Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-10-27
Words:
15,900
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
5
Hits:
100

Tiga dari Venesia

Summary:

Sedikit memori tentang tiga yang berasal dari Venesia, menjadikan tiga insan untuk saling berbahagia.

Notes:

ditulis untuk watermelonghei (di twitter)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Matahari kota tengah bersinar begitu terang. Menerangi setiap jengkal kehidupan melalui bias cahaya hangat yang saat ini tengah menghangatkan tubuh yang ada.

Termasuk cahaya yang saat ini merambat masuk pada tirai-tirai penutup jendela, mengintip malu-malu untuk sekedar mengulik pada apa yang pria Do itu lakukan.

Di tengah interior ruangan yang berdesain sederhana-modern serta dominasi apartemen berwarna monokrom, pria itu bersila kaki dan duduk di atas sofa dengan senyum terkembang sempurna.

Di tangannya, tersedia mug tak terlalu besar, memuat cairan berwarna coklat kental dan aroma kakao yang menemani hidung. Semakin membuat bibirnya mengulas senyum. Lantas mengkondisikan rambutnya ke samping untuk membuat duduk yang nyaman.

Bersandar pada sandaran sofa beludru empuk dan melirik pada jendela yang memuat pemandangan pagi.

Oh, Seoul memang selalu sama; rutinitas selalu dimulai pada pagi-pagi buta.

Apa lagi tentang lokasi gedung tempat tinggalnya yang berada di pusat kota, menyajikan pada sosok Pria Do tentang manusia-manusia yang serupa titik kecil tengah berjalan. Entah menuju tempat kerja, transportasi umum atau sekedar berolahraga santai dengan lari kecil yang mengiringi.

Sejauh ini, Do Hanse menyukai paginya.

Ia menyeruput sedikit coklat panas tersebut dan mengukir senyum. Kali ini bertambah baik dengan lilin pengharum ruangan aroma vanilla yang begitu ia sukai, menguar memenuhi penjuru ruangan dengan sensasi rileks yang menenangkan.

Rutinitas pagi seperti biasa.

Berniat meregangkan otot, pria itu lantas berdiri dari tempatnya duduk, meluruskan kakinya yang berbalut celana pendek sebatas lutut serta melangkah pelan di atas karpet bulunya yang tebal.

Sejauh ini, ia memperhatikan secara seksama pada interior ruangan yang diisi dengan unsur elegan modern pada setiap sisi. Menyukai bagaimana unsur mewah yang ia rancang sendiri dihasilkan dari sedikit jerih payahnya dari hasil royalti lagu yang ia tulis.

Lantas, Hanse berbalik badan, kali ini berhadapan dengan pemandangan kota dari balik jendela. Lalu sesapan minuman hangat itu dilakukan kesekian kalinya.

Namun untuk kali ini, ia memberikan helaan nafas senang. Seolah-olah menikmati tentang bagaimana udara segar itu memeluk paru-parunya dengan sejuk.

Kakinya melangkah pelan, ingin mendekat pada pemandangan dari jendela, namun segera tertahan saat ujung kakinya merasakan sesuatu.

Kepalanya lantas menunduk. Memperhatikan dengan seksama apa yang tergeletak di atas lantai. Lalu mengerutkan dahi sedetik kemudian atas apa yang didapatinya.

Itu, Hanse menunduk, membawa gelas pada tangan kirinya, album foto?

Diletakkan begitu saja seolah-olah memang baru saja seseorang melakukannya, benda itu terbilang cukup besar. Mungkin selebar lembaran piringan hitam, hanya saja jauh lebih tebal dan terlihat masih baru.

Hanse tak mengenali benda seperti itu di dalam rumahnya.

Memiliki sampul berwarna marun, benda itu tampak seperti buku dari luar.

Membuatnya mengerutkan dahi dengan tangan yang saat ini menelusuri benda tersebut seperti berusaha mencari penjelasan. Hingga akhirnya ia memilih membawanya bersama untuk duduk di atas sofa.

Coklat panas yang nyaris habis itu diletakkan di atas meja.

Lalu tak lagi peduli dengan sekitar, kini perhatian pria itu tertuju pasti pada album tersebut.

Memangku di atas pahanya dan memulai pada lembar pertama.

Mengamati dalam diam dan menarik nafas untuk membuka lembar pertama, Hanse melihat empat foto yang dipasang di sana.

Matanya tertuju pada foto pertama, foto yang segera ia kenali dalam satu detik memandang.

Ia kenal foto pemandangan tanpa manusia tersebut.

Lantas jari-jari yang biasa mengenakan cincin dan aksesoris cantik lainnya itu terulur, menyentuh foto pertama yang ditempelkan di sana.

Foto itu terlihat sederhana, berisikan beberapa burung berbulu abu-abu terabang berhamburan seperti sengaja diusir, lalu di belakangnya dipotret artistik bangunan yang terasa sangat familiar.

Hanse tahu, itu hasil potret dari kamera ponselnya saat itu; pelataran Basilika Santo Markus

Matanya menyipit, mengamati seiring dengan kepala yang dihampiri nostalgia kecil bersamaan dengan ingatan tentang sejarah foto itu.

Tentang kisah yang terjadi tiga tahun lalu, menceritakan kenangan mengenai garis hidup tak terduga yang ia jalani saat ini.

 

.

.

.

 

 

Venesia, tiga tahun silam.

kepala Pria Do itu seratus persen yakin, bahwa mereka semua yang ditanyai tentang pendapat mengenai si kota kanal; Venesia, akan dengan lantang berkata, bahwa Venesia adalah kota romantis, kota menyenangkan dan sebuah tempat yang tenang untuk merenung karena tiadanya deru berisik kendaraan khas bising metropolitan.

Do Hanse sendiri mengakui hal itu. juga, menjadikannya alasan untuk menetapkan suatu bagian dari Italia ini sebagai kota impiannya sejak lama.

Venesia adalah sebuah kota kecil yang penuh dengan kanal-kanal besar hingga kecil dan dialiri oleh air berwarna biru serta keseluruhan kota yang sengaja dijadikan artefak hidup. Hampir keseluruhan kota masih menggunakan arsitektur Eropa kuno seperti pada abad ke-18.

Sehingga, suara yang paling bising yang bisa dihasilkan mungkin dari mesin perahu yang terkadang macet, atau mungkin suara percakapan teredam dari para turis yang seolah tak kenal berhenti untuk mengunjungi tempat indah tersebut.

 Hanse sendiri menyukainya, tempat unik serta kuno itu juga dihiasi gang-gang kecil tempat banyak sejarah seolah diceritakan secara implisit. Matanya yang selama tiga bulan ini terus mengelilingi kota bahkan bisa berulang kali takjub untuk sekedar melihat bagaimana pola-pola bangunan lama tetap kokoh.

Namun, Pria berkebangsaan Korea Selatan tersebut akan sedikit menampik perihal Venesia adalah kota romantis, atau bahkan kota menyenangkan.

Hanse, dengan rambut panjangnya yang baru saja dicat pirang telah membuktikannya—atau mungkin berusaha membuktikannya—bahwa selama tiga bulan ia menetap di sini, dirinya masih belum merasakan hal itu.

Tiga bulan yang lalu pria itu secara impulsif memutuskan untuk keluar dari Korea sementara waktu. Ia tak membutuhkan waktu lama untuk segera memutuskan bahwa Venesia adalah jawaban.

Sudah sejak lama ia mengetahui tentang reputasi kota di atas air tersebut. Membayangkan mungkin benar, bahwa jika ia memilih tinggal di sana sementara waktu, hatinya akan pulih.

Namun, hari ini tepat tiga bulan sejak ia pertama kali datang. Sudah setiap hari ia menghirup udara pada satu titik di Eropa; jauh dari rumahnya.

Hanse masih merasa kosong.

Seperti biasa, Hanse berkeliling kota hari ini.

Tak peduli seberapa sering kakinya masuk ke gang-gang kecil berusaha mengenal tempat ini lebih baik, sekedar masuk ke pertokoan tanpa ada niat untuk membeli dan kembali keluar dengan barang belanja yang tak direncanakan.

Bahkan, Hanse sendiri juga telah hafal, sebuah rutinitas kota yang tak pernah berubah dan beberapa warga yang selalu di sana saat Hanse melintas.

Mulai dari ibu-ibu di dekat pusat gondola yang selalu mendapatkan kiriman surat kabar pada pagi hari—juga sebuah tempat pertama yang selalu Hanse tuju dalam kegiatannya berkeliling Venesia—dan akan membacanya dengan dahi berkerut dan mengomel dengan dialek Venesia untuk membaca judul berita.

Namun, sampai sekarang Hanse tak pernah bisa mengerti apa yang wanita itu katakan—semua tolong salahkan pada dialek Venesia yang terdengar jelas berbeda dari bahasa keseharian Italia; Hanse sempat mempelajarinya secara kilat sebelum datang ke sini.

Lalu, saat matahari tengah berada tepat di atas kepala, saat air mulai surut dan hanya sedikit gondola yang terlihat, seorang kakek dengan jaket kuno berwarna hijau botol akan datang, menggelar kursi tanpa sandaran dan mengeluarkan standing kanvas dari tasnya yang sebesar tas wadah gitar.

Selama tiga bulan Hanse menetap, kakek itu selalu di sana, berpanas-panas di bawah topinya dan memperhatikan setiap gondola yang lewat dan dituangkan dalam lukisan.

Lukisannya cukup indah, Hanse mengakuinya.

Rasanya, jika tak ada pengaruh tampilan fisiknya khas Asia yang mencolok, Hanse mungkin telah dianggap sebagai warga lokal saat ini.

Benar-benar, tiga bulan ia berusaha mencintai kota ini. Bahkan ia telah memiliki satu orang yang selalu mengajaknya berbincang pada penghujung hari. Walau tak bisa dikatakan berteman; namun ia mendengarkannya.

Sudah sejauh itu Hanse mengenal kota ini.

Memperhatikan setiap bata-bata kecil yang terkadang menghiasi jalanan penuh aspal yang berlubang, lalu suara riak air dari kanal akibat pergeseran gondola, semua itu selalu menemaninya dalam tarikan nafas tanpa henti.

Termasuk, seperti sekarang.

Pada harinya yang ke sembilan puluh dua tersebut, Hanse melakukan segala sesuatunya seperti biasa. Walau, pagi tadi sempat terselip satu kegiatan interupsi yang tak direncanakan.

Pagi tadi, Hanse mendapat telepon dari adiknya.

Gadis muda itu menelepon dengan dahi bersungut-sungut yang rasanya bisa Hanse lihat dari benua Eropa ini, lalu mendengarkan sang Gadis Do melalui nada marahnya untuk bertanya, ‘kapan Hanse akan pulang?’

Lalu, seolah ditenggelamkan di bawah kanal, Hanse hanya menjawab, entahlah, aku sendiri juga tak tahu karena agendaku di sini belum terpenuhi.

Ia menjawabnya begitu santai seolah tak memiliki beban.

Lantas, mendengar alasan sang kakak yang masih saja terdengar tak memiliki pendirian itu, adiknya segera menutup telepon.

Membiarkan Hanse memandangi ponselnya cukup lama dan bergumam.

Benar, Hanse merenung, bahkan rencana awalku yang hanya butuh tiga puluh hari di tempat ini tak berjalan semudah itu. Agendanya masih belum terpenuhi.

Agendanya untuk merasa bahagia.

Bahkan, pada hari ini juga … Hanse masih melakukan hal yang sama. Ia berkeliling kota, membiarkan kakinya yang berhiaskan sepatu kets klasik dan balutan celana denim hitam yang ketat tersebut telah menjelajah pada setiap sudut kota hingga saat ini matahari sudah tak se-terik sepenuhnya dan perlahan-lahan mulai turun bersama sinar jingga.

Hanse masih melakukan perjalannya.

Pria itu lantas merogoh saku celananya. Berlindung di bawah topi hitam sebagai peneduh untuk memandang selembar kertas yang sejak pagi memang ada di sana untuk membaca dengan seksama tulisan tangannya sendiri.

Itu sebuah agenda kegiatan.

Hanse membaca pada deret pertama; binatu.

Pria itu telah pergi ke binatu siang tadi, mengambil bajunya dan dimasukkan pada tote bag yang ia bawa dari Korea untuk dipulangkan menuju flatnya.

Kedua—agenda itu hanya memiliki tiga topik—Hanse harus berbelanja makanan ringan.

Pria Do juga sudah melakukannya. Setelah pergi dari binatu, Hanse melenggang memasuki salah satu toko kecil di dekat sana. Membeli banyak makanan ringan dan beberapa minuman bersoda untuk ia bawa pulang menuju flat. Ia membeli itu semua dengan satu tujuan; untuk marathon menonton film saat Venesia tak lagi dihiasi matahari.

Ketiga dan yang terakhir, Hanse membacanya dengan meremas pelan kertas tersebut.

Tulisan itu berkata; menjadi bahagia.

Benar, Hanse sendiri yang pagi menuliskannya seperti itu. menuliskan dua kata yang bahkan sejak awal datang juga selalu ia tulis pada perencanaan agenda harian hingga saat ini hari ke sembilan puluh sekian.

Namun, Hanse tak dapat melakukannya.

Tak peduli berapa kali pria berumur dua puluh empat tersebut berkeliling hingga saat ini sampai di kanal yang sama pada setiap sore, Hanse masih tak bisa memenuhi keinginannya sendiri.

Karena sesungguhnya, Hanse paham mengapa bahagia tak kunjung ia temukan. Maka, untuk merenungkan segala sesuatu itu … Hanse memutuskan untuk mengakhiri usaha berbahagianya di sini.

Di pelataran Basilika Santo Markus, Hanse duduk untuk menjernihkan pikirannya.

 

.

.

.

 

Hanse tergelak. Dirinya seolah berusaha ditarik ke dalam ingatannya yang lampau, namun tetap memberikan senyuman kecil kala memperhatikannya.

Ingatan itu, jelas … Hanse tak akan lupa.

Ini adalah sekumpulan foto yang pernah ia ambil saat tengah menetap sementara di salah satu kota milik Italia tersebut.

Lama; rasanya sudah lama sekali ia membayangkan kejadian yang jelas masih menginjak tahun ketiga, tentang napak tilas dirinya yang saat itu begitu putus asa.

Mencoba mengadu peruntungan suasana hati dengan mendatangi tempat tersebut. berbekal pemahaman konyol, Hanse seolah yakin jika masalahnya akan selesai jika ia datang ke Venesia.

Venesia, bahkan nama itu masih bergumam dalam arti lain saat ia ucapkan.

Lantas, setelah satu ingatan terjalin dari foto pertama, matanya kini beralih pada lembar yang ada di sampingnya.

Masih dengan unsur artistik seni serupa—menonjolkan khas Venesia yang terlihat kuno—foto kali ini adalah foto deret pertokoan yang antik.

Berdiri berjejer rapi seolah meminta para turis untuk berkeliling dalam satu barisan untuk memperhatikan apa yang mereka jual.

Hanse sekali lagi ingat, ia yang mengambil foto itu melalui kamera ponsel.

Lalu, begitu saja bibir ranum pria itu yang masih terasa sedikit rasa coklat menggumamkan nama seorang gadis.

Sang gadis lokal, yang saat itu memberikan ia sedikit pencerahan tentang apa yang harus dilakukan.

Thalia; seorang gadis lokal dari deret pertokoan di depan pelataran Gereja yang menjual bauta.

Apa kabar gadis itu?

 

.

.

.

 

Venesia, tiga tahun silam

 

Pelataran itu semakin ramai, dan kali ini memberi ruang pada kepala kosong Hanse untuk merenung.

Apa lagi jika bukan tentang rasa kosong di dalam hati.

Sesungguhnya, Hanse datang ke tempat ini dengan permasalahan hati yang nyata.

Semua itu tentang dua orang; dua orang manusia yang ia temui di Korea dan memberikan sumbangsih terbesar pada rasa bingung yang hidup di dadanya.

Tanpa diminta, kepala Hanse dengan senang hati melakukan kilas balik ke belakang. Membuat renungan dengan mata yang memandang kosong tentang si sosok pertama.

Sebut saja namanya dengan sapaan Pemuda Jung.

Jika ia tak salah menghitung, umur pemuda itu sudah mencapai angka dua puluh dua.

Pemuda Jung memang dua tahun lebih muda darinya, juga tentang kisah mereka yang dimulai saat umur Hanse bahkan masih begitu baru untuk memulai kehidupan dewasa,

Namun, Pemuda Jung itu bisa hadir di sana, hadir dalam bentuk sosok yang lebih dewasa …. Selalu menemuinya dengan suka cita mendalam tak peduli bahwa Hanse yang saat itu tengah menempuh langkah pertama dalam karirnya menulis lagu sedang jatuh bangun.

