiba-tiba pada seseorang yang berada di sampingnya.

 

"Ya?"

 

"Oven itu. Tadi aku menemukan beberapa kue yang menjadi keras, sedangkan kue lain yang berada di satu loyang tidak. Tidak mungkin adonannya yang salah, ‘kan?"

 

"O-oh. Nanti aku akan mencari teknisi untuk mengecek ovennya." Mingyu, pria yang menjabat sebagai sous chef segera menulis pada aplikasi catatan di ponsel miliknya.

 

Koki muda itu mengangguk. Meskipun berada dalam satu garis umur yang sama, tetapi mereka tidak melupakan profesionalitas ketika mereka berada dalam satu dapur yang sama. Jika di luar? Itu lain cerita.

 

"Gguk, mau minum?" Jeongguk melirik Mingyu yang mengisyaratkan tangannya seolah-olah sedang memegang gelas kecil.

 

"Tidak," balas Jeongguk singkat.

 

“Ck, ayolah.” Mingyu berdecak kecewa saat mendengar jawaban singkat Jeongguk. “Sudah lama sekali kamu tidak pernah minum. Kapan terakhir kali kamu minum? Empat bulan yang lalu? Atau bahkan enam bulan?"

 

“Hanya satu bulan yang lalu. Kebiasaan, apa-apa selalu dilebihkan.” Mingyu mengaduh pelan sembari mengusap punggungnya yang terasa panas akibat tamparan dari Jeongguk. “Lagi pula aku pulang mengendarai mobil. Terlalu merepotkan jika harus naik kendaraan umum.”

 

Keduanya berjalan beriringan menuju loker yang berada di ujung bangunan. Sesekali Jeongguk menanggapi ocehan Mingyu yang menyebutkan bahwa dia manusia kurang hiburan. Keduanya masih terus berbincang, bahkan gelak tawa sesekali terlempar dari mulut mereka. Bisa dibilang Jeongguk dan Mingyu ini teman sejak masa kecil, meskipun sempat terpisah pada saat bersekolah kuliner, tapi keduanya kembali disatukan oleh takdir.

 

Perbincangan mereka terputus ketika terdengar getaran dari ponsel di saku kanan Jeongguk.

 

"Ibu menelepon," Jeongguk berbicara pada pria di sampingnya yang menatap dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Senyum jahil Mingyu muncul ketika Jeongguk menatapnya, “Bukan pacar. Ini ibuku.” Bahu tegapnya kembali turun saat ternyata Jeongguk tidak berbohong kepadanya.

 

“Ya, mana tahu kamu berbohong.” Setelah dirasa Mingyu meninggalkannya, barulah jemari Jeongguk menggeser ikon berwarna hijau yang terpampang di layar handphone miliknya.

 

"Ya, halo Ibu?"

 

"Jeongguk, kamu sedang sibuk?"

 

"Ah, tidak. Aku baru saja selesai shift." Jeongguk memasuki ruangan khusus untuk pegawai dan mendapati Mingyu sedang bersiap untuk pulang. Sesaat setelah sampai di depan lokernya, dia meletakkan ponselnya di dalam loker dan mengganti modenya ke dalam mode loud speaker.

"Ibu ada jadwal untuk check-up besok, kakakmu tidak bisa mengantar Ibu. Kamu tidak keberatan, ‘kan?" Jeongguk mendengarkan untaian kata yang terluncur dari ponselnya sembari melepaskan satu per satu ornamen yang melekat di badan, mulai dari melepas apron lalu topinya. Sekilas ia melirik smartwatch yang mengikat lengan kirinya.

 

"Tidak, tidak. Cukup beri tahu aku kapan Ibu akan check-up, nanti aku jemput Ibu."

 

"Ah, baik. Nanti Ibu akan meneleponmu lagi. Selamat istirahat, Jeongguk. Ibu menyayangimu."

 

“Iya, Ibu.”

 

Panggilan itu terputus, Jeongguk tersenyum lembut saat mendengar ucapan dari ibunya. Satu per satu ia lepaskan kancing yang mengikat baju seragamnya lalu ia lepaskan kain yang membalut tubuhnya. Tidak butuh waktu lama, tubuh kekar itu sudah terbalut oleh kaus hitam, lalu ia semprotkan pewangi badan yang sengaja disimpan di lokernya. Niatnya untuk membilas diri terpaksa dia urungkan karena tubuhnya sudah enggan untuk bekerja sama. Jeongguk akui selama beberapa hari ini dia overworked sehingga sel-sel dalam tubuhnya menuntut haknya.

 

Satu per satu barang yang tergeletak di lokernya dimasukkan ke dalam tas hitam yang dia miliki. Sudah cukup untuk hari ini. Jeongguk tidak mau kembali diopname karena keegoisannya terhadap tubuhnya sendiri. Angin malam menerpa tubuhnya saat ia injakkan kaki keluar bangunan restoran. Malam ini terasa sedikit dingin, mungkin karena musim gugur sudah di ujung hidung. Langkah menuju mobilnya dia percepat untuk menghindari angin musim gugur yang terus menerus memeluk dirinya yang merasa mulai kedinginan.

 

Mobil hitam yang terparkir di bawah pohon rindang itu dengan segera dia masuki; melempar tasnya ke kursi penumpang lalu mendudukkan dirinya sendiri di kursi kemudi. Jeongguk menggosok dan meniup kedua belah telapak tangannya sesaat setelah memasuki mobil miliknya. Setelah dirasa telapak tangannya terasa hangat lantas dia nyalakan mobilnya. Jeongguk terus mengingatkan diri agar besok membawa mantel untuk ibu dan dirinya. Imunitas tubuhnya sedikit menurun saat musim gugur.

 

Jeongguk menginjak pedal gas sehingga kendaraan beroda empat itu segera meninggalkan lahan parkir restoran. Dengan gagah, kendaraan besi itu membelah langit malam yang bertabur ratusan bintang. Sang langit malam menaungi seluruh umat manusia yang ada di pelukan sang bumi.

 

-–•°•–-

 

Jeongguk tiba di kediaman ibunya pada pukul tujuh pagi. Satu jam lebih cepat dari yang ditentukan, sengaja. Sudah hampir satu bulan dia tidak bertemu dengan ibunya sendiri. Meskipun kediaman mereka bisa dibilang berada dalam satu kota yang sama, jadwal padat milik Jeongguk selalu menyita waktunya untuk mengunjungi kediaman ibunya. Komunikasi Jeongguk dengan ibunya hanya sekadar dari sambungan telepon dan pesan singkat.

 

Kali ini untuk balas budi, Jeongguk memasak menu sarapan dan kudapan manis untuk dibawa ke rumah sakit. Dia tahu wanita paruh baya itu selalu merasa bosan saat menunggu gilirannya. Jadi, Jeongguk berinisiatif untuk membawa kudapan manis yang sudah ia buat dua hari yang lalu. Di depannya, dua porsi sarapan sudah tersaji indah di atas island. Telur sunny side up, salad sayur dengan mayones, alpukat, dan satu mangkuk nasi menjadi menu sarapan pagi ini.

 

Kursi di depannya kini sudah terisi oleh sosok wanita yang selama ini menjadi penopang hidupnya, “Ah, dalam rangka apa kamu memasak sarapan?” Wanita yang tidak lain adalah ibunya membuka pembicaraan.

 

“Dalam rangka merayakan aku yang sudah memiliki kekasih.” Jeongguk balas pertanyaan ibunya dengan lelucon. Ya, menurutnya itu adalah lelucon. Tetapi setelah melihat ekspresi kaget dari ibunya, yang dia yakini bahwa wanita itu menganggap lelucon miliknya adalah keseriusan, barulah dia menyesali lontaran kata yang terluncur dari mulutnya beberapa saat yang lalu.

 

“Kau ... punya kekasih?”

 

“Ibu, maaf. Tadi aku hanya bercanda.” Oh, sekarang Jeongguk benar-benar menyesali ucapannya. Raut wajah ibunya yang semula menampilkan kebahagiaan kembali menjadi masam saat mendengar jawaban Jeongguk.

 

“Ibu kira kamu punya kekasih,” Jeongguk menduduki kursi kosong. “Ayo, cepat makan. Ibu tidak mau makan sendirian.”

 

Rumah ini menjadi saksi bisu kehidupan Jeongguk. Segala sudut memiliki nilai dan cerita sendiri baginya. Namun, semenjak kematian ayahnya enam tahun yang lalu, rumah besar ini terasa lebih dingin. Hanya ibunya yang masih mendiami bangunan besar ini. Beberapa lukisan dan foto keluarganya masih terpampang di atas perapian, radio kuno milik ayahnya masih tersimpan di atas bufet, diletakkan dengan harapan agar rumah yang hanya ditempati oleh ibunya terasa tetap hidup.

 

“Bagaimana di restoran?” Ibunya berucap pelan seraya memakan sarapannya.

 

“Baik-baik saja. Ya, ada masalah kecil, tapi itu tidak terlalu mengganggu.”

 

“Kalau Ibu tidak salah ingat kamu sudah membuat menu baru, ya? Hidangan manis?” Kunyahannya pada makanan yang sedang dia nikmati terhenti ketika Jeongguk mendengar ucapan wanita di hadapannya.

 

“Ibu masih ingat? Kalau tidak salah aku terakhir berbicara tentang ini tiga bulan yang lalu.” Satu dari banyak hal yang Jeongguk sukai dari ibunya adalah selalu mengingat hal-hal kecil yang dia ucapkan. Contohnya seperti saat ini.

 

“Kau pikir ibu akan lupa? Setelah kamu menelepon jam sepuluh malam hanya untuk memberi tahu ibu kalau kamu sudah menyelesaikan satu buah resep?” Jeongguk ingat persis malam itu, di dapur miliknya sendiri dia berhasil merampungkan satu resep hidangan manis. Tanpa berpikir panjang dia menelepon ibunya. Ya, pada pukul sepuluh malam hanya untuk memberi tahu bahwa dia berhasil menciptakan satu resep hidangan manis. Jeongguk masih ingat pula bagaimana nada resah dan khawatir ibunya saat menyadari anak bungsunya menelepon larut malam. Ibunya berpikir telah terjadi sesuatu pada dirinya.

 

Jeongguk terkekeh saat mengingat malam itu, “Aku bahagia saat itu. Jadi aku menelepon Ibu untuk berbagi kebahagiaan.”

 

“Kau membuat Ibu hampir jantungan.” Ibunya menepuk pelan pundak Jeongguk, “Ibu kira kamu kenapa-kenapa, sampai harus telepon Ibu larut malam. Ternyata mau bilang kalau resep kamu sudah jadi.”

 

“Tapi Ibu juga senang, ‘kan?”

 

“Apa pun yang membuat kamu senang, Ibu juga ikut senang.”

 

Jarum jam dinding sudah menunjuk pada pukul sembilan kurang, terlalu asyik membicarakan kenangan masa lampau, sepasang ibu anak itu terlupa pada tujuan awalnya. Mengunjungi rumah sakit. Peralatan sisa makan yang niatnya akan Jeongguk bersihkan total dia abaikan.

 

“Piring kotor dibersihkan nanti saja!” ibu Jeongguk sedikit berteriak. “Jeongguk! Jangan lupa kunci pintunya!” tambahnya seraya memasuki mobil hitam milik Jeongguk yang terparkir apik di pekarangan rumah.

 

Sedikit terburu, Jeongguk memanaskan mobil dan memasukkan tas hitam serta kudapan manis buatannya ke dalam kendaraan hitam itu untuk disantap saat di rumah sakit nanti. Oh, mantel cokelat milik ibunya hampir alpa dari ingatannya. Dengan langkah lebar, pria itu kembali memasuki rumah.

 

Mantel, sudah.

 

Kudapan juga sudah.

 

Ponsel dan uang sudah ada di tas.

 

Kartu ibu? Ah, kalau tidak salah sudah ibu bawa.

 

 Setelah dirasa tidak ada yang tertinggal, Jeongguk mematikan sakelar lampu dan segera mengunci pintu rumah. Sebelum Jeongguk mendorong pintu pagar, dirinya didahului oleh seorang remaja laki-laki tanggung yang sudah mendorongnya terlebih dahulu. Kalau dirinya tidak salah ingat, remaja tanggung itu bernama Yeonjun. Ibunya pernah sekali menceritakan tentang seorang remaja lelaki yang selalu membantu dirinya atau hanya sekadar mengajaknya mengobrol ketika sedang berkebun. Dan, ya, remaja yang dibicarakan ibunya ada di hadapan Jeongguk.

 

“Selamat pagi, Jeongguk-hyung. Mau ke rumah sakit, ya?” Tanpa merasa canggung, Yeonjun memberikan senyum paling semringah yang Jeongguk dapat dalam seminggu ini.

