Work Text:
Just close your eyes, the sun is going down
You'll be alright, no one can hurt you now
Come morning light, you and I'll be safe and sound
[Taylor Swift ft. The Civil War – Safe and Sound]
.
.
.
Sudah empat bulan berlalu semenjak Suguru menemukan Nanako dan Mimiko terpasung di balik jeruji kayu dengan lebam dan luka di sekujur tubuh mungil mereka. Ada ketakutan terpapar dalam pendar redup di mata gadis-gadis kecil itu. Mereka saling merepet dan memeluk satu sama lain seakan tidak ada harapan yang tertinggal di dunia yang keji dan satu-satunya opsi hanyalah menunggu kematian. Sesuatu—yang sudah dipendam sejak setahun lalu— dalam diri Suguru terpantik. Lidah bara api memberangus habis semua nilai-nilai kebenaran yang selama ini dijunjung menjadi arang.
(Monyet-monyet biadab yang melakukan ini tidak pantas hidup)
Sudah empat bulan berlalu semenjak Suguru berada dalam daftar teratas buronan dunia jujutsu setelah divonis bersalah atas insiden pembantaian satu desa. Suguru menyepi dari keramaian pusat Tokyo dan menggunakan sisa uang tabungan selama masih menjadi murid Jujutsu untuk membeli rumah sederhana dengan petak kecil pada halaman belakang di pinggiran kota. Suguru membawa serta Nanako dan Mimiko ikut tinggal bersama. Ke mana lagi dua anak kembar itu pulang selain kepada uluran tangan hangat Suguru.
Di awal masa mereka tinggal seatap, Mimiko dan Nanako masih malu-malu dan sungkan. Suguru tidak tergesa-gesa memaksa mereka untuk membuka diri kepadanya. Ia paham bahwa luka akibat trauma tidak semudah itu disembuhkan. Suguru mencoba memahami mereka dan begitu pula sebaliknya. Biarkan waktu yang perlahan merekatkan hati yang retak.
Dalam rentang sebulan tinggal dan menjalani hari bersama, Suguru mulai bisa membaca karakter si kembar. Nanako, yang berambut cerah seperti kelopak bunga matahari, lebih aktif dan vokal. Sementara Mimiko, yang berambut gelap seperti jelaga, jauh lebih tertutup dan pendiam. Tetapi ada hal yang sama di antara keduanya. Mereka kerap mengekori Suguru ke mana saja bak anak bebek dan induknya. Jika Suguru hilang dalam pandangan barang sebentar saja, tingkat kecemasan mereka naik pesat dan tangis pecah. Bahkan Mimiko sampai pernah duduk manis di luar kamar mandi, menunggu Suguru keluar. Tentunya hal ini sedikit banyak berdampak pada aktivitas sehari-hari Suguru sebagai pemimpin sekte yang ia dirikan. Terlebih di atas itu semua, tidak sehat bagi Nanako dan Mimiko jika terlalu ketergantungan padanya. Suguru memanggil satu roh kutukan sebagai pengganti dirinya jika ia absen sekaligus menjadi penjaga.
Melihat wujud makhluk itu yang menyerupai tapir berbelalai gajah, Nanako bercelutuk, “tapi dia jelek, Geto-sama.” Suguru menimpali dengan tawa kemudian menggantinya dengan roh kutukan yang bentuknya mengingatkan Nanako akan bus kucing di film Totoro yang pernah ia tonton dengan Mimiko. Dan Nanako pun berhenti protes.
.
.
Dalam mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari mereka, Suguru memberdayakan halaman di belakang rumah untuk bercocok tanam. Sedangkan asupan protein didapat dari telur ayam. Seorang pengikut sekte yang sudah lansia pernah memberi Suguru sepasang ayam jantan dan betina sebagai bentuk ucapan terima kasih telah membebaskan cucunya dari ikatan roh kutukan. Dengan begini Suguru tidak perlu lagi pergi ke pasar membeli bahan makanan. Sebab Suguru sebisa mungkin meminimalisir melibatkan peran non-shaman dalam hidupnya. Itu adalah jalan yang ia pilih.
