Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-09-26
Words:
1,229
Chapters:
1/1
Kudos:
20
Bookmarks:
1
Hits:
264

aku menyayangimu

Summary:

Donghyuck harus banyak berterimakasih pada Jaemin teman baiknya, kakaknya Doyoung, juga Johnny direktur perusahaan tempatnya bernaung yang mau bersusah payah mencarikannya pondok di antah berantah yang jauh dari peradaban. Jauh dari lagu cintanya, jauh dari mantan pacarnya?

Notes:

Ditulis untuk event constellaneos 2020

Work Text:

 

 

Delapan bulan mungkin bukan waktu yang lama juga bukan waktu yang singkat untuk mempersiapkan diri akan hal yang seperti ini. Mana mengira ia pacarnya berpaling begitu saja, mana mengira ia lagu cintanya akan jadi simpul benang takdir antara kekasihnya dan gadis itu. Ia masih ingat betapa bahagianya ia saat lagu yang ia kirim pada agensi tempat kekasih hatinya bernaung terpilih masuk comeback list. Ia berteriak girang sampai-sampai tetangga sebelah unitnya menelepon, mengingatkannya untuk tak berisik di tengah malam.

Masih segar di memori perasaan menggelitik ketika harus menahan diri untuk tidak menerjang laki-laki itu selama rekaman, rasa was-was saat lagunya terpilih jadi lagu utama, rasanya hadir jadi undangan istimewa berkedok produser pada konser mereka —saat pertama kalinya ia bertemu gadis itu secara langsung, gadis yang nantinya menghancurkan hatinya.

Dulu ia banyak memimpikan karya-karyanya diputar dimana-mana. Dulu ia memimpikan predikat produser tahun ini dari ajang penghargaan kenamaan. Dulu ia memimpikan lagu cintanya akan melegenda, dikenang semua jiwa yang mendengarnya. Kini ia meringkuk menekuk lututnya sampai dagu, menangisi karya besarnya, menyesali setiap petik gitar denting piano juga pukulan drum yang melambungkan namanya sampai puncak dan menjatuhkannya sekaligus.

Angannya kini hanya penuh oleh melodi patah hati yang menyayat macam Requiem Mass d minor milik Mozart yang tidak pernah komponis jempolan itu selesaikan. Banyak ia menangis, sampai-sampai Doyoung hanya sanggup menjenguknya dari balik pintu. Tak tega melihat adik kecilnya sebegini menyedihkan. Kadang ia tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang membuka jalan bagi gadis itu untuk memenangkan hati kekasihnya.

“Donghyuck, buka pintu!”

Lamunan seketika buyar. Teriakan yang ia dengar sehari tiga kali itu memaksanya bangun dan menyeret langkah menyilakan pemuda yang bertanggung jawab atas dirinya itu masuk. Helaian sewarna kayu ulin menyembul dari bali pintu, nampan dengan mangkuk nasi plus segelas air dan botol kecil resep psikiaternya dijunjung ala kadarnya, raut masam juga wajah kuyu melengkapi si tanpa ekspresi yang dikenalnya sebagai Lee Jeno.

Diletakkannya bawaan pada meja kecil di samping ranjang, tangannya lalu bergerak merapikan tempat tidur Donghyuck bak setelan otomatis. Ia tak bicara lagi, selalu seperti itu. Laki-laki yang berbagi nama belakang dengannya satu ini seperti enggan membangun konversasi dengan Donghyuck, seakan memberi ruang Donghyuck dengan semua gulana dan deritanya sendiri.

Dilihat-lihat si Jeno ini lumayan tampan, cukup tinggi, proporsi badannya juga bolehlah. Sayang sekali ia terjebak di antah berantah seperti di sini. Ia bahkan lebih tampan dari beberapa selebritas yang Donghyuck kenal, kalau Yangyang bilang sih visualnya tumpah-tumpah. Paling tidak ia selevel ulzzang lah, itu juga kalau ia tidak mau jadi model. Donghyuck yakin pengikut di sosial medianya pasti lebih banyak dari akun miliknya sendiri.

“Cepat makan sebelum Jaemin datang, jangan berani membuangnya! Aku tidak mau dapat masalah.”

Donghyuck tersentak, pemuda yang katanya teman kecil Jaemin itu bak tahu Donghyuck tak minat bergerak menyentuh mangkuk nasinya, melayangkan peringatan. Umpatan kecil langsung saja meluncur untuk dirinya sendiri yang terlalu fokus pada Lee Jeno yang entah sejak kapan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Bergegas Donghyuck meraih mangkuknya, menyuap nasi terburu-buru.

Uhuk uhuk.

Sodoran botol air diterimanya cepat-cepat. Mulutnya bergerak membuka menutup laiknya ikan baru diangkat ke daratan, meraup partikel oksigen banyak-banyak. Tepukan di punggung dirasanya cukup membantu buka jalan napas yang tersumbat gumpal nasi. Detik kemudian mata kecilnya menatap nyalang Jeno yang menerima botol setengah kosong darinya sembari menahan tawa.

Donghyuck tercenung. Sungguh nanti kalau ia sudah kembali ke rutinitas ia akan bawa malaikat bernama Lee Jeno ini bersamanya. Tawanya terdengar ringan, gesturnya saat menahan lantun tawa dari bibirnya sumpah lebih gemas dari Jisung—anak tetangga yang jadi model susu formula—.

“Maaf, aku akan menunggu di pintu saja.”