 

“Pagi juga, Yeonjun. Iya, ini ibu mau kontrol bulanan ke rumah sakit. Makasih ya, sudah bantu dorong pagar.” Remaja itu tampak tersipu ketika Jeongguk balas senyum semringah miliknya.

 

“Yeonjun itu memang anak yang baik.” Jeongguk mendapat ucapan dari sang ibu ketika dirinya menduduki kursi kemudi dan memakai sabuk pengaman. Netranya melirik sekilas remaja yang sedang menunggu mobil miliknya keluar. Dengan perlahan, mobil hitam itu mulai keluar dari pekarangan rumah. Jeongguk membuka jendela mobilnya ketika Yeonjun menutup kembali pagar hitam, “Makasih banyak, ya!” Jeongguk acungkan jempol pada si remaja yang dibalas oleh lambaian tangan.

 

“Hati-hati di jalan!” Netra hitam milik Jeongguk tak sengaja mendapati senyum ibunya yang mengembang saat dia balas lambaian remaja lelaki itu. Mobil hitam miliknya mulai meninggalkan kompleks perumahan. Berselang sepuluh menit, pemandangan di luar mobilnya kini berganti menjadi jalan bebas hambatan. Jeongguk meraih ponsel miliknya dan membuka aplikasi musik, menyambungkannya pada speaker mobil, lalu memutar lagu lawas yang selalu ibunya sukai.

 

Perjalanan menuju rumah sakit menghabiskan waktu sekitar 45 menit; kini mobil hitam itu sudah memasuki halaman parkir rumah sakit. Daun-daun yang menari akibat terpaan angin menyambut mereka berdua. Berkas-berkas yang dibutuhkan sudah tersimpan apik di tangan kanannya. Jujur saja, bangunan seluas ini sukses membuat Jeongguk kebingungan. Meskipun penunjuk arah sudah diletakkan di setiap ujung bangunan, nyatanya hal itu sama sekali tidak membantu.

 

“Biasanya Namjoon selalu parkir di basemen, jadi Ibu ingat jalannya. Kalau parkir di luar Ibu mana tahu.” Baiklah, Jeongguk simpulkan bahwa ini adalah kesalahan dirinya.

 

Pasangan ibu dan anak itu menemukan pencerahan setelah seorang perawat bersedia mengantarkan mereka berdua. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, selama perjalanan menuju poliklinik Jeongguk mencoba mengingat rute menuju halaman parkir tempat mobilnya berada. Tidak sengaja netra hitamnya menangkap sebuah kafetaria dengan bangku dan meja di halamannya, terlihat cukup nyaman untuk sekadar menunggu ibunya selesai melakukan kontrol bulanan. Dia tahu, waktu yang akan dihabiskan oleh ibunya tidak akan sebentar. Mungkin menghabiskan segelas kopi di sana tidak terlalu buruk.

 

“Untuk pendaftaran ulang bisa menuju meja pendaftaran yang ada di sana.”

 

Dirasa mereka sudah sampai di tempat yang tepat, perawat yang mengantar mereka pamit setelah Jeongguk mengucapkan terima kasih. Bau menyengat disinfektan menyambut mereka berdua setelah memasuki ruangan yang didominasi dengan warna putih itu. Berbagai poster bertema kesehatan menghiasi hampir keseluruhan dinding, layaknya rumah sakit pada umumnya.

 

“Wah, jadwal konsultasi hari ini sudah mau penuh, ya? Kamu tidak ada jadwal yang mendadak, ‘kan?” Ibunya yang sedang berbincang dengan seseorang di meja pendaftaran lantas menatap Jeongguk khawatir, pun dengan nada suaranya yang terdengar cemas. Jeongguk memindai ruangan dengan netra tajamnya, dan benar apa yang ibunya ucapkan. Keterisian tempat duduk cukup membuat Jeongguk terkejut, bahkan bisa Jeongguk pastikan bahwa ibunya akan mendapat nomor antrean menjelang terakhir.

 

“Untuk malam ini memang ada jadwal, tapi tidak akan sesibuk akhir pekan.” Setelah Jeongguk mengucapkan hal tersebut, pundak tegang ibunya berangsur turun.

 

“Ibu tenang saja, aku tunggu Ibu di taman dekat kafetaria. Ah, ini kudapan manis agar Ibu tunggu gilirannya tidak akan terasa lama.” Jeongguk menyerahkan sebuah kotak makanan berisi kudapan yang telah ia siapkan kepada ibunya. “Kalau Ibu sudah selesai telepon saja, nanti aku kembali lagi.” Dirasa ibunya telah menyetujui, Jeongguk lantas pergi meninggalkannya.

 

Embusan angin menerpa tubuhnya sesaat setelah ia meninggalkan ruangan di mana ibunya melakukan kontrol bulanan, cukup dingin untuk membuat Jeongguk merapatkan mantel yang memeluk tubuh kekarnya. Langkah kakinya mengarah menuju kafetaria yang sempat menarik perhatiannya. Eksterior kafetaria tersebut didominasi dengan warna cokelat muda, cukup mencolok dari bangunan lainnya yang mayoritas berwarna putih. Terdapat beberapa kursi yang dilengkapi dengan sebuah meja bundar di halamannya, tak terlupa juga tanaman hias. Halaman kafetaria ini cocok disebut sebagai taman. Terdapat beberapa orang yang menduduki kursi-kursinya

 

Ekspektasi Jeongguk berbanding terbalik dengan realitas. Yang dia bayangkan jika mendengar kafetaria rumah sakit adalah sebuah bangunan kuno dan kusam; namun, di hadapannya terdapat interior modern dengan paduan warna yang menurut dirinya sempurna—cukup membuat Jeongguk terkejut. Bahkan dirinya tidak yakin bahwa saat ini dirinya berada di rumah sakit.

 

“Selamat pagi! Ada yang bisa saya bantu?” Wanita muda dengan apron berwarna cokelat muda segera mendekati Jeongguk yang berjalan pelan menuju kasir.

 

“Em, saya ingin pesan satu mochaccino hangat.” Jeongguk jawab dengan lugas.

 

Wanita muda itu mengangguk sekali, “Satu mochaccino hangat. Ingin tambah yang lain?”

 

Sorot hitam miliknya kembali menyisir berbagai macam pastri yang berada di dalam etalase. Jeongguk cukup kagum dengan kelengkapan hidangan dan minuman untuk sekelas kafetaria rumah sakit.

 

“Ah, tolong tambah dengan satu croissant.” Jeongguk menyahut.

 

“Ada tambahan lain?”

 

“Sudah, cukup.” Setelah membayar dengan nominal yang telah disebutkan, Jeongguk mendapatkan pesanannya. Kursi di dalam kafetaria sudah cukup penuh. Dirinya memang tidak masalah berada di tengah-tengah keramaian, tapi jika diberi dua buah pilihan, maka Jeongguk akan memilih tempat yang lebih sepi.

 

Oleh sebab itu kini Jeongguk duduk menyendiri di salah satu kursi taman kafetaria—ditemani oleh segelas mochaccino hangat dan croissant—telak membuat pria berusia 30 tahun itu tersedot ke dalam dunianya sendiri. Jempolnya sibuk mengetikkan rangkaian kata untuk pria jangkung yang menjabat sebagai sous chef tempat di mana dirinya bekerja. Tangan kanannya sesekali menyesap kopi dan memakan croissant dengan mata yang tidak terlepas dari layar ponsel, enggan meninggalkan satu pun detail yang Mingyu berikan sehingga mengharuskan dirinya untuk bekerja dua kali.

 

“Permisi.” Tepukan pelan di bahu kirinya seolah menarik Jeongguk kembali dari dunia yang dia ciptakan.

 

“Ya?” Jeongguk memutar tubuhnya ke arah suara itu berasal, dan netranya beradu pandang dengan pria muda yang berdiri kikuk di sampingnya. Setelahnya, Jeongguk tidak yakin apakah dirinya masih menapak pada dunia. Semuanya terasa tidak nyata. Pria dengan surai cokelat madu yang ia yakini lebih muda darinya tersenyum malu-malu, tangan kanannya mendekap erat sebuah buku sketsa di dada. Sosok manis di depannya mengenakan sweter cokelat muda oversized dan celana longgar berwarna krem. Rambut halusnya bergerak lembut terkena terpaan angin.

 

“Ehm. Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena ini terkesan tidak sopan,” Jeongguk sedikit terkesiap kala sosok di sampingnya melangkah mendekat sehingga sekarang dia berada di seberang meja bundar yang Jeongguk tempati.

 

“Aku tahu, seharusnya aku meminta izin terlebih dahulu,” lanjutnya. Jujur saja Jeongguk tidak mengerti apa yang dia maksud, namun dirinya mulai mengerti saat pria manis itu meletakkan buku sketsa yang sedari tadi di dekapnya. “Aku meminta maaf karena menjadikanmu sebagai objek gambarku.”

 

Jeongguk menatap matanya sekilas sebelum dia meraih buku sketsa yang tadi diberikan kepadanya dan membalik halamannya. Sebuah sketsa dengan potret samping dirinya merupakan hal pertama yang dia tangkap setelah dia membuka buku tersebut. Halaman buku itu dipenuhi coretan pensil dengan wajah Jeongguk sebagai pusat utamanya. Ini terlalu indah jika hanya disebut sebagai coretan.

 

Ini sempurna.

 

Apakah side profile-ku sesempurna ini?

 

Atau pria asing di hadapanku yang menggambarnya terlalu sempurna?

 

Mata Jeongguk terangkat menuju pria di hadapannya lalu tersenyum, “Ini sempurna. Aku tidak keberatan untuk digambar diam-diam jika hasilnya akan seperti ini.” Jeongguk tertawa dan matanya kembali menatap buku sketsa yang dia pegang.

 

Pria yang dia puji tertawa pelan sembari membalikkan tubuh. Punggung tangan kanannya dia angkat guna menyembunyikan wajah memerahnya.

 

“Ah, terima kasih. Rasanya seperti sudah lama sekali gambarku dipuji seperti itu,” ujarnya malu-malu. Mau tak mau, Jeongguk ikut tertawa. Semburat kemerahan masih lekat di pipinya.

 

“Jadi sama sekali tidak marah, kan?”

 

“Tidak. Sama sekali tidak marah.” Jeongguk tersenyum.

 

Bagaimana aku bisa marah kepada orang semanis dirinya?

 

“Baiklah, aku hanya ingin memastikannya,” katanya sambil menduduki bangku kosong di hadapannya. “Omong-omong namaku Taehyung. Kim Taehyung. Rasanya tidak etis sudah menginterupsi waktu seseorang tanpa memperkenalkan diri.”

 

Mengangguk pelan saat pria asing itu—yang mungkin tidak lagi asing—memperkenalkan diri; Jeongguk sempat terheran pada dirinya, tidak biasanya ia menerima begitu saja orang asing yang menginvasi ruang pribadinya. Dirinya tidak terlalu senang harus bercengkerama hanya untuk sekadar basa-basi dengan orang yang baru dia kenal. Tapi apa yang sekarang dia lakukan? Membiarkan orang asing bercengkerama dengannya bahkan membiarkannya menggambar Jeongguk diam-diam. Sama sekali bukan dirinya.

 

“Jeon Jeongguk,” ucapnya pelan. Dikembalikannya kembali buku sketsa milik Taehyung yang sedari tadi ia pegang. Raut kecewa Jeongguk tertangkap oleh netra Taehyung, tanpa sadar pria manis itu tersenyum saat menerima barang miliknya kembali. Tangan kanannya membuka lembaran di mana ia menggambar wajah Jeongguk, lalu dirobeknya kertas itu dan diberikan pada pria di hadapannya.

 

“Jika mau ambil saja, ehm …” Sorot mata Taehyung menatap netra hitam milik Jeongguk. “Tuan Jeongguk?” Tawa Jeongguk hampir pecah ketika kata ‘tuan’ disematkan pada dirinya.

 

“Jeongguk saja. Aku tidak biasa jika harus dipanggil seperti itu.” Jeongguk menerima kertas dari uluran tangan Taehyung. “Ah, terima kasih. Omong-omong apa kamu seorang ilustrator? Atau mungkin seorang pelukis?”

 

Taehyung mengeratkan balutan sweter pada tubuhnya saat angin tiba-tiba berembus sedikit kencang. “Kegiatan sehari-hariku memang dipenuhi dengan menggambar dan melukis, tapi rasanya aku masih jauh untuk bisa disebut sebagai pelukis.” Jeongguk angguk tanda paham dengan penuturan Taehyung.

 

“Rasanya tidak mengherankan kalau Taehyung-ssi seorang pelukis.” Saat Jeongguk menyesap minuman hangatnya, tak sengaja pandangannya menangkap seseorang berseragam putih layaknya seorang perawat mendekat ke arah di mana mereka duduk.

