Work Text:
Barangkali, kira-kira usia kehamilan Kiyoko telah memasuki bulan keenam. Kala itu, tubuh Kiyoko lebih terlihat gemuk, perutnya sudah cukup besar sehingga wanita itu kerap menggunakan pakaian terusan. Kata dokter, jenis kelamin calon bayinya ialah perempuan. Oleh sebab itu, Sugawara Kiyoko dan Sugawara Koushi telah mempersiapkan sebuah nama, yakni Sugawara Haruka. Sebuah nama yang identik dengan bunga musim semi, sebab Kiyoko dan Koushi ialah sesama anthophile—penyuka bunga.
Kiyoko sangat merindukan Koushi. Ia rindu tatkala jari jemari itu menyentuh perutnya, atau tatkala Koushi mendekatkan rungu ke perutnya untuk mendengarkan tendangan-tendangan kecil si janin. Sekitar sebulan yang lalu, Koushi meminta izin pada Kiyoko untuk berangkat dinas keluar kota, kemudian turut meminta maaf sebab Koushi terpaksa meninggalkan Kiyoko sendirian. Bibir Kiyoko berucap, tidak apa-apa, sementara batinnya menginginkan Koushi untuk tetap tinggal.
"Koushi ...."
Genggaman Kiyoko pada gawainya bergetar. Sejenak, ia menggigit bibir guna menetralisasi isakan yang mendesak keluar. Semi Mika—istri dari sepupu Koushi—pun turut memegangi pundak Kiyoko; memberi usapan pelan yang barangkali akan membantu Kiyoko mengatur naik turunnya desak napas yang menahan tangis. Selain itu, wanita bersurai karamel itu pun turut merengkuh erat punggung Kiyoko sembari mendaratkan bokong di pinggir ranjang tempat Kiyoko bersandar.
"Mau kubantuin ngomong ke Koushi?" tawar Mika sebab sosok bersurai obsidian itu tak kunjung melontarkan satu kata pun, juga sayup-sayup rungu Mika mendengar suara Koushi—yang berkali-kali memanggil nama Kiyoko—melalui gawai.
Kiyoko menggeleng, kini likuid beningnya telah jatuh membasahi pipi. Sejenak meraup napas, Kiyoko tak mengindahkan gemetar yang membuat dingin seluruh permukaan kulitnya. Ia paksakan kerongkongannya untuk bersuara kendati lirih. Sebab, Kiyoko pun sadar bahwa Koushi kini tengah merasakan suatu hal yang anomali kala mendengar isakannya yang teramat menyesakkan.
"Kiyo? Hei ... kenapa? Ayo jawab aku."
Bibir Kiyoko dibungkam oleh telapak tangannya yang menekan erat-erat area mulut dan hidung. Kedua pelupuknya memejam, sementara tangis Kiyoko semakin menjadi acap kali rungunya mendengar intonasi khawatir Koushi melalui gawai.
"Kiy ... kubantu ngomong, ya?" tawar Mika sekali lagi. Namun, Kiyoko tetap menolak.
"Ha–Haruka ...." Kiyoko mulai memberanikan diri untuk meloloskan kata-kata. "Maaf, Kou ...."
Kiyoko tahu, Koushi masih mendengarkan dari seberang sana kendati tiada respons yang terdengar. Kiyoko bahkan tak mampu untuk sekadar membayangkan bagaimana air muka Koushi kala itu.
"Ini salah aku ...," lirihnya mengulum sesak, kemudian berkata, "aku nggak hati-hati. Aku yang ceroboh ... aku jalan nggak pake mata sampai-sampai jatuh di tangga, Kou ... aku—"
"Nggak. Bukan salah kamu."
Suara Koushi terdengar serak. Tarikan napasnya panjang. "Nggak seharusnya aku lebih mentingin kerjaan. Harusnya aku ada di sana, nemenin kamu sampai Haruka lahir. Aku yang salah, Kiy ... aku nggak becus jadi suami."
Jemari Kiyoko mengusap air mata yang memburamkan penglihatan. Sementara Mika masih merengkuh erat pundak Kiyoko, agar wanita itu disadarkan pada realitas, bahwa ia masih bisa berpegangan pada pilar lain yang masih berdiri kokoh menahan retaknya bangunan.
"Aku takut, Kou ... aku takut Haruka kecewa, karena ... aku sama sekali nggak ngasih kesempatan Haruka buat ngelihat dunia."
"Kalau Haruka kecewa pun, harusnya Haruka lebih kecewa sama papanya yang nggak ada di sisi mamanya. Berhenti nyalahin diri kamu sendiri, Kiy ... ini semua salahku yang tega ninggalin kamu dan Haruka sendirian."
"Kiy, duduk."
"Jangan sentuh piringnya, biar aku yang cuciin. Kamu istirahat aja di kamar."
"No, Kiy. Nggak boleh pegang sapu sama sekali."
"Aduh! Kok kamu belanja ke supermarket nggak bilang-bilang aku?"
"Kiyoko, biar aku yang masak."
"Baju yang mau disetrika kamu tinggalin aja semua di situ, pulang kerja aku yang setrikain. Kalau pulang-pulang bajunya udah kamu setrikain semua, aku bakalan marah loh."
"Dibilangin, nyiram halaman itu tugasku, Kiy!"
"Kiyo, hei! Ngapain ngangkatin air seember!"
Kiyoko bahkan nyaris hafal dengan segala larangan, seruan, serta titah yang acap terlontar dari bibir Koushi. Setahun berlalu sepeninggal anak sulung mereka, Koushi dan Kiyoko memutuskan untuk mencoba kembali bereproduksi. Namun, dengan Koushi yang benar-benar protektif terhadap segala gerak-gerik Kiyoko.
Agak meresahkan bagi Kiyoko. Namun, di saat bersamaan, ia mampu menguak sisi lain dari Sugawara Koushi yang belum pernah ia lihat.
Hanya saja, pada awalnya Koushi sangat buruk dalam memasakkan makanan untuk Kiyoko—kecuali telur mata sapi. Jadi, di suatu momen, Koushi sampai rela mengambil cuti satu hari demi belajar memasak di dapur selama seharian penuh. Hasilnya, lumayan ... kendati masih kalah jauh dari masakan Kiyoko. Namun, ayam goreng buatan Koushi tetap menjadi masakan yang paling buruk sebab hasilnya selalu hangus.
"Kiy, jagoan kita kalau dinamain Haruko, mau nggak?"
Di sebuah momentum, akhirnya Koushi memberanikan diri untuk mengusulkan sebuah nama—yang memiliki arti serupa dengan nama mendiang putri sulung mereka. Kala itu, jarum jam menunjukkan pukul dua siang. Temperaturnya hangat, serta alunan musik instrumental tengah terputar di ruang tengah.
Jemari Koushi mengelus perut Kiyoko yang telah membesar. Sementara lengan kirinya meraih bantal sofa terdekat, kemudian menyelipkannya di antara punggung Kiyoko dan sandaran sofa agar Kiyoko bisa duduk lebih nyaman.
"Kamu yakin?" sahut Kiyoko pelan.
Koushi mengulum senyum. "Justru karena itu, aku nanya dulu ke kamu."
Kekehan ringan pun terujar dari bibir Kiyoko. Binar obsidiannya memandang lekat-lekat manik karamel Koushi yang teduh. "Aku setuju, kok. Yah ... walau anak kita nanti lahirnya bukan di musim semi, ngga apa-apa juga 'kan kalau dinamain Haruko?"
Koushi mengangguk. "Soalnya, musim semi itu representasi dari kita berdua. Jadi, nggak perlu nunggu sampe kamu melahirkan pas musim semi."
Kiyoko berdecak ringan; menyentil hidung Koushi hingga pemiliknya mengaduh kesakitan. "Apa, sih. Gayamu itu lho ... representasi, representasi."
.
.
.
-FIN-
