Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-11-09
Words:
1,534
Chapters:
1/1
Kudos:
22
Bookmarks:
2
Hits:
202

1-0

Summary:

Di mata seorang Deuce Spade, percintaan remaja yang lugu ini adalah sebuah pertandingan dimana ia harus menang.

Notes:

I guess this is my first time seriously writing fluff... Please pardon possible bad wording and mistakes TT

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Deuce Spade sangat tidak suka kalah dari Ace Trappola.

 

Walaupun kawan sekaligus rivalnya itu adalah seorang biang masalah yang setiap waktunya berbuat onar,  ia tidak boleh diremehkan.

 

Ace penuh gagasan-gagasan cemerlang yang bisa membantu di saat-saat genting. Meski perkataannya kadang tidak enak didengar, tidak jarang ada benarnya juga. Di balik kenakalannya, Ace adalah sosok yang mengagumkan.

 

Deuce melihat dirinya sendiri, menyadari bahwa ia tidak secerdas Ace dan tidak mampu belajar secepat Ace. Di saat itulah Deuce merasa ia mulai tertinggal dibandingkan Ace, dan ia tidak menginginkannya.

 

Ia berpikir, meski sulit baginya untuk mengalahkan Ace dalam hal kecerdasan atau akademis, ia masih memiliki hati dan perasaannya.

 

Karena itulah, ketika Deuce mulai memiliki perasaan-perasaan itu untuk Ace, ia telah memilih untuk tidak menunjukkannya. Bagaimana tidak pusing? Orang yang mencuri hatinya tak lain ialah sang rival yang tiada sehari tidak memancing emosinya.

 

Di sisi lain, Deuce bukanlah seorang pembohong andal. Orang-orang di sekitarnya, tidak, mungkin seisi Night Raven College, mengetahui soal perasaannya pada Ace. Dan pada hari itu, salah satu dari begitu banyak orang-orang tersebut tampaknya telah kehilangan kesabarannya.

 

“Surat apa ini?” batin Deuce sambil membuka sebuah amplop misterius. Ia bermaksud untuk mengambil barang yang tertinggal sepulang sekolah, tetapi ia malah menemukan surat yang tampaknya ditinggalkan seseorang untuknya.

 

“Ace Trappola menyukaimu. Ia berencana untuk menyatakan perasaannya padamu dalam waktu dekat. Sebaiknya kau bersiap-siap,” begitulah isi dari surat itu.

 

Air muka Deuce berubah panik saat ia berhasil memproses maksud dari surat yang baru saja dibacanya.

 

“Ace…? Menyukaiku..? Benarkah itu…??” Merah wajahnya bak kepiting rebus. Kalau ia tokoh komik, mungkin sudah muncul gambar uap di atas kepalanya saat itu.

 

“Sebentar, kenapa aku malah bersenang-senang?!” Deuce menepuk-nepuk kedua pipinya, “Bangunlah, Deuce! Kalau dia menyatakan perasaan duluan, berarti dia lebih pemberani daripada aku dong..? Aku akan kalah lagi!”

 

Aneh, selama ini ia menghindari menunjukkan perasaannya karena merasa akan kalah jika Ace menyudutkannya melalui perasaan itu, tetapi sekarang ia malah takut Ace menyatakan perasaannya lebih dahulu. Membayangkan dirinya memerah dan tidak bisa menolak saat Ace menembaknya saja sudah tak tertahankan.

 

Seakan rencana sang pengirim surat bekerja, Deuce langsung beresolusi untuk menyatakan perasaannya pada Ace saat itu juga.

 

Keesokan harinya, Deuce memulai harinya dengan menarik napas panjang. Ia akan menyatakan perasaannya hari itu, tidak, ia harus menyatakan perasaannya hari itu. Ia sudah mempersiapkan dirinya dengan begadang semalaman membaca forum-forum romansa di internet dan membaca komik-komik bertemakan cinta. Kepalanya mungkin terasa mengantuk, tapi ia yakin bisa melakukannya dengan kekuatan semangat dan Americano.

 

Rencana A: Pernyataan Cinta Melalui Surat

 

Deuce menyiapkan surat kecil yang sudah disiapkannya. Ia menulisnya dengan bantuan internet, tetapi ia yakin isinya cukup untuk membuat pembacanya tersipu. Rencananya, ia akan menyelipkan surat itu ke buku Ace. Jika Ace kewalahan karena membacanya di tengah pelajaran, pasti akan sangat mendebarkan, bukan? Deuce agak kasihan, namun ia tersenyum lebar saat membayangkan kemenangannya.

 

Tetapi…

 

“Anak-anak, hari ini ada razia! Seluruh barang bawaan kalian akan diperiksa dan digeledah, jadi jangan coba-coba menyembunyikan apa-apa!”

 

Duh gawat, kalau sampai-sampai surat itu disita dan dibacakan oleh Pak Crewel di depan seisi kelas, ia tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya di penjuru dunia mana lagi. Ia hanya bisa menarik napas panjang dan mengutuki siapapun itu yang ketahuan membawa komik mesum ke sekolah hingga harus diadakan razia.

 

“Spade, kau tampak tegang. Oh, kulihat tanganmu seperti menyembunyikan sesuatu?” tanya Pak Crewel.

 

Deuce yang panik segera memasukkan lipatan kecil kertas tersebut ke mulutnya dan… menelannya.

 

“B-bukan apa-apa, Pak! Saya hanya agak tidak enak badan!” ia mengelak. Untung sekali ia berhasil lolos, tetapi bubar sudah rencana pertamanya.

 

“Deuce, mukamu seperti mau muntah saja. Kau ini kenapa?” tanya Ace yang menyadari keanehan temannya.

 

“Enggak ada apa-apa!”

 

Deuce kecewa rencana A tidak berhasil. Tapi tak apa, karena ada rencana B!

 

Rencana B: Pernyataan Cinta di Bawah Pohon

 

Rencana B ini lebih dramatis dari rencana A, seperti adegan drama atau komik yang dibaca para gadis remaja. Ia meminta Ace untuk menemuinya di bawah pohon saat jam makan siang, lalu ia akan mempraktekkan naskah yang sudah ia latih semalaman. Menegangkan, namun jika rencana ini berhasil maka poinnya double karena levelnya lebih sulit.

 

Deuce menunggu di bawah pohon sambil memandangi chat-nya dengan Ace. Jantungnya berdebar keras, tetapi “mundur” tidak ada di kamusnya.

 

Tak lama kemudian, Ace datang.

 

“Deuce, kenapa kau memanggilku kesini?”

 

“Ace… selama ini se-“

 

Belum selesai kalimat Deuce, seseorang mengerang kesakitan dengan murka.

 

“Oi kalian, berani sekali ya mengganggu tidurku?” ujar sumber erangan itu, sang pemimpin asrama Savannaclaw, Leona Kingscholar yang tak sengaja ekornya terinjak oleh Deuce.

 

“Bisa-bisanya aku tidak menyadari keberadaannya..!” seru Deuce dalam hatinya. Namanya juga dipenuhi adrenalin, sampai lupa mengecek ada tidaknya orang lain di sana.

 

“M-maaf Leona-senpai! Ace, kita bicara lain waktu saja..!” Seru Deuce, lalu ia berlari pergi dengan perasaan sesak. Sudah dua kali misinya gagal, tetapi bukan berarti ia boleh menyerah, kan?

 

Rencana C: Pernyataan Cinta Lewat Chat

 

Rencana terakhir yang Deuce siapkan, yaitu menyatakan perasaannya melalui chat. Mungkin ada orang-orang yang akan menilainya sebagai pengecut, tetapi jangan salah, berbagai forum yang ia baca malah mengatakan kalau cara itu terlihat keren dan dingin. Jika saja Ace melihatnya sebagai sosok yang keren…

 

Di saat pelajaran sudah selesai, Deuce lekas mengeluarkan ponselnya. Ia membuka chat dengan Ace dan langsung mengetik pesan yang sudah dirangkai dalam otaknya. Ketegangan membuatnya harus memisahkan kalimatnya dalam beberapa balon kata, tetapi ia melakukannya.

 

Deuce: Hei Ace

Deuce: Kau tahu tidak

Deuce: Aku ini menyukaimu

Deuce: Meskipun kau ini sama sekali bukan teladan yang baik, tidak keren sama sekali!

 

Usai memencet tombol kirim, ketegangan membuat Deuce cepat-cepat menutup ponselnya untuk menarik napas panjang. Akhirnya, ia berhasil mengatakannya!

 

Lima menit berlalu, dan Deuce mendengar suara itu memanggilnya.

 

“Hei Deuce! Maksudmu apaan!?” Ace berseru sembari berlari mendekati Deuce.

 

“Maksudnya apaan..? Apa dia tidak mengerti maksud pernyataanku?” batin Deuce.

 

“Memangnya tidak jelas ya?” ia membalas, berusaha tetap tenang.

 

“Kau ini mau cari ribut atau apa sih?! Kalau stres ya jalan-jalan, jangan mengajak berantem begini dong!” Ace berkata, jauh sekali dari tujuan awal Deuce. Bahkan untuk sebuah penolakan, bukankah itu terlalu meleset?

 

Heran karena ucapan Ace terdengar terlalu meleset untuk sebuah kesalahpahaman, Deuce membuka lagi ponselnya.

 

Oh, rupanya.

 

Malang sekali, rupanya sinyal yang tidak stabil berakibat chat kedua dan ketiga tidak terkirim. Tentu saja Ace marah, karena Deuce kesannya mengirim pesan hanya untuk memakinya.

