Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-12-13
Words:
2,439
Chapters:
1/1
Comments:
12
Kudos:
697
Bookmarks:
33
Hits:
17,710

My Boyfriend does My Makeup

Summary:

"Kak Donghyuck, bikin challenge my boyfriend does my makeup sama pacarnya kakak dong."

Diam-diam Donghyuck melirik Mark yang sedang bersandar di sofa, sebuah laptop ada di pangkuannya, juga kertas yang bertuliskan angka-angka berada di sekeliling yang lebih tua.

Mark merasakan dari ujung matanya, bahwa Donghyuck sedang memandang dirinya dalam diam.

"Yaudah ayo."

Donghyuck terkesiap saat tiba-tiba Mark berbicara. "Ayo apa?"

"Bikin konten, sama Mas." Jawab Mark dengan pandangan yang belum beralih dari laptop.

Notes:

HALOOOO SEMUAAAA, aku enggak begitu berpengalaman dalam hal per make-up an. Jadi jika ada kekeliruan, mohon dimaklum ya. Happy reading!

Work Text:

"Beneran?"

"Iya."

"Mas serius duluuuu, beneran?"

"Hmmm." 

Donghyuck memandang skeptis kekasihnya yang masih sibuk mengetikkan sesuatu di laptop. Jawaban Mark yang seadanya juga atensi yang tidak sepenuhnya tertuju pada dirinya, membuat Donghyuck masih tidak percaya dengan jawaban Mark.

Semua berawal dari Donghyuck yang seru membacakan komentar-komentar yang ia dapat di video yang beberapa hari lalu ia upload.

"Makasih karena video kakak, aku jadi punya gambaran produk apa yang bagus buat aku. Hehehe yay! Seneng bisa bantu."

"Kak, tips supaya foundie enggak crack? Wah bagus nih pertanyaan, bisa dijadiin buat konten nanti, tips and trick pakai foundation."

"Kak Donghyuck, bikin challenge my boyfriend does my makeup sama pacarnya kakak dong."

Diam-diam Donghyuck melirik Mark yang sedang bersandar di sofa, sebuah laptop ada di pangkuannya, juga kertas yang bertuliskan angka-angka berada di sekeliling yang lebih tua.

Mark merasakan dari ujung matanya, bahwa Donghyuck sedang memandang dirinya dalam diam.

"Yaudah ayo."

Donghyuck terkesiap saat tiba-tiba Mark berbicara. "Ayo apa?"

"Bikin konten, sama Mas." Jawab Mark dengan pandangan yang belum beralih dari laptop.

Dan terjadilah perdebatan kecil antara Donghyuck yang belum percaya dengan Mark yang setuju namun masih sibuk untuk menjelaskan.

"Ih kamu tuh serius gak?" Bahkan kini posisi duduk Donghyuck sudah tegap menghadap Mark. Meminta jawaban pasti dari pacarnya itu.

Ya ... Jangan salahkan Donghyuck jika dirinya susah percaya saat Mark dengan mudahnya meng-iyakan. Selama tiga tahun berpacaran, baru kali ini Mark terang-terangan setuju untuk menampilkan wajah di video miliknya. Dulu Mark selalu saja beralasan malu. Cukup suaranya saja yang kadang terekam.

Mark menekan tombol save. Memasukkan berkas-berkas pekerjaan ke dalam tasnya, lalu menyimpan laptop yang sudah ia matikan ke atas meja.

Kini pandangan Mark sepenuhnya untuk Donghyuck, lalu ditatapnya Donghyuck dengan lembut. "Iyaa, Mas serius. Kamu mau?"

Senyum lebar tercetak di bibir Donghyuck. Kemudian ia langsung menghambur ke dalam pelukan Mark. "Mau! Mau! Makasih banyak Mas!"

Mark tertawa kecil. Ia usap rambut Donghyuck lembut. "Sama-sama sayang."

 

 

[]

 

Setelah merapikan peralatan makeup miliknya di atas meja, menyiapkan kamera juga lighting, akhirnya Donghyuck siap untuk merekam konten terbarunya.

Mark sudah siap duduk di sampingnya, dengan senyum kecil tidak berhenti ditampilkan oleh wajah tampan yang lebih tua.

"Udah?" 

Donghyuck mengangguk mantap. Lalu setelahnya ia menekan tombol on pada kamera. Membiarkan tiap gerak-geriknya bersama Mark tertangkap melalui lensa.

