Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Omiai Universe
Stats:
Published:
2021-10-02
Words:
2,690
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
90
Bookmarks:
7
Hits:
3,128

7 Years and Happily Ever After

Summary:

Untuk pertama kalinya kak Mingyu cemburu setelah tujuh tahun pernikahan mereka.

Notes:

Part of Omiai Universe — Minwon Sosmed!AU on Twitter. Its not necessary to read the AU’s but if you want to knew how they end up toghether, better read it on my twitter @eternalfujoshit.

All story written on bahasa.

Work Text:

YMMD PROJECT

FROM OMIAI UNIVERSE

“7 YEARS AND HAPPILY EVER AFTER”

A MINWON FANFICTION

 

.

.

.

 

Kita saling jatuh cinta…

Kita terikat oleh benang merah tak kasat mata…

Pertemuan yang singkat, membawa hatimu dan hatiku…

Berlabuh…

Mencintai hingga akhir waktu kita…

 

**

 

“Sayang, hari ini kamu sampai jam berapa di cafe?”

Mingyu mengamati Wonwoo yang sedang sibuk dengan pembukuannya. Pria itu begitu asyik menghitung dan menyocokkan selisih tagihan pada struk dan pembukuannya. Akhir-akhir ini sering terjadi kesalahan pada pembukuan La Picasa — cafe milik Wonwoo — sejak ia membuka beberapa cabang baru.

“Belum tau, kak. Kak Mingyu hari ini ke studio?”

“Nggak Won, hari ini aku ada bimbingan dan sidang thesis, jadi mungkin aku di kampus sampe sore.”

“Oh, oke kak. Nanti aku kabarin deh kak Mingyu kalo urusan cafe udah beres.”

“Iya, sayang. Oh iya, sarapan kamu aku simpan di meja. Aku mungkin sarapan di kampus soalnya pagi ini ada meeting dengan Fakultas.”

Mingyu berjalan mendekat ke arah Wonwoo yang masih menatap serius ke arah pembukuannya. Pria itu mengelus rambut pasangannya dengan lembut dan mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.

“Jangan lupa makan, lho. Nanti sakit.”

Wonwoo menoleh dan tersenyum. Ia meraih tengkuk belakang Mingyu, mendekatkan wajah, dan mencium bibir suaminya.

“Iya kak Mingyu bawel.”

 

.

.

.

 

Wonwoo dan Mingyu sudah menikah selama hampir tujuh tahun sejak pertama kali mereka dijodohkan. Awalnya, Wonwoo tak menyangka jika perjodohan konyol neneknya dan kakek Mingyu benar-benar sebuah takdir yang tak terduga. Ia begitu dekat dengan Mingyu sebagai dosen S2-nya namun tak pernah terpikir bahwa sang dosen adalah orang yang dijodohkan dengannya.

Selama tujuh tahun, pernikahan mereka begitu mesra dan baik-baik saja. Pembawaan Mingyu yang dewasa, bisa menjadi penyeimbang untuk Wonwoo yang kadang masih labil dan kekanak-kanakan. Mingyu selalu menoleransi kesalahan Wonwoo dan memberi solusi atas masalahnya. Namun, seiring berjalannya waktu, entah karena kesibukan atau rutinitas mereka sebagai pasangan yang terlalu monoton, percikan-percikan asmara di antara keduanya mulai memudar.

Komunikasi di antara mereka mulai renggang. Biasanya, Mingyu dan Wonwoo akan menghabiskan waktu dengan bercerita sambil menonton tv di ruang tengah atau bersantai di teras belakang berdua sambil menikmat secangkir teh dan cemilan. Namun, enam bulan belakangan, mereka nyaris tak pernah melakukan hal itu. Mingyu terlalu sibuk di kampus dan studionya sedangkan Wonwoo lebih banyak menghabiskan waktu di cafe miliknya. Terutama sejak pembukaan cabang baru cafe-nya.