Pemuda Jung di sana, selalu menangkapnya dengan pelukan terhangat yang pernah ada.

Hanse masih ingat, sosok dengan sorot mata menusuk itu tak terlihat ramah, namun segala sentuhannya menenangkan. Seolah bisa membuat raganya yang lelah masuk pada dimensi peristirahatan, sosok yang dulu berstatus sebagai juniornya di sekolah menengah atas perlahan berubah menjadi sosok yang penting.

Perbedaan umur itu seolah tak pernah ada. Si junior tampan itu hadir sebagai sosok pelipur lara yang nyata. Memeluknya tanpa ragu untuk memberikan kehangatan dari rasa lelah sehingga ia bisa beristirahat.

Rasanya, sensasi itu terasa masih ada, tentang bagaimana hangat tubuh itu memeluk. Memberikannya suasana hati yang nyata tentang rasanya dicintai.

Hanse mengingat satu, tentang sebuah kebiasaannya yang tak pernah lekang saat mereka tengah bersama. Perhatian kecil yang tak pernah Hanse absen rasakan dari relung yang lebih muda, ia tak akan pernah lupa bagaimana sensasi bertanya kabar ala pria itu bisa membuatnya tersenyum.

 

*

 

“Bagaimana harimu?” seperti biasa, yang lebih muda itu bisa begitu saja melenggang masuk ke kamarnya. Seolah tak punya malu menginvasi tempat tidur yang lebih tua dan berbaring di atas sana sembari merentangkan tangan.

Paham dengan benar bahwa Hanse membutuhkan sentuhannya yang menenangkan.

“Seperti biasa.” Hanse menghambur pada pelukan tersebut, “aku lelah.” Ia berkeluh dengan leluasa, berbisik pada kaos dan dada si pemuda untuk menyuarakan sedikit cerita tentang titik terendahnya.

“Lagu ku masih belum bisa masuk dapur rekaman.”

Sebuah kisah yang sedih, sejujurnya, tetapi sosok dengan mata elang itu selalu memiliki kata-katanya yang bertindak seperti obat.

“Tak apa. Kerja kerasmu itu memang butuh waktu untuk mencari rumahnya.” Ia berkata, masih mengelus puncak kepala yang lebih tua dan kembali berkata, “Sama seperti sosok elit yang menginginkan hunian sesuai standarnya, karyamu itu butuh waktu untuk bisa menemukan pita suara yang cocok untuk tempat tinggal.”

Sosok tampan itu hanya berkata seperti itu, dan selalu mampu untuk membuat Hanse merasa nyaman kembali. Selalu seperti itu, datang dengan pelukan yang sama hingga masa-masa beratnya segera berlalu menjadi kesuksesan yang perlahan tumbuh.

 

*

 

Ia memang merasa begitu dicintai, sempurna karena sekedar dekapan, hingga dirinya yang terlanjur nyaman benar-benar lupa bahwa mereka berdiri tanpa ikatan.

Sesuai alur yang biasa ditebak pada hubungan tanpa ikatan tersebut, Pemuda Jung benar-benar melakukannya.

Setelah seluruh waktu bahagia yang mereka lewati, Hanse memang tak pernah berpikiran untuk membicarakan tentang status yang ingin mereka tempuh.

Sejauh itu, Hanse tak ingin muluk-muluk untuk jadi yang satu-satunya dalam hidup Pemuda Jung. Lagi pula, ia juga paham sosok pubertas seperti pemuda itu mungkin saja akan merasa terbebani karena ia yang menuntut.

Hanse tak ingin menjadi serakah. Ia hanya akan berfokus pada afeksi Pemuda Jung juga janji pada dirinya sendiri. Sehingga saat gemilang karir datang, entah kenapa, ia sang sosok spesial memilih menghilang.

Benar-benar menghilang seolah ditelan oleh peradaban. Meninggalkannya seorang diri yang terlanjur berdiri di sebuah pintu kesuksesan.

Sehingga ia yang sibuk meraih mimpi, lambat laun memilih merelakan Pemuda Jung yang pergi tanpa niat untuk mencari.

Miris? Oh, bahkan Hanse sanggup menangisi kisah hidupnya sendiri jika mampu, atau bahkan jajaran burung dara yang terus menagih taburan makanan itu juga akan menjadi hadirin yang tertawa jika ia bercerita.

Burung-burung itu semakin banyak berkumpul, menemani Hanse dalam kesendirian dan tak jarang beberapa orang yang tengah melintas memandang si darah Asia yang tengah dikelilingi hewan dengan raut penasaran.

Hal itu lantas membuat Hanse menoleh, memandang pada salah satu kios topeng Bausta di belakangnya untuk memandang pantulan diri sendiri.

Mau tak mau melihat pada sudut matanya yang terangkat serta hidung mancungnya, lalu berakhir pada bibir tipis berhiaskan lubang tindik kecil yang tak mampu tersenyum.

Apa ia tengah merasakan sakit di hati?

Hanse menjawab pada suara di kepalanya sendiri, alih-alih merasa sakit hati, ia hanya bingung dan—pria itu menelan saliva untuk kata yang terakhir.

Rindu?

Pria Do tersebut menyentuh dadanya sendiri dan meremat pakaiannya pelan, lalu matanya menyusuri pada helai rambut panjangnya yang keluar dari tatanan karena terpaan angin sejuk.

Lalu kembali berkata pada dirinya sendiri, rindu pada siapa?

Si Pemuda Jung?

Atau

Sang Pria Lim?

Benar, sesungguhnya selain Pemuda Jung, ada satu nama lagi yang tinggal di dalam rematan dada tersebut.

Tentang si Pemuda Jung, sosok jangkung dengan senyum manis yang selalu diiringi oleh lesung pipit pada sebelah sisi.

Pria Lim itu sebenarnya adalah sebuah anomali.

Karena saat karirnya bersinar gemilang, Hanse tak lagi peduli pada kisah cinta, ia memutuskan untuk menutup pintu hati sementara waktu dan berfokus pada pengejaran mimpi, sibuk menandatangani kontrak di sana-sini pada seluruh perusahaan agensi yang berebut ingin mendengarkan banyak demo-demo lagunya yang tersimpan.

Beberapa tahun berselang, hidupnya hanya seperti itu.

Tak peduli bahwa sebenarnya di luar sana juga para pria dan wanita mengantre untuk menjadi teman kencan, bahkan tak jarang beberapa idol kenamaan juga repot-repot bertanya pada orang-orang tentang ID kontak media sosialnya, hatinya selalu menolak. Masih ada nama Pemuda Jung di dalam dadanya.

Hingga akhirnya, si anomali alias sang Pria Lim itu datang.

Menerobos secara paksa pada pintu hatinya yang tertutup rapat, bersenjatakan dengan senyum yang diiringi lubang pada sebelah pipinya, dan kata-katanya yang tak terencana begitu senang menceritakan segalanya pada Hanse.

Mau tak mau membuat perasaan dicintai itu hadir lagi. Namun, kali ini tentang ia yang dicintai dengan dipercaya sebagai tempat pulang.

Pria Lim itu satu tahun lebih tua darinya, tingginya mencapai seratus delapan puluh sentimeter dengan postur tubuh yang terbentuk akibat hobinya yang tak pernah berhenti berolahraga.

Hanse ingat, saat itu ia tengah mengurus sebuah kontrak dan hendak membicarakan royalti pada perusahaan agensi tersebut sehingga membuat ia datang ke gedung hitam tersebut.

Tak memiliki niat lain selain untuk pertemuan bisnis, namun karena kendala pada ruangan yang hendak digunakan pada rapat, membuatnya mau tak mau bersandar di dinding lorong gedung, hingga seorang pria dengan aroma parfum maskulin yang melekat tak sengaja menabraknya.

Tentu saja, itu salahnya yang tak melihat Hanse yang sesungguhnya tengah diam.

Lalu karena takdir, mereka berpandangan selama beberapa detik.

Klise, sejujurnya.

Namun Hanse juga tidak akan mengelak bahwa wajah yang terlihat seperti fisik hasil percampuran dua ras negara dan garis rahang yang begitu jelas terbentuk benar-benar menawan.

Pria itu mengenalkan dirinya dengan senyum lebar. Lalu terang-terangan mengatakan bahwa Hanse adalah sosok yang menarik dan memberi tawaran tentang dua kopi selepas urusan mereka di gedung ini.

Hanse tentu saja saat itu menolak, ia tak berminat. Namun, pria anomali itu ternyata tak menyerah.

Seusai rapat selesai, Hanse dikejutkan dengan ia yang berdiri di depan pintu, menyodorkan kopi secara cuma-Cuma dan berkata bahwa Hanse tak bisa menolak pemberiannya yang tulus.

Lalu, setelah itu … Hanse tak lagi ingat tentang prinsipnya untuk menolak setiap hati yang hadir.

Perlahan, ia menerima Sang Pria Lim. Namun tak ingin berharap banyak dan sejak awal jujur berkata bahwa sebenarnya di dalam hati itu masih ada satu nama yang tak bisa dihapus; si Pemuda Jung.

Hanse tak akan terkejut jika seandainya pria itu memilih pergi, tetapi seolah tak peduli, pria itu justru mengajaknya dalam sebuah hubungan agar Hanse tak lagi kecewa.

Benar; akhirnya mereka berpacaran.

Setelah perjalanan panjang, akhirnya ia membuka hati lagi dengan tetap tak menghapus si Pemuda Jung di hati, ia mencintai si Pria Lim.

Pria Lim yang hobi menceritakan segala sesuatu pada Hanse, entah tentang informasi tidak penting mengenai kesehariannya, sekedar keluhan-keluhan tak berdasar atau racuan kesal seolah ia adalah balita yang tengah merajuk.

Hanse ditempatkan sebagai sosok dewasa yang dipercaya sebagai bilik mengadu.

Hanse merasa dicintai, walau dengan cara yang berbeda, namun ia suka jenis afeksi yang satu ini.

Hari-harinya begitu indah, dihiasi kasih sayang seolah membuat dirinya kembali utuh, menemani Pria Lim berbincang hingga terkadang Hanse pegal untuk mendongak. Namun seolah tak memiliki hari esok, Pria Lim itu tak suka memutus obrolan mereka, maka sosok spesial itu tak ingin memutuskan mengalah.

Ia memilih berjongkok, hingga Hanse tak perlu lagi pegal karena mendongak.

 

*

 

“Apa yang kau lakukan!” Hanse berseru terkejut, mendapati si tampan dengan kepribadian cerah itu tiba-tiba saja berjongkok. Di tengah keramaian kota akhir pekan, ia tetap tertawa memperhatikan Hanse yang kebingungan.

Saat itu, kawasan Itaewon tengah begitu ramai. Penuh dengan para pelancong yang penasaran akan sudut kota yang penuh dengan kios-kios ayam dan bir.

Begitu penuh dan sesak, namun sang Pria Lim tak ragu untuk bertindak atas asas cinta di dalam kepalanya.

Ia tak ingin membuat Hanse pegal.

“Maaf jika aku terlalu tinggi,” Pria Lim itu tertawa lebar, “biar aku berjongkok seperti ini agar kau tidak pegal lagi.”

“Tapi sekarang sedang banyak orang.”

Sejun mengangkat bahu, “yang terpenting pacarku tidak pegal lagi.”

 

*

 

Jelas; itu cinta. Pria Lim memang seperti itu, ia selalu hadir dengan perhatian kecilnya yang hangat, selalu bertindak diluar dugaan sehingga Hanse dengan jiwa penuh cintanya yang sama selalu merasa diberi kejutan penuh bunga-bunga.

Pria Lim hadir, dengan cinta yang nyata. Jika diumpamakan, Pria Lim itu mampu memeluknya dengan matahari terhangat yang pernah ada.

Seiring berjalannya waktu, pria tampan dengan lubang manis di pipi itu berhasil menempati satu titik di sebelah hatinya.

Tak ada maksud untuk menduakan. Hanya saja, si Pemuda Jung itu tetap memiliki tempat pada hatinya. Tentang seseorang yang selalu ada pada saat ia pernah merasa sebagai manusia tak berguna.

Jauh di dalam hati, Hanse masih menyayanginya. Namun, manusia tetap menjadi realistis, ia memilih tak ingin menolak afeksi dari pria tinggi ini.

Menjadikan mereka sepasang kekasih yang saling berbagi kebahagiaan bersama. Kembali mengisi ruang di hati Hanse bahwa ia pantas dicintai.

Namun, selayaknya sebuah alur film, lagi-lagi kisah percintaannya tak berjalan mulus.

Masalah kali ini datang pada hubungannya.

Seolah memang dikikis waktu, pria itu juga pergi.

Pada malam dengan badai, Hanse yang tengah lelah karena keharusan jadwal pengiriman lagu itu dilanda stress berat.

Ia tak memikirkan tentang Pria Lim yang tampak sedang memiliki masalah juga. Maka saat sang Pria Lim meminta berpisah, Hanse begitu saja menurutinya.

Ia kembali kehilangan.

Sempurna.

Benar-benar sempurna.

Memang kesalahannya sejak dulu adalah tak ada kemauan untuk meraih kembali. Ia melepaskan begitu saja segala hal yang sebenarnya bisa diselamatkan. Sehingga membuatnya menjadi sosok menyedihkan dengan dua nama yang juga masih belum memiliki kepastian.

Tahun-tahun ia lewati dengan berat hati. Lama kelamaan menjadi karak sakit yang sengaja semakin dibuat terluka saat setiap sudut Seoul memberikan hadir tentang kenangan akan sosok mereka berdua.

Seolah tak berhenti mengingatkan bahwa Hanse telah kehilangan dua orang paling berharga di hidupnya.

Maka, berbekal harapannya yang tersisa sedikit … Hanse berharap kota ini memberikan sebuah kesembuhan.

Walau nyatanya tak berhasil.

Sejauh ini, Venesia hanya kota seribu kanal yang memiliki estetika bersejarah, itu saja.

Sehingga Hanse sore ini hanya menatap tak minat pada burung-burung yang semakin ramai, tak melakukan apapun selain tetap membuang sisa-sisa makanan yang ada di dalam kantong dengan renungan kepala yang kosong.

Saat makanan burung benar-benar habis, Hanse bermonolog pada jajaran makhluk bersayap tersebut.

“Sudah habis. Maaf, ya.”

Tentu saja burung-burung itu hanya menggerakkan kepala memperhatikan Hanse yang kini bersandar punggung dengan malas. Beberapa ada yang tetap menunggu, tak lagi takut untuk mendekat pada Hanse, sedangkan ada beberapa burung yang juga terbang, melintasi hamparan udara seolah tak ada beban.

Juga, membuat mata Pria Do yang saat ini memperhatikan salah satu burung segera teralih.

Matanya memandang pada sosok yang tengah berjalan dari daerah pertokoan dengan mata yang terarah jelas padanya.

Pada pelataran gereja yang masih ramai, diisi oleh beberapa turis yang sibuk mengambil potret, gadis itu tampil mencolok melalui pakaian gelapnya.

Rambutnya sepanjang pinggul sama dengan rambut pirangnya, posturnya begitu kecil dan hanya setinggi pundak Hanse, juga tentang wajahnya yang jelas menunjukkan bahwa ia adalah seorang gadis muda.

Hanse mengenalnya, namanya Thalia; dia adalah warga lokal yang ia sebut sebagai ‘teman.’

Gadis itu datang mendekat dengan kedua tangan yang disembunyikan pada saku jaket hitam berbahan kulit yang mengkilap. Langkahnya dengan yakin mendekati Hanse yang tengah memasang wajah malas.

Thalia mendekat dengan sesuatu di tangannya.

Ia juga tak tersenyum, raut wajahnya lurus serius seolah-olah tak bisa tersenyum, atau mungkin menyeimbangkan gaya pakaiannya yang dibentuk ala kesan grunge gelap yang menyeramkan.

Lalu saat tubuh gadis muda itu telah berdiri di hadapan Hanse, Thalia menyodorkan apa yang ia bawa pada sang Pria Do.

Itu Bausta. Sebuah topeng tradisional khas tradisi warga lokal Venesia. Gadis ini adalah penjual topeng bausta dari kios di ujung pertokoan.

“Apa kau mau membeli topengku lagi?” Thalia menawarkannya tanpa senyum. Mungkin, jika orang asing melihatnya pasti akan menduga tentang skenario seorang warga lokal yang menodong turis asing.

Namun Hanse dengan pandangan malasnya melirik pada si gadis yang masih berdiri.

“Apa dengan aku membelinya, kau akan duduk seperti biasa di sampingku?”

Selalu, itu kata-kata yang sama yang selalu Hanse ucapkan pada penghujung hari. Sesuai dengan si gadis yang biasa meliriknya dari dalam toko. Lalu datang ke arah Hanse dan menawarkan topeng. Tak peduli bahwa kemarin ia telah melakukannya, Thalia selalu melakukan hal yang sama sampai tiga bulan ini.

Juga, itu semua karena Hanse yang selalu membelinya. Secara tak langsung, membuat mereka berdua menjadi terbiasa akan satu sama lain untuk sekedar berbincang.

Hanya demi satu tujuan; Hanse butuh teman berbicara, dan Thalia tak berhenti menawarkan dagangan sekaligus menjadi teman berbicara Hanse hanya untuk satu hal; demi uang.

Ia adalah gadis lokal pedagang oleh-oleh, namun masa pubertas seperti membuatnya pelit akan senyuman.

“Tentu.” Gadis itu berekspresi acuh. “Dua puluh euro.”

Mendengar harga tersebut, Hanse mendongak terkejut. “dua puluh? Kemarin kau memberi harga lima belas?”

Thalia masih tak memberi senyum, “aku naikkan. Karena wajahmu terlihat sedih.” Aksen bahasa Inggrisnya masih kental akan dialek Venesia. Namun, ia cukup fasih.

“Apa hubungannya wajahku yang sedih dengan harga?”

Thalia menjawab acuh, “jika kau sedih, kau akan membeli topengku dan mengajakku berbicara. Lalu kau akan menceritakan kesedihanmu dan membuatku berpikir untuk ikut mencari solusinya.” Thalia memberi kesimpulan, “anggap saja lima euro-nya sebagai upahku untuk berpikir.”

Sepertinya Hanse salah, gadis ini bukan hanya seorang pedagang lokal. Namun, lebih tepatnya adalah pedagang lokal yang begitu menyukai uang.

Tetapi, pada akhirnya, Hanse tetap melakukannya. Ia mengambil topeng itu dan memberikan beberapa lembar uang kertas pada Thalia dan menggerakkan kepala sebagai isyarat agar gadis itu duduk di sampingnya.

“Aku punya waktu dua puluh menit sebelum waktunya menutup toko.” Mata gadis itu dihiasi dengan riasan gelap, ia memandang pada tokonya yang berada di ujung sana. “Jadi, mulailah bercerita.”

Mendengar komando tersebut, Hanse akhirnya menghela nafas, melirik pada jam tangannya dan merapikan rambut pirang panjangnya yang sempat terurai berantakan karena angin.

“Aku sedang bingung.” Hanse memulai dengan nada penuh renungan, matanya memperhatikan pelataran Basilika sebagai pandangan utama. “Ini sudah puluhan hari sejak aku datang ke Venesia.”

Thalia menyela, “sembilan puluh dua hari.”

Ia tak terganggu dengan Hanse yang terkejut, “kau bahkan menghitungnya?”

“Kau membeli bauta dariku setiap sore, dan aku sudah menjual sembilan puluh dua topeng.”

Sejujurnya, Hanse tak tahu harus merespon apa pada fakta tersebut selain membayangkan flat-nya yang memang penuh dengan topeng.

Namun, akhirnya ia memilih melanjutkan pada topik utama.

“Agendaku hingga saat ini belum terpenuhi. Adikku bahkan telah menghubungi dan memintaku pulang.”

“Agenda?” Thalia mengerutkan dahi tanda berpikir, “Oh, aku tahu. Agenda tentang kebahagiaan itu?”

Thalia mengetahuinya, memang beberapa kali gadis itu melihat kertas yang diremat Hanse sebagai bentuk putus asa.

“Memangya, kenapa kau belum bahagia?” gadis itu melanjutkan, “tentang dua pria itu lagi?”

Hanse mengangguk, setidaknya dua puluh euro-nya berfungsi. Gadis ini mengingat cerita-ceritanya yang sebelumnya. Sehingga ia tak perlu lagi-lagi menjelaskan inti tentang permasalahan mengenai mereka berdua.

“Iya,” Hanse memberi tatapan menerawang. “Aku datang ke Venesia dengan satu tujuan. Setelah setiap sudut Korea hanya memberiku sakit, aku berpikir mungkin kota ini bisa memberiku kesembuhan.”

Terdengar hembusan nafas lelah dari bibir tipis si Pria Do. “Kota ini tak memberikan apa-apa selain pemandangan artistik yang memanjakan mata. Tak peduli aku telah menghamburkan uang berapa banyak, seberapa jauh kakiku melangkah yang rasanya bahkan bisa menghafal setiap sudut kota dan nomor taksi perahu yang melintas …. Rupanya aku salah, Venesia tidak menyembuhkan.”

Hanse menyudahi dialognya, lalu tanpa komando, kepalanya mendongak untuk memandang langit yang berhiaskan sedikit awan. “Kau boleh berkomentar sekarang.”

“Jadi, selama ini kau ke sini; ke Venesia yang jelas membutuhkan belasan jam dari daerah asalmu untuk mencari kesembuhan?”

Untuk yang kali ini, Thalia benar-benar terkejut.

Sedangkan Hanse hanya memberikan anggukan sebagai respon.

“Entah perasaanku saja tetapi mengapa aku melihat bahwa kisah cintamu itu sangat menyedihkan?” Thalia berkomentar, “padahal sejak awal konflik bersama dua pria itu, tetapi kau mencari kesembuhan ke sini?” terdengar nada justifikasi di sana, “aku tak habis pikir.”

Hanse memberikan pembelaan, “tapi aku yakin keindahan Venesia bisa memberikan kesembuhan.”

Mendengar alibi seperti itu, rupanya Thalia semakin memberikan nada kesal. “Venesia itu hanya kota. Tolong garis bawahi, hanya kota.” Ia memberikan penekanan pada akhir kata lalu melanjutkan, “kota ini tak akan memberikan penyembuhan jika sejak awal masalahmu memang belum tuntas dengan dua orang dari masa lalu itu.”

Sejujurnya, jauh dari dalam lubuk hati si Pria Do, ia juga mengetahui fakta itu. hanya saja, ia berusaha menampik. Namun saat hendak memberikan pembelaan lain, Thalia melanjutkan kalimatnya.

“Tetapi, apa kau memang mencintai mereka berdua secara seimbang?” Gadis itu menaikkan bahu sebagai gestur merasa sangsi dengan kalimatnya sendiri. “Maksudku, jika kau sudah cinta dengan yang pertama, kau tidak akan jatuh untuk yang kedua, bukan?”

Kini, Hanse merasa ragu apa benar Thalia hanyalah seorang gadis muda yang berkomentar secara acak. Karena baru saja kata-kata itu juga membuatnya tersadar.

“Karena itu …. Aku juga bingung.” Hanse menghela nafas, “dan karena itu aku datang ke Venesia. Mungkin otakku sedang sakit; lalu aku mencari obat ke sini.”

Thalia merenungkan kata itu beberapa saat. Sebelum akhirnya gadis dengan penampilan grunge gelap tersebut bersedekap di depan dada, “tapi apa kau akan percaya jika aku bilang bahwa sebenarnya kota ini punya satu gudang solusi?”

Hanse menunggu dengan penasaran.

Thalia kali ini berekspresi dengan santai, “kau tahu, aku lahir dan tumbuh di kota ini. Jadi, aku paham …. Terkadang setiap batu bata; terlebih kanal-kanal seperti itu, mereka punya kekuatan magis, mereka punya segudang solusi.”

Hanse serius mendengarkan, bahkan ia repot-repot menoleh untuk menunggu Thalia melanjutkan kalimatnya.

“Venesia tak pernah bisa menjadi penyembuh karena sejak awal masalahnya adalah dirimu sendiri, tetapi cobalah bercerita. Aku sendiri merekomendasikan untuk berbicara dengan air.” Ibu jarinya menunjuk ke arah belakang, tepat pada kanal kecil yang tersedia di sana.

“Ceritakan saja masalahmu pada air, mereka selalu mengalir, sama seperti pikiran, jadi pada akhirnya kau akan menemukan aliran berisi solusi.” Thalia menjelaskan dengan wajah datar.

Selama beberapa saat berhasil membuat Hanse memiliki pemahaman baru, walau ia sedikit terkejut mengenai fakta yang baru saja diketahuinya. Lalu dirinya membutuhkan konfirmasi ulang.

“Sungguh seperti itu?”

Kali ini, Thalia memberi tawa sarkas. Ia memandang Hanse yang saat ini tengah memberi tatapan serius dengan tawa mengejek.

“Tentu saja tidak, aku hanya berkata seperti itu sebagai upah lima euro-ku.”

Oh, harusnya sejak awal ia tahu tak perlu percaya dengan gadis ini.

Tetapi belum sempat Hanse ingin memberi protes, gadis itu beranjak. Membuat rambut panjangnya yang sedikit bergelombang menjadi berantakan karena angin.

“Aku hanya kau bayar untuk mendengar ceritamu. Bukan untuk protes yang akan kau katakan.” Lalu matanya melihat pada tokonya sendiri, “lagipula, aku juga harus pulang. Mengerjakan tugas. Terimakasih atas uangmu.”

Setelahnya, Thalia benar-benar pergi. Meninggalkan Hanse seorang diri yang kali ini tak lagi bersama burung-burung dara yang kelaparan.

Namun sebelum kaki gadis itu benar-benar menjauh, ternyata ia berbalik.

Memandang Hanse dan sedikit berteriak, “tetapi aku sungguh-sungguh, terkadang air bisa memberikan pencerahan.”

Lalu gadis itu benar-benar menghilang ke dalam toko. Meninggalkan Hanse yang kali ini memutar tubuh ke belakang untuk memandang kanal kecil yang tampak tenang tanpa aliran tersebut.

 

.

.

.

 

Mengingatnya, Hanse tertawa. Pria berambut pirang dalam satu ikatan kuncir tersebut menarik bibirnya ke atas sembari jemarinya menyentuh foto itu untuk memberikan sentuhan sentimental.

Ingatannya masih bagus, dirinya bahkan tak sedikit pun lupa mengenai apa yang ia pikirkan saat berada di pelataran tersebut sembari memandangi deret toko yang saat itu begitu ramai tak pernah sepi.

Lucu, Hanse tertawa pada dirinya sendiri.

Ia tak pernah menduga bahwa dirinya yang lebih muda pernah terjerumus kisah cinta yang begitu rumit seperti itu. lalu seolah tak bisa lebih konyol lagi, Hanse yang lebih muda bahkan memutuskan jika Venesia memang solusi.

Konyol.

Walau tak sepenuhnya salah.

Hanse kali ini berubah memberikan tatapan menerawang, mengingat dengan sejenak bagaimana kisah sendu itu memang benar pernah menyakitinya.

Membawanya terjebak di perasaan antah-berantah dan kebingungan oleh tingkah lakunya sendiri.

Bahkan, jika direnungkan kembali, rasanya mereka bisa menyelesaikan itu dengan begitu sederhana jika saja ada rasa keinginan untuk mendatangi satu sama lain.

Oh, memang naif jiwa muda dirinya.

Dibantu oleh penerangan oleh sinar matahari pagi menghasilkan sedikit sinar silau yang semakin jelas membuat Hanse untuk memandang semuanya.

Lalu, perjalanan mata mencari kilas balik masa lalu itu kembali berlanjut; pada lembar foto ketiga …. Berisikan salah satu sudut gang di Venesia yang diterangi lampu jalanan, Hanse ingat tentang apa yang terjadi di sana.

Di sana pernah terjadi keajaiban; benar-benar keajaiban.

 

.

.

.

 

 

 

Venesia, tiga tahun silam.

 

Awalnya, Hanse berpikir bahwa

Ia ia tidak akan bisa lebih bodoh lagi karena telah memberikan dua puluh dolar pada Thalia hanya untuk dibohongi seperti itu.

Namun, sepertinya Hanse bisa melakukan hal yang lebih bodoh lagi.

Ia bahkan merenungkan tentang kemungkinan perkataan gadis itu. Benar-benar nampak kebingungan berpikir dan terlihat dilema untuk mendekati kanal kecil itu atau tidak.

Berulang kali ingin pergi ke sana tetapi urung saat bisa melihat bahwa itu tindakan yang bodoh—lagi pula, bagaimana bisa ia diminta mengobrol dengan arus air?

Lantas, pilihan terbaik adalah cepat-cepat pergi dari sana.

Mendoktrin diri sendiri bahwa itu adalah pilihan yang benar. Hanse akhirnya cepat-cepat menjauh dari sana dengan tawa konyol yang ditujukan pada dirinya sendiri.

Dalam langkah cepat melalui sepatu kets klasiknya ia menggelengkan kepala, menjauh dari pelataran salah satu objek wisata paling terkenal itu. Tak ingin percaya pada perkataan Thalia dan Hanse harus menggunakan akal sehatnya.

Tentu, Hanse bermonolog dalam hati, yang terbaik adalah pulang saat ini juga.

Kembali ke flatnya yang berada tak jauh dari sini. Flat itu adalah rumah warga lainnya yang sengaja disewakan untuk mereka yang akan tinggal cukup lama.

Bukan bangunan bagus, sejujurnya. Flatnya itu berada di lantai dua, tepat di atas kios makanan manis milik Greg—seorang pria Amerika-Italia yang mempunyai bulu dan janggut berwarna oranye keemasan—dengan interior yang benar-benar kuno.

Tepat berada di tepi kanal yang cukup besar, membuatnya selalu menjadi alarm alami dari suara gondola, perahu atau sayup-sayup pembicaraan turis untuk menjadi hal pertama yang ia dengar setiap pagi membuka mata.

Lalu tentang atapnya yang berhiaskan sedikit ukiran bunga pada setiap pojok atap, seolah sengaja dijebak pada lingkaran waktu abad 18 ala Eropa kuno, seluruh dinding dengan aroma khas bangunan lama itu dihiasi kertas dinding hias bermotif daun-daun kecil, serasi dengan ranjang besi dan lemari kayunya yang juga tampak berumur.

Kasurnya begitu nyaman dengan dilapisi sprei putih senada dengan bantal, membuat dirinya yang berusaha mencari pengalihan merasa senang karena membayangkan sebentar lagi ia akan sampai di sana, berbaring dengan nyaman dan sejuk yang menenangkan, membuka laptopnya untuk menonton series yang kemarin malam sampai pada episode enam.

Hanse juga bersemangat, membayangkan tentang kesehariannya yang menyukai pemandangan luar dari jendela kuno flat itu. Berisikan hamparan air berwarna biru terang sedikit silau jika terkena matahari; satu-satunya akses transportasi di kota indah ini selain berjalan kaki.

Juga tentang kaki telanjangnya yang bersapaan langsung dengan lantai kayu itu.

Flat itu tak terlalu luas; serupa dengan apartemen studio jika di Seoul, walau jelas yang ini lebih kuno. Hanya berisikan ranjang berukuran kecil, lemari kayu yang beberapa sudutnya telah mengelupas, karpet merah sintetis yang berfungsi sebagai penghangat kaki dan meja kecil serbaguna yang Hanse gunakan sebagai tempat air minum serta beberapa pernak-pernik kecilnya—oh, rasanya Hanse tak akan habis membicarakan tempat itu.

Benar-benar sederhana, tetapi menyenangkan sehingga Hanse tak sabar untuk segera sampai, atau kembali menghabiskan malam dengan memesan berapa kue manis dari kios di bawahnya—kios milik Greg si pria raksasa sekaligus pemilik flatnya.

Sehingga membuatnya memberikan langkah terburu-buru, masih dengan gembira membayangkan tempat tinggal kecilnya selama di sini; yang sesungguhnya hanya berupa pengalihan.

Oh, tentu saja jauh di dalam kepala pria itu ia masih memikirkan tentang renungan tadi.

Hanse berusaha tak memikirkannya, tak ingin mengingat-ingat bahwa kota ini mungkin saja punya solusi atas permasalahannya.

Sejujurnya, ia takut jika Thalia berkata fakta.

Lantas, membuat Hanse dengan cepat menggelengkan kepalanya panik dan mengusir pikiran tersebut, memejamkan mata dengan harap bayangan kamarnya akan menyambut, tak peduli dengan mata terpejam ia berjalan.

Lagi pula Hanse ingat dengan benar seluk beluk kota ini, sehingga ia tak perlu repot-repot menghafal, ia hanya perlu berbelok pada gang kecil di depan, meneruskan belasan langkah hingga menemukan gang lain lalu masuk pada jalanan inti yang sedikit lebih besar, hanya berjarak beberapa meter dari gedung flatnya, menjamin dengan pemahaman diri dan tak akan menabrak—atau, oops. Sebentar.

 Sepertinya Hanse salah untuk yang terakhir.

Ia menabrak seseorang.

Menghasilkan dirinya yang segera membuka mata dan merutuki diri, lalu sempat berpikir sebentar untuk menimbang menyuarakan maaf dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Italia-nya yang berantakan—atau setidaknya seperti itu, sebelum sosok yang ditabrak bersuara terlebih dahulu.

“Oh, maaf.”

Ia bersuara dalam Bahasa Korea.

Tunggu, sebentar.

Bahasa Korea?

Benar, Hanse membelalak saat masih belum mendongak, ia tak salah dengar.

Itu adalah Bahasa Korea.

Lebih parahnya lagi; ia kenal suara itu.

“Do Hanse?”

Suara yang terasa familiar itu mengenalinya. Tak membuatnya membuang waktu dan segera mendongak. Sangat berharap tentang dugaan yang jangan sampai terjadi.

Ia tak ingin mengakui itu, tetapi …. Ia kenal suara tersebut.

Itu suara si Pria Lim.

Hanse mundur beberapa langkah, tak percaya. Namun bibirnya menyebutkan nama itu, “Sejun?”

Benar, itu adalah si Pria Lim.

Lim Sejun ada di depan matanya setelah bertahun-tahun.

Di Venesia, Italia. Bukan di Korea.

Sepertinya Thalia benar; Venesia selalu memiliki solusi.

 

.

.

.

 

Sampai saat ini, Hanse sendiri juga tak bisa menjelaskan tentang bagaimana bisa ia bertemu dengan Lim Sejun lagi di tempat itu. Bahkan jika Hanse memaksa akal sehatnya untuk bekerja ekstra sekedar merenungkan alasan untuk mencari pembenaran.

Rasanya mustahil.

Namun, ternyata takdir menggariskan kemauannya sendiri, sama sekali tak membuat Hanse menduga, tetapi kenangan manis itu nyata.

Hanse menyukai kenangan manis.

Kepalanya lantas beranjak sebentar dari album. Mengistirahatkan mata untuk memandang dinding yang memajang puluhan topeng bauta di atas televisi, lalu pandangannya kembali tertuju pada album itu; ingin menuntut kenangan lebih.

Ia menyukai Sejun, juga si Pemuda Lim bahkan sampai kapanpun, mata sendu penuh nostalgia itu yakin perasaan memang sekuat itu.

Karena, benar …. Hanse teringat sesuatu. Entah ingin pergi sejauh apapun, ia tetap mencintai pria itu dengan segenap hatinya.

Apalagi jika bukan karena tingkah lakunya yang tak pernah berubah. Pada saat itu, tak peduli mereka telah berpisah selama bertahun-tahun, Lim Sejun tetap menjadi Lim Sejun.

 

.

.

.

 

Venesia, tiga tahun silam.

 

“Sejun?”

Total, Hanse terperangah. Matanya seolah berhenti berkedip untuk memastikan nyata atau tidaknya sosok yang ada di hadapannya saat ini.

Ia sama sekali tak memulai kata. Hanya membulatkan mulut seperti O dan mata yang membelalak, Hanse mengacungkan telunjuk di hadapannya sebagai gestur terkejut yang tak dibuat-buat.

“Kau ….” Hanse menahan suaranya di ujung tenggorokan; masih tak percaya bisa menyebutkan nama itu. “Benar-benar Lim Sejun?”

Sosok dengan topi serupa dengan warna kaosnya itu mengangguk, sama terkejut. Tetapi, pada detik selanjutnya, si Pria Lim bisa menguasai ekspresinya. “Ini aku.”

Lalu sosok Pria Lim itu memberikan senyum. Seolah tak lagi lagi merasa terkejut, pipinya sengaja ditarik oleh sebuah senyum dan memunculkan lubang manis pada sebelah pipinya.

“Sudah lama sekali, ya.” Sejun berkomentar, suaranya terdengar halus di antara suara arus kanal yang menemani.

Sedikit, kesadaran Hanse kembali.

Otaknya secara lambat merespon apa yang Sejun katakan. “Apa?” ia butuh beberapa detik untuk memahami kalimat tersebut. “Oh, benar.” Lalu matanya turun dari pandangan tersebut, “sudah lama sekali.”

Hanse menunduk. Mengukir senyum di bawah topinya yang mungkin tidak bisa dilihat oleh Sejun. Mengingat di kepalanya sendiri bahwa ini sudah hampir dua tahun sejak terakhir kali mereka bertemu; atau lebih tepatnya berpisah.

Namun seolah luka itu tak pernah ada. Sejun tampak sama sekali tak mengingatnya. Wajah teduh itu hadir kembali, diiringi oleh senyum yang tak kunjung surut.

“Ternyata kau benar-benar datang ke Venesia.”

Hanse kembali terpaku; tetapi bukan atas dasar terkejut. “Kau mengingatnya?”

“Tentu,” pria itu mengangguk seperti anak anjing. “suatu kebetulan, ya, kita bertemu di sini. Apa kau terburu-buru?”

Lagi-lagi butuh beberapa detik untuk Hanse memproses apa yang Sejun katakan. “Tidak. Aku baru saja akan kembali ke flat. Kau sendiri?” ucapnya balik bertanya untuk menghalau rasa canggung.

“Aku baru saja ingin mencari makan malam.” Sejun menoleh ke sekeliling, “tapi ternyata bertemu dengan kau.” Lantas pria itu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal.

Entah datang dari mana ide tersebut, Sejun menyelesaikan kalimatnya, “jika kau mau, bagaimana kalau kita makan malam bersama?”

*

 

Benar, hanya seperti itu. Hingga akhirnya Hanse memberikan persetujuan dengan anggukan penuh rasa tak menduga dan membuat mereka berakhir di sini.

Di salah satu restoran pizza yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Gereja Basilika Santo Markus.

Sejun telah menyelesaikan antriannya, ia kembali ke meja bersama Hanse.

“Tadi pizza tuna mayo katanya habis. Tetapi, setelah mereka mengecek lagi …. Tersisa satu porsi.” Sejun menjelaskan tanpa diminta, duduk di hadapan Hanse dan melepaskan topinya.

Menghadirkan visualisasi wajah yang dulu sering sekali ia belai tanpa alasan dengan lebih jelas. Tentang surai hitam legamnya yang tebal dan terlihat sedikit panjang, lalu kedua mata hitam kecil yang tak pernah berubah.

Masih saja tampan.

“Kau masih ingat makanan favoritku.” Hanse memberi komentar apresiasi.

Dengan cepat Sejun menyambung obrolan setelaha ia selesai mengangguk. “Jadi, kau sudah lama berada di Venesia? Kau tadi berkata jika sedang tinggal di flat.”

Berada di tengah hiruk-pikuk restoran bernuansa kayu itu, mereka mengobrol. “Tiga bulan. Aku sudah di sini selama tiga bulan.”

Sejun tampak terkejut. “Oh, benarkah?”

Hanse mengangguk, “aku sedikit jenuh dengan Seoul. Jadi, setelah kontrak dengan pekerjaan yang terakhir selesai, aku datang ke sini.” Hanse menyentuh poni depannya tanpa makna, “lalu, bagaimana dengan kau sendiri?” ia melihat pada kamera analog di atas meja milik Sejun, “apa kau ke sini untuk hobi memotretmu?”

Menanggapinya, Sejun tertawa kecil. “Kau juga masih ingat dengan hobiku, rupanya.” Lalu Sejun mengangguk, “salah satunya karena itu.”

“Salah satu? Apa ada alasan lain?”

Sejun memberikan konfirmasi. “Tentu. Kamera ini hanya alasan lain, aku berpikir pasti tidak akan rugi memotret keseluruhan kota artistik ini.” Lalu Sejun menumpukan dagunya pada tangan di atas meja.

“Apa kau berencana lebih lama lagi untuk tinggal di sini?”

Hanse memberikan senyum, “sepertinya.”

Setelahnya, mereka cukup lama terdiam. Saling hening dengan pikiran sendiri dan mata yang sibuk memandang interior sebagai pengalihan mata agar tak terlalu canggung.

Hanse juga tak melakukan apa-apa selain mengetukkan jari di atas lengannya. Beberapa kali mengusir anak rambut yang maju dan mengganggu pandangannya.

Sepertinya, apa yang ia lakukan itu tertangkap oleh penglihatan Sejun.

“Kau tampak menakjubkan dengan rambut panjang itu.”

Jika saja Hanse tengah melahap sesuatu, sudah pasti ia akan tersedak saat mendengar perkataan Sejun tersebut.

“Terimakasih.” Hanse memberikan senyum.

Itu sebuah senyum yang tulus. Juga, sebagai penyeimbang, Hanse memberikan komentar yang serupa. “Aku juga suka dengan rambut hitam mu. Apa kau tak pernah mewarnainya lagi?”

Hanse bertanya dengan ingatannya tentang Sejun pada saat mereka masih bersama, pria itu senang sekali untuk mencoba setiap warna yang ada. “Terakhir kali rambutmu berwarna silver, ya? Aku juga suka itu. Walau kau semakin terlihat berdarah campuran.”

Namun, Sejun tak serta merta menjawab. Ia kali ini tertawa. Tertawa begitu lebar hingga entah lesung pipitnya menjadi sedalam apa.

“Terimakasih juga.” Sejun menjawab sederhana.

Singkat, hanya terimakasih. Sehingga memberikan Hanse sebuah praduga tak berdasar yang sedikit masuk akal.

Pria Do itu memperhatikan sosok di hadapannya dengan renungan panjang, yang setelahnya membuat ia sadar bahwa mungkin saja Hanse baru melakukan kebodohan.

“Oh, maaf. Apa kau tidak nyaman dengan komentarku?” tanyanya merasa tak enak.

“Tidak,” Sejun nampak terkejut. “Hanya saja komentarmu mengingatkanku dengan seseorang. Ia juga berkomentar bahwa dari semua warna rambut yang pernah aku coba, aku terlihat baik dengan warna silver.”

Seseorang, Hanse menelan saliva-nya berat, Sejun telah punya sosok ‘seseorang’ lain.

“Oh? Aku tak tahu jika kau telah memiliki kekasih.”

Namun seiring dengan pertanyaannya tersebut, seorang pramusaji datang. Membawa dua porsi pizza kecil pada tangannya dan menyajikan masing-masing di hadapan mereka. Aromanya begitu lezat, apalagi tentang keju pada pinggiran pizza-nya.

“Aku belum punya kekasih lagi sejak kita berpisah.”

Tipikal Pria Lim sekali; si matahari berjalan yang selalu santai mengucapkan segalanya. Juga, tentang si Pria Lim yang selalu memiliki cerita untuk Hanse.

Sejun mengambil potongan pertama pizza-nya,

“Rumit sebenarnya. Aku dekat dengan seseorang, beberapa tahun lebih muda. Sejauh ini kami cocok.” Sejun menjelaskan, “tapi karena sejak awal alasan kami bisa dekat adalah karena masing-masing dari kami masih punya sosok masa lalu, kami sekedar berjalan bersama tanpa hubungan.”

Sungguh, Hanse yang sempat melirik pada makanannya sepertinya tak lagi berselera makan. Fokusnya hanya pada Lim Sejun.

“Jika dikatakan, aku memang mencintainya. Tetapi, aku masih memiliki nama orang lain di hatiku.” Sejun menertawakan dirinya sendiri, “sama seperti kisahmu dulu.”

Untuk kalimat yang terakhir, Hanse bisa memastikan bahwa ia tidak mendengar nada jengkel, sarkasme atau marah di sana. Sejun mengatakannya lebih dengan nada santai; seolah-olah ia baru menyadari bahwa pizza ini enak.

Karena sejak awal Sejun pun tahu jika Hanse memiliki satu nama di hatinya yang tak akan bisa terhapus jauh sebelum mereka sempat membangun hubungan. Namun selayaknya pribadi modern yang berpikiran terbuka, Sejun juga tak pernah memusingkan hal itu.

Baginya, dulu Hanse balik membalas perasaannya saja sudah lebih dari cukup.

Kali ini, jika ditelisik dari cerita Pria Lim sendiri, ia baru menyadari rasanya terjebak di dua hati.

“Pasti sosok yang sejak awal di hatimu itu orang yang sangat spesial, ya? Ia pasti beruntung.”

Sejun mengangguk melahap pizza-nya lagi, “kau memang beruntung.”

“Apa?”

Sepertinya, telinga Hanse memang bermasalah.

“Sejak awal, sosok itu adalah kau, Do Hanse.” Sejun mengatakannya tanpa beban, “Maaf, ternyata aku yang menyatakan berpisah, aku juga yang tak bisa melupakanmu.”

Oh, memang, kisah cinta mereka semua terdengar rumit.

Hanse termenung, ia tak mengatakan apa-apa selain mengerjapkan mata.

“Aku tahu ini terdengar aneh, kita baru bertemu.” Sejun melanjutkan, “Jika kau tak keberatan, aku ingin kita memulai dari awal lagi. Seperti berteman, mungkin?”

Hanse benar-benar ingin menghilang dari bumi.

 

.

.

.

 

Kali ini, setelah ingatan singkat itu, Hanse tertawa.

Benar-benar mengukir bibirnya lebar menampilkan deret gigi menikmati nostalgia yang konyol.

Jika saja otaknya waras pada saat itu … mungkin Hanse jelas akan bergerak menjauh. Memilih tak akan menemui Lim Sejun lagi dan melanjutkan hidup. Namun sepertinya takdir memiliki aturannya sendiri hingga membuatnya semakin terjerumus untuk kembali pada pria itu.

Karena jelas, akal sehat manusia mana pun tak akan mampu melawan perhatian yang selalu Sejun berikan. Sanggup membuat siapa saja yang menerimanya merasa menjadi manusia paling berharga di dunia.

Hingga membentangkan tangan lebar-lebar dan tak menyadari tentang kisah seperti apa yang sebenarnya terjadi.

Untuk yang satu ini, Hanse menurunkan senyumnya.

Ia membalikkan album itu menuju halaman ke dua.

Tepat di mana gambar-gambar tanpa objek manusia itu sekali lagi terasa familiar; namun dengan kisah yang sedikit lebih miris.

Hanse tak akan pernah melupakannya.

 

.

.

.

 

Venesia, tiga tahun silam.

 

Salah satu kenangan lucu sebenarnya—atau memang segala tentang Sejun selalu lucu; tak peduli pada fakta bahwa Pria Lim itu adalah pria dewasa yang telah matang, segalanya tetap lucu untuk Hanse.

Pria Do itu lantas melahap satu potong kue tiramisunya.

Sejauh ini Hanse telah bisa membuat keputusan melalui kepalanya. Memastikan tanpa rasa menyesal bahwa ia tak rugi masih menyimpan nama Pria Lim itu di dalam dadanya.

Sejun adalah perwujudan afeksi yang sempurna. Ia tak pernah berhenti berbicara, mengeluhkan segalanya pada Hanse dan selalu membuat sisi dalam dirinya hadir untuk sekedar memberikan pelukan.

Atau mungkin sebuah kecupan ringan; yang segera Hanse tampik karena ia tak ingin terburu-buru.

Namun, daripada kebahagiaan masa lalu yang telah datang kembali tersebut, Hanse jauh lebih senang untuk saat ini.

Benar, suasana hatinya sedang seratus persen baik hingga ia juga tersenyum lagi mengangkat cangkir teh untuk kesekian kalinya.

Karena bagaimana mungkin ia tidak akan bersorak bahagia, karena, Demi Tuhan …. Setelah lebih dari satu minggu mereka bertemu tanpa henti, Sejun meneleponnya lagi pagi-pagi buta.

Mengatakan melalui suaranya yang halus mengenai permintaannya agar Hanse berpakaian rapi; katanya, mereka akan pergi ke restoran formal setelah ini.

Jadi, berhubung kali ini anomali cuaca Venesia sedang cukup dingin, Hanse merasa sweater rajutnya ini akan tetap menghangatkan dan tetap terlihat formal.

Teh itu kembali diletakkan, lalu Hanse mendongak untuk menatap dinding kaca dari dalam restoran sesuai tempat janji mereka bertemu tersebut.

Matanya memandang tanpa makna pada gondola yang diikat pada tepi dan bergoyang-goyang kecil karena angin. Semua terlihat normal, terlihat indah dan terlihat Venesia sekali.

Juga, memberi Hanse ruang tentang Venesia yang akhirnya memberikannya solusi; Venesia mengembalikan Sejun kepadanya.

Sehingga kepala pria itu mulai merenungkan segala sesuatu tentang apa yang ia rasakan pada pria ini; setelah mereka bersama di Venesia tentu saja.

Hanse menumpukan sebelah kakinya di atas kaki lain, lalu ia menghela nafas untuk memandang jam pada layar ponselnya.

Masih ada waktu hingga Sejun datang.

Sejauh ini, semua terasa jenaka jika diingat kembali. Tiga bulan ia telah menjadi warga Venesia; memperpanjang visa dengan sisa uang royalti dan berharap tentang sebuah kebahagiaan yang akan datang.

Ajaibnya, kebahagiaan itu benar-benar datang.

Tentu karena faktor utama mereka telah bersama selama beberapa minggu terakhir untuk menghabiskan waktu bersama, jarak asing itu telah menghilang ditelan waktu.

Semua seolah kembali seperti semula. Tak ada lagi Hanse yang hidup dengan suasana hati buruk, ia yang tak bahagia atau masalah emosi negatif lainnya.

Beberapa minggu ini, bersama Sejun ia telah menghabiskan waktu terbaik.

Lalu, seolah tak bisa lebih baik lagi, Sejun pagi tadi telah memberikan ia kabar … bahwa ia ingin mengenalkan sosok yang selama ini sempat menemaninya.

Si rumit itu. Sejun berkata bahwa sosok yang selalu menemani Sejun saat sedih akan datang ke Venesia.

Apa suasana hati Hanse memburuk lagi?

Tentu tidak! Ia super senang.

Memang konsep pemahamannya tentang cinta berbeda dari sebagian orang. Hanse percaya bahwa perasaan sehebat cinta adalah hal yang pantas diberikan pada orang-orang yang pantas.

Tak harus satu; yang terpenting adalah tak ada yang ditutup-tutupi.

Lagi pula, Hanse juga ingin mengenal sosok itu. sosok yang telah mengobati sedikit luka Sejun, dan ia sendiri bersemangat untuk berkenalan.

Mereka mungkin bisa jadi dekat, membuat hubungan di Venesia terasa menyenangkan. Juga, tentang Sejun yang telah berkata bahwa ia telah menceritakan tentang Hanse pada sosok yang belum ia ketahui ini.

Maka di sinilah ia sekarang. Duduk di sebuah kedai makanan ringan, Hanse menyesap tehnya dengan tenang dan berusaha menahan euforia gembira yang rasanya hampir meledak dari dalam dirinya.

Hanse suka. Ia tak sabar untuk bertemu dengan mereka berdua.

Matanya tak berhenti memandang ke sekeliling, menanti-nanti sosok yang ditunggu sembari kali ini sebelah tangannya memotong potongan kue berwarna putih setengah abu-abu; kue tiramisu.

Lalu, tak lama kemudian, Hanse melihatnya.

Sejun datang dari arah pintu utama. Membuat Hanse melambaikan tangan bersemangat agar sosok si Pria Lim menoleh. Lalu pria itu datang menghampiri.

Ia terlihat tampan dengan balutan kaos putih polos dan celana denim kasual. Rambutnya terlihat basah sedikit akibat keringat yang mengalir. Namun akhirnya Sejun duduk di hadapannya dengan nafas terengah-engah dan senyum manis menatap Hanse.

“Kau sudah lama menunggu?”

Hanse menggeleng, “aku baru saja mulai melahap tiramisu.”

“Jadi, dia belum datang?”

Kue itu kembali Hanse lahap, ia sempat menggeser piringnya untuk menawarkan pada Sejun, namun Sejun menolak.

“Kau yang pertama.” Hanse tertawa, “oh, aku tidak sabar untuk bertemu dengan dirinya.”

Mendengar itu, Sejun memberikan senyum. “Kau bersemangat sekali, ya, untuk bertemu dengannya?”

Hanse mengangguk, “tentu saja aku bersemangat.” Hanse turut mencari, matanya memandang arah yang sama seperti Sejun, namun tak melihat apa-apa dan memilih melahap kuenya lagi.

Hingga akhirnya Pria Lim itu berseru semangat.

“Dia sudah datang.”

Lantas, membuat Hanse menyelesaikan kunyahannya dan menoleh ke arah pintu. Melihat dengan rasa gembira yang kentara sebelum akhirnya kue tiramisu di garpu kecilnya itu hampir terjatuh ke lantai.

“Demi Tuhan.” Jantung Hanse terasa merosot begitu jauh. Saliva-nya tak mau bergerak melihat sosok yang kini juga terpaku di muka pintu.

Sama-sama menampilkan ekpresi terkejut yang tak dipahami oleh Sejun, hingga akhirnya Hanse berkata lirih.

“Jung Subin?”

Itu adalah Jung Subin; si Pemuda Jung penghuni sisi hatinya yang lain.

 

.

.

.

 

 

Tiga tahun telah berlalu, namun Hanse tak akan pernah bisa lupa bagaimana kue tiramisu di mejanya itu mendadak berubah menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan.

Halaman kedua album foto itu hanya berisikan potret sebuah pintu kios yang difoto dari arah dalam. Menghasilkan sebuah potret dengan bayang-bayang gelap serta fokus pada sebuah objek yang terang.

Sama seperti Pemuda Jung yang saat itu berdiri di pintu.

Tanpa sadar, tangan Hanse ingin sekali meremas dadanya sendiri.

Bukan; ia sama sekali tidak bermaksud untuk membenci pemuda itu, pemuda yang bahkan mengisi hatinya sejak awal …. Hanse sama sekali tidak bisa membencinya.

Dari pada benci, Hanse lebih setuju bahwa ia rindu.

Benar-benar rindu sehingga yang bisa ia rasakan saat itu hanya sakit. Rasanya, dirinya di masa ini sanggup memukul siapa saja jika berada di dalam situasi tersebut.

Semua karena satu penyebab, ia rindu sosok yang berdiri di muka pintu tersebut, ingin sekali berlari menghambur dalam pelukan itu—walau sebagian dalam dirinya menuntut penjelasan tentang kemana Pemuda Jung itu pergi selama ini.

Tetapi, Hanse saat itu tak bodoh.

Ia paham apa status Jung dan si Lim Sejun; mereka terlibat hubungan. Tak peduli bahwa Pria itu mengatakan sebelumnya bahwa mereka belum disatukan dalam ikatan, namun bagaimana bisa ia akan megnhambur ke pelukannya saat sisi hatinya sendiri juga mencintai Sejun?

Oh, rasanya kisah cintanya itu lebih rumit dari kisah-kisah drama lokal.

Hanse memandang foto itu sekali lagi.

Tanpa perlu diceritakan, unsur sendunya selalu mengingatkan dirinya pada betapa bingungnya ia saat itu.

Cukup lama jari dan matanya menelusur pada lembar foto yang satu itu. Seolah sengaja berusaha memancing memori yang tersisa di kepala, ditemani oleh deru mesin pendingin ruangan yang terdengar pelan.

Ia merasa dekat dengan album tersebut.

Hingga matanya menuju objek foto lain yang ditempel di sana.

Lagi-lagi, mata Do Hanse menerawang jauh; ditarik oleh lubang memori untuk jatuh di depan objek yang terasa jelas sekali.

Jelas untuk mengingatkannya bahwa setelah keterkejutannya tentang sosok yang sama terkejut di muka pintu kios, Hanse muda saat itu berlari.

Segera menyingkir saat Pemuda Jung yang setelah keterkejutannya ingin mendatangi Hanse, ia yakin si Jung saat itu ingin meminta sebuah pelukan.

Tetapi otak Hanse terlalu terkejut. Hingga ia tak mengatakan apapun pada Sejun yang tampak kebingungan memandang ekspresi mereka berdua untuk berlari.

Sekuat tenaga membuat langkah lebar untuk pergi dari sana dan menjangkau flatnya pada kecepatan kilat yang kakinya bisa raih.

Hanse ingat, betapa bingungnya dia pada posisi tersebut. Memilih bersembunyi pada ruangan khas abad 18 Eropa untuk menata pikiran sebaik-baiknya.

Pada album dengan sampul yang masih baru itu, Hanse memandang sebuah foto; foto berisikan potret tentang pintu kayu flatnya saat masih menetap sementara di Venesia.

 

.

.

.

 

Venesia, tiga tahun silam.

 

Pintu tersebut ditutup keras-keras oleh sang Pria Do. Tubuhnya yang berhiaskan keringat tak sanggup lagi memiliki pertahanan diri sehingga ia segera merosot untuk duduk di atas lantai kayu.

Bersandar lemas dengan mata yang menatap isi flatnya melalui tatapan kosong, masih tak percaya pada sosok yang dilihatnya di depan pintu kios tadi.

Bagaimana mungkin? Setelah bertahun-tahun yang terasa mustahil untuk mereka bertemu lagi, Subin berdiri di sana; si Jung Subin yang selama ini terasa mustahil untuk diraih kembali lantas hadir begitu saja, sebagai salah satu sosok terkasih Sejun yang pernah menemaninya tentang suka dan duka.

Lantas tubuh pria Do itu bangkit. Berjalan mendekat menuju jendela flat untuk sekedar menghirup udara. Lalu menunduk memandang kanal di bawahnya dengan tatapan tak mengerti yang masih sama.

Mengapa? Tuntutnya pada kanal yang terdiam, mengapa kisahnya menjadi serumit ini?

Hanse mencengkram kayu jendela, mengapa? Venesia yang ia harapkan memberi solusi atau penyembuh menjadi seperti ini?

Hanse tak mampu melakukan apapun selain termenung.

 

.

.

.

 

Bahkan, rasa bingung yang benar-benar mencengkram hati itu terasa hingga saat ini.

Hanse yang tengah duduk di ruang santai apartemennya bisa merasakan gelayar sakit yang menjerat dadanya. Saat itu, Hanse yakin kepalanya telah begitu pening.

Menyebabkan ia masih mengingat dengan jelas bagaimana setelah itu ponselnya terus menerus berdering. Jelas memberi tahu siapa lagi jika bukan Lim Sejun yang menghubungi.

Hanse saat itu hanya sanggup untuk memandangi ponselnya dalam diam. Dirinya tak sanggup untuk mengangkat telepon, karena, Demi Tuhan …. Bahkan dirinya di masa ini juga tak tahu harus mengatakan apa pada pria itu nantinya.

Hingga akhirnya, Hanse ingat bahwa dirinya di masa muda itu tidak melakukan apa-apa. Mematikan ponselnya segera dan bersembunyi di balik selimut selama berjam-jam.

Bersembunyi di balik sana untuk merenungkan apa yang terjadi; juga menahan gejolak rindu untuk tak berlari keluar dan menghambur pada pelukan yang lebih muda.

Ia rindu Jung Subin, juga ia yang tak tahu harus berkata apa pada Lim Sejun.

Terjerat rumitnya takdir, Hanse pada akhirnya mengakui.

Bahwa ia mencintai mereka berdua.

 

.

.

.

 

 

 

 

Venesia, tiga tahun silam.

 

Sejak kejadian pertemuan di kios yang tak terduga, Hanse benar-benar tak memiliki semangat untuk melakukan apapun selain berbaring di kasurnya dan memandang keluar jendela.

Sesekali mendapati adanya burung-burung yang terbang lewat, juga hanya diam memperhatikan saat salah satu burung dara yang biasa ada di pelataran Gereja Basilika itu bertengger di kayu jendelanya. Memperhatikan Hanse yang hanya berbaring dan menutupi telapak kakinya dengan ujung selimut.

Benar-benar tak bersemangat, berbanding terbalik dengan dirinya beberapa jam yang lalu, yang begitu menggebu-gebu hanya untuk bertemu sosok dari kehidupan Lim Sejun.

Oh, Tuhanku.

Hanse hanya sanggup menenggelamkan wajahnya di bantal.

Tak lagi peduli pada tatanan rambut panjangnya yang berantakan dan penampilannya yang menyedihkan.

Pikirannya hanya tertuju pada satu topik; bagaimana bisa ia akan menghadapi semua ini nantinya?

Hubungannya telah jauh lebih baik bersmaa Lim Sejun, sejauh ini mereka telah dekat, sejak tabrakan tak terduga itu mereka berdua tak pernah absen untuk menghabiskan hari bersama. sekedar mengelilingi Venesia tanpa tujuan, makan siang bersama, bertemu di jembatan Ponte dei Sospiri, atau pagi-pagi buta memilih untuk berlari bersama dan mengakhiri olahraga dengan menaiki bus perahu bersama menuju pulau lain untuk melihat pembuatan Murano.

Sejauh ini, setiap hari mereka lewati bersama untuk menjadi jauh lebih dekat. Sedikit memunculkan harap untuk Hanse bahwa mungkin segala sesuatunya bisa kembali seperti semula.

Namun apa yang akan ia lakukan saat sosok yang selalu menemani pria itu adalah Jung Subin?

Jung Subin yang dulu selalu memeluknya, membawanya untuk tenggelam dalam rasa damai dan sempat membuatnya menganggap pemuda itu sebagai sosok rumah?

Demi sang pemilik takdir, Hanse tak akan sanggup jika diminta memilih.

Apa lagi saat Hanse bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah terkejut Subin di ujung pintu. Pria itu tadi mengenakan kaos hitam tanpa motif serta celana panjang serupa, jauh terlihat lebih tampan dari saat mereka masih bersama.

Tetapi pandangan matanya masih sama.

Pandangan yang selalu memuja dirinya, hadir di sana.

Membuat Hanse sekali lagi memikirkan, apa ia telah melakukan sesuatu yang benar?

Demi Tuhan, Hanse menarik rambut pirangnya sendiri, kepalanya terasa begitu pusing.

Hari telah berlalu hingga sore menyapa, perlahan sinar jingga itu masuk ke flatnya dan kanal-kanal yang berangsur-angsur mulai sepi, memberikan Hanse sedikit suasana tenang untuk merenung.

Ingin sekali memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan setelah ini, sebelum sebuah ketukan pintu terdengar.

Hanse mematung.

“Do Hanse?” oh, itu suara Greg, si pemilik kios toko di bawah sekaligus si pemilik gedung.

Syukurlah, setidaknya bukan dua orang pria itu.

Maka Hanse tak memiliki alasan untuk menunda membuka pintu. Penampilannya masih kacau sesuai dengan isi kepalanya, ia berjalan mendekati pintu.

Membuka dalam sekali gerakan tangan tanpa menduga tentang siapa yang berada di balik sana.

“Ada apa, Greg—”

Di sana, memang berada Greg, si pria raksasa dengan celemek putih dan janggutnya yang berwarna oranye tembaga.

Tetapi di belakangnya ada seseorang lain.

Lim Sejun di sana, berusaha mengukir senyum pada dirinya yang terkejut.

Bagaimana bisa Hanse lupa jika pria ini memang sejak awal mengetahui flatnya. Benar-benar bodoh.

“Dia temanmu. Katanya khawatir kau tidak bisa dihubungi.” Greg menjelaskan, “tapi syukurlah kau sepertinya baik-baik saja.”

Hanse tak sanggup melakukan apa-apa selain mengangguk.

“Kalau begitu aku tinggal kalian. Croissantku matang.”

Lalu dengan begitu Greg pergi. Turun ke lantai satu meninggalkan Hanse dan Sejun yang saat ini hanya bertatapan dengan membisu dan Hanse yang tak berniat membuka pintunya lebih lebar.

Pria Do itu masih setia memperhatikan wajah tampan itu di dalam sana. Mengamati dengan jantung berdebar kencang dan kupu-kupu yang nyata; rutinitas jatuh cinta yang biasa.

Lama mereka terdiam, Sejun masih mengulas senyum, pakaian pria itu juga masih sama hingga akhirnya ia berkata untuk menyudahi situasi tersebut.

Namun saat Sejun ingin membuka suara, Hanse mendahului.

“Aku minta maaf berlari seperti itu tadi.”

Sejun tersenyum teduh, ia memasukkan tangan pada sakunya. “Bolehkah aku masuk? Ada yang ingin aku bicarakan.”

Setelahnya, Hanse akhirnya menyerah. Meruntuhkan segala khawatirnya dan memilih untuk mengikuti alur Tuhan.

Hanse membiarkan Sejun masuk.

Setidaknya, untuk saat ini tidak bersama Subin terlebih dahulu.

 

*

 

Pria Lim itu dipersilahkan duduk di atas kursi kuno dengan motif bunga-bunga yang dibordir khusus, salah satu perabot kuno yang selaras dengan interior ruangan, tepat di samping tumpukan topeng bauta yang ia beli dari Thalia.

Hanse menuangkan air putih pada gelas yang ada di meja, lalu memberikannya pada Sejun yang masih diam.

Lalu, setelahnya Hanse duduk di kaki tempat tidur, merapatkan kaki dengan pandangan menunduk dan ia yakin pastinya rambut panjang itu terlihat berantakan.

Sejun meneguk sedikit, “apa kau baik-baik saja?”

Jelas, tanpa perlu diberitahu lebih lanjut, Hanse paham tentang apa yang dimaksud pria itu.

Oh, Tuhan. Ia tak siap dengan percakapan serius tersebut.

“Seperti yang bisa kau lihat,” suara nyaringnya berkata lirih, “aku baik-baik saja.” Hanse memilih menjawabnya dengan jawaban di luar konteks.

Tetapi, Sejun si pria hangat itu tahu harus seperti apa. Ia sadar tentang maksud Hanse yang berbeda dengan maksudnya dan kembali berkata, “apa kau baik-baik saja setelah bertemu dengan Jung Subin?”

Hanse sedikit terhenyak walau tak sedang melamun.

Nama itu akhirnya disebutkan, dan ia tak sanggup menjawab.

Akhirnya membuat Sejun kembali melanjutkan maksudnya. “Aku terkejut, aku tak paham mengapa kau tadi berlari dan Subin memberikan pandangan seperti itu padamu.” Sejun menjelaskan, “tetapi setelahnya Subin ingin mengejarmu, namun ia memilih menjelaskannya terlebih dahulu padaku.”

Atmosfer ruangan kini terasa suram. Memberi wadah pada Sejun dan Hanse untuk kian menegang, walau sepertinya rasa itu hanya dirasakan oleh Hanse.

“Aku meminta maaf, Hanse.” kalimat tersebut diucapkan dengan lirih. “Aku tidak tahu jika kalian punya hubungan seperti itu di masa lalu. Aku tidak bermaksud apa-apa, aku juga—”

Hanse menyela, pria berambut pirang yang mengenakan sweater rajut itu menggeleng agar Sejun tidak melanjutkan kalimatnya.

“Bukan salahmu.” Hanse mengawali, “cerita kami sudah lama terjadi. Kami memang pernah mencintai satu sama lain, dulu sekali.” Hanse membeberkan.

Pria Do itu masih enggan mendongak, tak tahu harus bersikap bagaimana selain menunduk.

“Seharusnya aku yang meminta maaf,”

Sejun menunggu dengan sabar.

“Apa tanggapanmu jika aku berkata bahwa aku masih mencintai Jung Subin?”

Senyap, Sejun diam tak berubah ekspresi dan masih terdiam membisu, lantas membuat Hanse kembali melanjutkan kalimatnya.

“Dan aku juga masih mencintaimu?” Hanse berkata lirih, “apa aku egois mencintai kalian berdua?” Hanse melanjutkan dengan memainkan ibu jarinya sendiri, “ceritaku dengan Subin memang sudah lama terjadi. Jauh dari sebelum aku mengenalmu, saat namaku sebagai penulis lagu masih menjadi kalimat tak berarti, aku sudah terlebih dahulu mencintainya. Tetapi entah mengapa saat kehidupanku mulai membaik, dia pergi. Tetapi aku masih mencintainya.”

Dalam seumur hidup Hanse, tak pernah sekalipun ia membayangkan bahwa ia akan mengatakan sesuatu yang seperti ini. mengungkapkan apa yang ia rasa pada seorang yang ia cintai juga.

“Aku juga mencintaimu. Kau adalah afeksi terbaik yang bisa aku dapatkan. Kau memenuhi ruang lingkup di hatiku yang kosong. Bahkan saat kita berdua sempat berpisah.” Hanse berkata semakin lirih,”aku pikir aku bisa memilih diantara kalian. Tetapi aku sadar, saat Subin tadi muncul di ambang pintu …. Aku tidak akan pernah bisa memilih.”

“Aku mencintai kalian berdua.” Hanse mengakhiri kalimatnya.

Akhirnya, setelah pengakuan panjang, Hanse berani mendongak. Walau tetap ada rasa bahwa ia takut akan apa yang terjadi, Hanse memberanikan diri.

Menatap sosok yang lebih tua selama beberapa detik hingga akhirnya pria itu berpindah tempat duduk dan mengambil tempat di sebelah Hanse.

Memberikan mereka kedekatan yang terasa nyaman di tengah-tengah ruangan bernuansa kuno tersebut. Sejun mengikis jarak hingga paha mereka duduk berhimpitan seolah tak ada tempat lain.

Sejun meraih tangan yang lebih muda.

“Aku juga mencintai kalian berdua.”

Pria Lim itu berkata lembut. “Sejak awal kau tak pernah pergi dari dalam sini.” Tangan Hanse dibawa untuk menyentuh dada yang berlapis kaos tanpa gambar tersebut, secara samar merasakan detak jantung stabil yang terasa lembut di permukaan tangannya.

“Aku juga mencintai Jung Subin. Pria itu turut memberikan bahagia yang nyata padaku saat satu ruang di dalam sini terasa kosong.”

Sungguh, daripada saat pertama kali mendapat pemberitahuan bahwa lagunya diterima di perusahaan rekaman, Hanse jelas merasa bahwa apa yang terjadi di hadapannya ini terasa jauh lebih mengejutkan.

“Aku akan membiarkan kau memutuskan. Hakmu untuk memilih atau apapun itu …. Tetapi, aku ingin kau bertemu dengan Subin terlebih dahulu. Ada sesuatu yang ingin dia katakan padamu.”

Hanse tampak bertanya-tanya.

“Kau mungkin bertanya-tanya mengapa ia pergi. Kau akan mengetahuinya jika menemuinya sekarang.”

Hanse menaikkan alis, “Subin di sini?”

Sejun tersenyum kecil, “dia ada di bawah.”

 

.

.

.

 

 

Hanse tak akan pernah lupa bagaimana suasana pada sore itu. tentang Sejun yang terlihat begitu indah, kata-kata damainya merasuk ke dalam telinga seolah bertindak sebagai obat penenang.

Juga, sebagai satu-satunya dorongan untuk akhirnya ia menyelesaikan sesuatu yang sempat tertunda selama bertahun-tahun membuka luka hati.

Pria itu mengukir senyum sekilas, memandang halaman tersebut sembari tangannya juga meraba masih tersisa satu halaman terakhir.

Lalu, matanya kembali mengamati, beralih pada potret di sebelahnya tentang sebuah potret dari mascot Venesia yang begitu terkenal.

Potret sebuah gondola.

Dibingkai begitu indah seolah sengaja menampilkan kesan melankolis bermandikan cahaya senja yang secara tak merata membuat bayang-bayang indah di atas air.

Sebuah gondola yang sama dengan tempat di mana ia dan Subin akhirnya berbicara setelah bertahun-tahun.

 

.

.

.

 

Venesia, tiga tahun silam.

 

Hanse meninggalkan Sejun di flatnya begitu saja setelah pria itu berhasil membujuknya untuk keluar. Sempat merapikan dulu rambut panjangnya juga poni yang membingkai bagian depan wajahnya, Hanse turun dengan tersenyum sekilas pada Greg.

Lalu dengan debaran yang tak biasa, matanya menjelajah untuk mencari Jung Subin yang tengah duduk di salah satu meja di sana bersama dengan secangkir kopi di atas meja.

Sikunya diletakkan di atas meja. Kepalanya bersandar seperti tengah berpikir disandarkan pada telapak tangannya yang tertaut.

Subin segera mengangkat kepala saat ia merasakan sosok lain hadir di sana.

Ia mendongak secepat kilat, memberikan raut terkejut yang setelah satu detik kemudian berubah menjadi binar mata penuh kebahagiaan memperhatikan Hanse yang saat ini berada di hadapannya.

Butuh beberapa detik untuk si pemuda Jung dengan tatanan rambut yang diarahkan ke belakang itu membuka suara.

Hingga akhirnya tubuhnya berdiri, sejajar menatap yang lebih tua dan mengukir senyum penuh kebahagiaan.

“Do Hanse.” ia berkata seolah nama itu adalah benda rapuh yang akan retak jika diucapkan terlalu keras.

Memberi tahu Hanse yang kini hatinya tengah penuh bunga tentang ternyata masih ada kemungkinan.

Bahwa Subin masih mempunyai perasaan padanya.

“Mau berbicara sembari naik gondola?”

Sebuah tawaran yang akhirnya diiyakan oleh si lebih muda seperti anak anjing pada sang pemilik.

Lantas mereka berdua keluar dari kios Greg, kembali bersinggungan dengan udara sore hari Venesia yang terasa seperti hembusan angin penuh rasa bahagia.

Terlebih, mendukung untuk dua pria ini akhirnya berjalan bersama menyusuri jalanan dengan bahagia yang tak disembunyikan, bersama-sama menyesuaikan langkah hingga akhirnya mereka sampai pada pusat gondola terdekat.

Membiarkan Hanse mengucapkan sesuatu dalam Bahasa Italia yang kental akan dialek daerah asal pada seorang Gondolier.

Lalu setelahnya, mereka berdua dibiarkan naik. Duduk berdampingan dan menikmati bagaimana akhirnya gondola itu bergerak mulus di atas air.

Mengikuti arus seiring dengan dayung yang pelan, memberikan ruang tenang beserta suara air sebagai musik pengiring.

Sore itu, Venesia sedang terlihat indah dengan matahari senjanya.

“Kau, apa kabar?” tanya Subin, pria itu mengeluarkan suara halusnya yang terasa menyatu dengan suasana romantis pada penghujung hari. Sejauh ini, tubuhnya tampak lebih kurus dengan beberapa otot yang dulu Hanse ingat tidak ada di sana.

“Aku baik.” Hanse menjawab sederhana. Merapikan rambut panjangnya yang sengaja dibuat sepanjang pinggang untuk berhembus sebagai respon angin sore hari.

Lalu, setelahnya mereka terdiam. Tidak ada yang memulai percakapan terkecuali sang pendayung yang tampaknya juga tidak peduli dengan urusan dua orang di atas gondolanya.

Hanse melirik sedikit, mendapati Subin yang duduk di sana dengan renungan mata melamun, seolah tak menikmati bagaimana matanya dimanjakan oleh pemandangan Venesia yang tidak akan mereka temui di manapun.

“Kau ingin berbicara sesuatu?” mata Pria Do itu berkedip lambat.

Subin mengangguk, “maaf, aku memang payah untuk memulai percakapan.” Akunya pada Hanse.

Sedangkan Hanse hanya memperhatikan, mengamati wajah yang dulu selalu ia belai dengan penuh kelembutan. Wajah itu masih sama. Dengan rambut yang ditata ke belakang serta terpaan angin membuatnya berantakan di beberapa sudut.

Tampan.

“Dunia ternyata se-konyol itu, ya.” Subin memulai tiba-tiba. Kali ini ia bertemu lengan di atas lututnya untuk duduk ala pria dan mendongak.

Mulai memperhatikan kota Venesia dengan renungan mendalam.

“Selama ini aku dan Sejun tak pernah menceritakan tentang sosok di hati kami masing-masing. Berpikiran mungkin akan lebih baik saling menjaga privasi dan merasa cukup dengan kehadiran satu sama lain.”

Hanse membiarkan yang lebih muda berbicara.

“Ternyata, itu juga rencana dunia. Kami saling menjaga rahasia hingga akhirnya takdir membawa Sejun yang berkata dia ingin datang ke Venesia. Ingin mengobati rindu pada sosok di hatinya dan aku bilang itu haknya untuk pergi.” Subin tertawa kecil, “padahal aku tahu dengan jelas, bahwa kau memang menyukai Venesia sejak kita masih bersama. Tetapi, aku tidak pernah sekalipun menduga bahwa yang dimaksud Sejun adalah kau.”

Subin terdiam beberapa saat. “Hingga akhirnya Sejun berkata padaku. Dia bilang …. Dia menemukan sosok itu di sini. Di Venesia. Membuatku sadar untuk memulai peruntungan lagi, mencoba datang ke sini dengan harapan yang sama.”

Subin menoleh, “ternyata aku mendapat kesempatan itu juga. Aku bertemu denganmu.”

Entah bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi, namun Hanse yakin mata Jung Subin saat itu seperti memiliki pendar bintangnya sendiri. Menariknya untuk tetap tinggal tanpa ada keinginan untuk berpaling.

“Tapi aku sadar, aku pernah bodoh.”

Hanse sedikit terkejut dengan pemilihan kalimat tersebut yang terasa begitu tiba-tiba. “Maksudmu?”

“Apa kau tak ingin bertanya kemana aku pergi selama ini?”

Hanse kembali terdiam. Sejujurnya pertanyaan itu tak pernah pergi dari kepalanya. Mengganggu hari-harinya dengan satu pikiran tentang mengapa Subin dulu pernah pergi.

Memberikan Subin perubahan ekspresi yang cepat. Awalnya tampil dengan binar mata memuja, berubah menjadi sosok dengan sinar sendu yang mencolok.

“Aku ingin meminta maaf padamu. Maaf dari hatiku yang paling dalam, dulu aku masih begitu bodoh.” Subin menyalahkan dirinya sendiri. “Aku memilih menuruti rasa tidak percaya diriku. Menganggap aku tak pantas bersanding denganmu saat namamu mulai naik … lalu dengan otak kecil ini aku memilih pergi darimu.”

Hanse lagi-lagi tak menjawab.

Namun untuk kali ini, ia memberikan pandangan yang penuh akan rasa simpati dan sedikit antusiasme menunggu Subin menyelesaikan kalimat.

Kalimat yang seharusnya dikatakan bertahun-tahun yang lalu hingga semua ini tak perlu terjadi.

Tetapi, takdir tetaplah takdir, yang akhirnya membawa mereka semua ke sini.

“Ternyata tak seindah itu menghapus kau dari ingatanku.”

Subin memberi jeda.

“Aku masih mencintaimu hingga saat ini.”

Lalu, lagi-lagi ingin mengatas namakan takdir, Hanse tersenyum.

Mengukir gerak bibir lebar karena kupu-kupunya kini telah hidup semua. walau dipertemukan dengan takdir yang begitu rumit, namun tetap memberikan mereka kebahagiaan yang sepadan pada akhirnya.

Cinta mereka semua berbalas.

Sehingga membuat Hanse yang sedang terbawa suasana hatinya yang berbunga-bunga. Ia tertawa, begitu lepas dan tak mempunyai lagi beban pikiran yang berat lalu kembali berkata, “aku juga masih mencintaimu. Juga, mencintai Lim Sejun.”

Setelahnya, Subin lantas tertawa. turut berbagi kebahagiaan yang menguar di udara dan meraih tangan yang lebih tua.

Menautkan diantara jemarinya sendiri dan menatap dalam manik gelap Hanse, “sekali lagi aku minta maaf telah begitu bodoh.”

Hanse merasa tak masalah, “pada akhirnya kau tetap di sini. Sudah lebih dari cukup untukku.” Lalu ia memberikan kata terakhir, “tetap di sini, ya? bersamaku, bersama Sejun.”

Lalu sebagai konfirmasi kebahagiaan, Subin mengangguk.

Memberikan tawa dengan keindahan berlipat-lipat dan menyadarkan bahwa kehidupan Hanse telah lengkap.

Sebagai penutup, gondola mereka sampai pada kanal di bawah jembatan Ponte dei Sospiri. Mengikuti gerak hati masing-masing dan membawa mereka pada tubuh condong untuk mendekat.

Lalu, mendaratkan bibir dengan penuh senyum terkembang. Saling berbalas kecupan ringan seiring dengan gondola yang melintas di bawah jembatan. Lantas tangannya beralih, meraih kepala yang lebih tua untuk mendekat, semakin memperdalam sentuhan bibir lembut itu menjadi lumatan penuh kasih yang seolah mengungkapkan rasa rindu dan kasih yang tak pernah berubah.

Pada akhirnya, kisah cinta yang tertunda itu berakhir dengan ciuman di bawah jembatan paling romantis di Kota Venesia.

 

.

.

.

 

Mengukir senyum tak kunjung henti, Hanse menikmati lagi bagaimana kenangan indah itu bergulir di kepalanya. Sampai kapanpun tak berencana untuk melupakan barang sedetik saja tentang bagaimana Venesia mempertemukan mereka bertiga.

Bersama-sama hadir dalam kisah cinta yang akhirnya membuat mereka memutuskan sebuah keputusan paling baik yang pernah ada.

Lantas begitu saja mata itu kembali memperhatikan foto selanjutnya, tak sabar akan kenangan apalagi yang terpancing. Lalu mengukir senyum penuh kegembiraan kembali mendapati foto kesekian.

Itu, foto air mancur. Tanpa objek manusia, memberikan Hanse seberkas ingatan setelah pengakuan Subin di gondola saat itu, mereka menjadi dekat.