Bak berasa diintimidasi, teman Jaemin itu melangkah menuju pintu. Menyandarkan punggung pada kusen jati kelas satu. Seketika Donghyuck ingat ia harus kembali berjibaku deangan mangkuk nasi yang belum tandas separuh. Berusaha menyelesaikannya cepat-cepat agar pemuda antah berantah ini segera pergi dari kamarnya. Dan memberi kesempatan pikirannya kembali berfungsi normal.

Lagi, dua suap terakhirnya tertunda. Tatap kesal Donghyuck layangkan pada Jeno yang masih bersandar nyaman pada kusen pintu. Maniknya beralih turun pada ketukan kaki yang konstan pada dinginnya lantai. Kaki beralas sandal rumah dengan kepala karakter grizzly itu mengukir ritme yang terang saja langsung berputar di kepalanya, mengusik masa istirahat Donghyuck yang baru beberapa minggu. Inginnya ia protes, tapi urung karena semakin cepat nasinya habis semakin cepat pula si Lee ini enyah dari hadapannya.

Satu suap terakhir akhirnya berhasil ia telan, lalu rentetan resep psikiaternya mengantre masuk lambungnya bergantian. Si murung dengan segera menelan semuanya. Sekaligus.

Klak.

“Sudah, pergilah!”

Botol air di taruh asal, selimut ditariknya sampai menutup seluruh tubuh hingga sembunyikan tiap helai rambutnya yang memanjang. Biarkan Lee yang satu lagi membereskan sisanya. Donghyuck bisa dengar gesek sandal beruang coklat Jeno mendekat, denting alas mangkuk yang beradu dengan nampan dan derit ranjangnya—

Tunggu! DERIT RANJANG??!?!?

“Apa yang kau lakukan Lee Jeno?!”

Seketika sang produser menyibak kasar selimutnya, tubuhnya terduduk sembari melotot marah. Maaf, Donghyuck tidak bisa santai saja jika ada seseorang yang seenaknya naik ke tempat tidurnya.

“Oh kau tahu namaku.”

Pemuda itu tersenyum tipis. Tipis sekali sampai Donghyuck yakin jika jarak keduanya lebih dari satu kaki ia tidak akan menyadari gurat senyumnya.

“Apa senyum senyum?!” Ia menggertak galak. Yah meskipun pipi bayinya yang masih bersisa menghalangi kesan seramnya. Dan yang namanya Lee Jeno tanpa rasa takut mengulas ujung jari telunjuknya pada lukis bintang di tulang pipi si beruang yang tinggi.

Donghyuck melemas, jemari meremas selimut meninggalkan lipatan samar pada kain putih tebal yang temani ia tidur tiga hari belakangan. Mendadak suasana hatinya berubah sendu, pandangan matanya dikunci manik gelap Lee Jeno yang rupawan. Ujung peraba pemilik helaian gelap di hadapannya ini menyapa halus kulitnya, sangat hati-hati bak menari di atas mahakarya Raphael yang luar biasa.

“Kamu terlalu lama sedih sampai kurus begini, Lee.”

Satu kedipan.

Dua.

Bak disihir, Donghyuck ikut-ikutan mengedipkan mata setiap pemuda dengan helaian gelap itu memejam. Dan setiap kembali ia menyelami gelap irisnya, Donghyuck serasa kembali jatuh cinta. Entah pada siapa, pada pekatnya pasang lensa di hadapannya atau justru pada pemuda antah berantah nan rupawan.

Satu kedipan terakhir Jeno bertahan tiga detik, kali ini Donghyuck bisa lihat laki-laki itu menarik napas dalam. Mengisi paru-parunya penuh-penuh. Detik ia kembali dapati sepasang iris sewarna cokelat chip itu menyapa, bahunya didorong menabrak pemuda di hadapannya. Bisa dirasakannya lingkar lengan Jeno di belakang punggungnya, menepuk pelan seperti yang biasa ibunya lakukan. Entah mengapa tiba-tiba Donghyuck ingin menangis lagi.

“Jangan menangis lagi—

“Aku sudah lelah mendengarmu menangis.”

Donghyuck kesal, sungguh. Bibirnya mengerucut sebal meski air matanya tak berhenti menyusuri pipinya yang gembil. Kalimat yang menyapa gendang telinganya terdengar seperti keluhan. Kalau memang tidak mau dengar ya jangan buat Donghyuck ingin menangis, dikira ia betah apa menangis lama-lama. Menangis menguras tenaga tahu. Lagipula salah siapa peluk-peluk sembarangan, Donghyuck kan jadi melankolis kalau dipeluk.

Mungkin pemuda antah berantah itu akhirnya sadar kaos yang dikenakannya semakin basah karena kemudian sisi kepala Donghyuck ditangkupnya dengan dua telapak tangan. Matanya yang sudah memerah dipaksa menatap pekatnya iris berbalut kelopak mata ganda. Pria itu tersenyum mengejek. Wah lagi-lagi Donghyuck tidak mengerti. Bagaimana bisa si Lee Jeno ini memainkan peran begini luar biasanya. Sedetik baik sekali macam rupanya yang bak malaikat, detik kemudian menyebalkan sampai ingin Donghyuck musnahkan.

“Berhenti bermain-main Lee! Aku ingin tidur.” Menepis semua hawa melankolinya, Donghyuck tak segan melepaskan diri dengan kasar dari pemuda dihadapannya.

Satu kekehan lolos menyapa gendang telinga, bibir digigit kuat-kuat menahan diri agar tak menyerang si pucat hingga sebaris kalimat membuatnya tercengang.

“Selamat malam, Haechan. Semoga kesedihan tidak lagi datang padamu. Semua orang menyayangimu—

 

Aku menyayangimu.”


published with write.as