 

Sebentar, Jeongguk baru menyadarinya sekarang. Apa Taehyung sedang sakit? Tapi, Jeongguk tidak melihat wajah lemas, pucat, atau bahkan jarum infus melekat pada punggung tangan Taehyung layaknya seseorang yang sedang dirawat. Atau apakah dia sedang mengantarkan seseorang berobat sepertinya?

 

Jeongguk menggelengkan kepala saat dirinya tenggelam dalam asumsinya sendiri. Tidak sepatutnya Jeongguk ingin tahu kehidupan seseorang yang baru dia temui. Celoteh riang Taehyung kembali terdengar saat Jeongguk keluar dari space dirinya.

 

“Ada apa?” Taehyung bertanya saat menyadari sedari tadi Jeongguk terdiam, tampak tidak mendengarkan apa yang dia ucapkan. Taehyung kembali khawatir dirinya melewati batas yang Jeongguk ciptakan.

 

 “Apa aku meng—Ya? Kenapa?” Ucapannya terputus saat seseorang menepuk pelan pundak kanannya. Terjadi sebuah percakapan antara Taehyung dengan seseorang yang dia yakini sebagai perawat. Tidak ingin mengganggu percakapan yang bisa saja menjadi privasi bagi Taehyung, Jeongguk mencoba mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang sempat dia abaikan.

 

“Terapi sekarang? Oh, Dokter Park sudah datang? Baik, baik, tunggu sebentar.”

 

Untaian kata yang terlontar dari pria di hadapannya tidak sengaja Jeongguk dengar. Terapi. Setelah mendengar kata itu, pandangan Jeongguk tidak lagi terfokus pada ponsel di genggamannya. Kepalanya sedikit pening memikirkan pria yang sedari tadi berbincang dengan ceria sedang tidak baik-baik saja.

 

“Jeongguk-ssi, aku pamit dulu. Maaf sudah mengganggu waktunya.” Taehyung bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk ke arah Jeongguk. Baru genap beberapa langkah pria manis itu meninggalkan Jeongguk, dia kembali sembari berlari kecil dengan sebuah cheesecake di genggamannya.

 

“Ah, ini cheesecake untuk Jeongguk-ssi karena waktu Jeongguk-ssi sudah kuganggu. Sekali lagi terima kasih! Semoga kita dapat bertemu kembali!” Lambaian tangan menjadi penutup saat sosok Kim Taehyung kembali menjauh dari pandangannya. Ingin hati Jeongguk membalas lambaian tangan Taehyung, tapi saat pria berambut cokelat madu itu membalik tubuhnya, tangan kanan yang sempat Jeongguk angkat dia urungkan.

 

Netranya terarah pada cheesecake dan lukisan potret dirinya yang tersimpan di atas meja.

 

Apa yang Taehyung sembunyikan di balik senyumannya?

 

-–•°•–-

 

Ditemani dengan embusan angin musim gugur, total satu jam lebih Jeongguk terdiam di bangku kafetaria hingga akhirnya ponsel miliknya bergetar dan laman Gmail yang sedang ia buka tertutup dengan notifikasi tanda seseorang menghubunginya.

 

Alunan musik milik penyanyi kondang yang kerap Jeongguk dengar baru terhenti ketika jempolnya menggeser ikon berwarna hijau. Seketika suara lembut ibunya menyapa indra pendengaran Jeongguk, terdengar gerutuan dan nada kesal yang cukup menjelaskan segalanya.

 

“Aduh, bisa-bisa rambut Ibu berubah hitam lagi saking lamanya nomor antrean Ibu dipanggil. Heh, kamu jangan ketawa ya.”

 

Tawa Jeongguk tidak lantas terhenti, “Bagus, kan? Nanti rambut Ibu hitam lagi.” Senyuman di bibirnya kian melebar saat mendengar gerutuan ibunya kembali sesaat setelah godaan itu ia lontarkan. Terjadi beberapa percakapan sebelum akhirnya sambungan itu terputus.

 

Sebelum kembali ke tempat di mana ibunya sedang menunggu, Jeongguk sempatkan dirinya menuju kafetaria dan membeli segelas teh hangat. Berselang lima menit, waiter wanita yang sempat melayani dirinya menyerahkan pesanannya. Mungkin dengan teh hangat yang ibunya sangat sukai, mood-nya bisa membaik. Kini di tangannya ada segelas teh hangat dengan sebungkus cheesecake pemberian Taehyung.

 

Ah, Taehyung.

 

Pertemuan pertama dirinya dengan Taehyung tidak sampai memakan waktu tiga puluh menit. Mereka tidak saling mengenal, tetapi Jeongguk telak dibuat jatuh hati padanya.

 

Jika memang dunia mengizinkan, mungkinkah bagi Jeongguk untuk bertemu dengan Taehyung kembali? Mengenal tentang dirinya meskipun ini menjadi pertemuan pertama bagi mereka?

 

-–•°•–-

 

Suara dentingan antara spatula dengan wajan menjadi alunan musik sehari-hari bagi Jeongguk. Peluh yang mengalir dari dahi hingga tulang selangkanya menjadi bukti betapa kerasnya pria itu bekerja, mata awasnya tidak lengah memperhatikan satu per satu orang yang bergerak secara dinamis.

 

“Kamu tidak bisa memasak telur dengan api sebesar itu, telur yang sempurna harus dimasak secara perlahan.” Tangan kanan Jeongguk bergerak untuk mengecilkan api, “Telur akan kering jika dimasak seperti itu.” Trainee di hadapannya mengangguk paham.

 

Weekday memang tidak sesibuk biasanya. Jika akhir pekan pengujung restoran akan dipenuhi oleh para pasangan kekasih, maka  pada hari kerja pengunjung restoran pun biasanya hanya terdiri dari para petinggi perusahaan yang mengadakan pertemuan dengan koleganya.

 

“Tidak ada reservasi lain?” Jeongguk pandangi waitress yang sedang berdiri tegap, tubuhnya dia sandarkan pada meja stainless pembatas antara dapur dengan restoran.

 

“Saya coba tanyakan kepada resepsionis.” Waitress itu sedikit membungkuk sebelum meninggalkan sang head chef. Jeongguk anjakkan kakinya menuju dapur kembali, hanya sekadar memastikan semua berjalan dengan sempurna.

 

“Tidak ada reservasi lain, Chef,” ucap waitress setelah kembali dari meja resepsionis. Jeongguk angguk puas atas jawabannya. Mata tajamnya menatap kertas pesanan makanan yang hanya tersisa tiga lembar, kini dirinya bisa sedikit melemaskan otot-otot yang terasa tegang. Tangan kanannya memijat pelan bahu kirinya yang terasa sedikit pegal.

 

Berselang 45 menit, semua pesanan benar-benar sudah terhidang ke meja pelanggan. Para chef bernapas dengan lega karena hari ini semua berjalan dengan lancar, tidak ada kendala berarti yang dapat memancing Jeongguk mengeluarkan amarahnya. Seperti biasa, sebagai seorang head chef Jeongguk memiliki kewajiban untuk memberikan evaluasi kepada para koki di restorannya.

 

“Mungkin itu saja evaluasi untuk hari ini,” Jeongguk berucap pada kumpulan orang di depannya. “Terima kasih atas kerja keras kalian, saya harap kita dapat mempertahankan kualitas kerja kita.” Setelah mengucapkan beberapa kata penutup, para chef juga trainee membubarkan diri, tidak lupa mereka ucap terima kasih. Sebagian besar dari mereka beranjak menuju loker, beberapa trainee yang bertugas membersihkan peralatan dapur tidak langsung meninggalkan ruangan itu.

 

“Hah, ini jadi hari paling tenang. Tidak ada teriakan Jeon Jeongguk memang sempurna.” Jeongguk hafal siapa yang berani berkata seperti itu.

 

“Tergantung, Kim. Jika mereka melakukan banyak kesalahan maka semakin tinggi risiko terkena amukanku.” Pria jangkung di sampingnya tertawa renyah. Kini keduanya beriringan untuk mengecek kesiapan peralatan dan bahan makanan.

 

“Sudah tahu?” Jeongguk yang sedang mengecek bahan makanan menatap Mingyu dengan kedua alis terangkat. “Tahu apa?”

 

“Ingat Chef Song?” Dahi Jeongguk berkerut, mencoba mengingat sosok yang Mingyu ucapkan. Oh.

 

“Chef Song Eunhyuk? Head chef dua tahun yang lalu?” Senyuman Mingyu yang mengembang menjadi penentu bahwa Chef Song yang Jeongguk pikirkan sama dengan Chef Song yang Mingyu maksud. Tentu saja Jeongguk ingat pada sosok yang Mingyu sebutkan, bagaimana dia bisa lupa pada seseorang yang Jeongguk anggap sebagai gurunya?

 

“Nah, yang itu. Ingat? Aku masih berteman dan saling menghubungi dengan anaknya, tadi malam Seungwan memberi tahu kalau ayahnya terjatuh di kamar mandi. Dia juga memberi tahu jika ayahnya sekarang sedang dirawat di rumah sakit.”

 

Seperti yang Jeongguk sudah tebak, Mingyu pasti mengajak dirinya untuk menjenguk sang head chef. Pria itu sempat terheran melihat gelagat temannya yang tidak biasa, sebab Mingyu benar-benar berusaha keras membujuk Jeongguk agar pergi bersamanya.

 

“Baiklah, baiklah. Aku akan menjenguk Chef Song bersamamu.” Mendengar permintaannya dipenuhi, Mingyu sontak memeluk badan kekar Jeongguk; yang dipeluk mencoba melepaskan diri. Melihat respons Mingyu yang terkesan berlebihan, barulah Jeongguk dapat menyambung benang merah atas gelagat aneh temannya.

 

“Kamu ingin bertemu dengan Seungwan, kan?” Mingyu coba mengelak atas tuduhan Jeongguk, mulutnya terus menerus berkata bahwa dia tidak menyukai Seungwan dan niat dia murni untuk menjenguk ayahnya. Namun, kedua daun telinga yang merah padam secara tidak langsung membenarkan tuduhan Jeongguk.

 

Perselisihan mereka berdua ditutup dengan Jeongguk yang mempercayai ucapan Mingyu. Kini keduanya berada di loker khusus pegawai restoran. Jeongguk sibuk mengganti seragamnya sembari mendengarkan ocehan atau lebih tepatnya gosip Mingyu perihal restoran kompetitor yang tersandung sebuah kasus. Cukup panas, hingga media lokal besar-besaran meliput restoran tersebut.

 

“Omong-omong, Chef Song dirawat di mana?” Jeongguk tanyakan hal yang sedari tadi terasa mengganjal di hatinya. Tangan kanannya memegang sebuah handuk, sibuk mengeringkan tubuhnya yang bermandikan keringat.

 

Mendengar  pertanyaan tersebut, tangan kanan Mingyu sontak merogoh saku celananya. Kini, sebuah ponsel berwarna hitam berada di genggamannya. Butuh waktu bagi Jeongguk untuk mengetahui jawaban atas pertanyaannya. Pria jangkung itu membalik badan ke arah Jeongguk dengan arah pandangan masih terfokus pada ponsel di genggamannya.

 

“Yo—Yon, apa ini?” Mingyu menyipitkan matanya. “Ah! Yonsei Hospital!”

 

Yonsei? Dia tidak salah dengar, ‘kan? Jeongguk tertegun, sontak pikirannya mengawang pada pria yang dia temui kemarin.

 

Kim Taehyung.

 

Wajah rupawan dengan senyuman manis yang mengembang di bibirnya benar-benar melekat pada ingatan Jeongguk. Suara berat nan lembut milik Taehyung seakan selalu berputar di dalam kepalanya, enggan pergi begitu saja. Yang dia lakukan selepas pertemuannya dengan Taehyung adalah memandangi selembar kertas. Ya, selembar kertas yang Taehyung berikan kepadanya. Sebut saja Jeongguk gila.

 

“Jeon? Hey! Back to earth!” Jentikan jari tepat di depan mata seakan menarik Jeongguk dari bayang-bayang sosok Taehyung kembali menuju dunia nyata.

 

Jeongguk memegang erat pundak Mingyu sembari menatap matanya lekat-lekat. Yang ditatap memundurkan wajahnya, takut atas perilaku tiba-tiba Jeongguk. “Memberi makanan pada seseorang yang baru kita kenal tidak masalah, ‘kan?”

 

“Hah? Apa?” Mingyu mengernyit kebingungan.

 

“Aku tidak akan dianggap sebagai orang aneh, ‘kan?” Jeongguk mengencangkan cengkeramannya pada pundak Mingyu.

