Actions

Work Header

Sparks & Opened Doors

Summary:

“Halo? Ada orang di dalam?”

Mendengar suara orang itu, Wonwoo rasanya ingin segera keluar dan memeluknya karena telah berhasil menemukannya terjebak di dalam kotak ini.

“Ada!!! Ada!! Tolongin saya, mas! Dari tadi mau buka, ga bisa-bisa.”

“Okay, bentar ya mas.”

Terjebak di dalam toilet portable pada saat konser tidak pernah ada dalam bayangan Wonwoo sebelumnya. Berhasilkah ia keluar dari sana? Dan siapakah dewa penolongnya?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Weekdays bagi Wonwoo adalah berangkat sepagi mungkin sebelum jalanan dipenuhi oleh kendaraan yang berisi anak-anak sekolah karena terlambat sedikit saja, perjalanan Wonwoo ke kantor bisa jadi satu jam lebih lama. Apalagi hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru. Sudah pasti banyak orang tua yang dengan antusias dan bangga, mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah.

 

Hari ini, Wonwoo sudah parkir dengan rapi di spot langganannya, di basement 1, satu setengah jam sebelum jam kantor mulai. Wonwoo yang masih duduk di belakang kemudinya, termenung. Ia butuh sekali suntikan kafein karena semalam terlalu asyik bermain game sampai lupa waktu. Setelah mengumpulkan energi yang tersisa, Wonwoo segera beranjak berburu kopi.

 

Coffee shop langganannya itu adalah bangunan kecil di dalam kompleks perkantorannya yang terpisah dari bangunan utama. Dari luar, tempat itu sekilas terlihat biasa saja tetapi suasana di dalamnya bisa membuat orang lupa bahwa mereka masih berada di dalam area perkantoran.

 

Sambil bersenandung, Wonwoo berbelok menaiki tangga yang terletak di samping coffee shop dan terkejut ketika sampai di depan pintunya karena ternyata masih tutup.

 

Astaga, jam berapa ini? Lupa gue kalo masih belum buka.

 

Kepalanya menengok ke kiri dan kanan sambil berharap ada salah satu baristanya yang sudah datang tetapi hasilnya nihil. Sempat terpikir untuk duduk di smoking area namun itu pun tidak bisa dilakukannya karena aksesnya dikunci. Pada akhirnya, Wonwoo memutuskan untuk naik sebentar ke kantornya di lantai 20 daripada berdiri bengong di depan pintunya.

 

‘Anggep aja workout,’ pikirnya.



*・*・*



Tiga puluh menit berlalu dan Wonwoo sudah sampai kembali di ground floor. Alih-alih keluar lewat lobby, ia keluar lewat pintu darurat. Sebetulnya pihak manajemen gedung sudah melarang para tenant untuk keluar melalui pintu darurat. Namun memang masih ada yang nakal seperti Wonwoo itu.

 

Memasuki coffee shop, Wonwoo langsung disambut dengan ramah. Tampaknya ia adalah pelanggan pertama pagi itu. Tak lama, Wonwoo keluar sambil membawa kantong kertas berisi grilled chicken panini & iced americano. Kali ini, ia masuk melalui lobby utama karena pintu darurat tidak bisa dibuka dari luar. Melewati mesin x-ray tidak menjadi masalah. Problem selanjutnya adalah melewati flap barrier. Wonwoo lupa bahwa untuk melewatinya harus menggunakan kartu akses dan kartu akses miliknya tertinggal di meja kerjanya di atas.

 

Great, Wonwoo! Now what? Lo sih pake ngelepas kartu akses tadi.

 

Wonwoo mulai celingukan mencari petugas security tetapi tiba-tiba seseorang menggunakan kartu aksesnya di flap barrier yang berada persis di depan Wonwoo. Merasa menghalangi orang lewat, ia meminta maaf dan mulai beranjak menjauh. Saat itulah pundaknya ditepuk dan seseorang berkata, “Silahkan, mas.”

 

Wonwoo menengok ke belakangnya dan melihat seorang lelaki tinggi tersenyum sambil mempersilahkan Wonwoo untuk lewat. Namun karena otaknya masih belum sinkron dengan situasi saat itu, Wonwoo hanya berdiri diam dengan heran.

 

Maksudnya dia nyuruh gue masuk gitu? Terus dia masuk pake apa?

 

Entah berapa menit berlalu dan lelaki itu masih berdiri dengan gesture seperti waiter sambil tersenyum. Wonwoo sendiri masih berusaha menginterpretasikan apa maksud perkataannya tadi sehingga flap barrier yang semula terbuka, akhirnya menutup kembali dan mesin tersebut mengeluarkan bunyi beep yang cukup nyaring. Si lelaki tinggi tampak panik dan berusaha membukanya kembali dengan menempelkan kartu aksesnya di mesin tersebut tetapi flap barrier-nya tetap tidak mau terbuka.

 

Di saat itulah, petugas security datang dan membantu mereka. Ia meminjam kartu akses si lelaki tinggi dan berjalan ke flap barrier yang paling pinggir. Setelah menempelkan kartunya di sisi sebelah dalam, ia menjulurkan tangannya melewati sensor mesin tersebut, seolah-olah dilewati orang. Kemudian ia menjelaskan bahwa mereka bisa melakukan metode itu apabila hal yang sama terjadi. 

 

“Tapi satu kartu akses hanya bisa digunakan oleh satu orang ya, Pak. Tidak bisa untuk berdua.”

 

“Iya, maaf, pak. Tadi saya melihat mas ini kebingungan, jadi otomatis saya tolong.”

 

Wonwoo sempat berpikir lelaki tinggi ini suka ikut campur urusan orang tetapi ia diam saja dan berkata, “Oh, nggak papa sih, mas, karena saya tadi juga mau cari petugas security.”

 

“Tapi saya tadi di belakang mas, jadi ya….”

 

Wonwoo tersenyum kecil, “Iya, nggak papa. Thanks anyway.”

 

Si lelaki tinggi tersenyum balik, menampilkan gigi taringnya yang entah kenapa membuatnya terlihat menawan. Ia seperti akan menambahkan sesuatu ketika tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Si lelaki terkejut dan meminta maaf kepada Wonwoo.

 

“Sorry, mas, saya lupa harusnya berangkat dari tadi buat morning briefing di kantor pusat. Mari, mas.”

 

Dan ia melambaikan tangannya sambil berlari keluar lobby, meninggalkan Wonwoo memandangi punggungnya sampai ia tertutup kerumunan para pegawai lain yang akan masuk lobby kantor. Tadinya Wonwoo ingin membalas lambaian tangannya tetapi kedua tangan Wonwoo sudah penuh dengan sarapan paginya sehingga yang ia lakukan hanyalah mengangguk.

 

Wonwoo tidak dapat berhenti memikirkan lelaki itu, bahkan ketika ia sudah duduk kembali di meja kerjanya.

 

Jadi, dia tadi bukannya langsung pergi meeting, malah repot-repot mo nolongin gue? Orang aneh. Haha...Tapi...dia kerja di lantai berapa ya?



*・*・*



Dua minggu berlalu dan Wonwoo tidak pernah bertemu dengannya lagi di lingkungan kantornya. Ia penasaran sebenarnya tetapi entah kenapa ia menahan diri untuk tidak bertanya ke petugas security yang terakhir kali menolong mereka. 

 

Namun, walaupun Wonwoo berusaha menahan diri, secara tidak sadar, ia selalu mencari wajah lelaki itu setiap kali melewati area lobby yang ramai atau coffee shop langganannya.

 

Aneh memang, lelaki itu seperti hilang ditelan bumi. Berbagai macam pertanyaan kemudian muncul di benak Wonwoo.

 

Apa dia pindah kantor ke head office?

 

Atau mungkin resign?

 

Atau mungkin dia malu bertemu Wonwoo lagi setelah insiden itu?

 

Seiring waktu berlalu, Wonwoo berhenti berharap menjumpai lelaki itu lagi. Ia lalu menyimpan pertemuan unik mereka di dalam kotak memorinya dan melanjutkan kegiatan sehari-harinya, tanpa menyadari bahwa lelaki itu telah menyalakan kembali api kecil di dalam dada Wonwoo yang selama ini meredup.



*・*・*



Saat ini, Wonwoo tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana dia sangat membenci teman-temannya, Soonyoung dan Jihoon. Jangan salah, ia sebenarnya sayang kepada kedua temannya itu. Tetapi, bila ia melihat muka mereka berdua sekarang, sudah pasti, ia akan menghajar mereka sampai babak belur karena tidak menjawab teleponnya atau message-nya sama sekali. Bagaimana mungkin Wonwoo menghilang cukup lama tapi tidak ada yang berusaha mencari atau menghubunginya?

 

Kejadiannya bermula ketika festival musik tahunan yang mereka tunggu-tunggu akhirnya terlihat hilalnya. Tanpa pikir panjang dan setelah berbulan-bulan ‘menikmati’ menjadi budak korporat tanpa libur, mereka bertiga memutuskan untuk mengambil cuti bersama demi datang ke festival musik tersebut. Dan di hari Jumat yang cerah, berangkatlah mereka bertiga ke venue festival itu.

 

Setelah mendarat dan makan siang, mereka semua menyewa satu mobil dan langsung menuju resort tempat mereka menginap selama seminggu untuk menaruh barang-barang. Villa yang dipilih Jihoon benar-benar di luar ekspektasi. Siapa yang menyangka dengan harga yang cukup murah, mereka sudah bisa menyewa satu villa bertingkat yang berisi tiga kamar dan memiliki pemandangan langsung ke private beach resort tersebut. 

 

Begitu sampai di sana, mereka menjelajahi setiap sudut villa dan mengklaim kamar masing-masing. Wonwoo sangat puas dengan posisi kamarnya yang menghadap private beach. Sambil unpacking, ia tak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan indah itu dan berencana menghabiskan waktu di balkon sebelah kamarnya sebelum mereka bersiap-siap untuk berangkat ke venue

 

Balkon luas yang dilihat Wonwoo sebelum masuk ke kamarnya itu terletak di antara dua kamar. Railingnya terbuat dari baja dan pemandangannya menghadap private beach persis seperti kamar Wonwoo. Di setiap sudut balkon tersebut dihiasi oleh beberapa tanaman hias. Beberapa kursi malas lengkap dengan parasol dan sofa yang tampaknya nyaman untuk berjemur, juga tersebar di balkon itu. Tak lupa, sebuah meja makan diletakkan persis di sebelah alat pemanggang. 

 

Dengan santai, Wonwoo berjalan menuju pintu balkon tetapi ketika kakinya baru menyentuh lantai balkon, ia langsung cepat-cepat membalikkan badannya dan masuk ke dalam lagi. Jihoon dan Soonyoung sedang berduaan, dan momen tersebut melibatkan bibir, lidah dan tangan yang saling meraih, mencengkram dan lain sebagainya yang Wonwoo tidak ingin melihat kedua temannya melakukan dengan jelas. Ia tidak ingin trauma untuk kesekian kalinya.