"Hello everyone! Karena banyaknya permintaan buat bikin konten bareng pacar aku ..." Donghyuck kemudian melirik ke arah Mark dengan malu-malu, " ... jadilah konten kali ini hehehe. Mungkin kalian udah gak asing ya sama nama pacarku, soalnya udah sering juga aku sebut namanya, dan suara dia sering kedengeran di video-video aku sebelumnya. Tapiiiii buat kali ini, pacarku pertama kalinya setuju buat tampilin wajahnya dia."

Jemari Mark terulur, lalu ia tautkan dengan jemari milik Donghyuck. 

Donghyuck yang sedang mengucapkan intro untuk videonya seketika terdiam. Lalu ia menoleh, bertanya kepada Mark mengapa tiba-tiba saja menggenggam tangannya.

"Kenapa Mas?"

Mark hanya menggeleng, masih dengan senyum kecil yang sedari tadi belum luntur. 

Jujur, Donghyuck sedikit salah tingkah ketika jempol milik Mark yang sedang menggenggam tangannya, Mark gunakan untuk mengelus pelan permukaan kulit tangan Donghyuck yang bisa ia gapai.

"Okay ... Hehe jadi ini dia, pacar aku." Mata Donghyuck kembali lagi menghadap kamera, kini dengan pipi yang sedikit memerah. "Namanya Mark."

Mark mengangguk ke arah kamera, tangan miliknya dan Donghyuck masih saling menggenggam. Secara rahasia, tidak tertangkap kamera. "Hi everyone, my name is Mark. And I'm Donghyuck's boyfriend."

"Mas Mark di sini, akan makeup in aku. Dia tuh sama sekali gak ada basic bisa makeup an. Jadi, aku gak akan berharap banyak sama hasilnya." Donghyuck tertawa di akhir kalimat.

"Jangan nyepelein Mas ya." Mark bersuara.

Donghyuck makin tertawa, "hahaha oke, kalau hasil makeup kamu seenggaknya gak jelek-jelek banget dan tahapan nya betul, aku akan kasih kamu hadiah. Tapiiii ... semisal nanti hasilnya bikin aku shock karena aneh, kamu yang kasih aku hadiah. Deal?"

Mark mengangguk mantap. "Deal."

Donghyuck tersenyum licik, ia sudah yakin dirinya yang akan menang. Pernah Donghyuck meminta tolong kepada Mark untuk mengambilkan concealer, namun yang Mark ambil malah foundation. Mark beralasan karena sesuai deskripsi Donghyuck, warnanya sama.

"Rulesnya adalah, aku enggak boleh ngasih tahu Mas tahapan makeup nya gimana, alat apa yang digunain dan cara ngeaplikasiinnya. Jadi hehehe good luck Mas Mark!"

"Oh iya, ini aku belum pakai makeup apa-apa yaa. Baru cuci muka dan pakai moisturizer aja. Jadi maaf kalau muka aku keliatan kayak aib."

"Orang udah cakep." Mark menggumam kecil. 

Sebetulnya Donghyuck mendengar, namun Donghyuck memilih untuk mengabaikan karena takut malah bicara salah tingkah. Jadi ia langsung mempersilakan Mark untuk memulai.

Mark sempat terdiam beberapa saat, menatap beberapa kuas yang tersedia, berbagai shade lipstick, bedak (yang ini Mark paling tahu), dan banyak lagi makeup milik Donghyuck yang tertata di atas meja. 

Kemudian Mark mengambil beauty blender dan berkata, "Mas tahu pertama kita bakal apply foundation pakai ini. Tapi Mas lupa sponge yang bentuknya kayak telur ini namanya apa hahaha."

Donghyuck cukup terkejut, memasang wajah takjub saat Mark mulai mem-pump foundation ke atas beauty blender. 

"Merem yang." Mark berbisik.

Donghyuck menurut, kemudian ia bisa merasakan Mark menepuk-nepukkan beauty blender di wajahnya. Donghyuck pikir Mark akan mengaplikasikannya dengan kasar, mengingat yang disentuh Mark selama ini adalah keyboard laptop atau bola basket. Namun Donghyuck salah besar, ia merasakan Mark mengaplikasikannya dengan begitu pelan dan hati-hati.

"Agak kencengan aja gapapa Mas ngedab-dab nya. Kalau kayak gitu nantinya gak rata." Donghyuck berkata pelan.

"Okay ..."

Dapat ia rasakan hembusan napas Mark semakin terasa menerpa wajahnya. Dan saat Donghyuck mengintip melalui sebelah mata, Donghyuck melihat wajah Mark dengan jarak yang sangat dekat.

Donghyuck tertawa, "perlu sedeket ini apa Mas?"

"Hmm." Mark menjawab seadanya, ia masih fokus untuk meratakan foundation di wajah Donghyuck.

"Ini buat apa emang yang?" Tidak lama Mark bertanya, cukup penasaran juga dengan fungsi masing-masing makeup milik Donghyuck.

"Uhh ..." Donghyuck berkedip-kedip saat Mark menepuk-nepukkan beauty blender di kantung matanya, "biar warna kulit wajah aku keliatan merata jadinya keliatan halus."

"Padahal kan udah halus yang."

Donghyuck mendengus, ada apa dengan Mark Lee hari ini? Yang lebih tua sedari tadi tidak henti memuji dirinya, "kamu lagi kenapa sih?"

"Mas emang kenapa?"

"Enggak, udah-udah enggak apa-apa."

Ucapan Donghyuck hanya dibalas tawa kecil oleh Mark. 

"Udah, selesai."

Donghyuck kini membuka kedua matanya. "Rapi?"

Lengan Mark terulur, meraih dagu milik Donghyuck dan menggerakkannya miring ke kanan dan ke kiri untuk melihat hasil kerjanya. "Lumayan."

"Good job hehehe. Next step nya apa Mas?" Tanya Donghyuck menggoda.

Sempat terlihat kebingungan, Mark akhirnya mengambil bedak tabur. "Diset pakai bedak. Pakai kuasnya yang ... ini. Yang ukurannya besar."

Donghyuck memicing curiga. Meskipun ada satu tahap yang Mark lewatkan, namun sejauh ini urutannya tidak begitu kacau.

"Mas, kok kamu tahu?"

Mark tersenyum sambil tangannya membuka tutup bedak. "Iya, Mas udah research semalem."

Mulut Donghyuck terbuka. Pantas saja! Kalau begini, sepertinya Donghyuck yang harus bersiap-siap kalah.

Melihat mulut Donghyuck yang terbuka karena terkejut, Mark menghentikan gerakannya yang akan mengaplikasikan bedak di wajah kekasihnya. 

Badan Mark maju, ia cium anak rambut milik Donghyuck yang dekat dengan pelipis. 

Selanjutnya adalah Mark yang menyapukan kuas dengan perlahan. Menyebarkan butir bedak halus di wajah Donghyuck. "Merem lagi yang." Mark kembali berbisik.

Donghyuck kembali menurut, ia memejamkan matanya. Mempercayakan Mark dengan apapun yang kekasihnya lakukan.

"Done." Ucapnya dengan suara kecil.

Donghyuck menghembuskan napas panjang saat wajah Mark menjauh. Harus diakui, ia gugup tiap wajah Mark berdekatan dengan miliknya.

"Next step?" Donghyuck bertanya lagi kepada Mark.

"Hmm ..." Mark menimbang-nimbang, lalu yang lebih tua memutuskan untuk mengambil produk yang diperuntukan untuk mata. Seperti eyeshadow, pensil alis, eye liner, dan mascara. "Buat mata dulu ya yang?"

Donghyuck menggedikan bahunya, "bebas aja."

Sebelum memulai kembali, Mark menarik napas panjang. "Whoo, okay. Ternyata baru segini juga udah capek ya hahaha."

"Hahaha ada-ada aja."

"Kamu mau eyeshadow nya warna apa?"

"Menurut Mas, yang bagus buat mata aku warna apa?"

"Peach kayaknya."

Mendengar ucapan Mark, Donghyuck menatap kamera dan mengangguk-anggukan kepala miliknya. Meng-approve pilihan sang pacar.

"Nengok sini sayang."

Yang selanjutnya terjadi adalah Mark mulai mengaplikasikan eyeshadow berwarna peach di kelopak mata Donghyuck. Namun sepertinya ia agak kesusahan karena kelopak mata berbeda dengan pipi dan keseluruhan wajah Donghyuck— luas. Sedangkan kali ini, area yang akan Mark rias begitu kecil.

"Sorry, Mas pegang belakang kepala kamu, ya?" Mark meminta izin Donghyuck untuk memegang belakang kepalanya agar ia lebih mudah untuk mengaplikasikan eyeshadow.

Donghyuck mengangguk mengizinkan. Dan entah mengapa, Donghyuck merasa posisi ini begitu intim. Mark yang memegang belakang kepalanya, posisi wajah mereka yang berdekatan, juga kini tubuh Mark yang semakin merapat.

"Yep, done." Ucap Mark setelah selesai dengan kelopak mata kiri dan kanan milik Donghyuck.

"Eye liner dulu ya?"

"Okay ..."

"Ini Mas pakein nya gimana? Takut kamu kecolok matanya."

Mau tidak mau Donghyuck tertawa kencang. "Ya ... Dipakein aja di ujung kelopak mata aku."

Mark yang memang posisi tubuhnya masih berdekatan dengan Donghyuck, menjatuhkan wajahnya di bahu sang kekasih. "I'm nervous hahaha. Beneran takut kamu kecolok."

Donghyuck mengusap-ngusap punggung lebar milik Mark. Mencoba memberi dorongan semangat kepada yang lebih tua. "You doing great so far. Aku bakalan bilang kalau aku ngerasa gak nyaman."

Mark mengecup pundak Donghyuck dari balik kaosnya sebanyak tiga kali sebelum kembali duduk tegap. 

"Alright, please tell me if you feel uncomfortable."

Mark mulai menggerakkan jemarinya untuk menggambar sebuah garis di kelopak mata Donghyuck setelah mendapat anggukan setuju dari sang kekasih.

Bagian yang ini, Mark benar-benar gugup. Lengannya sedikit gemetar karena begitu takut melukai mata pujaan hatinya.

Donghyuck tertawa kecil, "Mas ... Relax."

Hembusan napas panjang milik Mark yang selanjutnya dapat Donghyuck dengar. 

"Mas kayaknya enggak bisa pakein kamu eye liner. Kalau dilewat enggak apa-apa?"

"Iyaaa, Mas. Enggak apa-apa. Ya udah mukanya jangan sedih hahaha." Kembali Donghyuck tertawa. Tidak menyangka bahwa Mark melakukan challenge ini dengan begitu serius, hingga ia merasa begitu kecewa saat tidak bisa memakaikan eye liner di mata Donghyuck.

Mark selanjutnya memakaikan mascara di bulu mata Donghyuck. Disertai pujian yang membuat pipi Donghyuck bersemu merah. "Cantik banget mata kamu."

Mendengar pujian Mark, Donghyuck mengalihkan pandangannya menuju kamera. Seakan ia sedang bercerita dengan orang yang menontonnya. "Dia tuh biasanya enggak semanis ini. Kamu mau caper ya sama yang nonton?"

"Hahaha enggak. Cuma biar mereka iri aja enggak bisa lihat mata cantik kamu sedeket aku."

"Udaaah ah udaaah. Next nya apa next?" 

Donghyuck mulai salah tingkah.

"Alis juga gak perlu. Alis kamu udah cakep. Kalau aku gambar takutnya malah jadi kayak ulet bulu."

Jadi Mark putuskan untuk beralih memakai produk perona untuk pipi. Saat mengusapkan blush on di tulang pipi Donghyuck, Mark bertanya. "Kamu tahu enggak kalau pipi kamu bisa semerah ini tanpa blush on."

"Pas aku mabuk? Atau pas aku kepanasan sih biasanya emang merah."

"Ada lagi yang bisa bikin pipi kamu merah."

"Hng? Apa?"

"While we make-out, or when you are under me. Don't you know you can be so red?"

Mata Donghyuck terbuka lebar. Terlalu kaget atas ucapan Mark yang tidak disaring. Ia pukul bahu yang lebih tua pelan. "Mas! Ih ngomong apaan si?"

"Ya emang gitu kan faktanya." Senyum miring terbit di bibir milik Mark.

"Ya masa nanti yang nonton musti tau hal kayak gitu?"

Mark menghentikan gerakan lengannya yang sedang menyapukan kuas di pipi kiri Donghyuck. Lalu ia memajukan tubuhnya, mengecup bibir Donghyuck cepat. "Maaf, di-cut aja ya nanti, bisa?"

Donghyuck gagal marah jika Mark begini. "Hhh, iya bisa. Yaudah lanjut lagi. Satu, dua, tiga, action!"

Setelah mendapat clue, Mark kembali melanjutkan menyapukan blush on di pipi kiri Donghyuck. Membuat ke dua pipi kekasih kini merona bagai mawar yang baru mekar dari kuncupnya.

"Cantik ... Cantik banget."

Kini Donghyuck hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Mark. "Terima kasih." Disertai tawa kecil.

Mark menepukkan tangannya sekali, sebelum menyambar produk pewarna bibir. "Okaaay, terakhir pakai lipstik! Aku mau warna ini ya?"

Mark menunjukkan lipstick berwarna merah ke hadapan Donghyuck. 

"Boleeh."

Setelahnya adalah Mark yang dengan fokus mengusapkan lipstik di bibir bawah dan atas Donghyuck. Satu tangan Mark yang lain memegang tulang rahang Donghyuck agar tidak begitu banyak bergerak.

"Selesai." Mark berkata dengan suara rendahnya.

Namun sampai kata selesai diucap, Mark belum melepaskan wajah Donghyuck dari genggamannya. 

"Udah?" Donghyuck bertanya bingung.

"Udah."

"Hehe, yaudah lepas muka akunya?"

"Mau cium dulu, boleh? Your lips are so tempting." Jempol milik Mark kini mengusap pelan pipi Donghyuck.

Jika sebelumnya pipi Donghyuck sudah merona karena dipakaikan blush on, maka saat ini pipi miliknya tambah memerah karena permintaan Mark.

"Nanti aja ... Kan masih direkam." Ucap Donghyuck malu-malu.

"You can cut this."

Dipandang sebegitu inginnya, membuat Donghyuck pada akhirnya juga sama-sama menginginkan.

"Okay, boleh."

Saat jarak wajah hanya tinggal sebatas jari telunjuk, Mark berucap sebelum mendaratkan bibirnya di bibir merah milik Donghyuck, "thank you, sweetheart. You looks so ... so ... good."

"Cepet cium aku." 

Mark tersenyum miring. Oh, keadaan berbalik. Kini Donghyuck yang menuntut.

Maka dengan memajukan wajahnya sedikit, Mark sudah dapat mencium bibir sang kekasih. 

Bibir merah itu Mark cium dengan dalam. Disesapnya bagian atas lama. Karena bagi Mark, bibir atas Donghyuck begitu pas berada di tengah mulutnya. 

Kemudian Mark beralih ke bibir bawah Donghyuck yang tidak kalah penuh. Ia gigit perlahan bawah bibir pujaan hati, menghasilkan lenguh pelan dan langsung Mark jilat agar menyamarkan nyeri.

Donghyuck tidak kalah menikmati. Kedua matanya terpejam, lengannya kini sudah bersarang di rambut pendek yang lebih tua. Mengusapnya seirama bibir yang bergerak.

Entah berapa lama durasi mereka saling mencumbu. Yang jelas keduanya berpisah bukan karena mau, namun karena harus. Ini akan menambah panjang proses pengeditan bagi Donghyuck.

Saat wajah mereka sudah berjarak, jemari Mark mengusap sisa liur yang berada di bibir Donghyuck.

"Yang ... Keren banget lipstik nya enggak luntur."

"Iya, yang kamu pakein lipstik nya kissproof."

Mark mengangguk paham. 

Setelah mengatur napas, Donghyuck putuskan kembali memulai. Karena jika tidak, durasi video akan semakin panjang.

"Okay, kita mulai lagi ya? Tiga, dua, satu!" Donghyuck pamerkan senyum lebar ke arah kamera, "yaaay! Akhirnya sudah selesaaai. Aku enggak sabar banget lihat hasil make up kamu hahaha."

Tanpa kata, Mark menyerahkan kaca bulat berukuran sedang kepada Donghyuck. 

Satu hal yang paling menarik perhatian Donghyuck adalah kondisi bibirnya. Meskipun lipstik nya tidak luntur, namun kini agak berantakan. Juga volume bibirnya yang agak membesar. Donghyuck bertaruh ini juga akan menjadi perhatian penonton video setianya. 

Ingin menyalahkan Mark, namun ia juga sama-sama menginginkan. Jadi Donghyuck putuskan untuk tidak membahasnya. 

"Hahaha lumayan deh, Mas. Enggak berantakan-berantakan amat. Meskipun kamu kelewat satu produk, kamu gak pakein aku concealer. Tapii gapapa, segini udah lumayan." 

Donghyuck bergerak mencium pipi Mark, "you did well, Mas!"

Mendapat pujian dari pacarnya, Mark tidak dapat menyembunyikan ekspresi senang.

"Jadi oke, ya? Aku yang menang nih?"

"Iyaaaa. Mau apa hadiahnya?"

Mark pandangi Donghyuck dalam. Senyum sedari tadi belum hilang. "Nanti aja, off cam."

Wajah Donghyuck rasanya semakin bersemu merah.

"Hah apaan sih? Minta apaaa?"

"Nanti aja sayaaang. Closing aja dulu cepetan."

Dan dengan segera Donghyuck melakukan closing untuk video nya. Selesai kamera ia matikan, Mark langsung menarik tubuh Donghyuck ke atas pangkuannya.

"Mau minta apaaa?"

"Kiss me again."

Donghyuck tersenyum, menuruti keinginan Mark dengan suka rela. Hadiah untuk yang lebih tua karena sudah bekerja keras mendandani dirinya.

 

[]