Work Text:
(10:00)
Satoru berpikir bahwa semesta punya selera humor yang ganjil.
Pada permainan tarik tambang ia diajak setim oleh salah seorang peserta dengan nomor 023 yang membawa mereka lolos dari maut dan melaju ke babak berikut. Malam setelahnya, mereka bergantian tidur saling menjaga satu sama lain dari serangan pemain yang punya niat jahat. Namun di sisi yang berbeda, perkenalannya dengan orang itu mengantar mereka kembali berpasangan pada permainan kelereng dengan harapan dapat lolos bersama.
Peraturannya mudah saja: barang siapa yang lebih dulu mengumpulkan sepuluh kelereng, maka dialah pemenangnya. Lantas yang kalah tidak punya pilihan lain selain mati. Hanya salah satu dari mereka yang akan selamat.
Hati Satoru mencelus. Ada rasa perih yang tak bisa ia terjemahkan.
Hidup kadang memang bisa selucu itu.
Hidup kadang memang bisa seironis itu.
(09:50)
Keduanya menempati tempat paling sudut dalam arena yang telah disediakan. Arena itu ditata menyerupai perumahan di gang-gang sempit. Membangkitkan nostalgia, membuat para peserta ingin pulang dan memeluk orang-orang terkasih yang tengah menunggu. Dinding dilapisi wallpaper langit senja, menciptakan kesan hangat semu sementara realita berkata lain. Ini adalah koloseum yang akan menjadi tempat pertumpahan darah.
Satoru dan 023 duduk bersisian di tangga batu, menatap jam yang mulai menghitung mundur.
“Omong-omong, aku belum tahu namamu. Aku Satoru. Gojo Satoru.”
“Geto Suguru,” jawab 023.
Satoru mengangguk, menyimpan nama itu dalam kepala.
“Jadi, apa yang membuatmu ikut permainan ini?”
Saat peserta lain mulai bergegas mengumpulkan kelereng, Satoru lebih memilih menggunakan waktu yang sangat singkat untuk berbincang. Ini adalah kesempatan terakhir baginya untuk mengenal lebih jauh sosok Suguru. Walaupun secara garis besar Satoru bisa menebak alasannya—semua yang terjebak dalam permainan mematikan ini pasti karena masalah finansial—namun ia ingin mendengar sendiri latar belakang Suguru dari mulutnya.
“Keluargaku terlilit hutang dalam jumlah yang besar. Pendapatanku sebagai pekerja lepas tidak cukup untuk menutup hutang sementara aku harus menghidupi ibu dan adikku. Aku satu-satunya tulang punggung mereka.” Suguru menghela napas panjang.
Mata Satoru melebar, “Kau punya adik?”
“Ya, dua adik perempuan. Mereka kembar.” Suguru tersenyum hangat tatkala membicarakan adiknya. “Tapi beda ayah. Setelah orang tuaku bercerai, ibuku menikah lagi dan melahirkan mereka. Sialnya, pria yang dia nikahi malah membawa malapetaka. Kebiasaannya berjudi mendatangkan hutang yang banyak dan sekarang dia malah kabur entah ke mana.” Kepalan tangan Suguru mengerat. Rahang menegang.
“Wow, ayahmu benar-benar brengsek.”
(07:23)
Suguru mengulum senyum. “Benar sekali. Lalu bagaimana denganmu? Kau kelihatan bukan tipikal orang yang bakal ada di tempat seperti ini.” Ia menoleh pada Satoru.
“Eh? Maksudnya?” Tanya Satoru bingung.
“Yah, jujur saja, kau tampan seperti model sampul depan majalah fashion.”
Suguru tidak salah dengan penilaiannya. Satoru jelas cukup menyolok dengan kulit putih bersih—yang walaupun sekarang lebih kumal karena tidak dibersihkan—dan mata biru yang mencuri atensi banyak pihak, serta tinggi badan 190cm. Suatu kali Suguru pernah memanggilnya dengan “Tiang Listrik” ketimbang nomor 127 yang tersemat pada punggung jaket hijau, ketika waktu itu ia belum tahu nama asli Satoru.
