Work Text:
Confidante
.
“You came to me, into my heart
As something more than a friend
Next to you, I hid my heart
Hiding, hiding
Behind that ‘friend’ label”
-So Long (Apink)
.
“Hmm begitu, terus terus?”
Jihoon menutup toples gula yang dipegangnya. Mengaduk kopi yang di cangkir, lalu mencicipi sedikit demi sedikit. Sembari menganalisis jika takaran yang digunakan sudah pas, Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar tanpa memutus sambungan telepon. Mendengarkan curhatan sahabatnya yang bernama Jeon Wonwoo.
“Ya gitu deh Ji, kata Mingyu dia langsung mematikan ponselnya setelah menupload snapnya. Tapi ya menurut kamu aja, masa dia sempat kepikiran buat nge-snap tapi buat ngabarin aku malah lupa? Wajar kan kalau aku ngambek?”
Jihoon menutup pintu kamarnya dan meletakkan cangkir kopi di atas meja belajar. Selagi menunggu hangat, Ia duduk di kasur sambil mencerna cerita yang dilontarkan.
“Wajar sih kalau kamu mungkin ngerasa terabaikan, tapi kalo misal mau ngambek jangan lama-lama lah Won, sudah umur delapan belas tahun. Masa putus cuma karena perkara snap ig?”
“Ih siapa bilang putus! Aku cuma bilang ngambek!”
Jihoon menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak, “Oke oke sorry, maksud aku bertengkar.”
“Hmm. Aku memang nggak berencana buat ngambek lama, tapi karena tadi malam chat-ku dianggurin enam jam berarti ntar aku baru bales sehabis tujuh jam”.
Jihoon menepuk jidat. Astaga manusia satu ini, pikirnya. “Terserah saja Won, tapi jangan sampai aku diseret juga ke masalah rumah tangga kalian ya”.
Terdengar kekehan di seberang sana, “Ooo tentu saja tidak. Malah aku nih yang kepingin terlibat masalah rumah tangga kalian. Gimana soal kamu sama Nyong?”.
Alis berkerut, “rumah tangga siapa? Apanya yang gimana?”.
“Ya itu. Masih belum jadian? Nyong nya masih kurang peka? Atau kamu yang kurang agresif?”
“Kenapa kalian suka sekali buat gosip sih? Tidak ada yang kurang peka, tidak ada yang kurang agresif, dan pastinya tidak ada yang jadian”, Jihoon memberikan penekanan pada pernyataan terakhir.
“Yakin? Walaupun jelas-jelas kalian saling suka?” Jihoon berani jamin jika Wonwoo saat ini pasti sedang memasang cengiran jahil khasnya.
Helaan napas panjang dihembuskan. “Kalau mau jodoh-jodohan mending sana ngeship Junhui sama Kak Shua. Vibes mereka sama-sama lucu. Keliatan banget pada malu-malu kucing. Junhui yang timid naksirnya sama Kak Shua yang senyum pepsodent. Siapa yang nembak duluan kira-kira nanti?”.
“Usaha yang bagus Lee Jihoon, tapi belum berhasil mengalihkan perhatianku. Well, kuakui Junpi sama Kak Shua chemistry nya gemes banget. Tapi sekarang kita sedang bicarain soal kamu”. Sial.
Jihoon meniup poninya sendiri. Merasa malas menimpali.
“Padahal kalian tuh ship-able banget tau nggak sih? Bayangin kalian yang sudah bareng dari orok, tetanggaan, malah kamar berhadap-hadapan. Kalau mau ngomong pun nggak perlu lewat ponsel, bisa langsung sahut-sahutan. Kalau aku jadi penulis fanfic sudah kubuat kalian bersatu dan masuk kategori friends to lovers. Malah tiap liat kalian langsung kepikiran MV Taylor Swift yang You Belong With Me itu loh. Tau kan yang mereka komunikasi lewat kertas yang ditulis pakai spidol? Sekarang kamu ngerti kan gimana gregetannya aku tiap ngeliat kalian? Paham kan?”