Mingyu merasa bersalah. Kali ini ia ingin mengajak Wonwoo menghabiskan waktu bersama dan berbicara dari hati ke hati, mengajaknya makan di luar. Mingyu kemudian mencari referensi dan memesan sebuah restoran di hotel bintang lima sebagai apresiasi untuk melepas lelah Wonwoo.

“Mendingan gue langsung jemput Wonu aja kali ya.”

Mingyu merapikan berkas-berkas mahasiswa dan materi kuliah umumnya kemudian bergegas menuju cafe baru Wonwoo yang letaknya di sebuah gedung perkantoran. Ia mendapatkan tempat yang strategis dengan harga sewa yang lumayan mumpuni. Mingyu bangga pada Wonwoo.

Sepanjang perjalanan ia memikirkan apa yang harus ia berikan pada Wonwoo. Ia ingin melakukan sesuatu yang romantis untuk Wonwoo dan meningkatkan suasana hatinya mengingat beberapa hari ini, pembukuan cafe cukup berantakan. Mingyu singgah ke toko bunga yang searah dengan cafe Wonwoo, membeli sebuket lili putih dan meletakkannya di jok belakang mobil. Mingyu tersenyum saat membayangkan senyum manis Wonwoo ketika ia menerima bunga darinya.

Ketika Mingyu sampai, tubuhnya nyaris seperti tersengat listrik. Ia melihat Wonwoo sedang bersenda gurau dengan seorang pria tampan yang tidak ia kenal. Mereka terlihat sangat akrab dan… intim? Pria itu bahkan merangkul bahu Wonwoo sambil tertawa riang. Mingyu melihat sebuah pemandangan yang tidak biasa ketika Wonwoo tersenyum dengan sangat manis ke arah pria itu. Senyum yang beberapa bulan nyaris tak ia lihat dan begitu ia rindukan.

Mingyu merasa dadanya nyeri. Selama ini ia terlalu sibuk hingga tak memperhatikan dengan siapa saja pasangan hidupnya itu bergaul.

Mingyu mengambil telepon genggam dari saku dan menelepon Wonwoo. Panggilan pertama diabaikan oleh Wonwoo hingga panggilan ketiga yang akhirnya ia angkat. Mingyu bisa melihat ekspresi Wonwoo yang berubah menjadi tidak antusias ketika mengangkat telponnya.

“Halo, kak Mingyu?”  

“Halo sayang. Kamu di mana? Masih di cafe?” 

“Masih kak. Ada beberapa yang harus aku selesaikan. Mungkin pulangnya agak malam. Kak mingyu udah pulang?”

“Bentar lagi aku pulang. Kamu mau aku jemput?”

“Nggak usah kak. Dari kampus ke sini agak jauh. Kasian kak Mingyu nanti capek.”

“Gitu, ya? Ya udah kalo gitu, aku pulang duluan ya.”

“Oke, kak Mingyu. Ati-ati ya nyetirnya. Sampe ketemu di rumah.” 

“Iya, sayang.”

Mingyu bisa melihat Wonwoo memutuskan panggilan di telepon genggamnya dan tersenyum pada pria di hadapannya. Mingyu menghela nafas panjang kemudian berbalik menuju mobilnya. Gurat kekecewaan terpancar jelas dari wajah tampannya.

“Semoga ini Cuma perasaan gue aja.”

 

.

.

.

 

Ketika Wonwoo sampai di rumah, ia melihat lampu sudah dimatikan. Biasanya, ia akan melihat Mingyu menonton tv di ruang tengah sambil memeriksa beberapa tugas dari mahasiswa. Tapi kali ini, Wonwoo tak menemukan pasangannya di sana. Wonwoo melangkahkan kakinya pelan menuju kamar tidur mereka. Ia kemudian melihat Mingyu yang sudah tertidur pulas. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, tentu saja suaminya sudah lelah.

Wonwoo kemudian mandi dan berganti pakaian. Ia mengambil segelas besar air hangat yang ia letakkan di nakas sebelah tempat tidur Mingyu. Ia tahu, suaminya pasti akan terbangun dan mencari air minum. Oleh karena itu, ia tak pernah lupa meletakkan segelas air hangat di sana setiap malam.

