Work Text:
Jika Ludwig Van Beethoven mengaku jika dirinya bukanlah pria romantis tetapi mampu mengomposisi mahakarya seperti Fur Elise untuk Therese Malfatti di abad ke delapan belas, maka katakanlah Jung Jaehyun adalah salah satu di antaranya di abad ini; karena berani menyatakan cinta pada seseorang yang hampir mengucap ikrar pernikahan di atas altar gereja yang suci. Atau mungkin orang bodoh paling menyedihkan di dunia. Sejarah harus mencatatkan namanya di buku Guinness untuk pencapaiannya pagi ini. Dia harusnya masih menyeduh teh krisan dan memanggang sepotong Baguette di apartemen lantai sepuluhnya di sudut kota Paris yang sejuk, tetapi Jaehyun tidak menyesali apa yang dia lakukan.
Ratusan pasang mata sontak beralih padanya. Termasuk pria dengan bunga Boutonniere tersemat di saku jasnya yang licin, yang baru saja disebutkan namanya oleh Jaehyun. Kim Doyoung, terlihat anggun dengan tuksido putih dan flower crown di atas kepalanya.
“Jika ini belum terlambat, Doyoung-ah, aku ingin membuat pengakuan padamu.”
Tetapi ini jelas sudah sangat terlambat. Pria yang disebut Doyoung menatap sendu ke arahnya, seakan mengutuk ketololan Jaehyun yang tampak tenang berdiri di deretan kursi paling depan bersama tamu undangan VIP dan orang tuanya.
“Kau sakit!” Bentak pria lain yang juga berdiri di tengah-tengah altar, dengan gemetar menggenggam jemari Doyoung yang dingin.
Jaehyun tersenyum sinis. Dia justru terlihat jauh lebih percaya diri ketimbang pria yang akan mendampingi Doyoung sehidup semati di sana. Telapak tangannya tersimpan rapi di saku celana. Jung Jaehyun masih tetap sama, percaya diri seolah dunia akan memberikan apapun ke depan ibu jari kakinya ketika ia meminta.
“Merasa takut, uh? Kau takut jika Doyoung akan berlari ke arahku saat ini juga?”
Saat itu Jantung Doyoung seakan berhenti berdetak. Perasaan bimbang mendadak muncul ketika mata doe itu menatap bergantian pada Jaehyun dan pria di sampingnya. Mata penuh keragu-raguan yang Jaehyun kenal dengan baik nyaris bertahun-tahun lamanya.
“Bisakah seseorang membawa pria itu pergi sekarang juga? Dia telah merusak pernikahanku.”
Sekali lagi Jaehyun merasa menang. Ketakutan itu terpampang jelas di raut wajah pria dengan warna rambut cerah yang sekejab mengingatkannya pada festival Qué Gusto setiap musim panas. Oh, Tuhan. Doyoung benar-benar akan menikahi pria seperti ini? Beberapa penjaga yang mengawal jalannya upacara pernikahan di sudut gereja serempak mendatangi Jaehyun. Kegaduhan sempat terjadi karena sumpah serapah Jaehyun mulai mengotori prosesi yang suci dan membuat seisi tamu undangan berbisik rendah dengan balon spekulasi menggantung di atas kepala mereka. Sampai suara Doyoung menggema di mikrofon pendeta tua yang keningnya mulai berkerut-kerut.
“Je t`aime.” (Aku mencintaimu)
Suara rendah Doyoung mengundang perhatian seluruh tamu undangan, menghentikan pergerakan para pengawal yang berusaha menyeret Jaehyun keluar.
“Tu es l'amour de ma vie.” (Kau adalah cinta dalam hidupku)
Kalimat itu jelas menyayat hati pria yang menggenggam tangannya terlalu erat, matanya mulai berkaca-kaca.
“Sejak tahun pertamamu di kampus, sejak kau memberiku mawar di hari terakhir masa orientasi dan memilihku menjadi senior favoritmu, sejak kau menjemputku di malam promnite, sejak kau memelukku di hari kelulusanku. Sejak delapan tahun aku mengenalmu, Jung Jaehyun. Aku selalu mencintaimu. Aku selalu menunggumu.” Air mata Doyoung mengalir dari sudut matanya. Sesak yang menghimpit dadanya semenjak dulu kembali naik ke permukaan. Tanpa sadar Jaehyun ikut menangis. Dia tidak tahu Doyoung pernah mencintainya selama itu. Dia tidak pernah tahu.
“Seharusnya kau ucapkan itu setahun yang lalu. Saat-saat di mana aku sudah terlalu lelah untuk menunggumu. Saat sebelum aku mengenal dan jatuh cinta pada Taeyong Hyung.”
Bagaikan ditempa ribuan batu besar, Jaehyun hancur seperti serpihan debu. Kakinya gemetar dan tubuhnya sedikit terhuyung ke samping. Kepercayaan dirinya jatuh mengenaskan.
“Kau... jangan mempermalukan dirimu sendiri, Jung Jaehyun.” Doyoung mengatupkan bibirnya yang bergetar, berusaha sekuat tenaga untuk tidak terisak.
Air mata yang menggenang di pelupuk mata Jaehyun kembali luruh di pipinya. Ia tersenyum pahit. Sejenak ia berpikir tentang betapa menyedihkannya ia saat ini. Sebuah amplop merah hati mampir di kotak suratnya suatu pagi. Undangan pernikahan. Resepsi megah di Chateau de Vaux le Vicomte pukul sembilan pagi. Pemberkatan di Saint-Germain l'Auxerrois, delapan ratus meter dari Louvre. Dia ingat tawa meyedihkan yang ia keluarkan saat menggenggam segelas wine putih di tengah makan malamnya dengan seorang kolega selepas ia bekeja di jam sepuluh malam. Semua adalah rencana pernikahan impiannya dengan Doyoung. Katanya, sembari si teman kerja memberikan tepukan iba di bahu.
“Aku ingin menikah di Paris.”
“Kau harus punya pasangan kalau mau menikah, Jaehyun-ah.”
“Aku akan punya. Seseorang yang akan terlihat cantik ketika mengenakan flower crown di altar. Biar aku tunjukan padamu bagaimana pernikahanku nanti, hyung.”
Ketika Doyoung membuang muka, Jaehyun tahu semuanya telah selesai. Ia pasrah ketika para penjaga yang masih memeganginya kembali menariknya untuk segera keluar dari gereja.
Harusnya tidak seperti ini.
Paris dulunya adalah kota yang amat sangat dicintai Jaehyun. Paris punya banyak keindahan dan misteri yang mampu menggerus akal logikanya sampai-sampai ia rela mengemban banyak sekali kursus untuk bisa mendapatkan beasiswa master degree di sana. Jaehyun menggantung banyak mimpi dan masa depan yang cerah, tentang mendapat pekerjaan dan menghabiskan hari tua dengan orang yang dicintainya, membeli rumah di Ile Saint-Louis dan pergi kencan setiap Jumat malam. Mimpinya sempurna—sampai ia lupa soal rumah sederhana yang mulai lelah menunggunya sementara ia sibuk bermimpi.
[Hyung, apa kau percaya kita bisa pergi ke Paris suatu hari?]
[Tentu! Dan aku akan melakukan hal besar di sana.]
“Kau melakukannya, Doyoung-ah.”
[Tunggu aku, hyung. Mari lakukan hal besar denganku.]
[Maaf, kau bicara apa? Johnny menyetel musik terlalu keras, aku akan memukul pantatnya, tunggu sebentar.]
[A-ah. Aku bilang selamat tidur, Doyoung hyung. Jangan lupa mengunci pintu saat kembali ke kamar.]
[Ok? Kalau begitu, kututup teleponnya. Sampai bertemu besok, Jaehyun-ah.]
Hari ini, untuk pertama kalinya, dia membenci Kota Paris, sebesar ia membenci dirinya sendiri.
Harusnya dia masih menyeduh teh krisan dan memanggang sepotong Baguette di apartemen lantai sepuluhnya di sudut Kota Paris yang sejuk, tetapi Jaehyun tidak menyesali apa yang dia lakukan. Memesan tiket penerbangan ke Seoul dan meninggalkan Paris yang telah menoreh luka di hatinya.
“Selamat tinggal.” Katanya, dengan mantel cokelat lusuh yang sama seperti saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Bandara Charles de Gaulle.
Let’s meet again, in another life—selesai