Pagi-pagi benar, Suguru mengajak Nanako dan Mimiko menanam aneka sayur macam tomat, kucai, lobak, selada, dan kentang. Keduanya memerhatikan dengan saksama cara yang ditunjukan Suguru. Saat praktek tiba, Nanako begitu semangat mencangkul tanah dengan sekop kecil, disusul Mimiko menyemai benih tomat. Di saat yang lain, Suguru tengah membangun kandang ayam sederhana. Matahari mulai condong ke barat ketika mereka menyelesaikan tahap pertama dan memutuskan lanjut esok hari.
Di lain kesempatan, terkadang para pengguna-kutukan dalam sekte membeli makanan siap santap untuk Nanako dan Mimiko. Suguru sendiri tidak memaksakan ideologi ekstrimnya kepada kedua gadis. Jadi ia biarkan saja mereka menikmati roti isi tuna mayo olahan tangan non-shaman yang dibelikan Larue. Pernah ada masa—yang berusaha Suguru enyahkan—di mana ia menikmati hal tersebut sebelum dunianya jungkir balik dan apa yang tercecap pada lidahnya terasa tak lagi sama.
Pernah sekali waktu Nanako merajuk dengan hidangan yang tersaji di meja makan. Mereka makan menu yang sama lima hari berturut-turut.
“Aku bosan makan lobak terus.” Bibir Nanako mengerucut, tangan bersedekap. Tidak menyentuh makanan sama sekali. Sedangkan Mimiko yang duduk di sebelahnya hanya diam.
“Mimiko juga bosan, kan?”
Mimiko terhenyak ditanya tiba-tiba.
“E-eh tidak jug—“ Nanako menyikut lengan Mimiko. “Um, iya, sedikit.”
“Nanako, jangan suka pilih-pilih makanan.” Suguru berkata dengan tenang sambil memasukan asinan lobak ke dalam mulut.
“Tapi aku mau makan kreps macam iklan di televisi!” Nanako meninggikan volume suara.
Propaganda para Monyet memang menyusahkan. Suguru menghela napas panjang. Sumpit diletakkan di samping mangkuk berisi nasi. Ibu jari memijat pelan kening di antara alis. Tidak pernah Suguru duga berhadapan dengan anak-anak bisa sebegini ruwet. Ia hanya anak tunggal dari keluarga biasa. Pengalaman dalam mengasuh anak-anak nol besar.
“Baiklah. Kita pergi beli kreps setelah makan. Habiskan dulu makananmu, Nanako.”
Nanako segera bangkit dan bergegas memeluk Suguru.
“Geto-sama memang yang terbaik!”
Senyum lebar yang terlukis di wajah Nanako membuat Suguru lupa migrain barusan.
Terkadang Suguru berpikir apakah ia terlalu memanjakan si kembar Hasaba. Setelah menimbang ia memang tidak pernah mengajak Nanako dan Mimiko jalan-jalan, rasanya tidak juga. Mereka sendiri pun tidak banyak menuntut seperti kebanyakan anak sebaya.
Di desa kecil seperti Nagiso, Suguru tak kunjung menemukan tempat yang menjual kreps. Tidak seperti kota metropolitan macam Tokyo yang serba ada. Suguru tahu tempat di mana kreps yang populer dan terbaik dijual. Dahulu, ia sering ke sana dengan seseorang.
Nanako cemberut. Setelah kecewa habis berkeliling dengan tangan hampa, Suguru bernegosiasi dengan Nanako. Ia berjanji akan membawa mereka ke tempat kreps jika nanti ke Tokyo. Suguru membelikan mereka es krim batangan sebagai gantinya. Mereka pulang ke rumah, bergandengan tangan di bawah terik matahari musim panas.
.
.
