Chapter Text
Tokyo branch office. Monday: 13.43.
Itachi memijat keningnya. Masih ada dua rapat hingga nanti sore, seharusnya aku tidak memikirkan ini. Shisui mengajaknya makan setengah jam yang lalu, terpaksa ditolaknya gara-gara satu surel. Bagaimanapun juga, ketika ayahnya menghubungi lewat surel resmi kantor dan bukan grup keluarga atau pesan pribadi, itu berarti sedikit bencana.
Dia mengangkat gelas kertas kopinya, ketika dia membawanya ke depan bibirnya barulah dia sadar gelas itu sudah kosong. Sudah ada satu gelas kosong lain di bak sampah, dan Itachi bisa mendengar ibunya menasihatinya panjang lebar di samping telinganya jika mengetahui hal ini. Dia menggaruk tengkuknya, lalu meraih ponselnya yang lain di ujung meja. Membuka pola kuncinya tanpa melihat seakan-akan hal itu adalah hafalan termudah di dalam hidupnya.
Itachi menelepon kontak teratas. Cuma dua detik dan dia langsung menerima jawabannya.
“Berubah pikiran sekarang? Well, agak telat, Itachi, tapi tenang saja. Makanan penutupku belum datang.”
“Belikan satu menu take-away, apapun itu.”
“Hei—”
Itachi langsung menutupnya. Dia pun menarik laci di sebelah kanannya, menarik selembar kertas kosong dan mengambil pensil. Dia punya tablet, ponsel, semua piranti pintar itu, tetapi tidak ada yang menyaingi sensasi ide yang mengalir ketika merasakan pensil sesungguhnya menggurat kertas, suara yang ditimbulkannya, dan sensasi tradisional yang tidak bisa ditandingi oleh perangkat digital ketika menuangkan ide. Sasuke akan meledeknya kolot, tetapi Itachi selalu percaya diri bahwa setiap ide-ide yang dituangkannya dari nol di atas kertas selalu mendapatkan persetujuan ayahnya.
Dia membuat bagan kasar dan beberapa poin-poin dengan tulisannya yang acak. Dia bahkan menggabungkan bahasa Inggris dan huruf kanji. Otaknya cenderung bekerja dengan dua bahasa di saat-saat seperti ini, dan itu membuatnya lebih cepat berpikir karena kadang satu ide muncul dengan konsep asing, satu lagi muncul dengan cara ajaran masa kecilnya. Kadang baginya bilingualisme itu menarik, tetapi dia tidak punya banyak waktu luang untuk mendalami teori-teorinya (meski dia begitu ingin melakukannya).
Selesai, batinnya. Dia pun bersandar pada kursinya, tubuhnya merosot sedikit. Dia selesai lebih cepat dari perkiraannya, dan mungkin masih ada kesempatan untuk menyusul Shisui. Namun terlalu banyak waktu terbuang. Mungkin ini kesempatan untuk memejamkan mata sebentar ....
“Bangun, Orang Tua.”
Mata Itachi sontak terbuka. Dia memijat keningnya sebentar saat sosok di hadapannya masih samar-samar, dan sekian detik kemudian dia bisa mendapatkan penglihatannya kembali. “Sasuke.”
Sasuke meletakkan kotak makanan di atas mejanya. “Shisui menitipkan ini.”
“Hmm, yeah.” Itachi duduk tegak. Dia mendekatkan kotak itu ke hadapannya. Masih hangat. Perutnya mulai bersuara, rasa lapar itu benar-benar menyerang dengan kekuatan penuhnya sekarang. “Sudah makan?”
“Aku yang makan dengan Shisui.”
Itachi nyaris tertawa saat membuka pembungkus sumpitnya. “Tumben.”
“Ada yang ingin dia bicarakan.” Sasuke duduk di hadapan Itachi. Mengangkat alisnya ketika sang kakak menghidu aroma makanannya dengan wajah puas.
“Oh, benar juga. Posisimu sekarang kan dulu hampir jadi miliknya.” Itachi mengambil sebuah udang kecil. “Bagaimana rasanya, di posisi sekarang?”
Sasuke mengangkat bahu.
“Well, aku sangat menantikan kata-kata seseorang yang waktu itu bilang, lebih baik aku jadi staf saja di Beijing!”
Sasuke cemberut, dan tampak seperti sebuah hiburan bagi Itachi. “Omong-omong,” ucapnya setelah menelan suapan pertama makan siangnya yang berharga itu, “Ayah sudah kirim surel padamu?”
Sasuke mengecek ponselnya sekali lagi. “Belum.” Dia mengantonginya lagi. “Ayah pasti bilang padamu dulu.”
Itachi menyalakan tabletnya, membuka surel yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya, dan memutarnya dengan lihai di atas meja untuk Sasuke melihatnya.
“Implementasi di kantor New York berhasil. Itu artinya, saatnya tempat ini memulai langkah yang sama demi brand value.”
Sang adik menatapnya beberapa saat. Dia mengerjap, lalu perhatiannya kembali pada Itachi. “Jadi ....”
“Ini akan jadi tugas pertamamu.”
“Baik. Kau ketuanya, Kak.”
“Tidak. Justru kali ini kau yang menanganinya, aku cuma jadi pendampingmu saja.”
“Tapi Ayah bilang padamu duluan.”
“Ayah bilang padaku karena aku atasanmu. Tapi aku atasan divisi administratif secara umum. Untuk bagian human resources, semua adalah tugasmu. Aku cuma mengawasimu sebagai langkah formalitas, subordinasi.”
Sasuke menghela napas panjang.
Itachi, sambil menyantap makan siangnya, menyodorkan kertas berisi coretan tulisan tangannya. “Ini poin-poin yang kauperlukan. Persyaratan dasar, sisanya bisa kita improvisasi dari pengamatan portofolio.”
Sasuke mengernyit menatapnya sambil menggumam, apa gunanya tablet mahalmu itu, tapi kemudian dia mengangguk-angguk. “Apa aku harus buka lowongannya segera?”
“Malam ini paling tidak draf rekrutmennya sudah siap. Kirim pada Ayah, cc padaku, dan besok pagi kita serahkan ke tim desain. Iklankan segera setelah kita rapat dengan departemen humas.”
Sasuke meletakkan lagi kertas dari Itachi ke atas meja sambil memijat keningnya. Itachi tertawa di dalam hatinya, kita memang saudara, eh?
“Bisa?” Itachi mengujinya.
“Harus bisa.” Namun nada suara Sasuke berlawanan dengan makna seharusnya kalimat tersebut.
Tokyo branch office. Friday: 19.57.
Itachi sengaja meluangkan waktunya untuk Sasuke malam itu. Shisui mengajaknya ke bar, mengingat besok adalah hari Sabtu, tetapi ketika Sasuke bilang ingin minta waktunya, tidak mungkin dia dapat menolaknya.
Mereka menyalakan proyektor menyambungkannya dengan laptop Itachi. Sengaja melakukannya agar bisa menilai dengan lebih jelas. Sejak satu jam yang lalu mereka mendiskusikan beberapa kandidat, berputar-putar di beberapa CV dan mengobrak-abrik LinkendIn milik semua kandidat.
“Geser lagi, geser. Bukan yang ini.” Sasuke menyuruh Itachi menggulirkan layar ke samping. Dia membaca CV itu (mungkin sudah yang ketiga kalinya), berpikir agak lama tanpa berkedip ke dinding, tetapi kemudian menggeleng. “Geser ke yang sebelumnya lagi.”
Itachi bertopang dagu mengikuti permintaan Sasuke. Sasuke mengernyit saat membaca yang satu ini. Bahkan lebih lama lagi dari yang sebelumnya. Itachi melirik wajah adiknya, dan pertama kalinya malam ini, dia melihat adiknya seserius ini dalam mengamati satu kandidat. Dia pun mengalihkan perhatiannya ke dinding pula, dan membaca ulang CV ini. Entah sudah kali keberapa dia membaca sejak seleksi tahap pertama dilakukan.
Haruno Sakura. 27. Bachelor of Environmental Studies. Bachelor of Sociology. Master of Business Innovation. Itachi bisa mengerti mengapa perhatian Sasuke tertuju pada orang ini. Usianya paling senior di antara kandidat-kandidat lain, bahkan mencapai batas maksimal dari persyaratan rekrutmen. Perempuan itu memang bukan satu-satunya dengan penampilan menarik, apalagi pesaing-pesaingnya adalah orang-orang muda dan ia bukan satu-satunya yang punya gelar master (walaupun itu tak terlalu diperlukan, pihak perusahaan menyatakan bahwa undergraduate saja cukup), tetapi kata ‘inovasi’ itu pasti menarik perhatian Sasuke.
Dia memandang adiknya lagi. Sasuke sedang mengangguk-angguk. Dia mengedikkan dagunya. “Kalau orang ini bagus di wawancara final, pilihanku adalah dia.”
“Boleh aku tahu kenapa?”
“Kualifikasinya bagus. Studi lingkungan, itu yang kita cari untuk green human resource management, kan? Dan sosiologi. Dia pasti tahu cara menangani manusia. Inovasi bisnis, itu menarik. GHRM adalah sesuatu yang sangat baru untuk kita, dia mungkin punya ide-ide menarik.”
“Baiklah, mari kita lihat LinkendIn miliknya lagi.” Itachi kembali membuka jendela peramban dan mengetikkan nama perempuan itu. Mereka sudah pernah mengunjungi profilnya, tetapi kali inilah mereka melihatnya dengan jelas poin-poinnya.
Pengalamannya cukup menarik. Pernah magang di salah satu perusahaan rekanan mereka, dan ia juga pernah ke Amerika untuk sebuah kursus musim panas, magang, dan organisasi. Bahasa Inggrisnya sudah jelas tidak diragukan lagi, pikir Itachi. Dia yakin adiknya juga pasti memikirkan hal serupa. Brand milik keluarganya berpusat di New York, memiliki seorang pemain penting di inovasi baru yang bisa berbahasa Inggris adalah sebuah nilai plus yang sangat dibutuhkan.
“Aku memilih dia.” Sasuke menyilangkan tangannya di depan dada.
“Tunggu di wawancara final, Sasuke. Jangan terburu-buru.” Itachi tertawa kecil. Dia pun menutup jendela-jendela di laptopnya, kemudian mematikannya. “Lupakan dulu soal pekerjaan. Friday night, Brother. Saatnya pulang dan tidur.”
Sasuke mendengkus. Itachi tertawa lagi. “Kau pasti masih sebal gara-gara Naruto punya kencan sekarang. Tenang, kakakmu juga membujang. Mungkin kita bisa ke bar bersama.”
“Ogah.” Sasuke membuang muka. “Aku mau tidur saja.”
Tokyo branch office. Wednesday: 09.51.
Sasuke mengamati kandidat di hadapannya, kemudian pada CV di tablet di tangannya. Begitu bergantian selama beberapa saat, detik-detik yang membuat Itachi mengangkat alisnya. Sang kandidat mengamati dalam momen canggung itu dengan wajah yang berusaha dibuat sopan. Sesekali ia tidak dapat menahan diri untuk tidak memandang Itachi dan Sasuke bergantian.
Itachi menyenggol kaki Sasuke di bawah meja. Sasuke tampak terkejut, kemudian mendeham sebagai bagian dari gengsinya.
“Jadi, Haruno Sakura, huh?” Sasuke mengangguk-angguk. “Apa Anda sudah familiar dengan konsep green human resources management? Ceritakan pengalamanmu, jika ada.”
“Tentu, Uchiha-san. Saya pernah magang di perusahaan yang menerapkan GHRM dengan baik, meski baru permulaan sekali waktu itu. GHRM menerapkan konsep kelingkungan di berbagai praktiknya, mulai dari akar paling bawah hingga tingkat teratas. Mulai dari sesederhana mengurangi carbon footprints dari pekerjaan karyawannya sehari-hari, misalnya rute perjalanan karyawan dari rumah ke kantor, hingga yang paling krusial bagi perusahaan seperti penanganan limbah. Memulainya dan menerapkannya secara general di perusahaan memang perlu waktu yang lebih panjang dan membutuhkan sumber daya yang besar, tetapi akarnya adalah perubahan internal para karyawan dan mindset mereka. Hal itu adalah investasi pertama sekaligus utama.”
Sasuke bergeming.
Sakura melanjutkan. “Saya sangat tertarik dengan konsep GHRM yang ditawarkan oleh perusahaan Anda. Ini kali pertama saya menemukan organisasi yang dengan jelas, secara terbuka, memutuskan untuk merekrut orang dengan spesialisasi GHRM, yang merupakan tema yang pernah saya bahas untuk tesis saya.”
“Tesis?” Sasuke menelengkan kepala.
“Benar, Uchiha-san. Tesis inovasi bisnis saya berhubungan dengan green environment pada urban business facility, dan sedikit menyinggung manajemen berbasis kelingkungan. Saya rasa posisi ini, ketua tim inovasi GHRM, tepat untuk saya.”
“Baik.” Sasuke mencoretkan sesuatu di CV Sakura pada tabletnya. Itachi meliriknya, kemudian tersenyum tipis. “Saya rasa cukup. Terima kasih.”
Sakura tampak terkejut, matanya melirik Itachi seakan-akan minta konfirmasi—atau minta tolong—masa sesingkat ini? Itachi menebak pertanyaan di kepalanya pasti seperti itu. Namun Itachi mengangguk, senada dengan adiknya. Sakura pun akhirnya berdiri sambil memusut sisi samping roknya. Ia membungkuk.
“Terima kasih, Uchiha-san. Saya menantikan kesempatan untuk bekerja sama dengan Anda semua.”
“Ya. Terima kasih juga,” Itachi mengangguk lagi untuk mempersilakan Sakura keluar.
Begitu pintu tertutup, dia menoleh pada adiknya. “Kuharap yang mempengaruhi keputusanmu menerimanya adalah bukan karena kau naksir dia, Sasuke.”
“Aku memang naksir dia.” Sasuke menggulirkan layar tablet itu. “Naksir skill-nya. Aku senang bekerja dengan orang pintar. Mengurangi potensi sakit kepala.”
“Tapi ingat, Sasuke.” Itachi melempar pandangan ke kejauhan. “Dia akan jadi wakilmu. Bukan bawahan. Kalian akan bekerja sama, bukan subordinasi.”
“Kerja sama demi inovasi-harus-jadi-dalam-semalam dari Ayah,” Sasuke menyahut setengah menggerutu. “Setelah inovasi itu dicapai, selanjutnya apa?”
“Sasuke.” Itachi menyeruput kopinya. “Seperti yang dikatakan Sakura tadi, inovasi ini membutuhkan waktu yang panjang. Pasti lama. Ayah berniat membuat ini untuk berjalan dalam periode yang lama dan berkelanjutan, bukan hanya sekadar untuk sertifikasi atau bahan promosi. Kita benar-benar akan mengimplementasikannya secara menyeluruh. Posisi itu akan ada selamanya. Struktur organisasi perusahaan akan dimodifikasi sebentar lagi. Bagian yang akan diisi Sakura bukan cuma sekadar praktikal atau tim sementara.”
Sasuke menekuri meja.
Itachi mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk dan tengahnya. “Itu berarti kau harus memilih orang yang kau akan merasa nyaman bekerja bersamanya. Pertimbangkan baik-baik. Masih ada dua orang lagi untuk diwawancarai, jangan sampai lengah hanya karena kau sudah naksir Sakura.”
“Hei.”
Itachi tertawa kecil. Dia menepuk-nepuk kepala Sasuke. “Aku mengerti satu hal, Sasuke. Kau pasti menunggu orang untuk diperintah-perintah. ini kali pertamamu memegang posisi yang penting. Tapi cara kerjanya bukan begitu kali ini.”
“Kau sok tahu membacaku.”
“Aku cuma mengajarimu.”
“Singkirkan tanganmu dari kepalaku, aku akan memanggil kandidat berikutnya.”
tbc.
