Work Text:
Halaman 1 :
Namanya Byun Baekhyun, sekarang dia adalah temanku.
Anak laki-laki itu menutup buku dengan sampul berwarna biru. Sebuah buku yang baru dibelinya tadi, yang kali ini akan digunakan untuk menulis cerita baru. Pada lembar pertama ia menuliskan sebuah nama dan statusnya dengan si pemilik nama.
“Kamu sedang menulis apa sampai senyum-senyum seperti itu?”
Si punya nama ada di sana, berlutut di sebelahnya.
“Ah, bukan apa-apa.” Begitu jawabnya, ia pun segera menutup buku berwarna bira dengan sampul depan bagian atasnya terisi gumpalan awan-awan putih yang memperindah buku tersebut.
Si pemilik nama mendengus, “Aku bersihkan dahulu ya lukanya pakai obat kuning.”
“Baekhyun, pelan-pelan! Sakit!”
“Aku bahkan belum memulainya, Chanyeol.”
Namanya Park Chanyeol, baru saja jatuh dari sepeda anginnya, lututnya lecet. Layaknya cerita picisan pada umumnya, seseorang dalam wujud anak laki-laki di hadapannya —dengan sweater juga celana training putih serta sepatu berwarna senada, lengkap dengan earpods yang terpasang di telinga— datang membantunya.
“Sudah selesai. Tidak sakitkan?” Tanya Baekhyun usai ia memasang plester luka berwarna biru langit dengan karakter matahari tersenyum.
Chanyeol menganggukkan kepala dan Baekhyun tersenyum.
“Biar aku antar kamu pulang, biar aku yang bawa sepedamu.”
Chanyeol sama sekali tidak menolak, sebenarnya ia bisa membawa sepedanya sendiruan namun saat itu ia memilih opsi yang lain.
Diantar pulang. Seperti itu hatinya memilih.
Halaman 2 :
Baekhyun baik.
Baekhyun yang menolongku jatuh dari sepeda, dia juga yang mengantarkanku pulang ke rumah. Baekhyun baik, itulah mengapa aku mengajaknya berteman.
Halaman 3 :
Baekhyun murid baru di sekolahku, tipikal anak baru yang ramah, ceria, juga murah senyum. Baekhyun banyak disukai di hari pertamanya.
Aku juga menyukainya hehe...
Oh ya, dia duduk di sebelahku. Kami sekelas.
Seperti itu awal pertemuan mereka, dan mereka remaja berusia enam belas. Cerita mereka baru akan dimulai.
Halaman 4:
Baekhyun mengajakku makan di kantin.
Halaman 5:
Kami pulang sekolah bersama .
Halaman 6:
Baekhyun datang lebih awal pagi ini, dia membantuku piket. Baekhyun baik, dia sangat baik kepadaku.
Halaman 7:
Aku tidak tahu apakah Baekhyun sudah dengar dari teman-temanku. Tapi dia masih bersikap baik kepadaku.
“Kamu kenapa?” Tanya Baekhyun yang fokus pada tulisannya, ia tengah menyalin tulisan di papan, padahal sekarang sudah memasuki jam istirahat.
“Chanyeol, kamu kenapa?” Kali ini kepalanya menoleh ke arah Chanyeol di sebelahnya.
Chanyeol tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Mau mendengarkan lagu?” Tawar Baekhyun.
Chanyeol mengangguk sembari mengangkat sudut bibirnya lebih tinggi lagi dan Baekhyun melepaskan sebelah earpodsnya dan dengan inisiatifnya ia langsung memasangkannya pada telinga unik Chanyeol.
Mereka sama-sama tersenyum, sebelum akhirnya Baekhyun kembali fokus pada salinannya dan Chanyeol masih menatap Baekhyun sembari lagu yang mereka dengarkan berganti.
‘I Knew I Loved You’ milik Savage Garden terdengar di masing-masing telinga mereka.
Seiring sang penyanyi menyanyikan lirik demi lirik lagunya, saat itu pula Chanyeol menyangga dagunya dengan tangan, masih dengan tatapannya yang tak lepas dari satu objek di depannya.
Byun Baekhyun.
Sedang objek tersebut kini tengah merapihkan poninya yang sedikit panjang, menyelipkannya sendiri pada cela daun telinganya.
Chanyeol terpesona.
Halaman 8:
I knew i loved you, B.
—
Seminggu telah berlalu dan hari ini adalah jadwal olahraga untuk kelas mereka.
“Kamu bisa bermain basket?” Baekhyun bertanya sambil ia mengeluarkan baju olahraga dari dalam tasnya.
“Bisa! Aku paling jago disini.” Jawaban dari Chanyeol begitu antusias, seolah spirit seribu persen ada dalam dirinya.
“Bisa ajarkan aku terlebih dahulu? Aku gak bisa main dan hari ini langsung pengambilan nilai.” Ucap Baekhyun dengan pengeucapan yang kian mencicit di akhir kalimat.
“ Anything for you .” Kata Chanyeol, dengan senyuman, dengan kekehan senang, dan dengan rambut Baekhyun yang ia usak menggunakan tangan kanan.
Mereka bergegas ke ruang ganti bersama, berjalan beriringan. Dan usai mengganti seragam dengan baju olahraga keduanya menuju lapangan, masih berjalan bersama—beriringan.
Chanyeol menepati ucapannya, ia membantu Baekhyun berlatih sebentar. Men dribble bola basket, mengoper, dan memasukkannya ke dalam ring . Dalam waktu singkat, Baekhyun mampu menyerap dasarnya dengan singkat, dan ia sekarang sedang mencoba berlarih berdua bersama Chanyeol.
Baekhyun mendribble bolanya, membawanya untuk masuk ke dalam ring, dan ia tak lupa untuk menghalangi Chanyeol sebagai lawan mainnya—di mana Chanyeol hendak merebut bola basket darinya.
Sedikit tabrakan badan saat Chanyeol berusaha mengambil bola tersebut, sedikit sentuhan kulit saat Chanyeol hendak berhasil merebutnya, dan entah bagaimana Chanyeol mengukung Baekhyun dalam bentuk pelukan dari belakang, membuat bola basket memantul bebas saat Baekhyun melepaskan dribble-annya.
“Yak! Ahahaha aku tidak bisa bergerak, Chanyeol!” Baekhyun sedikit berteriak dan diiringi dengan suara tawa khasnya.
Chanyeol baru menyadarinya, sebelum detakan jantungnya semakin meledak-ledak, maka ia lepaskan pelukan dari belakang yang tidak disengaja itu, “S-sorry...”
“No problem, lebih baik kita bergegas ke tengah lapangan. Guru sudah memanggil.”
Baekhyun berlalu usai mengambil bola basket dan Chanyeol hanya berdiri mematung sembari memandang kedua lengannya lalu mengelus dada kirinya.
“Chanyeol ayo!”
Kemudian ia menyusul Baekhyun.
Halaman 30:
Baekhyun kecil. Dia mungil sekali. Rasanya begitu nyaman saat memeluknya tadi. Apakah dia juga merasakannya? Apakah kamu juga merasakan hal yang sama seperti aku rasakan, Hyun?
Sekolah hari itu diakhir dengan pelajaran matematika, untuk pertama kalinya Chanyeol tidak memperhatikan guru yang tengah menerangkan di depan sana. Ia lebih fokus pada buku biru bersampul awan, mencoret-coret pada bagian kosong di halaman tiga puluh satu itu.
Bel pulang berbunyi, seperti biasa Chanyeol dan Baekhyun pulang bersama. Berjalan menuju halte bis yang tak jauh dari sekolah mereka.
Seperti lem dan perangko, mereka berjalan tanpa jarak—saling menempel. Dengan Chanyeol yang fokus pada jala, sesekali pada anak laki-laki yang tingginya jauh berbeda dengannya, sementara Baekhyun dengan earpods yang terpasang di kedua telinganya juga mata yang fokus pada ponselnya.
Saat anak laki-laki mungil itu hendak menabrak tong sampah di depannya, Chanyeol dengan sigap menariknya, “Kamu lihat apa sih? Kalau lagi jalan lihat ke depan, Hyun!“ Ucapnya sedikit kesal, yang ia sendiri kurang begitu paham apa penyebabnya.
“Hehe...” Baekhyun hanya terkekeh, “Kamu tahu tidak? Kak Jun mau kenalin aku ke adiknya.” Ucap Baekhyun dengan antusias.
“Kamu kenal dia darimana?” Tanya Chanyeol.
“Jadi beberapa hari lalu aku apply buat padus kan. Terus kata ketuanya bisa langsung gabung latihan gitu, dan latihannya di rumah dia. Awalnya aku kira latihan tapi ternyata sejenis welcome party gitu karena ada anggota baru yang masuk.” Jelasnya.
“Oh.”
“Iyaaa. Menurut kamu gimana?”
“Dia cantik?” Chanyeol bertanya sedikit ragu.
Baekhyun yang sedaritadi fokus pada ponselnya menjawab, “Cantik.” Pipi Baekhyun bersemu.
Chanyeol melihatnya namun lawan bicaranya itu sebaliknya, Baekhyun sama sekali tidak memperhatikannya.
“Kalau dia cantik, kenalan aja, temui dia. Mana coba aku mau lihat.” Ujar Chanyeol dan ia hendak merebut ponsel Baekhyun.
“Hehe tidak boleh! Nanti kamu yang suka sama dia!” Baekhyun menepis tangan Chanyeol dan ia berlari menghindar.
Chanyeol diam di tempat, hanya menatap Baekhyun yang berlarian dengan tawa riangnya.
“Aku sukanya kamu.” Lirih Chanyeol, yang sudah jelas bahwa Baekhyun tidak mampu mendengarnya.
“Chanyeol ayo! Nanti kita ketinggalan bis!” Baekhyun berteriak dan sebelum Chanyeol melangkah, ia sempat menyuguhkan seulas senyumnya.
Mereka kembali berjalan beriringan, tidak jauh di depan mereka ada sepasang gadis yang dengan seragam yang berbeda. Dua gadis tersebut berjalan sambil bergandengan tangan dengan salah satu di antaranya menyandarkan kepala pada yang lebih tinggi.
“Chanyeol, lihat mereka.” Bisik Baekhyun tepat di sebelah Chanyeol, “Menurut kamu gimana?”
“Mereka sepasang kekasih?” Tebaknya.
“Dunno. Sepertinya begitu. Aneh gak?” Tanya Baekhyun.
Terdapat jeda yang cukup lama, seolah Chanyeol tengah memikirkan jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan yang baru saja Baekhyun beri kepadanya. Pada jeda itu, langkah keduanya masih berjalan beriringan, dengan kaki yang bergerak bersamaan.
Baekhyun kanan, Chanyeol kanan, lanjut kiri, dan masih berjalan bersamaan.
“Aneh ya?” Interupsinya lagi.
“Menurut kamu?” Chanyeol balik bertanya.
“Hmmm...” Baekhyun tampak tengah memikirkan sesuatu, “Mungkin tidak aneh. Tapi mungkin lebih baik kita tidak berada di sekitar mereka.”
Baekhyun masih berjalan melangkah, namun Chanyeol diam di tempat.
Dan hari itu berakhir dengan mereka yang pulang secara terpisah.
Halaman 31:
Baekhyun tidak suka kepadaku :)
—
Hari-hari setelahnya Chanyeol mencoba menjaga jarak dengan Baekhyun, membiarkan anak laki-laki mungil itu bermain dengan siapa saja asal bukan dirinya. Tepat bel istirahat berbunyi, Chanyeol segera keluar kelas dan berjalan menuju perpustakaan sekolah.
“Kamu marah?”
Itu suara Baekhyun, ia muncul tepat di depan Chanyeol saat lelaki tinggi itu mendudukkan pantatnya di kursi.
“Kamu marah sama aku?” Tanya Baekhyun lagi, “Kamu sengaja menghindar dari aku? Aku ada salah ya sama kamu?”
“Kamu bisa berteman dengan siapapun, Baekhyun. Tidak harus selalu dengan aku kan?”
“Tapi aku mau berteman sama kamu juga, Chanyeol. Kamu teman pertamaku.”
“Kamu pasti sudah tahu tentang aku. Anak-anak lainnya pasti membicarakan hal buruk tentang aku.”
“Belum. Aku belum tahu tentang kamu dan aku mau tahu tentang kamu, dari kamu sendiri, Chanyeol.”
Mata mereka masih saling bertemu, dan Chanyeol menelisik lebih dalam untuk mencari kepura-puraan dari sabit milik Baekhyun mengenai apa yang baru lelaki itu ucapkan.
“Baek—”
“Hoam~ kamu belajar saja, aku tidak akan mengganggumu. Aku numpang tidur disini. Jika aku mendengkur tolong biarkan saja sampai bel masuk berdering.”
Baekhyun menempelkan sisi kiri kepalanya di antara lipatan kedua tangannya di atas meja, lelaki itu memejamkan matanya dengan lembut bersiap menuju alam mimpi dan masih ada sisa senyumnya yang tersisa di paras cantik lelaki tersebut.
Halaman 64:
Baekhyun ingin mengenalku katanya, dia ingin mengenalku dari aku sendiri, bukan dari perkataan orang lain. Entah kenapa aku merasa senang hehe...
Halaman 65:
Baekhyun tertidur di depanku. Dia cantik, sangat cantik.
Chanyeol ikut menumpukan kepalanya menatap paras cantik lelaki di depannya itu dan perlahan kedua sudut bibirnya tertarik berlawanan, sangat lebar.
‘Chanyeol sadar. Lebih baik kamu sekarang lanjut belajar.’ Batinnya dan ia segera menegapkan badannya.
Namun Chanyeol tak sepenuhnya fokus pada buku yang dibacanya, sesekali matanya melirik lelaki di depannya, masih memejamkan matanya.
Dan pada lirikan kesekian, ia melihat Baekhyun yang mulai mengerutkan kening serta alisnya. Cahaya matahari yang menembus jendela itu menyinari paras cantik temannya itu, Baekhyun terlihat semakin cantik namun sinar matahari hampir mengganggu tidur nyenyaknya. Maka Chanyeol menggantungkan telapak tangannya di udara, menghalau sinar matahari agar tak menerpa langsung ke arah Baekhyun.
Satu detik. Dua detik. Ti—
Baekhyun perlahan membuka matanya, menarik telapak tangan Chanyeol yang menggantung di udara, membawanya masuk ke dalam lipatan tangannya, kemudian menjadikannya tumpuan kepala.
Sepersekian sekon mata keduanya sempat bertemu dan senyum dibalas dengan senyuman, sebelum akhirnya Baekhyun kembali memejamkan matanya.
Untuk saat ini Chanyeol tidak ingin memikirkan apapun, ia hanya ingin menikmati perasaan asing seperti saat ini. Rasanya jauh berdebar dan terasa lebih indah dari yang pernah ia rasa.
Untuk saat ini, Chanyeol ingin membiarkannya seperti itu.
Halaman 66:
Tangan Baekhyun dingin. Tapi menjadi hangat saat bertemu dengan tanganku.
—
Enam bulan telah berlalu dan hari ini adalah hari terakhir ujian tengah semester.
“Menyebalkan. Kenapa matematika harus diletakkin di hari terakhir coba? Mood belajar juga sudah hilang kali.” Baekhyun mendumal.
Chanyeol hanya menanggapi dengan kekehan, sembari mereka berjalan menuju ke halte.
“Chanyeol aku sedang kesal! Jangan tertawa!”
Namun Chanyeol justru melebarkan tawanya.
“Ish! Menyebalkan!” Lalu Baekhyun memberikan cubitan-cubitan kecil di perut Chanyeol.
“Baekhyun sakit ahaha geli.”
Cubitan yang perlahan berganti kelitikan di peut yang lebih tinggi, membuat tawa Chanyeol semakin membesar dibarengi dengan suara kesal milik Baekhyun. Tapi Baekhyun tidak menghentikan aksinya, justru ia semakin membabi buta. Hingga keseimbangan Chanyeol hilang, membuat lelaki bertubuh tinggi besar itu limbun dan jatuh ke jalan, disusul Baekhyun yang berada di atasnya—tepat diatas tubuh Chanyeol, tanpa jarak, hanya kepala mereka yang sungguh-sungguh sangat dekat.
Untuk sepersekian detik, keduanya terdiam dan merasa yang berada di sekitar ikut terdiam.
Untuk sepersekian detik, mata mereka yang bertemu pandang seolah tengah menyuarakan.
Untuk sepersekian detik, jantung mereka membantu memberi jawaban.
Degupannya diluar irama normal, entah perasaan seperti apa pastinya. Apakah kewaspadaan? Sebuah kecemasan? Atau mengenai tentang perasaan?
Satu yang pasti, Chanyeol feel so hard . Ia jatuh cinta teramat sangat.
Dan mereka tersadar saat sunyi telah hilang, saat sunyi telah tergantikan, dengan bisikan-bisikan yang mungkin tidak ingin telinga dengar.
“S-sorry...” Ucap Baekhyun tergagap begitu ia bangun lebih dahulu.
Chanyeol pun sama, ia berdiri dan berucap lirih, “Tidak apa-apa. Ayo kita pulang sebelum benar-benar tertinggal bis hehe.”
Halaman 201:
Aku merasakan jantung Baekhyun berdebar begitu kencang. Apa kamu juga merasakan apa yang aku rasa?
—
Sehari setelahnya, teman-teman sekolahnya memberikan julukan untuk Chanyeol dan Baekhyun.
“Ini dia pasangan homo kita!”
“Kasih jalan untuk pasangan gay!”
“Menjijikkan!”
Halaman 202:
Mereka membenci kami.
“Kalian salah paham! Aku dan Chanyeol hanya berteman.” Baekhyun berbicara di depan kelas, memberikan sedikit penjelasan.
Dan bagai ucapan magis, banyak dari teman-temannya mempercayai itu—faktanya juga seperti itu bukan? Bahwa Chanyeol dan Baekhyun tidak lebih dari teman.
Halaman 203:
Baekhyun hanya menganggapku teman.
—
Enam bulan berlalu, teman-teman Chanyeol semakin mengucilkan dirinya, namun tidak dengan Baekhyun. Lelaki itu tetap setia berada disisinya.
“Akhirnya liburrrr!!!” Teriak Baekhyun begitu ia keluar dari kelas. Chanyeol yang berada di sampingnya hanya menutup sebelah telinga karena teriakan lelaki mungil itu.
Untuk kesekian kalinya, mereka berjalan bersama menuju halte.
“Chanyeol, kita liburan bersama yuk!”
“Kemana?“
“Kemana saja asal sama kamu. Aku tidak masalah dimana dan kapanpun asal sebelum musim berganti.”
“Kamu mau pergi kemana?”
“Tidak kemana-mana?”
“Lalu kenapa?”
“Bagaimana dengan pantai?” Usul Baekhyun, Chanyeol tahu lelaki mungil itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Boleh. Kita berangkat lusa?”
“Besok! Kita mulai liburannya besok! Kita ke pantai besok!” Balas Baekhyun begitu antusias.
“Oke. Besok.” Chanyeol membalasnya lebih kalem.
Halaman 347:
Kami akan liburan ke pantai bersama.
—
Mereka telah siap untuk menghabiskan waktu di pantai dan ini adalah pantai ketujuh yang akan mereka datangi bersama. Lengkap dengan pakaian santai dengan warna hampir sama, mereka masuk ke dalam bis yang berbeda dari yang sebelumnya mereka naiki, menuju lokasi yang lebih jauh dari biasanya.
Mereka berdua duduk sebelahan dengan Baekhyun di dekat jendela.
“Lihatlah, mereja terlihat seperti sepasang kekasih.”
“Oh, jangan-jangan mereka pasangan sesama jenis?”
“Maksud kamu gay?”
Dan bisikan-bisikan itu berganti menjadi alunan musik, Baekhyun memasangkan sebelah earpods nya ke telinga Chanyeol. Mereka saling melempar senyum.
Chanyeol sendiri masih belum bisa menebak seperti apa perasaan Baekhyun kepadanya, mungkin nanti saat yang tepat untuk ia bertanya, jika dirinya berani menanyakan. Karena sekali Chanyeol bertanya akan ada dua kemungkinan, mendapat balasan yang sama dari Baekhyun atau kemungkinan terburuk berupa Baekhyun yang akan meninggalkannya.
Hari itu Chanyeol mendapat jawabannya.
Dalam buku biru bersampul awan miliknya.
Halaman 360:
Hehe hallo Chanyeol... Saat kamu baca ini kamu akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maaf lancang karena aku menulisnya disini. Buku ini tentang aku ya? soalnya ada banyak namaku di dalamnya ehehehe. Kamu pasti bingungkan kenapa aku masih terus dan selalu disisi kamu? Itu karena aku nyaman, senang, dan kamu adalah teman pertamaku disini. Perlu kamu tahu, bahwa kita itu sama. Ada banyak yang mau aku ceritakan sama kamu, tapi sepertinya tidak akan pernah keluar langsung dari bibirku.
Pertama, alasan aku dipindahkan karena orang tuaku mau aku sembuh hehe, ironi ya. Sebab ini bukan penyakit yang bisa sembuh hanya dengan obat.
Kedua, maaf telah bilang bahwa kita harus jaga jarak dengan mereka yang sama seperti kita. Karena aku tidak mau kamu jatuh lebih dalam seperti aku. Tapi nyatanya kita salah. Kita saling jatuh sama-sama:')
Ketiga, Terimakasih atas waktunya yang indah selama disini.
Note: aku ambil halaman 8 dan 31 ya. Lupakan aku ya! Kita sembuh sama-sama:)
Your friend, Baekhyun.
—
Don't tell me that it's over
The book of you & I
Now you've scribbled out my name and you erased my favourite lines
There were so many chapters that we never got to write
Masih banyak halaman yang belum terisi, namun harus disudahi tanpa perlu untuk diawali.
