Chapter Text
Ini malam kesembilan Haechan pindah ke kota besar pinggir pantai nan ramai ini. Rasanya waktu berlalu sangat cepat, rasanya baru kemarin Haechan pergi naik mobil meninggalkan kampung halamannya di gunung sana dengan perut penuh diisi dengan darah kelinci yang neneknya masak sebagai menu makan siang mereka, terlebih untuk Haechan yang akan pergi jauh merantau ke kota seberang. Rasanya baru kemarin perut kekenyangan Haechan bergejolak sebab rasa senang melihat gedung-gedung pencakar langit menjulang membelah awan di depan matanya.
Haechan itu punya seribu ambisi ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota penuh gemerlap ini. Ia ingin menjadi penyanyi—begitulah impiannya sedari dulu. Saat pertama kali keluarganya mendengar impian Haechan itu, semuanya tertawa, vampire mana yang bisa menjadi penyanyi, kata mereka. Namun daripada berlarut dalam sedih dan keputusasaan, Haechan malah semakin termotivasi, ia akan buktikan bahwa ia bisa bernyanyi dan layak menjadi seorang penyanyi.
Hingga di hari ulang tahunnya tahun ini, Haechan memenangkan audisi broadway, yang akhirnya mengantarkan dia menuju kota besar yang tak pernah ia kunjungi ini.
Semua keluarganya cemas, vampire tak bisa berbaur dengan manusia biasa. Masa lalu antara dua jenis ras manusia ini terlalu kelam, terlalu menyakitkan. Tapi semua orang pun tau bahwa zaman telah berubah, kini tak ada lagi bawang putih di depan pintu atau obor mengepul yang siap membakar vampire, kini manusia biasa tak peduli dengan apapun yang ada di sekitar mereka. Jadi kenyataannya kecemasan yang dirasakan keluarga Haechan itu hanyalah sebatas kecemasan berlebihan belaka. Maka dengan perasaan berdebar, Haechan pun tetap dilepas untuk mengejar mimpinya.
Tapi sejujurnya, Haechan mengerti dengan perasaan cemas keluarnya. Kecemasan itu bukan hanya cemas karena pikiran Haechan akan diserang manusia, bukan, melainkan soal bagaimana Haechan bisa membaurkan diri. Haechan mengerti kecemasan keluarganya sekarang karena benar, ia sekarang sama sekali tak bisa berbaur.
Haechan hidup di kampung halamannya selama seluruh hidupnya, 21 tahun totalnya. Dan ini hari kesembilannya berada jauh dari kampung halamannya, dan rasanya ia ingin menangis saja.
Haechan harus bekerja dan berlatih di siang hari, dan malamnya ia harus istirahat untuk mengulang kegiatan itu di keesokan harinya—ini begitu menyiksa! Vampire tidak terlalu terbiasa bekerja di siang hari. Vampire adalah makhluk malam, Haechan lebih aktif di malam hari, ia sama sekali tak bisa tidur seperti yang pelatihnya tuntut.
Rasanya begitu menyiksa ... terlebih lagi rasa rindunya kepada keluarganya, dan, oh! Ia benar-benar benci makanan manusia! Rasanya aneh ... dan berminyak! Darah kelinci adalah yang terbaik, bahkan darah ayam yang sering Haechan tolak untuk makan pun terasa lebih baik daripada tumpukan roti dengan isi daging yang sering dimakan manusia kala jam makan siang tiba.
Apa ... memang seharusnya Haechan tidak ke sini saja? Apa memang seharusnya Haechan diam di rumah saja?
Pikiran Haechan berjalan sangat dramatis seiring kakinya yang melangkah menyusuri trotoar kota dalam gelap dan dinginnya malam.
Berdiam diri di dorm -nya terasa sangat menyedihkan, Haechan butuh berjalan keluar sebentar. Ia ... ia butuh memakan sedikit darah .... Tentu saja kan di kota ini ada kelinci, atau kucing ...?
Oh ya kucing, eumm Haechan jarang memakan darahnya namun ia tau rasanya cukup manis. Seperti kucing hitam yang ada di samping tempat sampah itu, yang sedang duduk sambil menatap Haechan tajam. eumm ... sepertinya rasanya akan sangat enak, sangat mengenyangkan perut Haechan yang kelaparan.