Suguru tersentak dari tidurnya ketika telinganya menangkap jerit tangis Mimiko di tengah malam. Ia melompat dari futon, bergegas membuka pintu geser kamar tidur anak-anak. Lampu dinyalakan. Suguru dapati Mimiko mengigau walau mata masih terpejam. Mimpi buruk tentang perlakuan yang mereka alami di masa lalu, masih kerap kali menghantui Mimiko. Nanako terbangun karena tangisan Mimiko. Satu tangan mungilnya menggenggam ujung kaus Suguru, tangan yang satunya lagi mengucek mata.
Suguru memeluk Mimiko dan mengusap lembut rambutnya.
“Tidak apa-apa, Mimiko. Jangan khawatir, aku ada di sini. Tidak ada yang bisa menyakitimu.”
Kalimat itu Suguru bisikan pada telinga Mimiko. Terus diulangi seperti mantra hingga Mimiko tenang dan akhirnya terlelap dalam dekapan Suguru.
“Nanako juga ayo tidur lagi, ya.”
Suguru hendak pergi setelah membaringkan Mimiko ketika Nanako menahannya.
“Jangan pergi, Geto-sama.”
Suguru menatap sepasang bola mata cokelat itu. Murni dan tanpa cela seperti kertas putih, sebelum manusia mencorengnya dengan noda hitam. Kemurnian itu harusnya dijaga oleh para shaman di bawah otoritas petinggi Jujutsu tanpa pandang bulu. Tapi pada akhirnya pengguna-kutukan seperti Nanako dan Mimiko dipandang bagaikan ilalang yang harus dicerabut sampai akar. Eksistensi mereka dianggap sebagai ancaman keselamatan masyarakat. Tidak peduli mereka masih anak-anak atau bukan. Nilai nyawa mereka tak lebih berharga ketimbang non-shaman.
Senyum simpul terulas di bibir Suguru. Ia menepuk kepala Nanako. Tanpa disuruh, Nanako kembali berbaring di futon. Suguru mematikan lampu kamar lalu berebahan di samping mereka. Selimut ditarik hingga menutupi leher. Suguru bersenandung pelan lagu pengantar tidur. Melodi familier yang pernah ia dengar manakala masih kanak-kanak dari ibunya. Ibu yang ia bunuh dengan kedua tangannya sendiri.
.
.
.
Malam itu Mimiko bermimpi. Ada ladang bunga dandelion terhampar di bawah kaki dan langit biru begitu cerah di atas kepala. Mimiko berlari menyusuri jembatan pelangi. Di ujung busur ada Nanako dan Suguru yang menunggunya dengan senyum merekah di wajah mereka.
.
.
Jarak antara Nagiso dan Tokyo memakan waktu sekitar lima jam jika ditempuh jalur darat. Suguru memangkasnya tinggal menjadi lebih singkt lewat udara. Roh kutukan berbentuk burung pelikan gigantis membawa Suguru serta dua anak dalam kantung di bawah paruhnya yang besar. Selama dalam perjalanan, jantung Suguru berdetak tak keruan. Nanako yang berada dalam pelukannya masih demam tinggi. Napas tersengal-sengal. Suguru mengompres dahi Nanako dengan es batu berlapis handuk.
Dua jam melintasi langit, Suguru tiba di tempat janjian.
“Hei, Kriminal.”
Suara yang menyapa itu milik Ieiri Shoko. Suguru mengajak mantan rekan setimnya itu bertemu secara diam-diam di rumah Shoko. Tentu saja mereka tidak bisa bertemu di tempat praktek Shoko di dalam Akademi Jujutsu. Energi kutukan Suguru dapat terdeteksi pembatas milik Tengen.
Suguru segera merebahkan Nanako di ranjang tanpa membuang waktu. Shoko menarik kursi dan mempersilahkan Mimiko duduk.
“Aku sudah memberinya obat penurun demam sejak kemarin tapi tidak ada efek.” Ada kekhawatiran dalam nada bicara Suguru.
