Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-11-17
Words:
1,684
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
5
Hits:
134

Insomnia

Summary:

It came again— his nightmare swallows him again.

Notes:

hi! just so you know that i write for fun so if it happened that you stumble upon this, i welcome you. < 3

i made this for my dear friend who requested this very seungjun fic based on a song titled insomnia by the rose.

i forgot that song existed until i wrote this while listening to that and letting myself drown to that all over again. :____) totally recommend you to hear that while reading anw!

anyway enjoy. < 3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Jun," Chan kemudian menggoyangkan badan Sejun, "bangun."

Sejun hanya menggeram. Melihat hal itu, Chan mengambil napas sebentar lalu memukul punggung Sejun keras-keras. Sang empunya mengerang kesakitan kemudian. "Anjing! Apa-apaan sih lo?"

"Udah gue bilang bangun, ya, monyet. Lo tidur mulu kalau kelas, giliran malem melek!"

Sejun mengarahkan pandangannya ke semua sudut ruangan. Matanya disipitkan demi mengumpulkan sisa fokus yang masih tercecer. "Mana anjir dosennya? Lo ngajak gue berantem?"

"Bukan, itu," Chan menumpukan kepalanya di kedua tangan yang membuka lebar seperti bunga. Alisnya ia angkat ke atas dan dagunya menunjuk ke satu arah. "Mantan lo yang Seungwoo Seungwoo itu, kan?"

"Oh," Sejun kembali menaruh dagunya di atas meja kemudian tangannya mengambil ponselnya, menempatkan hal tersebut tepat berada di padangannya, "iya."

Chan menoleh keheranan, "kok lo nggak heboh?"

Sejun melihat malas ke arah Chan sekilas. Tangannya menaruh ponselnya dengan keadaan layar menghadap meja. Ia mengunci pandangannya pada lelaki yang memiliki tinggi 184 cm itu, mengikuti pergerakannya hingga Seungwoo berjalan melewatinya persis pada tangga yang berada di sebelah dirinya menuju ke kursi yang berada di atas.

"Tuh," Sejun membuka botol kolanya, "dia benci gue. And I understand that very, very, extremely well."

"Kenapa kok bisa?"

"Ya bisa aja, sih," ucap Sejun, "but I don't talk about him that much. Dua tahun kenal pun gue nggak banyak ngomong, kan? Makannya lo nggak paham. And I can say that it doesn't hurt even a bit now."

Chan mengangguk paham. Ujung penanya ia gesekkan ke arah rambutnya dengan mulut yang sibuk mengunyah permen karet sedari tadi. "Oh, bisa, sih. Bener."

"Apanya?"

"Apaan?"

"Yang bener?"

"Semua orang bisa benci lo."

"Anji–"

Percakapan berakhir kemudian. Tak lama, dosen yang bertugas di hari tersebut hadir, membuka dan menjalankan kelas seperti biasanya. Chan menahan ngantuk mati-matian karena masih ingin menyimak penjelasan krusial pada hari ini. Sedangkan di sisi lain, pikiran Sejun telah terbang entah pada berapa tahun yang lalu. Pada saat dimana ia bertukar pikiran, senyum, tawa, peluh, sedih, tangis, dan lainnya bersama orang yang baru saja melewatinya dengan sikap tak acuh. 

Bersama Seungwoo.

Waktu itu, ia menempati bangku tingkat kedua pada sekolah menengah atas. Seungwoo berada persis satu tahun di atasnya, menjalani kehidupan akhir senior masa sekolah. Pertemuan mereka diawali dengan perbincangan ringan mengenai pengalaman bersekolah, sebatas formalitas untuk tugas masa orientasi yang dimiliki Sejun. Seungwoo tidak berhenti berbicara pada Sejun setelahnya. Sejun, di sisi lain, tidak keberatan akan hal tersebut. Ia menyimpan ekspektasi bahwa mungkin berteman dekat dengan salah satu senior akan mempermudah kehidupan remaja akhirnya. Mereka kemudian terus-menerus menemui satu sama lain, atas dasar apapun alasannya.

Namun, mereka berdua tahu persis bahwa alasan tersebut hanya akal-akalan saja dan tidak ada yang benar-benar terjadi. Seperti saat Seungwoo mengajak Sejun menemaninya belajar dan pada akhirnya hanya menonton bersama. Atau, saat Sejun meminta Seungwoo menjelaskan suatu hal yang tidak ia mengerti namun malah diakhiri dengan tawa yang saling terlempar pada satu sama lain karena Seungwoo ternyata sangat payah dalam bermain permainan konsol. Hingga pada suatu saat, mereka berdua sadar bahwa apa yang mereka miliki jauh, lebih daripada itu. 

Mereka memiliki cinta di lubuk hati terdalamnya.

Walaupun takut, Seungwoo memutuskan untuk mengungkapkan apa yang ia rasa pada Sejun. Setelah berulang kali meyakinkan Sejun tentang hal tersebut, Sejun memutuskan untuk mengikuti kata hatinya saja. Persetan dengan stigma sosial yang beredar. Mereka akan baik-baik saja pada lingkungan yang menerima mereka nantinya. Secercah harapan hangat tumbuh bersamaan pada sisi terdalam masing-masing insan tersebut. Berharap jika tangan yang saling menggenggam akan melindungi mereka dari hal buruk apapun yang akan datang.

Nyatanya, tidak.

Dunia tidak bekerja seperti itu pada Seungwoo dan Sejun. Pada saat dunia tahu tentang mereka, mereka seakan ditarik pada perjalanan panjang tanpa akhir yang berisikan kecaman. Hingga hujatan dan cibiran sudah tidak memberikan dampak apapun. Pada saat itu mereka sadar, apa yang sudah mereka korbankan masih jauh– sangat jauh dari cukup.

Namun, Seungwoo tidak mau berhenti. Ia kembali menggenggam tangan Sejun, melontarkan kalimat-kalimat penenang. Meyakinkan wira yang lebih muda darinya bahwa kehadirannya sudah lebih cukup. Menyeka tangisan yang membanjiri pipinya– memeluknya lagi dan lagi, hingga pada akhirnya semuanya terasa begitu berat– begitu sesak bagi Sejun. 

Esoknya, Sejun menghampiri Seungwoo dengan penampilannya yang berantakan. Menjatuhkan dirinya, bersimpuh pada lututnya di hadapan lelaki yang lebih tua. Mulutnya tidak berhenti melontarkan maaf, agak kabur karena isak tangis ikut mengiringi kata-katanya. Ia pun berat hati– tidak mau menerima bahwa semua yang ia alami ini nyata. Ia berharap seseorang menamparnya keras-keras agar ia bisa terbangun dari mimpi apapun ini yang sedang menghantuinya. Namun ia sudah tidak kuat– tidak bisa lagi menahan ini. Hal tersebut sudah tidak menghibur lagi baginya. Jadi, Sejun kembali menjatuhkan kepalanya, membiarkan bulir-bulir air mata melintasi pipinya, memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. 

"I can't do this anymore, Seungwoo. Let me go."

Tepukan di pundak Sejun mengembalikan dirinya dari lamunan panjangnya. Chan menatapnya khawatir, berkata jika lima kali panggilannya tidak Sejun hiraukan. Sejun tersenyum kemudian, "hehe, sorry. Ngelamun barusan."

Chan membereskan buku dan alat tulisnya. "Beres-beres ayo, udah selesai kelas."

"Hah?" Sejun mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan tempat ia berada, "sejak kapan?"

Telapak tangan milik Chan tiba-tiba menempel pada dahi milik Sejun. "Lo nggak papa? Keringet dingin ini."

Sejun tersenyum kikuk, "nggak papa. Pulang yuk."


Seungwoo tiba-tiba terjatuh dengan lemas, bulir air mata turun tanpa bisa ia kontrol sembari menatap nanar pada netra milik Sejun. Tangan kanan Seungwoo tidak terasa hangat seperti biasanya kala itu. Sejun membawa tangannya untuk mengenggamnya, berusaha membisikkan tenang– namun ia tidak bisa, gagal pada akhirnya. Banyak yang ingin ia sampaikan tetapi bibirnya kelu, bernapas pun sulit rasanya. Alih-alih, Sejun menangis. Ia menangis– terus-menerus menangis tanpa henti dan kembali menangis lagi

Ia hanya bisa menangis. 

Kalimat yang terlontar dari belah bibir Seungwoo pun sudah tidak dapat ia terima dengan baik. Hanya terdengar bisikan kabur di telinganya. Tidak tahu bagaimana tampang lelaki tersebut saat berkata. Ia terlalu takut untuk sekadar mengambil pandang. Ia takut menyakiti Seungwoo– namun ia harus mengakhiri apapun yang sedang mereka jalankan saat ini.

Cinta?

Hal tersebut tidak bahkan hadir di antara keduanya. Semuanya berdiri di atas abu selama ini– Sejun sadar betul akan itu semenjak awal. Namun, jika Seungwoo tidak bisa membawanya menuju putih, ia akan memberinya hitam terlebih dahulu. Sejun akan menguatkan diri, berdiri dengan mantap, dan menyeret dirinya sendiri kepada bagian gelap di ujung sebrang sana. Siapa Sejun untuk berharap bahwa terang akan datang dengan sukarela padanya?

"Stop hurting me, Seungwoo. This ain't it; we are never a solution. Stop hurting us."