Selalu menghabiskan hari bersama; salah satunya kenangan lucu saat matahari Venesia sedang bersinar begitu terang.

 

.

.

.

 

 

 

 

Venesia, tiga tahun silam.

 

Ternyata, setelah perpisahan panjang yang membuat mereka terpisah, Hanse pernah berpikiran bahwa mungkin saja Subin dan Sejun telah berubah.

Yang tenyata setelah pengakuan pada hari itu, mereka semua masih sama. Mereka masih menjadikan Hanse pendengar yang setia.

Jujur, tak ada yang berubah dari mereka berdua, Hanse akan dengan senang hati membiarkan Sejun bercerita. Berkeluh kesah sembari memajukan bibirnya beberapa senti yang menurutnya cukup menggemaskan, atau tetap sekedar Lim Sejun yang selalu ingat akan setiap hal yang dulu selalu menjadi kebiasaan kecilnya.

Atau membiarkan Subin si pria manis itu untuk sekedar bersandar pada pundaknya. Sesuai dengan tabiatnya jika merasa suasana hati tengah buruk, Hanse akan dengan senang hati menemerima sosok itu di bahunya, sekedar bersandar tanpa suara lalu membiarkan Subin itu beristirahat sembari ia menonton sesuatu di laptopnya.

Oh, bahkan ingatan-ingatan mereka masih sama. Sedikit membuat Hanse tak terbiasa karena kini ia punya dua sosok menyenangkan sekaligus, namun sejauh itu cukup senang.

Seperti peristiwa saat ini.

Hari ini adalah siang yang cukup terik di Venesia, air sedang surut tak terlalu tinggi dan beberapa turis mengenakan pakaian paling pendek yang mereka punya untuk merasakan sedikit angin.

Begitu pula dengan Hanse, sosok dengan bekas lubang tindik di hidung dan bibirnya itu merasa begitu panas. Sangat-sangat panas hingga rasanya ia sanggup masuk ke kanal air—walau setelahnya pasti akan ditangkap oleh otoritas setempat karena berenang di kanal adalah tindakan ilegal.

Normalnya, pada terik seperti ini Hanse lebih memilih untuk berdiam diri di flatnya, sekedar berteduh dan melamun memperhatikan puluhan topeng bauta yang Hanse beli dari Thalia.

Namun, kali ini siang harinya akan sedikit berbeda setelah perdamaian telah terjadi pada mereka semua.

Kedua pria itu meneleponnya bahkan saat ia baru membuka mata; bersama-sama aktif dalam panggilan grup suara, lalu dengan suara berisik, bersemangat hingga menggebu-gebu.

Sejun berkata, tidak jelas, hampir seperti sedang bergumam dan mengatakan bahwa ia ingin mengajak Hanse keluar pukul dua belas siang, lalu Subin menambahkan, katanya, di pusat kota ada pusat perbelanjaan menarik dan bir tradisional yang harus mereka coba.

Maka, disinilah Hanse berada.

Pukul sebelas lebih lima puluh menit, ia dengan kacamata hitam, kaos tanpa lengan dan celana sebatas lutut berdiri menunggu di sebelah air mancur dekat kanal besar di depan flat Hanse.

Pria dan pemuda itu berkata akan datang sebentar lagi. Membuat Hanse yang siang ini menggulung rambut panjangnya tersebut menaikkan kacamata di atas hidung, memperhatikan banyak orang yang lalu lalang hingga akhirnya yang dicari terlihat menoleh ke kanan dan kiri berusaha mencari dalam kerumunan berjalan tentang tinggi Pria Lim atau batang hidung di Pemuda Jung.

Cukup lama ia mencari, menanti dengan ketukan sepatu tak sabar hingga akhirnya mereka terlihat.

Datang dari arah berbeda, Sejun yang berlari kecil dari arah barat. Lalu Subin yang tampak berjalan santai dari arah timur. Akhirnya mereka bertiga tertawa saat pandangan saling bertemu.

Mereka tampil cukup baik siang ini. walau setelahnya, mereka turut melakukan hal serupa diantara turis-turis yang mengeluh kepanasan.

Sejun segera tersenyum melihat Hanse yang melambai ke arahnya. Menarik bibir selebar mungkin hingga matanya hanya seperti segaris kecil pada jarak yang terus mendekat.

Subin dengan kaus putih tanpa lengan dan celana santai itu sampai terlebih dahulu. Memberikan senyum ceria pada Hanse yang kini tersenyum sumringah kepadanya.

“Apa aku terlambat?” tanya Sejun masih tersenyum dengan nafas tersengal.

“Tidak,” Hanse memandang dari balik kacamatanya, “Kau tepat waktu. Kalian tepat waktu. Jadi, kita akan ke mana?”

Lantas tanpa membuang waktu kembali, mereka bertiga memulai langkah. Berjalan di bawah sinar matahari yang terik, berdampingan menyusuri jalanan kecil yang cukup padat.

Sejun menoleh untuk memulai percakapan, “hari ini benar-benar panas, ya?”

Tiga bulan Hanse tinggal di bagian Italia ini. Sehingga terkadang telinganya masih belum terbiasa dengan bahasa ibu yang terus diucapkan oleh pria di sebelahnya.

Namun, Subin menjawab pertanyaan itu. “Benar-benar panas. Apa sepertinya angin sedang tidak berhembus sama sekali, ya?”

Hanse mengipas kecil dengan telapak tangannya.

Menyeimbangkan obrolan, Hanse menoleh pada Subin dan Sejun yang mengenakan baju tropis biasa; kaos garis vertikal hitam-putih dan celana denim sebatas lutut, mirip milik Hanse.

“Apa kau tidak merasa panas?”

Sejun menggeleng, “Korea jauh lebih parah pada musim panas, ‘kan?”

Sejujurnya fakta itu benar adanya. Hanse baru menyadari bahwa memang Korea terkadang jauh lebih panas dari pada biasanya.

“Sepertinya terlalu lama di Venesia membuatmu menjadi lebih berbeda.” Subin menimpali, “Benar, bukan?” tanyanya pada Lim Sejun.

“Benar, Pria Lim itu mengangguk, “karena itu tadi aku sempat terkejut dengan penampilanmu.” Ucapnya menyinggung fakta tentang Sejun yang tadi sempat terpaku beberapa detik saat matanya melihat Hanse di dekat kolam air mancur.

“Kenapa?” Hanse memandang kaosnya yang tak bergambar, “apa terlihat aneh?”

Sejun memberikan gelengan dan senyum khasnya, “tidak. Hanya saja, mungkin aku kurang terbiasa melihatmu berpenampilan kasual seperti itu.” Sejun mengendikkan bahu. “Biasanya, kau selalu tampil sebagai yang menonjol. Pakaianmu selalu indah, selalu unik. Apa kau ingat dulu aku tidak berhenti memperhatikanmu pada salah satu kencan kita? Saat kau mengenakan pakaian yang memperlihatkan tato di bahu mu? Lalu kau tampil begitu cocok dengan rambut pirang yang panjang.” Sejun melirik pada rambutnya yang digelung, “walau tak sepanjang yang ini. Entah mengapa aku selalu melihatmu seolah memang bersinar.”

Sejun masih melanjutkan kalimatnya, “aku juga suka tatomu! Tampaknya kau menambah beberapa lagi, ya?” mata pria itu memperhatikan lengannya yang dihiasi oleh banyaknya gambar tersebut, “Menakjubkan.”

 Hanse menelan kata-kata itu sebagai pujian yang ia sukai. Ditemani oleh gedung fish n’ chips di kiri sebagai saksi bisu, Hanse menunduk dengan senyum yang disembunyikan.

Namun, sepertinya Subin tak ingin kalah memberikan apresiasi. “Kalau aku, aku selalu suka dengan segala penampilanmu. Tetapi benar kata Sejun tadi.” Subin meletakkan tangannya ke dalam saku. “Aku sempat terkejut. Hanya saja aku lebih tak terbiasa dengan fakta bahwa kau memang cocok seperti ini. berpenampilan kasual, tetapi karena dasar kau memang yang menarik ….”

Subin melihat pada pakaian Hanse, “kaos ini menjadi padu padan sempurna dengan tato-tatomu.” Subin menunjuk pada gambar putri duyung di lengannya. “Aku suka yang ini.”

 

 

.

.

.

 

Hingga saat ini, Hanse akan dengan senang hati mengungkapkan bahwa tak ada yang berubah. Mereka semua masih sama. Penuh akan cinta dan kalimat apresiasi yang selalu bisa membuat hatinya senang. Apalagi tentang Subin, pemuda itu selalu tampil hangat dengan peluknya yang terasa nyaman.

Lalu, bersamaan dengan itu, pintu apartemennya terbuka.

Menampilkan sosok dengan hoodie hitam dan celana pendek sebatas lutut masuk dan memberi sambut melalui senyumnya yang manis dan berubah menjadi lebih tampan seiring dengan waktu.

“Kau sudah bangun.” Sosok itu bergabung bersamanya di atas kursi.

Tak ragu lagi menjatuhkan diri dan segera memeluk Hanse untuk menikmati aroma surainya yang terasa lembut, juga panjang terurai menjadikannya tempat favorit untuk mendapatkan usapan lembut.

“Kau dari mana?” tanya Hanse dengan suara pelan, “aku bangun tidur tempat ini kosong.”

Pria itu lantas melepas pelukannya. Lalu memandang wajah yang lebih tua dengan senyum bahagia yang tak disembunyikan.

“Ke minimarket, aku ingin membeli kopi.” Ia melanjutkan, “walau tidak ada yang seenak kopi buatan Greg, tetapi yang ini tidak buruk.”

Pria itu—Jung Subin—memperlihatkan padanya apa yang ia bawa.

Membuat Hanse memberikan anggukan paham dan setelahnya Subin melihat pada sesuatu di pangkuan kekasihnya tersebut.

“Oh, kau sedang melihat ini?”

Hanse mengangguk, lalu mengukir senyum dan menyandarkan kepalanya di bahu yang lebih muda. “Sudah tiga tahun berlalu sejak kejadian Venesia.” Lalu ia kembali mengangkat kepala untuk bertatapan mata, “tapi kenapa aku baru pertama kali melihat album ini?”

Setelahnya, Hanse begitu saja kembali pada album foto tersebut untuk membalik pada halaman terakhir.

Kali ini fotonya sedikit berbeda.

Masih di Venesia, dengan objek manusia yang sedang menghadap ke arah depan dan arah foto dari samping. Menunjukkan foto tentang si pemilik mata indah itu tengah setengah terpejam karena tawa bahagia yang terpotret begitu jelas.

“Ini kamu, bukan?”

Hanse jelas mengenali mata itu.

“Oh, benar.” Subin tampak tak mengenali foto itu. namun sedetik kemudian ia kembali menjelaskan, “benar ini fotoku.”

Subin mengukir senyum.

“Aku tak tahu kapan foto ini diambil.” Lantas ia melihat pada yang lebih muda untuk menuntut penjelasan.

“Ini diambil di dekat perahu. Saat kami menunggumu datang.”

Hanse tampak menimbang, “Saat kita akan kembali ke Korea?”

Subin memberi anggukan, “setelah beberapa hari di Venesia, saat kita akan kembali. kembali.”

 

.

.

.

 

Venesia, tiga tahun silam.

 

Langit sedang begitu cerah saat ini. Memberikan langit teduh yang mewadahi siapapun untuk berjalan dengan langkah santai dan menikmati udara kota yang sejuk tanpa polusi.

Termasuk menaungi untuk dua pria dengan masing-masing ransel pada punggungnya dan duduk santai di pinggiran kanal. Bersama-sama memperhatikan water bus yang selalu datang setiap sepuluh menit sekali sebagai akses primer antar kota dan pulau.

Si yang lebih muda memulai percakapan, “jadi, setelah ini kita akan kembali ke Korea, ya?”

Di Sebelahnya, Sejun yang tengah mengotak-atik kameranya itu mengangguk sebagai tanda mengiyakan, matanya beberapa kali mencoba mendekatkan mata pada lensa dan mencoba-coba menangkap gambar yang indah.

“Kembali pada realita lagi.” Ujar Jung Subin menimpali, “padahal kita menghabiskan sepuluh hari di kota ini.” ia tersenyum, lalu menggerakkan kepalanya guna mengusir surainya yang sudah melebihi alis agar tak mengganggu pandangan, “sepuluh hari yang berbahagia.”

Subin tersenyum.

Bertepatan dengan Sejun yang saat ini menoleh dan mengarahkan bidikan kamera padanya, menangkap beberapa potret hingga sang pemilik wajah menyadari.

Sejun menurunkan kameranya, melihat bahwa potret Jung Subin telah diabadikan melalui bentuk yang menawan, tersenyum hingga matanya hampir menghilang akibat pergerakan wajah tersebut.

“Kau benar-benar bahagia?” tanya Sejun setelahnya.

Jelas, mendapat anggukan penuh makna dari yang lebih muda. “Hanse dan kau tetap di sisiku. Bagaimana mungkin aku tak bahagia.”

Lantas, Sejun yang siang ini mengenakan kemeja biru bergaris vertikal dan jam tangan yang terasa menambah ketampanannya itu meletakkan kamera.

“Aku tak pernah menyangka jika kita semua akan berakhir seperti ini.” Sejun berujar lirih, “kita bertiga, bersama, dalam sebuah hubungan.” Pria Lim itu memberi tawa, “sepertinya Venesia memang selalu memiliki berkatnya sendiri.”

Lalu, Pria Lim itu mendekat, “Padahal, jika diingat kembali pada saat kita pertama kali bertemu, semua ini terasa hanya mimpi.”

Subin mengangguk, matanya menyipit memandangi lautan lepas, “pada saat kita pertama bertemu, terasa begitu sedih, ya?” Subin menoleh, “apa kau masih punya fotoku saat itu?”

Sejun mengangguk, kepalanya mengingat secara refleks tentang pertemuan mereka sekitar satu tahun yang lalu, saat dirinya tengah mencoba mencari tempat baru untuk diabadikan dengan nilai artistik yang bagus, lensa kamera Sejun tak sengaja menangkap sosok manusia yang saat itu tengah duduk sendirian di tengah taman.

Duduk merenung dengan pandangan mata paling sedih yang pernah Sejun lihat; tak jauh berbeda dengan jiwanya yang juga tengah bersedih.

Lalu begitu saja kakinya saat itu membawa ia pada si sosok bersedih, membawakan segelas kopi manis dan duduk di sana.

Mengajaknya dalam obrolan santai dan akhirnya saling mengenal bahwa mereka sejatinya sama saja.

Sama-sama jiwa yang patah karena kehilangan seseorang di masa lampau.

“Siapa sangka bahwa sosok yang mendiami hati kita ternyata orang yang sama.” Sejun mengatakan dengan tawa kecil, membuat lubang pada sebelah pipinya malu-malu mengintip.

“Tetapi Venesia berbaik hati mengembalikan dia pada kita.” Jawab Subin tak kalah dramatis, “Aku juga tak menyangka ternyata Hanse masih meletakkan perasaan padaku …. Setelah bertahun-tahun aku kehilangan dia.”

Sejun memberi penjelasan singkat, “apa yang ditakdirkan sebagai milik kita, akan kembali sebagai milik kita.” Lalu tubuh setinggi seratus delapan puluh sentimeter itu semakin mendekat.

Menggeser duduk hingga mereka berhimpitan dan Subin yang tersenyum senang.

“Termasuk kau yang akhirnya menjadi milikku.” Ujar Sejun diiringi nada penuh rasa berbangga diri, lalu beralih mengecup pipi Subin sekilas, “aku selalu mencintaimu.”

Subin tertawa, “walau kisah kita dimulai dengan sebuah patah pada hati masing-masing, aku juga selalu mencintaimu.”

Lalu menuntut sentuhan yang serupa, Subin meminta yang lebih tua untuk mendekat, melumat bibirnya pelan dalam gerakan lambat dan tersenyum untuk kecupan penutup.

“Aku selalu mencintaimu dan Hanse.”

 

.

.

.

 

Jujur saja, setelah tiga tahun bersama … Hanse baru mengetahui kisah kecil pada saat ia tengah berpamitan pada Thalia, Hanse tak pernah mengetahui bahwa kedua pria yang paling ia cintai di dunia itu ternyata melakukan ciuman serupa seperti apa yang ia lakukan bersama subin di atas gondola saat itu.

Ciuman romantis yang begitu melankolis.

Lalu, ia tertawa penuh rasa bahagia. “Sejak dulu memang Sejun ternyata memiliki jiwa budak cinta yang tidak pernah bisa hilang, ya.” Hanse memberi nada candaan.