 

“Iya, iya. Sekarang lepaskan aku,” jawab Mingyu asal seraya menepis tangan Jeongguk dari pundaknya hanya sekadar untuk membebaskan diri. Pria itu mengusap pelan pundaknya yang terasa nyeri lalu bergidik ngeri melihat perilaku tiba-tiba temannya yang tidak lazim.

 

Okay, thanks.” Jeongguk mengacungkan jempolnya seraya meninggalkan Mingyu yang masih tenggelam dalam rasa kebingungan. Tas hitam sudah tersampir di pundaknya, sedangkan tangan kirinya memegang kunci mobil. Setelah temannya beranjak pergi, barulah Mingyu menyadari semuanya.

 

“JEON JEONGGUK! SIAPA ORANG BERUNTUNG ITU, HEI? SIAPA YANG AKAN KAMU BERI MAKANAN?”

 

-–•°•–-

 

Perjalanan menuju rumah sakit diisi dengan senandung Jeongguk mengikuti alunan musik yang berasal dari pemutar radio. Kepalanya mengangguk mengikuti beat musik yang sedang dia dengarkan. Di mobilnya hanya ada dirinya sendiri. Jeongguk sudah menawarkan Mingyu untuk pergi bersamanya, namun pria itu menolak dengan dalih tidak ingin merepotkan dirinya. Berakhir dua sahabat itu mengendarai kendaraan yang berebeda, Jeongguk dengan Hyundai Palisade hitamnya, dan Mingyu dengan Hyosung GT650R merah kesayangannya.

 

Kali ini Jeongguk mengenakan baju turtleneck berwarna abu-abu dengan celana slim fit hitam. Long coat hitam miliknya dia simpan di kursi penumpang belakang, tergeletak bersama dua buah paper bag berisi mille-feuille.

 

Meskipun tujuan utama dia menjenguk mantan head chef-nya yang sedang terbaring di rumah sakit, tapi tidak dapat dia pungkiri bahwa keinginan untuk bertemu dengan Taehyung lebih besar. Itulah sebabnya dia membuat dua buah mille-feuille. Senyumnya mengembang saat membayangkan bahwa dirinya berkesempatan untuk bertemu dengan Taehyung kembali.

 

Kendaraan beroda empat itu memasuki pekarangan rumah sakit, kali ini Jeongguk sudah familier dengan tata letaknya. Matanya terfokus pada salah satu kotak putih di mana ia bisa memarkirkan mobilnya. Berselang lima menit, mobil Jeongguk sudah terparkir sempurna. Dirinya keluar dari kursi kemudi, lantas Jeongguk meraih long coat hitam miliknya dan memakainya. Kemudian, tangan kanannya meraih dua paper bag berisi mille-feuille.

 

Jeongguk berjalan pelan menuju tempat yang telah Mingyu janjikan. tidak butuh waktu lama bagi Jeongguk untuk menemukan Mingyu yang sedang berdiri dengan fokus pada ponsel yang berada di genggamannya. Mingyu yang menyadari kehadirannya langsung mengajak Jeongguk menuju tempat di mana Chef Song dirawat.

 

“Eh, dua paper bag? Satu lagi untuk siapa?” Mingyu mengernyit heran melihat tentengan Jeongguk.

 

“Untuk teman.” Jeongguk jawab acuh, mencoba menghindari percakapan yang memicu Mingyu untuk bertanya lebih dalam. Jeongguk masih belum siap diberondong pertanyaan mengenai Taehyung. Belum.

 

“Oh, kamu mau menengoknya juga?” Jeongguk angguk kembali. Dalam hati Jeongguk bersyukur Mingyu tidak bertanya kembali. Mungkin terlalu bersemangat untuk bertemu dengan Song Seungwan, sang pujaan hati.

 

Jeongguk mengeratkan genggamannya pada tali paper bag saat netranya menangkap bangunan yang sangat familier. Jantungnya semakin cepat memompa darah, degupan jantungnya dapat Jeongguk rasa dan dengar. Hawa dingin seakan merayapi punggungnya, hendak menelan Jeongguk mentah-mentah ke dalam kubangan rasa gugup.

 

Senyumnya mengembang, membayangkan sosok Kim Taehyung duduk di salah satu meja kafetaria. Matanya memindai satu per satu kursi dan meja yang ada di dalam kafetaria, satu pun tidak ada yang dia lewatkan.

 

Namun, yang Jeongguk dapat hanya rasa kecewa.

 

Tidak ada sosok Kim Taehyung di sana.

 

Hatinya mencelos, sakit. Pandangannya sendu, menatap mille-feuille yang dia buat untuk diberikan kepada Taehyung. Tidak bisa dipungkiri, Jeongguk berharap dapat bertemu dengan Taehyung kembali, mengenal tentang dirinya lebih dalam. Mungkin ekspektasi Jeongguk yang terlalu tinggi, lupa jika realitas tidak seindah fiksi romansa remaja sekolah menengah.

 

Bukan hari ini.

 

-–•°•–-

 

Keduanya sudah menjenguk Chef Song, pria kepala lima itu tampak senang melihat dua anak kesayangannya menjenguk dirinya. Perbincangan pria beda generasi itu telah berganti dari satu topik ke topik lainnya. Berawal dari basa-basi mengenai kondisi tentang dirinya, keadaan restoran, hingga gosip dari Mingyu yang sempat pria jangkung itu ceritakan kepada Jeongguk.

 

Terhalang oleh waktu, kedua pria itu dengan berat hati harus kembali. Jeongguk memberikan Chef Song paper bag berisi mille-feuille yang diterima dengan senang hati oleh sang mantan head chef. Sesuai dugaan, Mingyu dan Seungwan terlihat seperti teman dekat. Ya, teman dekat. Keduanya terlihat saling tertawa dan melontarkan candaan, bahkan Seungwan beberapa kali menepuk pelan dada Mingyu. Hubungan mereka bisa dibilang terlalu dekat jika hanya dibilang sebatas teman. Jeongguk memutar mata sebal mengingat Mingyu yang bersikukuh bahwa dirinya tidak ada hubungan dengan Seungwan.

 

Jeongguk dan Mingyu berpamitan pada pasangan ayah dan anak itu. Kini keduanya sedang berjalan pelan menuju tempat di mana mereka memarkirkan kendaraannya masing-masing.

 

“Jeon, aku pulang duluan, ya? Truk yang mengantar stok bahan makanan sudah mau sampai,” jelas Mingyu saat melihat notifikasi pada ponselnya. “Lagi pula kamu mau menjenguk temanmu dulu,” lanjutnya sambil mengarahkan dagunya pada paper bag yang Jeongguk genggam. Secara otomatis pandangan Jeongguk mengarah pada genggamannya. Benar juga.

 

“A-ah, iya. Duluan saja. Aku mau jenguk teman dulu.” Jeongguk berbicara dengan gugup, dia angkat paper bag di tangannya dan melebarkan senyum. Mencoba lari dari tatapan curiga Mingyu. Dia menepuk pelan bahu Jeongguk sebelum akhirnya pergi dengan mengucapkan salam perpisahan.

 

Jeongguk kembali menatap kafetaria. Beberapa orang terlihat keluar masuk dengan segelas kopi ataupun sebungkus kotak makanan. Langkah kakinya mengarah pada pintu kafetaria. Mendorong pintunya secara pelan, lalu semerbak harum-haruman berbagai macam kopi dan pastri menyerbu indra penciumannya.

 

Jeongguk mendekati meja pemesanan yang disambut baik oleh waiter.  Terdiam beberapa saat untuk melihat varian menu, Jeongguk memutuskan untuk membeli segelas teh matcha hangat. Sembari menunggu pesanannya, Jeongguk memutuskan untuk mengecek email yang dikirim padanya. Terlalu sibuk dengan ponsel di genggaman, hingga tidak menyadari seseorang mendekatinya dari arah belakang.

 

“Jeongguk-ssi?” Jeongguk terperanjat kaget saat seseorang menepuk pelan bahunya, membalik tubuh untuk mengetahui siapa yang memanggilnya. Tatapannya beradu pandang dengan seseorang yang sedari dia tunggu keberadaannya sedari tadi.

 

Kim Taehyung ada di depannya.

 

Jeongguk yakin dirinya terlihat sangat bodoh di depan Taehyung, tertegun melihat sang pujaan hati berada tepat di hadapan mata.

 

“Astaga, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika aku salah orang.” Taehyung membungkuk dengan tangan kanannya memegang dada, Jeongguk menangkap senyum lega dari bibirnya. Gelenyar hangat melingkupi hati Jeongguk melihat Taehyung yang tersenyum lebar di hadapannya.

 

Jeongguk tidak tahu apa yang harus dilakukan, semua skenario yang Jeongguk rancang sebelum bertemu Taehyung total lenyap. Yang dia lakukan hanya berdiri dan menatap wajah rupawan Kim Taehyung. Pria itu memakai sweter yang sama seperti terakhir kali mereka bertemu, namun syal berwarna cokelat tua menggantung di lehernya, hampir menenggelamkan wajah taehyung.

 

“Apa kabar?” Sapa Taehyung sembari berjalan mendekat ke arahnya, cukup dekat hingga Jeongguk dapat melihat satu buah titik hitam di bawah matanya yang tersembunyi di balik bulu mata lentik miliknya.

 

“Apa? E-eh? Aku baik-baik saja.” Jeongguk terkesiap, merutuki dirinya sendiri yang bertingkah laku seperti orang bodoh di depan Taehyung, kegugupannya benar-benar di ambang batas.

 

“Benarkah? Syukurlah.” Tidak. Jeongguk tidak bisa. Taehyung yang tersenyum lembut benar-benar sebuah kelemahan baginya. Ingin rasanya Jeongguk melarikan diri dari hadapan Taehyung saat dirasa pipi dan telinganya memanas.

 

“Permisi, segelas teh matcha hangat sudah siap.” Dengan segera Jeongguk membalikkan tubuhnya, tidak ingin wajah memerahnya terlihat oleh Taehyung.  Setelah membayar nominal yang disebutkan oleh sang waiter, barulah Jeongguk menatap Taehyung kembali. Dengan wajah yang tidak memerah tentu saja.

 

“Taehyung-ssi sendiri bagaimana kabarnya?” Jeongguk ingin menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia bertanya pada Taehyung dengan senyuman kaku dan bahasa formal. Jeongguk dapat mendengarkan Mingyu yang tertawa di benaknya.

 

“Sama seperti Jeongguk-ssi, aku baik-baik saja. Ah, tolong Taehyung saja.” Jeongguk angguk kepalanya saat mendengar permintaan Taehyung.

 

“Jika begitu panggil Jeongguk sa—“ Ucapan Jeongguk terputus. Keduanya secara berbarengan melihat ke sumber kebisingan. Di balik jendela, rintik hujan mulai mengguyur dengan derasnya. Tidak lama kemudian, terdengar sambaran petir yang membuat Taehyung terperanjat; menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, tubuhnya gemetar hebat, dadanya terlihat naik turun dengan cepat. Secara spontan, Jeongguk merangkul Taehyung dengan lengan kanannya, mendekatkan tubuh Taehyung ke dalam dekapan. Taehyung tidak memperlihatkan tanda-tanda penolakan.  Keduanya tak bergerak beberapa saat, mendengar derasnya hujan dalam diam.

 

“Hujan deras,” ucap Jeongguk masih dalam posisi yang sama. “Mau minum cokelat hangat?”

 

-–•°•–-

 

Kini keduanya duduk di salah satu bangku kafetaria, terjebak dalam derasnya hujan. Segelas cokelat hangat ada di genggaman, menjalarkan rasa hangat. Bukan hanya itu, hati Taehyung menghangat mengingat saat dirinya sedang ketakutan, Jeongguk mendekapnya sembari mengucapkan kata penenang.

 

‘Jangan takut, ada aku di sini.’

 

Dekapan dan bisikannya masih terasa membekas.

 

Taehyung menatap Jeongguk yang berdiri di depan meja kasir. Long coat-nya dia lepas, menyisakan sosok Jeongguk yang terbalut turtleneck abu-abu dengan celana slim fit hitam. Terlihat sangat indah di matanya. Matanya turun menuju lengan kanan Jeongguk, biseps dengan otot yang terbentuk sempurna tampak jelas. Taehyung pastikan bahwa Jeongguk gemar menjaga proporsi tubuhnya, tidak mungkin pria dengan pahatan tubuh sesempurna Jeongguk tidak gemar workout.

 

Jeongguk kembali dengan sebuah nampan, di atas terletak dua mangkuk zuppa soup. Jeongguk menawarkan Taehyung untuk membeli makanan lain, tapi Taehyung lebih memilih menyamakan pesanannya dengan Jeongguk. Tidak ingin merepotkan.