"Halo, apa kau mau menyumbangkan darahmu untukku?" Haechan duduk berjongkok, mengelus kepala kucing itu dengan mata berbinar.
Oh kucing yang lucu. Sungguh baik hati ia mau saja Haechan gendong, Haechan endus, kemudian Haechan elus untuk mencari titik dimana nadinya berada.
Mata Haechan semakin berbinar melihat pembuluh darah yang berdetak di bawah kulit tipis kucing itu. Lantas gigi taringnya ia tampakkan, dalam hitungan detik, taring itu akan menancap di kulit kucing manis itu, menyerap rasa yang akan membuat Haechan senang bukan main.
"Hey, apa itu?!"
Namun sebelum sempat Haechan menancapkan taringnya, sebuah suara yang menggelegar, yang terasa ditujukan untuknya, menghentikan gerakannya. Kepala Haechan perlahan memutar ke samping, menengok ke arah suara lalu saat matanya melihat seseorang dengan pakaian aneh sedang berdiri tak jauh darinya, seakan tengah menatapnya tajam, saat itu pula Haechan menjatuhkan kucing manis itu dari tangannya. Ia kebingungan bercampur terkejut memikirkan hal apa yang sedang terjadi sekarang ini.
"Apa yang kau lakukan?"
Tanya suara itu lagi.
Haechan hanya terdiam, ia tak bisa menjawab. Pandangnya masih terfokus menatap kostum merah bercorak biru yang menyelubungi seluruh badan lelaki itu–bahkan kostum itu menjadi celana juga bajunya, begitu tampak sangat sesak, bahkan ototnya terpampang sempurna di kostum yang ketat itu. Dan jangan lupakan topeng merah dengan bentuk mata yang aneh itu–lelaki itu ... tampak konyol.
Haechan mendekat, masih menatap lelaki itu, menelaah saat menyadari ada bentuk jaring laba-laba hitam yang menjalar di kostumnya. "Kau ini apa?" Akhirnya Haechan buka suara kebingungan.
"Spider-Mark."
oh, apa itu?
Itu tak menjawab kebingungan Haechan. Ia malah semakin menjadi bingung, apakah benar-benar ada orang yang bernama Spider-Mark atau itu hanya nama julukan aneh agar tampak keren yang biasanya teman selatihannya gunakan?
Haechan itu cukup banyak ingin tau, ia sering bertanya-tanya hingga kebingungan sendiri, seperti saat ini, ia malah jadi seperti orang bodoh yang kebingungan.
"Kau tak tau diriku?" Tampaknya si 'Spider-Mark' itu sadar wajah lucu Haechan. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan tangan bersarung tangannya, bertanya dengan nada sedikit naik.
"Ya ...." tampak ragu-ragu Haechan menjawab. Ia takut jawabannya itu akan membuat marah lelaki bertopeng aneh itu secara kemarin, ketika ia menertawakan temannya yang menggunakan nama keren 'Ttoki-Nana', ia langsung dihabisi habis-habisan dengan omelan panjang selama jam makan siang.
"Oh."
Namun bukannya omelan atau tawa, atau pun kemarahan, yang dapat Haechan dengar setelahnya hanyalah itu. Lelaki itu hanya bergumam pelan kemudian terdiam.
"Apakah itu nama keren ...?" Masih bingung, juga takut sang lawan bicara tersinggung, Haechan bertanya pelan. Sebenarnya cukup susah untuk menerka apa yang tengah lelaki itu rasakan secara ia bertopeng dan oh! Suaranya sungguh datar!
"Bukan." Jawab lelaki itu singkat. "Itu namaku."
"Nama yang unik." Haechan bercicit. Namun setelahnya, saat lelaki berkostum biru-merah itu semakin mendekat kepadanya, Haechan dapat mencium dengan jelas bau … bau darah! Bau darah … darah manusia … begitu, begitu manis ….
"Apa … apa kau berdarah?" Seharusnya tak begini, seharusnya Haechan tak bertanya begini dengan air liur yang hampir menetes karena, astaga! Ia lapar!—dan darah manusia itu adalah hidangan mewah … hidangan langka … Haechan bahkan belum pernah mencobanya, tapi itu selalu terasa manis, lebih manis dari darah rakun—Haechan jadi menginginkannya ….
