Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-11-10
Words:
2,294
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
23
Bookmarks:
3
Hits:
348

Timestop

Summary:

Juyeon dan Changmin pergi berkencan setelah mereka resmi berpacaran.

Notes:

terima kasih buat feli yang udah komis fic ini! berkat kamu aku jadi ikutan gemes sama jukyu haha :D enjoy this fic!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Juyeon bisa merasakan jantungnya hampir keluar dari dada dan kaus putih yang ia kenakan saat kakinya menapak di teras kontrakan Changmin--untungnya kakinya masih menapak. Padahal sebelumnya, Juyeon sudah terbiasa bersambang ke sini tidak kurang dari tiga kali dalam seminggu. Padahal Juyeon juga sudah sering berhadap-hadapan dengan Changmin, mengobrol, bercanda, bahkan jalan berdua dengannya sebanyak ribuan kali. Namun hari ini berbeda dan Juyeon tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya.

“Masuk dulu Juy.”

Suara seseorang membuyarkan lamunan Juyeon yang berdiri kikuk di depan pintu. Lagi-lagi, padahal ia biasanya langsung masuk tanpa mengucap salam, bahkan langsung naik ke lantai dua untuk masuk ke kamar Changmin selagi pemiliknya belum pulang.

“Hehe, iya Bang,” sahut Juyeon, cengengesan. Sangyeon, rekan kontrakan Changmin yang sudah bekerja, hanya geleng-geleng melihat tingkah ganjil Juyeon. Entah apakah Changmin sudah memberitahunya bahwa ia dan Juyeon sudah resmi berpacaran setelah dua tahun menjadi bahan cemoohan seluruh sirkel pertemanan mereka karena sibuk dengan kata ‘teman’ padahal perlakuan satu sama lain sudah seperti pasangan yang sudah menikah.

Omong-omong tentang pacaran, Juyeon tiba-tiba teringat bagaimana mualnya ia tadi malam saat hendak menyatakan cintanya pada Changmin. Mual karena cemas dan mual karena hawa dingin yang menusuk tulang kala mereka berdua tengah berteduh di halte bus, menghindari hujan deras yang mendadak turun padahal langit cerah sejak siang.

Bukan tanpa alasan Juyeon mengajak Changmin pergi ke pasar dadakan sore itu. Cuaca yang bersahabat seolah mendukung Juyeon yang sudah beberapa minggu terakhir berencana menyatakan cinta pada Changmin. Namun hujan membuyarkan segalanya dan di saat Juyeon hampir menyerah, justru di situ keajaiban datang.

Juyeon teringat jelas bagaimana canggungnya mereka petang itu. Suara hujan menjadi satu-satunya bunyi saat keduanya sibuk menghangatkan diri. Sama sekali bukan dugaan Juyeon bahwa Changmin akan memecah hening dengan sebuah kalimat yang membuat status mereka berubah hari ini.

“Kalau gue bilang gue suka sama lo lebih dari temen, gimana Juy?”

Jangan ditanya kelanjutan percakapan itu karena Juyeon tidak begitu ingin mengingat-ingat betapa malunya dirinya saat ia tidak sengaja berteriak sebagai respon dan Changmin menertawainya sebagai akibat. Yang jelas, mereka resmi sebagai pasangan kekasih dan itu saja sudah cukup bagi Juyeon.

“Juy!”

“Eh, iya?”

Saat mendongak, Juyeon mendapati orang yang ia tunggu-tunggu sudah berdiri di hadapannya dengan setelan yang … biasa-biasa saja, tapi entah mengapa terlihat sepuluh kali lebih tampan dari biasanya.

“Jangan melongo mulu, ayo berangkat.”

Kalimat Changmin kembali menyadarkan Juyeon dari lamunannya. Suara tawa Sangyeon terdengar di belakang dan Juyeon tidak berani menengok. Pipinya memerah menyadari bahwa ia benar-benar tengah berhadapan dengan Changmin sebagai pacarnya.

“A-ayo berangkat.” Juyeon mendadak gagap. “Duluan, Bang.”