Wonwoo mengambil tempat di samping Mingyu, mengamati lekat-lekat wajah pria yang sangat dicintainya. Sebentar lagi peringatan ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh. Wonwoo ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk suaminya, menyusun rencana sebaik mungkin dan akan meluangkan waktu selamanya untuk Mingyu. Ia akan mengalihkan kepengurusan cafe miliknya pada sepupunya. Wonwoo ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Mingyu setelah ini dan hanya mengawasi cafe miliknya dari jauh.

“Sayang… Kak Mingyu… tunggu sebentar lagi, ya? Setelah ini aku bakal nemenin kak Mingyu terus.”

Wonwoo mengecup lembut kening dan bibir suaminya kemudian berbaring sambil memeluk pinggang Mingyu. Mingyu secara otomatis merengkuh tubuh Wonwoo dan membawanya tidur dalam pelukan.

Suasana yang tidak akan pernah berubah. Keduanya saling berpelukan hangat sambil merajut mimpi indah masing-masing.

“I love you, kak Mingyu.”

 

.

.

.

 

 

Wonwoo terbangun dan mendapati sisi lain kasurnya sudah kosong. Biasanya, Mingyu akan membangunkannya untuk sarapan bersama. Namun sudah pukul 07.30, tidak ada tanda-tanda dan bau masakan Mingyu. Ia keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Hanya ada dua potong sandwich dan segelas susu yang sepertinya sudah mulai dingin, serta sebuah catatan kecil yang ditinggalkan Mingyu di kulkas.

 

—aku berangkat lebih awal hari ini

Kalau mau makan, angetin aja sopnya di panci—

 

Wonwoo mengerutkan kening dan wajahnya berubah murung. Ini hari sabtu dan ia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Mingyu. Tapi, sepertinya Mingyu punya kesibukan lain yang tidak bisa ia tinggalkan.

“Mungkin lebih baik gue ke cafe aja deh hari ini. Gue harus mematengkan rencana lagi buat anniversary besok.”

Pria itu kemudian kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk pergi, menyusun rencana yang sempurna untuk merayakan tujuh tahunnya bersama Mingyu.

 

 

***

 

 

Mingyu tak bisa menghilangkan keresahan di hatinya saat ia mengingat ada pria lain didekat Wonwoo yang mengusik hatinya. Wonwoo tidak pernah bercerita padanya, tidak pernah memberitahunya. Mingyu kemudian merasa kepercayaan dirinya menurun.

Hatinya sempat merasa tenang ketika saat terbangun, Wonwoo tidur nyenyak dan memeluknya erat. Wonwoo selalu tidak pernah bisa tidur tanpa Mingyu memeluknya terlebih dahulu dan itu sudah menjadi kebiasaan; Mingyu otomatis memeluk Wonwoo. Namun, ketika ia teringat bagaimana pria lain itu merangkul bahu dan tertawa dengan sangat akrab pada Wonwoo, membuat dada Mingyu terasa nyeri. Ia cemburu. Ia tidak ingin ada pria lain yang mendekati suaminya. Terlebih, ia tak ingin Wonwoo menjadikan itu sebagai rahasia.

“Tumben lu pagi-pagi udah mangkal di Studio?” Tanya Seokmin. Hari ini hari sabtu dan tidak biasanya Mingyu sudah di studio pagi-pagi buta. Ia bahkan tidak punya jadwal pemotretran apa pun karena Mingyu mulai mengurangi pekerjaan di studio miliknya agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Wonwoo.

“Nggak papa. Kangen saja,” jawab Mingyu singkat. Seokmin mengerutkan keningnya. Ia bisa melihat bahwa sahabatnya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Wajahnya begitu muram.

“Lu ada masalah sama Wonwoo?” Mingyu terkejut. Pasalnya tebakan Seokmin tidak sepenuhnya salah. Yang bermasalah adalah dirinya sendiri, bukan Wonwoo.