"Ya." Tampak tangan bersarung merah itu menyeka sedikit area lengan kanannya kemudian di bawah remangnya jalanan malam kota, ia pertunjukan sedikit bercak darah—yang berwarna sama dengan kostum atasnya—ke depan mata Haechan. "Aku habis bertarung. Kau tau … Spider-Mark bekerja untuk menyelamatkan warga."
Haechan menelan ludahnya kasar. Di depannya ada darah. Darah segar. Tercium sangat manis, terdengar sangat lezat. Mata Haechan sampai berwarna merah sangking senangnya ia melihat darah itu. Kerongkongannya sampai tercekat oleh kesenangan dan degupan jantung yang berlebih. Ia berdehem, berusaha tampak biasa saja, tampak selayaknya warga biasa, lalu berujar kepada si Spider-Mark, "aku orang baru di sini jadi tidak tau banyak tentang pekerjaanmu tapi apa kau bisa membantuku? Kerjaanmu untuk membantu warga kan?" Ucap Haechan, mengeluarkan kembali gigi taringnya. Siap untuk menerima bantuan dari si Spider-Mark.
Orang ini tampak aneh.
Begitu pikir Mark saat ia berjalan turun ke tanah dari ayunan jaring tangannya.
Ia baru saja balik dari mengejar penjahat yang sering berkeliaran tiap malam untuk merampok barang-barang tunawisma. Perkelahian tadi cukup epik! Beberapa serpihan kaca tadi sampai mengenai badannya. Namun namanya juga Spider-Mark, ia tetap akan menang, tetap akan menjadi pahlawan warga. Lalu saat semua tugasnya selesai, yang Mark dapati di salah satu gang sepi itu adalah orang aneh itu, menggendong seekor kucing lucu selayaknya ingin memakannya—apa dia mabuk?
Selayaknya sang pahlawan kota sejati, Mark berusaha menghentikannya, namun, hey! Ia bahkan tak tau Mark. Ia tidak tau Spider-Mark, tak tau makna kostum ketat nya ini apa. (Ia bahkan berpikir Spider-Mark adalah nama keren, astaga!) Tapi tak semua orang harus mengenal Spider-Mark kan? Maksudnya, kota ini besar, orang baru datang dan pergi, tak mungkin semuanya tau Mark kan?
Lelaki berkulit pucat dengan mata bulat itu tergolong polos. Mukanya terus tampak kebingungan, bibir merahnya terus mengerut seiring dirinya yang tampak berpikir dalam diam. Dia tidak mabuk, mungkin hanya ngantuk. (Sama seperti Mark. Ia sudah terlanjur mengantuk jadi yang ia bisa lakukan hanyalah menjawab pertanyaan lelaki itu seadanya agar ia bisa cepat pulang.)
Lantas saat Mark yakin bahwa tak ada urusan lagi yang harus ia bahas dengan lelaki ini, ia pun berjalan maju, ke arah lelaki itu. Apartemennya berada di lurusan gang ujung sana, ia hanya ingin berjalan ke arah apartemennya, namun sepertinya lelaki ini malah berpikir lain. Wajahnya tampak mengerut, nafasnya bahkan tersengal tiba-tiba. Mark dapat melihat rona merah langsung bersemi di pipi pucatnya.
Apa … apa yang lelaki in pikirkan? Apa ia berpikir Mark akan melakukan sesuatu kepadanya?—dengan kostum yang sangat mencolok begini, dengan topeng yang menutup seluruh wajahnya, apakah ia berpikir bahwa Mark akan menciumnya? (Sebenarnya pemikiran berlebih Mark ini tidak logis secara itu termasuk pelecehan) Ini bukan seperti ia ingin mendekat atau melakukan hal yang aneh! Oh, Mark hanya ingin pulang!
"Apa … apa kau berdarah?"
Lalu, tak seperti praduga Mark, pun tak seperti wajahnya yang memerah mengerut seakan ia gugup, pertanyaan lirih itu terlontar dari bibir hati lelaki itu. Seharusnya pertanyaan itu tersirat makna khawatir, namun sebaliknya, yang dapat Mark tangkap dari nada bicara itu ialah antisipasi.
Mark sedikit menaikkan alisnya dari balik topeng nyamannya. Ia mengikuti arah lirikan lelaki itu—lengan kanannya, lantas menyadari ada luka sobek berdarah di sana.
Ya tentu saja, dia habis melawan musuh yang agak merepotkan. Luka kecil seperti ini bukanlah apa-apa, hanya hal biasa.
