Actions

Work Header

Gunnen

Summary:

(Dutch) To find happiness in someone else's happiness because that's how much you love them.

Notes:

Shoutout to Jia, My Love, makasih udah mau menjadi pembaca pertama

(Originally made for You Made My Dawn Project - @YMMDProject on Twitter)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Lembayung memiliki arti kata warna merah yang bertumbukan dengan warna ungu, menciptakan gradasi warna yang indah nan menenangkan. Karena itulah, waktu senja sering dikaitkan oleh lembayung: pergantian waktu dari sore ke malam. Ketika langit terlukis oleh warna oranye keemasan saat matahari perlahan terbenam. Ketika pergerakan di muka bumi seakan berhenti untuk sementara.

Ditengah lembayung senja, di lantai paling atas gedung utama sekolah, terlihat dua laki-laki berbadan bongsor yang sedang merebahkan diri masing-masing di kursi panjang yang sengaja diletakkan di tengah ruang terbuka, guna untuk melepas penat bagi mereka yang seharian mengajar ataupun mereka yang seharian menyerap ilmu. Angin menerpa rambut mereka pelan. Satu dari mereka sedang menghalau sinar matahari dengan telapak tangan sedangan yang lainnya masih memejamkan mata dengan kedua tangan yang ditempa menjadi alas kepala. Dua puluh menit sudah mereka berada disana, namun tidak satupun dari mereka yang bersua. Mereka sama-sama menikmati sore terakhir menjadi siswa SMA. Menikmati sore terakhir memakai kemeja putih lusuh dan celana abu-abu yang sudah mulai berubah warna.

“Junhui.”

“Hmm?”

“Lo inget nggak,” ucap si kacamata sembari merubah posisinya menjadi tengkurap, demi mendapatkan potret karibnya yang masih memejamkan mata dengan lebih jelas. “Kita pernah cabut kelas di mata pelajaran Sosiologi, demi nonton End Game di hari pertama?”

Juhui, di sebelahnya, menjawab dengan dengusan. “Gue dipaksa ikut cabut buat nemenin lo nonton premiere End Game.”

Diusap kasar wajah Junhui oleh telapak kecil milik Wonwoo, meninggalkan tawa pelan dari si pemilik wajah. “Lah, elo juga mau-mau aja, tuh!”

“Kalau nggak sama gue, emangnya lo bisa pergi sendiri?”

Hening kembali menemani mereka. Wonwoo sudah kembali ke posisinya semula—tidur terlentang menghadap langit. Keduanya kalut oleh pikiran masing-masing, entah apa yang mereka pikirkan.

Suara Junhui kembali terdengar setelah sepersekian menit. “Waktu gue masuk ke ruang BK karena nonjok Seungyoun di lapangan, lo inget juga, nggak?”

Wonwoo kembali memutar memorinya, mengenang kilas balik masa-masa di jenjang akhir sekolah. Pasalnya, Junhui termasuk salah banyak siswa yang hobinya keluar masuk ruang bimbingan. Bukan, Junhui bukan pembuat onar seperti apa yang mungkin kalian pikirkan. Dia hanya… suka ikut campur. Hampir sebagian besar kunjungannya ke ruang bimbingan tidak jauh dari dia yang menjadi benteng bagi orang lain—tentang adik kelas yang tertangkap ditindas di belakang kantin, tentang menangkap guru yang berusaha mencabuli murid perempuan, tentang menjadi garda terdepan saat murid-murid sedang melakukan demo akibat penggelapan dana kas sekolah, dan runtunan kegiatan heroik lainnya.

Satu yang sangat Wonwoo ingat prihal kejadian tempo hari diawali oleh matahari yang bersinar terang seperti ia sedang mengamuk. Jam istirahat kedua menjadi waktu yang paling ditunggu para siswa, karena 120 menit yang diberikan pihak sekolah kepada warganya untuk rehat. Sudah seharusnya waktu emas tersebut di pakai untuk mengistirahatkan sejenak kepala yang mendidih dan mata yang perih. Tetapi, panasnya cuaca kala itu, kalah dengan tensi yang berada di tengah lapangan. Ketika Junhui tanpa babibu mendatangi Seungyoun dan teman-temannya yang sedang bermain bola sepak. Tangan kirinya dengan ringan menarik kerah seragam Seungyeon, disusul dengan kepalan tinju yang mendarat persis di pipi kanan Seungyoun, menghadirkan gemuruh dari warga sekolah yang memperhatikannya. Masalahnya, setelah aksi pembogeman itu, tidak ada kata yang keluar mulut Junhui maupun Seungyoun—seperti mereka sedang bermain telepati—karena Seungyoun sama sekali tidak memberontak, pun membalas Junhui dengan hal yang sama—seperti dia sudah sangat paham hadiah yang diberi oleh Junhui. Karena Junhui yang melakukan penyerangan duluan, terpaksa, sekolah memberinya hukuman skorsing tiga hari. Kapan lagi dikasih surat cinta dari sekolah, katanya kala itu ketika Wonwoo menyerbunya dengan seribu pertanyaan dan seribu sumpah serapah.

“Gue masih nggak ngerti kenapa lo dengan entengnya nonjok Seungyoun waktu itu. Seungyoun juga nggak ngomong apa-apa.”

 

(“Seungyoun sama Wonwoo? Udah keliatan si Wonwoo yang naksir banget.”

“Tau. Seungyoun-nya juga salah, sih. Nganter jemput Wonwoo, nempel terus sama Wonwoo.”

“Salah kenapa? Biarin aja lah kalau anaknya emang suka. Yang penting dijagain Wonwoo-nya.”

“Lah, lo nggak tau, Jun? Seungyoun kan baru jadian?”

“Gimana?”

“Itu lho, kemarin di tongkrongan ramai banget. Lo inget Bang Seungwoo, kan, ketua angkatan 2018? Seungwoo pamer sana sini habis nembak Seungyoun dan langsung di terima.”

“…”

“Anak tongkrongan angkatan kita ngomong ke Bang Seungwoo, Seungyoun udah dikira pacarnya Wonwoo sama warga sekolah. Ternyata, Seungyoun-nya bilang, dia begitu karena kasian aja sama Wonwoo. Dia udah tau kalau Wonwoo naksir berat, by the way.”

“…..”

“Di ceritain malah bengong. Kasih respon, kek- ehh, mau kemana lo? Jun? JUNHUI!!”)

 

Adanya, senyum Junhui terukir simpul mengingat betapa konyol perlakuan implusif yang dia lakukan hanya karena seseorang dengan sorot mata seperti rubah di sebelahnya itu. Kepalanya menggeleng. Tangannya mengacak pelan surai legam Wonwoo. “Kalah taruhan. Biasalah.”

“Mana ada kalah taruhan hadiahnya nonjok! Mau jadi apa coba habis ini, tukang pukul?”

Tawa Junhui pecah seperti benda tajam yang tidak sengaja menusuk balon karet, membuat Wonwoo tersentak karena gelegar tawa dari sahabatnya. Biasanya, Wonwoo akan menyumpal mulut Junhui dengan benda apapun di sekitarnya, demi meredakan tawa menyebalkan Junhui (yang menurutnya) dapat membangunkan hewan yang sedang hibernasi sekalipun atau mengigit jari Junhui sampai tawanya berubah menjadi serangkaikan kata minta ampun. Tapi kali ini, Wonwoo akan membiarkannya. Wonwoo akan menangkap dengan sempurna suara tawa Junhui dan menyimpannya baik-baik di kotak memori yang ia kubur di kepalanya. Matanya akan mengingat selalu bagaimana cara Junhui tertawa—melempar kepalanya ke belakang dengan tangan yang tiada henti memukul pahanya. Karena mungkin, ini adalah saat terakhir Wonwoo dapat merasakan hangat yang dipacarkan Junhui tiap berada di dekatnya. Karena mungkin, setelah hasil tes universitas keluar, Junhui akan meninggalkannya dan setumpuk kenangan mereka di kota ini.