 

“Hujan seperti ini cocok untuk makan makanan yang hangat.” Taehyung melirik Jeongguk yang sedang meletakkan mangkuk zuppa soup, lalu tersenyum setelahnya.

 

“Terima kasih banyak,” Taehyung meminum cokelat hangatnya. “Maaf sudah merepotkan, Jeongguk. Aku jadi merasa tidak enak.”

 

“Tidak. Sama sekali tidak merepotkan. Ini murni keinginan diriku untuk mengajakmu makan.” Jeongguk menyerahkan sendok pada Taehyung yang langsung diterima olehnya.

 

“Oh, iya!” Jeongguk menyadari sesuatu, punggungnya membungkuk menuju bawah meja, terlihat seperti akan mengambil sesuatu.

 

“Ini ada sedikit pemberian dariku untukmu.” Jeongguk menyerahkan paper bag yang dibawanya kepada Taehyung. Taehyung menerima pemberian Jeongguk dan membuka celahnya sedikit untuk melihat apa yang diberikan Jeongguk untuknya.

 

“Makanan manis? Kue?” Tebaknya saat mencium harum khas pastri menguar saat Taehyung membuka paper bag di tangannya. “Untukku?” Jeongguk mengangguk. Netranya menatap Jeongguk tidak percaya, tidak lama senyuman mengembang di bibirnya.

 

“Terima kasih banyak.” Taehyung tertawa lembut, menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan agar Jeongguk tidak dapat melihat wajah memerahnya. Tangan kanannya mengeluarkan sebuah mille-feuille dari paper bag-nya.

 

“Wah!” Taehyung menatap mille-feuille di genggamannya dengan rasa kagum, matanya membulat juga dengan bibirnya. Jeongguk tidak dapat menahan senyum melihat sosok manis yang tergakum melihat mille-feuille di hadapannya. Taehyung bangkit dari tempat duduknya dan menuju meja kasir. Jeongguk sedikit kebingungan, namun saat dia kembali dengan sebuah sendok di jari-jari manisnya, Jeongguk mengangguk paham.

 

Taehyung duduk kembali di kursi miliknya, menatap mille-feuille layaknya predator yang menatap mangsanya. Sendok dia arahkan pada hidangan manis itu, memotongnya, lalu mengarahkan menuju mulutnya.

 

“Astaga, ini enak sekali,” Taehyung mengangkat kepalanya dan menatap Jeongguk semangat. Sendok yang dia genggam diarahkan kembali menuju mille-feuille, memotongnya, lalu memakannya dan menghasilkan Taehyung yang menggumam puas saat hidangan manis itu meleleh di lidah dan langit-langit mulutnya. Zuppa soup di hadapannya total dia abaikan.

 

“Aku tidak tahu di sini ada yang menjual pastri seenak ini,” lanjut Taehyung.

 

“Kamu suka?” tanya Jeongguk, Taehyung anggukkan kepalanya semangat.

 

“Suka sekali,” Taehyung kembali menyendok mille-feuille-nya. “Ehm, ini benar-benar seleraku. Apalagi di dalamnya ada stroberinya, sempurna. Tidak terlalu manis. Nilai untuk hidangan ini,” Taehyung terdiam. “Sepuluh dari sepuluh.”

 

Jeongguk terbahak melihat Taehyung yang berperan layaknya seorang kritikus masakan. Anggukan kecil dengan jari tangan yang membentuk ‘oke’ benar-benar seperti gestur seorang juru masak profesional yang mencicipi hidangan seorang trainee. Jeongguk coba menghentikan tawanya dan mulai berbicara.

 

“Syukurlah kalau Taehyung suka. Nanti dibawakan makanan manis yang lain, mau?” tawar Jeongguk.

 

“Kalau tidak keberatan boleh-boleh saja. Aku tidak akan menolak, kok.” Taehyung jawab sambil ia sesap minuman cokelat hangat yang sempat terabaikan. Menyadari sesuatu, Taehyung menatap Jeongguk ragu, matanya memicing curiga. Taehyung bertahan pada posisi itu, sampai-sampai Jeongguk menoleh ke belakangnya dan menemukan bahwa tidak ada satu pun yang berpotensi sebagai sasaran tatapan tajam Taehyung. Tidak ada apa pun di belakangnya.

 

Jeongguk kembali membalikkan tubuhnya menghadap Taehyung, matanya sudah tidak memicing pada Jeongguk.

 

“Jangan-jangan Kamu seorang chef?” Pada ucapannya terselip tawa, Jeongguk yakin kali ini Taehyung berniat untuk bercanda.

 

Jeongguk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “E-eh, sebenarnya aku seorang head chef di sebuah restoran.”

 

Kegiatan menyendok kuah zuppa soup Taehyung terhenti, matanya kembali terarah menatap Jeongguk yang tersenyum kikuk. Sorot wajahnya menampakkan ketidakpercayaan, pandangannya turun menuju mille-feuille yang tersisa setengahnya.

 

“Jadi ... pastri itu.”

 

“Iya, aku yang memasak.”

 

“Astaga.”

 

-–•°•–-

 

Meskipun sudah hampir genap sejam, hujan masih turun dengan derasnya, tidak sedikit pun menunjukkan akan reda dalam waktu dekat. Sambaran petir masih sesekali terdengar, begitu pula dengan kilat.

 

Jeongguk dan Taehyung masih terjebak di dalam kafetaria, namun keduanya total abai dengan ributnya hujan di balik pintu kafetaria. Keduanya masuk ke dalam dunia yang mereka ciptakan, saling menceritakan pengalaman masing-masing.

 

Sambil menyesap kopi hangatnya, Jeongguk menceritakan pengalamannya di salah satu restoran sebelum ia bekerja di tempatnya sekarang. Sang head chef selalu menyalahkan dirinya atas kesalahan bahkan yang tidak dia perbuat. Sekilas dia menatap Taehyung yang fokus mendengarkan ceritanya sambil bertopang dagu. Jeongguk tersenyum lalu melanjutkan ceritanya.

 

“Jika aku memiliki atasan seperti itu sudah aku hancurkan dapurnya.” Taehyung menggerutu sambil menepuk meja dengan berapi-api, terbawa suasana dengan cerita Jeongguk.

 

“Sebenarnya pikiran seperti itu sudah beberapa kali terlintas di kepalaku, tapi aku tidak ingin karierku padam secepat itu.” Jeongguk tertawa. Taehyung masih menggerutu, bahkan menanyakan kadar kesabaran Jeongguk yang dapat bertahan dengan atasan yang kurang ajar.

 

Kali ini, Taehyung mulai menceritakan perjalanan kariernya.

 

Kini Jeongguk mengetahui bahwa Taehyung merupakan lulusan akuntansi; lulus tiga tahun yang lalu sebagai salah satu lulusan terbaik, namun memutuskan untuk mendalami dunia seni. Jeongguk sempat menanyakan alasannya, namun Taehyung hanya menjawab ingin melakukan apa yang dia suka.

 

Taehyung sebut tahun pertamanya saat dia mulai melukis tidaklah mudah, dia habiskan sehari-harinya hanya untuk berlatih demi meningkatkan kemampuannya, apalagi dirinya bukanlah lulusan seni dan hanya bermodalkan pengalaman masa lampau. Ratusan pagelaran juga pameran seni dia datangi, bukan tanpa alasan, dia perhatikan satu demi satu berbagai detail dari lukisan yang berbeda. Jika cukup beruntung, maka dia bisa bertemu langsung dengan pelukis andal yang sejak lama Taehyung kagumi.

 

“Kira-kira berselang lima bulan, aku mulai berani menampilkan lukisanku di sosial media,” kisah Taehyung sambil menyuap satu sendok mille-feuille. Hal itu bukan berarti Taehyung langsung mencapai titik kesuksesannya, berbagai macam rintangan kembali Taehyung hadapi.

 

“Tidak sekali dua kali aku merasa bahwa pilihanku salah, merasa bahwa aku tidak seharusnya melukis. Tapi aku mendapat titik balik saat seseorang dari salah satu galeri seni mendatangiku, menawarkan lukisanku untuk dipajang di galeri seninya.” Gelenyar hangat timbul di hatinya saat melihat Taehyung tersenyum lebar, menceritakan kisah manis hidupnya dengan senyuman dan tawa lembut.

 

“Mungkin itu menjadi salah satu momen terbaikku.” Tangannya kembali meraih cokelat hangat yang hanya tersisa sedikit dan menyesapnya.

 

“Ehm, kebetulan aku sedang mencari lukisan untuk pajangan di kamarku.” Mata bulat Taehyung menatap Jeongguk ingin tahu. Yang ditatap memalingkan wajahnya, salah tingkah. Jeongguk bingung pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dirinya melontarkan pernyataan seperti itu? Sebetulnya ia sama sekali tidak sedang mencari lukisan, tapi yang terlintas di benaknya mungkin menjadi satu-satunya jalan agar dirinya dengan Taehyung tetap berteman. Ya, berteman.

 

“Mungkin kau bisa membantuku? Tenang saja, aku tidak akan meminta harga teman kepadamu,” sambar Jeongguk, tidak memberi kesempatan bagi Taehyung untuk menjawab.

 

Taehyung terdiam, pandangannya meluruh. “Aku ... bisa saja melukis untukmu.” Jemarinya dia mainkan, mencoba mengurangi kegugupan yang melanda hatinya. “Tapi aku bisa saja tidak menyelesaikannya.”

 

Jeongguk pandangi sorot mata sendu itu, mencoba mengetahui apa yang tersembunyi di baliknya. “Mengapa?” Jeongguk coba bertanya.

 

“Dengan kondisi tubuh yang seperti ini, aku tidak yakin, Jeongguk.” Pandangan Taehyung terarah menuju netra hitam pria di hadapannya. Jeongguk dapat menangkap perasaan sedih, atau bahkan kecewa? Jeongguk tidak dapat memastikannya.

 

“Kamu tahu hanahaki?

 

Hanahaki? Tidak mungkin.

 

Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin.

 

Apakah Taehyung ...?

 

“Ya, Jeongguk. Aku terkena hanahaki. Bunga tumbuh di paru-paruku.” Tenggorokannya seperti terjerat oleh benang tak kasatmata. Hatinya seperti diberi beban berkilo-kilo. Sesak. Jeongguk merasa sesak. Jeongguk coba menutup matanya, mencoba menghilangkan rasa pening yang menghinggapi kepalanya. Taehyung terkena hanahaki.

 

“Aku ingin, ingin sekali menerima permintaanmu. Tapi, aku bisa saja tidak menyelesaikannya karena harus terus menerus menjalankan terapi.” Taehyung coba tertawa dengan menyelipkan sebuah lelucon, tapi pikiran Jeongguk terlalu pening menerima kenyataan bahwa Taehyung terkena hanahaki.

 

Pertanyaan Jeongguk terjawab sudah. Mengapa Taehyung menjalani terapi? Taehyung sakit apa? Semua sudah terjawab. Jeongguk tahu betul apa itu hanahaki. Garis besarnya, jika seseorang terkena hanahaki, maka akan tumbuh bunga di paru-parunya akibat cinta yang tidak terbalaskan.

 

“Ah hujannya sudah reda.” Taehyung coba alihkan perhatian Jeongguk hingga Jeongguk tersadar dari lamunannya, pandangannya terarah pada taman di balik jendela. Benar, hujannya sudah reda, tidak ada bunyi bising dari derasnya hujan, ataupun suara gemuruh petir. Langit tidak lagi berwarna abu gelap, bahkan sinar matahari menembus lapisan awan dan menerangi bumi. Semua terasa tenang.

 

Jeongguk hadapkan kembali tubuhnya ke arah Taehyung. “Maaf, Taehyung. Aku ... terlalu shock mendengar ...” Jeongguk tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

 

“Tidak apa-apa. Aku paham, kok. Tidak seharusnya juga aku memberi tahumu sekarang.” Taehyung tersenyum lembut. Jemarinya mengusap pelan telapak tangan Jeongguk yang terletak di atas meja.

 

“Kamu akan pulang sekarang?” Jeongguk bertanya kepada Taehyung.

 

“Mungkin iya. Aku akan pulang dengan angkutan umum.”

 

“Mau pulang bersamaku?”

 

-–•°•–-

 

Taehyung menerima tawaran Jeongguk. Kini keduanya berada dalam mobil yang sama, alunan musik jaz menjadi pemecah kesunyian di antara mereka berdua. Semenjak meninggalkan kafetaria, tidak ada yang berani memulai percakapan.

 

Jeongguk mengikuti aplikasi penunjuk arah untuk menuju kompleks apartemen Taehyung. Jeongguk sudah mengendarai mobil sekitar 45 menit, sebab kediaman Taehyung tidak berada di pusat kota. Penunjuk arah menunjukkan bahwa sebentar lagi mereka akan sampai di tujuan.