 

Pergi sendiri bersama couple lain memang ada plus minusnya. Plusnya Wonwoo dapat melakukan apapun yang dia mau tetapi minusnya ya seperti kejadian yang baru saja terjadi. Akhirnya Wonwoo pasrah dan memberi mereka waktu menikmati balkon untuk saat ini. Ia masih punya banyak waktu beberapa hari ke depan untuk menikmatinya. Sebelum berjalan kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk acara nanti malam, perutnya tiba-tiba keroncongan, sehingga ia pergi ke dapur dan mulai mencari snack.

 

Tak lama, couple itu masuk lagi dengan rambut dan baju yang acak-acakan dan Wonwoo dengan santainya bertanya, “Udah cipokannya?”

 

Raut wajah keduanya yang memerah dan sikap mereka yang kikuk menjadi reward terbaik untuk Wonwoo sore itu. 



*・*・*



Yang namanya festival musik sudah pasti akan ramai. Seharusnya mereka sudah tahu itu. Apalagi festival annual kali ini berlangsung selama tiga hari (untungnya tidak non stop, jadi mereka bisa istirahat dari pagi sampai sore). Seperti biasa, area festivalnya dibagi menjadi tiga panggung; satu panggung utama outdoor dan dua panggung indoor dengan nuansa musik yang berbeda-beda per panggungnya.

 

Tempat pertama yang mereka datangi adalah panggung outdoor. Wonwoo, Soonyoung dan Jihoon berdiri persis di pagar pembatas bagian tengah, di samping extended stage nya agar bisa melihat penampilan setiap musisi dengan jelas dan tidak terganggu orang lain. Tetapi tetap saja, biarpun mereka sudah berdiri di paling pinggir, berkali-kali mereka terganggu oleh orang-orang lewat yang berusaha maju mendekati barisan depan panggung.

 

Satu, dua kali, tidak masalah. Tetapi setiap Wonwoo mulai menikmati musiknya, ada saja yang lewat lagi dan terkadang nyempil di antara mereka sehingga konsentrasi Wonwoo berkali-kali buyar. Soonyoung bahkan sampai melingkarkan kedua lengannya di atas pundak Jihoon dan memeluknya dari belakang. Takut dia kebawa arus, katanya. Padahal baik Wonwoo maupun Jihoon tahu, itu hanya alasannya untuk bisa PDA di tempat ramai. 

 

Dua setengah jam kemudian, mereka mulai merasa lapar dan haus dan memutuskan untuk pergi ke area makan. Untungnya antriannya tidak panjang sehingga mereka bisa bebas memilih makanan yang mereka mau tanpa menunggu lama. Sambil melihat-lihat menu yang terpampang di atas stand nya, mereka bertiga saling berbisik membicarakan betapa tidak masuk akalnya harga makanan dan minuman tersebut.

 

“Anjir, masa teh kemasan favorite gue harganya kaya kopi mahal yang suka lo beli itu, Won? Biasanya juga cuma 5 ribu.”

 

“Namanya juga festival musik, nyong. Apa-apa pasti dibikin overpriced.”

 

“Dahlah, kalo laper banget, beli cemilan aja. Ntar abis dari sini, kita cari makan di luar.”

 

Dan pasangan itu mengiyakan saran Wonwoo. Puas dengan pilihan mereka masing-masing, mereka bertiga mencari meja yang kosong dan mulai mengisi perut mereka. Sayup-sayup terdengar suara musik yang berbeda dari tiga arah. Venue juga mulai semakin ramai seiring naiknya posisi bulan sabit di atas langit malam yang cerah dan tidak berawan. Untungnya tidak ada tanda-tanda hujan, jadi mereka semua bisa menikmati suasana festival tanpa perlu merasa khawatir.

 

“Habis ini mo kemana?” Jihoon membaca schedule konser di handphonenya.

 

“Cari di indoor deh, yang, ada siapa aja habis ini. Aku mulai kepanasan nih. Lumayan sambil ngadem.”

 

Sementara pasangan itu berdebat memilih stage berikutnya, Wonwoo pamit pergi ke toilet. Sayangnya beberapa toilet yang terdapat di dalam gedungnya penuh dan antriannya panjang sehingga setelah keliling, ia terpaksa memakai toilet portable yang letaknya agak jauh dari keramaian. 

 

Tidak banyak orang di sekitar situ dan ia merasa beruntung karena tidak ada yang mengantre. Begitu membuka pintu, Wonwoo juga bersyukur karena tidak ada bau-bau aneh di dalamnya. Namun ia sempat bergulat dengan pintunya yang ternyata tidak bisa menutup dengan sempurna. Frustasi karena merasa sudah di ujung tanduk, ia menarik pintunya dengan keras dan dengan lega, mulai mengosongkan bladder-nya. 

 

Setelah selesai, Wonwoo mencoba membuka pintunya tetapi tidak bisa. Berkali-kali ia memutar kenop dan mendorong pintunya tetapi pintunya tetap tidak bergeming.

 

Shit, gue stuck.”

 

Ia menggedor-gedor pintunya dari dalam dan berteriak minta tolong tetapi yang ia dengar hanya suara musik yang kencang dari luar. Menelpon kedua temannya berkali-kali pun tidak berhasil. Ia baru teringat, sinyal di setiap konser kadang bagus, kadang jelek. Apalagi kalau couple itu ditinggal sendiri, dunia hanya milik berdua, jadi belum tentu juga mereka memperhatikan handphone. Wonwoo menertawakan dirinya sendiri. Bisa-bisanya terjebak di toilet portable seorang diri, di tengah-tengah konser. Dan karena tidak ada satupun temannya yang mengangkat telepon, dengan kesal, ia mengetik pesan dan mengirimnya ke group chat mereka bertiga.

 

Kalau gue sampe mati di dalam toilet portable ini, gue gentayangin lo berdua seumur hidup!

 

Semoga saja, seseorang membaca pesannya di group chat itu. Sembari menunggu jawaban dari mereka berdua, Wonwoo kembali berusaha membuka pintunya dari dalam dengan mendorong pintunya sambil berteriak minta tolong. 

 

Lama-lama kalau gue dorong terus, ini kotak bisa ngguling. Trus ntar muncul artikel: JWW, karyawan (29 th) tewas mengenaskan di dalam toilet portable yang terguling. Ia terperangkap di dalam toilet itu semalaman dan baru ditemukan keesokan harinya. Para sahabatnya KS (29 th) dan LJ (29 th) tidak menyadari status menghilangnya JWW karena terlalu asyik membucin. 

 

Setengah tertawa dan setengah merasa miris, Wonwoo tidak mau mengambil risiko itu apabila benar terjadi. Ia akhirnya berhenti karena tenggorokannya terasa serak dan energinya sudah mulai terkuras habis.  Ia berkacak pinggang sambil memandangi pintu, memikirkan cara lain untuk keluar dari situ. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintunya dari luar dan hampir membuat Wonwoo jatuh ke belakang karena terkejut.

 

“Halo? Ada orang di dalam?”

 

Mendengar suara orang itu, Wonwoo rasanya ingin segera keluar dan memeluknya karena telah berhasil menemukannya terjebak di dalam kotak ini.

 

“Ada!!! Ada!! Tolongin saya, mas! Dari tadi mau buka, nggak bisa-bisa.”

 

“Okay, bentar ya, mas.”



*・*・*



Rasanya sudah seperti berjam-jam yang lalu sejak Wonwoo terakhir kali menghirup udara segar. Dengan dibantu orang asing yang sempat Wonwoo kira adalah petugas security, Wonwoo akhirnya berhasil keluar. Dan terkejutlah ia karena wajah pertama yang dilihatnya ketika pintu toilet portable itu terbuka ternyata adalah seseorang yang sudah tidak asing lagi. Bagaimana mungkin lelaki yang sebelumnya terbayang-bayang di benaknya tiba-tiba muncul persis di depan mukanya? 

 

“Lho? Mas yang di kantor waktu itu kan?” tanya si lelaki bertubuh tinggi itu sambil tersenyum penuh tanda tanya.

 

Wonwoo hanya bisa menyeringai malu. Sudah pasti penampilannya tidak karuan karena bajunya sangat basah dan bau oleh keringat. Terjebak di dalam toilet portable selama hampir setengah jam tanpa sirkulasi udara yang memadai dan dalam keadaan panik tentu saja membuat keringatnya mengucur deras. Ia juga merasa rambutnya sudah tidak berbentuk; sebagian menempel di dahinya, sebagian mencuat kemana-mana. Karena Wonwoo terlihat seperti tidak bereaksi, lelaki itu lalu melambaikan tangannya di depan wajah Wonwoo.

 

“Mas? Mas nggak papa? Dehidrasi nggak?”

 

Wonwoo merasa ia menggelengkan kepalanya padahal kenyataannya ia menganggukkannya. 

 

Aneh banget. Lagi-lagi otak gue nggak sinkron gini pas ketemu dia.

 

“Perlu saya panggilkan petugas medis, nggak?”

 

Kali ini Wonwoo menggelengkan kepalanya. Lelaki itu terlihat khawatir tetapi akhirnya berkata, “Ya udah. Tapi nanti kalau ngerasa aneh, kita ke ruang medis ya.”

 

Setelah itu, dengan perlahan, Wonwoo dituntun ke tempat duduk terdekat dan disuruh untuk menunggu disitu. Tak lama, lelaki itu kembali lagi dengan membawa beberapa air kemasan dan pocari.

 

“Banyak banget, mas,” protes Wonwoo.

 

“Nggak papa. Ada yang buat saya juga kok.”

 

Wonwoo tersenyum dan mengangguk, “Thank you ya, harusnya nggak usah repot-repot, mas….”

 

“Mingyu. Saya Kim Mingyu. Dan mas?”

 

Wonwoo yang sedang menenggak air putihnya, cepat-cepat menelan dan menjawab, “Jeon Wonwoo. Makasih lagi ya, mas, udah nolongin saya tadi. Saya udah hampir pasrah kalau nggak ada yang denger saya disitu.”

 

“Nggak papa, mas Wonwoo. Saya tadi kebetulan pas lewat terus denger ada suara orang teriak. Nggak nyangka ternyata mas Wonwoo,” ucapnya sambil tersenyum lebar.

 

Jantung Wonwoo mulai berdebar kencang dan ia meminum airnya lagi untuk mengalihkan pikirannya. 

 

“Jadi, gimana ceritanya bisa tiba-tiba ada di toilet itu?”

Wonwoo lalu menceritakan pengalamannya kepada Mingyu dan dari situ, pembicaraan mereka menjalar kemana-mana sampai mereka lupa waktu karena keasyikan mengobrol. Cara berbicara mereka pun akhirnya menjadi less formal.

 

Rupanya Mingyu bekerja di perusahaan promotor yang menyelenggarakan festival musik ini dan setelah pertemuan mereka yang terakhir tempo hari, ia bersama timnya terbang ke venue untuk membantu mempersiapkan eventnya. 

 

Saat Wonwoo sedang antusias menceritakan pengalaman konsernya tahun lalu yang juga diselenggarakan oleh kantor Mingyu, tiba-tiba terdengar suara Jihoon memanggil-manggil namanya. Dari jarak yang cukup jauh, Jihoon dan Soonyoung tampak panik dan mempercepat lari mereka. Begitu sampai di depan Wonwoo yang masih duduk, Soonyoung langsung meminta maaf.

 

“Won, sorry banget yaaaa, kita nggak nyadar lo kirim pesen ke grup dan miscall berkali-kali. Lo gimana? Nggak papa?”

 

Wonwoo langsung memasang muka kesal, “Menurut lo?”

 

Jihoon dengan muka khawatir menambahkan, “Sorry banget, Won. Gue tadi ngira lo lama karena ngantre banget. Gue sempet liat ke arah toilet yang deket area makan udah kaya ular antreannya.”

 

Sebenarnya Wonwoo sudah tidak marah lagi dan hal ini berkat keberadaan Mingyu. Ia juga sadar tidak bisa menyalahkan teman-temannya sepenuhnya atas kejadian yang ia alami karena pergi ke toilet portable itu murni keputusannya sendiri. Tetapi sifat jahil Wonwoo muncul. Ia terdiam, masih berpura-pura marah, dan memandangi mereka satu per satu. Melihat wajah kedua temannya itu sudah penuh rasa penyesalan, Wonwoo akhirnya luluh dan perlahan tersenyum jahil. Namun sebelum Wonwoo sempat berkata sesuatu, Mingyu sudah berbicara duluan.

 

“Tenang, mas. Tadi saya yang bantu mas Wonwoo keluar dari sana,” ujar Mingyu.

 

Si couple otomatis menengok ke arah Mingyu secara bersamaan. Rupanya mereka tidak menyadari keberadaan Mingyu karena terlalu fokus kepada Wonwoo. Soonyoung yang tersadar terlebih dahulu, bergantian melihat ke arah Wonwoo dan Mingyu. Kemudian dengan nada yang antusias dan kepo, ia bertanya, “Well, who do we have here? ” 

 

Mingyu tertawa dan langsung memperkenalkan dirinya kepada kedua sahabat Wonwoo. 



*・*・*



Kejadian toilet tadi membuat mereka bertiga memutuskan untuk pulang lebih cepat dan beristirahat. Konsernya sebenarnya masih berlangsung dan bahkan sedang ramai-ramainya tetapi Wonwoo sudah terlalu lelah untuk menikmatinya. Awalnya ia tetap ingin lanjut tetapi kedua sahabatnya dan Mingyu memaksanya untuk pulang. Mingyu bahkan sempat menawarkan diri untuk mengantar mereka tetapi ia teringat masih belum bisa meninggalkan pekerjaannya jadi yang ia lakukan adalah mengantar mereka bertiga ke parkiran.

 

“Gue nggak sesakit itu kali, sampai harus lo anter ke sini,” Wonwoo mengeluh tetapi dalam hati sumringah.

 

“Lo tadi hampir pingsan ya karena dehidrasi, gue nggak mungkinlah ngebiarin lo.”

 

“Kan ada mereka berdua, Mingyu.”

 

Soonyoung dan Jihoon yang mengikuti mereka dari belakang hanya saling pandang-pandangan karena cukup terkejut bahwa Wonwoo yang biasanya reserved, bisa langsung akrab dengan orang yang baru pertama kali dikenalnya.

 

Begitu mereka sudah duduk di kursi masing-masing, Mingyu masih berdiri di ambang pintu mobil yang masih terbuka sambil mengeluarkan handphone-nya.

 

“Boleh minta nomer handphone-nya?”

 

Wonwoo terbelalak, jantungnya berdebar kencang, “Hah? Buat apa?”

 

“Ya biar gue bisa check lo bener-bener sehat apa engga. Jadi kalo ada apa-apa, gue bisa kirim dokter dari sini.”

 

Wonwoo seperti mendengar Soonyoung dari balik kemudi berkata, ”Smooth, Mingyu,” dan suara gebukan tapi ia mengabaikannya.

 

Wonwoo masih terbengong-bengong dan Mingyu mengingatkan lagi, “Ayo, nomernya, biar lo bisa cepet pulang dan istirahat.”

 

Belum sempat ia menjawab, Jihoon sudah menyebutkan nomor handphone Wonwoo. Mingyu berterima kasih kepada Jihoon dan perhatiannya kembali lagi ke Wonwoo.

 

Please try to rest. Besok gue WA ya.”

 

“Ckk. Iyaaa, nggak nyangka gue, ternyata lo bawel,” Wonwoo memutar bola matanya, “But thanks again for today ya. Karena lo, gue nggak jadi gentayangin ini anak berdua.”

 

Mingyu tertawa, “My pleasure. It was nice meeting you guys.”

 

Likewise,” balas Wonwoo sambil tersenyum. Jihoon dan Soonyoung juga ikut menimpali.

 

Dan akhirnya Mingyu menutup pintu mobil lalu mundur sedikit agar mobilnya bisa keluar dari space parkir. Mereka semua berpamitan dan mobil mulai melaju keluar dari pelataran parkir. Wonwoo sempat menengok ke belakang dan melihat Mingyu masih berdiri di posisinya yang semula sambil melambaikan tangan. Wonwoo kemudian membuka jendelanya untuk membalas lambaiannya. Begitu mobil keluar ke jalan raya, pasangan sejoli yang semula diam, langsung membombardir Wonwoo dengan berbagai macam pertanyaan.

 

Wonwoo berusaha menghindari semua pertanyaan itu dengan pura-pura tidur.

 

“Won! Jawab! Elah pura-pura tidur lagi!” sahut Soonyoung sambil melihat ke kaca spion tengah.

 

“Padahal baru aja mewek-mewek ninggalin pacarnya. Awas lo ya, gw turunin di pinggir jalan!”

 

“Gue ga mewek ya, njir.”

 

“Akhirnya bangun. Selamat pagi, pangeran!”

 

“Geli.”

 

“Duh, kalo kang mas tadi tahu aslinya lo kaya apa, goodbye forever sih itu, gue yakin.”

 

“Sianjing.”



*・*・*



Sesampainya di villa, Wonwoo minum botol aqua-nya yang ketiga. Beneran dehidrasi rupanya. Ia sampai mencari-cari artikel first aid untuk menangani dehidrasi sambil minum pocari sweat yang dibelikan Mingyu.

 

Habis dehidrasi boleh mandi nggak sih? Duh tapi lengket banget ini badan.

 

Sebelum jalan menuju ke kamar mandi, ia menggedor kamar dua sahabatnya itu, “ Guys, gue mo mandi. Kalo gue nggak keluar-keluar, tolong liatin ya.”

 

Dan dari balik pintu kamar itu, ada sahutan, “Ok, boss!”

 

Baru lima menit berlalu dan Wonwoo masih membersihkan shampo dari rambutnya, tiba-tiba pintu kamar mandi di gedor-gedor dari luar. 

 

“Won! Masih idup nggak lo? Woi!”

 

“Berisik!”

 

“Katanya suruh ngecekin kalo lo nggak keluar-keluar.”

 

“Bentar lagi selse.”

 

“Okay, boss. Oya, ini Jihoon masakin nasi goreng, kalo laper. Tadi kita nggak jadi makan di luar kan?”

 

“Iya…. Eh, Nyong!”

 

“Apa?”

 

Thanks ya!”

 

“Yo!”

 

Wonwoo merasa lebih segar setelah selesai mandi. Ia langsung ke meja makan dan bertiga, mereka menghabiskan nasi goreng yang di buat Jihoon. Untungnya kali ini si couple tidak melanjutkan lagi interogasi tentang Mingyu. Mungkin mereka memberi Wonwoo space karena tahu ia sudah sangat lelah.

 

Thank God for small victories.

 

Selesai beberes, mereka bertiga kembali ke kamar masing-masing. Begitu Wonwoo membuka pintu kamarnya, handphone-nya ternyata sedang berbunyi tetapi ia tidak menyadarinya karena dari tadi ditinggal di kamar untuk di-charge . Ia mengambil benda itu dan melihat nomer tidak dikenal sedang mencoba menghubunginya. 

 

Siapa sih malem-malem banget? Uda lewat jam 2 malah.

 

Penasaran, ia akhirnya mengangkat teleponnya.

 

“Hello, dengan mas Wonwoo?”

 

“Betul. Maaf ini siapa ya?”

 

“Masa lupa suara gue, Won?”

 

Wonwoo jadi deg-degan. Dengan sedikit berharap ia bertanya, “Mingyu?”

 

Bingo!” Dan terdengarlah suara tertawa Mingyu yang renyah itu. “Lo gimana? Uda enakan belom? Kok belom tidur?”

 

“Baru selesai makan gue,” Wonwoo terkekeh. “Iya, uda enakan. Semua botol minuman yang lo beliin tadi uda gue habisin semua. ”

 

“Oh, syukur deh. Lo pas di mobil masih pucet banget soalnya, jadi gue masih kepikiran.”

 

Hati Wonwoo terasa hangat. Dia khawatir rupanya.

 

“Iya, udah nggak papa kok. Tenang aja. Kerjaan lo uda kelar?”

 

“Bentar lagi kayanya. Abis itu mo balik ke hotel.”

 

I see. Lo nggak nyetir sendiri kan?”

 

“Engga, ntar bareng yang lain juga.”

 

Dan di background tiba-tiba terdengar suara teman-temannya berteriak halo dan lain sebagainya. Wonwoo tertawa mendengar suara mereka. Ternyata bukan hanya temannya sendiri yang gila, teman Mingyu juga.

 

Di tengah kebisingan suara teman-temannya, Mingyu lanjut berbicara, “Won, nanya dong.”

 

“Hmm?”

 

“Lo ntar ada acara nggak?”

 

Mo berapa kali sih gue dibikin sport jantung?

 

“Kenapa emangnya?”

 

“Itu…. ntar brunch bareng yok. Gue yakin sih kalo sarapan, belum tentu ada yang bangun. Tapi kalau brunch ok kali ya?”

 

Wonwoo terdiam sejenak karena tidak siap dengan pertanyaan barusan.

 

“Mmm… sebenarnya udah ada rencana ama Soonyoung dan Jihoon mo brunch di cafe favorite gue. Udah lama nggak kesana dan ternyata cafe dan bakery-nya udah banyak menu baru.”

 

“Oh gitu….”

