Actions

Work Header

oh, shit. are they in love?

Summary:

There’s a quite long stretch of silence before this happens: Ohm brings Nanon into his warm embrace, fixes his arm around his waist, and stays like that for a moment.
“You did this to me all the time. Can’t I do the same?”
Mereka sering berada sedekat ini, bahkan mungkin jauh lebih dekat dari ini; but for Nanon, this hug isn’t the same, it doesn’t feel the same, not even close.

Notes:

first and foremost i want to say thank you to @ohbluewind for your kind patience & cooperation working on this commission with me. i truly, truly had so much fun.
hope you enjoy this one, ronans!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

You may wanna put this song on loop first before you start! (Oh shit... Are we in love?)


 

“KITA terakhir kali drive-thru begini kapan, sih?” 

Ini kalimat pertama yang dicetuskan Nanon sewaktu mobil yang dikemudikan Ohm melewati pintu keluar McDonalds, dengan terang benderang lampu jalanan yang terefleksi lewat kaca jendela, wangi burger yang menggelitik indera penciuman, serta sebuah lagu—Nanon tidak bisa menebak judulnya—yang terputar dari playlist milik Ohm. 

Keduanya baru saja mengakhiri shooting salah satu reality show pasca Bad Buddy Series yang tiada habisnya —satu hal yang selalu mereka syukuri, tentu saja, mengingat Ohm maupun Nanon sama-sama tidak pernah menduga Bad Buddy akan menjadi sebesar ini. Jadi wajar jika sekarang mereka hanya berdua, di dalam mobil Ohm, di tengah perjalanan pulang karena apartemen mereka memang satu arah.

“Sebulan yang lalu, bukan, sih? Abis kita ketemu P’Aof?” Ohm berusaha mengingat-ingat.

Nanon mulai membuka bungkus makanan yang ada di pangkuannya sementara menjawab, “Oh, bener. Abis ngobrolin Vice Versa juga. Kita nganterin Jimmy dulu gara-gara dia nggak bawa mobil.” Pemuda itu meraih Cola terlebih dulu, tanpa ragu menyodorkannya ke depan bibir Ohm kendati yang lebih tua masih fokus dengan kemacetan yang ada di depan. 

“Awas tumpah, tadi nggak dikasih sedotan,” kata Nanon manakala mulut Ohm terbuka untuk meneguk Cola di genggamannya. Ohm tidak mau repot-repot melepaskan kendali kemudi dan Nanon pun tidak banyak protes saat laki-laki yang posturnya sedikit lebih besar darinya itu bersikap demikian. Ohm tersenyum miring sambil meliriknya lewat ekor mata seolah-olah sedang mengucapkan terima kasih. 

Entah sejak kapan gestur sederhana yang manis ini jadi kebiasaan mereka berdua, Nanon tidak bisa memastikannya.

Nanon meletakkan Cola itu di dekat persneling kemudian merogoh kentang goreng dan burger yang masih terbungkus rapi. Dia meletakkan kentangnya di samping Cola milik Ohm, meraih tisu—yang ia sudah hapal di mana letaknya—lalu membuka bungkus burger sebelum menyodorkannya kepada Ohm.

“Thanks,” ujar Ohm tersenyum semringah. “Saosnya bukain, dong,” titahnya usil. Nanon mendengus sebal, kendati akhirnya ia melakukannya juga. Dengan senang hati, Ohm mulai menikmati burger-nya.

“Mentang-mentang nyetir, gue yang disuruh-suruh terus, ya,” sindir Nanon lalu menggigit burger-nya.

Ohm terkekeh geli. “Makanya gantian, dong, lo yang nebengin gue. Ntar kan, giliran gue yang bukain burger dan segala macemnya,” kicau Ohm lagi.