 

“Jeongguk, tempat tinggalku di depan.” Jeongguk mengangguk, mengarahkan mobilnya menuju pinggir jalan.

 

“Terima kasih banyak Jeongguk, maaf telah merepotkan,” kata Taehyung sembari melepas sabuk pengaman yang dia pakai.

 

“Sama-sama.” Jeongguk tersenyum, menatap Taehyung yang sedang berbenah untuk pulang ke kediamannya.

 

“Ah, iya.” Jeongguk teringat sesuatu. “Tolong, tawaranku mengenai, em, lukisan lupakan saja, ya. Jangan dipikirkan.” Tatapannya canggung, tidak berani melihat wajah Taehyung secara langsung. Pandangannya dia alihkan pada objek apa saja yang ada di depannya, asalkan jangan Taehyung.

 

Terjadi sebuah keheningan canggung, Jeongguk tidak tahu apa yang pria di sampingnya pikirkan.

 

“Ah, sebenarnya aku berpikir untuk menerimanya.”

 

“Tidak, tidak, tidak. Jika kau merasa terbebani jangan diterima.” Jeongguk menyela ucapan Taehyung. Demi Tuhan, Jeongguk tidak mau jika Taehyung menerima permintaannya hanya karena merasa kasihan. Dia juga tidak ingin Taehyung terbebani akibat permintaannya.

 

“Bukan seperti itu, Jeongguk.” Suara Taehyung lembut, sama sekali tidak menyiratkan rasa amarah kepada dirinya seperti yang dibayangkan.

 

“Kamu tahu, kan. Ada kalanya aku merasa stuck, tidak punya inspirasi, dan itu yang aku rasakan sekarang.” Jeongguk mendengarkan, tidak menyela ataupun membalas.

 

“Bahkan sudah dua bulan aku tidak menghasilkan lukisan baru. Mungkin dengan menerima  tawaranmu aku bisa kembali beraktivitas seperti biasa.”

 

“Jadi, kamu menerima permintaanku?” Taehyung menatap Jeongguk dengan senyuman yang terlukis di wajahnya.

 

“Ya, aku menerimanya.”

 

-–•°•–-

 

Sudah sebulan semenjak Taehyung menerima permintaan Jeongguk, hubungan di antara keduanya berkembang dengan sangat baik. Tidak lama setelah Jeongguk sampai ke apartemen setelah mengantarnya, Jeongguk menerima pesan dari Taehyung perihal kelanjutan lukisan miliknya. Percakapan mereka tergolong sangat kaku, namun seiring berjalannya waktu, satu-dua bubble chat berubah menjadi saling menghubungi lewat telepon.

Tidak jarang Jeongguk dan Taehyung saling berbincang hingga larut malam, tidak ada salah satu dari keduanya yang ingin mengakhirinya. Pernah satu malam Taehyung menangis, bercerita bahwa dia tidak pernah tertidur nyenyak kembali akibat rasa sesak yang menjulur di dadanya, dia rindu tertidur dengan nyenyak. Hati Jeongguk ikut sakit mendengarnya, hidup bersama bunga yang kian tumbuh menjadi pil pahit yang harus ia paksa telan. Ingin sekali Jeongguk memeluk Taehyung, membisikkan kata-kata penenang, merengkuhnya dalam dekapan yang hangat, lalu menyanyikannya lagu lullaby. Taehyung tertidur setelah dia nyanyikan lagu lullaby. Tidak lama, Jeongguk ikut pergi ke alam mimpi setelah mendengar dengkuran halus Taehyung yang terasa nyata, seperti berada di sisinya.

 

Perkembangan hubungan mereka tidak hanya itu saja, Jeongguk gemar mengejutkan Taehyung akibat kedatangannya ke kediamannya yang mendadak. Genggamannya tidak pernah kosong, selalu ada makanan yang dia bawa untuk Taehyung. Sering kali Taehyung menolak pemberian Jeongguk, dia selalu beralasan jika Jeongguk membawanya makanan. Namun, Taehyung selalu saja luluh jika pandangan Jeongguk berubah seperti puppy. Ya, wajah memelas Jeongguk selalu menjadi kelemahan baginya. Akhir ceritanya selalu saja sama, Taehyung dan Jeongguk berakhir makan bersama.

 

Jika Jeongguk ataupun keduanya tidak cukup sibuk, maka mereka akan menghabiskan waktu hanya sekadar untuk berjalan-jalan di taman atau berbincang di kafe.

 

Jeongguk baru saja menyelesaikan shift-nya, cukup melelahkan mengingat hari ini adalah akhir pekan, orang-orang biasanya akan menghabiskan akhir pekan di restorannya dengan orang yang mereka sayang. Dirinya cukup bersyukur karena semua berjalan dengan baik, tidak ada insiden daging overcooked atau panna cotta yang terlalu banyak gelatin.

 

Jeongguk berjalan sendirian menuju loker, tidak ada Mingyu di sampingnya. Pria yang menjabat sebagai sous chef itu sedang sibuk memperhatikan para trainee yang sedang membersihkan peralatan dapur. Tangan kanannya melepaskan topi chef-nya yang sedari tadi berdiri tegap di atas kepala, mengusak pelan rambutnya yang bermandikan keringat. Jeongguk mengingatkan dirinya untuk keramas setelah pulang ke unit apartemennya.

 

Langkahnya terhenti ketika kakinya sudah sampai di depan loker miliknya. Hal yang pertama dia lakukan adalah mengecek ponsel, berharap ada pesan yang sampai kepadanya dari Taehyung. Senyumnya mengembang ketika salah satu notifikasi pesan dari Taehyung terpampang di lockscreen-nya. Jemarinya dengan segera menuliskan pesan balik kepada Taehyung.

 

Taehyung

Jeongguk?

Sedang sibuk tidak?

 

Jeongguk

Ya? Ada apa, Taehyung?

Aku baru selesai memasak.

 

Taehyung

Ah, baru selesai ya? Pasti melelahkan :(

Istirahat dulu saja, aku bisa menunggu

 

Jeongguk

Tidak apa-apa, bicara sekarang saja.

 

Taehyung

Bukan hal besar, hehe

Untuk besok ... apa kamu sibuk? Aku ingin membicarakan sesuatu

 

Jeongguk menatap layar ponselnya dalam diam, dirinya memiliki perasaan tidak baik, hatinya merasa tidak nyaman. Namun, Jeongguk coba mengenyahkan pikirannya dan membalas pesan Taehyung.

 

Jeongguk

Besok malam Senin, sepertinya tidak akan terlalu sibuk.

Reservasi tidak akan sepadat seperti malam sekarang.

 

Taehyung

Ah, syukurlah

[Lokasi]

Kita bisa kan bertemu di sini? Jam 10?

 

Jeongguk

Bisa, aku akan datang.

 

Taehyung

Ah, terima kasih Jeongguk

Sekarang kamu istirahat dulu. Bisa-bisa bisepsmu mengempis

 

Jeongguk

Biseps? Kamu selalu memperhatikan bisepsku?

 

Taehyung

Tidak

 

Jeongguk

Baiklah, aku percaya :)

 

Taehyung

Memang seharusnya kamu percaya

Sudah, sekarang kamu istirahat! Good night!

 

Jeongguk tersenyum, dia bisa membayangkan wajah Taehyung yang memerah. Tapi, kesenangannya tidak bertahan lama. Jeongguk mulai memikirkan hal apa yang akan Taehyung bicarakan dengan dirinya. Tidak biasanya Taehyung seperti ini.

 

-–•°•–-

 

Cuaca cukup baik, tidak ada angin hujan seperti hari-hari yang lalu. Sinar mentari bersinar cukup terang. Kali ini Jeongguk mengendarai mobilnya menuju tempat yang Taehyung janjikan. Jeogguk memakai kaus lengan panjang berwarna hitam dengan cargo yang juga berwarna hitam. Jangan tanyakan Jeongguk mengapa pakaiannya selalu berwarna hitam.

 

Jeongguk melirik ponsel yang memperlihatkan aplikasi penunjuk arah, sudah sampai. Sejujurnya, dia merasa cukup bingung. Untuk apa Taehyung mengajaknya bertemu di sini? Kafe ini tidaklah dekat dari kediaman Taehyung. Jeongguk menengok ke arah kanan, di sana ada sebuah kafe. Kesan pertama yang Jeongguk dapat sesaat setelah melihatnya adalah nyaman dan cukup besar. Pertama, Jeongguk harus mencari tempat parkir terlebih dahulu. Matanya menangkap lahan parkir kosong, dengan lihai tangan Jeongguk memegang setir untuk memasuki lahan parkir. Setelah dirasa sudah terparkir sempurna, Jeongguk mematikan mesin lalu meraih jaket kulit hitamnya dan memakainya.

 

Dirinya harus berjalan sekitar tiga puluh meter sebelum sampai ke kafe yang Taehyung janjikan sebagai tempat bertemu. Telapak tangan kirinya mendorong pintu kafe dan gemerincing bel menyambut indra pendengarannya. Pandangannya menyisir seluruh isi kafe, mencoba mencari di mana Taehyung berada. Senyumnya mengembang ketika menangkap sosok Taehyung sedang melambai ke arahnya.

 

Taehyung mengenakan kemeja putih dengan rompi rajut berwarna hijau, dipadu celana panjang berwarna abu-abu. Di mejanya telah ada segelas kopi, segelas lemongrass, juga crepes yang Jeongguk yakin berperisa green tea.

 

Taehyung berbincang basa-basi, mengajaknya untuk meminum kopinya. Sejujurnya, Jeongguk masih tidak tahu menahu apa yang akan Taehyung bicarakan sehingga ingin bertemunya secara langsung. Tiba-tiba, Taehyung berdiri dan mengambil minumannya.

 

“Ayo, kita ke studioku,” ajak Taehyung. Jeongguk mengambil gelas kopinya dan berjalan di belakangnya mengikuti Taehyung. Mereka berjalan sambil berbincang ringan. Tidak sampai empat menit, Taehyung berbelok dan mengajaknya untuk masuk ke dalam sebuah bangunan bertingkat 3.

 

“Di sini merupakan studio melukisku,” ucap Taehyung sambil menyusur tangga. “Cukup jauh dari apartemenku, tapi untuk pergi ke galeri seni sangat dekat.” Taehyung mengeluarkan kunci berbentuk kartu dari saku celananya, lalu memasukkannya ke dalam kunci pintu. Setelah dia memasukkan kartu ke dalam kuncinya, terdengar bunyi bel pintu terbuka.

 

“Selamat datang di studio lukisku.” Saat Jeongguk memasuki ruangannya, wangi cat lukis juga tiner menyerbu indra penciumannya. Jeongguk tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ruangan bernuansa putih itu dipenuhi oleh lukisan milik Taehyung, berbagai macam ukuran kanvas disandarkan ke dinding, ada pula yang menggantung di dinding putih itu. Di pojok ruangan, terdapat sebuah sofa berwarna abu. Pandangannya kembali menyisir seisi ruangan. Jeongguk menangkap sebuah meja yang menghadap ke arah jendela, berbagai macam peralatan untuk melukis; mulai dari cat, pensil, hingga kertas gambar ada di sana. Beberapa pigura berukuran kecil juga terletak di atas meja.

 

“Maaf ruangannya berantakan, aku belum sempat membereskannya.” Taehyung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jeongguk menggumamkan kata tidak apa-apa sebelum mengeksplorasi kembali ruangan lukis milik Taehyung.

 

Pandangan Jeongguk terfokus pada sebuah kanvas berukuran kurang lebih 1 meter persegi terletak di easel lukis. Jeongguk berjalan mendekati, lukisan itu sudah diwarnai, tapi masih banyak bagian dari kain kanvas itu yang belum terwarnai secara sempurna. Jeongguk membalik tubuh dan pandangannya bertatapan dengan netra Taehyung.

 

Seolah tahu apa yang ada di pikirannya, Taehyung menjawab. “Iya, itu lukisan milikmu yang belum aku selesaikan.”

 

Jeongguk kembali menatap kanvas di belakangnya. “Ini terlihat indah, Taehyung.” Jemari Jeongguk menyusuri kain kanvas di depannya. Noda cat menempel di ujung telunjuknya, menandakan bahwa Taehyung mungkin baru saja melukisnya kembali. Kali ini Jeongguk mendekati sebuah lukisan dengan kanvas yang sama besar, kanvas itu ditutupi dengan kain hitam legam.

 

“Jangan dibuka.” Jemari Jeongguk yang baru saja menyentuh kain hitam itu terhenti. Rasa penasarannya terhadap kanvas yang tertutupi dengan kain semakin membuncah, namun Jeongguk hormati keinginan Taehyung.