Jihoon menggaruk tengkuk. Sejak kapan dia jadi secerewet ini? “Kalau itu sih kamunya aja yang hoes-nya genre itu. Jangan pakai aku sama Nyong jadi pelampiasan dong”.
“Yah pokoknya gitu deh. Udah ya Ji, Mingyu mulai chat nih nanti ketauan kalau aku sedang online. Kutunggu kabar baik kamu sama Nyong ya! Bye!” sambungan telepon diputus secara sepihak, bahkan Jihoon belum sempat membalas.
Jihoon melempar ponsel dan meminum kopi yang dibuatnya tadi. Isi kepalanya melayang kesana kemari. MV You Belong With Me, ya? Tentu saja Ia tau. Adegan komunikasi-via-kertas itu sebegitu viralnya di berbagai media social, bahkan sampai dibuat meme. Dan diam-diam Jihoon akui, adegan itu tergolong romantis.
Melepas cangkir dari genggaman, Ia menyibak gorden yang bertengger di jendela. Baru saja dibicarakan. Sosok bernama Kwon Soonyoung itu terlihat tengah berdiri dan meregangkan otot, seperti tengah mengumpulkan nyawa akibat baru bangun tidur. Bed hair nya pun terlihat amat jelas mencuat kesana kemari. Jujur saja, Ia terlihat manis. Ralat, sedikit manis ---di mata Jihoon---.
Soonyoung melanjutkan kegiatannya dengan mengupil. Disappointed, but not surprised.
Sadar ada yang memperhatikan sejak tadi, binar mata Soonyoung langsung terlihat cerah. “UJIIIIII‼‼!” serunya sambil melambaikan tangan. Jihoon hanya melambai singkat sebelum kembali menyibak gorden.
Mengintip sekilas, Ia menangkap sosok Soonyoung yang terlihat kebingungan. Namun orang itu hanya mengangkat bahu sebelum berbalik badan dan tentunya sambil menggaruk perut. Jihoon sudah khatam tentang kebiasaan yang ini.
Terbangun di pagi hari dan langsung bertemu teman masa kecil yang tengah mengupil di beranda? Romantis matamu.
.
“Eh eh kalian sudah dengar kabar?”
Seluruh perhatian tertuju pada Seungkwan. Ciri khas ketika sesi studi kualitatif mengenai hubungan antar manusia ---atau akrabnya disebut ghibah--- sudah mulai dibuka. Seokmin langsung menoleh. Jeonghan ---yang datang untuk cap tiga jari bersama Seungcheol dan Joshua--- menghentikan suapannya. Bahkan Junhui menjeda kegiatannya yang sedari tadi menatap khidmat ke arah ponsel.
“Katanya Kak Seongwoo dan Kak Daniel sudah official”
Semua langsung merespon “Yaelaaahhh” bahkan Joshua yang biasanya berpembawaan tenang. Rasanya seolah gosip yang baru saja dibawa Seungkwan sudah begitu pasaran, bahkan basi.
“Kalau itu sih dari jaman aku dan mereka berdua masih Try Out saja sudah keliatan banget kalau Daniel tuh mepetnya kencang. Malah aneh kalau mereka nggak jadian” sahut Seungcheol.
“Beneran? Aku soalnya tau dari Ibuku. Kan kita rumahnya satu komplek, dan mereka berdua memang temenan dari kecil.”
Jihoon tidak jadi menuang sambal. Siaga satu.
Kali ini ketertarikan kembali muncul dari mereka semua. “Hmmm teman masa kecil ya?” Seokmin mulai menyulut api.
“Kayak siapa gitu ya” Wonwoo ikut memanas-manasi. Joshua hanya tertawa, paham betul maksudnya.