 

Deuce malu bukan kepalang. Rencana terakhirnya malah gagal dengan memalukan.

 

Tidak tahu lagi apa yang ia pikirkan, Deuce tidak merespon perkataan Ace, melainkan berlari pergi tanpa memandang arah.

 

“HOI, DEUCE KAU KENAPA SIH!?” seru Ace sambil mengejarnya.

 

“Ahhhhhh sial sial sial sial sialll!!! Kenapa kacau begini? Kau bodoh sekali, diriku..!” tak sekali saja pun Deuce berpikir untuk melihat kebelakang. Bagaimana bisa ia menatap mata Ace setelah kesalahan konyol itu? Yang ada malah tawa Ace yang mengejeknya…

 

Yah, walaupun tidak mau memandang Ace, seharusnya ia memandang ke depan untuk melihat ke mana kakinya membawanya, karena yang terjadi selanjutnya adalah sebuah tubrukan dahsyat yang menggema di koridor.

 

.

.

.

 

“Huh… Aku dimana..? Apa aku tidak sadarkan diri..?” Deuce perlahan sadar, disambut oleh cahaya lampu UKS yang remang-remang.

 

“Sadar juga kau! Hari ini kau keracunan apa sih?? Aneh sekali,” ujar sebuah suara yang segera mengembalikan kesadaran Deuce sebab ia sedang tak ingin berbicara dengan si pemilik suara, Ace. Sayangnya, kali ini ia tak mampu lari lagi.

 

“Ah, apakah aku pingsan?” tanya Deuce.

 

“Masih pakai ditanya?! Kau berlari seperti orang gila setelah aku menghampirimu, lalu menabrak Pak Vargas sampai terpental! Gila, setelah mengirimkan pesan menyebalkan padaku, kau pingsan begini?”

 

Deuce meraba perban yang melilit kepalanya. Rasanya sakit, tetapi kekecewaan dalam hatinya lebih besar.

 

“Kau seperti ingin mengatakan sesuatu padaku dari tadi siang… Memangnya ada apa? Mungkinkah kau sedang ada masalah? Lebih baik bilang, daripada mengacau terus seperti ini,”

 

Ah, ingin sekali ia mengutuk Ace. Bisa-bisanya ia tetap terlihat keren dengan mulutnya yang menyebalkan itu.

 

“Ace Trappola… aku tidak akan memaafkanmu, aku tidak akan membiarkanmu menang!”

 

Entah karena pengaruh cidera kepala yang masih berdenyut, atau adrenalin yang belum tuntas habis dari aliran darahnya, tubuh Deuce bergerak sendiri. Tangannya menggenggam kerah baju Ace, menariknya mendekat.

 

Lalu, ia menciumnya.

 

Deuce mencium Ace.

 

Kali ini, sama sekali tak ada pertimbangan di benak Deuce lagi. Bagaimanapun juga, menyerah bukanlah pilihan baginya. Rasanya seluruh beban yang menyesakkannya hari itu terangkat, dan ia sedikit terlalu menikmati ciuman itu hingga nyaris lupa posisi dan situasi mereka.

 

Di momen saat ciuman itu usai, kesadaran Deuce pulih sepenuhnya. Dilihatnya Ace dengan ekspresi yang memerah bercampur terkejut, dan mukanya sendiri juga tak lebih pucat. Ia dibanjiri sejuta emosi yang berbeda. Apa itu? Entah rasa lega, senang, atau panik, tak bisa lagi ia bedakan, tetapi penyesalan tidak ada di antaranya.

 

“Aku menang, Ace!” Deuce berseru, “Aku menyukaimu, aku mengatakannya! Kali ini kemenangan ada padaku, bukan?”

 

“Hah..? Sebentar sebentar… apa maksudmu? Eh, bukannya aku tidak menyukaimu balik ya…”

 

“Kau.. benar-benar menyukaiku? Ahhh tau ah, pokoknya aku yang menang kali ini..! Sampai jumpa besok, Ace!” Deuce melonjak turun dari ranjangnya, lalu berlari pergi meninggalkan Ace. Mungkin ia lupa kalau mereka sekamar dan percuma buru-buru meninggalkan Ace dengan keren sekarang karena nanti pasti bertemu lagi, atau Ace yang heran karena istilah-istilah “kemenangan” yang ia sebut, tetapi di benaknya sudah tak terpikirkan lagi saking senangnya.

 

“Kau…!” Ace yang masih memproses kejadian itu tak bisa melepaskan pandangannya dari punggung Deuce yang kian menjauh. “Deuce, aku tidak akan membiarkanmu, bodoh…”

 

Kira-kira, apakah akan ada ronde dua dari pertandingan percintaan konyol antara dua pemuda ini?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Notes:

Thankyou for spending your time to read! You may look forward to a possible second part of this story~