Junhui tahu, karibnya itu sedang di stase tidak baik-baik saja (Wonwoo akan selalu memarahi dia yang tertawa terlalu keras). Junhui tahu, di balik bingkai kacamata itu, terdapat sorot mata yang kian meredup. Junhui tahu, di dalam kepala kecil itu, ada terlalu banyak hal yang harusnya tidak perlu untuk dipikirkan. Junhui tahu dan Junhui selalu tahu.

Maka dari itu, disikutnya pelan lengan Wonwoo, membuat pandangan mereka beradu. “Mikirin apa?”

Wonwoo rasanya ingin menangis detik itu juga. Pandangan yang dilemparkan oleh Junhui adalah pandangan itu. Pandangan yang tanpa sadar membuatnya terjauh, entah kapan dimulainya. Nafasnya sedikit tercekat menyadari kata yang akan ia keluarkan. “Mikirin… kemungkinan setelah keluar dari pagar nanti, akan jadi kali pertama kita ngelewatin jalan yang berbeda.”

12 tahun sudah Wonwoo dan Junhui menghabiskan waktu bersama. Yang mulanya masih diantar oleh bunda dan mami dengan seragam putih merah, berboncengan di atas sepeda dengan seragam putih biru, sampai menelusuri jalan utama dengan Vespa putih kesayangan Junhui dengan seragam putih abu-abu. Wonwoo akan selalu menjadi tempat teraman bagi Junhui, begitupun sebaliknya. Wonwoo tidak takut, bahkan jika dia harus berjalan di tengah gurun ataupun berenang di kolam renang dengan tinggi 3 meter sekalipun, asalkan Junhui ada di sampingnya. Junhui dapat memaparkan apapun di depan banyak orang, asalkan matanya menangkap presensi Wonwoo. Mereka dapat mengerti satu sama lain tanpa berucap sekalipun. Hanya satu yang mereka tak pandai: mengakui perasaaan masing-masing.

It’s a great thing, though?” Ucap Junhui. Tubuhnya dibawa ke posisi duduk. Pandangannya ia alihkan kearah matahari yang sudah siap untuk beristirahat. “Masa, lo mau sama gue terus. Nggak bosen, emangnya?”

Sama sekali tidak. “Bosen banget. Nggak usah di tanya.” Wonwoo terkekeh pelan. Pandangannya mengikuti Junhui—memandang horizon yang warnanya sudah di lukis seluruhnya dengan warna oranye.

“Lo tau nggak, kenapa gue suka banget sama lembayung?”

Junhui menggelengkan kepala sebagai jawaban.

“Dia indah, tapi hanya sementara. Nggak semua orang sadar akan keindahannya. Ketika indahnya lembayung berhasil mendapat atensi mereka sepenuhnya, dia pergi. Hilang. Tergantikan oleh langit malam.”

“Kita kadang nggak sadar, apa yang kita cari ternyata berdiri persis di hadapan kita.” There. He said it. Butuh bertahun-tahun bagi Wonwoo untuk merangkai kata seperti barusan. Wonwoo tahu, cepat atau lambat, dia tidak mengharapkan balasan yang sama. Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan, kan? Sebelum semuanya terlambat, sebelum segalanya terlupakan, Wonwoo ingin secara gamblang menyampaikan perasaannya. Walaupun dia sebenarnya tahu, perasaan Junhui juga tidak kalah besar darinya. Tapi karena rasa takut akan kehilangan, Wonwoo pun juga sangat tahu, jawaban apa yang akan didapatkannya.

Yeah… You’re my greatest gift. You’re like… my half soul, Won. I can’t imagine the world with you…” senyumnya terukir, mengerti dengan sangat baik apa yang Wonwoo ingin sampaikan. Tapi, sebagaimana teori yang Paul Eckman sampaikan tentang enam jenis emosi dasar yang dimiliki manusia, ketakutan adalah salah satunya—takut akan kemungkinan kehilangan sosok teman baik dari hidupmu adalah apa yang Junhui alami. “…as my best buddy.”