Walau dalam hati diam-diam bersorak senang karena ia begitu menyukai perilaku romantis seperti ini.

Mengabadikan perjalanan mereka melalui potret penuh sejarah yang segera menimbulkan nostalgia saat pertama kali melihatnya.

“Tetapi, bukannya kau juga budak cinta?” tanya Subin melalui nada menggoda. Ia memberi ciuman kecil pada pipi yang lebih tua.

Sedangkan Hanse bersikap tidak menerima, “kapan aku bertingkah laku seperti itu?”

Subin meraih beberapa helai rambut pirang yang masih sama panjang seperti mereka masih di Venesia tersebut, lalu memainkannya pelan dan tertawa. “Kau bahkan repot-repot merawat rambut panjang ini karena aku dan Sejun menyukainya.”

“Kau ….” Hanse memberikan cubitan kecil, “jangan mengada-ada.”

Walau alasan itu memang benar. Hanse suka sekali saat dua pria itu terus menerus memuji rambut, tato hingga apa saja dalam dirinya tersebut.

Hanya saja mau diletakkan dimana wajahnya jika ia mengatakan hal tersebut.

“Kau juga,” Hanse tak ingin kalah. “Setiap pagi tak mau sarapan jika belum mendapatkan ciuman selamat pagi dari kita berdua.”

Subin tertawa. lalu menarik yang lebih tua untuk semakin erat ia dekap.

“Kita bertiga memang sama saja.”

Lalu, Hanse yang sejak awal selalu candu akan pelukan pria itu tak melakukan apa-apa. Mendadak berubah diam dan menikmati bagaimana kedua tangan itu kini sibuk memberikan usapan pada pagi yang menyenangkan.

Hanse selalu menyukainya, saat ia menempelkan telinga pada dada yang lebih muda, lalu menikmati debaran stabil itu di sana dan mengingatkan bahwa Subin di sini. Ia tak perlu lagi diam-diam menghirup nafas penuh duka karena menyadari bahwa dulu pria ini sempat pergi.

Apalagi, semua terasa lengkap dengan kehidupannya yang stabil. Membuatnya bisa memiliki hunian nyaman dan tempat terbaik untuk sekedar berbagi hari.

Memberikan waktu untuk bersantai dan menghirup nafas menyenangkan dari pelukan yang lebih muda.

“Tapi,” Hanse mendadak teringat sesuatu, “kemana Sejun? Sejak bangun tadi aku tak melihatnya.”

“Sejun sedang kembali ke kantornya,” Subin menjelaskan, “dia berkata kepadaku bahwa butuh melakukan sesuatu tentang pekerjaan yang tertinggal,” lalu mata Pria Jung itu menoleh ke jam dinding.

“Seharusnya sekarang ia sudah datang—”

Bersamaan dengan itu, sandi pintu apartemen dibuka dan seorang pria masuk.

Memberikan senyuman lebar yang tampan dan berkomentar melihat Subin dan Hanse yang tengah berpelukan berdua di atas sofa. Pria itu memandang mereka dengan pancaran bahagia yang begitu kentara, hingga akhirnya kaki itu berjalan mendekat.

“Oh, kenapa aku tidak diajak dalam pelukan itu.” ujarnya berpura-pura menampilkan nada manja.

Pria itu masuk ke dalam apartemen dengan pakaian kasualnya, lalu begitu saja menghempaskan diri di atas sofa. Tepat ditengah-tengah Subin dan Hanse yang segera memberikan ruang.

Lalu tanpa perlu dikomando, keduanya merapat untuk sekedar menyandarkan kepala. Tetapi Hanse terlebih dahulu bangkit sebentar untuk meraih album itu di atas meja.

Membuat Sejun melihatnya tertarik dan tertawa. “Kau sudah melihat ini?”

Hanse memberikan ekspresi terkejut dan bertanya pada yang lebih tua, “kenapa aku baru melihat ini sekarang?” Hanse kembali memandangi foto tersebut dan menunggu penjelasan.

“Apa ini semua hasil potretmu selama kita di Venesia?”

Sejun lantas mengangguk, “sejujurnya aku malu. Aku sudah menyimpannya lama di apartemenku.” Hanse merentangkan tangan agar lengannya bisa melingkupi Hanse yang tengah bersandar.

“Tetapi beberapa yang ada di halaman depan, itu bidikanmu, bukan?” Sejun menunjuk pada lembar-lembar foto di depan. “Maaf jika bertindak lancang, tetapi aku menemukan foto itu di flashdisk lamamu.”

Hanse sepertinya lupa.

“Flashdisk merah yang saat itu aku pinjam? Aku menemukan foto foto itu di sana. Lalu aku berpikir mengapa tidak membuat sebuah album penanda seperti ini. tak perlu objek nyata, hanya gambar sederhana tetapi segera memancing ingatan kita pada ingatan di sana.”

Hanse dan Sejun memberi senyum apresiasi.

Lantas Subin kembali berkata, “Kau romantis sekali.” 

“Aku pikir kalian berdua akan menganggapku berlebihan dengan menyimpan kenangan itu dengan cara yang kuno.”

Sejun kembali menjelaskan, “tetapi aku membawanya ke sini. Berniat untuk memperlihatkannya pada kalian. Sayangnya tadi aku harus kembali ke kantor, sehingga kau menemukannya terlebih dahulu.”

Subin ikut bertanya, “tetapi kenapa kau baru sekarang memperlihatkannya?”

Mendengar itu, Sejun tertawa, membuat perut ramping yang tak selaras dengan punggung lebar itu bergetar sedikit. “Apa kalian berdua benar-benar lupa?”

Subin dan Hanse memberikan pandangan bertanya secara bersamaan.

“hari ini tepat ke-tiga tahun sejak kita kembali ke Korea.” Sejun menaikkan senyumnya, “sebagai kekasih.”

Lalu, detik selanjutnya pada interior unit apartemen modern itu, Hanse dan Subin tertawa.

Menyadari kebodohan mereka berdua dan mengangguk senang atas Sejun yang ternyata mengingatnya. “Aku berniat membawanya sebagai pengingat tentang kisah kita di Venesia.”

Setelahnya, Hanse dan Subin mengangguk.

Menyisakan Hanse yang kembali menatap album tersebut, seolah-olah berusaha menarik ingatan tersebut untuk bersemayam di kepalanya dan pandangan menerawang itu mengingat sesuatu.

“Jadi, Thalia kemungkinan sudah masuk ke sekolah menengah atas, ya?”

Subin mengingatnya, “Si gadis lokal penjual topeng-topeng itu?” tunjuknya pada pajangan topeng yang begitu banyak di atas televisi.

Hanse mengangguk, “dia, orang yang bilang padaku aku harus bercerita pada kanal air dan meminta dua puluh euro sebagai upahnya mendengar keluh kesahku.”

Sejun yang saat ini merubah sebelah tangan yang tadinya merengkuh menjadi memilin rambut Hanse sebagai pegangan tanpa makna ikut mengomentari, “tetapi akhirnya kita harus berterima kasih padanya, bukan? Karena dia kita menjadi bersama kembali seperti ini.”

Hanse mengangguk, “ia berjasa sekali.” lalu tanpa diundang, pikiran itu kembali. Tepat pada waktu-waktu terakhir mereka bersama di Venesia, Hanse sempat berpisah sebentar untuk menemui Thalia.

 

.

.

.

 

Venesia, tiga tahun silam.

 

Jika ditotal semuanya, Hanse telah tinggal di kota indah ini selama lebih dari tiga bulan, atau nyaris mencapai empat bulan?

Empat bulan yang terasa begitu menyenangkan hingga saat Hanse menarik kopernya seperti ini … membuatnya sedikit memiliki rasa tak ingin pulang. Hanse terlanjur menganggap tempat ini sebagai rumah.

Rumah yang setelah perjuangan panjang, memberikannya kebahagiaan yang utuh untuk mengembalikan dua sosok terkasih dalam hidupnya. Menjadikan sebagian dirinya yang hilang tersebut dapat kembali lagi.

Maka dari itu, sepertinya kebersamaan ia dengan Venesia harus selesai di sini.

Hanse akan pulang, kembali ke Korea Selatan bersama dua kekasihnya. Jelas, bunga-bunga di perutnya seperti berpesta seiring dengan Hanse yang tak kunjung surut untuk tersenyum.

Ia bahagia, tujuannya tercapai dan hidupnya telah lengkap.

Semua tak lepas dari satu nama yang selama ini selalu membantunya; Thalia.

Kini, langkah Hanse yang tengah membawa koper itu terlihat mencolok di tengah-tengah para wisatawan yang tak pernah sepi. Dalam langkahnya yang lagi-lagi mengenakan sepatu kets klasik itu, Hanse berjalan santai menuju pelataran Gereja Basilika Santo Markus.

Dalam perjalanan memperhatikan tempat yang akan ia kenang dengan baik sebagai sebuah sakit yang ia rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan datang untuk menatap.

Hanse akan mengingat tempat itu dengan baik. Namun saat ini, tujuannya bukanlah tempat ikonik tersebut.

Tujuannya sedikit bergeser. Masih pada pelataran gereja, tepat pada pertokoan yang menjajakan souvenir.

Ia akan menemui Thalia.

Lantas kakinya melangkah tak sabar untuk masuk ke sebuah toko di ujung tersebut. Memperhatikan banyaknya topeng-topeng tradisional dijajakan dalam barisan yang digantungkan di dinding.

Tempat itu terlihat kecil, lalu didominasi warna coklat tua khas bangunan lama.

Hanse masuk ke dalamnya.

Mencari sebentar dan akhirnya mendapati gadis dengan rambut bergelombang dan penampilan pop-punk itu tengah membersihkan salah satu topeng dengan pembersih debu.

Ia tampak terkejut mendapati Hanse berada di dalam tokonya.

“Halo Thalia.” Ucap Hanse menyapa.

Pandangan mata gadis itu turun pada apa yang Hanse bawa.

Sebuah koper.

“Oh,” gadis itu mengerti, “apa kau akan kembali ke Korea?”

Hanse mengangguk, lagi-lagi mengusir rambut panjangnya agar tak menjuntai ke depan. “Aku datang untuk berpamitan.”

Lalu Hanse meninggalkan kopernya sebentar di sisi pintu. Berjalan mendekat melalui senyumnya yang merekah.

Berbanding terbalik dengan Thalia yang hanya bermimik datar.

“Apa hubungan kita sedekat itu hingga kau berpamitan?”

Seperti biasa, Thalia masih menjadi gadis dengan kalimatnya yang sering terdengar mengesalkan.

Tetapi, Hanse telah lebih dari paham. Tiga bulan ia mengetahui bahwa gadis ini sebenarnya baik.

Semua terbukti saat ia kembali mengutarakan kata, “apa tujuanmu untuk bahagia telah tercapai?”

Hanse mengangguk bahagia. “Lengkap. Venesia memberikan aku solusi dan kebahagiaan yang lengkap.” Lalu ia menaikkan tangan sebagai gestur tubuh, “dan sekarang aku akan pulang bersama kebahagiaanku.”

Thalia mengomentari, “Oh, tentang dua pria itu, ya?”

Sedikit, Hanse tampak terkejut saat Thalia mengetahuinya.

“Aku melihat kalian beberapa kali lewat di pelataran. Aku segera paham.” Lalu ia menambahkan, “kalian semua tampak baik bersama.”

Lihat? Gadis itu memang gadis yang baik.

“Aku ingin berterima kasih juga.” Hanse merendahkan tingginya untuk membuat pandangan mereka sejajar. “Terimakasih karena telah menemaniku selama di sini.”

Selanjutnya, Hanse mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Ia memberikan murino—sebuah pernak-pernik kaca hasil buatan tangan khas Venesia.

“Aku punya banyak seperti ini di rumah.” Ungkapnya tak terima. “Lebih baik kau berikan aku uang—”

Namun kalimat gadis itu segera terhenti saat ia melihat apa yang ada di dalamnya. Ada gulungan kertas bermata uang di sana.

Hanse akhirnya tersenyum dan meraih kembali kopernya. “Terimakasih, Thalia. Sampai jumpa lagi.” Lalu Hanse akhirnya benar-benar menghilang dan keluar dari toko bauta tersebut.

 

.

.

.

 

Subin menimpali, “rasanya, kita harus berterima kasih pada seluruh Venesia. Terutama Thalia yang berjasa banyak menemani Hanse.” suara lembut pria itu berkata, “juga, Greg yang selalu baik padamu.

Kalimat itu membuat ketiganya segera sadar, tenggelam dalam pikiran masing-masing dan merenungkan kebenaran tersebut, yang terasa tak mungkin walau saat ini telah berjalan selama tiga tahun.

Bersama-sama dalam sebuah hubungan dan kebahagiaan yang terasa abadi.

Lalu Hanse yang saat ini tengah menggerakkan album tersebut tanpa makna, menyadari sesuatu yang ia lewatkan.

Tersisa satu halaman lagi di belakangnya.

Membuatnya segera membaliknya kembali. Menemukan hanya satu foto yang ada, kali ini dengan objek manusia seperti foto Subin. Alias foto dirinya sendiri yang tengah tertawa, tertawa begitu lebar bersama Subin yang menampilkan ekspresi serupa.

Dalam foto itu dirinya sedang menarik koper, lalu Subin dengan tas ranselnya merangkul melalui langkah sederhana.

Kali ini, Hanse ingat; itu bukan di Venesia.

Melihat lembar foto itu, rupanya juga menarik perhatian Subin.

“Ini?” Subin menoleh pada Sejun, “saat kita sampai di bandara?”

Sejun mengangguk, lalu memandang foto itu juga dengan pandangan menerawang akan kenangan indah. “Kalian terlihat bahagia saat itu. aku tak tahan untuk tidak mengabadikannya ke dalam kamera.”

Lagi-lagi, keduanya terdiam mendengar kalimat yang terdengar diungkapkan penuh perasaan tersebut.

Memberikan kesunyian untuk sebuah renungan tentang mereka yang berbahagia dan keduanya yang sadar akan sebesar apa cinta yang diberikan Sejun.

Subin pertama bersuara, “terimakasih.”

Hanse mengikuti, “terimakasih, Sejun, Hanse.”

Si Pria Lim itu lantas tertawa. “Aku yang harusnya berterima kasih pada kalian.” Sejun merapatkan tubuh mereka semua.

“terimakasih karena telah berkumpul, hadir dan melengkapi kebahagiaan kita.”

Lalu sisa pagi itu dihabiskan dengan tawa penuh suka cita. Sekedar saling merapat untuk menikmati hangat tubuh masing-masing, saling bernafas di atas kulit yang terkasih hingga akhirnya Hanse teringat sesuatu.

Hanse di sana, memeluk Sejun dengan lingkaran tangan yang seolah tak ingin melepas, Subin juga melakukan hal serupa, lalu tangan Pria Jung itu lantas menautkan genggaman ringan pada jemari milik Hanse.

“Tetapi, sepertinya kurang satu.”

Sejun dan Subin bersamaan memperhatikan Hanse.

“Kenapa aku belum mendapatkan ciuman dramatis di Venesia darimu?” tanya Hanse pada Sejun.

Hal itu segera membuat yang lebih tua tertawa gemas dan kembali menarik Hanse. menarik untuk jatuh di atas dadanya dan tertawa sembari ia memberikan kecupan ringan di atas bibir dengan lubang tindik tersebut.

“Jika kau mau, aku bisa memberikan beratus-ratus ciuman lagi.” Lalu ia menoleh pada Subin yang tertawa, “padamu juga.”

“Oh, tapi aku rasanya juga ingin,” Subin turut berkomentar, “aku dengan senang hati memberikanmu ciuman melankolis.”

Lantas, album penuh kenangan yang dipotret artistik itu di atas meja. Karena untuk saat ini, semuanya terasa cukup—atau mungkin sedikit kewalahan, karena kedua pria itu bangkit, mengepung Hanse yang saat ini tertawa keras.

Tak sanggup menahan serbuan kecupan dari mereka berdua, juga tentang rasa bahagia yang membuncah, mengingat dengan senang hati bahwa Venesia akan menjadi sesuatu yang selalu spesial.

Karena pada akhirnya, Thalia memang benar; selain sebagai kota romantis, Venesia juga bertindak sebagai kota solusi.

Untuk kisah ini, mereka bertiga adalah solusi atas permasalahan hati masing-masing.

 

 

END

Notes:

1. Gondola: sebuah perahu dayung tradisional asal Venesia, Italia.
2. Kanal: adalah saluran atau terusan air buatan manusia yang dibuat dengan berbagai tujuan untuk membantu kehidupan manusia
3. Gondolier: pendayung gondola
4. Bauta: topeng tradisional dari Venesia.