“Tapi emang udah biasa ya kalau temenan dari kecil terus jadian? Maksudku… kayak nggak ada orang lain aja?” Chan ikut menimpali. Sepertinya Ia salah menangkap kode.
“Ya nggak ada masalah. Kan mana tau cara kerja jodoh gimana” Minghao pun ikut bersuara.
“Kakakku juga begitu, tahu. Sudah capek-capek nangisin cowok dari Kalimantan tapi tau nikahnya sama siapa? Anak gang sebelah alias teman masa kecilnya. Literally teman ngambil jambu waktu ngaji di masjid” seru Seungcheol.
Kali ini semua melihat ke arah Jihoon. Bahkan Hansol yang biasanya cuek pun kini memberikan tatapan penuh arti.
“Kalau kakak kita yang satu ini gimana kira-kira?” Mingyu semakin memasang umpan.
Jihoon hanya menghela napas dan bersikap ketus. “Bagaimana bisa orang-orang jadian dengan teman masa kecilnya, ketika yang ada di sekitarku semuanya terlihat seperti iguana”.
Semua langsung menyorakinya, termasuk Joshua yang mengancungkan jempol ke bawah sambil menyerukan “Huuuuu”. Suasana di kantin semakin ramai.
“Apa nih ramai-ramai? Nggak ngajak”.
Jihoon langsung mendengus ketika mendengar suara barusan. Kenapa sih orang ini selalu muncul saat timingnya seperti ini?
Soonyoung langsung mengambil tempat duduk di sebelahnya. Melambaikan tangan ke arah Pak De mi ayam sebagai isyarat bahwa Ia memesan seperti biasa. Kelihatannya Ia baru saja membahas persiapan untuk penampilan menari di acara pentas seni bulan depan.
“Itu kak, kata Kak Jihoon kakak mirip iguana” Oalah Jingan. Bisanya cepu saja tiang satu ini. Soonyoung pun justru meminta penjelasan lebih lanjut dari Mingyu.
“Oooh itu… sebenarnya Uji tuh mau bilang kalau aku ganteng, tapi tau sendirilah tsunderenya dia kayak gimana. Iya kan, Ji?” responnya sambil mengacak-ngacak rambut Jihoon. Iya, Uji yang merupakan panggilan khusus Soonyoung kepadanya seperti Ia yang menjadi satu-satunya manusia yang boleh memanggil Soonyoung dengan sebutan Oci.
Mingyu yang memperhatikan adegan tersebut hanya bersiul. Sirkel mereka sudah seperti template sirkel pada umumnya. Jika ada yang menaruh rasa, maka semua teman yang ada disana akan cepat tanggap kecuali orang yang bersangkutan.
.
“Ji, marathon anime yuk”
Jihoon yang baru menutup pintu nyaris terlonjak saat mendapati Soonyoung yang sudah terduduk santai di beranda. Pasti Ia masuk dengan melompat langsung lewat sana. Mereka memang sudah terbiasa seperti ini.
“Mentang-mentang besok Minggu ya, tapi boleh deh. Anime apa?”
“Malam ini sedang pengen Ano Hana”.
Soonyoung pun mulai mencolokkan flashdisk yang dibawanya ke TV flat yang berada di kamar itu. Jihoon sendiri sedang menyiapkan cemilan berupa taco yang sengaja disimpan untuk saat-saat seperti ini. Tak lupa juga selimut kesayangannya untuk ditaruh di sofa panjang. Anime sudah siap untuk ditonton.
“Hm” seru Soonyoung sambil menunjuk pangkuan Jihoon. Maksudnya mau bobok di pangkuanmu.
“Hm” balas Jihoon lalu menunjuk selimut tadi. Gestur dari nggak bisa. Aku maunya nanti tuh nonton sambil naikin kaki terus selimutan.
Soonyoung pun langsung duduk dan lagi-lagi hanya bergumam “Hm” sembari menunjuk bahunya. Kali ini artinya Yaudah kalau gitu buruan nyender di aku.
