Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Bulan Gulali 2021
Stats:
Published:
2021-11-29
Words:
2,484
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
9
Hits:
200

Wait

Summary:

Chanyeol meminta Baekhyun menunggu. Baekhyun menepatinya. Lantas, apa yang terjadi jika penantiannya telah usai?

Notes:

Kode dan Isi Prompt: GU118 ㅡ Baekhyun pergi, namun Chanyeol tetap menjaga janji untuk mencintai ia selamanya.

Disclaimer: Cerita ini murni karya fiksi; merupakan hasil kreativitas dari penulis, tidak berhubungan dengan orang, lokasi, dan kejadian nyata. Semua nama dan gambaran karakter yang digunakan hanya dipinjam dan tidak mewakili pemilik di dunia nyata. Ide dan alur cerita seutuhnya milik penulis, tidak untuk ditulis ulang dan/atau disebarkan tanpa sepengetahuan penulis.

Author's Note: Terima kasih kepada pemilik prompt yang sudah membuat prompt bagus ini. Sejak awal saya sudah tertarik dengan prompt tersebut, apalagi saya pecinta genre angst. Saya berusaha memberikan yang terbaik yang bisa saya berikan. Tapi perasaan ragu dan takut mengecewakan sering kali datang. Saya minta maaf jikalau tidak sesuai dengan ekspektasi kamu. Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Pria berpakaian hitam itu berjalan dalam gelapnya sela gedung. Topi hitam melengkapi penampilan gelapnya yang ditelan malam. Wajahnya dipenuhi oleh luka goresan dengan darah yang mulai mengering di beberapa bagian. 

Sekarang pria itu berdiri di depan sebuah pintu kamar rawat. Sebelum masuk ia merapikan sedikit penampilan serta rambutnya yang berantakan. Kemudian tangannya mencengkram pengangan pintu. Dibukanya pintu itu, lalu sebuah senyuman dari seseorang yang selalu menantinya menjadi hal pertama yang pria itu lihat.

Dengan ringan ia melangkahkan kakinya mendekati ranjang. Pria itu mengecup singkat pucuk kepala orang itu sebelum kemudian mengusak rambutnya gemas.

“Kenapa belum tidur, em?” tanya pria itu setelah duduk di kursi yang sudah tersedia.

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, si mungil lebih terfokus pada luka-luka di wajah pria tersebut. “Kau bertengkar lagi, yeol?” ada nada cemas dalam suaranya yang parau.

Lelaki itu, Park Chanyeol, memegang lengan si mungil yang meraba wajahnya. “Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir, Hyun.” Tatapan mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat. “Tidur. Aku akan menemanimu malam ini.”

Baekhyun menggeleng keras. “Kau akan pergi lagi jika aku menutup mata.” Bibir tipisnya mengerucut. Ia kesal pada kekasihnya yang sering sekali pergi.

Chanyeol tersenyum kala melihat orang terkasihnya merajuk seperti itu. Ia mengusap lembut kedua punggung tangan Baekhyun. Atensinya teralihkan sesaat pada benda kecil yang melingkar di jari manis Baekhyun. Sebuah cincin sederhana yang murah dan mudah berkarat pemberian darinya. Belum lama ini ia melamar sang kekasih.

“Baekhyun -ah ...” panggil Chanyeol seraya menatap kedua bola mata Baekhyun. “Aku berjanji akan membelikan cincin yang lebih indah dari ini untukmu. Kau mau menunggunya?” tanya Chanyeol yang diangguki langsung oleh Baekhyun.

Chanyeol tersenyum merasa lega dan senang. “Kalau begitu berjanjilah untuk sembuh. Bukan untukku, tapi untuk dirimu. Apakah kau bisa?” ada nada harap dalam suara pria berusia seperempat abad itu. Baekhyun mengangkat lengan kanannya, merapikan rambut-rambut yang menghalangi pandangan Chanyeol. “Aku akan sembuh ...”

“ ... untuk diriku, dan juga untukmu.” Kemudian ia mencium batang hidung bangir Chanyeol dan memudurkan sedikit wajahnya. “Aku mencintaimu, Chanyeol.”

“Aku lebih mencintaimu, Baekhyun.” Dengan tulus ia membalas ucapan itu.

***

Hidup dan tumbuh besar di jalanan menjadikan Chanyeol harus bisa bertahan sesulit apapun situasi yang sedang ia hadapi. Apalagi dengan pekerjaannya yang bisa dikatakan sedikit berbeda . Memutuskan untuk menjadi bagian dari mereka adalah keputusan yang tidak pernah ada dalam rencana hidupnya. Akan tetapi, ketika kenyataan menamparnya begitu keras, ia berubah pikiran. Itu sudah terjadi lama sekali, lebih dari satu dekade tapi Baekhyun baru jujur kepadanya belum lama ini. Orang yang begitu ia cintai dan lindungi sepenuh hati ternyata mengidap AIDS akibat apa yang terjadi di masa lalu.

Bisa dikatakan takdir Baekhyun pun tidak jauh berbeda dengan Chanyeol. Sama-sama menyedihkan. Mungkin karena itu pula ia merasa begitu terikat dengan Chanyeol sejak pertemuan pertamanya. Jika Chanyeol hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya telah tiada, Baekhyun adalah seorang budak pelarian. Sejak kecil ia sudah di jual oleh ayahnya kepada seorang mucikari, dan dari sanalah mimpi buruk Baekhyun di mulai.

Mereka; Chanyeol dan Baekhyun; adalah dua luka yang ingin saling menyembuhkan.

***

Jalanan kota di sore hari sedang tidak terlalu ramai sebab hujan mulai merintik lemah. Diantara para pejalan kaki, Chanyeol salah satunya. Masih dengan pakaian yang sama seperti kemarin ia berjalan menyusuri trotoar. Kemudian kepalanya melihat ke kiri dan ke kanan sebelum menyeberangi jalan menuju sebuah bangunan di seberang jalan. Setiap Juni datang, pada tanggal yang sama, Chanyeol pasti akan selalu datang ke tempat ini untuk satu tujuan; menyewa gereja serta gedung pernikahan. Ia telah berjanji akan menikahi Baekhyun ketika urusannya telah selesai dan Baekhyun sembuh. Karena waktunya belum pasti, maka ia selalu menyewa tempat itu setiap tanggal 14 Juni.

“Terima kasih.” Chanyeol membungkuk sopan sebelum akhirnya pergi. Petugas gedung yang sudah mengenal Chanyeol sejak dua tahun lalu menatap kepergian lelaki itu dengan sedih. Tapi hatinya berdoa agar suatu saat penantian hari itu bisa segera tiba.

Setelahnya Chanyeol pergi menemui Baekhyun kembali di rumah sakit. Ketika pintu ruang rawat terbuka Chanyeol menemukan Baekhyun sedang sibuk membaca buku. Menyadari kedatangan kekasihnya, Baekhyun tersenyum cerah. Lelaki itu tetap terlihat ceria meskipun wajahnya sudah sangat pucat. “Hai,” sapanya ringan.

“Hai. Aku membawa sesuatu untukmu.” ucap Chanyeol seraya berjalan menghampiri ranjang Baekhyun. “Tadaaaa!” ia mengacungkan sebuah kantong plastik putih.

Kedua manik Baekhyun berbinar dikala melihat apa yang Chanyeol tunjukkan; sekotak buah merah pekat yang segar dan manis. “Strawberry!” Baekhyun memekik senang dan langsung mengambil kantong plastik itu dari tangan Chanyeol.

Chanyeol duduk di kursi yang tersedia, sementara Baekhyun mulai memakan buah merah pemberian Chanyeol. “Yeol, jangan buang-buang uangmu untuk hal tidak penting.” ucap Baekhyun tiba-tiba. “Aku tahu kau selalu datang ke gedung itu.” ia melanjutkan setelah menyadari kebingungan di wajah kekasihnya.

Chanyeol hanya diam. Berdebat pun percuma. Baekhyun tidak akan mengerti dan Chanyeol terlalu lelah bertengkar. Semua Chanyeol lakukan juga untuk Baekhyun. Ia memilih tempat itu karena dulu Baekhyun pernah berkata ingin menikah di sana. Apa yang salah jika ia hanya ingin membuat itu menjadi nyata?

Baekhyun menaruh kotak itu ke atas nakas di sampingnya. Kepalanya menoleh ke arah lain, menatap ke luar jendela. “Yeol, kau tahu akhirnya akan seperti apa.” 

“Ya, aku tahu.” Chanyeol menggenggam telapak tangan hangat Baekhyun yang bebas infus, mengusapnya lembut. “Baekhyun -ah ...” si pemilik nama masih enggan menoleh.

“Hey, lihat aku.” setelah membujuk beberapa kali akhirnya ia mau kembali menatap mata Chanyeol. Mata Baekhyun terlihat sayu, tapi masih yang terindah untuk Chanyeol.

“Aku tidak peduli dengan akhirnya. Aku juga tidak peduli dengan sisa waktu yang ada. Jika ini hari terakhir, maka aku lebih memilih satu hari denganmu daripada seribu hari tanpamu, Hyun.” Baekhyun begitu tersentuh hingga entah sejak kapan matanya sudah berkaca-kaca. Dan secara tiba-tiba kilasan kenangannya dengan Chanyeol satu per satu mulai bermunculan di dalam kepalanya.

 “Aku merasa tidak enak karena terus membebanimu, yeol.” ucap Baekhyun dengan kepala tertunduk. “Sttt, jangan mengatakan apapun lagi. Kau tidak pernah menjadi beban untukku, Hyun. Kau satu-satunya tujuan hidupku sekarang.”

Baekhyun mengangkat wajahnya, menatap Chanyeol. “Kau akan berhenti?”

Chanyeol mengangguk membenarkan. “Aku tahu kau tidak suka jika aku masih bekerja di sana. Setelah aku menyelesaikan urusan dengan boss, aku akan mulai hidup dengan baik, mencari pekerjaan normal yang legal. Lalu, aku juga akan menikahimu.”

Wajah Baekhyun berubah sendu. “Kenapa wajahmu sedih, em?” lelaki itu hanya menggeleng pelan. “Kau tidak senang aku keluar dari pekerjaan itu?”

“Tidak.” bantahnya. “Cukup kembali dengan keadaan baik. Itu saja. Pergilah.”

Walaupun rasanya berat tapi Chanyeol harus tetap pergi. Ia berdiri sebelum kemudian mencium kening Baekhyun cukup lama. “Aku akan kembali.” Menjadi kalimat terakhir yang lelaki itu katakan sebelum menghilang ketika pintu ditutup rapat.

***

Gelagar tawa lelaki bernama Kim Jongin itu terdengar memenuhi seisi ruangan setelah mendengar alasan kedatangan salah satu pekerjanya. Sementara Chanyeol sendiri sedikit khawatir apa ia bisa keluar dari tempat ini dengan mudah mengingat ucapan salah satu rekannya – Xi Luhan – yang berkata akan lebih sulit keluar daripada masuk.

Lelaki yang duduk di kursi kebanggannya itu adalah satu dari mafia paling ditakuti di dunia bawah. Selain menyeludupkan atau mengirimkan barang ilegal, mereka juga menjadi bandar narkoba paling besar. Dan itulah pekerjaan Chanyeol selama ini.

“Apa kau yakin dengan keputusan itu, Park?” tanya Jongin dengan suara menenangkan.

“Ya. Sangat yakin.” Tak ada kebohongan di mata Chanyeol ketika ia mengatakan itu.

“Baiklah. Aku juga tidak suka memaksa pekerja yang ingin melepaskan diri. Kau boleh pergi. Kau bebas.” Sontak mata Chanyeol terbelalak tidak percaya. “Benarkah?” tanya ia kembali memastikan. Semudah itukah ia dilepaskan?

“Pergilah sebelum aku berubah pikiran, Park.” ucap Jongin datar dengan tatapan dinginnya yang tajam. Chanyeol pun berterima kasih serta membungkuk sopan sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu dengan senyum bahagia di wajahnya.

***

Seharusnya ia menaruh curiga. Seharusnya ia tahu bahwa ucapan Xi Luhan yang pada keesokkan harinya ditemukan sudah tidak bernyawa bukan hanya sekedar memberi tahu melainkan peringatan keras untuknya.

Denyutan hebat ia rasakan ketika perlahan mulai membuka mata. Chanyeol meringis tertahan sambil berusaha bangun. Ia masih belum sadar sepenuhnya. Tapi kemudian ia mengingat apa yang terjadi sebelum akhirnya ia jatuh pingsan. 

Setelah meninggalkan markas ia berjalan pulang hendak kembali menemui Baekhyun. Tetapi dari arah belakang ada seseorang yang memukul kepalanya dengan sangat keras. Ia jatuh tersungkur dan segera bangun ketika ada sorot cahaya yang begitu menyilaukan pandangannya. Cahaya dari lampu mobil dan di dalam sana Kim Jongin duduk dengan manis seraya tersenyum remeh ke arahnya. Hanya itu yang ia ingat sejauh ini.

Chanyeol tidak tahu ia berada di mana. Tapi sepertinya ini di dalam sebuah rumah. Ia berjalan meraba dinding mencari saklar lampu. Kemudian saat seluruh lampu menyala betapa terkejutnya ia melihat semua sudah berantakan dengan noda darah di mana-mana. Yang lebih membuatnya terkejut adalah keberadaan sosok wanita yang sudah tidak bernyawa dan pisau yang berada dalam genggamannya. Chanyeol begitu shock hingga langsung melemparkan pisau itu. Ia segera membersihkan dirinya dari noda darah yang menempel. Kemudian terdengar suara sirine mobil polisi yang membuatnya semakin ketakutan. Tak ada pilihan lain selain melarikan diri.

***

Baekhyun senang karena Chanyeol kembali dalam keadaan baik-baik saja. Chanyeol memeluknya begitu erat, sedikit membingungkan tapi Baekhyun membalas pelukan itu. 

“Semua sudah selesai?” Chanyeol mengangguk, lalu melepas pelukannya.

Chanyeol masih sangat shock . Tapi ia berusaha menutupi itu semua dari Baekhyun. Tangannya menggenggam lengan Baekhyun. “Hyun, apapun yang terjadi nanti tolong percaya padaku.” Keningnya mengerut samar. “Hanya tolong percaya saja. Bisakah?”

Belum sempat Baekhyun menjawab pintu ruang rawatnya sudah di buka kasar hingga menimbulkan suara gaduh yang mengalihkan atensi mereka. Beberapa pria asing berjalan masuk sambil menodongkan pistol ke arah Chanyeol.

“Kau tidak bisa lari lagi, Park.” ucap seorang detektif bernama Do Kyungsoo. Lelaki itu memberi interupsi pada rekannya untuk segera meringkus buronan mereka. 

“Lepaskan!” Chanyeol memberontak. Ia terus menggenggam tangan Baekhyun dan tidak ingin melepasnya. “Kenapa kalian menangkapnya?” tanya Baekhyun lirih.

“Dia salah satu pengedar obat-obatan terlarang yang sudah lama kami cari. Dan hari ini dia telah membunuh seorang wanita yang sedang hamil.” Bohong jika Baekhyun tidak terkejut mendengar kenyataan itu. Ia memang tahu pekerjaan Chanyeol, tapi untuk membunuh, Baekhyun benar-benar kecewa. Perlahan ia melepaskan genggaman tangan Chanyeol, membiarkan lelaki itu dibawa pergi tidak peduli dengan teriakkan Chanyeol yang terus memanggil namanya. Dan setelah suaranya tidak lagi terdengar, Baekhyun menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menangis sejadi-jadinya.

