Actions

Work Header

I just want to put you first

Summary:

Namjoon, Jungkook, dan anjing lucu tanpa nama yang baru diadopsi.

Jangan tanya kenapa.

Dua orang tersebut sampai harus beradu argumen hanya karena menentukan nama seekor anjing.

Work Text:

            Atmosfer ruangan yang semakin berat membuat anak anjing yang tengah terduduk di atas karpet bulu jadi gelisah dan berputar-putar setiap beberapa menit. Kedua pemiliknya masih terdiam, tidak ada satupun dari mereka yang angkat bicara.

 

            Pria yang paling tua di ruangan tersebut mengembuskan napas panjang, “begini… dia sudah seminggu lebih tidak punya nama. Jadi kita namakan Ace saja ya?”

 

            Lawan bicaranya membuang napas kasar, “gak bisa. Pokoknya nama dia Moni. Ace itu terlalu pasaran.”

 

            “Jungkook-ah,” Namjoon mengecek arlojinya dan baru tersadar kalau dia sudah terlambat. Seharusnya sepuluh menit lalu dia sudah berada dalam perjalanan menuju kantor, “kita sudah berdebat tentang ini begitu lama.”

 

            Baik Namjoon atau Jungkook sama-sama tidak ada yang ingin mengalah. Padahal kalau dipikir-pikir hanya memberikan nama untuk seekor anjing saja tidak seharusnya serumit ini, tetapi Jungkook merasa bahwa nama yang diberikan itu sangat penting lagipula dia punya alasan tersendiri ingin memakai nama pilihannya. Sementara itu, Namjoon yang mendengar usulan dari suaminya terlihat agak risih dengan nama Moni, rasanya tidak cocok dan aneh.

 

            Jungkook mengusap kepala anjingnya agar ia merasa tenang sedikit, tampaknya peliharaan mereka menyadari apa yang sedang terjadi di antara keduanya. Hampir dua minggu lalu, ia menemukan seekor anjing di dalam boks besar dekat tiang listrik tak jauh dari tempat pembuangan sampah di rumahnya. Saat itu hujan deras dan Jungkook tak kuasa melihat makhluk hidup yang tubuhnya menggigil di bawah guyuran air hujan. Dirinya, yang merupakan orang penyayang hewan, tersayat hatinya melihat kondisi sang anjing sambil menggerutu dalam hati kepada orang yang tega membuang anjing di cuaca begini. Akhirnya Jungkook memutuskan untuk membawanya ke dalam rumah dan saat menceritakan seluruhnya kepada Namjoon yang sepakat kalau mereka akan membiarkan anjing tersebut tinggal di rumah mereka.

 

            “Pokoknya kita namakan Moni. Dia juga terlihat senang diberikan nama itu.”

 

            “Kenapa? Ada nama lain yang lebih bagus daripada itu.”

 

            Jungkook makin gondok. Apa benar mereka cekcok hanya karena nama saja? Tapi, dia tidak terima mendengar komentar Namjoon.

 

            “Moni itu nama yang bagus.”

 

            “Seleramu terlalu kuno, Jungkook-ah. Aku tidak suka mendengar namanya.”

 

            Jungkook pun bangkit dari duduknya, “kuno katamu?”

            “Iya. Terdengar aneh.”

 

            Jungkook sendiri tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi setelah mendengarkannya air mata langsung berjatuhan membasahi pipinya. Hatinya berdenyut sakit, bagaimana bisa Namjoon berkata seperti itu di hadapannya.

 

            Namjoon terenyak sewaktu melihat suaminya menangis. Ah, sepertinya dia telah melewati batasnya. Baru saja ingin meminta maaf namun Jungkook langsung bergegas ke dapur menyiapkan bekal untuknya. Isak tangis tertahan membuat dadanya terasa nyeri. Mengapa dia jadi kekanak-kanakan begini hanya karena memberikan nama saja tanpa memikirkan bahwa dia telah melukai perasaan Jungkook.

 

            “Jung—”

 

            “Ini… bekalnya. Hati-hati di jalan,” Jungkook memberikan tas kecil berisikan tempat makan yang sudah ditata dengan rapi. Dia langsung masuk ke dalam kamar tanpa melirik sedikitpun ke arah suaminya.

 

            Perasaan bersalah mulai timbul di hatinya, Namjoon ingin sekali mengikuti Jungkook dan segera meminta maaf atas perkataannya barusan, tapi dia tahu bahwa kekasihnya perlu waktu untuk sendiri sama sepertinya. Mereka memerlukan waktu untuk mendinginkan kepala masing-masing. Kemudian Namjoon berangkat tanpa berpamitan ke Jungkook, dia cuma memandang anjingnya beberapa detik sebelum menutup pintu rumah rapat-rapat.






            Yoongi merasa ada sesuatu yang aneh terhadap teman baiknya. Tak biasanya Namjoon datang terlambat, bisa dibilang ini kali pertama ia melihat seseorang yang sering datang lebih awal daripada yang lainnya mulai kehilangan kegigihannya. Sejak tadi ia memperhatikan temannya dari kejauhan, meski meja kerja mereka disekat, tapi Yoongi yakin sekali Namjoon sedang tidak baik-baik saja.

 

            “Kau kenapa?” tanyanya membuat Namjoon kaget.

 

            “Eh?”

 

            Yoongi mengangkat bolpoin dan mengarahkannya ke Namjoon, “ada apa denganmu?”

 

            “Tidak ada.”

 

            Mendengarkan jawaban yang penuh kebohongan itu membuatnya tertawa renyah, Namjoon benar-benar tidak mahir dalam berbohong. “Kau itu gak ahli kalau soal berbohong, Joon. Ada masalah apa?” Siapapun bisa menyadari Namjoon sedang memendam sesuatu hanya dengan melihat raut wajahnya dan keningnya yang mengerut.

 

            “Aku dan Jungkook bertengkar.”

 

            Lho.

 

            Yoongi mencari-cari kebohongan pada nada suara Namjoon, tetapi melihat ekspresinya yang terjatuh memberikan jawaban sepenuhnya. Mereka sungguh bertengkar, oke, ini cukup mengejutkan baginya soalnya Yoongi mengenal baik Namjoon dan Jungkook dari lama. Telinganya jelas-jelas menangkap kata bertengkar barusan yang berarti cekcok di antara kedua orang tersebut sangat serius sampai Namjoon kehilangan fokusnya ketika sedang bekerja.

 

            “Bertengkar gimana?” Yoongi menggeser kursinya sehingga duduk bersebelahan dengan temannya.

 

            Namjoon mengusak surainya frustrasi, “kau tahu kan baru-baru ini Jungkook membawa masuk anjing yang dia temukan di tempat pembuangan sampah.”

 

            Tentu saja. Jungkook sampai mengirimi berpuluh-puluh foto anjing lucu itu lewat pesan, dia tampak senang.

 

            “Lalu apa alasan kalian bertengkar? Masa gara-gara anjing sih?”

 

            “Faktanya memang begitu, tapi aku bukannya menyalahkan anjing tersebut. Dia lucu, aku akui itu. Tapi,” Namjoon menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, “kami bertengkar karena perbedaan nama yang ingin kami berikan kepada anjingnya.”

 

            “Kalian yang benar aja bertengkar cuma karena nama? Hei, umur kalian sudah berapa? Kepala tiga.”

 

            “Aku tahu itu, kamu tidak perlu mengingatkannya lagi. Saat melihat Jungkook menangis setelah mendengar ucapanku… aku jadi merasa bersalah dan kekanak-kanakan. Kalau saja aku tidak egois pasti tidak akan begini jadinya, ya ‘kan?”