“Nggak ada kok beneran. Gue saja lama saja nggak ke studio pagi-pagi.”

“Jangan bohong. Gue saja lu pasti ada apa-apa. Nggak mungkin lu mau ninggalin Wonwoo sendirian kalo lu nggak ada apa-apa.”

Mingyu menoleh pada Seokmin dengan ekspresi terluka. Selama ini ia telah gagal memberikan perhatian lebih pada Wonwoo sehingga ada pria lain yang mendekati pasangannya. Mingyu merasa berkecil hati dan tidak percaya. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa nantinya akan ada orang yang lebih mengerti Wonwoo daripada dirinya.

“Nggak saja deh, gue kepikiran saja. Wonwoo bosen nggak ya sama gue.”

“Hah? Pertanyaan lu apa nggak ada yang bermutu? Wonwoo itu bucin banget sama lu, ya kali dia bosen.”

“Nggak saja. Mungkin ini perasaan gue saja. Tapi komunikasi kita saja mulai kurang dan lebih sibuk sama urusan masing-masing. Belom lagi pas pulang ke rumah pada capek sendiri, kadang lembur juga.”

“Selama ini lu fine-fine saja. Kok tiba-tiba lu protes gini? Lu nggak boleh cranky dong. Biasanya lu selalu punya solusi dan lu ngomong sama Wonwoo. Mendingan lu pulang deh daripada lu nggak jelas di sini dan ngebiarin Wonwoo sendirian di rumah.”

Seokmin menepuk pelan pundak Mingyu. Ia paham, selama ini Mingyu selalu berusaha memendam sendiri masalah sekecil apa pun yang ia hadapi. Namun seperti saat ini sahabatnya bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya walaupun Seokmin sendiri tidak mengerti apa permasalahan mereka.

“Ya saja gue balik. Thanks ya, Seok.”

“Halah. Kayak sama siape saja lu.”

 

 

.

.

.

 

 

From : My Love

Sayang, aku ke cafe ya.

Kak mingyu jemput aku ya?

Sekalian ada yang mau aku bilang.

Love you.

 

Mingyu melirik telepon genggamnya dengan perasaan ragu. Ia baru saja sampai di rumah dan Wonwoo sudah tidak ada. Mingyu menghela nafas panjang. Buket lili itu masih bertengger manis di jok belakang mobilnya. Ia tidak ingin gelisah seperti ini. Terlebih, peringatan ulang tahun pernikahannya adalah besok.

Huff… gue harus gimana?” Gumamnya. Setelah berpikir sejenak, Mingyu akhirnya memutuskan untuk menyalakan mobil dan menyusul Wonwoo ke cafe miliknya.

Ketika ia sampai di cafe, Wonwoo dan pria yang ia lihat semalam sudah asyik mengobrol. Sepagi ini? Batin Mingyu. Ia berusaha mengabaikan perasaan gelisah di hatinya dan berjalan dengan langkah berat menuju tempat Wonwoo.

“Kak Mingyu!” Sapa Wonwoo sambil melambaikan tangan dan tersenyum sumringah. Ia melihat ekspresi bahagia di wajah Wonwoo ketika Mingyu masuk. Wonwoo bahkan bangkit dan berjalan ke arahnya kemudian dengan sangat antusias menarik tangan Mingyu menuju meja tempat duduknya.

“Kak, yuk duduk.” Mingyu kemudian mengikuti instruksi Wonwoo dan duduk di sebelahnya. Pria di hadapannya tersenyum kemudian mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri. Mingyu hanya menatapnya datar.

“Kak Mingyu,” senggol Wonwoo. Mingyu menatap ke arahnya dengan tatapan datar.

“Aku mau ke toilet sebentar,” ucapnya singkat. Wonwoo menatapnya heran, begitu pun pria di hadapannya. Mingyu tidak peduli kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan kedua orang yang menatapnya penuh tanda tanya.