Jihoon langsung menurut. Mereka memang selalu begitu, setelah menghabiskan waktu dengan hidup berdampingan selama delapan belas tahun membuatnya langsung memahami maksud satu sama lain tanpa harus mengucapkan langsung. Tetapi jika diperlakukan seperti ini terus bagaimana mungkin jika keduanya bertahan tanpa menaruh rasa?
Entah sudah keberapa kali mereka menonton ulang seri ini, selalu saja berakhir dengan Soonyoung yang menenangkan Jihoon dari menangis akibat adegan di episode paling akhir, dimana hantu teman masa kecil mengatakan ‘Wah… aku ketahuan….’ lalu menangis sebelum akhirnya menghilang dari hadapan teman-temannya.
.
Terdengar bunyi rintik hujan. Jihoon memandangi sepanjang perjalanan menyusuri koridor. Ternyata ramalan cuaca di ponselnya akurat. Awalnya Jihoon tidak percaya karena ini masih bulan Agustus, sedangkan sepengetahuannya musim hujan biasanya diawali dari bulan Oktober, bahkan November. Namun nyatanya volume air yang terus terjatuh menetes membuktikan bahwa pilihannya untuk membawa payung dari rumah memanglah tepat.
Diliriknya arloji yang tersemat di tangan kanan, menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Rapat ekstrakulikuler musik hari ini memang memakan banyak waktu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah untuk bergegas mengambil payung di kelas dan memeriksa seluruh ruangan untuk memastikan apakah regu piket hari ini melaksanakan tugasnya dengan baik ---Ia seksi kebersihan, omong-omong---.
Didorongnya pintu kelas bertuliskan 12 IPA 7 tersebut.
“…Oci?”
Tampak teman masa kecilnya tengah asyik bermain dengan ponselnya, mungkin streaming dengan memanfaatkan Wi-Fi sekolahnya. Ia duduk di atas meja dan kakinya diletakkan di atas kursi. Tentu saja ciri khas Kwon Soonyoung.
“Oit!” sahutnya.
“Kenapa belum pulang? Bukannya katamu rapat menari untuk pentas seni selesainya pukul empat?”
“Hehehe… Menunggumu pulang?”
Jihoon memberinya tatapan curiga. “Bukannya tadi kita sama-sama bawa payung?”
“Dipinjam Mingyu buat pulang bareng Wonwoo. Tau kan kalau Wonwoo paling tak tahan hawa dingin? Jadi boleh ya, nebeng? Yayaya?” pintanya sambal melompat turun dan melangkah menuju Jihoon.
Yang diminta hanya menghela napas namun mengiyakan. Terlebih dahulu Ia mengamati seisi ruang kelas, tak ada tanda-tanda debu atau sampah tersisa. Berarti Ia sudah boleh pulang.
Jihoon pun mengambil payung yang ditaruhnya di sebelah kursi tempat duduknya, sebelum menyerahkannya ke temannya.
“Kamu yang pegang, ya?”
“Beres. Makasi Ujiku~~~”. Dilihat-lihat lemes juga tuh mulut.
Namun yang namanya Kwon Soonyoung tak akan terlepas dari impulsivitasnya. Dan tentu saja seorang Lee Jihoon akan tetap suka.
.
Riuh keramaian. Sesuatu yang tak terlalu digemari Jihoon. Alasannya bersedia mendatangi Pasar Malam ini tak lain dan tak bukan adalah agar bisa berkumpul bersama squadnya, termasuk trio Seungcheol-Jeonghan-Joshua. Oh tapi tentu saja Ia harus dibujuk terlebih dahulu oleh Oci-nya.
Mereka sudah janjian untuk berkumpul di dekat pusat pertunjukan kembang api. Saat ini mereka masih berpencar kesana kemari, alasannya agar bisa menyiapkan kudapan untuk disantap saat menonton pertunjukan tersebut. Ada yang ke tempat takoyaki, ada yang ke tempat yakisoba, ada yang ke tempat permen kapas, bahkan kelompok Seungkwan-Hansol-Chan malah berbelok ke tempat penjual topeng. Jihoon pun saat ini tengah menemani Soonyoung mengantre untuk permainan berburu ikan.