***

Sudah dua hari berlalu dan Chanyeol hanya diam menyendiri tak mau berbaur dengan para tahanan sel lainnya. Ia terus memikirkan kondisi Baekhyun diluar sana. Chanyeol hanya takut jika Jongin akan menjadikan Baekhyun target selanjutnya. 

Ya, Chanyeol tahu bahwa ia dijebak oleh Jongin.

Beberapa saat kemudian seorang petugas masuk. “Park Chanyeol, ada yang ingin bertemu denganmu.” ucap petugas bernama Kim Jongdae itu.

Dan disinilah sekarang Chanyeol berada. Duduk saling berhadapan dengan orang yang ia cintai dengan dinding kaca yang membatasi keduanya. Chanyeol menatap lelaki itu dengan sedih dan penuh penyesalan. Sementara yang ditatap tersenyum tipis padanya.

“Bagaimana kabarmu?” Baekhyun yang memulai.

“Baik. Kau? Tidak ada orang aneh datang padamu, kan?” gelengan Baekhyun membuatnya sedikit merasa lega. “Jika kau kecewa atau marah padaku, tidak apa-apa, Hyun. Aku mengakuinya, aku bukan pria yang baik.” ucapnya, lirih.

Hening sesaat. “Aku percaya padamu.” Chanyeol menatapnya tidak percaya. “Kemarin detektif Do menemuiku dan mengatakan semuanya. Kau memang harus tetap di hukum atas kejahatan sebelumnya. Aku bersyukur karena kau tidak membunuh wanita itu.”

Mata Chanyeol mulai basah. “Hyun ... maafkan aku ...”

“Tidak, aku yang minta maaf. Kau melakukan itu untukku, kan? Kau bekerja pada dia agar bisa mendapatkan uang untukku berobat. Aku yang salah. Maafkan aku, Yeol. Maaf ...” Baekhyun menunduk dalam dan mulai terisak saat tangisnya pecah. 

“Hey, jangan menangis.” Jika bisa Chanyeol ingin sekali memeluk tubuh itu. “Kau mau menungguku, kan?” Baekhyun mengangguk seraya menyeka air matanya.

“Aku akan selalu menunggumu, Yeol.”

***

Satu bulan telah berlalu sejak kunjungan pertama dan terakhir Baekhyun. Chanyeol duduk dengan gelisah di kursi belakang sementara di sampingnya ada Detektif Do yang menemani. Mereka sedang dalam perjalanan ke suatu tempat setelah berita tadi pagi.

“Kenapa berhenti?” tanya Kyungsoo pada rekannya yang menyetir. “Macet.”

Chanyeol yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi segera keluar dari mobil dan berlari sekencang-kencangnya mengidahkan teriakkan Detektif Do yang memanggilnya.

Begitu sampai Chanyeol segera menaikki lift dan menuju lantai empat. Seseorang sudah berada di sana seperti menunggu kedatangannya. “Dia menunggumu.” ucap Sehun.

Chanyeol membuka pintu dan berjalan masuk. Kali ini langkahnya begitu terasa berat ketika mendekati ranjang di mana lelaki itu kini terbaring lemah. Chanyeol mengalihkan pandangan ke mesin yang menunjukkan kondisi vital Baekhyun. Masih berdetak.

Kemudian ucapan Sehun tadi terngiang di dalam kepalanya

Tak ada lagi yang bisa dilakukan. Semua sudah menyerah. 

Wajah Baekhyun sudah begitu pucat. 

Dia pun menyerah. Dia hanya sedang menunggumu datang, Chanyeol-ah.

Chanyeol duduk di kursi yang disediakan di sisi ranjang. Sejenak ia menghela napas dan menunduk. “Aku datang, Hyun.” gumamnya, lirih. “Kau menepati janjimu untuk selalu menungguku. Sekarang aku di sini. Lalu apa yang akan terjadi jika aku sudah datang? Apa kau akan berhenti menunggu?” Entah sejak kapan, matanya berkaca-kaca.

Chanyeol mendesah pelan. “Aku merasa jengkel dengan bocah yang terus mengikutiku. Tapi saat aku melihat dia begitu kelaparan, akhirnya aku membelah roti itu menjadi dua dan makan bersamanya. Saat itu entah mengapa aku merasakan kehangatan dan kebahagiaan; saat bocah itu tersenyum. Sampai sekarang senyuman itu masih jadi yang paling kusukai. Kau dengar itu?”

Bodoh. Sampai mulutnya berbusa pun tak akan pernah ada sahutan yang terdengar.

“Aku menemukannya. Alasan mengapa dulu mau menerimamu. Aku mencintaimu.”

Chanyeol kembali menatap Baekhyun dan matanya melebar. Sebelah mata Baekhyun basah. Baekhyun menangis. Baekhyun bisa mendengarnya. Air mata Chanyeol tumpah dan semakin deras. Ia mencondongkan tubuhnya dan menyentuh lengan Baekhyun.

“Hyun ...” panggilnya. “Kau bisa mendengarku?” setetes air mata bergulir turun dari mata Baekhyun yang terpejam, namun Baekhyun tak bergerak sama sekali.

“Aku akan baik-baik saja, Hyun. Kau bisa melihatnya sendiri nanti.” Chanyeol memegang lengan Baekhyun. “Aku akan baik-baik saja.” isaknya pelan. “Aku selalu mencintaimu. Park Chanyeol selalu mencintai Byun Baekhyun.”

Lalu Chanyeol mendengar bunyi panjang dan datar yang membuat bulu kuduknya meremang. Dia mengangkat kepala, menatap monitor penunjuk detak jantung. Hanya ada garis lurus dengan bunyi panjang yang monoton.

Segalanya berlangsung cepat. Pintu kamar terbuka dan orang-orang dengan pakaian serba putih menerobos masuk. Chanyeol tidak menyadari jika Sehun menariknya menjauh dari ranjang dan memeluknya. Sosok Baekhyun menghilang dari pandangannya, ditelan kerumunan orang berbaju putih itu.

Bersamaan dengan itu Detektif Do dan rekannya pun datang. Menyaksikan momen paling menyedihkan di dalam hidup Park Chanyeol; Ketika pada akhirnya penantian Byun Baekhyun usai sebab orang terkasihnya telah datang.

***

Tahun silih berganti. Chanyeol pun dapat kembali menghirup udara kebebasan. Hukuman seumur hidup yang ia terima mendapat keringanan atas sikap baiknya selama berada dalam penjara. Ia pun dibebaskan bersyarat. Dengan langkah ringan ia berjalan meninggalkan penjara dengan disaksikan oleh Detektif Do.

Lima belas tahun ia menunggu dan akhirnya ia bisa berdiri di sini.

“Kau melihatku, Hyun?” rasa sesaknya masih ada kala ia mengingat sosok itu. “Aku berdiri di altar ini untuk memenuhi janjiku padamu. Aku tahu kau tidak di sini lagi. Tapi aku tahu kau ada. Dan kini, di hadapan Tuhan aku ingin mengucapkan sumpah pernikahan; aku telah memilih untuk terus mencintaimu di sisa kehidupanku, Hyun.” 

Chanyeol menoleh ke samping kanan ketika merasakan hembusan angin yang membuat tubuhnya menegang. Itu Baekhyun. Yang berdiri di sampingnya. Matanya memancarkan sorot kebahagiaan dan ia tersenyum .

Aku mencintaimu juga, selalu. ” 

Dan seakan mampu mendengarnya Chanyeol tersenyum.

END

Notes:

Author's Note: Akhirnya selesai setelah revisi berkali-kali. Karena keterbatasan kata mengharuskan saya membuat plot menjadi singkat dan tidak bisa mengeksplore karakter lebih jauh T T. Tapi terima kasih kepada kalian yang sudah membaca sampai selesai, dan terima kasih juga kepada Candy Park yang sudah memberikan saya kesempatan mengikuti fic fest ini