“Laki lu kenapa, Won?” Tanya pria di hadapannya dengan tatapan heran. Selama ini Wonwoo selalu menceritakan bahwa Mingyu adalah orang yang ramah, santai dan mudah bergaul. Namun yang ia lihat saat ini justru kebalikannya.

“Nggak tau. Biasanya nggak kayak gini.”

“Hah? Apa jangan-jangan lu nggak ngasi tau laki lu tentang gue terus dia cemburu?”

“Cemburu? Nggak mungkinlah. Kak Mingyu selama ini nggak pernah kayak gitu.”

“Lo yakin? Tapi dia nggak bersahabat gitu.”

“Gue juga bingung sih. Kita tunggu aja sampe dia balik lagi.”

Lima menit kemudian Mingyu kembali ke meja Wonwoo, namun pria itu justru mengambil dompet dan kunci mobilnya.

“Won, aku mau pulang. Kepala ku rasanya pusing.” Wonwoo terkejut dan melihat wajah Mingyu sedikit pucat. Wonwoo kemudian memberikan kode pada pria di hadapannya dan hanya disambut anggukan dari pria itu.

“Gue pamit duluan ya. Ntar gue telpon lu lagi.”

Wonwoo mengejar Mingyu dan mengikuti pria itu ke mobilnya. Mingyu hanya diam saja sambil menyalakan mesin mobil.

“Kak Mingyu kenapa? Kok nggak bilang kalo nggak enak badan? Jadi kan aku bisa nunggu kak Mingyu  di rumah. Nggak harus ke cafe gini buat jemput aku.”

Wonwoo meraih tangan Mingyu dan mengelusnya lembut. Mingyu menatap Wonwoo sambil menghirup nafas pelan.

“Dia siapa, Won?”

“Kak, kan tadi dia mau kenalan. Tapi kak Mingyu langsung ninggalin ke toilet.”

“Kebelet.”

Wonwoo tersenyum. Mungkin benar, Mingyu cemburu. Biasanya pria itu tak pernah menjawab pertanyaannya sepatah dua patah kata saja.

“Kak, dia Han Seungwoo, sepupuku.”

Mingyu terkejut dan spontan menoleh. Wonwoo tersenyum manis ke arahnya.

“Sepupu?”

“Iya kak. Seungwoo selama ini tinggal di Australia sama orang tuanya. Kebetulan tahun ini dia sama om dan tante pulang ke Indonesia. Om dan tante mau istirahat dan nerusin usahanya di sini aja. Kebetulan, Seungwoo dulu ngelola cafe di sana dan aku nawarin dia buat kerja di sini. Abah sama mamah udah setuju juga.”

Mingyu tertegun. Dari tadi malam, dia sudah salah paham. Mingyu memang tidak pernah menanyakan silsilah keluarga Wonwoo karena memang tidak banyak keluarga Wonwoo yang ada di sini.

“Jadi dia sepupu dari mana?”

“Sepupu dari pihak abah. Ibunya Seungwoo itu adiknya abah. Tapi, waktu Seungwoo SMP, keluarganya pindah ke Australia. Sampe sekarang ini. Orang tuanya memutuskan untuk balik karena nggak mau menua di sana. Seungwoo juga ikut balik karena dia anak tunggal dan nggak tega biarin orang tuanya sendirian di sini.”

“Terus, kenapa kamu minta dia ngurus cafe?”

Wonwoo tersenyum dan menyelipkan jemarinya ke sela jemari Mingyu. Iya kemudian menggenggam erat tangan besar Mingyu.

“Kak, aku pikir udah saatnya aku berhenti sibuk dan nemenin kak Mingyu. Aku pengen bantu kak Mingyu manage studio dan menggabungkan dengan konsep cafe. Dari kemarin, Seungwoo udah ngasi ide dan mau bantu. Ini yang pengen aku bicarakan sama kak Mingyu.”

Mingyu terkejut. Wonwoo sudah memikirkan segala hal dengan matang sementara ia justru berpikiran negatif. Ia melepaskan genggaman tangan Wonwoo dan balik memeluknya.

“Won, maafin aku. Aku tadi malam ke sini dan liat kamu akrab sama Seungwoo. Aku cemburu, Won. Terlebih kamu nggak ngomong apa-apa dan komunikasi kita mulai nggak seintens dulu.”

“Kak Mingyu, aku juga minta maaf karena aku nggak langsung ngasi tau kak Mingyu. Aku pengen merencanakan ini dengan mateng dulu baru ngasi tau kak Mingyu. Selama ini kak Mingyu selalu lebih dewasa dan membantu aku, jadi aku pikir udah saatnya aku yang bantu kak Mingyu.”

Mingyu mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Wonwoo.

“Won, makasih ya. Makasih dah jujur sama aku.”

Wonwoo melepaskan pelukan Mingyu dan tersenyum.

“Makasih juga kak Mingyu dah jujur sama aku. By the way, ini bunganya buat aku?”

“Iya. Tadi malem aku mau ngajak kamu dinner tapi aku udah terlanjur cemburu nggak jelas hehe.”

“Ih kak Mingyu! Harusnya kak Mingyu ngomong donggg. Tadi malem aku dah kepikiran banget juga, tapi nggak mau suudzon.”

“Iya sayang. Maaf ya.”

“Gapapa kak. Yuk mendingan kita pulang terus netflix and chill deh.”

Mingyu tersenyum dan mengecup pelan jemari Wonwoo.

“Yuk.”

 

 

.

.

.

 

 

—E P I L O G—



“Happy anniversary, kak Mingyu.”

Mingyu membiasakan diri dengan penglihatannya setelah Wonwoo membuka penutup mata yang ia ikat dengan kencang. Ia melihat kamar suite hotel yang sudah didekor sedemikian rupa. Ia juga melihat meja makan yang sudah penuh dengan hidangan makan malam mereka. Mingyu tersenyum dan spontan memeluk Mingyu.

“Jadi ini kesibukan lain ku selain cafe kak hehe.”

“Won, kenapa kamu nggak bilang sih?”

“Kalo bilang bukan surprise dong namanya kak Mingyu hehehe.”

Wonwoo kemudian melingkatkan lengannya ke leher Mingyu dan tersenyum menggoda ke arahnya.

“Kak Mingyu, udah tujuh tahun lho,” bisiknya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Mingyu dan mengecup pelan bibirnya. Mingyu memeluk erat pinggang Wonwoo dan memperdalam ciuman mereka.

“Kak Mingyuh…”

Mingyu mencium Wonwoo seperti orang kelaparan dan mulai menggendong tubuhnya. Wonwoo mengikuti ritme ciuman Mingyu dengan pasrah.

Mingyu membaringkan Wonwoo di atas tempat tidur dan menciumnya lagi, namun ketika Mingyu akan membuka kancing kemeja Wonwoo, perutnya berbunyi nyaring. Wonwoo tertawa.

“Hahaha kak Mingyu.”

Mingyu kemudian memeluk Wonwoo erat dan membenamkan wajahnya ke bantal. Ia sangat malu karena perutnya berbunyi nyaring dan merusak suasana panas di antara mereka.

“Ya udah yuk kak, kita makan dulu. Ini kita lanjut nanti. Makanannya juga nanti dingin.”

Wonwoo mengusap pelan rambut Mingyu yang hanya bisa mengangguk pelan. Ia kemudian bangkit dan merapikan rambut Wonwoo.

“Wonwoo, makasih banyak ya. Makasih juga udah mau jadi pasangan hidup aku yang banyak kekurangan ini,” ucapnya lembut. Wonwoo mengangguk dan mengecup lagi bibir Mingyu.

“Sama-sama, kak Mingyu. Aku juga mau berterima kasih banget karena kak Mingyu udah mau sayang dan manjain aku banget.”

“I love you so much, Wonu.” 

“I love you too, kak Mingyu.”

 

 

—The End—

 

Series this work belongs to: