Work Text:
"Jam berapa sekarang?" Junhui bertanya pada sang manajer di sebelahnya.
"Jam sepuluh. Masih ada satu take adegan lagi, Jun."
"Tapi sebentar lagi Minghao-" Junhui gelisah, kedua tangannya sedari tadi tidak berhenti ia gerakkan.
"Junhui." Junhui bisa mendengar dari nadanya, manajernya sedang menahan kekesalan. "Profesional, oke? Daritadi kau selalu menyebut Minghao terus. Setelah ini selesai, kau bisa langsung menemuinya." lanjut sang manajer.
"Kenapa, sih? Daritadi nggak bisa diam." tanya Aobo, ia dan Miaoyi menghampiri Junhui.
"Pacarnya bentar lagi ultah," tebak Miaoyi.
"Xu Minghao?" tanya Aobo lagi. Junhui mengangguk.
"Woah! Tebakanku benar, dong?" Miaoyi bertepuk tangan. Pertanyaan tersebut tidak dijawab oleh Junhui. Junhui lalu menghela napas panjang.
Aobo menarik pergelangan tangan Junhui menghampiri sang sutradara. "Yaudah, biar syutingnya cepat selesai, mending dilanjut sekarang aja."
Junhui merotasikan kedua bola matanya.
6 November 2021. Kurang dari dua jam lagi, Minghao berulang tahun ke-24.
Tentu, sebagai kekasih, Junhui ingin merayakan ultah kekasihnya bersama-sama.
Tapi di sini ia sekarang. Tempat syuting drama yang dibintanginya untuk beberapa bulan kedepan.
Junhui ingin menemui Minghao! Sekarang juga!!
"Cut!" sang sutradara berseru. "Terimakasih atas kerjasamanya untuk hari ini, Junhui."
Junhui membungkukkan badannya menghadap para staf, aktor-aktor, dan juga aktris-aktris yang berada di sana, mengucap terimakasih.
Kemudian Junhui berlari menuju mobil yang akan ia gunakan untuk pulang.
"Semangat, Junhui-ge!"
"Good luck!"
Miaoyi dan Aobo menyorakinya dengan kalimat-kalimat semangat. Junhui lalu berbalik mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi kemudian melambaikannya. Memberi tanda "dah" kepada mereka berdua.
Ia memasuki mobil dengan tergesa. Meraih handphone-nya buru-buru, mengecek waktu yang tersisa sebelum Minghao-nya akan bertambah usia.
23:36. 24 menit lagi sebelum pukul 12 malam.
"Ke apartemen Minghao!" seru Junhui kepada sang manajer sambil mengaitkan sabuk pengamannya.
Manajernya pun menancapkan gas mobilnya menuruti perintah Junhui, menuju apartemen yang Minghao tempati.
"Barang bawaanku aman?" Tanya Junhui di tengah perjalanan. Sang manajer hanya mengangguk, menunjuk arah bagasi menggunakan dagunya. Kemudian berpaling kembali, fokus kepada jalanan.
Junhui menghela napas lega.
Dua belas menit berlalu. Kini mereka telah sampai di depan apartemen yang cukup besar.
Junhui segera membuka pintu mobil untuk keluar. Ia juga menuju bagasi untuk mengeluarkan barang-barang bawaannya.
Kue dan hadiah ulang tahun.
Ia ingin menjadi yang pertama untuk kali ini.
Junhui meraih kedua benda tersebut dengan tangan kirinya. Kue ultah yang dikemas menggunakan box karton, juga hadiah ulang tahun yang dikemas rapi dalam paper bag.
Ia meraih handphone-nya di dalam saku coat kanannya, mengecek kembali waktu yang tersisa.
23:49. 11 menit lagi.
Junhui lalu menutup pintu bagasi dan menghampiri manajernya.
"Aku duluan ya ge. Hati-hati."
"Iya. Jangan lupa besok masih ada syuting, jangan tidur terlalu malam." Manajer Junhui memberi peringatan kepadanya.
Junhui terkekeh, sebelum mengacungkan jari jempol tangan kanannya kepada sang manajer.
"Semangat, Jun." Manajernya tersenyum kemudian menancapkan gas mobil meninggalkan Junhui.
Setelah sang manajer berlalu dari hadapannya, Junhui berlari memasuki koridor apartemen. Menaiki lift lalu memencet tombol 7, di mana kamar Minghao berada.
Junhui menghela napas gugup. Ia tidak pernah melakukan dan merencanakan hal ini sebelumnya.
Pintu lift terbuka. Junhui berlari menuju kamar milik kekasihnya. Kamar nomor 78. Junhui memencet bel kamar Minghao beberapa kali, tidak sabaran. Sejujurnya ia bisa saja membukanya dengan memasukkan beberapa angka kata kunci untuk membuka pintu kamar kekasihnya.
Namun Junhui ingin mengejutkan Minghao.
Sedangkan di lain sisi, sang empu kamar mengintip lewat peephole.
Ah, Junhui. Kekasihnya.
Minghao pun membuka pintu kamarnya. Berdecak pura-pura kesal sebab Junhui terus menekan bel pintu.
"Ganggu tetangga, tahu."
Junhui hanya terkekeh, kemudian menaruh barang-barang bawaannya pada lantai. Sedetik kemudian, ia memeluk Minghao secara tiba-tiba.
"Junhui ih! Pintunya masih kebuka!" Minghao memukul punggung kekasihnya keras-keras.
Junhui lalu melepas pelukannya, meraih barang-barangnya yang tergeletak lalu menutup pintu kamar apartemen milik Minghao.
Ia membuka box karton kue ulang tahun, lalu memperlihatkannya kepada Minghao.
Kue yang dipegang Junhui berukuran sedang. Berwarna biru langit, berhias krim keju di sekitarnya, juga bertuliskan "Selamat Ulang Tahun, Cinta." dalam Bahasa Mandarin di atasnya, ditemani dengan taburan berlian.
"Surprise."
Minghao mendengus, "belum waktunya."
Junhui tertawa. "Gak apa, yang penting aku jadi yang pertama." Minghao terkikik geli mendengar pernyataan kekasihnya.
"Aku nggak dikasih masuk, nih?" Junhui memajukan bibirnya, berpura-pura sedih.
Minghao memutar kedua bola matanya, kemudian meraih pergelangan tangan kekasihnya menuju ke dalam kamar apartemennya.
Junhui pun menaruh barang-barang bawaannya di atas meja makan.
"Mau mandi dulu nggak kak?" Minghao bertanya.
"Nggak ah, nanti aja. Nggak keburu, bentar lagi kamu ulang tahun," jawab Junhui sambil melepas coat yang dipakainya, menyampirkannya pada kursi meja makan milik Minghao.
"Haduh, kalo baju kotor jangan ditaroh sembarangan, kak." Minghao berdecak berjalan menuju Junhui, meraih coat milik kekasihnya, memindahkannya ke tempat yang lebih layak. Junhui hanya tersenyum kikuk.
Junhui menatap kembali layar kaca handphone-nya.
23:55. Lima menit lagi.
Junhui segera mengeluarkan kue yang ia bawa dari box-nya dan juga menata kado di atas meja makan agar tidak terlihat berantakan.
Ia mengambil tiga buah lilin kecil dan kemudian menusukkannya pada bagian atas kue. Mengambil pemantik api dari dapur Minghao dengan berlari, kemudian memantikkan api pada ketiga lilin di atas kue yang ia beli.
Ia mengecek handphone-nya kembali.
23:59. Satu menit lagi.
"Minghao!" Junhui segera berlari menuju ruang tengah, di mana Minghao berada. Ia menarik pergelangan tangan kanan Minghao dengan cepat menuju ruang makan.
"Sini, di sebelahku." Junhui meraih pinggang sempit Minghao, memposisikan tubuh Minghao persis di sebelahnya.
Minghao jelas terkejut. Junhui tidak pernah membuat hal romantis seperti ini sebelumnya. Setidaknya, selama lima tahun mereka berpacaran.
"Selamat ulang tahun, Sayangku." Junhui berbisik pada telinga kanan Minghao, sebelum kemudian mendaratkan kecupan pada bibir milik kekasihnya.
00:00. Minghao kini berusia 24 tahun.
