Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of The Crown
Stats:
Published:
2021-10-10
Words:
1,251
Chapters:
1/1
Kudos:
52
Hits:
635

Bittersweet

Summary:

Namanya juga hidup, pasti ada masa lalu. Meski sudah dilalui, tapi kenangan tetap selalu membawa sensasi Bittersweet.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

*

Mingyu tengah berbincang dengan seorang pengusaha furnitur di tengah-tengah acara, ketika Seungcheol—sekretarisnya—menghampiri, kemudian berdiri di sisi kirinya, menandakan ada sesuatu yang akan ia sampaikan. Sang putra mahkota yang menangkap sinyal tersebut, berusaha sehalus mungkin mengakhiri percakapan dengan si pengusaha yang tengah mencoba melobinya untuk mendapat akses ‘mengisi’ furnitur bagi keluarga kerajaan.

Meski tampak enggan, akhirnya Mingyu dibiarkan pergi menjauh dari keramaian, menuju ke sisi ruangan yang lebih sepi dengan Seungcheol mengekor di belakangnya.

“Apakah sudah waktunya pulang, hyung?”

Jawaban yang didapat berupa gelengan dan segelas wine, karena Seungcheol tahu Mingyu pasti membutuhkannya setelah berbicara dengan beberapa pengusaha yang berusaha mengambil hatinya tanpa henti. Tepat setelah sang pangeran menyelesaikan tegukan keduanya, sang sekretaris menyampaikan berita yang sudah tak sabar ingin ia bagikan, “Putra Menteri Jeon ada di sini.”

Manik Mingyu seketika melebar kaget. Ia sudah memeriksa daftar tamu yang hadir, dan memastikan bahwa yang akan menghadiri acara ini adalah Menteri Jeon sendiri. Bukannya ia keberatan, namun Mingyu cukup terkejut karena sang menteri begitu jarang melibatkan putranya dalam kegiatan kerajaan. Selain itu ia hapal betul bahwa putra sang menteri sendiri tidak begitu berminat untuk ikut campur dalam kegiatan politik ayahnya.

“Beliau mendadak harus pergi ke rumah sakit karena menantunya melahirkan lebih cepat dari perkiraan, jadi putra keduanya yang menggantikan.” Seungcheol segera melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, ketika ia melihat Mingyu mulai mengedarkan pandangannya, “Saya memberitahu karena mungkin anda tertarik bertemu dengan teman sebaya diantara para buaya-buaya ganas ini, Yang Mulia.”

Sebuah senyuman sumringah merekah tepat setelah Mingyu menangkap wajah familier di dekat meja dessert. “Tentu saja. Terima kasih, hyung! Hmm… masih ada satu jam tersisa, kalau begitu, aku akan menghampiri Wonwoo hyung dulu.” Tanpa menunggu respon dari Seungcheol, langkah cepat Mingyu sudah kembali membawanya ke lautan manusia, untuk menemui sosok yang ia rindukan.

*

Sementara itu, di kediaman putra mahkota, Minghao masih enggan pergi ke kamar tidur dan memilih menghabiskan malam di ruang baca, meski jam hampir menunjukkan pukul 11 malam. Ia tidak ada masalah jika harus tidur sendirian di kamar yang begitu luas, hanya saja, jika sesuai perkiraan, maka ia hanya perlu menunggu satu jam lagi. Mingyu tidak pernah tinggal dalam sebuah acara hingga larut, dan Minghao hafal di luar kepala akan kebiasaan-kebiasaan pasangannya sepulang dari acara kerajaan: mandi air hangat dan sedikit pelukan sebelum tidur. Karena kegiatan semacam itu benar-benar menguras emosi, dan tidak ada diantara mereka berdua yang suka untuk pergi tidur dalam keadaan penat, apalagi bangun dengan uring-uringan bekas emosi semalam. Untuk itulah, meski Mingyu tidak pernah memintanya untuk terjaga dan menunggu kedatangannya, Minghao dengan senang hati memundurkan jam tidur untuk menyambut pulang sang suami.

Namun ketika hendak membalik halaman dari buku yang ia baca, terdengar suara ketukan di pintu. Kemudian sosok dengan rambut pirang berjalan masuk dan mendekat.

“Mohon maaf karena mengganggu waktu istirahat Yang Mulia, tapi saya perlu menyampaikan kabar dari sekretaris Putra Mahkota, bahwa mungkin rombongan kerajaan akan pulang melebihi dari jadwal, karena Putra Mahkota ingin menyisihkan sedikit waktu dengan temannya.”

Minghao menutup buku yang ada di pangkuan saat mendengar kata ‘teman’. Ia mencoba menerka siapa teman sekolah yang mungkin hadir di acara yang sama dengan Mingyu, namun Jeonghan telah mendahuluinya.

“Putra kedua Menteri Jeon menghadiri acara untuk menggantikan sang ayah, jadi mungkin mereka memerlukan sedikit waktu ekstra karena sudah lama tidak bertemu.”

Anggukan paham diberikan sebagai respon, karena Minghao mengenali siapa yang dimaksud oleh sekretarisnya. Ia bangkit dari kursi goyang kesayangannya, milik kakek sang putra mahkota, yang membuatnya dijuluki pak tua oleh sang suami, karena mengingatkannya akan kebiasaan sang kakek yang juga gemar membaca sambil beristirahat di kursi itu.

Ah, lagi-lagi ia teringat akan sang putra mahkota. Dan temannya. Teman dekatnya semasa sekolah.

 Sebelum pergi dari ruang baca, Minghao menyempatkan diri meminta sesuatu dari sang sekretaris, yang sayangnya tidak langsung diiyakan begitu saja.

“Kau juga jika bertemu teman lama, pasti ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin, hyung. Ah, dan tolong jangan terlalu kaku jika hanya ada kita berdua di ruangan.”

Jeonghan menghela napas mendengar tambahan permintaan dari sang Pangeran. Ia masih belum bisa membiasakan diri berbicara layaknya teman dengan anggota bangsawan mana pun, tak terkecuali pasangan Sang Putra Mahkota. Namun tatapan yang diberikan meluluhkan hatinya begitu saja. Laki-laki yang lebih muda darinya kentara sedang kecewa karena menunggu kekasihnya pulang. Mana mungkin sampai hati untuk Jeonghan tidak mengabulkan permintaannya.

“Tapi Seungcheol belum memberi kabar apa pun, Myungho. Sebaiknya kita tidak menyimpulkan—”

“Tidak apa, hyung, kalau pun tidak jadi dipakai, bisa diberikan ke orang lain.” Minghao mengulas senyum mendengar sang sekretaris memanggil namanya. Meski begitu, mengingat berita yang disampaikan tetap membuat tangannya menggenggam kenop pintu ruang baca dengan sedikit lebih erat dari yang diperlukan, “Jadi kumohon, pesankan saja. Dan kabari Seungcheol hyung kalau mereka tidak harus pulang malam ini.”

*

Minghao yang juga masuk di sekolah kerajaan ketika baru datang dari Cina, juga tentu mengenal putra kedua dari Menteri Jeon. Ia mengenal sosok Wonwoo sebagai kakak kelas yang berwibawa, kharismatik, cerdas, dan rendah hati. Sempurna.

Dan di mana ada Wonwoo, di situ ada Mingyu. Mereka berdua selalu menjadi pentolan setiap kegiatan atau organisasi yang ada di sekolah. Jika Mingyu adalah ketua acara, maka Wonwoo akan menjadi ketua panitia. Jika Wonwoo adalah ketua organisasi, maka sudah bisa dipastikan wakilnya adalah Mingyu. Mereka sama-sama mumpuni di bidang leadership, sehingga tidak ada yang mempertanyakan kualitas kepemimpinan keduanya. Bahkan hampir seluruh siswa yakin, Jeon Wonwoo akan mendampingi Sang Putra Mahkota sampai nanti ia naik takhta dan memimpin negeri.

Namun sayangnya, ekspektasi mereka dihapuskan oleh kehadiran siswa baru bernama Xu Minghao. Siswa kalangan atas yang kurang senang tampil di muka umum, apalagi mencoba panggung kepemimpinan. Tidak heran jika banyak orang mempertanyakan kualitas si calon pendamping putra mahkota, dan tidak henti-hentinya membandingkan kualitas putra raja negeri seberang dengan seorang Jeon Wonwoo.

Bertahun-tahun sudah berlalu, namun sengatan yang dirasakan tiap kali seseorang menyebut nama Jeon Wonwoo tetaplah ada. Jika mendengar nama itu membuat Mingyu berbunga-bunga karena bertemu teman lama, maka berbeda dengan Minghao yang serasa diguyur air es. Serasa ia dibangunkan dari tidur nyenyak, bahwa ia tidak akan pernah mengalahkan pesona mumpuni dari seorang putra menteri.

*

Minghao yakin ia sudah tertidur, namun rupanya gemericik suara shower tetap membuatnya terbangun. Ia seketika waspada. Merapatkan tubuh ke sandaran kasur, dan mulai memperhitungkan langkah yang harus ia ambil, jika ada serangan mendadak.

Ia menunggu, dan menunggu.

Hingga akhirnya pintu kamar mandi terbuka perlahan, dan sosok yang hanya mengenakan bathrobe berwarna gelap melangkah keluar pelan-pelan.

“Oh, hey, maaf, aku membangunkanmu ya,” sang tersangka tersenyum kikuk dan mulai melangkah tanpa mengendap-endap lagi.

Karena tidak mendapat respon dan hanya ditatap lekat-lekat, si pendatang memilih menekan saklar lampu dan berjalan mendekati ranjang. Ia melambaikan tangan di depan wajah, ketika sudah mendudukkan diri di dekat si pemilik kamar yang masih terdiam. “Hao, ini aku, Mingyu. Kenapa diam saja? Belum lupa wajah suamimu, kan? Atau ini efek kau terbangun tiba-tiba?”

“Kau… pulang?” Minghao menggenggam tangan Mingyu yang dilambai-lambaikan di depan wajahnya. Merasakan kulit yang masih lembap di genggamannya.

“Tentu saja aku pulang, apa yang—oh! Kamar hotel yang kau pesan? Tenang saja, sudah kuberikan ke Wonwoo hyung. Ia suka sekali, katanya ia memang mengincar kamar hotel dengan pemandangan pantai, tapi belum sempat pesan, karena tadi buru-buru berangkat.”

“Aku kira… kau… masih mau ngobrol banyak dengan Wonwoo hyung, jadi—”

“Hey Xu Minghao. Rumahku di sini,” jemari Mingyu balas menggenggam erat milik Minghao. Memberi usapan lembut pada tangan yang lebih hangat. “Aku pasti pulang ke rumah, mau selarut apa pun acara di luar sana, aku pasti pulang kepadamu.”

Mencuri sebuah ciuman kilat, Mingyu kembali menggoda sang kekasih yang kedua ujung telinganya mulai memerah, “Tapi kalau perginya berdua denganmu, menginap di hotel juga tidak masalah.”

*

Fin.

Notes:

Insecure tidak hanya untuk rakyat jelata. Bahkan seorang pendamping Putra Mahkota juga masih bisa merasakannya.

Series this work belongs to: