Work Text:
Gojo Satoru.
Dazai Osamu.
Yato.
Dan,
Levi Ackerman.
Rasanya tiada hari terlewati tanpa mendengar nama-nama itu tersebu dan memenuhi gendang telinganya. Bahkan ia pun kerap kali mendengar nama-nama karakter lain ikut disebut setiap kali kesayangannya itu tengah membuka handphone atau laptopnya. Heboh sendiri, teriak-teriak tidak jelas dan terkadang ia temukan prianya tengah menangis sesenggukan entah karena apa.
Mata indahnya akan basah, penuh air mata. Hidung memerah dan cairan berlendir dimana-mana, yang tentu saja berhasil membuatnya panik setengah mati. Takut bila pria manisnya mengalami hal buruk atau semacamnya. Tapi tidak setelah tau apa penyebabnya. Benar. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah karakter dalam anime. Kesal? Iya. Tapi hati tetap tak tega melayangkan amarah.
"Aku tidak rela. Rengoku mati, tetapi musuhnya kabur."
Siapa lagi itu.
Bila sudah begitu, yang bisa Chanyeol lakukan hanya menghela nafas panjang, kemudian mengusap dada dan berusaha tetap sabar menghadapi kesayangannya yang satu ini. Dua tahun hidup di dalam satu atap yang sama sedikit banyaknya membuat dia belajar banyak hal. Kalau melawan dan nekat membuang semua penyebab kecemburuan serta rasa kesalnya itu, pasti akan berdampak sangat besar bagi kehidupannya.
Menyebabkan sesuatu yang tidak enak terjadi.
Oke, itu terdengar seperti dia ini kalah penting dengan cowok gepeng 2D yang tidak nyata.
Kasihan sekali dirimu teman.
Sebenarnya tak masalah jika Baekhyun ingin mengoleksi segunung action figure atau komik-komik anime kesukaannya, atau membeli segala hal tentang semua karakter yang menjadi favorite-nya itu. Mulai dari kalung, foto, pakaian sampai ke alat makan sekalipun. Tak apa, sungguh. Dia tak mempermasalahkan itu semua. Toh, dia sendiripun mengoleksi cukup banyak hal-hal berbau One piece, Luffy lebih tepatnya.
Tapi,
"Bantal Levi kesayanganku mana?"
Rasanya kesal juga kalau dia kalah saing dengan bantal panjang yang setiap malam justru selalu menang banyak, dipeluk setiap malam oleh kesayangannya. Sedangkan dia? Hanya bisa bersabar tanpa bisa menempatkan diri di antara pria manisnya dan bantal.
"Bantalku mana?" Sekali lagi, Baekhyun bertanya. Chanyeol masih bergeming, sementara si kecil Baekhyun sudah mulai merengut, kesal karna tak mendapatkan respon. "Kau menyebalkan!"
Dia berdiri dengan sebelah kaki yang menghentak sebal. Peluh sebesar biji jagung sudah sejak tadi menetes dari pelipis, lelah memutari seisi rumah yang lumayan besar hanya untuk mencari sesuatu yang berharga. Benar. Bantal bergambar full body 'husbando' kesayangannya yang agak ero miliknya itu hilang, tanpa jejak.
Oh, tentu itu adalah masalah besar baginya.
Ibaratnya, makan sayur tanpa garam. Dia tidak bisa tidur bila tak memeluk bantal panjang itu semalaman, rasanya tidak nyenyak, seperti ada yang kurang. Walau dia memiliki tiga bantal serupa dengan gambar berbeda, Bantal Levi itu tetap di hati. Dan malam ini, tentu ia tidak ingin melewati malam dengan meratapi kehilangan bantal kesayangannya.
Yang bertanya akhirnya mulai sebal, tak mendapati jawaban sesuai. Sedang yang ditanya hanya diam seolah tidak tahu menahu. Bukan. Dia memang pura-pura tidak tahu, pura-pura asik menonton serial kartun selepas isya kesukaannya, si kembar kuning dan biru dari negeri tetangga. Tak perlu banyak bertanya bagi Baekhyun untuk tahu, dari gerak-geriknya saja sudah terlihat jelas jika pria besarnya ini memang sengaja.
Oh ayolah! Dia ini cukup pintar membaca karakteristik orang lain, terlebih orang yang satu rumah dengannya. Suaminya sendiri.
Dan jangan lupakan suaminya yang seperti punya dendam kesumat dengan semua karakter kesukaannya yang tiada detik ia lewatkan.
Sebentar, biar kuperkenalkan dulu siapa pasangan menggemaskan yang sering meributkan cowok gepeng ini.
Baekhyun Adiputra. Seorang otaku yang sudah mendedikasikan dirinya untuk cowok gepeng sejak zaman SD, sejak pertama kali serial Naruto tayang di televisi kesayangannya. Indah sekali zaman itu, zaman dimana televisi hanya diisi dengan banyak serial anime atau k-drama, banyak tanyangan bermutu. Tidak seperti sekarang yang justru semua isinya membosankan. Bagi dirinya, tidak tahu bila bagi orang lain.
Dan yang selalu mencemburui husbando kesayangannya adalah,
Chanyeol Prayoga. Anak satu-satunya dalam keluarga, sedikit cuek walaupun isinya tidak secuek dan tidak sejutek yang orang-orang bayangkan. Pecinta One piece terutama Monkey D. Luffy. Tapi meskipun begitu, dia terkadang mendeklarasikan dirinya sebagai anti cowok-cowok gepeng kala tingkah kesayangannya sudah kumat. Cemburu? Tentu. Pada cowok gepeng? Iya! Ayolah, cemburu itu terkadang tak kenal umur, jenis kelamin atau apapun itu.
Intinya, dia tidak suka kalah saing.
Kembali lagi.
"Kamu sembunyikan dimana bantalku?"
Masih diam, sok ketawa-ketiwi padahal tak ada satupun adegan lucu di sana. Apanya memang yang lucu dari hewan yang sedang bicara 'ppasipapasi' itu? pikir Baekhyun dalam hati.
"Mas!"
Baekhyun memanggil lagi. Kali ini nada suaranya mulai sedikit tinggi. Merajuk, kesal.
"Ha? Apa, Dek?"
Tanpa sadar bibirnya semakin mengerucut, semakin maju seolah sedang menunjukkan kekesalannya. Meskipun dia lebih tua dari suaminya, tapi sikap dan sifatnya memang sedikit kekanakan. Well, Chanyeol sangat memaklumi itu. Oh justru nampaknya dia sedang menahan gemas saat ini. Istrinya menggemaskan!
"Mas lihat bantal Levi kesayanganku tidak? Tadi dijemur di depan."
Panggilannya berubah Mas dan Adek, tandanya si kecil itu sedang mencoba merayunya. Mungkin, sadar jika batalnya itu Chanyeol sembunyikan. Padahal, bantal itu sudah Chanyeol buang jauh-jauh.
"Diambil orang kali," sahut Chanyeol cepat tanpa menatal balik Baekhyun, masih asik menatap ke arah televisi.
Baekhyun merengut, lagi. "Mana mungkin! Pagar rumah saja masih terkunci saat aku menjemurnya di luar!"
"Dek, jangan gemes-gemes, Mas tidak tahan lihatnya."
"Chanyeol Prayoga, aku serius! Jangan alihkan pembicaraan!"
Oke, panggilannya berubah lagi. Nadanya juga semakin menyeramkan.
Baekhyun yang tengah menyebut nama Chanyeol secara lengkap adalah sebuah pertanda serius. Menandakan jika tingkat kekesalannya sudah bertambah, hampir berada di level tertinggi. Berbahaya bila tetap dibiarkan.
Pipi Baekhyun menggelembung sesekali, mendengus-dengus kesal setelahnya. "Aku tidak bisa tidur tanpa bantal itu, tidak bisa kalo tidak peluk Levi kesayanganku!"
Chanyeol menatapnya dengan datar kali ini, wajahnya kembali menghadap ke arah tv dan dengan santainya berkata,
"Oh. maaf ya, sudah Mas buang. Biar cukup Mas aja yang Adek peluk-peluk."
Tentu.
Perkataan itu udah cukup memantik perang dunia kesekian di rumah itu.
"Aku tidur di kamar sebelah, kamu jangam coba-coba masuk hmph!"
"Loh kok gitu?"
"Biarin!"
Chanyeol panik. "Tapi aku kan tidak bisa tidur tanpa peluk kamu loh."
"Emang aku peduli? Dasar tega!"
Sungguh malam yang berat.
Entah karena terlalu cinta atau terlalu bucin, akhirnya Chanyeol mengalah saja. Niat hati mencari bantal yang dibuang, tapi hati menolak keras. Biarpun jarang ia tampakan karena gengsinya tinggi, tapi jujur saja dia cemburu. Tidak elit sekali memang, cemburu pada bantal. Tapi ayolah, dia tidak tahan melihat istri tersayangnya itu setiap malam memeluk erat bantalnya sambil dia ciumi seolah bantal itu hidup.
Sedangkan ia hanya bisa berharap Baekhyun akan memeluk balik dirinya.
Sedih sekali.
Itu baru masalah bantal. Minggu lalu mereka bahkan hampir bertengkar hebat hanya karena memilih nama untuk bayi yang akan mereka adopsi di masa depan.
"Kalau kita jadi mengadopsi bayi, kira-kira nama yang cocok apa, ya? Mas masih belum memilih nama."
"Ung, mungkin akan kunamai Levi Akbar atau Erwin Irawan. Kalau perempuan, hm... Nobara Pratiwi."
Sudah bisa ditebak, ekspresi apa yang Chanyeol perlihatkan saat itu?
Benar.
Datar.
Ekspresi yang begitu datar seolah tengah mengatakan,
Untung cinta, untung istriku sayang.
Dan dengan polosnya Baekhyun malah kembali ketawa-ketiwi sambil mengelus perutnya seolah dia sedang benar-benar mengandung bayi.
Seharusnya itu menjadi adegan yang teramat menggemaskan di matanya, tapi pernyataan yang baru saja terlontar itu menbuatnya jadi berpikir ulang. Cowok gepeng di rumah ini berjaya sekali rasanya.
Ironis sekali.
Dulu Baekhyun yang bucin habis-habisan padanya dikala dia cuek bebek, tak ingin dikejar dan risih. Sekarang, setelah mereka menikah justru dia yang menjadi bucin tingkat akut, takut sekali kehilangan teman hidupnya itu. Level bucinnya mungkin sudah tak terukur lagi.
Karma memang nyata kawan.
"Pengen peluk."
Dan malam panjang itu dia lewati dengan terbangun setiap jam hingga pagi menjelang.
.
.
.
Sudah tertebak, paginya perang masih berlanjut.
Namun meskipun begitu, Baekhyun ini bukan tipikal orang yang akan melupakan kewajibannya bila sedang marah dan merajuk. Nyatanya dia masih menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik untuk Chanyeol. Masak, menyiapkan sarapan, menyiapkan pakaian suaminya dan juga membereskan kamar. Tak lupa untuk membantu suaminya ketika dimintai tolong dan tetap berbakti dengan tidak mengabaikan.
Saat ditanyapun Baekhyun masih tetap menjawab, walaupun tak sebanyak dan tak sebawel biasanya. Tidak banyak bergelayut manja padanya. Plus, tanpa memberikan Chanyeol ciuman selamat pagi.
Apes sekali dia.
Kantuknya masih ada, kantung matanya terasa menebal dan tubuhnya serasa lemas tanpa tenaga. Tidur tanpa belahan jiwanya memang sesuatu yang menyiksa untuknya. Dingin, sepi dan hampa sekali. Kapok. Tapi tak tahan kalau harus kembali bersaing dengan cowok gepeng yang bisa hidup saja tidak. Oh sungguh, hidup memang berat.
Baekhyunnya ia tahan dengan segera kala lelaki itu hendak melewatinya, masih terus berusaha mencari cara mendapat energi di pagi hari, masih berusaha mengambil hati pria manisnya. Meskipun hari ini kebetulan adalah hari minggu, tetapi ia tetap harus mendapatkan energi untuk melengkapi hari agar semakin cerah. Moodnya harus baik dan semua itu hanya bisa ia dapatkan dari pasangan hidupnya.
Drama sekali memang dia itu, tetapi itulah kenyataannya. Bagi Chanyeol, Baekhyun itu segalanya.
"Kecupnya mana?"
"Kapan-kapan," jawab Baekhyun, datar.
Kali ini, Chanyeol yang berubah jadi sok manis, sok imut supaya Baekhyun luluh hatinya. Bibirnya merengut minta dimanja, minta segera diberikan kecupan. "Aku mau ke depan beli jajanan kesukaanmu itu loh, tapi gak bisa berangkat kalau belum dapat kecupan seperti biasanya. Ayolah."
"Bantal."
Fiuh, oke dia menyerah.
Tidak dapat ciuman sama saja dengan tidak makan. Sudah tak tahan dia.
"Iya, nanti aku kembalikan bantal Levimu, Dek. Tapi cium dan panggil Mas dengan gaya yang imut dulu," ucapnya. "Dan kecupnya harus di kening, mata, hidung, pipi dan juga bibir."
"Banyak sekali."
"Anggap saja kopensasi karena kau selalu memeluk bantal kesayanganmu itu tiap malam, bukan aku. Selalu menciuminya, di depan mataku."
Gemas sekali.
Ada kalanya Baekhyun juga merasa kesal pada pria tingginya, namun di satu waktu itu pun merasa senang karenanya. Walau Chanyeol ini kadang cuek bebek dan sok jutek, gengsian dan jarang mau menerima ajakannya untuk berpegangan tangan di muka umum . Tetap saja kalau sudah manjanya kumat, dia jadi berbeda 360 derajat. Jadi menggemaskan. Jadi membuatnya semakin mencinta, lagi da lagi.
"Oke, baiklah, Mas Chanyeolkuu~!!"
Dengan gerakan lembut, Baekhyun menunduk, menangkup kedua pipi si jangkung yang kini tengah terduduk di sofa, kemudian dia kecup satu persatu bagian sesuai permintaan sang suami. Dalam hati, berbunga-bunga rasanya. Cintanya seperti membludak, geli perutnya saat Chanyeol kini mulai merengkuh pinggangnya dan membalas mencium bibirnya tak kalah lembut. Rasa kesalnya seperti hilang, menguap entah pergi kemana.
Dia mencintai Levi, tapi lebih mencintai Chanyeolnya.
"Masih kurang," Chanyeol berbisik, minta tambah.
"Ada selimut bergambar Levi di toko Online langgananku, sepertinya aku mau itu untuk ganti kalau selimut yang biasa kupakai itu sedang dicuci."
Lagi, Chanyeol hanya bisa mengalah, mengiyakan permintaan Baekhyun agar kembali bisa mendapatkan tambahan jatah ciuman di pagi hari yang cerah.
"Aku bahkan bisa membelikan barang yang lain yang kau mau, apa saja. Tapi asal kau menuruti permintaanku."
Chanyeol meraih pergelangan tangan si kecil, mengangkat tubuhnya dengan mudah untuk kemudian dia pangku. Kedua lengannya melingkar nyaman di pinggang Baekhyun, saling bertautan jemari tanganya. Tak ingin pria mungil kesayangannya ini jatuh terjerembab ke belakang. Satu kecupan di kening menjadi awal sebelum senyum manis terkembang di bibir si tinggi.
Baekhyun menaikan sebelah alisnya tak paham, Chanyeol hanya asik memandang wajahnya hingga mulai memanas permukaan pipinya. Ingin mengalihkan pandangan, namun apalah daya tak mampu. Tatapan Chanyeol seolah menjeratnya, membuatnya tak bisa sedikitpun mengalihkan pandangannya. Ingin bertanya, tak berani. Entahlah, Chanyeol seperti punya karismanya sendiri, punya sesuatu yang selalu membuatnya terkadang tak bisa membantah.
Satu kecupan kembali mendarat di pipi satunya sebelum Chanyeol membuka suaranya, "Aku akan membelikan apapun yang kau mau, asalkan kau harus berjanji padaku."
"Janji apa?"
"Kau boleh memeluk bantal Levimu itu, tapi dengan catatan kau harus menuruti semua kemauanku meskipun aneh-aneh."
Oh.
Dari senyuman menjengkelkan itupun Baekhyun sudah sangat tahu, hal aneh apa yang tengah dia pikirkan. Yang jelas, itu bukanlah hal baik. Bisa jadi, hal-hal aneh itu akan membuatnya tersiksa, membuat dirinya bahkan harus menahan malu.
"Harus, ya?"
Chanyeol menggidikan bahunya. "Kalau kau tak mau bantal Levimu kembali ya tak apa," ucap Chanyeol cuek. "Dan kau akan melewatkan kesempatan membeli semua barang yang kau mau."
Rasanya ingin sekali menolak. Persyaratan dari Chanyeol terlalu sulit untuk dirinya. Tapi, dia tak ada pilihan selain menjawab Chanyeol dengan kata 'iya'. Selain karena ia tak ingin terus-terusan bertengkar dengan Chanyeolnya hanya karena masalah sepele, ia juga masih memiliki banyak wishlist yang ingin ia wujudkan sesegera mungkin. Tak sabar memenuhi semua lemari kacanya dengan barang-barang menggemaskan.
Bisa saja sebenarnya ia memakai uangnya sendiri. Tetapi dirinya dan Chanyeol sudah sepakat bila semua kebutuhannya akan dipenuhi oleh Chanyeol sebagai kepala keluarga. Dan uangnya itu akan ditabung untuk hal-hal tak terduga yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Untuk kebutuhan mendesak.
Baekhyun menggelembungkan kedua belah pipinya, kemudian mengangguk dan menjawab, "Iya, aku mau."
Chanyeol tentu bersorak kegirangan, kembali memeluk Baekhyun dengan perasaan bahagia.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Levi."
Baekhyun langsung tergelak geli ketika melihat raut wajah Chanyeol yang berubah cepat. Dia senang sekali menggoda pria tingginya, senang saat Chanyeol cemburu. Dia jadi semakin merasa dicintai, merasa jika Chanyeol begitu takut kehilangannya. Baekhyun mengekeh sekali lagi, kemudian menarik pucuk hidung Chanyeol sebelum mengecup pangkal hidungnya dengan gemas.
Ah, siapapun yang melihat interaksi keduanya pun akan tahu, jika mereka sama-sama saling mencintai.
Pancaran mata, tak pernah bisa berbohong.
"Aku juga sangat mencintaimu, Park Chanyeol."
"Kalau begitu, aku atau Levi Ackerman?"
"Chanyeolku."
"Aku atau Gojo Satoru?"
Baekhyun mengekeh. "Tentu saja priaku, suamiku tersayang, Park Chanyeol."
"Baiklah satu lagi. Aku atau--"
Chup.
Kalimat itu Baekhyun potong dengan cepat dengan sebuah kecupan. Terus berlanjut bila Chanyeol akan kembali mengulang pertanyaan. Senyumnya terkembang lebar, manis sekali. Tanpa mengucap satu patah katapun, Baekhyun terus mengantarkan cinta dan kasihnya pada Chanyeol. Dunia bahkan harus tahu, bila satu-satunya yang ia cintai itu bukan Levi atau karakter 2D lainnya, melainkan Chanyeol Park. Teman, sahabat, kakak, dan suaminya. Sosok yang selalu bisa membuatnya nyaman dalam segala hal.
"Masih kurang juga?" tanya Baekhyun, mengalungkan lengan di leher Chanyeol, menatapnya dengan binar-binar yang cantik.
Chanyeol akhirnya menggeleng, memilih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Baekhyun. "Tidak."
"Mas, kau tahu siapa orang yang paling aku cintai. Sejak pertama, tidak berubah dan tidak berkurang. Cintaku kepadamu justru terus bertambah. Tidak percaya? Buktinya aku berada di sisimu kini, meskipun dulu kau itu terus saja menolakku."
"Oke, mari lupakan masa lalu yang menyebalkan itu. Aku juga kesal sendiri karena pernah menolak bidadari secantik dirimu."
Baekhyun merotasikan bola matanya, lalu mendengus kesal. Malu, lebih tepatnya. Belah pipinya merona merah. Lucu. "Dasar tukang gombal!" katanya, meledek.
"Biar saja! Ayo cium aku lagi dan kita langsung membeli apa saja yang kamu mau."
Chup.
Chup .
Chanyeol bersorak senang sekali lagi, merasa puas.
Tubuh Baekhyun kemudian berubah posisi, berada di antara kedua kakinya kini. Pria mungilnya bersandar nyaman padanya, dan dia bisa asik menciumi tengkuk si manis yang mulai membuka layar ponselnya, mulai memilih barang-barang apa saja yang akan dibelinya. Tak apa. Bahkan bila Baekhyunnya ingin membeli barang yang cukup mahal sekalipun, ia akan tetap menuruti. Toh, ia bekerja keras demi membahagiakan Baekhyun.
"Aku mau yang ini juga, ya!"
Chanyeol mengangguk. "Piluh apapun yang kau mau, Dek. Mas nanti tinggal bayar saja. Gampang."
Dan pertengkaran mereka di hari yang lalu pun berakhir dengan kecupan-kecupan manis yang terus dilayangkan keduanya, saling menebar keromantisan seolah lupa jika mereka sempat bertengkar kemarin.