 

Itu suara kekecewaan kan? Wonwoo boleh ge-er kan?

 

“Tapi kalo lo mau, ikut aja, Gyu.”

 

Mingyu tertawa, “Serius? Nggak papa kalo gue ikut? Gue nggak mau ganggu.”

 

Dan di background, lagi-lagi terdengar suara teman-temannya yang minta ikut gabung juga. Wonwoo tertawa karena Mingyu terdengar kewalahan mengontrol teman-temannya.

 

“Nggak papa, Gyu. Ajak aja temen lo kalo pada mo ikut. Kita nyante kok.”

 

Dan akhirnya janjian lah mereka semua di cafe itu jam 11 siang. Setelah selesai menelepon, ternyata obrolan mereka berlanjut ke WA chat. Wonwoo sampai lupa janji Mingyu sebelumnya bahwa ia akan WA keesokan harinya untuk menanyakan kabar.

 

Tapi, sebenarnya, ini emang literally besok sih, biarpun menjelang subuh. Wonwoo tertawa. Setelah itu ia tertidur dengan hati yang penuh. 



*・*・*



Mingyu ternyata membawa dua temannya yaitu Hansol dan Seokmin. Entah keajaiban apa yang terjadi, begitu teman-teman mereka bertemu, mereka langsung akrab. Bahkan Jihoon yang biasanya pendiam, kali ini menikmati mengobrol dengan orang baru, terutama dengan Hansol karena kecintaan mereka terhadap musisi yang sama.

 

Sementara Soonyoung dan Seokmin beda cerita. Mereka sebenarnya sepupuan dan memang sudah janjian akan bertemu malam itu di festival. Tetapi, lucunya, mereka berdua sama-sama tidak menyangka akan bertemu siang itu.

 

“Ini apa sih, Min! Kenapa lo ikutan Mingyu?”

 

“Lo juga! Mana gue tahu kalo Wonwoo itu Wonwoo sobat lo?”

 

“Yah, tau gitu, gue bawain titipan nyokap gue buat tante.”

 

“Udahlah gampang. Kaya plan kita semula aja, abis festival selesai, gue nginep di villa lo.”

 

“Oiya, besok malem ya? Sipppp.”

 

Mendengar rencana Seokmin, Mingyu tiba-tiba tertarik juga untuk ikutan dan menanyakan ke Wonwoo apakah villanya cukup besar untuk beramai-ramai.

 

“Kita sengaja milih yang tiga kamar karena Seokmin emang rencananya mau ikutan nginep. Lo mau ikut juga?” 

 

“Tapi kamarnya nggak cukup ya?”

 

“Villanya tingkat, ruang tengah gede-gede, sofanya juga lebar. Kalo nggak mau sekamar, bisalah, disitu. Ntar kita kasih tambahan bantal dan selimut?”

 

“Atau sekamar ama lo aja, Won?” usul Soonyoung.

 

Ini orang minta diselepet.

 

Wonwoo mendelik ke arah Soonyoung dan temannya itu hanya mengangkat salah satu alisnya sambil menahan senyum. Sementara, dari ujung matanya, ia merasa Mingyu tersenyum simpul. 

 

Wonwoo belum sempat menyahut, tiba-tiba perhatian semuanya teralihkan saat makanan mereka satu persatu datang. Dari awal liburan ini direncanakan, Wonwoo memasukkan cafe ini ke itinerary jalan-jalan mereka karena ia ingin sekali mengajak dua sahabatnya ke sini. Jenis makanannya mostly western seperti pasta, steak, sandwich dan lain-lain tetapi ada juga masakan khas Indonesia. Sudah hampir setahun sejak terakhir Wonwoo pergi kesini dan banyak menu baru yang belum pernah ia cicipi.

 

Semuanya makan dengan lahap dan mereka saling mencicipi pesanan temannya. Hati Wonwoo membuncah ketika Mingyu meminta izin untuk mencicipi Mushroom and Cheese Wellington miliknya. Wajahnya begitu dekat sampai Wonwoo bisa mencium wangi aftershave-nya. 

 

“Hmmm! Enak banget ini, Won!” Mingyu mengunyah dengan antusias.

 

“Iya, enak ya! Ini menu baru yang pingin gue coba dari lama.”

 

“Duh, bisa nggak ya dibawa pulang? Haha.. Oya, lo mo nyoba punya gue nggak?”

 

“Ikan ya?” Wonwoo meringis.

 

“Iya. Kenapa? Lo nggak suka ya?”

 

Wonwoo menggeleng.

 

“Alergi?”

 

“Nggak sih. Cuma gue nggak cocok ama rasa dan teksturnya.”

 

Entah kenapa Mingyu tersenyum lembut dan menyendokkan sepotong kecil ikan panggangnya dan menawarkannya ke Wonwoo.

 

“Coba deh.”

 

Wonwoo melihat potongan ikan itu dengan skeptis dan pandangannya beralih ke muka Mingyu. Mingyu mengangkat salah satu alisnya dan tersenyum penuh ekspektasi. 

 

“Enak kok, kaya ayam. Dan lo beneran nggak ada alergi kan?”

 

Wonwoo menggeleng.

 

Okay. Kalo rasanya seperti ayam, mungkin Wonwoo bisa mencobanya. Ia mulai membuka mulutnya dan tiba-tiba semua terasa bergerak secara slow motion. Mingyu menyuapnya dengan gaya seperti sedang menyuap anak balita, dengan mulutnya yang terbuka tetapi tanpa suara aaaaa. Sementara itu terdengar suara teman-teman mereka yang sepertinya sedikit gaduh tapi tidak mereka hiraukan.

 

“Enak kan?”

 

“Hmmm…Nggak kaya ayam ini,” jawab Wonwoo sambil mengunyah dan mengabaikan detakan jantungnya yang tidak karuan, “Tapi iya, enak.”

 

Senyum yang mengembang di bibir Mingyu membuat Wonwoo ingin mencoba berbagai macam menu ikan hanya untuk melihatnya tersenyum seperti itu.

 

Setelah semuanya selesai makan, Wonwoo mengajak mereka semua mampir ke bakery-nya yang terdapat di lantai bawah cafe itu. Aroma roti dan pastry memenuhi seluruh ruangan dan membuat rombongan Wonwoo makin antusias dalam memilih.

 

Wonwoo sedang memilih pastry ketika ia teringat artikel yang pernah ia baca. 

 

“Tahu nggak sih, gue pernah baca ada pastry chef yang bilang seorang pastry chef yang handal itu tergantung dari heart, head, dan hand-nya.”

 

Mingyu menaruh roti sourdough di tray-nya lalu menengok ke arah Wonwoo, “Maksudnya gimana tu?”

 

Heart itu berarti harus telaten dan sabar, punya rasa tertarik dan passion yang kuat akan pastry dan roti. Trus juga harus mencintai pekerjaannya sebagai pastry chef karena industrinya overall terlalu demanding.”

 

Wonwoo kemudian menunjuk ke berbagai variasi croissant di depannya, “Yang kedua itu head. Harus berwawasan luas, mau terus menerus belajar dan membaca untuk mempelajari teknik baru terutama pas mo bikin kreasi dessert atau pastry baru. Mau flavor apa, tekstur-nya gimana, terus mau dibentuk kaya apa biar menarik dan one of a kind. Nah yang terakhir itu hand.”

 

Technical skill-nya ya?” tanya Mingyu.

 

“Yup,” Wonwoo menjawab sambil tersenyum puas karena Mingyu mau mendengarkan penjelasan dia secara detail.

 

Kemudian ia mengambil croissant bertaburan coklat bubuk yang diatasnya tertancap sebuah pipet kecil berisi cairan coklat kehitaman. Mingyu menunduk dan membaca nama pastry nya adalah tiramisu croissant.

 

“Ini salah satu favorite gue. Lo tau nggak sih ini cairan apa?”

 

Tiramisu harusnya sih ada kopinya ya. Itu kopi?”

 

“Iya. Kepikiran nggak sih lo? Biasanya kan orang kalo bikin ya uda, campur aja espresso di mascarpone cheese-nya atau dibuat dua macam filling. Bahkan ada yang cuma pakai essence tiramisu. Tapi disini, mascarpone cheese-nya sebagai filing lalu espresso-nya dipisah di pipet. Orang jadi dikasih kebebasan nambahin espresso-nya sesuai selera,” ujar Wonwoo dengan antusias.

 

Mingyu tersenyum lebar, “Sebenarnya filosofi itu bisa dipake buat kerjaan apa aja nggak sih? Karena gue jadi ngerasa itu pas banget ama kerjaan gue sekarang.”

 

Wonwoo tersenyum, “Eh, bisa juga ya.”

 

Dan Mingyu yang masih tersenyum, tiba-tiba menambahkan, “Tapi lo kaya si itu deh, Chef Marinka.”

 

Itu pertama kalinya Wonwoo memukul Mingyu.



*・*・*



Setelah selesai brunch tadi, mereka berpisah dengan rombongan Mingyu yang langsung pergi ke venue concert sementara mereka bertiga jalan-jalan melihat pemandangan lingkungan sekitar.

 

Malamnya Wonwoo dan kedua sahabatnya dinner dulu sebelum ke venue.

 

“Udah jompo juga kita, yang penting perut keisi biar nggak masuk angin. Kayanya lo kemarin nge-drop juga gara-gara kita belum dinner tuh, Won,” Jihoon menyeruput supnya.

 

Wonwoo hanya mengangguk karena ia sibuk mengunyah nasi gorengnya sambil chatting di handphone.

 

“Pa, anak kita main hape terus ni, nggak makan,” Soonyoung nyeletuk ke Jihoon.

 

Wonwoo membuka mulutnya yang berisi makanannya yang masih setengah dikunyah.

 

“Won, lagi makan, anjir. Jorok banget sih jadi orang!”

 

Yang dimarahi hanya cekikikan dan tiba-tiba terbatuk-batuk karena hampir keselek.

 

“Syukurin! Makanya makan yang bener!”

 

Wonwoo buru-buru minum air yang banyak, lalu mengambil handphone-nya lagi.

 

“HAH?”

 

“Kenapa lagi sih?”

 

“Mingyu mo nyusul ke sini!”

 

“Terus kenapa?”

 

“Gue belom siap kaliiii….”

 

Jihoon terdiam melihat Wonwoo panik. Akhirnya pertanyaan yang sedari kemarin ingin ia tanyakan, terlontar, “Kalian tu sebenarnya gimana sih?”

 

“Gimana apanya?”

 

Jihoon hanya melihat ke arah Wonwoo dengan tatapan sebal.

 

We’re friends?

 

“Kok nanya gue?”

 

“Ya gue baru kenal, Ji,” Wonwoo meringis.

 

“Tapi lo sendiri ke dia ngerasa apa?”

 

“Nggak tau?”

 

Jihoon menutup matanya dan berusaha sabar. Dari gelagat mereka berdua tadi siang, terutama dari bahasa tubuh mereka, sebenarnya sudah terlihat kalau dua-duanya saling tertarik.

 

Wonwoo menghela nafas dan akhirnya menjawab, “Gue sendiri bingung. Udah lama banget nggak ngerasa kaya gini, Ji….”

 

Jihoon mengamati sahabatnya itu. Mata Wonwoo sekarang terlihat berbinar dan lebih hidup dibanding sebelum bertemu Mingyu. Ia sebenarnya tidak ingin temannya terjerumus ke hubungan yang salah karena terburu-buru seperti di masa lalu. Masih terbayang bagaimana hancurnya Wonwoo ketika itu dan Jihoon tidak ingin hal yang sama terulang lagi.

 

Tetapi setelah Jihoon pikir-pikir, ia tadi bisa melihat ketulusan Mingyu ketika berhadapan dengan Wonwoo. Walaupun memang yang lebih merasakan chemistry-nya adalah mereka berdua dan Jihoon hanya pengamat yang hanya bisa mendukung dari belakang. 

 

“Ya udah, rasain aja yang lo rasain ya, nggak usah ditahan-tahan. Udah waktunya juga lo move on dari masa lalu lo….”

 

Wonwoo terdiam sambil membaca lagi chat terakhir dari Mingyu. Ia sendiri merasa sudah cukup lama dibayangi masa lalunya dan sejak bertemu Mingyu, ia merasa lelaki itu tidak akan meninggalkannya seperti mantan-mantannya yang lain.

 

“Tapi, kalau dia sampai macem-macem sama lo….” 

 

Jihoon mempraktekkan jurus uppercut dengan raut muka yang menyeramkan dan Soonyoung bertepuk tangan di sebelahnya sambil menambahkan, “Nanti gue bantu interogasi sepupu gue, biar dia ceritain semua tentang Mingyu.”

 

Wonwoo tertawa. Sahabat-sahabatnya ini memang tidak akan tergantikan dan perasaannya menjadi lebih ringan dan penuh harapan.

 

Tak lama, Mingyu muncul bersama Seokmin dan suasana menjadi ramai.

 

“Lo bukannya uda harus ada di venue sekarang ya, Gyu?” tanya Wonwoo.

 

“Iya tapi gue dan Seokmin uda ada disana sejak abis brunch tadi dan belum sempet dinner jadi dikasih break bentar.”

 

“Baik bener company lo.”

 

“Makanya gue betah,” jawabnya sambil tertawa.

 

Mereka beramai-ramai jalan kaki ke venue konser yang hanya berjarak lima menit dari restoran setelah semuanya selesai makan. Begitu sampai, Mingyu dan Seokmin memisahkan diri dan berjanji akan menemui mereka setelah semua pekerjaan mereka selesai.

 

Kali ini Wonwoo dan kedua sahabatnya mulai dari indoor stage no 3. Tidak seperti suasana outdoor, penonton yang datang tidak membludak tetapi hal itu tidak mengurangi antusiasme semua orang yang hadir disitu. Wonwoo merasa lebih cocok berada di antara crowd semacam ini dan ia mulai tenggelam menikmati semua lagu-lagu yang dibawakan.

 

Menjelang tengah malam, mereka pindah ke outdoor stage karena musisi berikutnya adalah favorite mereka semua. Seokmin dan Mingyu bergabung dengan mereka tak lama setelah mereka pindah.

 

“Kesini deh, lebih enak tempatnya.”

 

Dan Mingyu mengajak mereka semua ke depan area FOH1, supaya bisa menyender dan nggak keganggu orang lain katanya. 

 

“Lo tau nggak sih, awal-awal gue dulu suka nonton konser, suka bingung ini tenda-tendaan ngapain ada di tengah-tengah audience.”

 

“Karena suka ganggu pemandangan ya?”

 

Wonwoo tertawa, “Iya. Padahal kalo nggak ada tim FOH ini, belum tentu pengalaman konsernya bakal wah.”

 

Mingyu ikut tertawa, “Iya. Gue suka spot ini karena awalnya kepo ama kerjaan orang-orang di dalamnya. Makanya tiap ada event dan kalau musisi yang bukan favorite gue lagi live, gue suka berdiri di sekitar tendanya dan merhatiin mereka kerja. Lama-lama kerasa kalo sound-nya tuh paling enak didenger kalo kita di depannya.”

 

Mingyu memperhatikan suasana di sekitar mereka dan melihat segelintir orang yang berusaha maju ke depan, mendekati panggung.

 

“Dan kalo pas di depan pagarnya, kita nggak bakal tu diganggu orang-orang lewat kaya lo kemarin,” ia menunjuk ke depan dengan dagunya.

 

Wonwoo tersentuh karena Mingyu ingat pengalaman Wonwoo semalam.

 

Thanks ya, Gyu.”



*・*・*



Festival musik hari kedua dan ketiga lebih berkesan bagi Wonwoo. Dan itu bukan hanya karena tidak ada lagi insiden terkurung di toilet. Awalnya, menonton sendirian dengan teman-temannya saja sudah membuatnya bahagia. Dengan adanya Mingyu, suasana menjadi lebih ramai dan entah kenapa, di hari terakhir, Mingyu memiliki banyak waktu luang mengawalnya dari stage ke stage. Tidak seperti dua rekan kerja Mingyu yang sesekali menyapa Wonwoo ketika kebetulan lewat & sibuk berjalan menuju ke suatu tempat.

 

Di hari terakhir festival musik itu, Mingyu dan Wonwoo sedang berdiri berdampingan di bagian paling belakang indoor stage sambil menyandarkan punggung mereka di tembok ruangan tersebut. Hanya ada segelintir orang yang memilih menikmati konsernya dari jauh seperti mereka, entah karena lelah atau karena mau cooling down sebelum mulai hype lagi. Sebagian besar penonton berada jauh di depan mereka. Soonyoung dan Jihoon memisahkan diri karena lebih memilih musisi yang sedang manggung di outdoor stage. Merasa tidak tahan untuk bertanya, Wonwoo akhirnya menengok ke arah Mingyu dan menunjuk ke arah t-shirt staff yang dikenakannya. 

 

“Lo beneran nggak papa nemenin gue terus? Ini kan bukan kaya panitia pensi, Gyu.”

 

Mingyu tersenyum, “Tenang aja, Won. Gue disini sebenernya cuma serep. Tugas gue cuma nolongin penonton yang kejebak di toilet portable .”

 

Wonwoo memukul lengan Mingyu dan si empunya lengan hanya tertawa terbahak-bahak.

 

“Seriusan ini gue tanya. Gue nggak mau lo dimarahin gara-gara gue or bahkan dipecat.”

 

“Seriusan juga ini, gue jawabnya. Gue tu diajak last minute karena pada kasihan ninggalin gue di kantor sendirian.”

 

“Dih, bisa gitu. Kantornya aneh banget. Masa nggak ada yang standby?

 

“Ada lah. Tp mereka in charge of event lain. Gue sih ngikut aja. Mayan, nonton konser gratis,” Mingyu tertawa puas dan Wonwoo ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

 

“Eh, ntar lo kelar jam berapa?” Wonwoo bertanya sambil membetulkan posisi punggungnya di tembok. 

 

“Nggak ngerti juga deh karena mesti beres-beres juga. Seokim uda tahu alamat villanya kan? Ntar kita langsung kesana aja kalo uda selesai.”

 

“Okay. Ntar kabarin aja.”

 

“Siap!”

 

“Tapi emang habis festival selesai, lo nggak harus ke kantor apa? Masa nggak ada paperwork yang harus diselesaiin?”

 

“Nggak. Sebagian yang bukan tim inti boleh cuti sampe akhir minggu. Tadinya gue mo langsung pulang tapi ragu.”

 

“Jadi lo belom beli tiket pulang juga?”

 

Mingyu terkekeh,”Orang-orang kantor ada yang mau road trip sambil pulang. Gue diajak tapi belom gue iya-in.”

 

“Seru banget ya!”

 

“Iya, tapi gue juga uda lama nggak explore sini. Kaya cafe lo kemarin, gue belom pernah kesitu. Jadi gue putusin mo disini aja. Apalagi gue punya lo sebagai tour guide,” ucap Mingyu sambil mengedipkan matanya.

 

Untungnya lighting di indoor stage sedang berwarna kemerahan sehingga muka Wonwoo yang memerah, tidak terlihat. Benar-benar ini, Kim Mingyu. Jantung gue nggak kuat, jangan bikin gue jatuh makin dalam dari ini.  

 

Tak lama, penampilan final stage dini hari itu berakhir. Seiring pertunjukan piroteknik di panggung, Wonwoo dan Mingyu ikut bertepuk tangan bersama dengan penonton lain. Di outdoor stage terdengar suara kembang api yang menandakan festival musik juga telah berakhir. Suara gemuruh tepuk tangan penonton serta teriakan dan siulan antusias mereka lebih kencang daripada mereka yang di indoor stage. Memang, euphoria yang dirasakan setiap menonton live concert itu tidak ada yang bisa menggantikan dan Wonwoo bersyukur bisa ikut merasakannya bersama Mingyu di sampingnya.

 

Sedikit melankolis karena momen bersama mereka telah selesai, Wonwoo berkumpul lagi bersama kedua sahabatnya dan pulang ke villa duluan. Beberapa jam kemudian, ia membukakan pintu villa mereka untuk Mingyu dan Seokmin. 



*・*・*



Pagi berikutnya bagi Wonwoo berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di villa itu. 

 

Begitu ia keluar kamar dengan rambutnya yang mencuat kemana-mana, ia terkejut melihat seseorang sedang tidur di sofa ruang tamu. Sesaat ia mengira Soonyoung sedang bertengkar dengan Jihoon sampai ia diusir dari kamar. Tetapi ketika Wonwoo mendekat dan melihat siapa sebenarnya yang tidur disitu, ia hampir berteriak.

 

Perlahan ia mundur dan lari ke kamar mandi untuk mencuci muka, sikat gigi dan menyisir rambutnya. Tetapi setelah selesai itu semua, dia masih merasa tidak cukup. Akhirnya ia memutuskan untuk mandi sekalian.

 

Begitu Wonwoo kembali ke ruang tamu lagi, sofa ruang tamu sudah tidak ada penghuninya. Bantal dan selimut juga sudah ditata rapi. Ternyata orangnya sudah bangun dan sedang duduk di salah satu kursi malas di balkon. Wonwoo sempat terpana melihatnya. Bangun tidur pun, ia tetap terlihat menarik. 

 

Wonwoo akhirnya membuka pintu beranda dan langsung diberi sapaan pagi.

 

Morning, Won!”

 

Morning, Gyu!”

 

“Udah rapi aja lo pagi-pagi.”