 

            “Sebenarnya—tunggu, aku gak akan membela siapapun di sini, kalian berdua sama-sama salah. Gak seharusnya bertikai karena hal yang bisa aku bilang sepele. Kamu juga kan lebih tua daripada Jungkook dan agak baiknya mengalah sedikit. Kita tahu Jungkook itu gak akan mau kalah dalam hal sekecil apapun, tentu saja bukan menyangkut hal-hal yang buruk. Tambah lagi, boleh jadi Jungkook punya alasan tertentu mengapa dia bersikukuh menamakan anjingmu dengan…” Yoongi sedikit mencondongkan tubuhnya, penasaran, “apa nama yang ingin dia berikan?”

 

            “Moni. Terdengar agak aneh, ‘kan?”

 

            Pertanyaan Namjoon tidak langsung dijawab oleh temannya. Kedua alis Yoongi menukik ke dalam seolah tengah berpikir keras.

 

            “Kau bilang begitu ke suamimu?”

 

            “Apa?”

 

            “Moni itu nama yang aneh?”

 

            “Iya.”

 

            Yoongi menepuk jidatnya sendiri, “pantas saja dia sampai nangis. Kau gak ingat memangnya?”

 

            “Ada apa memangnya dengan nama itu?”

 

            “Umurku lebih tua dua tahun darimu, tapi sepertinya ingatanmu lebih lemah daripada aku,” jelasnya, “nama itu—”






            “Dia gak ingat sama sekali!” Kata Jungkook yang masih tersedu-sedu, dalam hati meminta maaf kepada Jimin karena mendengar nada suaranya yang tinggi selama mereka berteleponan sejak lima belas menit yang lalu.

 

            “Kamu gak ngejelasin ke dia kenapa mau dikasih nama itu?

 

            Jungkook mendengus, menyeka air matanya, “aku gak sempat ngejelasin karena udah keburu kesal duluan. Dia menyebalkan.”

 

            “Begini,” Jimin memberikan jeda, “aku gak bermaksud membela dia, tapi yang aku dengar dari Yoongi—sekarang ini kantor sedang hectic banget. Namjoon pasti gak bermaksud ngomong begitu. Kamu gak bisa meletakkan semua kesalahan sama suamimu, Jung.”

 

            “Aku… gak tahu.”

 

            “Mungkin dia udah lupa juga karena terlalu banyak pekerjaan yang lagi ditangani sekarang.”

 

            Benar juga. Jungkook tak sampai kepikiran kalau suaminya punya banyak kesibukan di kantor, dia jadi egois kalau keinginannya tidak dituruti. Terkadang dia berharap dirinya tidak memiliki sifat jelek tersebut. Setelah dinasehati oleh Jimin, ia menyudahi panggilan ditutup dengan permintaan maaf karena telah mengganggu.

 

            “Anytime, Jung. Kamu gak ganggu sama sekali, aku juga lagi gak begitu sibuk. Jangan lupa nanti sepulangnya Namjoon… kalian selesaikan dengan baik-baik ya? Ingat. Kepala dingin.”

 

            Jungkook meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian telungkup di sebelah ranjang. Tempat rahasia di mana ia menyembunyikan beberapa barang berharganya yang bahkan Namjoon sendiri tidak tahu. Salah satu tangannya meraih boks berwarna biru tua lalu menariknya dari sana. Setelah berhasil mendapatkannya, Jungkook menyandarkan punggungnya pada kaki ranjang. Meniup atas boks yang mulai berdebu karena lupa dibersihkan selama beberapa bulan belakangan.

 

            Penutupnya terlihat cantik sebab sebuah pita hias dibentuk sedemikian rupa olehnya. Ia mengangkat penutup dan menaruhnya di lantai, mengulum senyum setelah melihat isi kotak berisikan kenangan berharganya. Ah, ya, semua kenangan indah yang sempat Jungkook abadikan dalam bentuk apapun tersimpan di dalamnya. Dia melakukan ini telah lebih dari tujuh tahun bersama Namjoon dan tanpa sepengetahuannya dia menaruh memori berharga tersebut di dalam boks yang tidak akan disangka-sangka oleh kekasihnya  menyimpan begitu banyak cerita.

