Work Text:
Tamparan keras serta debat atas kemiskinan dan keesokan harinya surat perceraian sudah ditandatangani. Apa yang terjadi pada kedua putra malang mereka? Seandainya uang bisa membeli hak asuh keduanya namun ibu mereka hanya bisa mengambil sang adik. Keduanya tidak pernah bertemu lagi.
Tamparan itu kembali lagi tapi kali ini tidak mengenai sang ibu, João adalah sasaran ayahnya kali ini. Apa salahnya? Dia tidak tahu. Seluruh ruangan berbau tengik alkohol, pria itu tega memukul putranya sendiri. Botol whiskey pecah terhantam ke dinding, serpihannya mengenai kaki mereka, namun sisa leher botol itu mengenai wajah anak sepuluh tahun itu.
Ini sudah biasa, João meyakinkan dirinya tiap hari namun semakin dewasa dirinya semakin keras pula pria tua itu memukulnya. Sulit untuk ditelan namun João merasa bahwa dia memang sungguh anak pria itu. Dia tidak menolak lagi rokok dan alkohol, bertentangan dengan bagaimana iklan layanan masyarakat menasihatinya. Dia tahu sejelas berlian bahwa menjadi alkoholik di usia remaja akan berdampak buruk bagi masa depannya. Tapi João sudah berhenti berharap untuk masa depan, dia tidak tahu lagi kenapa dia masih mau bertahan hidup, mungkin selembar foto di dompet-nyalah yang membuatnya tetap menghisap sebungkus rokok perminggu.
Apakah bodoh bagi pemerintah negaranya untuk mendiskriminalisasi obat-obatan terlarang? João merasa bahwa bukan hanya dirinya saja yang bodoh, para petinggi berdasi itu juga pasti sama bodohnya dengan dirinya. Tawaran temannya di sekolah hari itu membuatnya tidak bisa menolak lagi, dia membutuhkan lebih tiap harinya. Untuk mengobati tiap luka dihatinya. Rasa sakit yang tidak bisa diluapkan pada siapapun selain strip pil yang membuatnya bahagia meski sementara dan berujung sakit.
Ketika mereka membawanya ke rumah rehabilitasi, João akhirnya mendapatkan penanganan pada apa yang ia butuhkan. Perhatian. Namun itu tidak cukup. Tiga tahun pelepasan dari pil-pil itu namun tiada satupun yang dapat menyembuhkan mentalnya. Tiada satupun dapat membebaskannya dari bayangan pria itu. Ketika dia kembali ke rumah itu, sebuah tulisan dijual terpasang di depan pintu. Apa yang terjadi padanya? Apa pria itu sudah muak dengan dirinya sehingga ia pindah meninggalkan putranya?
João mengutuki dirinya lagi, bodoh baginya untuk berpikir bahwa ayahnya mau menerima anak bermasalah dari seorang jalang macam dirinya lagi. Tatap iba tetangganya hanya bisa membantu menceritakan apa yang terjadi pada sosok yang dia dulunya panggil ayah. Pria itu mengakhiri hidupnya sendiri dengan semua cairan alkohol favoritnya. Tidak meninggalkan apapun bagi putranya selain slip hutang. "Pria bajingan, najis bagiku untuk menyebutmu 'ayah'" rutuknya sembari merobek semua kertas bertuliskan jumlah uang dalam angka-angka yang terlalu mencekik bagi João.
Sembilan belas tahun, sendirian, tidak berpendapatan, terlilit hutang, tanpa tempat berteduh, tanpa uang sepeserpun ada pada dirinya. João hanya bisa bertaruh pada dirinya sendiri untuk hidup dijalanan dan menjauhi para penagih hutang yang siap menghajar dirinya hingga tak berbentuk. Dia tidak memilih untuk hidup seperti ini atau mungkin iya? Sebuah paradoks karena dia membuat pilihan untuk tetap hidup karena sudah terlanjur dilahirkan.
Mengamen, mencuri, sesekali berjudi, apapun demi uang. Untuk menjamin dirinya tidak sakit ataupun babak belur. João beruntung dia masih bisa memakai pakaian yang dia kenakan. Namun berapapun lapisan pakaian yang dia kenakan tetap tidak berefek pada betapa dinginnya udara bulan desember. Ini adalah tahun ketiganya di jalanan, usianya baru dua puluh satu namun matanya berharap bahwa penderitaannya akan berakhir.
Foto didompetnya tetap berada di tempat yang sama seperti yang João ingat. Ibunya yang menggendong adiknya berdiri di sampingnya yang memegang seekor ikan yang dia tangkap hari itu lalu diujung lain foto, tidak ada siapapun karena João sudah merobek sosok yang merangkul bahunya setahun yang lalu. João merindukan ibu dan adiknya namun dia tidak mengerti mengapa ibunya tidak berusaha mendapatkannya kembali. Ibunya selalu punya kesempatan namun ia tidak pernah menyelamatkannya.
João merasa bahwa dirinya sudah meracau tidak jelas dan gila. Dia yakin bahwa dia berdelusi ada seseorang berbicara dengannya mengenai kisahnya, kesulitannya, keluarganya, harapannya. Tidak pernah dalam hidupnya João merasa dirinya sangat menyedihkan selain saat ini. Apakah jiwanya memang sangat kesepian? Orang-orang di jalanan yang melirik padanya pasti akan berkata dia adalah pasien rumah sakit jiwa yang kabur.
Dia berharap dia bisa peduli akan hal itu. Namun João sudah mati rasa terhadap emosi atau bahkan tubuhnya sendiri. Waktunya mulai terbatas seraya udara musim dingin membekukannya. Jalanan batu yang dingin dan menyedihkan, jika seseorang menemukan tubuhnya mungkin musim sudah kembali menunjukkan matahari bersemi. Kabut putih terakhir yang dia lihat dan dirinya tak mampu lagi menarik napas. Kematian menyambutnya dengan tangan hangat, lebih dari apa yang pernah dia dapatkan.