 

“Iya, karena penghuni villa makin banyak, nanti kamar mandinya rebutan. Jadi gue mandi duluan,” Wonwoo mencoba memberi alasan yang cukup masuk akal. 

 

Bukan karena gue nggak mau bau iler dan belekan di depan lo, ya.

 

“Hmmm...iya juga sih,” Mingyu kembali memandangi private beach sambil rebahan di kursi malasnya, “View-nya bagus banget ya!”

 

“Iya, apalagi pas sunset. Lo mesti liat ntar.”

 

“Berarti jangan sampe kita kesorean pulangnya.”

 

Tiba-tiba Mingyu berdiri sambil meregangkan tangannya ke atas dan menguap. Wonwoo yang duduk di kursi malas sebelahnya, tanpa sadar melotot saat melihat tshirt-nya naik dan memperlihatkan otot-otot perutnya yang kencang. Okay, pas pake t-shirt staff kemarin-kemarin sih uda kliatan kalo berotot tapi nggak nyangka sampe segitunya. Saat Mingyu berbalik, Wonwoo mengalihkan pandangannya ke arah lain. Untungnya Mingyu tidak melihat perilaku Wonwoo karena perhatiannya tertuju ke panggangan BBQ di belakang mereka.

 

“Woa! Gue nggak lihat tadi ada BBQ grill di situ,” ujarnya bersemangat sambil berjalan ke belakang.

 

Wonwoo akhirnya berdiri dan mengikuti Mingyu.

 

“Ini kaya belom dipake sama sekali?”

 

Wonwoo mengangguk, ”Iya, emang belom, kita nunggu Seokmin datang, biar lebih rame.”

 

“Oh gitu. Mo BBQ kapan?”

 

“Nggak tau juga nih, enaknya kapan ya?”

 

“Ntar malem aja, sambil liat sunset,” Mingyu membungkuk dan mulai mengutak atik alat pemanggangnya.

 

“Kita udah sempet belanja bahan-bahannya sih tapi kalo kurang, ntar kita beli lagi aja.”

 

“Iya, ntar gue bikinin something deh. Just for you,” lanjut Mingyu sambil berkedip.

 

“Ha?” Wonwoo menggaruk tengkuknya dengan grogi. “Haha...Lo bisa masak emangnya?”

 

“Bisa. Lo mo apa? Gue bikinin deh ntar.”

 

“Bentar. Mikir dulu gw,” Wonwoo tertawa.



*・*・*



Wonwoo masih memikirkan makanan apa yang ingin ia minta Mingyu buatkan, bahkan ketika mereka semua sudah sampai di restoran destinasi makan siang mereka. Kali ini mereka makan di restoran masakan tradisional yang terdiri dari saung-saung bambu dengan pemandangan persawahan. 

 

Wonwoo sedang melepas sepatunya di tangga saung mereka ketika Mingyu memegang pundaknya, “Won, udah, nggak usah dipikirin banget. Lo kaya lagi mo sidang thesis aja. Kalo nggak sempet malam ini, besok-besok gue masakin.”

 

“Besok-besok?”

 

“Iya, kita kan masih ada beberapa hari disini. Kalo nggak sempet ya, abis kita pulang, kalo pas weekend or libur, gue undang lo ke rumah gue trus gue masakin, okay?”

 

“Gyu….”

 

“Hmmm?”

 

“Lo masih mo ketemu gue abis pulang dari sini?”

 

Mingyu melihat ke arah Wonwoo dengan tatapan tidak percaya, “Lo ngomong apa sih, Won? You’re my friend. Of course, gue masih mo ketemu lo. Apalagi kita satu gedung, biarpun nggak satu kantor. Hehe….”

 

Oh, temen ya? Hati Wonwoo tiba-tiba terasa seperti tersayat.

 

Selesai melepas sepatunya, ia menuju ke meja lesehan dan Wonwoo langsung dilema. Satu-satunya tempat yang masih kosong ada di antara Mingyu dan Jihoon. Sebelum Mingyu menjatuhkan vonis ‘temen’ tadi, Wonwoo pasti senang duduk bersebelahan dengannya. Tetapi, sekarang ini, rasanya ingin sekali bilang “nggak dulu.”

 

Semangatnya terlihat menurun. Ia duduk dengan ogah-ogahan dan Jihoon yang jeli membaca gerak gerik Wonwoo, langsung bertanya kepadanya ketika Mingyu pamit ke kamar kecil.

 

“Lo kenapa, Won?”

 

“Hmmm? Nggak papa….”

 

“Won….” Jihoon lalu menatap wajah Wonwoo dengan raut muka khawatir dan menunggu.

 

Wonwoo akhirnya menghela nafas, “He said I’m his friend. Yang suka kayanya cuma gue.”

 

“Siapa? Mingyu?”

 

Wonwoo diam saja. Pikirannya langsung kemana-mana dan ke arah yang negatif. Mungkin memang benar yang selama ini ia takutkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Wonwoo ternyata selama ini ge-er. Mingyu hanya menganggapnya teman yang baik. Semua yang sudah ia lakukan karena Wonwoo adalah temannya, bukan potential lover. Wonwoo dengan hatinya yang sangat besar sudah lelah terluka dan lelah dikecewakan. 

 

Stop. You’re doing it again! ” Suara Soonyoung tiba-tiba membawanya kembali ke saat ini.

 

Wonwoo melihat ke sekitarnya. Kedua alis Soonyoung berkerut. Ratu muka yang sama terlihat di wajah Jihoon. Kemudian ia baru sadar, Seokmin sedang duduk persis di seberangnya dengan raut muka bingung. Wonwoo langsung menunduk karena malu. 

 

Bagus banget. Abis ini bakal sampe ke telinga Mingyu deh kalo gue ke ge-er-an.

 

“Won, kebiasaan jelek lo nih. Gue kan uda sering bilang, jangan suka asumsi sendiri.”

 

“Iya, emang dia ngomong apa sih?” tanya Jihoon.

 

Wonwoo awalnya ragu untuk bercerita di depan Seokmin tetapi Soonyoung meyakinkannya karena sepupunya itu sudah mengenal Mingyu sejak lama sehingga bisa dimintai pendapat. Wonwoo akhirnya menceritakan percakapannya dengan Mingyu. Ajaibnya, selama mereka ngobrol, yang sedang dibicarakan tidak terlihat batang hidungnya.

 

Setelah mendengar cerita Wonwoo, Seokmin yang pertama kali berkomentar, “Mas Won, percaya deh ama gue. Mingyu tu nggak cuma nganggep lo temen.”

 

“Tapi tadi….”

 

“Mas, Mingyu emang belom nyeritain apa-apa tentang lo ke gue tapi gue sebagai sahabatnya bisa lihat kalo dia tulus ama lo, mas. Dan gue yakin, sebenarnya lo juga ngerasain kan? Mungkin tadi dia ngomong gitu karena nggak mau bikin lo nggak nyaman kalau lo tahu perasaan dia. Soalnya gimana pun, kalian bener-bener baru kenal.” 

 

Wonwoo terdiam.

 

“Jujur ya, Won,” Soonyoung sambil bertopang dagu berkomentar, “Gue, tiap kali liat lo berdua, suka lupa kalo kalian tu baru kenal. Tapi apa ya? Ngeliat chemistry kalian tu….gimana sih? Susah ngejelasinnya.”

 

Jihoon tiba-tiba ikut menambahkan, “Maksud Soonyoung, bahasa tubuh kalian berdua tu uda nunjukkin banget kalo sebenarnya saling suka, biarpun kalian berdua berusaha nutupin.”

 

“Iya, mas. Gue aja tiap liat lo berdua, mohon maaf nih ya, suka eneg sendiri. Ini aja belom jadian. Apalagi kalo udah.” Seokmin bergidik tetapi melanjutkan omongannya lagi, “Oya, lo kalo mo nanya apa aja tentang dia, gue beberin semua ke lo, mas!”

 

Wonwoo tertawa. Tidak diragukan lagi, Seokmin dan Soonyoung memang sedarah. 

 

Setelah ia melihat Wonwoo sedikit tenang, Jihoon berbicara lagi, “Jadi ya, please don’t be too hard on yourself, Won. Kita semua memang nggak tahu maksud Mingyu apa dengan perkataan tadi tapi gue yakin sih, itu nggak seperti pikiran negatif lo.”

 

“Pikiran negatif apa nih?” Tiba-tiba suara Mingyu muncul dari belakang Wonwoo dan mereka semua terkejut. Karena terlalu serius ngobrol, mereka lupa untuk berjaga-jaga seandainya Mingyu datang.

 

“Hayo, lo ngomongin apa soal gue?” Mingyu yang sudah duduk di samping Wonwoo yang sedang mematung, menyenggol pundak Wonwoo dengan pundaknya.

 

Seokmin tiba-tiba tertawa dan langsung membantu menjawab, “Itu…. lo janji mo masakin buat Mas Wonwoo kan? Dia masih bingung mo minta dimasakin apa. Terus tiba-tiba kepikir kalo mungkin nggak lo bakal nyelipin seafood dikit-dikit biar dia lama-lama doyan.”

 

Mingyu tertawa dan menepuk bahu Wonwoo, “Emang lo anak bayi? Nggak lah, Won! Gue nggak kaya gitu. Gue pasti bakal nanya lo dulu, mau atau enggaknya.”

 

Wonwoo mengamati Mingyu. Ia cukup lega karena tidak ada tanda-tanda Mingyu mendengar pembicaraan mereka yang sebenarnya. Dan Wonwoo pun menutupi perasaan yang sedang berkecamuk di dadanya dengan tersenyum lebar dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.



*・*・*



Matahari sedang terik-teriknya ketika mereka kembali ke villa. Dalam perjalanan pulang, mereka sudah membeli bahan-bahan tambahan untuk BBQ nanti sore. Soonyoung dan Seokmin bahkan membeli kembang api untuk memeriahkan suasana tetapi mereka hanya membeli yang jenis sparkles karena tidak mau menimbulkan kegaduhan bagi penyewa villa lain.

 

“Nggak ngaruh sih gue bilang.”

 

“Apanya, Ji?” Wonwoo tidak memalingkan pandangannya dari game di handphone-nya. Mereka berdua sedang duduk di sofa balkon, Soonyoung di kursi malas, sementara yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.

 

“Cuma beli sparkles karena nggak mau berisik. Padahal suara mereka aja, gue yakin sih udah ganggu tetangga.”

 

“Kamu kok gitu sih, yang?” teriak Soonyoung dari kursi malasnya.

 

“Itu buktinya.”

 

Dan Soonyoung cepat-cepat menutup mulutnya sambil melihat ke samping villa mereka. 

