Work Text:
“Semesta tuh dibayar berapa, sih, sama takdir?!”
Seungwoo terkekeh melihat Seungyoun yang berjalan mondar-mandir penuh emosi di hadapannya. Wajahnya memerah karena lelah sehabis latihan koreografi, sekaligus marah saat melihat Seungwoo yang tiba-tiba mendatanginya dengan cengiran lebar.
“Bahkan di kehidupan yang ke sebelas ini, kamu masih suka marah-marah, Seungyoun.”
Handuk basah bau keringat melayang ke arah wajah Seungwoo. Warnanya oranye dengan bordir huruf 'B' besar di salah satu sudutnya. Handuk punya Seungyoun.
“Aku capek. Capek ketemu kamu terus! Hidupku pasti menderita setiap ketemu sama kamu!”
Seungwoo terkekeh sekali lagi mendengar keluh kesah Seungyoun yang bahasannya itu-itu saja. Seungyoun yang lelah. Seungyoun yang merasa bosan hidup.
Mungkin karena Seungyoun sudah pernah hidup, mati, dan kemudian dibangkitkan lagi hingga sebelas kali. Selama sebelas kali perulangan itu pula, Seungyoun dan Seungwoo selalu dipersatukan oleh takdir untuk menapaki jalan yang sama.
“Kamu, sih, nggak mau nurutin takdir.”
“Semakin lama aku dikutuk untuk selalu lahir, mati, dan hidup kembali lalu bertemu kamu, semakin benci aku dengan si takdir.”
“Kalau begitu, baiklah, terserah kamu saja.” Seungwoo menepuk pundak Seungyoun yang sedari tadi menegang karena emosi, “Sampai ketemu di hari evaluasi, trainee grup B.”
Kedua binar Seungyoun tak lepas dari punggung Seungwoo yang dilapisi atasan warna merah muda dengan tulisan huruf 'A' berwarna biru terang. Bahkan hingga Seungwoo pergi meninggalkan ruang latihan, emosi di kepala Seungyoun juga tak kunjung reda. Ia benar-benar harus minum air dan mandi setelah ini.
Seungyoun dan Seungwoo adalah teman baik di kehidupan mereka yang pertama.
Mereka sudah saling mengenal sejak masih belia. Seungwoo adalah anak dari kepala pengawal istana, sedangkan ia adalah anak tunggal dari Raja yang berkuasa saat itu. Sebagai satu-satunya pewaris tahta, Seungyoun lebih sering menghabiskan waktu di dalam istana. Dia banyak belajar dan latihan sebagai persiapan untuk jadi pengganti ayahnya saat sudah cukup umur nanti.
Sedangkan Seungwoo si anak kepala pengawal, ia memang tinggal di dalam istana bersama ayah dan ibunya, sama seperti Seungyoun. Namun perbedaan antar keduanya adalah Seungwoo punya kebebasan bermain di luar istana, ia bisa pergi ke sekolah dengan rakyat biasa dan banyak bertemu orang baru.
Sayangnya, Seungyoun tidak punya kebebasan seperti itu.
Perbedaan kebebasan itulah yang membuatnya banyak menghabiskan waktu dengan Seungwoo. Dari si lelaki yang lebih tua, Seungyoun belajar tentang bagaimana rasanya bermain sepak bola tanpa alas kaki dan dihukum jika terlambat masuk sekolah.
“Apa rasanya belajar di ruangan yang ramai?”
“Seru!” jawab Seungwoo dengan semangat, “Dari teman sekelasku, aku belajar juggling. Seungyoun lihat aku, ya!”
Seungyoun terpukau dengan kemampuan Seungwoo memainkan trik bola menggunakan kaki. Dengan senang hati, Seungwoo mengajari tekniknya pada Seungyoun.
“Aku senang berteman denganmu, Seungwoo.”
“Aku juga! Soalnya Seungyoun lucu.”
Seungyoun yang tidak suka dipanggil lucu langsung marah dan melempar bola ke arah Seungwoo.
“Jangan panggil aku lucu!”
“Kamu lucu banget, deh, Youn.”