“Ayo aja, dari kemaren bukannya gue udah bilang sekali-sekali gue aja yang bawa mobil?” balas Nanon, agak defensif. “Tapi siapa coba yang ujung-ujungnya tetep mau nyetirin? Yang ujung-ujungnya chat bilang ‘Nanon, gue jemput, ya. Gue lagi di deket tempat lo, nih.’ padahal gue nggak ngomong apa-apa,” dilihatnya Ohm memainkan senyumnya, tidak mampu mengelak karena yang Nanon katakan benar adanya.

“Tapi, jujur, lo emang demen, kan, kalo gue setirin begini?” pancing Ohm menyeringai.

“Ya… Iya , sih.” Nanon agak terbata, ada sekelumit gengsi dalam nada suaranya.

Nanon bukannya tidak suka mengendarai mobilnya sendiri. Sama sekali tidak. Hanya saja, selama ini selalu ada Ohm yang menawarinya tumpangan, dan Nanon tak akan mengelak jika dia sangat menyukai suasana mobil Ohm—hampir menyaingi kenyamanan di mobilnya sendiri, malah. He can’t point out the exact reasons why. Mungkin karena warna merah-hitam yang dominan di dalamnya, mungkin juga karena wangi mobil Ohm yang khas—perpaduan antara kopi, vanila, serta hint kesegaran mint. Smells like Ohm but slightly sweeter, and being there makes him way more comfortable.

“Tapi ngaku nggak, lo yang selalu nawarin pulang bareng?” dia berujar lagi di saat Ohm bahkan belum mengatakan apa-apa. 

Nanon memang selalu punya rentetan argumen buat menyerangnya— which thankfully, not in annoyingly-defensive way. It’s just the way he is, the way they are, bickering and talking, and without him knowing… Ohm finds it kinda endearing. 

“Ngaku juga nggak lo seneng-seneng aja gue anterin pulang?” goda Ohm tak mau kalah. Nanon cuma bisa geleng-geleng kepala, melihat laki-laki yang duduk di sampingnya itu kini memajukan bibir bawahnya: tanda minta disuapi lagi, padahal ia baru saja menelan burgernya.

“Tangan lo bisa kali ngambil kentangnya sendiri,” omel Nanon seraya menyuapkan kentang itu pada Ohm. Senyum Ohm ditarik penuh kemenangan.

“By the way, lo tau nggak—”

“Nggak,” potong Ohm jenaka.

“Gue belum kelar ngomong,” cibir Nanon menepuk bahu Ohm dengan sebelah tangannya.

“Apa?” tanya Ohm menatap Nanon lurus-lurus—cara yang sama setiap ia siap mendengar kisah apapun yang akan keluar dari bibir pemuda berlesung pipi di sampingnya. 

“Tadi abis kita kelar shooting, terus lo cabut ngobrol sama P’Jennie, P’Tay nyamperin gue.” Nanon memberi jeda sesaat, mengunyah kentangnya. “Kayaknya dia abis nonton Episode 6. Soalnya, kalo nggak salah, terakhir dia nonton, tuh, bareng kita di Safe House. Terus, dia muji aja gitu, katanya chemistry kita dapet banget,” jelas Nanon panjang lebar. 

“Lo jawab apa?” ujar Ohm yang disambut dengan sodoran kentang dari Nanon ke depan mulutnya. Ohm melahapnya seperti seekor jerapah.

“Gue bilang aja, ‘Iya, lah, Bang. Kan, udah temenan dari lama.’ Apalagi coba yang bisa gue jawab?” ujar Nanon.

Ohm mengangguk-anggukkan kepala. “Terus? Udah? Gitu doang?” pemuda itu dengan tampang ingin tahu.

“Banyak, sih.” Nanon meneguk Cola-nya lagi. “Katanya ya, ketika udah ada ship kayak kita sekarang dan banyak kerja yang nuntut kita untuk selalu bareng, be careful to not stuck in the characters. Mungkin gara-gara tau gue kalo udah into a character susah keluar kali, ya? Kayak waktu Safe House, dia keliatan concerned banget pas gue ikutan nangis abis nonton. Padahal bukan gue juga yang mau nangis. Makanya ngewanti-wanti begitu.”