“Ayo Ji, mau kutangkapin berapa? Sebut jumlah!” pinta Soonyoung sambil memegang jaringnya dan berseru mantap.
“Berapa saja yang penting cepat dan dapat” jawabnya.
“Sip” balas Soonyoung sambil bersiap-siap.
“Soonyoung? Itu kamu, kan?” terdengar suara dari belakang.
Keduanya menoleh, mendapati gadis cantik bertubuh jangkung sedang menatap antusias ke arah mereka. Gadis itu bernama Choi Yuna, partner menari Soonyoung saat pentas seni minggu lalu.
“Halo Yuna! Mau nangkap ikan juga?” sahut Soonyoung ramah.
“Jelas dong. Mau kuberikan ke kak Yerin”.
“Emang kamu bisa?”
“Harusnya aku yang tanya itu. Yakin kamu bisa tangkap ikannya?” Yuna ikut memprovokasi balik.
“Wah wah wah berani-beraninya menantang seorang Bang Nyongi. Kalau gitu ayo kita bertanding!”
Yuna pun langsung mengambil posisi dan terdengar sorak sorai pengunjung lain yang juga mengantre, khususnya anak-anak. Namun Jihoon tidak mengikuti.
Tiba-tiba Ia merasa terabaikan. Ia tahu betul kalau keduanya tidak punya hubungan khusus, bahkan Yuna jelas-jelas sedang didekati kakak kelas alumni SMA mereka yang bernama Kak Minhyuk. Tapi tetap saja Jihoon merasa sedikit terluka melihat kedekatan mereka.
Tanpa sadar, Jihoon meninggalkan tempat itu dan bergegas menuju tempat berkumpul teman-temannya.
.
Dari kejauhan terdengar teman-temannya yang tengah asyik bernyanyi bersama, diiringi alunan gitar Joshua yang entah dibawa sejak kapan. Yang dilakukan mereka saat ini tidak termasuk mengganggu kerumunan, karena memang harmonisasi mereka terdengar merdu. Justru kelompok itu terlihat seperti grup penyanyi akustik yang disewa sebelum acara puncak kembang api diluncurkan.
“Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin semua takdir Tuhan”
Jihoon mengambil tempat di sebelah Minghao. Teman-temannya langsung menoleh dengan sedikit terkejut, seakan mengatakan secara tidak langsung kalau lagu yang mereka nyanyikan tadi sangatlah sinkron dengan yang Jihoon alami saat ini.
“Maafkan summer cinta ini
Meskipun hanya teman, trasa sedih
Hanya angin laut yang sejak dari dulu bertiup menujumu
Maafkan summer”
Tiba-tiba mereka melakukan medley lagu. Kelihatannya ini sudah direncanakan.
“Bisa ganti lagunya, tidak?” ucap Jihoon sinis.
“Ganti lagu katanya Kwan” seru Seokmin.
“Yaudah guys kalau gitu kita ganti pakai yang itu aja” balas Seungkwan.
“Entah mengapa ku tiba tiba
Tidak tahan berada di sana
Bagaikan aku tlah jatuh cinta pada dirimu”
Seungkwan memulai lagu baru. Joshua langsung mengganti irama gitarnya.
“Kembang api itu sangatlah menyedihkan
Berlangsung sebentar
Cahaya indah itu hanya masa lalu sesaat
Kembang api itu sangatlah menyedihkan
Di langit yang jauh
Bunga yang mekar pun menghilang dalam keheningan”
Teman-temannya kembali bernyanyi bersama. Jihoon tahu betul lanjutan dari bait lagu ini.
“Pura pura tidak menyadari rasa sayang
Yang ada di lubuk hati
Hanya teman saja, begitu pikirku
Kaupun terlihat semakin jauh, jealousy”
Emang setan. Teman-temannya hanya tertawa renyah. Seokmin memegang botol air mineral, memperlakukannya seolah sedang memegang mikrofon.
“Saudara Jihoon kenapa? Ada komentar?”
“Kalian sengaja kan?” serunya ketus.
“Hiya hiya hiya, kenapa kak? Terpelatuk?” kali ini Mingyu yang menyahut.
“Nggak ada”, jawab Jihoon.
“Apanya yang nggak ada?”
“Otakmu. Nggak ada.”
Lagi-lagi semua menggodanya. Tiba-tiba, kembang api meluncur satu demi satu. Pertunjukan telah dimulai.
.
“Waah” ucap Chan takjub.
“Indah banget” seru Jeonghan.
“Romantis…” kali ini Joshua yang berucap.
“Buat beginian ngabisin biaya berapa ya?”
“Kak Junhui tolong jangan rusak suasana lah” kata Seungkwan.
Sedangkan Jihoon tak mengucapkan apapun. Ia sedikit merasa pahit karena tak dapat melihat momen tadi bersama dengan Soonyoung.
“Uji, aku mau ngomong sama kamu”
Pria bertubuh kecil itu nyaris terjungkal. Sama sekali tak menyangka kalau orang yang baru saja dipikirkan saat ini sudah berdiri di belakangnya. Tangan kanannya menyembunyikan sesuatu. Dan yang lebih penting, sejak kapan sahabatnya itu berada disana?
“Ngomong aja.”
“Maunya cuma berdua. Teman-teman, aku pinjam Uji bentar ya” izin Soonyoung ke squadnya,
“Bawa aja Nyong” “Tukar tambah juga gapapa” “Bukannya dia punya kamu?” gengnya menyahut dengan berbagai kalimat. Bahkan Seokmin mengatakan “Hmmm PJ Takoyaki kayaknya enak nggak sih?”
Mereka pun meninggalkan sekelompok remaja tadi, dengan Jihoon yang berjalan mendahului Soonyoung.
.
“Jadi mau ngomong apa?” Jihoon menunggu hampir lima menit, namun Soonyoung tetap diam.
“Tunggu, sedang mempersiapkan mental”.
Saat ini keduanya tengah berdiri di dekat pohon manga yang masih di area tadi. Tidak angker, karena di atasnya ditaruhkan lampion yang berpijar indah.
Soonyoung tiba-tiba menggenggam erat tangan Jihoon, untuk diletakkan di dadanya. Jihoon merasakan debaran jantung yang luar biasa kencang.
“Deg degan banget Ji, sumpah. Kerasa kan ya?”
Jihoon yang seakan sadar mengenai apa yang hendak disampaikan, langsung menundukkan kepala. Ia yakin wajahnya memerah saat ini.
Teman kecil di hadapannya menghembuskan napas dengan kencang. Setelah itu, diberikannya sebuah benda yang disembunyikannya sejak tadi. Permen apel yang disatukan dengan lelehan caramel.
“Ringo ame?” Tanya Jihoon, menyebut nama benda itu.
“Tau kan bentuk ringo ame ini kayak apa?”
“Ya kayak apel?”
“Ih, bukan itu. Coba lihat warnanya merah menyala begini. Dan bagian bawahnya agak melengkung. Jadi kayak hati nggak sih?”
“Aku sama sekali tak pernah mikir begini. Tapi karena kamu bilang gitu, sekarang aku lihatnya jadi beneran kayak hati.”
“Umm…” sekali lagi dijulurkannya benda itu tepat di hadapannya. “Kalau aku kasi ini ke kamu, kamu bakal jawab apa?”
“….gimana?”
“Jadi gini. Ini kan ringo ame, bentuknya hati. Aku kasi kamu. Ibarat aku sedang nawarin hati aku, kamu mau nerima nggak?”
