Actions

Work Header

One More Chance

Summary:

Chu Min Ha merasa putus asa setelah pernyataan cintanya yang keempat ditolak oleh Yang Seokhyeong. Dia merasa ragu apakah akan memakai kesempatan terakhirnya. Di tengah keraguannya, departemen Ob/Gyn kedatangan profesor Hiroyuki Endo, profesor berdarah Jepang yang akan memulai karirernya di Yulje. Professor Endo kemudian terang-terangan mengejar Min Ha.
Bagaimana tanggapan Min Ha? Bagaimana reaksi Seokhyeong?

Notes:

Just an alternate plot.
Honestly suka gregetan waktu Seokhyeong nolak Min Ha melulu. Jadi suka mikirin apa sebaiknya ada lelaki lain yang baik hati dan ga suka jahatin Mjn Ha. Wkwkw

Just an ordinary fanfic ya.

Chapter Text

Maret 2021

 

Tahun terakhir Chu Min Ha sebagai residen sebelum menghadapi ujiannya awal tahun depan. Pagi-pagi sekali Min Ha sudah ada di kafetaria untuk secangkir kopi panasnya. Dia perlu berjuta gram kafein untuk menyegarkan matanya. Tiga hari berturut-turut piket malam (big thanks to foxy Eun Won, si rubah itu masih sering mangkir dari jadwalnya), dilanjutkan visiting pasien dengan Prof. Yang Seokhyeong, mengasisteni praktik rawat jalannya, membuat rekam medis para pasien, membuat revisi tesis, juga membantu persalinan dan operasi caesar. Luar biasa sekali hidupnya sebagai dokter residen.

Tapi hari ini semua akan berbeda. Dia sudah lama sekali menantikan hari ini tiba. Para residen tahun pertama akan datang. Mereka dapat 2 orang tahun ini, setelah tahun lalu tidak ada yang bergabung di departemen mereka. Selain itu, para dokter magang juga akan mulai bergabung di hari ini. Mahasiswa bernama Jang Hong Do akan memulai magangnya di departemen OB/Gyn. Senang sekali akhirnya ada banyak bala bantuan di departemen mereka. 

Min Ha tersenyum bahagia sambil menyesap kopinya ketika tiba-tiba Do Jae Hak dan Jang Gyeo Ul muncul di sampingnya.

"Good morning, dr. Chu. Boleh kami bergabung denganmu?"

Min Ha mengangguk sambil mempersilakan mereka duduk.

"Eonnie, kau tampak senang sekali hari ini. Apakah ada yang membuatmu gembira?" Tanya Gyeo Ul kepadanya.

"Tentu saja aku gembira, hari ini kami akan kedatangan dokter residen dan dokter magang. Senang sekali mendapatkan banyak bantuan."

Jae Hak tertawa.

"Kau tidak sadar bahwa itu hanya awal dari penderitaan yang lain?" Katanya.

"Maksudmu?" Tanya Min Ha.

"Dokter residen tahun pertama datang, artinya kau akan diangkat jadi kepala residen dan bertugas membimbing mereka untuk menjalankan tugas. Belum lagi kau wajib mendampingi para dokter magang. Kesalahan mereka, berarti makian bagimu. " Jelas Jae Hak.

Min Ha mengacak-acak rambutnya.

"Aishhh. Kau benar. Kenapa aku melupakan hal itu. Beruntung sekali kalian sudah lulus dan sekarang jadi dokter madya."

Gyeo Ul mencoba menenangkan Min Ha.

"Tenang saja, Eonnie. Itu tidak seseram seperti yang dr. Jae Hak paparkan. Begitu menjalaninya, kau akan terbiasa dan semua akan berlalu. Semangat!"

Min Ha mengangguk.

"Terimakasih, Gyeo Ul."

Kemudian Jae Hak tiba-tiba seperti teringat sesuatu.

"Ah, kau sudah dengar kabar bahwa akan ada profesor baru yang bergabung di departemen Ob/Gyn?"

Min Ha menggeleng.

"Profesor baru itu berasal dari Jepang. Dia baru tiba di Korea pekan lalu dan akan mulai bekerja di Yulje hari ini. Kudengar dia akan seruangan dengan Prof. Yang Seokhyeong. Menggantikan profesor super berantakan yang pindah ke rumah sakit Gongjin." Jelas Jae Hak.

Min Ha dan Gyeo Ul terbelalak takjub mendengarnya.

"Bagaimana kau bisa tahu semua itu?" Tanya Gyeo Ul.

Jae Hak tersenyum.

"Aku dengar dari dr. Bong, sedangkan dia tahu dari Kepala Rumah Sakit langsung."

Min Ha dan Gyeo Ul mengangguk.

"Kau harus berhati-hati, dr. Chu. Barangkali dia dokter senior yang cerewet dan galak."

Min Ha memutar matanya.

"Jangan menakutiku begitu. Aku sudah cukup menderita dengan piket malamku yang never ending.

Min Ha kemudian melihat ponselnya dan dia bergegas pergi.

"Aku duluan, dr. Yang akan tiba 10 menit lagi untuk visiting pasien." Katanya sambil berlari.

"Hati-hati, Eonnie!" Teriak Gyeo Ul.

Ketika tiba di lift, Min Ha bergegas memencet tombol dan menunggu lift tiba. Di sampingnya berdiri seorang pria berbadan tinggi tegap, berkulit putih, berambut hitam pekat, dan berkacamata. Dia memandangi Min Ha dengan seksama sampai membuat Min Ha takut.

"Maaf, tuan. Kenapa kau memandangiku seperti itu?"

Lelaki itu menggelengkan kepalanya.

"Ah, maaf. Kau cuma mengingatkanku pada seseorang."

