Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-10-10
Words:
4,746
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
75

beneath a blanket of stars

Summary:

Bingung jadi Aya. Soalnya kalau ditanya Aya sama Nino hubungannya apaan, susah buat jelasinnya. Yang paling aman tentu saja dengan bilang kalau mereka temenan. Tapi jelas nggak akan ada yang percaya itu karena Nino yang dulunya kemana-mana sendiri sekarang jadi selalu ada yang buntutin — jangan salahin Aya kakinya kalah panjang sama kaki Nino, oke?
Tapi kalau mau bilang mereka lebih dari temenan … ya nggak juga.

Work Text:

Setelah perkara salah paham waktu tugas kelompok sudah berakhir dengan damai, kaku yang menyelimuti pertemanan Aya dengan Nino perlahan terurai. Aya udah nggak lagi kelewat waspada dan takut ditinggal tanpa alasan lagi di tugas-tugas kelompok mereka selanjutnya (karena sekarang mereka tetap satu kelompok walaupun kelompoknya bikin sendiri). Sebaliknya, Nino juga udah nggak lagi diem-diem aja kalau memang dia mau telat atau nggak bisa dateng ke tempat janjian mereka.

Aya kira selain karena tugas kelompok yang sebenarnya juga nggak banyak-banyak banget mereka udah nggak ada alasan lagi untuk ketemu, tapi anehnya justru dia atau Nino bergantian punya alasan yang biasanya berakhir dengan Aya yang menyambangi Nino di studionya.

Yang pertama Aya ke sana untuk mengembalikan buku fotokopian yang ia pinjam untuk dipakai mengerjakan tugas kelompok mereka. 

Lalu yang kedua Nino mengajak Aya ke studio lalu diajak makan bareng (dipesenin gofood) sebagai permintaan maaf (sekali lagi) karena waktu itu sempat bikin Aya sedih.

Yang ketiga Aya ngebawain makanan buat Nino karena Evan bilang Nino udah dua mingguan susah makan soalnya lagi fokus bikin lagu buat gig mereka selanjutnya. 

Yang keempat Nino minta pendapat Aya tentang lagu yang ditulisnya — sebenernya Aya bingung juga sih kenapa Nino tanya pendapatnya, toh dia nggak paham-paham amat tentang komposisi lagu dan cuma bisa bilang enak atau kurang enak. Tapi Nino menepuk pelan puncak kepalanya dan bilang kalau memberikan feedback kayak gitu tuh, sudah cukup.

Setelah itu mereka ketemu udah nggak pake alasan lagi. Aya ke studio kalau dia pengen, Nino juga ngajakin Aya ke sana walaupun dia nggak sedang butuh opini apa-apa. Anak-anak yang lain juga udah nggak ngeliatin Aya dengan aneh ketika Aya tiba-tiba nyelonong masuk dan menemui Nino. awalnya sih dia sering digodain, tentu saja. 

“Nino! Pacar lo dateng nih!”

Itu Radit yang teriak, yang kepalanya langsung disabet bantal sofa karena teriakannya bikin Aya wajahnya merah padam.

Sorry, Ay. Anggep yang tiga itu tembok, oke? Cuekin aja,” Nino bilang ke arah Aya, mengabaikan protes nggak terima dari Radit karena rambutnya yang udah di-pomade rapi-rapi berantakan. 

“Ciyeee manggilnya Ay!” kali ini gantian Brian yang menggoda. Padahal dia lagi ndlosor di lantai membantu Evan membetulkan drum (entah apanya) tapi ternyata masih sempat mendengar dan nimbrung.

Nino mendengus sampai Aya bisa mendengar hembusan napasnya. “Ya kan nama dia emang Aya,” katanya pelan-pelan kayak lagi jelasin ke anak TK yang susah dikasih tau.

Mendengar itu Radit, Evan dan Brian berpandang-pandangan dari berbagai penjuru ruangan lalu ngakak bersamaan. Aya yang dari tadi belum sempet ngomong apa-apa tangannya ditarik Nino ke pojok ruangan. “Apa gua bilang,” yang lebih tua menggerutu sebal. “Emang mending dicuekin aja mereka tuh.”

Aya cuma manggut-manggut pura-pura mengerti, masih bingung kenapa mereka ketawa sampai segitunya. Memang ada yang salah ya, sama namanya?

(Seandainya Aya tahu, Brian pernah didorong Nino sampai nggelinding dari sofa karena dia bilang kalau dia akan mulai manggil Aya ‘Ay’).

Jadi yah, begitulah. Sekarang mereka cuma kadang-kadang aja godainnya, selebihnya langsung kasih tahu Nino ada di mana. Selain itu akhir-akhir ini juga mereka ketemuan nggak lagi cuma di studio, melainkan juga nonton berdua ke bioskop, makan berdua di angkringan deket rumah Aya, dan pernah juga beberapa hari Aya dianter jemput Nino karena dia kakinya habis terkilir akibat terpeleset di tangga fakultas.