Tawa renyah meluncur dari bibir Satoru. “Aww, aku malu dipuji,” katanya dengan nada dibuat-buat.
Tubuh Satoru condong ke belakang, bersandar pada anak tangga yang lebih tinggi. Kedua siku menopang berat badan.
“Ayahku pemilik pabrik tekstil sementara ibuku telah meninggal tak lama setelah aku lahir. Tapi ayah ditipu rekan bisnisnya dan setelah berusaha bertahan dengan ekonomi yang sulit, perusahaan itu dinyatakan pailit tahun lalu. Tiga bulan setelahnya, aku menemukan tubuh ayahku dalam bak mandi dan luka sayatan menganga di pergelangan tangan.”
(05:58)
Napas Suguru tercekat. Ada jeda dan senyap yang terselip.
“Belakangan aku juga tahu, masih ada pinjaman puluhan juta yen di bank yang menunggu untuk dilunasi. Maka di sinilah aku berada,” lanjut Satoru ringan dengan senyum tipis seakan tengah membicarakan menu makan siang.
Alis Suguru tertekuk. “Kenapa kau bisa membicarakan hidupmu dengan kasual seperti itu?”
“Entahlah.” Satoru mengedikkan bahu. “Bahkan untuk bersedih pun aku sudah tidak punya tenaga. Lagipula, coba kau pikirkan. Ternyata kita sama-sama punya daddy issue. Sepertinya kita berjodoh.”
Suguru tak bisa menahan gelak tawa. “Kau ini bicara apa. Masih bisa bergurau di saat seperti ini.”
“Akhirnya aku bisa melihatmu tertawa,” kata Satoru. “Selama ini wajahmu serius terus. Lihat jidatmu, mulai ada kerutan. Kau terlihat lebih tua dariku.”
Satoru mendekatkan wajah, tangannya terulur mengaitkan poni Suguru yang terurai ke belakang telinga. Ujung telunjuknya menelusuri gurat tipis di dahi Suguru. Satoru ingin menyentuh wajah itu lebih lama.
(03:30)
DOR!
Bunyi letusan lantang pistol mengejutkan Satoru dan Suguru, membuyarkan percakapan mereka. Dari pengeras suara berkumandang, “Pemain 201 tereliminasi.”
“Rupanya sudah ada yang gugur.” Satoru menggigit bibir bawah.
“Ya...”
Keduanya sama-sama tahu, waktu mereka semakin menipis.
“Ceritakan tentang adik kembarmu.”
“Apa?”
“Aku anak tunggal. Ingin tahu rasanya punya saudara.”
Bola mata ungu Suguru menerawang jauh sembari membayangkan rumah dan kedua adiknya. Serangkaian memori manis berkelebat dalam kepala. Hidup Suguru berat, namun kehadiran adik-adiknya menyuntikan determinasi untuk tidak kalah oleh terpaan ombak penderitaan.
“Namanya Mimiko dan Nanako. Mereka baru berumur tujuh tahun dan sangat dekat denganku. Aku pergi diam-diam karena mereka pasti akan menangis melihatku pergi. Aku sudah berjanji akan membawa mereka ke taman bermain begitu aku kembali. Tapi sepertinya aku tidak bisa memenuhi janji itu.” Suguru tersenyum getir.
Satoru terdiam menyimak secara atentif. Dari cara Suguru menceritakan adik-adiknya, Satoru bisa rasakan hangat merambat di setiap nadi. Sepanjang 21 tahun ia hidup, Satoru lebih sering sendiri. Satoru punya banyak teman tetapi tak ada yang benar-benar bisa disebut sebagai sahabat. Pun hubungan Satoru dengan ayahnya tidak dekat. Manakala Satoru pulang ke rumah hanya ada kehampaan yang menunggu. Jauh di lubuk hatinya, Satoru ingin ada lengan yang merengkuh erat menyambut ketika ia pulang.
Ada lebih banyak suara tembakan menyusul.
“Pemain 378 tereliminasi.”
“Pemain 413 tereliminasi.”
“Pemain 015 tereliminasi.”
Satoru kemudian tiba-tiba bangkit berdiri.
(02:02)
“Baiklah, kita tidak punya banyak waktu lagi. Ayo bermain.”
Suguru mengikuti langkah kaki Satoru. Mereka turun dari tangga, belok sedikit dan menemukan sudut kosong. Keduanya berdiri beberapa meter dari dinding.
“Lempar kelereng paling mendekati dinding. Yang menang mengambil semua kelereng yang kalah,” jelas Satoru.
“Oke.” Suguru menyanggupi.
“Kau mulai duluan.”
Tangan Suguru terayun melempar kelereng. Lemparannya terlalu kuat. Kelereng itu memantul dari tembok dan menggelinding menjauh beberapa inci. Suguru lalu mundur dan memberikan tempat untuk Satoru.
Tiba giliran Satoru. Ia merogoh sebutir kelereng dari kantung. Satoru menatap sesaat kelereng di tangannya, menggenggam benda bundar itu dalam kepalan lalu menarik napas.
Dan detik berikutnya Satoru membiarkan kelereng tergelincir dari genggamannya.
“Aku kalah,” ujar Satoru kepada Suguru sambil tersenyum.
Mata Suguru membelalak tidak percaya. Ia mendorong punggung Satoru hingga menabrak tembok bata. Tangannya mencengkram kerah jaket Satoru.
“Apa-apaan ini?! Kau sengaja mengalah? Pungut dan ulangi!” Suguru meninggikan volume suara.
“Tidak bisa. Peraturannya sudah jelas.”
“Kenapa kau melakukan ini?” Tanya Suguru dengan suara bergetar. Gigi bergemelutuk.
“Aku memang ingin kalah. Adik-adikmu menunggumu pulang, bukan? Kau punya janji yang harus kau tepati. Sedangkan aku tidak punya alasan untuk tetap bertahan. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada yang menungguku pulang sepertimu.” Satoru mencoba mempertahankan senyum yang terukir di wajahnya walau napasnya terasa berat.
(00:55)
Perlahan, Suguru melonggarkan cengkraman. Tangannya terkulai lunglai di kedua sisi. Semua yang ingin ia katakan tertahan di pangkal tenggorokan. Satoru memegang pundak Suguru yang sedikit lebih pendek darinya. Satoru memiringkan kepala, meniadakan jarak di antara mereka. Ketika bibir mereka bersentuhan, tidak ada letupan euforia ataupun kupu-kupu berterbangan dalam perut. Ciuman itu terasa asin oleh air mata.
“Sayang sekali kita harus berpisah. Padahal aku ingin mengajakmu berkencan seandainya kita bisa keluar bersama dari sini.”
Satoru menyengir lebar, kontras dengan matanya yang berkaca-kaca. Ibu jarinya menyapu jejak air mata di pipi Suguru.
Salah seorang petugas dengan topeng simbol segitiga menarik Suguru menjauh. Suguru tak melepas pandangannya dari Satoru. Seorang petugas yang lain mengacungkan pistol dekat pelipis Satoru tanpa banyak bicara. Mulut Satoru membuka dan terucap beberapa kata sebelum akhirnya moncong pistol memuntahkan proyektil peluru, menembus tempurung tengkorak. Darah segar menyembur dari lubang di kepala.
Satoru tak merasakan sakit. Semua berlangsung begitu cepat. Tubuhnya ambruk menghantam tanah.
Yang terakhir Satoru ingat sebelum seluruh kesadarannya tertelan gelap adalah Suguru yang memanggil namanya untuk yang pertama kali.
(00:00)
(“SATORU!”)
(“Sampai jumpa di kehidupan berikutnya, Suguru.”)
the end