Jihoon semakin tidak paham. Saraf-saraf neuronnya terlihat sulit menerima impuls yang baru saja diberikan.
“Maksudnya aku suka sama kamu Ji, dari lama. Mau pacaran?” kali ini teman kecilnya mengungkapkannya dengan amat sangat jelas.
Jihoon pun tertawa. Sedari tadi sudah menebak kalau Ia akan mendapatkan pernyataan cinta. Tapi dengan cara ini? Benar-benar di luar perkiraannya. Cara nembak yang sungguh tipikal Kwon Soonyoung. Tapi inilah yang disukainya dari sahabatnya itu.
Sedangkan yang ditertawakan hanya bisa bengong.
“Kamu mau kujawab sekarang?”
Jihoon mengambil ringo ame tadi dan diberikannya kembali ke Soonyoung.
Orang yang dipanggil Oci tadi langsung merosot. Wajahnya berubah seputih kertas.
“Tidak mungkin…”
Pikirannya seperti melayang entah kemana. Jihoon melambai-lambaikan tangan di hadapannya.
‘Ci? Kamu kenapa?”
“Aku… ditolak…” Soonyoung terlihat seperti akan menangis.
“HAH?”
Soonyoung langsung panik. “Itu kan maksudnya, Ji? Kamu balikin permennya ke aku karena itu artinya kamu nggak mau terima hati aku? HUHUHUHU” tiba-tiba histeris sendiri.
Jihoon menepuk jidat. Harus diapakan lagi temannya yang satu ini.
Soonyoung masih terduduk lemas. Jihoon ikut mendudukkan badannya, sebelum mendekatkan wajahnya.
Kecupan di pipi.
“Sekarang paham? Kan tadi kamu yang bilang kalua ringo ame itu ibarat hati. Berarti tadi aku sedang ngasi hati aku ke kamu juga. Jangan ribetin diri sendiri dong!”
“…Jadi kita sekarang pacaran?”
“…Mungkin”
“ASIK PACARAN‼!” Soonyoung langsung berdiri dan memeluk erat Jihoon, begitu eratnya sampai melewati tinggi badan yang bertubuh pendek.
“OCI BURUAN LEPASIN ATAU KUJAMBAK”
.
Kini, kedua remaja yang bersahabat sejak kecil itu berjalan menjauhi pasar malam dengan jari jemari yang saling bertautan. Benar, mereka memilih untuk meninggalkan teman-temannya tadi agar segera pulang. Tentu saja artinya tidak ada pajak takoyaki untuk Lee Seokmin.
“Kamu pernah berpikir soal kita yang jadi lebih dari teman nggak Ji?”
“Maksudnya?”
“Yah… Kayaknya semua liat kita kayak gitu. Aku pun mikir kita bakal cocok kalo sampai ngebentuk hubungan khusus. Kalau kamu? Pernah mikirin soal kita yang jadi lebih dari sekedar teman?”
Jihoon membalas tatapan Soonyoung. Memberikan senyum termanisnya dan semakin mengeratkan genggamannya.
“Selalu, Ci. Selalu.”
-END-
.
Epilogue
“Tapi Ji kamu yakin mau pacaran sama aku?”
“Maksud kamu?”
“Ya itu… emang gapapa?”
“Apanya yang gapapa?”
“Kan aku temen masa kecil kamu. Kalau kita jadian berarti kamu pacaran sama iguana?”
Cubitan diberikan Jihoon ke Soonyoung. Yang dipanggil Oci mengaduh kesakitan.
“Kamu tau itu aku bilangnya nggak serius, kan?”
“Iya kan? Sudah kuduga. Soalnya kan aku tuh macan.”
“Kita putus aja gimana?”
Soonyoung pun memohon ampun secepat kilat.
.
“I’ve made it obvious
So finally I said it
I’m not so good with words
Since you never notice the way that we belong
I’ll say it in this love song”
-Obvious (Westlife)