Shoko mengecek denyut nadi. Tangannya kemudian beralih meraba dahi Nanako yang sepanas wajan penggorengan.
“Kau sudah membawanya ke dokter?”
“Tidak.”
Shoko berhenti sejenak, menatap lurus Suguru.
“Biar kutebak. Kau tidak mau bergantung pada non-shaman, benar?”
“Aku tidak bisa memercayai mereka.”
“Sekalipun itu artinya mempertaruhkan nyawa anak ini?”
Suguru menggigit bagian dalam pipinya. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut.
Shoko menghela napas panjang. “Tidak kusangka, keluar dari akademi membuat otakmu jadi tumpul.”
Suguru tidak tersinggung dengan tukasan tajam Shoko. Ia tahu benar Shoko memang seperti itu, mengutarakan pendapatnya dengan lugas dan tanpa tedeng aling-aling.
“Jangan khawatir. Ini bukan demam yang berbahaya. Meskipun begitu, untung kau membawanya tepat waktu sebelum bertambah parah.” Shoko menggunakan teknik kutukan terbalik yang menjadi spesialisasinya. Nanako kembali bernapas normal. Mukanya tak lagi semerah sebelumnya. “Daya tahan tubuhnya menurun. Aku nanti beri vitamin.”
Pundak Suguru merosot lega. Seakan seluruh beban pikirannya terangkat mendengar diagnosa tersebut.
Shoko membuka sebungkus permen karet lalu dimasukan dalam mulut. Mulutnya gatal ingin merokok namun Shoko tidak bisa melakukannya di depan anak-anak apalagi ada pasien.
“Omong-omong, ini anak yang kau selamatkan dari desa itu?” tanya Shoko. Ia pernah membaca hasil laporan kasus, ada dua anak pengguna-kutukan yang ikut menghilang bersama Suguru.
“Benar.”
“Dia juga?” Shoko menunjuk dengan dagu Mimiko yang sedari tadi menyimak dalam diam.
Suguru menggangguk.
“Lama tidak jumpa ternyata kau sudah beranak dua. Bagaimana rasanya jadi buronan?”
“Tidak begitu buruk.” Suguru menyengir.
Shoko menawarkan onigiri yang dibeli di konbini dan sebotol air minum kepada Mimiko. Ia berjongkok agar menyamakan tingkat pandang.
“Kau pasti belum makan.”
Mimiko nampak ingin ambil namun ragu. Perutnya memang sudah keroncongan. Mereka berangkat dari jam delapan pagi dan belum sempat sarapan. Matanya mencari Suguru.
“Tidak apa. Ambil saja, Mimiko. Ucapkan terima kasih pada Tante Shoko,” ucap Suguru.
“Tante? Kau masih punya selera humor rupanya.” Shoko mendengus.
Mimiko mengambil tawaran Shoko dengan malu-malu. “Terima kasih.”
Shoko bangkit berdiri, menyodorkan onigiri untuk Suguru.
“Kau juga. Makanlah.”
“Aku tidak lapar.”
Shoko bisa melihat garis rahang Suguru semakin menonjol. Rambut hitam panjangnya tergerai dan ujung bercabang. Suguru lebih kurus dari yang terakhir kali Shoko ingat. Semalaman Suguru terjaga karena harus merawat Nanako. Ada kantung hitam samar bergelantung di bawah mata.
“Jujur saja, kau terlihat lusuh dan menyedihkan.”
Suguru hanya tersenyum lemah sebagai respon. Shoko berjalan ke arah kabinet yang menyimpan stok obat-obatan. Ia mengambil serenceng antibiotik dan setoples kecil multivitamin yang aman dikonsumsi anak-anak dari sana. Diserahkannya kepada Suguru.