Tetapi Mark tak akan pernah menyangka di dalam hidupnya, di tengah-tengah-tengah kota besar ini, bahwa ia akan melihat sebuah taring keluar dari senyuman manis lelaki itu. Matanya memerah, lebih merah dari pipi berseminya—lelaki dengan mata bulat itu … vampire …?
"Apa kau bisa membantuku? Kerjaanmu untuk membantu warga kan?" Itu katanya.
Mark tercekat. Ia takut (tentu saja), tapi di atas perasaan takutnya, ada perasaan terkejut. Ia pikir vampire hanya ada di pinggiran negara! Di tempat terdalam, di sudut desa. Kenapa bisa ada vampire di tengah kota begini? Mark … Mark belum pernah bertemu vampire sebelumnya!
"Kau vampire?"
Sepertinya pertanyaan itu sangat menyiratkan keterkejutan Mark. Lelaki itu tampak terkejut pula, sadar bahwa mungkin ia menakuti Mark. "Y-ya." Jawabnya. "Maaf aku tiba-tiba berubah menjadi vampire tanpa memperkenalkan diri, sungguh tidak sopan— eum … namaku Haechan, aku baru pindah ke kota ini 9 hari yang lalu. Aku … aku belum terbiasa dengan kehidupan manusia normal. Aku suka burger, tentu saja, tapi aku ingin minum darah, makanya aku keluar malam-malam begini mencari binatang."
Oh.
Mark tak tau bahwa ada vampire sungguhan di kota ini. Jikalau pun ada, mereka pasti akan menyembunyikan identitas mereka, rasanya Mark tak pernah menyelamatkan atau pun bertarung dengan vampire selama hidupnya. Sekali lagi, ini pertama kalinya Mark melihat taring vampire dan mata merah itu secara langsung. Selama ini ia hanya melihatnya sebatas dari dokumenter National Geographic tentang ras-ras manusia.
Mark tau bahwa vampire tak seburuk yang dokumenter-dokumenter itu tampakkan—penuh jerawat seakan tak pernah mandi beribu-ribu tahun, kurus tinggi, hingga memiliki mutasi genetik aneh lainnya—dalam faktanya, seperti sekarang, vampire ini terlihat seperti orang biasa (kecuali taring dan warna matanya), ia menggunakan kaos dan celana jins seperti anak muda biasanya. Seharusnya Mark tak harus berpikir sejauh ini, vampire itu juga manusia.
"... jadi aku melihat seekor kucing dan hendak menghisap darahnya—"
Heh?
Ia ingin menghisap darah kucing katanya? Kucing tadi yang ia peluk-peluk gemas itu … ingin ia hisap darahnya?!
"Kau tak boleh menyakiti kucing!" Mark menyergah cepat. "Tidak ada yang boleh menyakiti hewan." Mark mendengus. Sekelebat bayangan imajiner kucing kesakitan yang digigit lehernya terlewat di kepala Mark, membuat Mark merinding ngeri.
"Maaf …." Haechan berlirih mengerucutkan bibirnya. Matanya menatap bawah sekejap tanda ia merasa bersalah namun dengan cepat pandang itu naik kembali untuk menatap Mark—penyesalannya cukup cepat juga, ya . "Maka dari itu, apakah … apakah aku boleh menghisap darahmu … darah lukamu itu. Aku … aku sungguh lapar—aku tidak akan menggigit lebih! Aku hanya akan menghisap darah lukamu saja! Tidak lebih. Kalau kau tak percaya tak akan aku sakiti, aku akan berusaha memasukkan kembali taringku—"
Kepala Mark rasanya kosong bersamaan dengan kalimat permohonan itu mengalir dari lisan Haechan. Tentu saja, vampire suka darah, dan darah yang terpampang nyata di depan mata mereka, darah segar yang terus merembes di lengan kanannya ini adalah keinginan mereka, keinginan paling utama mereka.
Melihat mata berwarna merah dengan siratan sedih juga bersemangat itu membuat Mark berpikir panjang, bahkan setiap kata-kata yang Haechan ucap setelahnya pun tak Mark hiraukan. Ia berpikir keras, ‘apakah ia harus memberikannya?’ Mark takut. Seharusnya Mark tak percaya dengan lelaki asing ini, tapi … melihat wajah polos lumayan memelas itu, juga bibirnya yang membulat lucu saat sesekali melirik darah Mark, membuat Mark goyah. Ketidakpercayaannya seakan tak valid.
Apa kau bisa membantuku? Kerjaanmu untuk membantu warga kan?
Dan perkataan itu terngiang kembali di kepala Mark.
Lelaki itu benar, tugas Mark adalah membantu warga.
Ia sepertinya memang harus membantu Haechan, karena ia adalah warga, terlepas dari seberapa menakutkannya mitos ras nya, terlepas dari seberapa tajam taringnya, Haechan adalah warga. "Kau boleh menjilat darahku. Sedikit saja, sampai lukanya kering."
Tak akan pernah Mark sangka, setelahnya mata merah lelaki itu balik menggelap, penuh binar, penuh keceriaan. Ia melonjak-lonjak, senyumnya mengembang dari telinga ke telinga. Lantas dengan suara melengkingnya, Haechan berteriak, "Terima kasih Spider-Mark, aku sayang padamu!"
Mark mengerjap gugup dari balik topengnya saat tangan Haechan menariknya menuju suatu sudut. Tak seperti cerita horor picisan, sudut itu terang benderang, namun begitu tertutup hingga mungkin tak akan ada orang yang menyadari.
Haechan menurunkan kepalanya menuju lengan terluka Mark. Vampire itu tak langsung merasakan darah Mark, ia tampak mengendus dahulu, bergumam-gumam penuh kebahagiaan di dalam endusannya.
Mark hanya bisa berdiri mematung, berdebar begitu gila menunggu aksi Haechan selanjutnya.
Tak ada yang bisa vampire itu jelaskan sebenarnya tentang bagaimana bau manis darah itu begitu memanjakan setiap saraf perasanya—itu begitu menakjubkan! Bahkan ia belum mengecap rasa manis darah Spider-Mark namun hatinya sudah luar biasa bahagia hanya dengan mengendusnya saja.
"Apa kau masih lama?" Mark bertanya, menyentak Haechan dari adegan mengaguminya.
Haechan mengerjap. Ia pikir Mark akan ketakutan atau melakukan beberapa adegan drama lainnya sebelum Haechan mengesap darahnya, maka dari itu Haechan memberi jeda sebentar—atau sebenarnya ia memang hanya ingin mencium bau darah itu terlebih dahulu, menyisakan bagian terbaiknya untuk nanti—ia pun juga sebenarnya tak sabar untuk merasakan hidangan utamanya. "Baiklah, akan ku mulai." Ujar Haechan. Ia lantas semakin maju mendekat pada luka Mark, menempelkan lidahnya di sana dan, wah , badan Haechan bergetar merasakan betapa nikmatnya hidangannya kini.
Seperti yang diduga, ini begitu manis, begitu lezat. Ditambah dengan fakta Haechan yang kelaparan. Oh , ini seperti kau sudah tidak makan 3 hari lamanya jadi makanan apapun pasti akan terasa sangat nikmat kan, apalagi makanan enak seperti ini. Mata Haechan sampai memutar ke belakang sangking nikmatnya … ow, this thing is such a porn for him!
Haechan tak bisa untuk menarik taringnya (padahal ia sudah berkata kepada Mark untuk menarik taringnya tapi taring itu akan keluar otomatis kala Haechan kelaparan hendak meminum darah, atau kala ia merasakan darah yang enak) jadi agar tidak menyakiti Mark—ia takut ia akan menggigit luka Mark—Haechan hanya menjilat pelan luka itu, sama sekali tak menaruh penuh mulutnya di luka itu. Cara ini memang agak lama dan merepotkan tapi hey, apapun caranya, darah Mark tetap yang paling nikmat.
Di lain sisi, Mark membuka matanya, mengerut saat ia mengintip ke bawah dan menemukan Haechan yang menjilat lukanya bak anak anjing.
Apa memang seharusnya begini?
Oke, ia tau bahwa Haechan hanya akan menjilatnya, tapi tetap saja! Apa seharusnya memang begini? Daripada tampak menyeramkan, vampire itu tampak lucu … sangat-sangat lucu. Kepala bulat dengan surai coklatnya turut bergoyang kala ia menjilat lalu mengesap riang.
"Apa kau masih lama?"
"Sedikit lagi."
Dan saat kepala itu melongok ke arahnya, Mark tarik semua ucapannya tentang betapa lucunya Haechan. Jantungnya hampir berhenti karena mata memerah lelaki itu yang menatapnya! Itu menyeramkan jujur saja.
Jadi Mark biarkan Haechan untuk terus menikmati darahnya, menunggu sampai darah lukanya mengering diminum.
Haechan masih menikmati dengan riang, lidahnya tak henti-henti menjilat luka Mark.
Bugh!
Namun tanpa antisipasi, tanpa Haechan sadari, seseorang telah memukul tengkuk Mark, membuat lelaki itu tersungkur, terjatuh menghimpit dirinya–Spider-Mark pingsan!
Mata Haechan melotot, tak percaya dengan kejadian yang baru saja ia alami. Siapa yang berani-berani menganggu waktu makan malamnya?!
"Halo, aku lihat kau sedang menyantap Spider-Mark."
Dari arah belakang tubuh Mark, Haechan dapat melihat seorang pria bermasker tengah menatap ke arahnya. Tongkat bisbol yang ada di tangannya dapat dengan eksplisit menunjukkan bahwa ialah pelakunya.
"Sst!" Lelaki itu berbisik, mendekat ke arah Mark yang berada di atas Haechan. "Jangan kasih tau Spider-Mark, ya." Lalu dengan gerakan cepat, Haechan dapat melihat tangan lelaki itu merogoh sesuatu dari badan Mark dan dengan kedipan terakhirnya pada Haechan, lelaki itu pergi berlari secepat kilat.
Haechan terdiam … apa itu tadi? Lelaki itu baru saja melakukan apa? Dan, oh, mata merah itu … jangan bilang ... jangan bilang ... dia juga seorang vampire?!
LELAKI ITU VAMPIRE?!
Namun masih belum sempat terbangun dari bengongannya, badan Mark yang menindih Haechan tiba-tiba bergerak. Lelaki itu terbangun dari pingsan kilatnya.
"Eungh …." Mark melenguh, menggeliat hendak bangun. "Apa yang terjadi …?" Suaranya begitu lemah, Haechan jadi kasihan.
"Aku tidak tau …." Haechan berkata jujur, ia tidak tau ia baru saja mengalami apa. Hal aneh apa yang baru saja ia saksikan.
Mark perlahan bergerak terduduk, membuat Haechan akhirnya terlepas dari kungkungan Mark. "Aku merasa aneh," ujar Mark.
"Kau baru saja pingsan."
Mungkin akhirnya otak Haechan mulai tersambung dengan dunia sekitar—yang mana langsung mendapatkan cekatan kaget dari Mark. "Karena?" Dengan nada sedikit tinggi, Mark bertanya.
"Entahlah … tadi ada pria yang memukul kepalamu dengan tongkat bisbol, untung saja kau tidak apa-apa."
"Kemudian?!" Kalau saja Haechan dapat melihat wajah Mark di balik topengnya, mungkin ia akan menunduk ketakutan.
"Dia … eum … dia mengambil sesuatu di badanmu kemudian pergi …. Apa dia mengambil uangmu? Apa kita laporkan saja dia ke polisi?"
Rasanya darah di pembuluh darah Mark berdesir cepat saat Haechan mengucapkan fakta itu. Kalau saja Haechan bisa mendengar nafas tersengal panik Mark, mungkin ia juga sudah sama pucatnya dengan wajah di balik topeng Mark. Lelaki itu dengan cepat memeriksa barangnya, dan seperti yang ia duga, seperti yang ia takutkan, "Sialan. Dia mengambil batu ku." Umpat Mark.
"Apa itu berharga?"
Mark masih tak mengerti apakah Haechan tau situasi apa yang sedang mereka hadapi sekarang, namun melihat mata yang mengerjap bingung itu (dengan mata bulatnya yang sekarang sudah balik ke warna asalnya) Mark jadi yakin kalau Haechan memang lambat mencerna. "Sangat."
Benar. Batu itu sangat-sangat berharga. Tanpa batu itu, Mark bukanlah Spider-Mark, Mark bukanlah sang pahlawan super. Kekuatannya semua berasal dari batu itu. Ia sebenarnya tak masalah kalau ia tidak menjadi Spider-Mark lagi—karena tentu saja ia akan pensiun kan?—namun bukan itu inti masalah utamanya, batu itu sungguh kuat. Orang bisa menjadi apapun dengan batu itu, orang bisa menguasai dunia dengan batu itu. Orang bisa menjadi pahlawan maupun penjahat dengan batu itu–batu itu sangat sangat kuat, sangat berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah—itu yang Mark takutkan.
"Oh tadi aku sempat mendengar suaranya dan dia adalah seorang lelaki dan dia—dia … vampire …." Suara Haechan memelan di akhir. Ini memalukan, untuk mengakui bahwa yang berbuat jahat adalah kaum sesamanya, rasanya memalukan. Vampire itu tidak jahat, mereka sama dengan manusia biasa (hanya beberapa anatomi tubuh yang berbeda, juga panganan pokok mereka berbeda dengan manusia). Seperti manusia, vampire juga ada yang eumm … suka mencuri …? Ya, pencopet, semacam itu. Di desanya ada beberapa vampire yang masuk penjara karena mencuri, hal yang sama yang juga terjadi pada manusia. Namun lelaki tadi, astaga, mencuri barang berharga kepunyaan manusia … reputasi vampire di mata manusia itu sudah lumayan jelek, dan lelaki tadi malah semakin menambah jelek. Ia benar-benar merasa bersalah kepada Mark. "Maaf," cicitnya.
“Darimana kau tau dia vampire? Kemudian bagaimana dengan suaranya? Apa kau ingat?” Walaupun terdengar seperti kalimat tanya biasa, namun nada suara Mark turut naik saat bertanya demikian. Ia terkesan menuntut, bertanya dengan tak sabaran.
Haechan jadi gelagapan, ia meneguk ludahnya kasar. “Aku ingat suaranya, suaranya dalam, tentu saja suara laki-laki. Kemudian dia vampire karena … karena matanya … matanya merah …” Jawab Haechan. “Maaf ….” dan lagi, perasaan bersalah itu muncul lagi. Haechan menundukkan kepalanya menyesal.
Namun permintaan maaf pelan itu tak merubah segalanya. Dengan topeng yang masih terpasang sempurna, cukup mustahil bagi Haechan untuk menebak reaksi Mark … ia menjadi semakin semakin merasa bersalah ….
Seharusnya Haechan membantu lebih. Mark kehilangan barang berharganya–yang mungkin bahkan lebih berharga dari uang. Haechan harus membantu Mark. Mark telah menolongnya, ini saatnya ia membantu Mark.
Aduh! Ayolah otak! Coba ingat-ingat ulang kejadian tadi. Tadi terlalu banyak hal yang bisa saja jadi petunjuk. Ayo Haechan, coba untuk kembali mengingat!
“Bunga Melati!”
Haechan membelalakkan matanya saat menyerukan kalimat itu. Ia menarik nafasnya dalam, dahinya pun berkerut. Pandangnya tampak menerawang jauh, entah kemana. “Orang tadi … ia berbau bunga melati!” ingat Haechan.
Ya, setelah mencoba untuk kembali mengingat, Haechan pun akhirnya ingat bahwa orang itu … sangat berbau bunga melati. Begitu menyerbak dari jauh, begitu wangi dan tajam dari dekat–saat lelaki itu tadi mendekat ke arahnya. Haechan tak tau apakah informasi ini bisa membantu tapi setidaknya ia sudah berusaha mencoba.
“Jadi begitu ….” Mark berujar pelan. Ia berjalan mondar-mandir seakan sedang berpikir.
“Kalau begitu kau harus membantuku. Kau lah satu-satunya saksi mata–”
“Astaga!”
Seruan Haechan itu terdengar bersamaan dengan suara kain yang dibuka. Haechan berseru begitu keras, Mark hampir terjungkal karenanya. Mata Haechan melotot tajam, badannya terdiam bingung.
Haechan tak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya. Haechan tak percaya ia melihat muka bingung itu tengah menatapnya dengan alis camarnya juga tahi lalat kecilnya yang seakan kontras dengan kulit putihnya. Rambut kelam lelaki itu yang acak-acakan sambil ditiup angin malam–Mark … ia melepas topengnya. Spider-Mark melepas topengnya! Topeng kainnya kini ada di genggaman tangannya, bukan di kepalanya!
Mark yang akhirnya sadar dengan arti wajah panik dan mata membulat Haechan hanya bisa menghela nafas pelan. “Kau sudah melihat wajahku yang artinya kau harus membantuku.” ucap Mark terdengar santai. Namun di dalam kalimat santai itu ada sebuah tuntutan, sebuah keharusan–sesuatu yang membuat jantung Haechan berdegup kencang. Tangannya mendingin seakan ia gugup setengah mati–dan ia benar gugup setengah mati! Ini … ini kali pertamanya ia membantu orang (dalam hal serius tak seperti kesehariannya yang membantu neneknya berladang di desa), ini pertama kalinya ia berguna di kota besar ini. Haechan sungguh gugup.
“Aku … akan melakukannya.” namun dalam kegugupannya, dalam suaranya yang bergetar, ia menjawab. Tanpa banyak pertanyaan, karena pun ia tau hanya dia lah yang bisa membantu, karena pun tak ada jawaban lain selain menerima, Haechan mengangguk kepada Mark. Kini wajahnya mulai tampak optimis, bersemangat seakan ia siap menaklukkan dunia.
“Aku harap kita bisa mulai melakukan pencariannya mulai malam ini–mungkin kau bisa, tapi aku tidak. Aku harus pulang, Haechan.”
“Oke. S-sampai jumpa lagi–”
“Rumahmu dimana?” Oh, Haechan pikir tadi adalah salam perpisahan, rupanya Spider-Mark masih berdiri sambil menatap dirinya dengan mata tajam itu.
“Asrama Leigh Choir.” jawab Haechan cepat. “Aku tidak tau alamat tepatnya di mana tapi aku tinggal di asrama itu.”
“Aku tau.”
Tentu saja dia tau, dia sang pahlawan super kota ini.
“Oh baiklah,”
Lalu setelahnya pandang Haechan tercuri oleh Mark yang merogoh sesuatu di pakaian ketatnya (sebenarnya sangat membingungkan bagaimana pakaian ketat itu punya kantong). Haechan tak dapat melihat dengan jelas apa yang Mark ambil tapi saat lelaki itu menghadap ke arahnya, menarik tangannya pelan kemudian mengelus pergelangan tangannya, saat itulah Haechan sadar bahwa ada sebuah gelang yang terpasang rapi di pergelangan tangan rampingnya. “Kau tak bisa lari dariku, Haechan.” ucap Mark.
“Apa ini?” Haechan menelaah gelang itu, perak bertemu dengan liontin batu berwarna putih susu–sungguh indah.
“Itu orbs.” Jawab Mark. “Yang artinya kau terikat denganku. Setiap pergerakanmu, setiap perkataanmu, setiap harimu, aku bisa tau dari sana. Kau ada di bawah pengawasanku, Haechan. Dan itu hanya bisa dilepaskan olehku ketika kita sudah selesai.”
Haechan mengerjap. Wow! Setelah mendengar penjelasan serius Mark, gelang ini jadi terasa sangat berat di tangan Haechan. Ini jadi terasa begitu sakral. “Terima kasih ….” dan ucapan logis karena telah memberikan gelang indah ini hanyalah terima kasih bukan? (terlepas dari seberapa beratnya makna dan maksud gelang ini).
“Sekarang kau boleh pulang.”
Haechan tak menyangka akan semudah ini. Mark memberinya gelang ajaib dan lelaki itu langsung menyuruhnya pulang …? Haechan jadi segan. “Terima kasih atas hadiahnya.” ucap Haechan sopan untuk menutupi rasa segannya.
Mark tertawa begitu keras.
Oh. Haechan baru sadar bahwa Mark tampak cukup manis ketika tertawa.
“Ya sama-sama.” ucap Mark di sela tawanya.
Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Mark berjalan melewati Haechan, tanda ia akan pulang. Haechan pun membungkuk sekadar mengucapkan salam perpisahan lalu ia pun berjalan berlawanan arah dengan Mark–mereka tinggal berlawanan arah.
Lantas saat punggung Mark sudah tak tampak, saat gemerlapnya cahaya gedung-gedung tinggi mulai kembali menerangi malam gelap Haechan, di saat itu lah sebuah tulisan yang terukir di gelang orbs itu mencuri perhatian Haechan.
‘Milik Mark Lee’
Itu lah yang tertulis.
Oh, nama Spider-Mark adalah Mark Lee? Nama yang bagus.
“Namaku Haechan Lee.” cicit Haechan berbicara dengan liontin itu. “Salam kenal, Spider-Mark Mark Lee.”
bersambung