Sangyeon mengangguk sebagai balasan. Ketika Juyeon menengok Changmin kembali, pacarnya itu tengah menyunggingkan senyum termanis yang pernah Juyeon lihat seumur hidup. Jantungnya berdetak lebih cepat, lagi-lagi, dan nyawanya hampir lepas dari tubuh saat Changmin menggenggam tangannya.

“Yuk.”

 


 

Selama perjalanan, keadaan Juyeon dilaporkan semakin parah.

Laki-laki yang ada di bagian depan motor sebagai orang yang menyetir bisa merasakan lengan Changmin melingkari pinggangnya dari belakang. Tubuh bagian depan Changmin pun bisa Juyeon simpulkan menempel pada punggungnya, membuatnya menebak-nebak apakah pacarnya bisa ikut mendengar detak jantung yang iramanya sudah tidak karuan.

Dahi Juyeon dipenuhi keringat dingin. Padahal ia hanya sedang pacaran, tapi kenapa rasanya seperti habis melihat hantu?

“Juy.”

Dan di saat yang paling tepat (baca: salah) pun, Changmin tiba-tiba memanggil. Juyeon hampir banting setir dan kehilangan kendali. (Untung saja sebatas hampir.)

“Y-ya, Min?”

Changmin terkekeh. Changmin tertawa, sialnya. Sial karena Juyeon baru menyadari ia tergagap sejak tadi, tapi di sisi lain Juyeon tidak bisa menolak fakta bahwa tawa itu terdengar cantik, bahkan lebih cantik dari biasanya, meski Juyeon sudah pernah mendengarnya ribuan kali.

Apa pun yang dilakukan Changmin hari ini (termasuk tidak melakukan apa pun) terasa berlipat kali lebih indah, lebih tampan, lebih cantik, dan semua kata yang menggambarkan keelokan yang tidak dapat Juyeon sebutkan satu-persatu. Hal itu membuat Juyeon berpikir bahwa ia sudah benar-benar dimabuk cinta--atau orang jaman sekarang menyebutnya ‘bucin’ alias budak cinta.

“Juy, lo tegang amat kaya mau sunat.” Juyeon merasakan tepukan pelan di bahu kanannya. “Santai aja, gak usah terlalu dipikirin.”

Jika pernyataan ini diberikan pada keadaan normal--saat mereka belum berpacaran dan Juyeon tidak sedang segugup seperti saat dihadapkan dengan dosen tergalak di fakultas--maka Juyeon pasti sudah menyahut dengan, “Apanya yang dipikirin?” atau “Gak kok, gue mah mikirin lo doang udah penuh ini kepala.” atau gombalan maupun godaan lain yang akan membuat Changmin terganggu (dan itu sangat lucu di mata Juyeon). Tapi seperti yang sudah ditekankan berulang kali, hari ini Juyeon merasa tidak normal, in a good way, sehingga respon yang ia berikan hanya sebuah:

“Iya, Min.”

Entah ekspresi seperti apa yang dipasang Changmin di belakang sana, Juyeon tidak mau berpikir. Atau mungkin tidak sempat, karena tiba-tiba mereka sudah berada di depan lampu merah dan ketika Juyeon mengerem kendaraannya, ia bingung harus mengambil jalur mana.

Mereka mau ke mana sebenarnya sekarang ini?

Pertanyaan itu berputar di atas kepala Juyeon seperti burung-burung di kartun animasi ketika salah satu tokohnya terbentur dan mendadak pusing tujuh keliling. Apa ia harus menanyakannya pada Changmin? Tapi bagaimana jika ia dicap sebagai lelaki tidak berpendirian karena belum memikirkan tujuan kencan pertama mereka? Biasanya bagaimana mereka menentukannya? Juyeon tiba-tiba amnesia.

“Min …,” panggil Juyeon akhirnya setelah terkena dilema monolog tak berujung. Jika ia memang akan dicap laki-laki tidak berpendirian, paling tidak Changmin akan mengoloknya di depan muka, tidak diam-diam kesal kemudian menyesal telah memacarinya. “Kita mau ke mana?”

“Nonton mau?”