Sejun memohon pada Seungwoo, menggenggam tangannya erat-erat. Menahan napasnya yang entah semenjak kapan terasa sangat berat. Ada bagian kecil dalam dirinya yang berkata bahwa bukan ini yang ia mau. Bahwa sekarang merupakan waktu yang tepat untuk memilih opsi lainnya dan meminta maaf– untuk mengakui semua kesalahannya dan mengakhiri kesakitan yang ia timbulkan sendiri. Namun, alih-alih membiarkan amarah merasuki dirinya, Seungwoo malah mencondongkan badannya ke depan. Memeluk Sejun secara cepat, ketakutan Sejun akan lari kapan saja ia mau jika ia tidak melakukannya. Isakan kembali memenuhi telinga keduanya. Hingga setelah beberapa saat kemudian, Sejun memberanikan dirinya untuk melepas dekapan Seungwoo. Memutuskan untuk membalikkan badannya dari lelaki yang berteriak pilu pada figurnya yang semakin menjauh.

"Don't leave me."

Sejun membelalakan matanya secara paksa, mengedarkan pandangannya kesana dan kemari untuk beberapa saat. Ia kemudian membuang napas berat, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdebar gila-gilaan. Pergelangan tangannya ia bawa menutupi kedua matanya, dahinya berkerut dalam diam.

Mimpi tersebut datang kembali

Bayangan atas masa lalunya kembali terulang, datang secara tiba-tiba pada mimpinya setelah menghilang dua tahun lamanya. Mimpi buruk yang lebih terasa seperti siksaan atas dosa yang ia perbuat pada lelaki yang muncul di dalamnya. Ia mengelap peluh yang membanjiri wajahnya sembari menggerakkan tubuhnya untuk duduk di pinggiran kasur. 

Sejun menatap lekat-lekat gelang hitam dengan liontin berbentuk daun dan kepingan salju yang beristirahat dengan rapi di mejanya kemudian. Tiba-tiba terlintas makna di belakang hal tersebut. Daun dan kepingan salju yang beriringan, dengan hal tersebut Seungwoo mengharap bahwa hubungan yang mereka jalani akan seindah salju pertama yang jatuh dan berjalan natural. Tidak mengikat, tidak melepas, juga tidak memaksakan– hanya cukup

Kedua alisnya bertaut pada pikiran tersebut, bingung atas reaksi apa yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Perasaan buruk kembali menyembul– menyeruak dalam dirinya. Ia menundukkan kepalanya kembali, menutup kedua netra yang terasa berat.

Setelah kejadian naas tersebut, Sejun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di luar kota. Mencari tempat yang agak terpencil, di mana pun boleh asal Seungwoo tidak bisa menemukannya. Ia terlalu malu untuk sekadar menatap wajahnya. Tidak tahu penjelasan apa yang mesti ia berikan jika pada suatu saat sang wira tersebut meminta.

Kehidupan perkuliahannya pun berjalan lancar. Ia membuat banyak pertemanan baru dan memperluas koneksi, pun menjalin kisah asmara beberapa kali– walau hal tersebut tidak berjalan dengan baik. Namun, Sejun masih bersyukur karena setelah dikukung mimpi buruk yang sama selama satu tahun penuh, ia akhirnya bisa menyatukan belahan-belahan dirinya yang dahulu tercecer dan kembali melanjutkan hidup tanpa Seungwoo.

Bahkan ketika ia mendapat kabar bahwa ternyata Seungwoo pun berkuliah di instansi yang sama dengannya, tidak ada rasa yang kembali. Tidak bahkan secara samar. Cukup mengejutkan memang. Namun, Sejun yang telah kembali mendapatkan kepercayaan dirinya hanya tertawa tipis, berkata bahwa semua baik-baik saja sekarang dan tidak akan ada hal apapun yang terjadi nantinya.

Itu yang ia pikirkan.

Hingga pada hari ini, setelah satu setengah tahun usahanya menghindari Seungwoo di kampus, Sejun dipertemukan kembali dengannya

Sejun tertawa miris setelahnya. Masalahnya, ia yakin betul bahwa ia sudah menaruh semua yang telah terjadi pada masa lalu, termasuk Seungwoo– dan memang semuanya berisikan hanya tentang Seungwoo. Ia telah menjalankan hidupnya seperti biasa kembali, seperti saat ia belum mengenalnya, persis seperti ketika Seungwoo belum masuk pada hidupnya.

Lantas, mengapa Seungwoo yang hanya berjalan melintasinya dengan raut wajah tidak acuh kembali membuat seluruh dunianya berantakan? Fakta bahwa sekelebat kehadiran Seungwoo sudah lebih dari cukup untuk kembali mendatangkan mimpi buruk baginya lumayan menggelitik bagi Sejun. Semua yang ia kira telah ia buang jauh-jauh ternyata masih hidup jauh di dalam dirinya. Ia hanya menekan hal tersebut kuat-kuat, bertindak seakan hal tersebut memang tidak lagi menimbulkan dampak yang berarti. Berlaku seolah apa yang ia miliki dengan Seungwoo di masa lalu tidak bermakna sedalam itu

Jadi hari ini, Sejun dalam duduknya, kembali membiarkan dirinya tertelan mimpi buruk yang ia kira telah selesai lama– jauh sekali di belakang.

Notes:

if you have something to ask, or just anything, do hit me up at:

twt: @immaculaet
??: tellonym.me/immaculaet

< 3