Bingung, kan. Bingung jadi Aya. Soalnya kalau ditanya Aya sama Nino hubungannya apaan, susah buat jelasinnya. Yang paling aman tentu saja dengan bilang kalau mereka temenan. Tapi jelas nggak akan ada yang percaya itu karena Nino yang dulunya kemana-mana sendiri sekarang jadi selalu ada yang buntutin — jangan salahin Aya kakinya kalah panjang sama kaki Nino, oke?

Tapi kalau mau bilang mereka lebih dari temenan … ya nggak juga. Memang sih di kepala Aya rasanya mereka berdua tuh kayak sepasang manusia lagi pedekate. Aya juga bukannya ingin kepedean tapi rasanya Nino suka dia. Brian bahkan pernah dengan tanpa basa-basi bilang kepadanya kalau dia satu-satunya cewek yang pernah diajakin ke studio sama Nino. Tapi bukannya kalau memang Aya spesial buat Nino, harusnya Nino bilang? Tapi kakak tingkatnya itu sama sekali nggak pernah mengatakan apa-apa perihal posisi Aya di hidupnya.

Pernah sih, mereka bahas sesuatu ketika Radit bilang kalau pacar Nino datang setiap Aya muncul. Tapi waktu itu Nino cuma minta maaf. “Sorry, ya. Di sini kalau ada cewek masuk memang pasti digituin, dan mereka pengen balas dendam soalnya selama ini gue godain mulu tapi nggak pernah ajak cewek ke sini.”

Sama persis seperti yang dibilang Brian kepadanya. Tapi tetap saja, nggak ngilangin rasa bingung dan penasaran Aya. Jadi maksudnya Nino tuh keberatan nggak, kalau dibilang Aya pacarnya???

Aya juga nggak paham sejak kapan jadi penting banget baginya untuk tahu apakah dia istimewa di mata Nino atau nggak. Padahal dulu dia sempet sebel banget sama yang lebih tua, sempet diam-diam menghadiahinya sumpah serapah karena bikin dia kelimpungan ngerjain tugas kelompok yang agak susah baginya. Tapi rasa nggak suka itu pelan-pelan tergerus setelah tahu kondisi Nino yang sebenarnya, setelah tahu kalau dia tuh bukannya sengaja meninggalkan tugasnya tapi ternyata terpaksa.

Habis itu Aya semacam melepaskan kacamata kuda yang sebelumnya ia kenakan. Nino bukan lagi kakak tingkat yang nyebelin dan egois itu, bukan lagi si vokalis band sekaligus anak BEM yang super sibuk sampai nggak bisa prioritasin kuliah, yang nggak bisa meluangkan waktu buat nyapa orang-orang di kampus yang ia kenal. Karena ternyata selain satu matkul yang ia ulang ini — yang Nino dapat D karena harus bolos beberapa kali walaupun tugasnya lengkap — yang lainnya nilainya bagus-bagus sampai nggak Aya merasa bersalah karena pernah mikir Nino nggak becus kuliahnya. Memang iya Nino sering telat, sering terpaksa ijin nggak masuk, tapi dia selalu berusaha menambal kurang-kurangnya itu dengan mengerjakan tugasnya dengan baik. 

Ternyata lagi, Nino bukannya sombong tapi dia tuh … kaku. Dan cuek. Sumpah. Orang bakal ngira posisinya sebagai vokalis band DAN anak sosbud di BEM akan membuat Nino jadi seseorang yang …  well, nggak sekaku dan secuek itu lah, at least. Tapi barangkali justru tendensinya untuk nggak banyak basa-basi itulah yang bikin dia bisa multitasking. Lagipula cueknya itu bukan berarti dia cuek juga di atas panggung.

Big. No

Karena Nino si vokalis Midrose kalau sudah pegang mic di tangan jadi pinter ngedip-ngedip genit dan nyapa mbak-mbak cakep yang keliatan sendirian dan nggak digandeng siapa-siapa.

“Dibilangin itu tuh fanservice!” Aya pernah denger Nino bilang begitu ketika lagi-lagi ia digoda sudah bikin salah satu penonton mereka ngerasa ditembak di tempat.

Itu juga yang bikin Aya semakin bingung tentang makhluk bernama Elnino Diwangkara. Tentang apa yang sebaiknya dirasakan ketika bersama pemuda itu, serta tentang bagaimana ia seharusnya menyikapi hubungan yang definisinya entah ada atau tiada ini.

“Dia cuma pengen HTS-an kali, Ay?” Karin bertanya-tanya setelah akhirnya Aya nggak tahan dan memutuskan buat curhat.

Aya menggaruk-garuk ujung hidungnya yang nggak gatal. “Gitu?”

“Jaman sekarang kan banyak orang nggak mau diiket komitmen, kali aja dia juga kayak gitu?”

“Masuk akal, sih … Tapi sedih.”

Karena bagaimanapun Aya manusia biasa yang ingin sesuatu yang pasti. Yang nggak ingin terus-terusan bertanya-tanya bagaimana menempatkan diri biar nggak salah langkah dan bikin semuanya justru hancur berantakan.

Karin menepuk-nepuk pundak Aya penuh simpati.

 


 

Nino pusing seribu dua ratus dua puluh empat keliling. 

Jatuh cinta tuh nikmat rasanya, katanya. Hati serasa berbunga-bunga, katanya. Tapi bukannya berbunga-bunga rasanya Nino tuh sekarang pengen ikutan grup debus terus gigitin bunganya, barangkali sama beling sekalian biar makin afdhol. At least kalau ada beling sama bunga di perutnya bisa terjustifikasi kenapa sekarang dia rasanya terus-terusan mulas karena gugup dan pengen guling-guling di lantai dan bingung nggak tentu arah.

Kenapa bingung, tanyamu. Karena dia nggak tau gimana caranya bilang ke orang yang dia suka kalau dia, well, suka. Walaupun popularitas dan tampangnya seperti ini (bukan sombong) tapi Nino sama sekali belum pernah pacaran, dan juga sama sekali belum pernah minta seseorang buat jadi pacarnya.

“Tinggal bilang, ‘mau nggak jadi pacarku?’ gitu elah, susah amat sih manusia,” Evan menggerutu. Tangannya memutar-mutar stick drum yang diam-diam Nino doakan biar lepas dari tangan dan kena kepalanya.

Karena, bisa-bisanya itu si Evano Emmanuel Wiratmaja bilang begitu, dengan entengnya nyuruh Nino buat nembak Aya padahal Evan yang deket banget sama si cewek. Nino tahu kalau mereka cukup dekat sampai sering curhat-curhatan, sesuatu yang Nino sendiri belum pernah lakukan dengan Aya. Dan Nino juga tahu kalau sedang bersama Evan Aya selalu ketawa sampai terkapar dan ada air mata di sudut matanya, sesuatu yang juga belum pernah berhasil Nino lakukan, mengingat sikapnya yang terlalu kaku apalagi saat bersama dengan seseorang yang dia suka.

Evan tuh temen apa temen sih? Nino sering membatin sebal sekaligus iri.

“Gue nggak yakin dia bakal nerima,” akhirnya cuma itu yang Nino bilang dengan lirih, tiba-tiba jadi sedih karena teringat kalau Aya dikelilingi oleh orang-orang yang jauh lebih oke dan seru daripada dia.

Apalagi juga ada sejarah yang kurang mengenakkan di antara mereka berdua walaupun nggak terlalu masif dan bisa dengan cepat terselesaikan. Tapi tetap saja, gimana kalau dia salah langkah waktu menyampaikan perasaannya dan mereka justru jadi salah paham lagi? Apalagi dia tuh cuma lancar lidahnya kalau di atas panggung doang. Masa iya dia nembak Aya dari atas panggung? Memang sih dia pernah kasih shoutout ke Aya, dulu waktu mereka belum lama kenal dan dia kebawa sebel yang lebih muda kebanyakan liatin Brian daripada dia. Tapi itu sama nyatain perasaan tuh beda. Dia pengen momen yang penting seperti ini tuh privat, cuma di antara mereka berdua, bukan sesuatu yang jadi konsumsi publik dan bahan gosip seisi kampus.

Evan yang tampaknya kasian melihat Nino mendadak murung meremas bahunya pelan. “Coba dulu. Kalo ditolak ntar gantian gue yang nembak.”

Nino langsung meraih stik cadangan yang tergeletak di lantai dan dilemparnya ke kepala Evan. Nggak mau kalah, Evan melemparkan botol Aqua yang tiga per empat kosong ke arah Nino. Nggak lama kemudian semua barang yang bisa dilemparkan beterbangan di ruangan kecil itu.

Sialan emang si Evan. Nino kan jadi kepikiran. Kepikiran pada bagaimana Aya begitu dekat dengan banyak laki-laki lain. Dengan anak-anak Midrose, dengan teman-teman satu angkatannya, dan bahkan beberapa anak BEM yang pernah ketemu Aya waktu dia Nino ajak ke markas sebentar juga langsung akrab dengan gadis itu dan selalu mengajaknya mengobrol setiap Aya mampir.

Nino nggak suka. Nino nggak suka ada di level yang sama dengan orang-orang lain. Nino pengennya Aya ngeliat ke dia dulu, baru yang lain. Nino pengennya Aya ketawa sama dia dulu, baru ketawa sama yang lain.

Nino juga tahu ini semua bukan salah Aya. karena Aya nggak tahu tentang apa yang ia rasakan. Dan salah Nino juga nggak terlalu becus buat nunjukkin gimana dia tuh jatuh sayang, sama gadis itu.

“Oke!” Nino berseru setelah dia merenung cukup lama. Setelah berhari-hari mikir akhirnya dia bisa mengambil keputusan.