 

“Sebenarnya aku mengajakmu ke sini ingin meminta maaf.” Taehyung memecah keheningan, pandangannya menyendu. Jeongguk menghampiri Taehyung yang terduduk di sofa miliknya, menarik sebuah kursi bulat di dekatnya dan duduk di hadapan Taehyung.

 

“Meminta maaf?” Jeongguk bertanya pada Taehyung. Apa yang perlu dia maafkan?

 

“A-aku, mungkin tidak bisa menyelesaikan lukisanmu.” Kepalanya terangkat, menatap kanvas setengah jadi di sudut ruangan. Arah pandangan Jeongguk menuju paras Taehyung, dan dia baru menyadarinya. Taehyung terlihat pucat dibanding pertemuan terakhirnya. Rasa khawatir kembali memenuhi relung hatinya.

 

‘Apa kondisi Taehyung memburuk?’

 

“Taehyung, hei.” Jeongguk menarik kedua telapak Taehyung, menangkup kedua telapak tangannya dan mengusapnya dengan lembut. “Kamu tidak perlu meminta maaf. Kamu sama sekali tidak pernah membuat kesalahan. Apa yang perlu aku maafkan jika kamu tidak melakukan kesalahan? Bahkan aku tidak keberatan jika lukisannya tidak selesai.” Pandangan Taehyung terangkat, tatapannya bertemu dengan Jeongguk. Air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya, meluncur turun membasahi pipi. Jari jempol Jeongguk mengusap lembut pipinya, guna menghapus air matanya.

 

‘Tolong jangan menangis. Hatiku sakit melihatnya.’

 

“Kondisiku semakin memburuk, Jeongguk.” Luncuran air mata kembali membasahi pipinya, jari Jeongguk terasa semakin basah. Kini, dia turun dari kursinya, bersimpuh di hadapan Taehyung. Pria di hadapannya mencoba menghentikan air matanya.

 

“Setiap hari aku merasa sesak, bunga itu terus tumbuh di dadaku.” Jeongguk mendengarkan, tidak sedikit pun muncul di hati Jeongguk untuk menyela membalas Taehyung. Yang dia lakukan hanyalah mengusap air mata yang turun melewati pipinya.

 

“Aku melukis untuk mengalihkan perhatianku dari rasa sakit ini, Jeongguk. Tapi kian hari dadaku terasa sakit, bahkan melukis pun tidak dapat mengalihkan perhatianku. Satu malam aku terbatuk, dan bunga sialan itu ada di hadapanku, keluar dari tubuhku sendiri.” Taehyung terisak. Benar-benar tumbang di hadapan Jeongguk. Tidak ada Taehyung yang periang di sini, yang Jeongguk lihat adalah sosok yang benar-benar rapuh; mungkin inilah sosok Taehyung yang sebenarnya. Taehyung melepaskan seluruh topengnya di hadapan Jeongguk. topeng yang mengisolasi sosok yang sebenarnya dari dunia luar.

 

Jeongguk memeluk Taehyung dalam dekapannya, isakan tangis terdengar jelas di telinga kirinya. Tangan kanannya mengusap punggung dan rambut halusnya dengan lembut, mencoba menenangkan. Taehyung terus saja menggumamkan kata ‘sakit’, ‘aku tidak kuat’, ‘mengapa aku terlahir seperti ini?’ dan itu membuat hati Jeongguk benar-benar sakit. Hatinya terasa sangat sakit saat melihat Taehyung yang terlihat lemah seperti ini.

 

“Harusnya aku tidak percaya ucapannya saat itu.” Tangis Taehyung mereda, namun, isakannya masih terdengar. Kepalanya dia sandarkan di bahu tegap Jeongguk. Sesekali air mata mengalir turun menuju pundaknya yang sudah basah. Jeongguk masih menahan posisinya, memeluk Taehyung.

 

“Saat itu aku benar-benar naif.”

 

-–•°•–-

 

Taehyung berumur tujuh tahun saat ayah dan ibunya berpisah. Taehyung kecil tidak tahu menahu tentang permasalahan antara ayah dan ibunya. Namun, tiap malam setelah ibunya keluar dari kamarnya setelah menidurkan Taehyung, dia selalu mendengar teriakan ayahnya. Suara itu menyeramkan. Satu malam, Taehyung terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara piring pecah. Kaki kecilnya menuruni kasur dan mendorong pelan pintu kamar hingga cukup celah untuk mengintip. Mata Taehyung menangkap ibunya sedang menangis di meja makan, di kakinya terdapat pecahan piring. Taehyung kecil ingin sekali mendekati ibunya dan memeluknya, namun dia terlalu takut membuat ibunya kecewa karena dia belum tertidur.

 

“Ibu tidak sengaja memecahkan piring, Nak.” Taehyung mendapat jawaban itu atas pertanyaannya.

 

Berselang dua minggu, Taehyung yang sedang makan menatap jam dinding. Pada pukul tujuh malam, biasanya ayahnya akan pulang. Tapi, sudah lewat satu jam ayahnya tidak kunjung pulang. Pagi hari setelah dia terbangun, sosok ayahnya pun masih tidak ada. Hilangnya sosok ayahnya menumbuhkan pertanyaan baru. Saat sarapan pagi, Taehyung menanyakan keberadaan ayahnya.

 

“Ayah pindah ke rumah baru, jadi ayah tidak akan tinggal di sini lagi.” Ibunya tersenyum lembut padanya, Taehyung kecewa sebab dia tidak diajak pergi ke rumah baru bersama ayahnya. Sosok wanita di hadapannya menjelaskan bahwa Taehyung masih terlalu kecil untuk pergi bersama ayahnya.

 

Setelah itu Taehyung hidup berdua dengan ibunya, dan ayahnya benar-benar sudah pindah.

 

Park Seojoon. Anak laki-laki berusia dua tahun lebih tua darinya itu selalu mengajaknya bermain. Taehyung kecil yang selalu menempel pada ibunya awalnya menolak, namun anak laki-laki itu tidak menyerah untuk mengajaknya bermain. Berawal dari sapaan tiap Taehyung berada di luar rumah, hingga Taehyung berani bermain dengannya.

 

Saat masuk ke sekolah dasar, tangan Taehyung tidak mau terlepas dari lengan Seojoon, terlalu takut jika harus berpisah jauh darinya. Bahkan, Taehyung hampir menangis saat gurunya mengajak Taehyung untuk melepaskan genggaman. Bibir bawahnya bergetar, wajahnya memerah. Seojoon kecil berjongkok di hadapannya saat tangis Taehyung hampir pecah.

 

“Tae, sekarang kamu harus belajar dulu, ya? Kalau Taetae mau masuk ke kelas dan belajar, nanti aku belikan es krim deh, bagaimana?” Kalimat yang Seojoon lontarkan bagaikan mantra bagi Taehyung, cengkeramannya pada lengan Seojoon sontak terlepas. Guru Taehyung tersenyum lega melihatnya. Taehyung memastikan ucapan Seojoon bukan hanya sekadar bualan belaka, dan Seojoon mengangguk dengan lugas.

 

“Taetae janji akan belajar biar bisa makan es krim dan bermain dengan Seojoon-hyung!” Sejak saat itu, hubungan antara Taehyung dan Seojoon menguat. Mereka saling melengkapi. Jika kamu melihat Seojoon, maka di sampingnya akan ada Taehyung. Begitu pula sebaliknya.

 

Pertama kali Taehyung menyadari perasaannya saat duduk di bangku mengengah pertama. Pada saat itu, Taehyung berumur 13 tahun dan Seojoon berumur 15 tahun. Kala itu Taehyung menunggu Seojoon selesai berlatih basket bersama temannya di lapangan kompleks perumahannya, keduanya berjanji untuk mencoba makanan dari sebuah kafe di dekat sekolahnya. Matanya terfokus pada gerak lincah Seojoon yang sedang menggiring bola basket dan memasukkannya menuju ring. Keringat meluncur dari dahi menuju rahang tajamnya, kulitnya bersinar akibat pancaran sinar matahari yang terpantul menuju tubuhnya yang bermandikan keringat.

 

Taehyung merasakan gelenyar hangat di hatinya, wajahnya memerah melihat napas terengah Seojoon yang baru saja memasukkan bola ke dalam ring basket. Saat itulah Taehyung menyadari rasa cintanya pada Seojoon.

 

Pada tahun itulah juga hidup Taehyung hancur berkeping-keping. Ibunya terkena serangan jantung hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Taehyung menangis keras saat itu, takut ditinggalkan oleh orang yang dia sayangi. Di lorong rumah sakit yang dingin, Seojoon datang memeluknya, menghantarkan rasa hangat tubuhnya menuju tubuh dingin Taehyung, membisikkan kata-kata penenang. Taehyung balas pelukan Seojoon, menghirup aroma tubuh Seojoon yang membuatnya tenang. Mencoba memercayai ucapan Seojoon, bahwa semuanya akan baik-baik saja.

 

Sudah tiga hari Taehyung menemani ibunya, dan pada hari ketiga-lah kondisi ibunya tiba-tiba krisis. Para perawat dan dokter mengelilingi ibunya dengan peralatan medis yang tidak Taehyung ketahui, mencoba memberikan pertolongan kepada ibunya. Taehyung menangis kembali saat itu dan Seojoon berada di sisinya. Memeluknya.

 

“Taehyung, anak baik yang selalu Ibu sayang. Kamu punya Seojoon untuk menggantikan Ibu, bahagia bersama Seojoon, ya? Seojoon anak yang baik, dia pasti akan menjaga Taetae nanti.” Tangis Taehyung semakin pecah saat mengingat perkataan ibunya semalam.

 

Dengingan suara mesin EKG bagai mimpi buruk bagi Taehyung. Ibunya meninggalkan dia untuk selamanya.

 

-–•°•–-

 

Sepeninggal ibunya, Taehyung tinggal bersama saudari ibunya. Taehyung berbicara pada Seojoon tentang perkataan ibunya, dan Seojoon menyanggupi keinginan mendiang ibunya. Dia berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Taehyung.

 

Taehyung pegang janjinya erat-erat.

 

Hingga saat bangku perkuliahan, hidup Taehyung terjatuh kembali. Lebih dalam dan lebih hancur. Malam itu, Taehyung sedang belajar di asramanya saat seseorang mengetuk pintunya pelan. Taehyung membuka pintu asramanya dan menemukan Seojoon yang tersenyum di hadapannya. Sontak, Taehyung memeluk Seojoon kencang. Dirinya sangat senang saat itu, karena sudah hampir satu bulan Taehyung tidak bertemu dan hanya berbincang lewat ponsel.

 

Dengan semangat, Taehyung menceritakan kehidupan universitasnya kepada Seojoon. Taehyung berhenti bercerita saat melihat Seojoon hanya terdiam di kasurnya. Taehyung yang merasa aneh dengan gelagat Seojoon mencoba mengajaknya berbicara, tanpa ada kecurigaan apa pun.

 

“Aku akan menikahi kekasihku bulan depan.” Kata-kata yang terluncur dari mulutnya bagaikan sambaran petir di siang bolong. Taehyung terdiam, tidak mampu membalas perkataan Seojoon. Kepalanya terasa kosong, hatinya seperti diremas kencang hingga pecah tak tersisa. Matanya terasa panas, air matanya bisa tumpah kapan saja.

 

“Oh, selamat atas pernikahannya, Hyung.” Hanya itu yang Taehyung ucapkan sebelum memaksa Seojoon pulang dengan alasan dirinya harus belajar. Taehyung bisa dengar suara Seojoon yang berkali-kali meminta maaf. Tapi dirinya terlalu kalut untuk membalasnya. Menutup pintu dengan kencang di hadapan wajah Seojoon, dan Taehyung mulai menangis. Dirinya merasa sangat rapuh. Harusnya dia sadar sejak lama, Seojoon tidak pernah berjanji untuk menjadi kekasihnya. Kini, Taehyung menyalahkan dirinya atas kebodohannya. Menyalahkan kepada dirinya karena sudah jatuh cinta pada seseorang yang sama sekali tidak menyimpan perasaan kepadanya.

 

Satu bulan semenjak kepergian Seojoon yang tiba-tiba, Taehyung mulai merasakan sesuatu yang janggal. Perasaan sesak seakan menahan Taehyung untuk bernapas. Dia coba abaikan rasa sesak di dalam dada, hingga lama kelamaan perasaan itu mulai mengganggu dirinya. Satu malam, Taehyung benar-benar merasa sesak. Dia coba batuk secara paksa dengan harapan rasa sesaknya akan hilang.