 

Wonwoo tersenyum melihat kelakuan kedua sahabatnya dan langsung berteriak karena ia salah mengambil langkah di game yang sedang ia mainkan. Akhirnya ia berhenti bermain setelah kalah dan baru menyadari baterainya tinggal lima belas persen. Wonwoo kemudian masuk ke kamarnya untuk istirahat dan men-charge handphone-nya. Sambil tiduran, ia mengambil novel yang belum selesai dibacanya tetapi pikirannya melayang ke topik mereka siang tadi. 

 

Omongan sahabat-sahabatnya dan Seokmin mungkin ada benarnya. Wonwoo terlalu pesimis dan takut. Bagaimana tidak? Pacar pertamanya memutuskannya ketika usia hubungan mereka hanya lima bulan. Dan alasannya kenapa? Karena dia hanya menganggap Wonwoo sebagai sahabat. Who fucking says that? Dan kalau tahu gitu, ngapain juga dia nembak gue? Dua minggu kemudian, ex-nya itu berpacaran dengan teman mereka, salah satu yang cukup dekat dengan Wonwoo ketika ia butuh teman curhat. Nice!

 

Hubungan keduanya juga gagal karena hanya Wonwoo yang selalu berinisiatif melakukan segalanya. Awalnya Wonwoo merasa orang itu baik karena bisa membangkitkan semangatnya lagi setelah putus dengan si ex tetapi lama kelamaan, pacar barunya itu semakin egois dan posesif. Wonwoo harus selalu ada untuknya tetapi tidak sebaliknya. My life is my life but your life is mine. Karena merasa dimanfaatkan terus, Wonwoo akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkannya.

 

Hubungan selanjutnya tidak berstatus. Mereka hanya FWB . Wonwoo tahu itu recipe for disaster tetapi ia sudah terlalu terpesona oleh orang baru ini terutama karena kepintarannya dan pembawaannya yang dewasa. Ketika itu, Wonwoo berharap seiring waktu, ia bisa berubah dan memiliki perasaan yang sama seperti Wonwoo. Tapi tidak. Semuanya hanya impian belaka ketika pada pesta tahun baru kantor, orang itu membawa seseorang yang ia perkenalkan sebagai tunangannya. Padahal malam sebelumnya, ia masih menemui Wonwoo. Tak lama, orang itu resign dan meninggalkan Wonwoo yang hatinya sudah tercabik-cabik.

 

Sejak itu, ia menutup pintu hatinya rapat-rapat dan mencoba menjalani hidupnya seperti biasa. Sampai kemudian Mingyu datang dan mengetuk pintu itu dengan senyumannya. 

 

Wonwoo tidak bisa menyangkal bahwa perlahan, ia tertarik kepada Mingyu. Mungkin bahkan sudah suka sejak Mingyu berusaha menolongnya di kantor dulu. Wonwoo tahu ia belum mengenal Mingyu cukup lama tetapi hati kecilnya berbisik bahwa Mingyu juga memiliki perasaan yang sama kepadanya. Namun Wonwoo takut berharap, takut salah membaca perlakuan baik Mingyu kepadanya, takut mengalami kekecewaan yang sama seperti dulu. Dan lagi-lagi kejadian tadi siang terlintas di benaknya.

 

You’re my friend.



*・*・*



Tanpa menghiraukan cuaca diluar villa yang sedang terik, sore itu, Wonwoo mencoba membangkitkan semangatnya dengan mandi air hangat. Perlahan otot-ototnya yang kaku mulai rileks dan ia membiarkan air hangat membasahi kepalanya, berharap semua kecemasannya ikut larut dan hilang terbawa air. 

 

Selesai berganti baju dengan pakaian training-nya, Ia merasa jauh lebih baik. Mandi air hangat, pakai baju rumahan yang nyaman, what else could go wrong?

 

Wonwoo berjalan menuju balkon dan tentu saja, problem utama dia sedang menyiapkan bahan-bahan untuk BBQ nanti. 

 

“Hey, Won! Uda kelar mandinya?”

 

Ia mengangguk dan mengambil nafas panjang sebelum mempersiapkan hatinya menghadapi Mingyu. Selangkah, dua langkah. Ingin sekali rasanya berbalik dan mengambil langkah seribu menjauh dari senyumannya yang lebar itu. 

 

Kenapa sih lo harus ganteng kaya gitu? 

 

Kedua kaki Wonwoo akhirnya membawanya berdiri di depan lelaki itu. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Mingyu yang masih sumringah ke semua bahan makanan yang sedang dipersiapkannya. Berbagai macam daging tersedia di depannya bersamaan dengan bahan-bahan untuk sup tom yum dan entah apa lagi yang sudah direncanakan Mingyu dan Seokmin.

 

“Kenapa mukanya bingung gitu?”

 

Wonwoo meringis, “Gue nggak tau mesti ngapain karena gue nggak bisa masak sama sekali.”

 

“Oh? Bisa kali, Won, motong-motong gitu.”

 

“Jangan! Dia pernah hampir ngiris jarinya,” teriak Jihoon buru-buru dari kursi malasnya.

 

“Separah itu?” Mingyu bertanya.

 

Wonwoo hanya mengerucutkan bibirnya dengan malu, “Nggak sampe segitunya juga ah....”

 

Mingyu tersenyum, “Kalo nggak, mungkin bisa bantu gue campurin bumbu-bumbu ini? Gue pandu.”

 

“Okay.”

 

Dengan instruksi dari Mingyu, Wonwoo akhirnya membantunya memarinasi daging-daging.

 

“Ini, setelah dry rub-nya jadi, lo usap-usapin di seluruh permukaan dagingnya sampai rata. Bolak balik ya. Abis itu kita biarin dulu biar meresap bumbu-bumbunya.”

 

Setelah selesai, Wonwoo pergi ke dapur untuk mengambil wadah saus yang akan dipakai untuk memanggang. Ia terkejut setengah mati dan hampir menjatuhkan wadahnya ketika berbalik dan Jihoon tiba-tiba sudah ada dibelakangnya. Dengan gelagat yang sedikit aneh, Jihoon mencoba melihat ke arah Mingyu untuk memastikan ia tidak ada di dekat mereka, sebelum berkata, “Won, inget ya yang tadi kita bilang. You deserve happiness, okay. Percaya ama gue.”

 

“Okay?”

 

“Dengerin gue pokoknya, ya! Ikutin apa kata hati kecil lo, tapi yang sisi positifnya aja.”

 

Wonwoo tidak tahu kenapa Jihoon bersikap seperti itu tetapi kata-katanya terngiang-ngiang di benak Wonwoo sampai saatnya mereka semua berdiri di railing balkon sambil mengamati detik-detik tenggelamnya matahari. Sunset sore itu entah kenapa terlihat lebih indah dari biasanya dan Wonwoo teringat sebuah quote yang pernah ia baca sebelumnya.

 

Sunsets are proof that no matter what happens, every day can end beautifully.

 

Matahari terbenam mengajarkan kita bahwa apapun yang terjadi, setiap hari pasti akan berakhir indah.

 

“Bener, Won! Gila ini view-nya!” Mingyu yang berdiri di sebelahnya, masih berdecak kagum. Ia sampai menyiapkan kamera lengkap dengan tripodnya untuk merekam sunset tersebut.  

 

Dia nggak sih yang bikin beda? Biarpun gue nggak tahu perasaan lo ke gue gimana, tapi gue nyadar kalo gue suka lo di sini, di samping gue….

 

Seiring turunnya matahari yang akhirnya menghilang di balik cakrawala, Wonwoo kemudian memutuskan untuk membiarkan semuanya mengalir tanpa ekspektasi yang terlalu jauh. Ia ingin menikmati proses rasanya jatuh secara perlahan. Dan tidak seperti pengalamannya yang dulu-dulu, kali ini, walaupun mungkin pada akhirnya ia akan babak belur, Wonwoo merasa ia tidak akan menyesal merasakan semua perasaan ini. 



*・*・*



Setelah puas dengan keindahan sunset dan bulan sabit yang muncul kemudian, mereka mulai memanggang daging dan memasak makanan lainnya. Mingyu dan Seokmin ternyata chef yang handal. Wonwoo dan kedua sahabatnya berkali-kali minta tambah sampai semua masakan yang mereka buat, habis tak bersisa. Wonwoo merasa sangat kekenyangan malam itu dan sempat tidak mau beranjak dari kursinya.

 

Karena merasa tidak berkontribusi banyak, (disini Mingyu protes bahwa Wonwoo sebenarnya sudah membantu banyak dalam persiapannya), Wonwoo mengajukan diri untuk mencuci semua piring kotor. Tetapi karena perutnya terlalu begah, ia sempat ingin menunda mencuci semuanya besok. Sambil duduk di meja makan dan mengamati duo sepupu Seokmin dan Soonyoung bermain sparkles, ia berpikir lagi. Daripada dicuci besok pagi, lebih baik dikerjakan saat itu juga agar rasa lelahnya tidak double.

 

Dengan sisa tenaga yang ada, Wonwoo yang sudah selesai makan, mulai membawa semua peralatan memasak dan piring kotor yang sudah tidak dipakai, langsung ke dapur.

 

Baru menyabuni beberapa piring, tiba-tiba Mingyu datang dan mulai membantu Wonwoo. Ia sempat protes tetapi Mingyu hanya tersenyum dan berkata, “Lebih cepet kalo berdua. Siniin itu wajannya.”

 

Mereka lalu bekerja dalam diam tetapi bukan diam yang menyesakkan dada. Sesekali Wonwoo bersenandung dan Mingyu mengikutinya dan lama-lama mereka jadi tebak-tebakan judul lagu. Ketika giliran Wonwoo untuk menebak judul lagu yang sedang dinyanyikan Mingyu, Wonwoo tidak bisa menjawab.

 

“Masa lagu ini lo nggak tau sih? Wah, parah lo, Won. Ntar, pulang dari sini mesti les ama gue,” ucap Mingyu sambil mengibaskan busa sabun ke arah Wonwoo.

 

Wonwoo menghindar tetapi tetap saja busanya menempel di ujung lengan t-shirt-nya dan ekspresi mukanya langsung masam, “Gue uda lama nggak denger lagu-lagu dia, Gyu.”

 

“Tapi itu lagu lama, Won. Ntar gue share link album Spotify-nya deh.” 

 

Tanpa sadar, semua piring dan peralatan masak yang kotor, sudah bersih semua. Wonwoo sedang mengelap tangannya di kain lap dapur dan Mingyu membilas gelas terakhir dan meletakkannya di rak piring. Melihat Mingyu mengibaskan kedua tangannya di wastafel, Wonwoo memberikan kain lapnya ke Mingyu.

 

Setelah melihat tingginya tumpukan segala macam peralatan masak dan peralatan makan di dapur, Wonwoo bersyukur Mingyu menawarkan diri untuk menolongnya. Lumayan juga kalau Wonwoo mengerjakan itu semua sendirian, bisa-bisa besok dia tidak bisa bangun karena encok.