Tanpa diduga, Changmin memberikan respon secepat kilat dan tanpa basa-basi. Kini begitu Juyeon teringat, biasanya Changmin memang akan selalu punya pilihan tujuan saat mereka pergi bersama; entah itu kafe yang baru buka, restoran cepat saji langganan mereka, perpustakaan kota, dan lain sebagainya. Tiba-tiba, Juyeon merasa bersyukur karena tidak perlu dihadapkan dengan kata ‘terserah’ acap kali ia bertanya pada Changmin.

“Boleh. Sekarang filmnya apa ya?” tanya Juyeon. Ia merasakan pelukan Changmin di pinggangnya mengerat, entah karena hawa yang dingin atau karena Changmin tidak begitu jelas mendengar suaranya, atau keduanya.

“Mau ‘The Medium’ gak?” ucap Changmin. Suaranya mengalun seperti musik di telinga Juyeon.

“Boleh.” Senyum Juyeon mengembang. Horor selalu menjadi pilihan utama Changmin, dan Juyeon menyetujuinya seperti biasa. “Udah liat sinopsisnya?”

“Belum sih, lo udah?”

Konversasi mengalir dengan halus secara tiba-tiba. Juyeon perlahan merasa kembali seperti dirinya lagi, seperti saat ia dan Changmin pada hari-hari biasa, hangat dan terasa seperti rumah.

“Waduh, seru Juy kayaknya!” Changmin berseru heboh setelah Juyeon menceritakan sekilas tentang film yang akan mereka tonton. Jiwa-jiwa fan horor dari diri Changmin mulai keluar, membuat Juyeon terkekeh gemas.

“Seru pasti.”

Karena nontonnya sama lo, Juyeon melanjutkan dalam hati.

Suasana semakin berbunga seiring jarak diantara mereka semakin habis. Juyeon membenarkan letak spion kirinya, secara sengaja ingin melihat wajah Changmin lewat kaca. Ada binar yang indah di kedua matanya, membuat Juyeon berharap waktu berhenti dan berada pada momen ini selamanya.

Juyeon jatuh cinta untuk yang kesekian kali.

 


 

Changmin merasa ia paling banyak tertawa hari ini dari sekian ratus hari dalam hidupnya yang ia jalani bersama Juyeon.

Hatinya penuh. Penuh dengan Juyeon, penuh dengan cinta, dan jika digabungkan, intinya adalah Changmin mencintai Juyeon. Ia tidak punya ribuan kata untuk menjelaskan sebesar apa rasa yang ia miliki--ia hanya menunjukkannya lewat senyum lebar, tatapan penuh kasih, genggaman dan pelukan hangat yang mungkin sedikit membuat Juyeon terkejut di awal. Changmin memakluminya. Meski mereka sudah berteman lebih dari hitungan tahun, perubahan status yang bisa dibilang cukup mendadak tentu bisa mengagetkan.

Apa pun yang terjadi, Changmin merasa sempurna sekarang dan Juyeon yang berada di sisinya adalah satu-satunya hal yang ia inginkan.

“C berapa?” tanya Juyeon saat Changmin mulai menaiki anak tangga di antara bangku penonton.

Changmin menengok tiket yang ia pegang. “15 sama 16.”

Tanpa sadar, Juyeon menggandeng tangan Changmin sembari menariknya pelan ke atas, berjalan beriringan sambil mencari tempat duduk mereka. Di belakang, layar lebar tengah menampilkan trailer film-film lain yang akan tayang.

“Ini, Min.”

Percakapan kecil mereka sejak tadi menyadarkan Changmin bahwa mereka tidak (atau belum?) punya panggilan kesayangan untuk satu sama lain. Changmin terkikik sendiri atas pikirannya. Mengapa ia sudah memikirkan hal itu secepat ini? Ia bahkan belum bisa membayangkan dirinya memanggil Juyeon dengan sebutan ‘aku-kamu’ alih-alih ‘lo-gue’ seperti biasa.

Mereka masih terlihat seperti sepasang teman yang sangat dekat, mungkin, di mata orang lain. Biarlah demikian, yang penting hati Juyeon sudah sepenuhnya milik Changmin.