 

Tangan yang menangkup mulutnya terasa basah oleh liur. Bukan hanya itu, saat dia jauhkan telapak tangan dari mulutnya, netranya melihat tiga buah kelopak bunga yang bercampur dengan merahnya darah. Kelopak bunga muncul dari tubuhnya. Matanya membulat, badannya gemetar hebat, isak tangis mulai memenuhi ruang sunyi di sekitarnya. Tubuhnya ambruk ke lantai, Taehyung mulai menangis kencang. Dirinya mengecam takdir yang selalu mempermainkan hidupnya.

 

Hingga saat itu Taehyung rela untuk melepas segalanya, melepas gelar lulusan terbaik. Dirinya merasa sudah tidak ada gunanya untuk melanjutkan apa yang telah dia lakukan. Toh, dia akan mati dalam waktu yang sebentar. Taehyung kini mendalami seni, sesuatu yang sangat dia cintai sejak kecil. Menit-menitnya dia isi dengan melukis guna menikmati sisa-sisa waktu hidupnya.

 

Dokter menyarankan Taehyung untuk melakukan operasi, tapi Taehyung menolak. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hidupnya sendirian. Tidak ada yang menyayanginya. Untuk apa dia tetap hidup? Taehyung coba hubungi ayahnya perihal penyakitnya. Tapi, dia hanya memberi uang rutin bagi Taehyung untuk melakukan terapi. Apa yang dia harapkan dari laki-laki yang sudah meninggalkan ibunya?

 

Taehyung bulatkan tekad, dia akan terus menjalani terapi hingga waktunya untuk meninggalkan dunia sudah tiba.

 

-–•°•–-

 

Kepala Jeongguk terasa pening setelah Taehyung menceritakan segalanya. Dia coba ubah keyakinan Taehyung, perihal ketidakmauannya untuk menjalani operasi. Tapi Taehyung tetap pada pendiriannya. Setelah pertemuannya dengan Taehyung di studio, Jeongguk antar pulang Taehyung menuju apartemennya. Jeongguk menawarkan diri untuk menginap di kediamannya, berakhir ditolak halus oleh sang pemilik rumah. Demi Tuhan, Jeongguk khawatir pada keadaan Taehyung. Dia sedang tidak baik-baik saja. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi padanya.

 

Dengan enggan Jeongguk meninggalkan kediaman Taehyung setelah berpesan kepada Taehyung untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu.

 

Perasaan Jeongguk tidak tenang. Dirinya tidak bisa tertidur, matanya terus melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya, takut Taehyung meneleponnya saat larut malam dan meminta bantuan. Jeongguk tumbang dikalahkan rasa kantuk saat jarum jam sudah menunjukan pukul tiga pagi.

 

-–•°•–-

 

Kali ini Jeongguk sibuk mempersiapkan makanan untuk acara pernikahan mewah milik anak seorang menteri. Dengan tegas Jeongguk mengarahkan para chef untuk menyiapkan hidangan sesempurna mungkin. Tidak ada yang diam, semua orang bergerak dengan cekatan. Wangi rempah-rempah saling berpadu. Meskipun dirinya masih sibuk, pikirannya tetap mengawang pada Taehyung. Pagi tadi pria itu mengirimkan ucapan selamat pagi dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja.

 

“Mingyu, tolong handle sebentar.” Mingyu menganggukkan kepalanya. Jeongguk menghindari kerumunan dan mencari sebuah tempat sunyi untuk mengecek ponselnya.

 

Jeongguk masuk ke dalam bilik salah satu kamar mandi, topi yang menggantung di kepalanya dia lepas lalu tangan kanannya merogoh saku untuk mengeluarkan ponsel. Jeongguk merasa hatinya jatuh saat melihat dua panggilan tidak terjawab dari Taehyung.

 

2 jam yang lalu.

 

Napasnya memburu, Pandangannya memburam, dengan jari gemetar Jeongguk coba telepon Taehyung kembali.

 

Nomor yang anda tuj—

 

“Astaga Taehyung, tolong jawab aku.” Jeongguk mencoba menghubunginya kembali. Keringat dingin mulai merayapi tubuhnya, rasa sesak mulai menekan hatinya.

 

Panggilan kelima, Taehyung tidak menjawab.

 

Dengan terburu Jeongguk keluar dari bilik kamar mandi; berlari, melupakan topi chef-nya. Mengabaikan teriakan Mingyu maupun tatapan heran yang dilemparkan padanya. Jeongguk terus berlari menuju tempat di mana parkir mobil, dirinya cukup bersyukur karena tidak menyimpannya di tempat yang cukup ramai.

 

Jeongguk memasuki mobilnya dengan cepat, mencoba mengabaikan getaran hebat di tangannya dan deru napas yang memburu. Satu-satunya tujuan yang terpikirkan oleh Jeongguk adalah kediaman Taehyung. Di tengah rasa panik yang Jeongguk rasakan, ponsel Jeongguk berbunyi. Bernapas dengan lega saat melihat nama yang menghubunginya. Dengan mata masih terfokus pada jalanan, Jeongguk coba angkat teleponnya.

 

“Halo, Taehyung? Apa kamu bai—“

 

“Halo?”

 

Jeongguk termenung saat suara yang didengarnya bukanlah suara Taehyung.

 

“Dengan Jeongguk?”

 

“Ya, saya sendiri. Di mana Taehyung?” Pundak Jeongguk melemas, perasaannya gundah. Berbagai skenario buruk sudah terputar di kepalanya. Air mata Jeongguk mulai turun.

 

“Saya Park Sooyoung, tetangga Taehyung. Pagi tadi Taehyung dilarikan ke rumah sakit.”

 

Jeongguk tidak bisa menahan air matanya, mulutnya mulai mengeluarkan isakan. Dua jarinya menahan laju air matanya yang mengalir. Dirinya mencoba untuk menjawab panggilan wanita di seberangnya.

 

“B-bagaimana kabarnya?” Jeongguk benar-benar hopeless, mengingat baru saja tadi malam Taehyung menceritakan bahwa dirinya tidak ingin dioperasi.

 

“Tolong katakan dia baik-baik saja.” Jeongguk benar-benar menangis, pandangannya memburam.

 

“Maaf, Jeongguk. Tapi saya sendiri tidak tahu bagaimana kabarnya. Dia ... jatuh pingsan di kamarnya. Mulutnya penuh dengan kelopak bunga. Maaf, apakah dia terkena hanahaki?”

 

Jeongguk tidak bisa membalas ucapannya. Mobil itu kini dipenuhi oleh isak tangis Jeongguk. Dia mulai menyalahkan dirinya sendiri, bagaimana bisa dia meninggalkan Taehyung sendiri? Tuhan, dia tidak ingin kehilangan Taehyung. Dia tidak ingin hidup Taehyung berakhir begitu saja. Jeongguk sudah berjanji pada Taehyung untuk mengajaknya ke tempat yang dia cintai.

 

Jeongguk benar-benar jatuh cinta pada Taehyung, dan dia tidak ingin kehilangannya.

 

-–•°•–-

 

Jeongguk berlari menuju meja resepsionis di unit gawat darurat. Dirinya sangat panik, beberapa kali tubuhnya menabrak orang lain. Tanpa mengucapkan maaf Jeongguk pergi berlari kembali.

 

“Tolong, katakan di mana Kim Taehyung.” Jeongguk terengah, matanya menatap perawat pasrah. Air mata Jeongguk bisa tumpah kapan saja. Jeongguk menarik napas tajam, mencoba mengembuskan napasnya untuk menenangkan diri.

 

“Kim Taehyung. Ha-hanahaki. Tolong katakan di mana dirinya?” Perawat itu membulatkan mata, dia menatap rekannya yang berada di sampingnya dan mengangguk.

 

“Mari Tuan, saya antarkan.” Perawat itu meninggalkan mejanya dan segera berjalan menuju ke arah dalam. Pundak Jeongguk turun, merasa pasrah terhadap kenyataan yang akan terjadi. Sesekali punggung tangannya mengusap keras air matanya.

 

Jeongguk terus berjalan dan berjalan. Perawat itu mengarahkannya menuju ke ruangan yang saling berjajar, di kanan-kirinya terdapat pintu-pintu dengan nomor ruangan di atasnya. Hingga perawat itu berhenti di salah satu ruangan.

 

“Silakan tuan, pasien atas nama Kim Taehyung ada di dalam.” Jeongguk membungkuk dan mengucap terima kasih. Dia menarik napas panjang sebelum mendorong pintu ruangan  milik Taehyung. Jeongguk menerima apa pun kenyataan yang terjadi. Tangan kanannya mendorong pintu dan napas Jeongguk tercekat saat melihat pemandangan di depannya. Taehyung terbaring dengan nasal oxygen menggantung di hidungnya. Kepala itu berbalik mengarah ke arah pintu saat mendengar pintu terbuka. Taehyung tersenyum lemah ke arah Jeongguk.

 

Dengan langkah tergesa Jeongguk berlari ke arah Taehyung dan memeluknya, mengabaikan ringisan sakit dari Taehyung.

 

“Pelan-pelan, Ggukie. Sakit.” Taehyung menepuk pelan pundak Jeongguk. Namun, pria itu hanya mengendurkan pelukannya, sama sekali tidak melepaskannya. Jeongguk mulai terisak saat memeluk Taehyung dalam dekapannya.

 

“Tolong, jangan tinggalkan aku. Taehyung, aku mohon,” ucap Jeonggguk parau. Isak tangis Jeongguk mulai terdengar.

 

“Aku benar-benar mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.” Terdengar tawa rintih Taehyung dari dalam dekapan Jeongguk. Tangan kanan yang tertanam jarum infus mengusap pelan rambut halus Jeongguk, senyumnya mengembang saat merasakan surai lembut milik Jeongguk berada dalam genggamannya.

 

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Jeongguk. Mana mungkin aku akan meninggalkan orang yang aku cintai.” Taehyung masih sibuk mengelus rambut halus Jeongguk. Jeongguk melepaskan pelukannya dan berlutut di samping ranjang Taehyung. Tangannya menggenggam telapak tangan kiri Taehyung dan mengarahkannya menuju bibir, dia cium lembut punggung tangannya.

 

Mereka terdiam sejenak dalam keheningan, Jeongguk masih belum sanggup berbicara. Kelopak matanya tertutup, dengan bibir yang masih menempel pada punggung tangan Taehyung. Masih mencoba menenangkan diri.

 

“Kamu akan dioperasi, ‘kan? Tolong katakan iya. Taehyung sayang, Taehyung manis, aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin mengajakmu ke tempat yang kamu impikan. Kamu masih ingat? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau pergi meninggalkan aku.” Air mata Jeongguk kembali mengalir.

 

“Jeongguk dengar—“

 

“Aku mohon.” Suara parau itu kembali terdengar.

 

“Aku sudah dioperasi, Ggukie.” Jeongguk bangkit dan menatap mata Taehyung dengan sorot tidak percaya.

 

“Kamu tahu, aku masih ingat rasa sesak saat aku berada di ambulans menuju ke rumah sakit. Perawat di sampingku terus berkata agar aku tetap sadar. Aku mencoba untuk tetap sadar sampai aku dibawa menuju unit gawat darurat, di sana aku sudah mulai pasrah dengan rasa sesak dan bunga yang terus tumbuh di paru-paruku. Saat di akhir-akhir kesadaranku, wajahmu terlintas di benakku. Bagaimana perasaanmu jika aku pergi? Lalu aku ingat afeksi yang selalu kamu berikan sejak pertemuan pertama kita di meja kafetaria. Di situlah aku sadar, bahwa masih ada seseorang yang mencintai diriku,” Taehyung tersenyum dan mengusap pelan pipi Jeongguk.

 

“Aku tahu kamu mencintaiku, dan aku tidak ingin kamu merasakan hal yang sama denganku. Di akhir sebelum kesadaranku hilang, aku berkata pada dokter bahwa aku siap dioperasi.”

 

Jeongguk kembali menangis, tangis bahagia. Jeongguk berdiri, kedua tangannya menangkup pipi Taehyung, kedua jemarinya mengusap pelan pipi yang terasa lebih tirus. Jeongguk pandangi wajah indah Taehyung dengan pandangan penuh rasa cinta. Taehyung dapat merasakannya. Telunjuk Jeongguk menyisir pelan rambut Taehyung yang menutupi dahi, lalu mendekatkan wajahnya ke arah dahi Taehyung. Bibirnya mengecup pelan dahi Taehyung dengan penuh kehati-hatian, takut menyakiti Taehyung.

Setelah dia mengecup dahinya, Jeongguk satukan dahinya. Saling merasakan deru napas masing-masing.

 

“Aku mencintaimu, Kim Taehyung. Jadi kekasihku, mau? Hanya ada dua waktu ketika aku ingin bersamamu. Sekarang dan selamanya.”