“Mungkin,” Ohm menanggapi. “Mungkin juga maksudnya supaya kita tetep jadi diri kita sendiri, walaupun nanti bakalan dipasangin terus-terusan, bareng terus-terusan... supaya kita tetep nyaman kerjanya. Bukan jadi beban.”

“Mungkin,” ulang Nanon memimik gaya bicara Ohm sepuluh detik lalu sementara jemarinya bermain dengan kentangnya. “Tapi, sebenernya dari awal kita udah ngomongin juga, kan? Once we accept the roles, kita bakalan bareng buat waktu yang nggak sebentar?”

“That’s sort-of why we agreed in the first place,” Ohm menimpali.

“Nah, itu. ” Nanon mengangguk.” “Makanya, gue bersyukur aja, orang yang dipasangin sama gue tuh elo…” pemuda itu sengaja memberi jeda dalam kalimatnya.

“Karena?” Ohm tak kuasa mengulum senyumnya jahil.

Bahu Nanon melesak. “Karena kita temenan, lah!” Melihat ekspresi yang terpancar di wajahnya, Nanon otomatis menyodorkan kentang goreng ke mulut Ohm tak kalah jahil. Lucunya, gerakan Nanon sedikit terlalu tiba-tiba—sementara Ohm belum sempat membuka mulut, lebih dulu menoleh hingga telunjuk Nanon tanpa sengaja menyentuh bibir bawahnya.

There, his mind goes blank. 

He notices how Ohm’s lips are soft yet so cold under his touch, and Nanon suddenly finds it hard to breathe. Oddly enough, it was more like he was reminding himself to breathe. 

What has just happened?

“Sama, kok.” Ohm melahap kentang itu dari tangan Nanon, eskpresinya seolah tidak terjadi apa-apa. Nanon diam-diam menghela napas lega. He dodges it… right?  

“Lo tau sendiri gue pernah bilang gue nggak bakalan main BL lagi seandainya bukan bareng lo, kan?”

Nanon mengangguk. “Tapi, omongannya P’Tay ada benernya nggak, sih?” 

From someone who has been in the industry for years, he might talk from his own experience. Just sayin’,” tukas Ohm mengangkat bahunya enteng. 

Konversasi mereka perlahan tergelincir jadi hening. Nanon bersedekap, mengangkat pandangannya lurus ke arah jalanan. Ohm meliriknya, berusaha menerka hal apa yang sedang melintas di balik benaknya.

“Nanooon,” panggil Ohm pelan, memanggil dengan nada yang lembut dan menenangkan. Ini bukan pertama kalinya Ohm mengucap nama Nanon dalam nada itu, tapi tetap saja, rasanya barusan ada kupu-kupu yang berterbangan di perut Nanon.

Nanon butuh waktu beberapa detik buat memastikan pipinya tidak menghangat.

“Mikirin apa, sih?” ujar Ohm nyengir. Mencairkan suasana adalah kemampuan terbaiknya.

Masih hening.

Tak lama, perjalanan mereka menemui lampu merah. Ohm menginjak rem di kakinya dan memindahkan persneling. Lalu sekonyong-konyong, pemuda itu meraih pipi Nanon dengan kedua tangannya.

“Sekali-sekali boleh nggak, nggak mikir yang jauh-jauh? Take it as good advice and stop worrying about things that haven’t even happened yet.”

Mata keduanya bersua sementara Nanon terpaku, perasaan aneh menjalari dirinya lagi. Di sana ia berusaha mencari subjektiva yang tepat untuk melabeli perasaan itu; lalu pikirannya berhenti pada satu kesimpulan, apakah karakter Pran masih membayangi dirinya? Mengapa jantungnya berdebar seperti ini?

“Kata siapa gue mikir jauh-jauh?” Nanon memalingkan muka, membalut perasaan yang tertinggal di kepalanya dengan berpura-pura jengkel lalu melahap burger-nya lagi.

“Kata gue barusan,” Ohm tertawa kecil. “Lo, tuh, ya… Sering banget overthinking begini,” ia memutar stir, perjalanan mereka menuju condo Nanon tidak akan lama lagi. “Sebenernya gue lebih takut satu hal, sih,” celetuk Ohm dan tersenyum. 

Nanon menoleh ke arahnya. “Takut apa?”

“Takut bosen ketemu lo terus-terusan,” dia mengerling usil. “Lo nyadar nggak, sih, kita seminggu ini hampir ketemu setiap hari? Capek nggak?”

Nanon tergelak. “Bosen-bosen tapi kemaren aja lo yang nawarin ketemuan di GMM,” cetus Nanon, menggelengkan kepalanya geli. “Mana besok kita ketemu lagi, ke interview -nya P’Jennie.”

“Gue jemput, ya?” serobot Ohm cepat.

“Katanya bosen?” Nanon melotot—benar-benar respon yang sesuai dengan harapan Ohm Pawat. 

“Hahaha!” tawa Ohm pun pecah. “Yaudah kalo nggak mau,” ledek Ohm menjulurkan lidah sembari mencomot kentangnya, sinar di senyumnya belum juga sirna. 

Selama perjalanan itu, mereka kembali membicarakan kegiatan di minggu-minggu yang akan datang; mengunyah burger, bersenandung saat lagu yang diputar mengajak mereka bersenandung, meneguk Cola masing-masing sampai habis. Semudah itulah obrolan mereka mengalir; dan menit-menit yang berlalu terasa begitu singkat sebelum Nanon menyadari apartemennya tinggal beberapa ratus meter saja.

“Jangan lupa besok ingetin gue bawa gitar, please,” kata Nanon saat Ohm memutar kendali mobilnya menuju gerbang masuk.

“Jam 10?” tanya Ohm memastikan.

“Jam 10.” Nanon mengangguk. Tiba-tiba, ia menyadari satu lagu baru saja berganti dari playlist Ohm. “Eh, lagu apa, nih? Baru denger gue. Gedein, dong.”

Ohm memutar pengeras suara, menyalakan ponselnya dan membaca judul lagu yang terpampang. Senyum misterius tersungging di bibirnya. 

“Inget, bentar lagi lo mau nyampe,” gumamnya kemudian.

(You’d drop your keys, I’d pick ‘em up,

And then I’d give ‘em back our hands would touch.)

“Tunggu lagunya abis dulu, boleh nggak?” Nanon menatapnya seolah sedang memohon.

Ada waktu di mana Ohm Pawat akan memasang gengsi selangit perihal menuruti keinginan laki-laki yang duduk di sampingnya. Di waktu lain, memintanya melakukan sesuatu sama mudahnya seperti mengangkat kepala untuk melihat bintang-bintang. Malam ini, di antara ratusan malam-malam yang lain, Ohm mencerminkan yang kedua.

(I never thought we'd end up here,

You changed the reason for my tears.

I told you everything, you didn't make it weird.)

Ohm yang awalnya akan menghentikan mobil di depan lobi lantas berganti arah menuju lapangan parkir, mengitari jalan hingga beberapa lantai tanpa protes sedikit pun.

“Lo abis ini langsung pulang?” 

Ohm mengangguk. “Where else should I be, emangnya?”

“Kirain mau nge- gym dulu sama adek lo,” tebak Nanon asal.

“Jam segini? Besok gue bisa nggak bangun kali,” katanya terkekeh pelan. Begitu mobil mereka tiba di lantai tujuh, Ohm menepikan mobilnya. 

(Wait, slow down, don’t think too much.)

“Sampe, nih,” kata Ohm, kini mobilnya telah sepenuhnya berhenti. “Selamat istirahat, Nanon.” 

“Thanks, ya,” Nanon membuka seatbelt dengan tangan kirinya.

“Untuk?” celetuk Ohm seakan dia belum kehabisan akal untuk membuat Nanon bertahan di kursi penumpang lebih lama lagi.

(Slow down, no need to rush.)

Nanon menghela napas berlagak sebal, walaupun ada senyum yang terkait di wajahnya. “Untuk… untuk apa? Mana gue tau.” 

Ohm melipat dua tangan di depan dada; menatap Nanon sebab tampaknya dia sama sekali tidak keberatan menunggu sampai menerima alasan yang lebih pantas. 

Nanon tertawa. “Makasih buat drive-thru dan tumpangannya hari ini. Besok-besok gue yang bawa mobil biar gantian nyetirin. Puas?” katanya menyeringai.

“Sama-sama.” Sudut bibir Ohm terangkat menawan.

Lalu mereka bertatapan untuk beberapa waktu; mungkin hanya hitungan detik, yet Nanon could still sense that the same strange feeling he felt earlier has started to twist in his chest again. 

“Udah, ah. Gue turun dulu,” Nanon cepat-cepat membuka pintu mobil dan melangkah turun. “Sampe besok, Ohm,” ujarnya singkat.

Namun, yang tidak diduga-duga, Ohm ikut turun dari kursi kemudi. Nanon yang berada di luar terlebih dulu hanya bisa memandangnya heran.

“Ngapain lo ikutan turun?”

“Emangnya nggak boleh?” balas Ohm usai menutup pintu dan melangkah mendekati Nanon. 

Nanon bergeming, membiarkan Ohm menghampirinya hingga jarak di antara mereka tersisa sejengkal.

There’s a quite long stretch of silence before this happens: Ohm brings Nanon into his warm embrace, fixes his arm around his waist, and stays like that for a moment.

“You did this to me all the time. Can’t I do the same?”  bisik Ohm, tidak ada kesan usil atau main-main dalam suaranya.

Mereka sering berada sedekat ini, bahkan mungkin jauh lebih dekat dari ini; but for Nanon, this hug isn’t the same, it doesn’t feel the same, not even close. Nanon tidak tahu apakah Ohm merasakan hal yang sama dengannya—perasaan aneh yang sedari tadi menariknya mencoba kembali.

(Oh… shit. Are we in love?)

Nanon tertegun.

Is this the thing that P’Tay warned him about?

Or can this be maybe, just maybe, if this isn’t his supposed character or any goddamn thing he could blame… then this feeling might genuinely come from his heart?

Ohm menarik diri sejenak lalu mengecup pipi Nanon singkat. “Jangan bosen ketemu gue besok, ya?” Ohm mundur satu langkah, memandang Nanon untuk yang terakhir kali. “Bye-bye!”  

Ohm baru akan balik badan saat Nanon menahannya. 

This time around, Nanon is convinced… this feeling could be his. 

“Ohm,” Nanon memanggil namanya—letting go of the breath he’s been holding. He thinks: it’s just the two of them now, why would he care about the rest of the world?

“Coba liat sekarang jam berapa.”

Ohm mengangkat tangan kirinya, melihat jam yang melingkar di pergelangannya. “Jam setengah satu, kenapa?”

Nanon tersenyum miring, sebelah lesung pipi yang manis terbit di wajahnya. “Udah malem banget nggak, sih?”

Satu alis Ohm terangkat. “Kenapa emangnya?”

Dengan senyum yang masih merekah, Nanon mengambil dua langkah lebih jauh sambil bergumam, “Kalo udah kemaleman gini, nggak mau nginep aja?”

(Oh… shit. Are we in love?)

(Oh… shit. Are we in love?)

Perlahan, senyum di bibir Ohm mengembang; seakan-akan bersama senyuman itu, dia baru saja memberikan jawabannya.

Suddenly, that song makes so much sense now.

Oh, shit. Are they in love?

Notes:

if you're interested in submitting your commission, you may refer to this link: bit.ly/dbrightvcommis.
thank you and see you at my 2nd commis!