Kemudian pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam lift yang cukup penuh itu. Setelah tiba di lantai tujuannya, Min Ha segera keluar berlari ke nurse station. Ternyata lelaki itu juga keluar dari lift dan pergi entah ke mana. Mungkin dia suami dari salah seorang pasien pikir Min Ha.

Prof. Yang Seokhyeong tiba dan segera mengajak Min Ha serta perawat Han untuk mengunjungi pasien. Min Ha cepat mengambil catatannya dan mengikuti profesornya. Maksudnya profesor yang menjadi mentornya. Min Ha mencoba untuk bersikap profesional dan santai seperti biasa. Walaupun di dalam hatinya masih terasa perih karena profesor yang diikutinya ini menolak ajakan kencannya akhir pekan lalu. Pengakuan keempatnya, dan dia hanya punya satu kesempatan lagi.

 

Siang harinya

Min Ha menatap layar komputer di depannya. Dia harus menyelesaikan rekam medis Ny. Shin yang baru aja masuk ruangan observasi karena kontraksi di usia kehamilan 32 minggu. Sesekali dia memijat pundak dan lehernya. Pegal sekali rasanya. Dua orang residen baru serta dokter magang sedang dipanggil oleh Kepala Departemen Ob/Gyn. Dia dengar profesor baru juga ada di sana. Kemudian ponselnya berdering.

Profesor Yang Seokhyeong calling...

"Halo, profesor?"

"Min Ha, tolong segera datang ke ruangan Kepala Departemen ya." Suara lembut namun tegas itu begitu menghanyutkan. Tidak, dia tidak boleh terlena dengan suara itu.

"Baik, profesor."

Perawat Han menatap Min Ha penuh tanda tanya.

"Prof. Yang menyuruhku datang ke ruangan Kepala Departemen." Jelas Min Ha tanpa diminta.

Perawat Han mengangguk.

"Ah, barangkali mau memperkenalkan dokter residen dan dokter magang."

Min Ha mengangkat bahunya.

"Mungkin. Aku pergi dulu ya. Jika ada apa-apa segera telepon aku." Pesannya sebelum pergi.

Perawat Han mengangguk. Min Ha segera berjalan secepat mungkin menuju ruangan Kepala Departemen.

tok..tok..tok Min Ha mengetuk pintu. 

"Ya, silakan masuk." 

Min Ha segera masuk dan dia terkejut melihat ada banyak orang di sana. Prof. Yang, Prof. Yeom, dua orang perempuan muda, seorang laki-laki muda yang dia kenali sebagai Jang Hong Do, dan lelaki yang dia temui saat di lift tadi pagi. Para profesor dan lelaki itu duduk di sofa, sedangkan yang lain berdiri menghadap kepala departemen. Min Ha mengambil posisi berdiri di sebelah Hong Do.

 

Kemudian kepala departemen segera mulai berbicara.

"Dokter Chu Min Ha, pertama-tama aku akan mengucapkan selamat kepadamu. Kami mempercayakanmu sebagai kepala residen untuk tahun ini."

Min Ha hanya bisa membungkuk, dia masih tampak bingung.

"Kemudian aku akan memperkenalkanmu kepada anggota baru departemen kita. Ki Eun Mi dan Seo Yeon Hee adalah dokter residen tahun pertama."

Dua orang perempuan muda itu membungkuk dan memberi salam kepadanya. Dia pun memberikan mereka senyumannya. Kepala departemen mengalihkan pandangan dan menunjuk kepada lelaki muda di sampingnya. 

"Lelaki di sampingmu adalah Jang Hong Do, dokter magang."

Hong Do kemudian membungkuk dan memberi salam dengan canggung. Min Ha menganggukkan kepalanya. 

"Kemudian, aku sangat bersyukur dengan kehadiran Profesor Hiroyuki Endo. Profesor Endo akan bekerja di sini mulai hari ini. Kehadirannya kuharap bisa mengurangi beban kerja Prof. Yeom dan Prof. Yang yang selama ini overload."

Ah, lelaki itu. Dia profesor baru itu rupanya. Min Ha membungkuk dan memberi salam. Prof. Endo tersenyum lebar kepadanya. Sementara Prof. Yang melihatnya dengan muka datarnya.

Kepala Departemen melanjutkan penjelasannya.

"Karena mulai sekarang kau menjadi kepala residen, aku akan menyesuaikan beban kerjamu. Sekarang kau harus mendampingi dua dokter residen baru, tentunya tidak mudah. Karena itu aku memutuskan untuk memindahkan posisimu menjadi asisten Prof. Endo. Karena dia baru di sini, maka pasien rawat jalannya tentu belum banyak. Sementara dr. Myung Eun Won akan mengasistensi Prof. Yeom dan Prof. Yang sekaligus.  Untuk tesismu, jangan khawatir tetap berada di bawah bimbingan Prof. Yang. Apa ada yang kau tanyakan, dr. Chu?"

Min Ha menggelengkan kepalanya.

"Tidak, Prof. Semua sudah jelas."

"Baik, kalau begitu silakan kau ajak dr. Ki, dr. Seo, dan dr. Jang keluar dan mengobservasi departemen kita. Aku akan melanjutkan beberapa bahasan dengan para profesor."

Min Ha mengangguk, kemudian dia membungkuk dan memberi salam sebelum mengajak para rekan barunya keluar. Ketika dia memberi salam kepada Prof. Endo, profesor itu membalas salamnya dengan senyum manisnya. Sementara Prof. Yang hanya mengangguk.

 

Ketika dia keluar ruangan, pikiran Min Ha berkecamuk. Dengan begini dia akan jarang bertemu Prof. Yang. Apakah ini pertanda dia harus mundur? Mungkinkah dia akan melupakan kesempatan kelimanya?