 

            “Hahaha… apa ini aku?” digenggam olehnya sebuah foto di mana Jungkook dan Namjoon diri berdekatan. Ia ingat betul kalau foto ini diambil oleh Jimin, kalau tidak salah ingat sewaktu ulang tahun Namjoon yang ke dua puluh lima.

 

            Hari spesial mereka berdua karena bertepatan dengan hari kelahiran Namjoon dia melamar Jungkook. Bertekuk satu lutut dengan sekotak cincin yang telah disiapkan enam bulan lamanya.

 

            Di usianya yang ke dua puluh empat, setahun setelah Namjoon memintanya untuk menikah dengannya. Jungkook pun resmi menjadi pasangan sehidup semati, dia akan menghabiskan seluruh hidupnya bersama orang yang paling ia cinta.

 

            “Dua puluh empat… sekarang aku sudah tiga puluh dua dan Namjoon sudah tiga puluh lima,” Jungkook menaruh kembali foto tersebut ke dalam boks dan melihat sebuah surat berwarna kuning yang sudah usang.

 

            Surat pertama dari pengagum rahasianya yang tidak lain adalah Namjoon, orang yang menjadi suaminya. Dengan hati-hati ia mengeluarkan lembaran kertas yang dilipat sesuai pertama kali ia mendapatkannya, garis lekukan juga tidak ada yang berubah sedikitpun. Tulisan tangan yang begitu apik sangat mencerminkan seseorang.

 

            Surat tersebut berisikan bagaimana Namjoon menggambarkan seorang Jungkook menurut sudut pandangnya. Kata-kata yang digunakan selalu berhasil membuat sudut bibirnya terangkat tinggi, pria itu tahu cara membuat hatinya berdebar-debar.

 

 

 

 

 

 

            Untukmu,

            Dari pria yang mengagumimu dari kejauhan ini hanya mampu menuliskan sepucuk surat cinta yang di mana aku menaburkan seluruh perasaan terpendam ku padamu selama ini. Hampir tidak terbendung, tidak apa, aku tahu cara menangani ini.

            Semoga kamu tidak keberatan jika esok hari menemukan surat baru dari orang yang sama di lokermu.

            —Moni.

 

 

 

 

 


 

 

            Sesampainya di rumah, Namjoon disambut riang oleh hewan peliharaannya, Moni. Dia telah membulatkan keputusannya untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh Jungkook yaitu memberikan nama anjing mereka dengan Moni. Setelah diceritakan oleh Yoongi dirinya langsung teringat kalau Moni merupakan nama samarannya ketika masih menjadi pengagum rahasia Jungkook. Tak heran kalau Jungkook bisa sampai semarah tadi pagi. Lucunya, Namjoon sendiri melupakan nama yang dia pakai untuk dirinya sendiri. 

 

            Ia berlutut di depan Moni, menggaruk belakang telinganya, “selamat malam, Moni.”

 

            Ekor Moni bergerak kencang menandakan dia sedang penuh semangat. Tiba-tiba Namjoon teringat sesuatu yang telah disiapkan sebelum pulang kerja, ia mengambil sebuah amplop berwarna kuning muda.

 

            “Kamu bisa bantu aku? Tolong berikan surat ini ke Jungkook, ya,” seolah paham apa yang dikatakan oleh Namjoon. Moni langsung pergi menjauh entah kemana Jungkook berada dengan amplop yang diletakkan di antara kedua telinganya. Namjoon sempat khawatir amplop itu akan terjatuh namun saat mendengar suara Jungkook yang bertanya-tanya darimana datangnya surat tersebut membuatnya merasa tegang dan senang secara bersamaan.

 

            Ia masih ingat apa yang dia tulis di atas secarik kertas tersebut.

 

 

 

 

 

 

            Jungkook-ah,

            Kekasihku,

            Kejadian tadi pagi membuatku tersadar betapa bodohnya aku melupakan sesuatu yang berarti bagi dirimu dan aku. Setelah semua yang kita lalui bersama, bisa-bisanya aku melupakan satu hal yang menjadi alasan engkau memilih untuk tetap berada di sampingku sampai sekarang ini.

            Nama yang menyatukan kita berdua. Nama yang menjadi saksi aku berusaha untuk memenangkan hatimu pada saat itu. Bukan maksud aku melupakannya secara sengaja, dan aku juga tidak akan mengelak bahwa memang benar aku lupa akan nama tersebut. Tapi, berkat Yoongi yang menceritakannya, aku sadar, salah telah mengatakan sesuatu yang telah menyakiti perasaanmu sampai bulir air mata terjatuh dari mata indahmu.

            Jungkook-ah,

            Maafkan aku yang telah membuatmu menangis. Aku harap kamu memaafkanku karena membayangkan satu hari tanpa mendapatkan peluk cium darimu saja tidak sanggup. Aku sayang kamu. Tolong maafkan aku.

            —Moni.

 

 

 

 

 

            Derap langkah kaki membuyarkan lamunannya, ia menoleh ketika melihat bayangan yang menghalangi penerangan dari lampu di lorong pintu masuk. Jungkook berdiri sambil mencengkeram kertas dan terbaca dari wajahnya yang telah bersimbah air mata tampaknya ia sudah selesai membaca surat tersebut. 

 

            Namjoon tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya. Jungkook tidak menggapai uluran tangan tersebut melainkan langsung mendekap tubuh suaminya begitu erat, menenggelamkan wajah ke dadanya.

 

            “Waduh kok kamu nangis…?”

 

            Jungkook menggelengkan kepalanya, “aku gak nangis karena sedih!”

 

            “Terus karena apa lho?” Namjoon terkekeh pelan, menuntun mereka berdua untuk duduk di ruang keluarga. Moni lari lebih dulu.

 

            Jungkook menunduk seraya memandangi surat dari Namjoon yang sekarang ada di pangkuannya. Bibirnya mengerut lucu, “aku jadi makin ngerasa bersalah karena tadi pagi ngomelin kamu.” Ia membiarkan suaminya menyeka air matanya.

 

            Namjoon menggeleng lemah, “kalau kata Yoongi kita sama-sama salah. Sudah ya, yang berlalu biarlah berlalu, tidak perlu disesali. Maaf ya kalau tulisanku agak susah terbaca soalnya waktu menulis itu sedang terburu-buru.”

 

            “Gak aku maafin.”

 

            “Lho? Kenapa? Sayang, aku setuju kok kalau mau pakai nama Moni,” Namjoon panik bukan main. Dia yakin sekali tidak ada hal lain yang dia lakukan sampai membuat Jungkook masih belum memaafkannya.

 

            Melihat wajah Namjoon yang pucat dan kalang kabut membuat tawa terlontar dari mulutnya. Jungkook memukul lengan atas pria yang lebih tua, sedikit puas telah mengerjai suaminya.

 

            “Bercanda kok! Cuma mau komplain aja karena suratnya terlalu pendek, besok buat lebih banyak ya?”

 

            “Astaga…” ia mengusap dadanya sendiri. Tubuhnya terasa lemas, “aku kira kamu benar-benar tidak mau memaafkanku. Aku hampir ingin pergi ke toko kue.”

 

            “Kenapa jadi toko kue?”

 

            “Senjata terampuh sewaktu kamu lagi merajuk itu dibelikan kue kesukaanmu.”

 

            Jungkook ber-oh panjang lalu sebuah ide terlintas di pikirannya.

 

            “Boleh juga, yuk kita beli kue?”

 

            “Boleh.”

 

            “Ajak Moni ya? Boleh ya ya ya ya? Please?”

 

            Namjoon tertawa lepas sambil menggeleng kecil, kalau Jungkook menunjukkan mata memelas yang menggemaskan begitu mana sampai hati dia menolak permintaannya. Apapun akan dia lakukan hanya demi melihat netra kembar tercintanya selalu berbinar-binar karena Namjoon teramat mencintai Jungkook, suaminya.

 

 

Tamat.