Saat mereka duduk, Changmin secara otomatis menoleh ke kanan untuk menatap Juyeon yang wajahnya tersinari cahaya remang dari layar. Ia terlihat menawan, seperti biasa. Mungkin bunga di dada Changmin mekar sedikit lebih banyak dari biasanya, namun selain itu, semua terasa tidak berbeda--tidak ada yang salah, semua benar pada tempatnya, dan Changmin merasa teramat nyaman.

“Laper gak, Min?” tanya Juyeon, tangannya meninggalkan genggaman dengan Changmin untuk menyodorkan sewadah berondong jagung rasa karamel. “Udah lama gak sih kita gak nonton?”

“Sibuk skripsian, sayang.”

Changmin refleks menggigit bibir saat ia secara tidak sengaja memanggil Juyeon dengan sebutan itu. Memang, pada keadaan normal, mereka sering melontarkan panggilan ‘sayang’, tapi di situasi ini, kecanggungan tiba-tiba menyeruak. Changmin merasa salah, terutama mengingat pikiran yang baru saja menyambangi kepalanya.

Laki-laki yang lebih mungil hendak menarik ucapannya saat sebuah tangan besar mengusak rambutnya halus. Sebuah senyum manis diulas Juyeon di depan matanya yang bergetar cemas.

“Udah sayang-sayangan aja. Gemes deh.”

Oh, Tuhan. Jika ada tempat untuk mengubur diri, tolong beritahu Changmin sekarang juga. Seingatnya tadi Juyeon yang bertingkah sekaku patung, mengapa sekarang jadi ia yang tergagap?

“Gemes pala lo.” Changmin memukul pelan bahu Juyeon, sikap defensifnya keluar lagi--seperti biasa saat ia tengah malu.

Tawa Juyeon menguar, telinga Changmin meleleh dibuatnya. Sungguh pasangan yang serasi, keduanya sama-sama budak cinta--bertekuk lutut untuk hal terkecil yang dilakukan masing-masing individu.

Saat film mulai berjalan, Changmin seperti lupa akan kecanggungan yang ada di atmosfer sekitar mereka sebelumnya. Kedua matanya terfokus penuh pada layar, seluruh inderanya terpaku pada jalan cerita. Bisa dibilang horor adalah nama tengah Changmin dan ia rasa Juyeon sudah lebih dari maklum akan hal itu.

Klimaks dari cerita perlahan muncul. Di tengah film, adegan-adegan penuh darah yang menjijikkan mulai terlihat dengan jelas. Changmin bergidik beberapa kali, tapi tidak mengalihkan mata sedikit pun. Ketika adegan anjing yang dibantai secara kejam muncul, Changmin merasakan pergerakan dari arah kanannya.

Juyeon terlihat lebih terkejut dari sebelumnya. Tumitnya naik, jemarinya mencengkeram pinggiran kursi dengan lebih kuat. Wajahnya menunjukkan ketakutan dan matanya berkedip dengan cepat. Changmin menyaksikan semuanya.

Tanpa kata, Changmin mengulurkan tangannya untuk kembali menggenggam milik Juyeon. Laki-laki yang lebih tinggi berjengit sekilas, namun dengan cepat melunak setelahnya. Changmin memberikan sebuah senyum tipis kepadanya, secara tidak verbal mengatakan bahwa ia ada di sini, di sampingnya, untuknya. Mungkin tidak begitu berarti, tapi Changmin yakin Juyeon mengapresiasi hal itu ketika ia duduk kembali dengan nyaman dan mempererat genggaman tangan mereka, kemudian memfokuskan mata lagi ke layar.

Entah mengapa, Changmin justru menjadi yang tidak bisa alih pandang dari sang kekasih. Pemandangan Juyeon yang terfokus dengan apa yang ia lihat entah mengapa tampak begitu menawan, membuatnya secara tidak sengaja menyandarkan diri ke arah Juyeon.

“Min?” Juyeon agaknya tersadar. Ia menatap Changmin dengan mata lebar, menimbulkan rona di pipi Changmin saat ia sadar apa yang sedang ia lakukan.

“Eh? Sorry.”

Changmin baru akan menarik dirinya kembali ke posisi yang benar ketika lengan Juyeon menahannya, merangkul pundaknya agar ia lebih dekat ke sisi Juyeon.

