Actions

Work Header

MAZE

Summary:

Kokonoi adalah seorang penyelidik berbakat dengan tumpuan kasus berat.

Tragedi tak bisa dimengerti atas kurangnya dokumen pengarah pembunuhan, buatnya menyelidiki mengapa keluarga Inui begitu terlibat akan hal ini, namanya tertulis bolpoin merah di diktat. Lalu petualangan di dua dunia dengan banyak tanda tanya, Kokonoi alami dengan akal dan logisme penyelidiknya; berkarat.

Selamat datang. Kalian semua pula. Di cerita banyak tanda tanya tersemat.

Notes:

Sebelumnya saya akan meminta maaf terlebih dahulu atas kurangnya porsi kesempurnaan pada cerita penuh celah ini. Saya memakai banyak rima, anggap itu dipaksakan (hahaha) saya tidak keberatan. Lalu, latar tempat fanfiksi ini terjadi Italia, bukan di Jepang maupun Indonesia Negara kesayangan kita. Latar waktunya sangatlah acak karena memang itu tujuan saya.

Mungkin sudah cukup sampai titik sini saja.

Selamat datang di dunia dengan alur tak nyata.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Untuk Kokonoi sendiri, di penghujung tahun yang dingin dideklarasikan sebagai hari liburnya yang istimewa. Bergelung dibawah selimut dengan keadaan berantakan dan menidurkan diri sampai menjelang malam adalah rencananya. Tapi ada satu masalah yang buatnya terusik dari jauh, lewat ponsel yang sampaikan vibrasinya dengan begitu tergopoh sampai-sampai Kokonoi rasa tidak ada jeda dalam panggilannya.

“Sudah kuucapkan selamat tinggal pada dokumen sialan itu kan? Kenapa sekarang KAU menghubungiku?” desisan Kokonoi beralasan kuat. Di waktu ini saja ia bisa rasakan tidak ada yang mengganggu, ia tak perlu pusing buat postulat. Mana lagi dari pagi sampai malam dia harus kesana kemari kumpulkan bukti akurat.

“Aduh kalau kau tahu seberapa berharganya dokumen satu ini, kau akan cepat-cepat mengambil mantelmu dan bersujud di kaki ku karena kuberikan informasi mahal Cina sialan.” Derakkan suara di seberang sana tak lebih buruk. Sanzu Haruchiyo membuat Kokonoi sukses hela nafas karena dari intonasinya, presensi itu dipastikan sedang mengamuk.

“Aku sedang tidak dalam suasana ingin kembali ke kantor, bertemu denganmu dan omong kosongmu.” Sudah dipastikan pula jawaban Kokonoi akan menyulut kekesalan semu di kepala Sanzu.

“Tentang artis yang kemarin kau selidiki, ada sesuatu yang mengganjal di silsilah keluarganya. Kalau kau mau tahu, cepat angkat kakimu dari apartemenmu dan kesini atau kau akan menyesal lebih jauh.”

Panggilan diputuskan, buat Kokonoi terbingung di atas kasur yang hangat. Bangsat, jadi dia benar-benar tidak mendapatkan hari liburnya yang bersyarat?

Mau bagaimanapun, sebetulnya Kokonoi sendiri percaya akan apapun yang ditemukan Sanzu tanpa sebuah alasan. Fakta bahwa lelaki itu termasuk lebih senior di dunia per-detektifan buat Kokonoi lebih berikan sanjungan. Mereka sering satu tim, terkadang Sanzu akan memujinya karena mendapatkan bukti cepat juga tepat di limit waktu yang tak sembarangan. Tapi Kokonoi ini, terlalu gopoh, terlalu rancu jika tidak di timkan dengan Sanzu karena kurangnya ketelitian.

Ah, seharusnya Kokonoi matikan saja semua alat komunikasi.

Otaknya berfungsi kolateral saat laptopnya berdenting, tanda email masuk dan sungguh, ia sukses dikejutkan oleh sebuah preskripsi. Sudah seharusnya Sanzu jelaskan mengapa dia harus cepat-cepat ke markas polisi. Hal mengapa kematian beberapa orang menjadi sesuatu yang pelik dan sarat akan semunya deduksi. Sialan, ternyata ada yang aneh sejak kali awal Kokonoi selidiki keluarga konglomerat bermarga Inui.

Ambil mantel sembarangan di lemari, Kokonoi keluar dari apartemen dengan terjang dinginnya hawa Roma di hari ini. Walau jika matipun, Kokonoi harus cepat sampai ke markas kepolisian dan selidiki aroma busuk ini.

.

.

.

“Untuk sekarang, kau ke bagian forensik, minta data akan kematian dua puluh orang waktu itu dan selidiki berdua.” perkataan Sanzu dibalas decihan dari kedua belah pihak. “Aku tahu kalian pasti bisa lebih bekerjasama atas segalanya, ya kan? Kasus pelik ini harus segera selesai maka dari itu kombinasi kalian diperlukan.”

“Asal dapat protesan masyarakat juga kalau digabungkan dengan dia tak akan pernah selesai.” Haitani Rindou merengsekkan suaranya diantara mereka bertiga. Sanzu hela nafas kasar, beri indoktrinasi lewat mata. Memang sebuah kabar buruk yang gamblang saat Kokonoi dan Rindou dijadikan satu dalam sebuah tim untuk selidiki masalah. Apalagi kasus ini termasuk sangat rumit jika dibandingkan kasus lainnya. Tapi Sanzu itu punya mata yang tajam, ia tahu bahwa hanya mereka berdua lah yang dapat selesaikan keganjalan peliknya.

“Intinya, aku mau kalian bekerja sama. Bukan atas keegoisan kalian yang begitu radikal, tapi demi capai satu titik temu kasus aneh ini. Koko, punya sesuatu untuk ditanyakan?”

Kokonoi mengernyit, membolak-balikkan dokumen seolah itu adalah naskah lucu yang sudah dipersiapkan untuknya. “Kau yakin? Kau pikir ini kesimpulan macam apa? Sihir? Yang benar saja Haruchiyo.” Di kertas yang sejak tadi dibaca oleh Kokonoi tidak memberikan petunjuk yang logis sama sekali, buatnya munculkan tanda tanya di kepala. Rindou di sebelahnya hanya tertawa, berkata, “sudah kukatakan, si rambut perak ini tidak akan mau percaya.”

“Tadinya kau pikir aku juga mau dipaksa memahami setiap keanehan itu?” Sanzu berikan flashdisk pada Kokonoi, berharap bukti satu ini cukup untuk buat mata batin dan logikanya berantakan. “Mereka bukan sembarang keluarga, itu kenyataannya. Konglomerat hanyalah tameng, sebenarnya sudah sejak ratusan tahun yang lalu keluarga Inui ini berhubungan dengan ilmu hitam, ini bukan seperti yang di dalam otakmu, sebuah ilmu hitam yang jahat. Ada sesuatu, yang membuat kita tak bisa capai postulat.”

“Sebentar,” Kokonoi capai pada kebingungan tingkat tertinggi, ditambah Rindou yang biasanya berpikir begitu logis hanya mengangguk-angguk dan nikmati apapun ekspresinya yang tersaji. “Jadi keluarga konglomerat ini memakai sihir?”

Sanzu mengangguk.

“Lelucon macam apa.”

“Yah kau bisa simpulkan ini begitu lucu sampai kau muak, tapi faktanya itu benar-benar ada.” Sambar Rindou. Lelaki itu berikan tatapan penuh anotasi pada kedua mata Kokonoi. “Aku juga tidak mau mempercayai ini semua, aku dipaksa untuk meragukan otakku dan percaya dengan mata kepalaku. Saat aku selidiki ini hanya dengan Sanzu, aku hampir mati di dimensi lain, apa menurutmu itu juga lucu?”

“Maaf?”

“Aku hampir dibunuh oleh diriku sendiri.” Rindou menyeringai, seret Kokonoi pada keseruan perselidikan sebuah kasus langka ini. “Mengagumkan bukan?”

Apakah semua keluarga Haitani memang segila ini?

.

.

.

Kokonoi pernah bayangkan untuk mempunyai sihir yang kuat dan berharap itu adalah nyata. Ia mencintai Harry Potter sampai malam-malam panjang liburan ia habiskan untuk membaca karya sastra tersebut hingga muak. Demi Tuhan, tapi itu adalah saat Kokonoi masih menjadi bocah ingusan diberi cerita oleh Bundanya di penghujung malam supaya bisa terlelap lama. Ia juga menyukai dongeng, tapi berhenti di umurnya yang mulai menua. Dikatakan sadar diri juga benar, tapi Kokonoi adalah lelaki dewasa yang capai umur dua puluh tujuh dengan cita-cita menjadi detektif kasus pelik di bagian kejahatan Negara.

Mana mungkin dia dengan mudah masukkan sumpalan dongeng ke dalam otaknya secara tiba-tiba?

“Inui…Seishu ya?”

Ia pernah dengar selentingan cerita tentang betapa sempurnanya seluruh figur keluarga Inui, tapi yang ini, sungguh terlalu utopia. Kasus yang terakhir diselidiki oleh Kokonoi adalah tuduhan pembunuhan dengan tak adanya bukti yang ditujukan pada Inui Akane, Kakak seseorang yang sekarang di hadapannya. Selagi Rindou menodong Kepala forensik tuk dapatkan dokumen dan sambangi kediaman Akane, Kokonoi diberi tugas untuk menemui adik terdakwa.

Mata biru Seishu bolak-balik tertutup kelopaknya tanda tidak memahami kedatangan Kokonoi yang terlalu tak tepat waktu. Bajunya begitu terbuka untuk dipakai pada musim penuh salju-salju mengganggu. Seishu berdehem, ia sadar bahwa lupa menutupi bahu dengan mantel atau baju lebih hangat saat itu.

“Inui Seishu? Saya dari kepolisian—“

“Aku tahu.” Ada sependar hal memuakkan di biru jernih itu. Koko serasa diterungku. “Ini tentang Kakakku, atau tentang silsilah keluargaku?”

Kokonoi menyeringai, Inui Seishu ini bukanlah sembarang orang dan itu disadarinya baru saja. Terlihat dari gerak-geriknya yang begitu penuh antisipasi pada Kokonoi yang bekerja pada Negara. Laki-laki yang menjadi bungsunya Inui ini jelas tahu bahwa apapun yang membawa Kokonoi kemari, hanyalah meminta kejelasan akan terjadinya peristiwa laten dan begitu mencurigakan dari keluarga Inui yang dipenuhi taksa.

“Kau, serasa begitu bisa menebak apa tujuanku kemari. Jadi mengapa kita tidak mengobrol dahulu dan tentukan aku bisa menilai pernyataanmu sampai titik mana yang dapat kau beri?”

Seishu memundurkan tubuh, tatapannya datar saat tangannya ia julurkan tuk mempersilahkan Sang detektif. “Masuk. Walau aku tidak menjamin kau mendapatkan apa yang kau mau.” Jika mengira apartemen Inui Seishu adalah termewah karena dia bertitel artis papan atas setelah Kakaknya, itu adalah kesalahan besar yang begitu pasif. Setidaknya, Kokonoi tak berusaha lantangkan pernyataan pendeknya secara diskursif.

Seperti persinggahan yang dipanggil rumah oleh Kokonoi, apartemen ini begitu luas dengan warna hangat cokelat yang berikan kesan artistik tersendiri. Banyak kado-kado berserakan di bagian ruang tamu, tipikal artis yang mempunyai penggemar terlalu banyak sampai Kokonoi tak bisa dapatkan estimasi.

“Rumahmu terbiasa seperti ini ya?” tanya Kokonoi bermaksud menyinggung memang.

“Yah, kalau kau kemari dengan lebih SOPAN, dan lebih beretika, aku setidaknya bisa membersihkan beberapa hal. Tapi agaknya, keparat kepolisian bukan orang yang seperti itu.” Seishu balas tatapan Kokonoi, yang dipanggil keparat hanya bisa terdiam. Salahnya juga sih, kemari tanpa pemberitahuan dan tanpa sadar waktu bahwa ini bukanlah siang tapi malam. “Aku hanya punya teh barley, kau tak keberatan?”

“Hm, asal tak kau campuri sianida.”

Seishu putar bola mata jengah dan menghilang di balik pembatas dapur. Kokonoi mengeksplorasi tiap detail apartemen Seishu, otaknya berputar berharap temukan hal janggal seperti sesuatu aneh yang bersifat agresi, tapi ia tak dapatkan apapun itu. Apartemen ini terlalu bersih untuk bersikap waspada dan taruh curiga ke tiap-tiap sudut.

“Kau tidak akan temukan apapun disini jika terlalu kaku.” Seishu sajikan secangkir teh didepan Kokonoi, matanya berikan kilatan tak nyaman yang buat alis Sang detektif terangkat. “Kau kemari hanya untuk cari bukti pembunuhan di Vernazza, yang hampir setengah penduduknya di bunuh dengan senjata bertanda tanya, dan arahan seluruh poin itu ada pada….ku? Atau Kakakku,” senyum Inui Seishu itu buat Kokonoi merinding, sampai ia sendiri secara tak sadar tempelkan kedua sudut bibir mengembang itu di otaknya bagaikan diktat. “Atau bahkan seluruh keluargaku?”

“Kau, apa yang kau tahu tentang pembunuhan itu?”

Seishu lebarkan senyum lagi, berpikir dengan manjakan matanya melihat ke berbagai arah sudut ruangan apartemen yang diberikan Ibunya. Kukunya yang dibersihkan dengan begitu teratur bergesekan dengan kaca meja, hasilkan ketukan samar di telinga. Kokonoi tahu sejak awal, kalau Seishu bukanlah sembarang manusia. Dari nada bicara, tatapan mata, bahkan auranya walau ditilik dari distansi aksa.

Lelaki ini berbeda. Ada sesuatu yang mengikuti bahu Kokonoi di waktu-waktu tertentu saat Kokonoi berikan tatapan sentimen terhadap lelaki didepannya. Seperti ada yang mengawasinya. Kedua mata yang tak luputkan tancapannya pada seluruh tubuh Kokonoi adalah validasi nyata yang ia cetak saat deduksi terhasilkan dalam sekian taksa.

“Ah, detektif sepertimu bukannya bersikap bodoh disini secara tidak sengaja kan? Tapi kau jelas tahu dari awal kau masuk ke ruangan ini bersamaku, meminum tehmu dan gulirkan tiap tatapan matamu ke penjuru ruangan.” Inui Seishu miringkan kepalanya, Kokonoi reflek sambut baik cahaya biru tersebut. Si Cantik bertitel artis terpanas tahun ini itu makin mendekat secara tepat dengan tanpa sadar, Kokonoi kehilangan intuisi yang sudah menciut. Mau tidak mau, ia terhasut.

“Aku tidak akan bisa melindungimu setelah ini, karena merasa curiga akan keluarga Inui, sama saja dengan bunuh diri. Semoga kau diselamatkan; entah dengan kandela kecil di tepi-tepi, atau malah petunjuk inkonsisten yang tervibrasi. Selamat datang,” Kokonoi rasakan tubuhnya tertarik dalam, tercebur pada lingkup aneh yang buatnya tersentak dingin dan buat dadanya berkedut takut. Samar-samar suara lembut Seishu masih menemani dirinya di pikirannya yang terhantam dan carut –marut.

“Di keanehan dunia yang tak akan pernah kau pahami eksistensinya.”

Notes:

Terima kasih telah sempatkan membaca fanfiksi ini.