Suguru berniat untuk segera pulang begitu Mimiko selesai makan. Terlalu berisiko baginya kalau berlama-lama di sini. Jika ada menemukannya, bukan saja berbahaya bagi dia, Nanako, dan Mimiko, tapi juga Shoko bisa terlilit masalah. Walau mereka sudah berbeda jalan, namun Shoko masih mau membantunya dalam hal ini. Suguru tidak bisa melibatkan Shoko lebih dalam lagi dengannya.
“Geto. Kau tidak ingin tanya soal Gojo?”
Raut wajah Suguru seketika membeku tatkala nama itu disebut tiba-tiba oleh Shoko.
Gojo. Gojo Satoru.
Sudah berapa lama namanya tidak bergaung di telinga Suguru? Tiga bulan? Lima bulan? Satu tahun? Suguru kehilangan jejak waktu.
“Satoru... aku yakin dia baik-baik saja.”
Punggung Shoko bersandar pada dinding, tangan terlipat di depan dada.
“Kau benar. Siang dan malam dia menyibukkan diri dengan membasmi roh kutukan setiap hari tanpa libur. Seakan semua itu adalah rutinitas harian. Dan apa kautahu, Geto? Dia selalu mengindari topik yang berhubungan denganmu. Seolah-olah kau tidak pernah ada.”
Tangan Suguru terkepal di satu sisi. Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri. Suguru tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sebagian dirinya masih menyimpan kecemasan andaikata Satoru bekerja terlalu keras seperti tidak mengenal waktu. Sedangkan separuhnya lagi berbisik bahwa Satoru bukan urusannya lagi dan Suguru bisa lebih tenang mengetahui Satoru barangkali telah melupakannya.
“Untuk apa kau mengatakan ini padaku?”
Shoko mengedikkan bahu. “Entahlah. Barangkali karena dulu kalian teman baik?” Ada nada sarkas yang terselip dalam kalimat Shoko.
Suguru menggendong Nanako yang masih tertidur pulas. Satu tangan menggamit Mimiko.
“Aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Satoru,” ujar Suguru dengan tampang datar.
Shoko terkekeh, “Kalian berdua dramatis sekali, serius.”
Sebelum melangkah keluar pintu, Suguru menoleh. “Terima kasih atas bantuanmu, Shoko.”
“Kau berhutang minum denganku.”
“Lain kali.” Bibir Suguru melengkung ke atas.
Shoko menyaksikan Suguru menghilang secepat daun yang tertiup angin. Entah takdir masih akan mempertemukan mereka atau sebaliknya. Masa depan adalah misteri.
“Sampai jumpa, Geto.”
.
.
Belakangan Suguru seringkali menjumpai Nanako dan Mimiko berputar-putar di depan cermin. Atau di lain kesempatan, mereka tengah asyik bermain drama buatan sendiri sambil melilitkan selimut di pinggang seperti rok yang tergelar panjang hingga menyentuh lantai. Suguru amati tontonan dan buku bergambar apa yang sering dikonsumsi keduanya. Rupanya mereka memang sedang terobsesi dengan putri kerajaan dan gaun-gaun yang cantik.
Suguru ingat salah seorang donatur tetap sekte adalah saudagar pedagang kain. Ia memerintahkan sang asisten untuk meminta kepada saudagar itu kain dengan motif yang cerah dan kualitas terbaik. Tiga hari kemudian, permintaan Suguru diwujudkan dalam bentuk kain sesuai keinginannya.
“Mimiko, Nanako, coba ke sini,” panggil Suguru di suatu hari sehabis pulang kerja.
Mereka datang bersamaan dengan muka polos.
“Lihat apa yang kubawa.”
Dari dalam tas Suguru keluarkan dua potong baju terusan tanpa lengan bermotif bunga aneka warna. Wajah kedua anak itu langsung berseri-seri. Sudah lama mereka tidak punya baju baru. Dengan tidak sabar, mereka mengambil baju dan berlari ke kamar. Tak lama kemudian Nanako dan Mimiko balik lagi sambil memamerkan baju terusan yang menjuntai menutupi lutut. Suguru lega melihat baju yang dijahit sendiri dalam sebulan terakhir dalam ukuran yang pas memeluk torso Nanako dan Mimiko.
“Kalian suka?” Tanya Suguru.
“Suka!” Serempak mereka menyahut.
Detik berikutnya, Nanako dan Mimiko meloncat merangkul Suguru.
.
.
“Geto-sama, aku menemukan ini di kardus.”
Suguru tengah duduk santai di teras sambil menikmati pemandangan daun ginko yang telah menguning terserak memenuhi halaman, ketika Mimiko datang membawakan ponsel beserta pengisi daya. Suguru mengambilnya dari tangan Mimiko. Itu adalah ponsel lama miliknya yang ia pakai saat masih bersekolah di akademi Jujutsu. Suguru pikir ia sudah membuang benda tersebut. Tetapi rupanya ikut terbawa saat ia berkemas pindah rumah.
Ponsel itu ia bolak-balik. Terdapat beberapa garis guratan pada badan ponsel yang membuat cat biru metalik sedikit terkelupas. Layarnya retak di bagian atas. Suguru mencoba mencolok dengan pengisi daya. Layar berkedip. Ternyata ponsel itu masih berfungsi walau lama dianggurkan. Tombol on ditekan.
Fotonya bersama dengan Satoru yang tengah tersenyum lebar menghadap kamera sebagai wallpaper layar utama menyambut Suguru. Ia ingat foto itu diambil saat ulang tahun Satoru yang ke-16. Suguru membuka galeri foto dan video. Suguru tercenung. Semua momen yang ia ambil lewat lensa kamera ponsel masih terabadikan di sana. Satu per satu ia buka. Ketika ia baru pertama kali masuk akademi, atau perayaan membasmi roh kutukan tingkat spesial yang pertama. Foto Satoru ketika tertidur. Foto Satoru ketika ia menangis sewaktu menonton drama (yang diambil secara diam-diam). Dan banyak foto lainnya.
Sudut bibir Suguru tanpa sadar terangkat kala menemukan foto-foto jenaka. Suguru bertanya-tanya kenapa ia bisa tertawa seperti dalam kumpulan foto itu. Sekarang Suguru lupa rasanya bahagia seperti dulu. Tinggal bersama Nanako dan Mimiko membawa kebahagiaan dalam bentuk yang berbeda.
Foto paling baru yang terakhir tersimpan dalam ponsel adalah manakala ia dan Satoru liburan singkat di Okinawa.
Ah Okinawa...
Misi Wadah Bintang Plasma.
[Hapus satu Item?]
[Ya] [Batal]
[Hapus]
[Hapus]
[Hapus]
[Hapus]
[Hapus]
[Hapus]
[Hapus]
[Pilih Semua]
[Semua foto ini akan dihapus secara permanen. Operasi ini tidak dapat diurungkan]
[Hapus 122 Item] [Batal]
Suguru mematikan ponsel, mencabut pengisi daya. Ponsel itu dilempar ke sembarang tempat. Mimiko terkejut.
“Hancurkan saja benda itu. Aku tidak butuh lagi.”
“Ba-baik, Geto-sama.”
Mimiko memungut ponsel dan pergi meninggalkan Suguru seorang diri.
Satoru telah menjadi yang terkuat. Itu adalah fakta yang tak bisa dibantah. Suguru yakin Satoru mampu berdiri sendiri dengan dua kakinya. Ia bahkan bisa melindungi lebih banyak orang dengan kekuatannya. Sementara Nanako dan Mimiko masih terlalu kecil dan tidak punya siapa-siapa. Manakala mereka berpisah, Suguru dan Satoru sama-sama tahu bahwa itu adalah akhir dari kisah mereka.
Masing-masing akan menjalani lembaran hidup baru dengan caranya sendiri.
Tak ada yang perlu diperbaiki.
Tak ada yang perlu disesali.
.
.
.
the end