“Kenapa minta maaf? Gini aja, anget kan?”

Semua kalimat Juyeon menjadi samar di telinga Changmin. Yang ia bisa berikan sebagai respon hanya sebuah anggukan sementara dua maniknya masih lekat menatap Juyeon yang sekali lagi Changmin tekankan, terlihat begitu indah. Juyeon yang memergoki hal itu pun terkekeh.

“Kenapa ngelihatin gue gitu banget? Pengen ciuman?” ucap Juyeon tanpa disaring.

Changmin tersentak. “Hah?”

Senyum Juyeon melebar. Otak Changmin masih berhenti berpikir, belum bisa memproses apa yang sedang terjadi hingga sesuatu yang dingin menyentuh bibirnya dalam hitungan detik. Tidak lama, tapi mampu membuat Changmin menggila terutama saat menyadari sesuatu itu adalah bibir Juyeon yang sedang menciumnya.

Mendadak kepala Changmin bekerja dengan keras, memunculkan kembang api dan bintang-bintang indah seperti langit di malam tahun baru. Degup di dadanya semakin kencang, lebih kencang dari musik latar belakang film yang menggelegar di penjuru ruangan. Wajahnya memanas, mungkin jika mereka tidak sedang di kegelapan, pipi merahnya bisa terlihat dengan jelas--Changmin bersyukur untuk itu.

Dan ketika Juyeon mundur untuk melepas tautan bibir mereka, Changmin melihat cinta di matanya.

“Gue kayaknya gak bakal bisa tidur malam ini,” kekeh Juyeon tanpa berdosa. Changmin ingin memukulnya lagi, mungkin kali ini di wajah tampannya, tapi seluruh badannya masih membeku karena efek ciuman barusan.

Kendatipun demikian, Changmin masih bisa membalas Juyeon dengan sebuah: “Perlu gue temenin?”

 


 

Maka Changmin pun benar-benar menemani Juyeon tidur malam itu.

“Min.”

Mereka berdua sudah berbaring di masing-masing sisi ranjang Juyeon yang tidak terlalu lebar saat si pemilik kamar memanggil. Lengan Juyeon disimpan di bawah tengkuk Changmin, dengan kata lain mereka akan berpelukan hanya dengan satu gerakan. Empat mata menatap langit-langit kamar, cengkrama di atas bantal pun dimulai.

“Ya?”

Suara hela napas Juyeon membuat Changmin menoleh. Kedekatannya mengingatkan Changmin akan ciuman mereka di bioskop tadi. Ia tidak bisa menahan untuk tidak menatap ke bawah, ke arah bibir Juyeon, namun pikirannya kembali tersadar saat Juyeon berbicara.

“Maaf ya, kalau hari ini gak kerasa spesial.”

Pernyataan barusan membuat alis Changmin bertaut, memprotes kata maaf yang keluar dari mulut Juyeon secara tidak langsung.

“Kok maaf sih?” Juyeon meniliknya, binar matanya redup sesaat. “Gue seneng banget hari ini. Kita ngelakuin hal kayak biasanya, ke tempat kayak biasanya, tapi dengan lo sebagai pacar gue. Gue udah seneng banget, Juy.”

Senyum Juyeon perlahan melebar mendengar kata demi kata yang diulas Changmin sebagai sebuah kepastian. Changmin bisa melihat rasi bintang di manik Juyeon kembali bersinar. Ia pun ikut tersenyum.

“Makasih ya, Min.” Kalimat itu entah kenapa terasa tertahan, maka Juyeon melanjutkannya. “Gue sayang banget sama lo.”

Changmin menghela napas lega. Hatinya penuh sesak lagi dengan rasa cinta, rasa yang sudah lama ia dambakan dan pertanyakan untuk dibalas. Mengetahui semuanya sudah tercapai hari ini membuat Changmin semakin ingin tidur di pelukan Juyeon dan menghentikan waktu untuk selamanya.

“Gue juga sayang banget sama lo, Juyeon.”

Notes:

terima kasih sudah membaca! feedbacks are much appreciated <3