“Bisa nggak, di kehidupan yang ke sebelas kali ini, kamu berhenti menyebutku lucu?”
“Tapi, kostum monyet memang bikin kamu kelihatan lucu.” Seungwoo bersikeras meyakinkan lawan bicaranya, “Perlu aku panggil Yohan dan yang lain untuk ditanyai pendapat?”
“Nggak perlu begitu, ya!”
Seungwoo yang tertawa lepas melihat ekspresi Seungyoun membuat si lelaki yang lebih muda menjadi kesal. Hal ini mengingatkannya pada kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya dengan kondisi yang tidak jauh berbeda.
Di kehidupan pertama, mereka adalah sepasang sahabat yang terjebak dalam kehidupan politik kerajaan dan perebutan tahta. Di kehidupan selanjutnya, Seungyoun dan Seungwoo terjebak dalam kapal bajak laut dan sama-sama berjuang untuk bebas supaya tidak dijadikan budak seumur hidup. Lalu di kehidupan ke sebelas, alias saat ini, mereka sama-sama menjadi idol dari agensi kecil yang harus berjuang di survival show supaya karir menyanyi mereka tidak berhenti begitu saja.
Jujur saja Seungyoun lelah. Bahkan hingga reinkarnasi kehidupan yang ke sebelas, Seungyoun dan Seungwoo selalu berdua, terjebak dalam sebuah skenario kehidupan yang menyedihkan.
“Kamu nggak capek, Seungyoun?”
“Capek, semalam aku masih harus bikin lagu sampai jam dua.”
“Bukan capek yang itu.” Seungwoo merebahkan badannya di sebelah Seungyoun, mengikuti kawannya yang sedari tadi sudah berbaring terlentang, “Tapi capek yang lain. Lahir, hidup, mati, dan lahir kembali sampai sebelas kali tapi selalu menderita. Kamu nggak capek?”
“Retoris, huh?” Seungyoun mendengus kasar. “Jika jalan satu-satunya untuk berhenti reinkarnasi dan menjalani hidup susah adalah dengan jatuh cinta sama kamu, aku belum bisa.”
Seungwoo bangkit dan menopang kepalanya dengan sebelah tangan, menatap Seungyoun dengan pandangan yang sulit dideskripsikan, “Emangnya sesulit itu jatuh cinta sama aku?”
“Woo, kamu itu teman baikku. Aku benar-benar nggak bisa jatuh cinta dengamu. Susah banget, tau!”
Apa yang Seungyoun katakan memang benar. Seungwoo sendiri pun merasakannya, ia sulit jatuh cinta dengan Seungyoun.
“Mau coba nggak?”
“Apa? Saling jatuh cinta?”
“Iya.”
Seungyoun menepuk-nepuk bahu Seungwoo, “Emang bisa? Di sepuluh kehidupan sebelumnya, kita selalu jatuh cinta dengan orang yang berbeda, kan?”
Panggilan manajer dari ujung ruangan mengharuskan Seungyoun, Seungwoo, dan rekan-rekan grupnya untuk segera mengganti pakaian dan bersiap pulang. Si lelaki berkostum monyet bangkit terlebih dahulu dan mengulurkan tangan kepada Seungwoo, mengajaknya ikut berdiri. Namun lawan bicaranya itu masih bergeming.
“Kita belum pernah coba buat saling jatuh cinta, kan, Youn?”
“Kak, kita sudah pernah lahir, hidup, mati, dan dihidupkan kembali hingga sepuluh kali.” balas Seungyoun dengan tegas. “Dari semua pengalaman itu, tidak ada satupun kehidupan yang mengarahkan kita untuk saling jatuh cinta.”
“Tapi kita belum pernah coba, Youn.”
“Han Seungwoo.” hembusan napas lelah sangat kentara terdengar dari entitas yang lebih muda, “Di kehidupan yang ke sebelas ini, aku sudah mencintai orang lain. Aku sangat, sangat mencintai orang itu hingga rela hidup menderita supaya tetap mencintainya.”
Lidah Seungwoo kelu, tidak mampu membalas perkataan Seungyoun yang sudah pergi meninggalkannya ke luar ruangan mengikuti manajer dan member yang lain.
