Work Text:
Netranya selalu peka terhadap sosok Seokjin. Di studio kecilnya hingga pameran malam minggu yang diadakan kampus mereka, Seokjin selalu tampak terekam oleh sudut matanya. Tapi saat dia menoleh untuk melihat, ia menghilang seperti angin tanpa bayangan dan Yoongi hanya bisa terdiam sesekali menghela nafas pelan, bertanya-tanya apakah Seokjin itu hantu atau isapan manis dari imajinasinya.
Dia memejamkan mata sejenak membiarkan matahari sore menyinari sebagian wajahnya sambil bersandar ke kursi café yang sudah lama ia tidak kunjungi. Tawa dan omelan seseorang di kepalanya tidak pernah berhenti untuk mengingatkannya mengerjakan lagu yang masih tergeletak di laptop lusuhnya, bersikeras bahwa dia membuang-buang waktu yang berharga, tetapi Yoongi tidak dapat menemukannya dirinya untuk membuka mata ketika dia terus merasa bahwa dia melihat Seokjin berjalan keluar dari sudut matanya sambil membawa headphone yoongi yang tidak sengaja tertinggal di apart Seokjin.
“Yoongi, kamu meninggalkan headset mu lagi” Seokjin berjalan pelan dan tersenyum hangat ketika matanya bersitubruk dengan netra coklat manis milik seseorang yang sedang merenggut, dagunya bersandar dengan nyaman di bahu tersebut saat lengannya bersandar di pinggang Yoongi. Itu adalah posisi yang canggung, dengan kursi di antara mereka, tetapi tidak satu pun dari mereka yang bergerak. “Bukan kah saat itu kamu menghabiskan uang saku mu, untuk itu hm?"
Yoongi bersenandung setuju. “Waktu itu aku menabung hampir satu semester untuk membeli versi murahnya. Still, my bestest choices that I ever do kak, and I know I leave it on ur place mangkanya aku ga khawatir"
“Mm. Kenapa kamu tidak masuk jurusan musik , gi? Your lyrics and beats are really pretty”
Yoongi terdiam, tersadar ada panas yang menjalari pipinya. Bukan pertama kali ia dipuji mengenai kemampuannya dalam membuat lagu, dan bukan pertama kali juga seokjin memujinya. Namun reaksinya tidak pernah berubah. “Not you too…” gumamnya dengan suara nyaris tak terdengar.
Seokjin memotong sebelum Yoongi menggumam dan berterima kasih "Terutama lagu tentang kita, gi"
“Kak!!” Yoongi memajukan bibirnya, bahunya sedikit melorot. "Kamu benar-benar merusak suasana.”
Tawa Seokjin bergema di ruang kelas yang kosong, dan entah bagaimana itu membuat segalanya sedikit lebih cerah. Jika Yoongi mencoba mengingat seperti apa suara tawa Seokjin dan bagaimana rasanya diselimuti oleh tawa itu, dia tidak bermaksud untuk berbaginya dengan siapa pun.
-
Sebuah panggilan pada jam 12 malam mengejutkan Yoongi dan hampir saja ia lempar hp nya karena suaranya yang terlalu berisik, karena ia baru saja bisa tidur lebih awal setelah gempuran deadline dan ujian minggu ini, tetapi sekali melihat ID penelepon dan semua keluhannya terhenti di tenggorokannya.
Suara Seokjin terdengar dari pengeras suara saat dia menjawab panggilan, cukup keras untuk didengar dari jarak setengah meter meskipun telepon Yoongi tidak menyalakan pengeras suara.
“Gii!! Aku diterima!!!”
Yoongi duduk agak terlalu cepat dalam kegembiraannya, membuatnya pusing dan hampir membenturkan kepalanya ke rak di atas tempat tidurnya.
“Kak serius? Selamat untuk pekerjaan baru mu, aku tau you could get it Jin"
"Tentu saja, apa kamu lupa aku siapa?"
Yoongi tertawa pelan mengingat setiap kali Seokjin mondar-mandir di kamarnya mencoba menghafal apa yang harus ia ucapkan ketika interview, mengkhawatirkan tes dan segala keperluannya, memeluk Yoongi dan menunjukan mata besarnya memohon agar yoongi berpura-pura menjadi HRD dengannya sehingga dia akan merasakan sensasinya itu dengan lebih baik.
“Orang paling pekerja keras dan paling menakjubkan yang aku kenal. Aku sangat bahagia untukmu, hyung.” Yoongi tersenyum begitu banyak hingga pipinya mulai terasa sakit.
Ada jeda sebentar sebelum Seokjin berbicara lagi, kali ini suaranya jauh lebih lembut.
"Terima kasih, Yoongi-ah."
Yoongi hampir bisa melihat senyum lembut di wajah Seokjin dari layar handphonenya.
-
“Kak, apa kabar? Bagaimana suasana kantor mu? aku merindukanmu."
Bubble chat itu membalas menatapnya saat dia menunggu '1' kecil di sudut menghilang. Dia tertidur sebelum dia menerima balasan apapun.
-
Kerumunan makan siang kali ini membuat perjuangan untuk menemukan kursi di kantin semakin sulit. Yoongi mengikuti Namjoon dan Taehyung saat mereka melewati kerumunan menuju meja kosong. Dia menjatuhkan tasnya di kursi di sebelahnya dan menggeser nampannya ke atas meja, memikirkan orang lain tanpa memerdulikan bising dua orang didepannya.
“—itu yang kami rencanakan selama akhir pekan, tapi bagaimana menurutmu, Kak Yoon?”
Ketika sudah beberapa detik berlalu dan Yoongi masih tidak menjawab, Tae menatapnya dengan tajam.
“Kak yoon? Lo gadenger ya dari tadi kita ngomongin apa” Tae berhenti. “ Ga memikirkan Kak Seokjin lagi kan?”
Yoongi langsung dibawa kembali ke masa kini saat nama yang ia rindui disebut. "Tidak, tentu saja tidak, buat apa kan? Btw kenapa tae?” jawabnya dengan tawa yang bahkan tidak sampai ke matanya
Tae menatap Yoongi dengan tatapan tidak percaya. Ingin membeberkan fakta bahwa Yoongi hampir setiap jam menscroll instagram teman kantor seokjin. Dia juga tidak mengemukakan fakta bahwa Yoongi tidak memperhatikan postan apa pun kecuali Seokjin ada di dalamnya.
"Kamu tidak makan dengan benar kak," Namjoon mencoba merubah topik pembicaraan di meja tersebut.
“…Aku tadi sudah sarapan” Yoongi berkata dengan acuh tak acuh.
Namjoon dan Taehyung berbagi pandangan, membiarkan topik jalan-jalan di akhir pekan yang mereka bahas berhenti ditengah jalan.
-
“Kak Seokjin!! Disini!" Yoongi berdiri saat melihat Seokjin melangkah memasuki kafe.
Seokjin tertawa ketika dia berbalik dan melihat Yoongi melambai dengan sekuat tenaga. Tampak mustahil untuk orang-orang di kafe itu melewatkan bagaimana wajah keduanya menjadi cerah ketika mereka berada di sekitar satu sama lain. Meski begitu, mata panda Seokjin dan bibirnya yang pucat sangat memperlihatkan dirinya yang lelah. Kantung matanya jauh lebih gelap dari sebelumnya dan dia sedikit menyeret kakinya saat berjalan.
Mereka memeluk satu sama lain secara alami; Yoongi menarik Seokjin ke dalam pelukan begitu dia berada dalam jangkauan. Tangan seokjin yang hangat sangat cocok dengan kulit pinggang yoongi, membiarkannya berpikir bahwa mungkin mereka diciptakan tuhan untuk satu sama lain.
"Bagaimana proyek mu kak?"
"Melelahkan. Please let me charge a lil bit, gi.” Seokjin bersandar ke pelukan Yoongi. "Aku mencintaimu."
"Hyung, jangan gombal." Yoongi tersenyum tampak seperti orang bodoh. Sudah terlalu lama sejak jadwal mereka cocok seperti ini, terlalu lama sejak mereka hanya bisa menikmati berada di sekitar satu sama lain tanpa khawatir ketinggalan bus atau terlambat untuk apa pun yang mereka miliki selanjutnya.
Seokjin menarik kembali dan meletakkan tangannya dengan kuat di bahu Yoongi dengan keseriusan yang tidak seperti biasanya. Yoongi sedikit sebal karena kehangatannya menghilang tapi Seokjin tidak menariknya kembali ke pelukannya. Dia menatap mata Yoongi lalu berkata, “Aku benar-benar mencintaimu. Kamu tahu itu kan?"
Yoongi tidak perlu berpikir dua kali sebelum menjawab Seokjin.
“Tentu saja. Aku juga mencintaimu, kak.”
-
"Gi, aku tidak bisa melakukan ini lagi." Seokjin menghela nafas, matanya tidak bertemu dengan mata Yoongi. Tidak ada pelukan sebelumnya seperti yang Yoongi bayangkan. Tidak ada senyum di wajahnya ketika Yoongi menggenggam tangan yang ia rindukan setelah 2 minggu tidak bertemu.
"Kak, apa yang kamu bicarakan ..?" Yoongi mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Seokjin namun berhenti. "Apa ada yang salah dari perbuatan ku?"
"Bukan kamu gi, tapi aku. Aku benar-benar lelah dan hanya," Seokjin menarik napas dalam-dalam. “Aku hanya butuh istirahat. Aku masih mencintaimu, tapi aku benar-benar tidak bisa melakukan ini lagi. Ini bukan salahmu, Yoongi.”
“Kak maksud kamu apa? tolong…” Yoongi menggigit bibirnya.
Tolong jangan katakan itu. Tolong jangan katakan itu.
“Maafkan aku, Gi. Lets break up ."
-
Stasiun kali ini sangat penuh, orang berlalu lalang berjalan entah berpulang ke rumah masing-masing atau bersinggah sebentar di rumah orang lain. Yoongi berjalan dengan susah payah, tas laptop tersampir di pundak kokohnya sambil bersiul pelan karena senang telah menyelesaikan kelasnya selama setahun kemarin dengan nilai yang memuaskan. Dia menahan menguap dengan tangannya dan berjalan melalui lorong kereta mencari kursi kosong dengan mata setengah tertutup.
Itu sebabnya dia terkejut karena menabrak seseorang yang berdiri diam di tengah lorong. Dia menggumamkan permintaan maaf dan pergi ketika—
"Yoongi-ah."
Sebuah suara yang familiar memanggil namanya dan dia membeku. Dia berbalik perlahan, ragu-ragu untuk menghadapi pemilik suara itu. Dia mengepalkan tangannya yang hampir bergetar parah karena mendengar suara yang selalu ia mimpikan sebelum tidur dikala lelah.
“Kak Seokjin?”
“Its been a long time” Seokjin tersenyum miris. Suaranya lembut, seolah-olah dia takut menakut-nakuti Yoongi. “Kamu apa kabar?”
Suasana di antara mereka terlalu suram, mencekik siapapun yang melihat interaksi dari keduanya. Seokjin terlihat lebih baik, lebih sehat. Rambutnya yang jatuh di dahinya membuat Yoongi ingin mengulurkan tangan dan menyisirnya, tapi dia tidak bergerak.
Bukan haknya lagi untuk melakukan itu. Nada familiar dari suara Seokjin mengaburkan pandangan Yoongi dan dia mengedipkan air matanya yang ternyta sudah bergemul di depan matanya.
"A-aku baik-baik saja." Yoongi menelan gumpalan kesedihan di tenggorokannya. It’s a lie ka, aku merindukan mu. “Bagaimana denganmu?”
Seokjin mengerutkan kening, alisnya tegaknya bertekuk dan berubah normal dalam sekejap, tapi Yoongi tidak melewatkan kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya.
“Aku sedang sibuk; Aku pindah perusahaan untuk kedua kalinya selama 1 tahun terakhir, Jadwalku tidak padat seperti sebelumnya, jadi aku sudah beristirahat dengan baik.” Seokjin berhenti. "Maafkan aku, Yoongi."
Rasa bersalah meresap ke dalam suara Seokjin. Dia berdiri di sana, memperhatikan Yoongi yang masih berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Dia membiarkan kalimat Aku masih mencintai mu gi ,yang selalu ingin ia ucapkan setiap pulang bekerja, yang selalu ingin ia ucapkan setiap matanya tidak sengaja melihat sosok yoongi, terhenti di tenggorokannya. Seokjin tidak ingin mematahkan hati Yoongi untuk kedua kalinya. Meski keinginan untuk sekali lagi menggenggam tangan dingin Yoongi sangat besar dan bersarang di otaknya tapi dia menahan tangannya dengan kaku di sisinya. Semua pengendalian diri yang dia bangun akan sia-sia jika dia menyerah sekarang.
"Aku juga minta maaf, kak." Maaf karena kita ternyata tidak bisa selamanya. Maaf karena aku dan kamu di garis takdir bukan lah kita. Yoongi memindahkan berat badannya dari satu kaki ke kaki lainnya. Mereka saling menatap berusaha mengirimkan sinyal kerinduan yang lidah mereka tidak berani ucapkan. Tak satu pun dari mereka memalingkan muka, seolah-olah mereka berdua mencoba mengingat wajah satu sama lain. “Aku turun di stasiun ini.. So its been a good thing after see u a while kak"
“Ah, ya. Its nice to see you again gi." Seokjin terdiam sesaat sebelum lidahnya bekerja spontan dengan memanggil yoongi sekali lagi. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan saat Yoongi berbalik, matanya bersinar. (Jangan menangis gi, hati Seokjin pecah berkeping.) “Jaga dirimu, Gi.
“Tolong berbahagialah.”
Tolong temukan seseorang yang mencintaimu lebih dariku.