Junhui melepaskan bibirnya dari milik Minghao. Minghao kemudian tersenyum, membuat Junhui ikut tersenyum sebab Minghao sangatlah manis.
"Makasih banyak, kak." Minghao kemudian berjinjit sedikit, ia melingkarkan kedua pergelangan tangannya pada leher Junhui. Membawa Junhui pada sebuah ciuman. Junhui pun melingkarkan tangannya pada pinggang Minghao.
"Aku sayang banget sama kamu," Junhui berucap, setelah Minghao melepas pagutan mereka.
Minghao mengangguk, menampilkan sebaris giginya. "Aku juga. Sayang Kak Junhui." Rona merah muda menghiasi kedua pipi Minghao, membuat Junhui gemas dibuatnya.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juuuga~" Junhui tiba-tiba bernyanyi dan bertepuk tangan. Minghao terkekeh, kemudian menundukkan badannya, meniup api ketiga lilin tersebut, hingga padam.
"Kadonya mau dibuka dulu?" tanya Junhui. Minghao pun mengangguk kemudian, menjawab pertanyaan Junhui.
"Jelek banget. Pasti kamu yang bungkus,"
"Sayang ih..." Junhui memajukan bibirnya, merajuk. Kekasihnya hanya tertawa menanggapi Junhui.
Minghao pun dengan pelan melepas pita berwarna merah yang mengikat kemasan kado tersebut. Minghao membuka pelan kemasan kertas kado, takut-takut jika timbul sesuatu yang mengejutkan.
Junhui terkadang jahil, sih.
Saat terbuka, mata Minghao membelalak lebar.
Satu set outfit yang terbilang cukup mahal,
Toples berisi kue kering; Minghao yakin jika itu adalah olahan milik Ibu Junhui,
Dan juga, sepatu balet, yang ia inginkan sejak lama.
Rahangnya jatuh, Minghao sungguh terkejut.
"Kamu pernah bilang ke aku kalau kamu tertarik sama balet, tapi belum ada waktu buat latihannya. Jadi aku beliin sepatunya, kali aja bisa dorong kemauan kamu buat nari balet. Aku juga awalnya punya rencana buat nulisin kamu surat, tapi ternyata pagi-pagi aku udah langsung ke tempat syuting. Jadi nggak jadi," jelas Junhui, menghela napas pelan ketika menyelesaikan kalimat terakhirnya.
Minghao tersenyum lebar, memeluk tubuh Junhui secara tiba-tiba sambil menggumamkan kata "terimakasih" banyak-banyak pada bahu dada milik Junhui.
Minghao tidak biasa bersikap manis seperti ini padanya. Junhui pun ikut tersenyum, mengelus surai kekasihnya lembut. Bersyukur karena Minghao menyukai apa yang ia beri.
"Udah, makan kuenya yuk." ajak Junhui. Minghao mengangguk pelan, melepaskan diri dari pelukan.
Minghao memotong kue menjadi bentuk potongan segitiga, membawanya ke sebuah piring kecil.
"Buat aku?" Junhui menunjuk dirinya sendiri.
"Buat aku lah, kamu potong sendiri sana," ketus Minghao, mengambil suapan pertama dari sepotong kue yang tadi diambilnya.
Junhui membuat ekspresi berpura-pura sedih, membuat Minghao tersenyum simpul. "Bercanda," ujar Minghao, kemudian mengarahkan suapannya kepada sang kekasih.
Terkejut, Junhui membuka mulut dan suapan kue tersebut pun memasuki rongga mulutnya.
Minghao tersenyum lebar pada wajah Junhui. Junhui pun menangkup wajah Minghao, lalu mengecup dahi kekasihnya banyak-banyak dan cepat.
"Astaga kak, kamu abis makan kue. Kotor! Aduh, minyaknya!" berang Minghao. Ia menaruh piring kue yang dipegangnya ke atas meja, lalu mengelap dahinya dengan lengan sweter yang dipakainya.
Junhui tertawa melihat hal tersebut. Ia kembali memeluk kekasihnya erat.
Yah, setidaknya Junhui dapat melancarkan rencana romantis kepada Minghao-nya.