Ade, salah satu anak PSDM yang saat ini bersama dengan Nino di ruangan BEM memandang ke arahnya aneh, tapi Nino pura-pura nggak liat. Karena daripada merhatiin begituan ada yang jauh lebih penting: tekad yang baru saja dia dapat untuk segera nembak Aya.

Sekarang tinggal mikirin caranya gimana, di mana, dan kapan. 

Nino mengangkat kotak gitar yang tadi dibawanya ke sini. Dia bisa mulai dengan mencurahkan apa yang ia rasa lewat lagu yang ia gubah. Mungkin dengan begitu akan lebih mudah baginya untuk mencurahkan perasaan ketika kata-kata gagal disampaikan.

 


 

Akhirnya, akhirnya Nino berhasil juga mengusir tiga biji hama dari studio dan berduaan dengan Aya. Besok dia harus merangkak di lantai nyariin pick gitar Radit yang tadi dia pake buat nyambit kepala Evan, tapi urusan besok dipikirin besok saja.

Nino balas menatap ketika Aya menatap ke arahnya. 

Aya mengerjap. Nino ikut mengerjap. 

“ … Apa?” tanya Nino setelah sadar kalau dari tadi dia nggak merhatiin Aya karena … sibuk ngeliatin orangnya.

“Aku bilang … “ Aya mengulang kalimatnya pelan-pelan. “Kapan aku mau diajarin gitaran lagi?”

“ … Ah,” jawab Nino. Lalu dengan cepat suatu ide berkelebat di kepalanya. “Gue baru bikin lagu baru nih, chord-nya gampang, mau diajarin itu?”

Aya belum terlalu paham chord gampang tuh kayak gimana — buatnya semuanya susah — tapi dia mengangguk mantap. 

Nino yang biasanya meraih gitar sendiri untuk memberi contoh chord yang harus dimainkan hari ini langsung duduk di sisi kiri Aya dan mengarahkan jemari yang lebih muda di finger board-nya. Mereka udah sering duduk sebelahan, pegang-pegang tangan juga udah nggak asing lagi, tapi nggak pernah sedekat ini.

Dua-duanya sama-sama menahan napas dan berusaha berkonsentrasi walaupun pikiran sudah terbang kemana-mana. 

“Ini udah ada liriknya?” tanya Aya setelah beberapa saat Nino menuntun laju permainannya cuma dengan menggumam pelan. 

Ini dia. Batin Nino. Ini dia saatnya. Saatnya dia bilang ke Aya kalau ini lagu khusus untuk —

“Nggak ada.”

Nggak bisa. Nino nggak bisa. Aya seharusnya ditembak di tempat yang jauh lebih oke ketimbang studio kecil yang lampu ruangannya sudah mati tiga dan belum diganti. Nanti. Nino akan memikirkan tempat dan cara yang lebih romantis untuk menyatakan perasaannya pada Aya nanti. 

 


 

Evan nggak tahu dia ada salah apa kenapa tiba-tiba disuguhi pemandangan gebetan temennya mencebik di depan matanya seperti ini.

“Nino ada kelas,” katanya setelah hampir sepuluh menit Aya seperti itu di depannya. Ujung sepatunya menendang tulang kering Aya yang dibalut celana jeans. Pelan tentu saja.

“Iya tau,” si mahasiswi semester satu itu menjawab, masih lengkap dengan bibir bawah yang maju dan kening yang berkerut.

Evan yang terus-terusan menjadi saksi dua orang yang harusnya saling suka tapi terus-terusan ngegalauin satu sama lain itu mencubit hidungnya nggak sabaran. “Apa sih? Kalo mau cerita gih cerita, kalo nggak ya udah sono hush pergi lo ganggu.”

Gantian kaki Evan yang ditendang, dan tentu saja Aya nggak repot memelankan tendangannya. “Lo yang baik dikit kek sama orang lagi sediiih!”

Evan dengan sengaja nggak jawab apa-apa, memilih buat nerusin main 2048 di hapenya. Iya memang ini game udah nggak ada yang main selain Evan si orang aneh.

Aya menendang kaki Evan sekali lagi. “Kak Nino kok nyuekin gue terus kenapa ya?”

“Punya pacar kali sekarang,” jawab Evan enteng. “Eh! Eh! Hape gue jangan dibuang! Woi ah!”

Hape Evan baru dikembalikan setelah Aya bikin permainannya game over

“Lo tuh nanya tapi barbar,” Evan bersungut-sungut setelah selesai meratapi game-nya yang tadi hampir mengalahkan best score terakhirnya.

Aya merosot semakin jauh di sandaran sofa studio. “Lo ngeselin sih, nggak punya perikemanusiaan.”

Evan gedeg banget tapi kasian juga lama-lama liat anak orang sedih. “Ya udah ya udah sini cerita sama Abang. Lo diapain Nino?”

“Nggak diapa-apain,” Aya semakin cemberut karena inget kalau dia betulan nggak pernah ngapa-ngapain lagi sama Nino dua pekan terakhir ini. Nggak pernah diajakin ke studio, kalau Aya ke studio pun Nino jarang ada, kalau ada ya anaknya sibuk banget ngerjain entah apa, nggak pernah ngajakin makan bareng, udah lama nggak nonton, bales chatnya makin lama dan makin singkat. 

Aya jadi galau.

“Oh lo pengennya diapa-apain?”

Bantal sofa melayang ke muka Evan.

“Gila gue salah lagi, salah lagi. Ya Tuhan tolong berikan saya jodoh yang baik nggak kayak cewek satu ini, aamiin.”

Kepalang sebel, Aya akhirnya bangkit dari sofa dan beranjak pulang. Tidak lupa dengan meninggalkan satu kali tendangan keras ke lutut Evan.

Evan terkekeh geli walaupun lututnya ngilu ketika ia menyaksikan punggung gadis itu lesu saat keluar dari studio. Ya masa dia bilang kalau Nino lagi sibuk planning buat rencana akbar kencan mereka? Gini-gini Evan tuh temen yang loyal ya, pantang membongkar rahasia.

Kecuali kalau bongkar rahasianya bikin ribut, itu baru dia bersedia buka mulut. Dia kan suka liat orang berantem.

“Aya habis ngapain dah di sini?” tanya Nino yang barusan melihat Aya belok di gang ketika ia hendak masuk ke studio.

“Habis pacaran sama gue.”

Nah, yang kayak gini ini pokoknya. Evan sukanya yang bikin ribut-ribut. Dia lagi-lagi ketawa geli ketika kerah kemejanya diraup dan dicengkeram Nino.

“Lo jangan macem-macem,” tegas Nino. Lelahnya menyiapkan kejutan dari Aya dan desperasinya menyembunyikan kejutan itu membuatnya jauh lebih sensitif daripada biasanya.

Evan dengan kalem melepaskan jari-jari Nino dari kerahnya. “Sekarang sih gue bercanda. Tapi itu gebetan jangan dicuekin kalo nggak pengen dia kabur sambil lo siap-siap nembaknya.”

 


 

Aya tahu dia keliatan nggak atraktif waktu mangap kayak gini tapi cuma itu yang bisa dia lakukan ketika mendapati Nino sudah sampai di depan rumahnya padahal dia baru saja selesai ganti baju setelah barusan sampai rumah. 

Kenapa dia di sini? Apa Evan bilang kalau dia sedang galau? Emang dasar ya tuh manusia mulutnya ember. Aya dalam hati bertanya-tanya sekaligus misuh-misuh sendiri.

Nino berdiri di depan pintu rumahnya dengan helm masih nangkring di atas kepala. Kayak capung, Aya membatin nggak masuk akal nggak tahu kenapa. “Besok Sabtu ada acara nggak?” tanya Nino tanpa pembukaan.

“Uhh … “ otak Aya tiba-tiba offline padahal itu pertanyaan gampang. “Nggak ada?” 

Senyum Nino mendengar dia mengakhiri jawabannya dengan nada bertanya membuat Aya semakin blank. “Kalo tanya aku, aku pengennya nggak ada.”

Aku. Ada lebah ribut banget berdengung di kepala Aya.

“Oke. Nggak ada,” Aya menurut, membuat senyum Nino semakin lebar. 

“Pergi sama aku ya? Sampai Minggu. Please? Aku udah … pinjem mobil buat kita pake.”

Jadi karena itu Nino akhir-akhir ini ngilang, nyari pinjeman mobil? Buat ngapain, pergi sambil nginep juga? Sebelah mata Aya menyipit tapi dia nggak berkomentar apa-apa. “Oke. Jam berapa?”

“Sebangunnya,” Nino senyum lagi. Kenapa ya cowok ini jadi banyak senyum padahal habis bikin anak gadis galau berhari-hari? “Kalo udah bangun chat aku, ntar langsung aku jemput.”

Aya masih nggak paham sebenernya ini tuh ada apa tapi paling nggak dia nggak harus dipaksa bangun pagi buat menuju entah kemana.

 


 

“ … Ini kita doang?” Aya bertanya setelah mereka cukup lama melaju dan keliatan sedang menuju luar kota, ternyata nggak mampir jemput seseorang atau beberapa orang.

Nino menoleh cepat sampai Aya buru-buru nyuruh dia buat ngeliatin jalan dengan bener.

Nino menahan diri buat nggak benturin kepala ke roda setir. Lagian kok bisa sih dia ngelewatin detil yang penting ini? Pantesan Aya iya-iya aja diajakin pergi sampai besok, ternyata dia ngira mereka pergi ramean! Nino perlahan-lahan menepikan mobilnya, mematikan mesin, lalu menghadapkan badannya ke arah Aya.

Sorry,” kata Nino. Telapak tangannya diusapkan kasar ke wajahnya sendiri. Bisa-bisanya goblok di saat sepenting ini. Diomelinya lagi diri sendiri dalam hati sebelum melanjutkan. “Sorry gue nggak jelas ngomongnya. Iya, aku pinjem ini buat kita pergi berdua. Kamu mau nggak? Kalau nggak mau nggakpapa, kita puter balik sekarang.”

Aya membuka mulut, lalu ditutupnya lagi. Yang muncul paling pertama tentu saja nasehat dari Bunda: “hati-hati sama cowok, bahkan yang kamu percaya sekalipun.” Tapi, tapi … bohong kalau Aya bilang pergi berduaan sama Nino adalah sesuatu yang nggak dia inginkan. 

Perlahan Aya mengangkat tangannya, khawatir justru dia yang bikin Nino kabur ketakutan karena sekarang wajah yang lebih tua sudah pucat pasi. Lalu ringan diletakkannya telapak tangannya ke lengan Nino yang jari-jarinya masih mencengkeram kemudi. “Mau,” katanya lirih tapi sama sekali nggak menutupi mantap yang ia rasakan. “Yuk,” Aya meremas lengan Nino pelan.

Senyum Nino kemudian tipis tapi tulus dengan sudut-sudut mulut sedikit bergetar emosional. “Okay,” katanya. “Okay,” Nino menjawab sekali lagi, mendapatkan kembali tekad yang barusan sudah tercecer kesana kemari.

Tiga jam setelah mereka melintasi dari batas kota, mobil yang mereka tumpangi mulai melambat karena memasuki wilayah campground. Butuh waktu beberapa saat sampai Nino menemukan RV site di sana. Untung saja ini bukan musim liburan jadi dia nggak terlalu kesulitan menemukan spot yang oke untuk memarkir kendaraan. Nggak terlalu jauh dari mobil camper lain sampai mencurigakan, tapi cukup ke pinggir sampai pemandangannya ke arah danau yang luas sama sekali nggak terhalang.

Aya mengedarkan pandangan lewat jendela yang sudah dibuka lebar-lebar sejak mereka memasuki area taman super luas itu. “Kirain tuh tadi kita mau ke sana!” serunya, menunjuk ke area di mana tenda-tenda bertebaran di atas rerumputan. 

“Emang bisa kamu berdiriin tenda?” tanya Nino jahil, sudah nggak lagi tegang gara-gara salah paham tadi. 

Aya menggaruk ujung hidungnya. “Ya nggak sih … Tapi kan ada kamu!”

Nino ketawa aja mendengar Aya semangat banget, dalam hati bersyukur calon pacarnya (amin) itu anaknya ceria kalau sudah merasa nyaman. Nino lalu turun dari mobil dan bergegas ke arah pintu di sisi Aya dan membukanya. Padahal nggak perlu, tapi dia ingin mengusahakan biar malam ini seistimewa mungkin buat mereka berdua.

Aya senyum-senyum malu tapi dia seneng diperhatiin sama Nino seperti ini tanpa perlu digodain orang lain. Dia menyambut tangan Nino yang terulur dan bahkan setelah Aya turun pun, genggaman tangan mereka nggak lepas. Mereka gandengan berdua menuju pintu belakang mobil untuk mulai menyiapkan tempat istirahat mereka malam ini.

Setelahnya mereka duduk berhadap-hadapan di ruang kecil itu, Nino dengan gitar di pangkuan, dan Aya dengan secangkir cokelat hangat yang dipegang di depan dada sebagai penghangat sekaligus sebagai microphone.

Lagu yang mereka nyanyikan berdua kemana-kemana dari Sheila on 7s sampai K-ballad sampai dangdut koplo yang entah kenapa mereka sama-sama tahu. Nggak lupa juga mereka nyanyikan diskografi Midnight Rose lengkap dengan impersonasi Aya tentang kelakuan Nino yang super flirty di atas panggung, membuat yang lebih tua menggenjreng gitar sambil menunduk-nunduk karena malu dan juga karena kebanyakan  ketawa.

Di satu titik mereka berdua sama-sama terlalu lelah dan berhenti bernyanyi. Beberapa detik hening selain suara-suara camper yang lain di sekitar mereka membuat atmosfer langsung berubah. Bukan canggung, cuma serasa … penuh. Penuh karena mereka berdua sama-sama tahu ini bukan piknik biasa, sama-sama tahu akan ada sesuatu yang terjadi di sini, yang akan mengubah apa yang saat ini mereka punya.

Nino berhitung sampai tiga dalam hati, lalu melemparkan senyum ke arah gadis di hadapannya. Dicernanya baik-baik bagaimana gadis yang kuncirnya sudah mulai longgar dan anak-anak rambut ke sana kemari melintasi wajahnya itu wajahnya merona dan terlihat bahagia. Semoga, setelah ini dia pun akan tetap bahagia bersama Nino, karena Nino.

Kemudian dipetiknya chord yang pertama, chord yang sama dengan yang diajarkannya ke Aya beberapa minggu yang lalu. Aya yang memang nggak paham-paham banget tentang musik nggak langsung ngeh itu lagu apa, tapi tetap saja ditatapnya Nino dengan tatapan penuh puja, karena baginya apapun yang keluar dari jari maupun bibirnya, Aya suka semuanya.

Barulah setelah Nino memutari satu verse dan mulai lagi dari awal, Aya tersadar. “Ahh! Ini yang itu kan, yang baru! Yang kamu ajarin ke aku.”

Nino menjawab dengan senyum tampan dan satu anggukan sebelum melantunkan lirik dari bibirnya. Lirik yang waktu itu nggak berani ia utarakan, lirik yang udah cukup lama terpendam dan menunggu waktu yang tepat untuk disampaikan.

Hei, Kanaya

Apakah tidak lelah

Menerangi dunia dengan senyum cerahmu

Apakah tidak letih

Berhati besar walau sering disakiti

Apakah tidak mengapa

Jika ada aku yang berulang kali membuatmu kecewa

 

Ingin ku rengkuh ketika kau merapuh

Ingin ku simpan untukku sendiri ketika senyummu bak mentari

Karena memang aku cuma lelaki yang tidak ingin berbagi

 

Hey, Kanaya

Tolong jangan jawab iya

Kalau ada yang memanggilmu Ay

Selain aku

 

Hey, Kanaya

Please be mine

(kalau yang ini please jawab iya)

 

Dari baris pertama, ketika namanya terlantun dari bibir Nino saja, Aya sudah nggak bisa menahan rahangnya untuk nggak terjatuh. Lirik yang Nino tulis sama sekali berbeda dari yang biasanya, yaitu lagu khas band indie dengan nuansanya yang indah. Liriknya kali ini manis, aneh, dan lucu, sama dengan bagaimana Aya tampak di mata Nino.

Begitu lagu yang dinyanyikan Nino selesai, Aya udah nggak tau lagi dia ngerasain apa aja selama beberapa menit terakhir. Terharu, kaget, senang, geli, gemas, sayang, dan lain-lainnya yang nggak bisa Aya deskripsikan. Karena itulah Aya nggak bisa melakukan apa-apa selain menatap Nino dalam-dalam, berharap semuanya yang ia rasakan saat ini bisa tersampaikan kepada pemuda di hadapannya. 

Aya kira mereka lagi having a moment. Karena Nino membalas tatapannya dengan — menurut Aya — berjuta makna juga. Tapi panik langsung menyergapnya ketika perlahan-lahan sinar di mata Nino meredup, menyisakan nggak lebih dari segaris luka yang dengan cepat segera ditutupi seolah yang barusan itu cuma imajinasi Aya belaka.

Untung saja di saat genting seperti ini otak Aya dengan cepat berputar dan menemukan jawabannya. “Iya!” katanya, buru-buru sampai hampir tersedak lidahnya sendiri. “Iya, mau,” lanjut Aya, lalu beringsung mendekat sampai lututnya bersentuhan dengan lutut Nino, takut yang lebih tua keburu menghilang dari pandangannya karena dia terlalu dense sampai lupa menjawab pertanyaannya yang ada di lagu tadi.

Hembusan napas lega dari Nino terdengar jelas oleh Aya, membuatnya ikut-ikutan bernapas lega. “Syukurlah,” kata Nino sambil tersenyum tipis, gitarnya disingkirkan agar dia bisa menarik Aya semakin dekat. “Kirain aku harus nyetir pulang sekarang juga habis ditolak,” selorohnya.

Setelah itu mereka nggak banyak berbincang-bincang, lebih memilih duduk bersisian, Nino bersandar di mobil dan Aya bersandar di bahu Nino, keduanya duduk memandang danau yang terhampar di depan mata dengan riaknya yang tenang, sambil saling bergenggaman tangan.

 


 

Kenapa ya Nino milih buat nembak di sini? Nino jadi jiper setelah euforia akibat diterima pernyataan cintanya surut dan dia menyadari kalau mereka berdua harus nginep di belakang mobil. Berdua. Bukannya ide buruk, sih, sebenernya. Tapi kesannya jadi kayak … brengsek gitu nggak sih? Ngajakin bobo bareng di tempat sesempit mobil ini segera setelah jadian, walaupun dia nggak ada pikiran sama sekali buat langsung berbuat yang iya-iya. 

Apa sekarang dia nyoba cari tenda yang agak gede yang disewain di campground ya? Nino menjambak rambutnya sendiri frustasi. 

“Ih kenapa dijambakin?” Aya yang ternyata sudah kembali dari jalan-jalan singkatnya melihat-lihat sekeliling RV site menarik lembut pergelangan tangan Nino. Tangannya yang satu lagi membuka jemari Nino agar tidak lagi mencengkeram rambutnya sendiri. “Sakit loh nanti,” katanya dengan kerutan kuatir menghiasi kening.

Nino pengen banget cium di situ sampai kerutannya ilang. Lalu ditamparnya pipinya sendiri karena kepikiran itu juga.

“Ih kenapa sih … “ Aya semakin kuatir melihat (ehem) pacar barunya jambak-jambak sama pukul-pukul diri sendiri gitu. Kan mending jambak dia aja (heh).

Nino ingin mengubur wajahnya di telapak tangan tapi kedua tangannya dipegangi erat-erat sama Aya biar nggak dipake buat mukul-mukul lagi. “Nggakpapa,” kata Nino, akhirnya, inget kalo hubungan yang baik itu basisnya komunikasi yang baik. Kan nggak lucu kalau mereka baru jadian udah jelek aja hubungannya cuma karena Nino nggak mau banyak omong di hadapan pacarnya sendiri. “Cuma kepikiran sesuatu yang nggak sopan aja.”

Aya memiringkan kepalanya bingung. Nino walaupun kadang keliatan angkuh karena sikap cuek bebeknya tapi nggak sopan tuh bukan kata yang bisa dipakai buat mendeskripsikan yang lebih tua. “Kenapa? Ada yang mau kamu tenggelemin ke danau?”

Nino kaget banget sampai ngakak mendengar pertanyaan Aya. Dia jadi semakin ingin mencium yang lebih muda. Haduh. Ditariknya tangan Aya sampai dia duduk di sebelahnya walaupun ada kursi lipat lain yang dibawanya dan kursi ini sempit banget kalau digunakan berdua.

(Sebenernya dia pengen narik Aya buat duduk di pangkuannya tapi — )

“Aku mau kasih tau sesuatu tapi kamu jangan kabur, jangan takut? Kalo kamu nggak berkenan bilang aja, aku nggak akan tersinggung,” Nino mengayunkan tangan Aya. tatapannya tertuju ke kerikil di sebelah kaki Aya karena nggak berani melihat langsung ke mata pacarnya itu.

Kepala Aya miring semakin dalam. “Kamu ternyata serial killer?”

Nino mendengus gemas. “Bukan lah.”

“Kamu dikejar-kejar rentenir terus mau pinjem duit aku? Aku nggak punya, by the way, mau kasih tau aja.”

“Kenapa tebakannya serem-serem gitu sih Ay, astaga.”

“Kan kamu bilang aku jangan kabur jangan takut. Jadi ini tebakanku yang kira-kira bakal bikin aku takut.”

“Nggak seserem itu juga…. Tapi bisa jadi serem juga sih.”

“Oke…. Apa?”

“Aku pengen cium kamu.”

Aya menunggu kalimat selanjutnya, yang ternyata nggak ada. “Oke? Sambil ngapain? Sambil gigit sampe berdarah? Sambil jambak? Sambil dipegang sampe memar?”

Nino melotot ke arah Aya. “Kok serem banget sih kamu.” Bukannya Nino nggak pengen ya, tapi ini tuh masih pagi banget di hubungan mereka. Belum … saatnya. Mungkin.

Aya cuma mengangkat bahunya enteng. “Aku nggak keberatan sama yang tadi itu suatu saat nanti.”

… Jadi. Ternyata. Pacarnya Nino ini sama sekali nggak sepolos yang ia duga.

Good to know. Tapi seperti yang sudah mereka secara nggak langsung sepakati, sekarang ini belum waktunya.

“Boleh,” kata Aya tiba-tiba. Nino sejenak lupa jawaban Aya yang itu tuh jawaban buat pernyataan yang mana.

Setelah ijin ada di tangan, mereka seakan bergerak bersama mengakomodasi posisi masing-masing. Nino merunduk dan bergerak mendekatkan wajahnya ke wajah Aya, dan Aya sedikit menengadah dan kelopak matanya perlahan memejam.

Yang pertama dirasakan Aya adalah jari yang lembut merengkuh rahang dan sisi lehernya sebelum bibir yang agak kering dan dingin menyentuh bibirnya. Aya nggak akan bilang sudah berapa kali dia bayangin gimana rasanya ciuman sama Nino, dan ternyata yang asli tuh sama sekaligus nggak sama dengan apa yang ada di bayangannya.

Lembut dan hangat yang ia rasakan saat ini sama dengan yang ada di bayangannya, begitu juga dengan mudahnya bibir mereka saling berpagutan santai tanpa ada sensasi dikejar apapun. Tapi yang nggak sama adalah bagaimana Nino beberapa kali menarik tubuhnya mendekat, seolah mereka kurang dekat, padahal Aya udah hampir ada di pangkuan yang lebih tua, seolah bagi Nino nggak cukup kalau apa yang bisa menempel, nggak menempel. Menggemaskan. Aya sayang banget orang ini.

Untung saja mereka cuma berdua di sini, jadi selain beberapa camper yang lewat, nggak ada yang memandangi mereka yang menghabiskan waktu hampir satu jam cuma buat makeout di depan api yang semakin lama semakin kecil, di bawah selimut bintang yang bertaburan di langit yang bebas dari polusi kota. 

Malamnya, nggak gampang buat mereka berdua untuk akhirnya tertidur, terlalu dibanjiri perasaan yang masih baru dan beberapa kali mereka akhirnya menyeberangi jarak yang sudah disepakati untuk berciuman. Lagi dan lagi.