Work Text:
Sudah tengah malam, namun Niki masih saja terjaga.
Masih belum.
Belum ada pertanda seseorang berambut merah menyala dengan senyuman bak setan akan mendobrak masuk ke dalam.
Tidak, tentu Niki belum beranjak tidur bukan karena ia khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi kepada Rinne. Tidak, tentu saja tidak.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa.
Pikiran Niki kembali menuju beberapa jam yang lalu, dimana Rinne dengan percaya diri mengajaknya bertaruh.
“Taruhan, yuk. Kalau aku menang judi malam ini, nanti aku nikahin kamu.”
“Kalau kamu kalah?”
“Kamu yang nikahin aku.”
“Sinting.”
Frustasi. Niki sungguh frustasi.
Kenapa Rinne masih belum saja kembali hingga detik ini? Padahal apabila Rinne kalah tetap saja pria itu yang diuntungkan, bukan?
15 menit sudah berlalu, dan Niki masih saja setia menunggu.
Akhirnya terdengar bunyi kunci diputar (kunci yang Rinne curi dari Niki) bersamaan dengan kemunculan pria yang sedari tadi dinantikan.
“Bau alkohol.” Adalah kata yang pertama Niki ucapkan ketika melihat Rinne.
Sudah pasti ia kalah.
Niki dengan sigap mengalungkan lengan Rinne di bahunya, memastikan pria yang lebih tua tidak berjalan dengan sempoyongan dan terjatuh dengan pose memalukan.
“Niki, lamar aku.” Ucap Rinne dengan nada serius. “Karena aku yang kalah, kamu yang nikahin aku.”
Rinne mendekatkan kepalanya dengan kepala Niki, mengeluskan pipinya dan membuat Niki mulai risih.
“Iya, iya, besok ayo kita nikah! Sekarang mandi dulu sana, kamu bau alkohol!” Kalimat tersebut tak sengaja terlontar dari mulut Niki.
Ah, tapi Rinne tak mungkin akan ingat dengan ucapan Niki pada keesokan pagi.
Ia tak mungkin ingat apabila ia benar-benar mabuk.
Diam-diam Rinne tersenyum.