Jikalau Romeo dan Julet adalah pasangan bodoh yang rela berkorban satu sama lain demi cinta yang abadi, Junhui dan Wonwoo adalah pasangan bodoh yang kalah sebelum mereka mulai berperang. Adanya zona nyaman yang enggan mereka lewati demi kemungkinan-kemungkinan besar yang akan terjadi didepannya. Menurut mereka, menjadi pundak tempat bersandar untuk sesama sudah cukup. Menjadi buku harian berjalan untuk sesama sudah lebih dari cukup. Maka dari itu, senja ini, Wonwoo ingin menyelesaikan perasaan yang bahkan belum berani ia mulai. Membuat perasaan itu menjadi lipatan pesawat kertas dan menerbangkannya ke langit, membebaskannya pergi kemanapun ia mau.

Kembalinya matahari ke tempat peristirahatannya menjadi teguran bagi mereka untuk meninggalkan atap sekolah. Bersiap untuk petualangan-petualangan baru yang akan mereka lewati sendiri-sendiri. Wonwoo yang pertama kali berdiri, merapihkan bagian belakang celana abu-abunya yang sedikit keriting akibat dibuat bergesekan dengan bahan kayu terlalu lama. Junhui menyusul, memakai kembali sepatu kets hitam miliknya dengan asal. Ia memandangi dengan seksama Wonwoo yang sedang membersihkan lensa kacamatanya dengan ujung kemeja. Laki-laki yang sudah mengisi waktu dan hatinya selama 12 tahun itu kini sudah berani menyatakan perasaannya, walaupun secara tersirat. Wonwoo-nya sudah berani. Tandanya, dia sudah tidak perlu takut melepas Wonwoo sendirian di luar sana.

“Mau langsung balik atau sate padangan dulu?”

Bola mata Wonwoo membulat bak bakso urat yang siap untuk di santap. Tangannya menarik lengan Junhui dengan semangat. “Kenapa nggak dari tadi, sih? Ayoo sate padaang!”

Mereka menyelesaikan semuanya di atap ini—menjadi siswa SMA dan cinta yang dipendam sendiri.

 


 

Juli, 2006

 

“Abang, bunda mau ke kamar mandi sebentar, ya. Abang jangan kemana-mana, tunggu disini dulu aja.”

Aku cuma ngangguk. Bunda usap-usap kepala aku terus pergi ke kamar mandi. Aku duduk di kursi panjang. Naiknya susah karena aku masih pendek, jadi aku loncat sedikit. Duduk, deh. Kaki aku goyang-goyang. Bunda lama. Aku haus. Warung dimana, ya? Oh! Itu, disana! Di sebrangnya lapangan ada warung! Tadi bunda kasih aku uang saku, tiga ribu. Aku turun sebentar, deh. Mau beli minum.

Ada banyak temen-temen seumuranku main basket. Mereka kakak kelas. Hebat banget. Tapi aku takut bola basket. Aku lewat mana, ya? Lewat sini aja, deh. Biasanya, kalau lewat pinggir lapangan nggak akan kena- AW!

Mukaku kena bola basket… huhu.. sakit banget… sakit, bunda. Bunda, muka aku sak—

“Hei! Kamu nggak papa!?”

Aku sakit… hidungku sakit…

“Hei… jangan ditutupin mukanya. Aku nggak bisa lihat mukamu luka atau nggak.”

Aku udah nurunin tangan, tapi muka dia tetap nggak keliatan. Mataku nggak bisa melek, ternyata.

“Wah… bengkak, nih. Mama aku dokter, nanti dia bisa sembuhin kamu. Dia ada disini, kok. Ikut sebentar mau, kan?”

“T-tapi.. bunda aku nungguin…”

“Yaudah, kita ke mama aku barengan aja sama bunda kamu. Pegangan tanganku dulu, nanti aku antar.”

“…oke.’

“Nama kamu siapa?”

“Wonwoo. Aku kelas 1B. Kamu siapa?”

“Kelas kita sama! Kita sekarang temenan, ya! Nama aku Junhui. Kalau kita temenan, aku pasti selalu jagain kamu.”

"Oke, ayo kita temenan."

 

Notes:

Back to the original thread on Twitter for Epilog