 

Thanks ya, uda bantuin gue,” Wonwoo menyandarkan pinggulnya di pantry wastafel sambil mengamati Mingyu mengelap tangannya.

 

No worries, Won. Nggak tega gue liat lo ngerjain semuanya sendirian.”

 

“Udah biasa jadi dishwasher gue,” Wonwoo terkekeh.

 

“Jangan lah! Gue nggak mau liat orang ganteng capek,”

 

“Siapa?”

 

Mingyu hanya tersenyum jahil dan menunjuk ke arah Wonwoo dengan dagunya. 

 

Mata Wonwoo terbelalak. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Mingyu dan mencoba mencari kebenaran atas omongannya barusan di dalam matanya. Mingyu tidak bergeming, senyumnya tetap menghiasi bibirnya. Samar-samar Wonwoo mendengar suara tawa teman-temannya di balkon tetapi detak jantungnya sendiri yang sepertinya terdengar paling kencang. Api kecil di dalam dada Wonwoo terasa semakin membara, ia sadar itu. Pipinya pun ikut memanas dan ia sadar, kali ini mukanya yang merah seperti kepiting terlihat jelas di bawah lampu dapur yang terang. Dan seperti saran Jihoon, kali ini, ia tidak akan berusaha menahan lagi apa yang ia rasakan. Akhirnya ia memberanikan diri mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.

 

“Gyu, I’m not gonna lie. I kinda know what we’re doing here but I wanna be certain. Lo ngerasain juga nggak sih? Or is it just me?

 

Mingyu menghela nafas, senyuman tadi masih menghiasi bibirnya. Ia memutar badannya menghadap Wonwoo dan menatapnya lurus, “Honestly, gue nggak tau kenapa tapi lo ngerasa nggak sih koneksi kita? Gue juga tahu kita baru kenal banget beberapa hari ini. Tapi gimana ya?”

 

Mingyu tertawa dengan canggung dan menambahkan, “Duh, gue sebenernya nggak mau ngelakuin ini sekarang, tapi….”

 

Ia menunduk dan mengambil kedua tangan Wonwoo kemudian mengangkat kepalanya lagi. Dengan ekspresi wajah yang serius, ia bertanya, “Mau nggak coba jalan ama gue? As in dating ya, bukan jalan kaki,” Mingyu tertawa. 

 

Mingyu lalu melanjutkan, “Pelan-pelan aja. We don’t have to name whatever we have here for now tapi nanti kalo uda pasti, I’d really want to name you mine.”

 

Debaran jantung Wonwoo sudah tidak terkontrol, tidak percaya rasanya bahwa hati kecilnya ternyata benar. Mingyu juga menyukainya balik. Ia ingin menangis rasanya. Ia membuka dan menutup mulutnya dan kata-kata yang akhirnya keluar sembari tertawa adalah : “Anjir, gombal banget!” 

 

“Gue serius iniiii…” Mingyu tertawa juga dan suaranya terdengar bergetar. Selama ini, Wonwoo tidak pernah melihatnya secanggung ini. Mingyu lalu memiringkan kepalanya dan mencoba menangkap mata Wonwoo yang terlihat malu, “So? Gimana? Let’s try dating?

 

“Lo nggak ada pacar atau tunangan yang lo sembunyiin dari gue kan?”

 

“Hah? Won! Gue bukan orang yang kaya gitu!”

 

Wonwoo terkekeh, “I just wanted to make sure.”

 

“Okay, muka gue emang kek penjahat kelamin, banyak yang bilang gitu, but I promise you, I’m not like that. Lo bisa nanya Seokmin, dia temen kecil gue…”

 

Wonwoo menggigit bibirnya sendiri, melihat betapa lucunya Mingyu mencoba menjelaskan semuanya sampai TMI yang paling tidak penting pun ia coba jelaskan. Perasaan Wonwoo saat ini sulit untuk dijelaskan. Semua bercampur aduk dan ingin rasanya ia mengubur dalam-dalam reaksi childish dia tadi siang saat Mingyu mengatakan dia temannya. 

 

“Gue jadi inget. Tadi siang kan lo bilang gue temen lo,” alis Wonwoo berkerut dan bibirnya mulai cemberut.

 

“Ah! Itu…. Kalo gue bilang lo calon gue, ntar lo ilfeel lagi karena kita baru kenal. Soalnya lo nggak pernah kasih reaksi tiap gue di deket lo, Won.” 

 

“Lo nggak tau lo suka bikin gue jantungan? Sama muka gue slalu merah kalo lo tiba-tiba ngedeketin?

 

What? Selama ini gue kira lo kepanasan, Won.” 

 

Wonwoo rasanya ingin tepok jidat saja. Kim Mingyu, kenapa lo selalu bikin gue capek? 

 

Ia mengamati perubahan ekspresi di wajah Mingyu, dari grogi lalu malu dan juga penuh harapan. Dan sambil mengamati wajahnya itu, Wonwoo baru menyadari ada beberapa tahi lalat kecil di wajahnya tetapi yang paling menggemaskan ada di ujung hidungnya.

 

That beauty mark on the tip of your nose, it’s cute.

 

Mata Mingyu terbelalak, tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Wonwoo. Pipinya pun perlahan jadi sedikit merona karena pujian yang didapatnya barusan dan Wonwoo bangga karena ia yang menyebabkan itu.

 

Pada akhirnya, ketulusan di mata Mingyu dan genggaman tangannya yang hangat, membuat Wonwoo memutuskan untuk mencoba berjalan bersamanya, terutama setelah ia tahu perasaannya berbalas. Sambil tersenyum lebar, Wonwoo menjawab, “Yok.”

 

Ia lalu melepaskan satu tangannya dari Mingyu dan menggandengnya keluar dari dapur menuju ke balkon.

 

“Yok? Yok maksudnya apa? Yok main kembang api? Yok nge-date? Won!”

 

Sifat Wonwoo yang jahil lagi-lagi muncul terutama ketika sedang bersama orang-orang tersayangnya dan Mingyu baru saja masuk ke dalam list-nya secara resmi. Wonwoo bersyukur atas keputusannya tadi sore untuk membiarkan semuanya mengalir sehingga ia sekarang bisa jatuh cinta pada Mingyu sepenuhnya. 

 

—-

 

Lima tahun berlalu sejak malam itu. Wonwoo dan Mingyu memulai masa penjajakan mereka dengan perlahan tetapi pasti. Menerima seseorang seutuhnya termasuk sifat baik dan buruk mereka masing-masing tidaklah mudah. Tak jarang mereka bertengkar karena hal kecil seperti kebiasaan buruk Wonwoo yang terlalu sering makan mie instan atau Mingyu yang terlalu resik dan memindahkan (merapihkan) barang-barang Wonwoo di tempat yang tidak biasa Wonwoo letakkan.

 

Tetapi itu semua mereka lalui bersama. Komunikasi adalah hal yang paling penting di antara mereka dan mereka selalu berusaha meluruskan setiap kesalahpahaman yang terjadi, biarpun terkadang memakan waktu karena sifat keras kepala mereka masing-masing.

 

Saat ini, Wonwoo sedang berdiri di depan lemari pajangan yang ada di ruang tamu dan memandangi bingkai-bingkai foto satu per satu. Keluarganya, sahabat-sahabatnya, semua hadir disitu. Satu bingkai foto hitam berukuran medium kemudian diraihnya dan di dalam foto itu, ia melihat empat orang tersenyum balik kepadanya. 

 

Lima tahun adalah waktu yang tidak singkat tetapi senyum orang-orang yang terdapat di dalam bingkai itu masih tetap sama. Masih terbayang euphoria yang ia rasakan ketika itu. Ia dan sahabat-sahabatnya menikmati liburan mereka selama seminggu, menikmati festival musik, menikmati pemandangan alam dan beragam makanan. Dan tak hanya itu. Disana ia juga bertemu kembali dengan Mingyu.

 

Lucu juga kalau dipikir-pikir, semua pertemuan mereka berdua berhubungan dengan pintu dan Mingyu-lah yang selalu ada untuk membantu Wonwoo membukakan pintu-pintu itu. Tak hanya itu, Mingyu juga yang akhirnya dapat membuka pintu yang selama ini tertutup rapat dan menjaga hati Wonwoo.

 

Sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggang Wonwoo dan menariknya ke belakang. Ia terkungkung dalam dekapan yang cukup erat dan Wonwoo sudah hafal pemiliknya siapa. Dengan hati-hati, ia mengembalikan bingkai foto tadi di lemari pajangan dan berbalik menghadap ‘penyerangnya’.

 

“Lagi ngapain, hmm?” tanya Mingyu.

 

“Engga, tiba-tiba liat muka orang jelek di foto tadi,” balas Wonwoo sambil menangkup kedua pipi Mingyu, matanya mulai terlihat jahil.

 

“Oh, yang mana? Yang kuyup kaya habis kecemplung got itu ya? Aku juga inget dia bau banget waktu itu.”

 

Wonwoo menampar pipi kiri Mingyu dengan pelan, “Jelek-jelek juga kamu nikahin.”

 

“Iya, kok aku mau ya? Pake pelet kali ya tu orang?”

 

Wonwoo tertawa dan langsung menarik muka Mingyu lebih dekat. Ia mengecup hidungnya, tepat di ujung yang ada tahi lalatnya. Pertama  ia menyadari tahi lalat itu, ia tidak bisa berhenti memandanginya. Fascinated. Karena letaknya yang tidak lazim, membuat Mingyu makin menggemaskan. Wonwoo sampai memiliki kebiasaan menciumi setiap beauty mark yang ada di tubuh Mingyu dan Mingyu tertular kebiasaan itu.

 

Dari hidung, Wonwoo mengecup bibir Mingyu sekali dan bermaksud melepaskan pelukannya tetapi Mingyu memiliki rencana lain. Ia mempererat pelukannya dan mulai mencium Wonwoo lebih dalam hingga kedua nafas mereka memburu. Entah berapa lama mereka make out karena setelahnya, mereka mendengar suara Soonyoung dan JIhoon dari arah pintu masuk.

 

“Woi, udah cipokannya? Kita uda lima belas menit nunggu ini di teras!”

 

Dan kebalikan dari lima tahun yang lalu, kali ini giliran Wonwoo dan Mingyu yang berusaha merapikan pakaian dan rambut mereka untuk menyambut teman-teman mereka yang datang berkunjung ke rumah baru mereka.



Fin.

Notes:

Hello, Siren here!

Kali ini aku nyoba ikutan event ymmday. Prompt kejebak di toilet ini sebenarnya udah lama kepikiran pingin bikin dan baru sempet up sekarang, untung bisa pas untuk prompt meet cute. Hopefully pada suka ya and thank you for reading! (≧◡≦)
Oh and ini bagian dari series so you might get to see more of them later.

Come and say hi!♡
twitter
curious cat

Series this work belongs to: