Work Text:
Sebenarnya Jimin tidak pernah terpikir akan berkuliah di bidang Farmasi. Dia bahkan tidak tau apa apa yang dikerjakan seorang farmasis sebelum workshop saat ospek mahasiswa baru. Tentu saja Jimin tidak menyangka dia akan bertemu lagi dengan kimia, fisika, dan biologi dalam bentuk anatomi histologi. Untungnya Jimin baik baik saja. Mendapatkan nilai cukup untuk lulus mata kuliah kimia organik, melalui 2x ujian remedy untuk anatomi dan histologi, dan hampir pingsan saat mengikuti ujian praktikum analisis.
Setelah semua itu, Jimin masih baik baik saja. Nilainya masih dikata cumlaude sampai semester ini. Dia belum pernah menangis atau mengeluh pada siapapun. Tidak pernah. Sampai pada suatu mata kuliah yang seharusnya tidak susah susah amat. Mata kuliah itu adalah Perundangan dan Peraturan Kefarmasian. Jimin pikir dia hanya perlu pakai sks* dan menghapal 1 kitab UUD dan turunannya. Jimin terbiasa sks. Ia yakin ia bisa. Kakak tingkat mengatakan mata kuliah itu mudah. Mereka bilang
* Sistem kebut semalam
" Haduh, cuma matkul filler itu. Tidur aja, tiba tiba lu akan lulus" Kak Hobi mengatakan saat kita nongkrong liburan semester lalu. Tentu saja Jungkook, anak emas, akan bertanya tanya mengenai hal hal seperti itu.
Namun entah mengapa, entah bagaimana, pengampu mata kuliah diganti. Prof Seobandono yang sebelumnya mengampu telah purna bakti. Jimin bahkan melihat acara pelepasan beliau di halaman fakultas. Saat itu Jimin tidak begitu peduli, tidak begitu memperhatikan, dia hanya heran saja banyaknya kakak tingkat yang antre untuk bersalaman dengan beliau. Beliau memang hanya mengajar semester atas. Kabarnya Beliau dosen yang ramah. Jimin pikir kakak tingkatnya lebay dan caper.
Tidak tahu saja dia, berhentinya profesor Seobandono menjadi sumber patah hati terbesar dalam dunia perkuliahannya. Jimin yang merasa dirinya cukup pintar, sedikit diatas rata-rata, harus menangis tersedu karena Ibu Suryati. Dosen tergalak di farmasi.
Jimin mulai tidak menyukai dosen itu saat sang dosen membagi kelas menjadi beberapa kelompok di pertemuan pertama. Sebagai dosen otoriter, tentu saja beliau tidak memperbolehkan mahasiswanya memilih sendiri. Jimin Aditya dengan nomor absen 17 tentu akan sekelompok dengan Mahesa Jungkook dengan NIM 21 beserta enam orang lain. Dan soulmate Jimin, Ryoni Taehyung, harus berpisah dengan dia di kelompok lain.
Hari pertama pelajaran yang biasanya diisi dengan kontrak perkuliahan saja, atau materi pengantar yang ringan ringan, alih alih malah berisi kuis tebak tebakan ala Bu Suryati. Jimin terpaksa duduk di sebelah Jungkook karena peraturan duduk berkelompok sudah sangat badmood. Pikirannya terbang entah kemana, suara Bu Suryati semakin mengecil.
" Peraturan yang mengatur wewenang pemberian obat oleh apoteker kepada pasien ada pada ... "
Jimin tidak mendengar apapun sampai pada kata
"Jimin Aditya..."
Jimin terkaget dari lamunannya, dan otomatis menggangkat tangan dan berkata
"Iya ibu, saya Jimin..."
"Okay, jawabannya Jimin.."
Jimin bahkan tidak menyimak pertanyaanya. Dan tentu saja Jimin tidak tau satupun Peraturan Penrundangan yang ada. Lebih lebih tentang farmasi?
Ibu Suryati mengetuk-ngetukkan jarinya menunggu jawaban.
"Saya tunggu ini jawaban kamu" katanya
Jimin yang tadinya ingin diam saja sampai sang dosen menghiraukan dia dan menunjuk anak lai jadi sebal. Ini bener benar harus dia jawab?
Di tengah kegelisahannya, Jimin merasakan sebuah kertas bergeser kemejanya. Dia juga tahu benar telapak tangan yang tidak sengaja bergesekan dengan jemarinya. Bahkan menyentuhnya sebentar. Jimin malah jadi keringat dingin. Ingatan tentang beberapa waktu lalu memnuhi pikirannya. Tentang tangan itu dan selebihnya. Jimin tiba tiba merasa marah dan mual. Mana sudi dia melihat kertas itu.
"Jimin Aditya...." Bu Suryati memanggil lagi dan kali ini ditambah nada ketus yang tidak ditutup tutupi.
Ditengah kalutnya pikiran dia, tiba tiba Jimin berucap
"UUD 1945?" dan dia langsung menutup mulutnya lagi. Bodoh sekali yaampun.
Dia bisa mendengar suara tertawa yang ditahan tahan dari teman sekelasnya. Dan Bu Suryani tambah ingin meledak.
" UUD 1945? Saya bahkan tidak menyangka jawaban terbodoh seperti ini berani terucap dari mahasiswa semester 6"
Bu Suryani terus berbicara mengenai kebodohan Jimin. Menutuskan untuk berceramah lebih panjang dan membahas mengenai tugas makalah tentang perundangan secara berkelompok, menampilkan slide show mengenai beberapa peraturan yang ada.
Jimin tidak peduli lagi. Dia melirik kertas dihadapanya. Tertulis PP. No 51 2009. Jimin melihat lagi slide show didepan. Of freaking course PP No 51 tahun 2009 ada diantaranya. Fucking Jungkook. Jimin meremas kertasnya. Dia malu sekali.
---
Taehyung tertawa puas saat mereka berjalan di lorong menuju tempat parkir. Sekarang hampir pukul setengah 6 sore, kampus hanya tersisa anak anak yang juga akan pulang.
" Lu goblok banget Jimin, bisa bisanya ngomong UUD 45, dikata pelajaran PPKN?" Suara tawanya begitu besar seperti menggema di seluruh lorong, membuat beberapa mahasiswa melirik ke mereka.
" Coba deh lu jadi gue, shock tau, shock, emang lu tau jawabanya apa?" Jimin coba membela diri.
" Ya engga, tapi gue ga bakal jawab UUD 45 juga ya. Gue nih pinter ngarang ngarang tau" jawab taehyung masih dengan tertawa.
" Ye lu buaya sik, pinter bohong, ngomong ngomong mobil lu parkir mana Tae?" Kita udah berjalan sampe ujung parkiran tapi mobil Taehyung masih tidak tampak.
" OMG Jim, gue lupa kalo gue ga bawa mobil dongs hehe, tadi kan gue mampir bengkel terus nge gojek kesini, hehe" katanya sambil membuat tanda peace. "Elu juga si, mau nebeng ga tanya dulu gue bawa mobil apa engga"
" Astaga, Taeee, ya mana gue tau dih. Elu juga nge iyain." Haduh Jimin sebal. Ini sudah badmood tambah badmood lagi. " Pesen gocar cepet-cepat"
"Iya, Nyai, ini hamba pesenkan gocar untuk kita berdua" Taehyung mengorek tasnya untuk mencari Handphone. Sampai mobil eropa warna hitam melintas pelan.
"Jungkook hei Jungkook." Suara Taehyung membuat kendaraan itu berhenti dan jendela terbuka. Jimin menarik nafas panjang menahan mual. Lebih baik dia naik ojek motor daripada ini.
"Eh kita bareng dong, elu lewat jl Ibu Kartini kan? Nah kalo Jimin daerah Seruni, agak utara dikit tapi bisalah ya diantar hehe. Itung itung nolongin omega tersesat, Jungkook."
Jimin tau dia harus segera beralasan jika tidak mau satu mobil dengan Jungkook, apalagi naik mobil itu.
"Yuk, boleh aja" suara kunci mobil terbuka dan Taehyung segera memegang handle pintu.
"Eh Tae kayaknya gue mau gojek aja, kasian Jungkook ga searah" Jimin coba beralasan. Kali inj Taehyung malah sudah setengah masuk ke bagian kursi belakang mobil Jungkook.
" Jungkook aja gapapa kan ya?" Tae melirik Jungkook ingin mendapat dukungan. Jimin memelototi Jungkook. Harusnya jika Jungkook punya malu, dia akan menghargai permintaan Jimin dan beralasan entah apa. Namun, seperti yang sudah sudah, harusnya Jimin tidak berharap.
" Yup, gue ga masalah" Jungkook tau ini kesempatan untuknya berbicara pada Jimin. Tentu saja tidak akan disia siakan.
" Masuk ih Jimin, keburu malem dikejar hantu"
Huh Jimin akhirnya mengalah, andai saja Taehyung tau betapa dia malah berharap bertemu dengan hantu.
---
Percakapan di dalam mobil didominasi Taehyung yang mengobrol apa saja dengan Jungkook. Jimin sesekali menyahuti saat ditanya. Tidak mau juga terlihat menghindari Jungkook lebih dari sebelumnya. Takut Taehyung curiga dan bertanya tanya.
"Sampai ketemu lagi ya Jungkook, anterin si Jimbooty dengan selamat yaa" Taehyung menutup pintu mobil sambil melambaikan tangan. Jungkook hanya terkekeh menanggapi. Sedangkan Jimin mencurutkan bibirnya karena sebal dengan candaan vulgar Taehyung. Dihadapan Jungkook lagi.
"Ih apaan si Tae."
" Ini mau langsung pulang?" Tiba tiba Jungkook bertanya.
" Iya, kalau lu mau mampir mampir, gue bisa kok turun halte depan. Gausah gaenak sama Taehyung, gue gaakan ngomong kok" Jimin menjawab cepat. Merasa ini kesempatanya untuk terbebas dari mobil Jungkook lebih cepat.
" Ji, lu taukan maksud gue bukan begitu?" Jungkook menghela nafas, tangannya menyentuh lengan Jimin, bermaksud menarik perhatian pemiliknya untuk menghadapnya. Jimin tersentak, dan menghindar. Jungkook menghela nafas lebih keras.
"Gue merasa kita harus ngomong sesuatu kan? Lu ngehindari gue terus sejak kit-"
" WAIT, stop, gausah diperjelas okay? Gue ngerti" Jimin menyela cepat. Pipinya memanas lagi. Jungkook tidak tau harus frustasi atau bahagia melihat wajah Jimin semakin imut.
"Kita sepakat itu kesalahan kan? Lupain aja, gue gak akan nuntut lo apa apa." Jimin mau ini ceoat berakhir. "Kita balik lagi temenan kayak dulu" Jimin tau itu kebohongan terbesar yang diucapkanya. Mana mungkin dia tidak awkward dengan Jungkook? Apalagi menghindari Jungkook akan tidak mungkin mengingat perkuliahan dan pertemanan mereka yang sama.
"Ji, gue mau bertanggung jawab, gue tau itu pertama buat lu-"
" Jungkook, stop okay, gue gapapa dan ga nuntut apa apa, bisa ga si lu hargai permintaan gue?"
"Ji..."
"Jungkook please, gue turunin halte depan aja ya, mobil lo, dan berdua sama lo doang membuat gue ga nyaman".
Jungkook menghela napas namun menurutinya. Rasa bersalahlah yang akan membuat Jungkook menurutinya. Jimin tau itu tidak adil, Jimin tau dia seharusnya tidak menyalahkan dan memojokkan Jungkook seperti itu. Karena memang mereka sama sama gila malam itu. Sama sama mau.
---
Sejak kejadian diantar Jungkook, hidup Jimin lumayan kembali seperti biasa. Senormalnya kehidupan mahasiswa yang mengikuti kelas Bu Suryati. Setiap malam jumat, Jimin akan mual mual membayangkan harus duduk di kelas Bu Suryati srlama 3 jam.
Jumat pagi sebelum berangkat, mualnya akan semakin parah. Dan hari itu, Tugas kelompok pertama mulai dipresentasikan. Kelompok 1 memulai presentasi dengan percaya diri. Materi yang disampaikan lugas dan ringkas. Jimin rasa mereka akan lolos dengan mudah. Namun ternyata, selama sisa pelajaran, Bu Suryati membatai habis habisan materi mereka.
"Sebentar ya Mbak presenter, ini temanya aplikasi peraturan BPOM untuk registrasi produk Jamu, memang Jamu seperti apa yang bisa didaftarkan ke BPOM?"
Jimin benar benar tidak menyangkan pertanyaan tersebut akan sulit terjawab dan menghadirkan makian selama matakuliah berakhir. Mual yang dirasakan Jimin kembali lagi. Bahkan mulai sampe ke tenggorokan dan membuat dia harus mati matian menahan muntahan. Telinganya sudah tuli terhadap apa yang terjadi di depan kelas. Dia juga tidak berani ijin ke kamar mandi saat dosen sedang marah marah. Jimin berharap tidak ada yang menyadari hal tersebut terjadi. Namun tentu saja, harapanya tidak terkabul. Jungkook yang tadinya berjarak 2 bangku dari Jimin, berpindah ke sampingnya. Tangannya memijit tengkuy dan punggung Jimin diam diam. Jimin merasakan sedikit kelegaan, tapi buru-buru menepis dengan tangganya.
"Hush, diem dulu, ga mau pergi uks kan?" Jungkook menangkap tangannya dan berbisik lirih. Jimin ingin memberontak lagi, namun tiba tiba suara Bu Suryati yang meninggi membuatnya ciut. Jimin pasrah saja, diam meningmati pijatan Jungkook yang ternyata mengurangi mual yang dirasakanya.
Saat selesai kelas, kelompok Jimin memutuskan untuk melakukan diskusi singkat. Jungkook sudah berhenti memijat Jimin.
" Wah, kalau kayak gini sepertinya ga bisa makalah bulanan dibagi bagi per 2 anak kayak kesepatan kemaren." Wendi mengeluarkan pikiranya pertama kali.
" Gue setuju sih, harus dipikir berdelapan deh, yang presentasi aja 2 orang perbulannya gitu." Lani, teman kelompok Jimin yang lain menanggapi.
"Gue sih okay, buat bulan pertama besok progresnya sampai mana? Kita mulai dari itu dulu aja"
"Baru kerangka hoe, kita ga nyangka bakal dibahas sedetil itu" Panji menyahuti. Rara yang setim dengan Panji mengiyakan.
"Mau mulai dihabas hari ini? Kita presentasi masih 2 minggu lagi, spare waktu masih banyak." Jungkook yang bertindak sebagai ketua de juro mengusulkan. Jimin agak skeptis ada yang menolak.
"Iya lah coi, gue nih yang dibantai kalau ada yang aneh di makalah. Jam 7 di perpus?" Panji dengan penuh semangat menyanggupi. Jimin juga bepikir demikian. Jujur saja dia tidak mau juga saat dirinya presentasi, makalah mereka ada yang cacat.
"Yak, okay sih gue"
"Weekend juga, ga ada kerjaan"
"Gue okay juga"
"Yup"
"Sip"
Semuanya sepakat setuju. Dan Jimin kira itu akhir pertemuan mereka, karena ia ingin pulang dan mandi. Refleksi sejenak sebelum menyelam lagi kedunia Bu Suryati. Namun sebuah suara,
"Jimin, gimana?" Lah si Jungkook ngapain tanya lagi ke gue sih. Gue kan setuju setuju aja. Caper banget hih.
--
Sabtu pagi Jimin mual mual lagi. Sungguh dia tidak sedang memikirkan Bu Suryati atau tugas manapun yang berpotensi membuatnya pusing. Kerja kelompok kemarin malam juga lancar. Tentu saja melelahkan karena masih harus menunggu beberapa yang telat dan sebagainya. Ia juga punya janji dengan Taehyung untuk hangout. Sungguh seharusnya Jimin punya mood yang baik kalau saja bukan karena mual yang membuatnya berjongkok ke kloset tanpa ada yang dijeluarkan.
"Tae, mau kesini pagian gak? Mau soto ayam Jl. Merdeka?" Jimin mengirimkan pesan suara ke Taehyung. Dia terlalu malas untuk mengetik.
Jimin beranjak ke dapur, memutuskan membuat segelas susu hangat untuk membuatnya bertenaga. Lalu duduk terkelungkup di meja pantry. Jimin tertidur pulas.
Dalam posisi itulah Taehyung menemukan Jimin.
"Jimin, lo ada apa ketiduran dimeja?" Taehyung mencoba membangunkan. Jimin yang masih mengantuk mengerjapkan mata.
"Tae, mana sotonya?" Jimin bertanya.
"Lah, ya enggak bawalah say. Gue kira kita pergi bareng makan kesana."
"Yah kan maunya dibungkus Taee, ngak mau makan di rame rame." Taehyung menghela napasnya. Lupa kalau tingkah Jimin kadang mirip puteri keraton. Manja dan banyak mau.
"Lah gue kira lu mau soto Amaris, taunya beneran soto pinggir jalan. Yaudeh kita gojek aja."
"Hmm, lama nggak ya?" Jimin sedikit merengek.
"Lah elu juga ga pesen aja dari tadi, nih nunggu gue segala. Ini sotonya ada tambahan khusus ga? Lu mau telur angsa barang kali" Taehyung jadi gemas sendiri. Ini siapa yg mau makan, siapa yg ribet.
"Engga, mau ga pakai taoge aja hehe. Tadinya tu ga mau makan sendiri Tae, gue keinget lu, yaudah gue chat"
"Hmm, gue emang guardian lu Jim, untung nih, gue ga sibuk. "
"Sibuk pacaran sih, ga sibuk ya." Jimin lalu beranjak untuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
Usai dari kamar mandi, dia kembali menghapiri Taehyung yang ada di dapur.
"Tumbenan lu mandi pagi" kata Taehyung
"Tadi mual muntah, gue merasa risih"
"Lu mual mual terus deh Jim, lu masih syndrom Ibu Sury apa gimana si?"
"Siapa ibu suri deh?" Jimin ganti bertanya
"Bu Suryati, Ibu Sury, dibaca Suri" Jimin yang mendengar itu hanya tersenyum. Ada ada saja cara mahasiswa menyalurkan kebencian. Tetap saja, memberi nickname hina pada dosen lebih baik dibanding mual nuntah sepanjang hari.
"Kayaknya nih gue masuk angin? Gue gak kepikiran Ibu Suri si sejak kemaren. Ga ada tugas juga" kata Jimin terpikir atas angin malam yang mungkin membuatnya sakit, mengingat kemaren dia diantar Rara menggunakan motor.
"Eh iya, lu kemaren kerja kelompok dimana emangnya? Di pelataran?"
Pelataran merupakan tempat diskusi yang disediakan kampus. Lapangan luas yang isinya kanopi dan tempat duduk dari semen. Tempatnya yang terbuka dan selelu buka menjadi favorit mahasiswa untuk rapat atau mengerjakan tugas kelompok. Namun karena ramai dan banyak nyamuk Jimin kurang menyukainya. Belum lahi udara dingin yang pastinya menemani malam.
"Gue di perpustakaan sih Tae, tapi pulangnya pakai motor, jadi kayak gini" Jimin menjelaskan
"Oh, si Jungkook bawa motor lagi?" Tae meyunggingkan senyum yang ditahan
"Gue ga tau Jungkook naik apa? Kenapa jadi nyahut ke dia?" Jimin mengerutkan dahinya
"Loh, lu bukanya pulang bareng dianter Jungkook pake motor? Kalian kan satu kelompok" Tae ganti bertanya, senyumnya luntur
"Lah engga, gue bareng Rara? Satu kelompok kan buat ngerjain tugasnya, ga ada tu pulang bareng"
"Yah, kirain kan. Kalian kan akrab gitu"
Jimin hanya memutar bola matanya.
"Ya akrabnya Jungkook sama gue ya sama aja kayak elu sama dia kan. Itu pun karena kita sama sama temanan dengan Kak Hobi"
"Jim, kadang gue pengen elu beli kaca deh"
" Biar apa? Gue udah punya kaca?"
"Biar gue ga capek" kini gantian Tae yang memutar bola matanya.
"Eh Tae, setelah gue pikir lagi, kok kayaknya ga higenis ya beli dari pinggir jalan? Menurut lo, ada jaminan higenis nggak?"
Taehyung memutar bola matanya. Lagi. Dia sekarang ada didepan kulkas Jimin, mencari snack yang bisa dimakan.
"Cuci piring aja kayaknya ga pakai sabun, mana ada jaminan higenis?" Dia menjawab sekenanya.
"He Taee, beneran ga pakai sabun? Gak jadi aja kalo gitu, cancel! Cancel bapak gojeknya!" Taehyung langsung menutup pintu kulkas dengan keras.
"Heee Jim, lu parnoan apa gimana si? Ini gojek juga ga bisa di cancel yaa, jangan ngada ngada deh, ga mungkin juga lu diare."
" Yah Taee, ga bisa, ini udah kebayang ga bisa makan. Ke Amaris aja yuk. Gue setirin deh, biar sotonya ke bapak gojek aja. Udah dibayar jugakan pakai aplikasi?" Jimin sekarang memohon mohon ke Taehyung.
"Yaudah serah lu deh. Traktir ya tapi, otak gue terlanjur pusing mikirin keanehan lu."
"Yehee, habis dari Amarys kita ke Gucci dulu deh, lu boleh selama apapaun disana gue ga akan protes."
Jimin yakin harinya akan menyenangkan setelah makan nanti.
--
Setelah weekend dia habiskan bersama Taehyung dengan omegas days out mereka, Jimin kembali dihadapkan pada realitas seorang mahasiswa. Dia dan Taehyung hampir selalu ada di kampus dari Jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Mereka berdua hampir tidak terpisahkan karena benar benar mengambil jadwal yang sama. Mereka juga memutuskan untuk berangkat dan pulang bersama. Meminimalisisr kemungkinan salah jadwal dan telat kelas kata Taehyung. Jimin iya iya saja. Karena jujur, diapun terkadang meresa pagi terlalu cepat datang, terlalu malas bangun. Apalagi mual mualnya belum juga berakhir. Jadwal kelas mereka begitu padat. Waktu istirahat antar kelas hanya cukup untuk makan siang. Terkadang mereka harus belajar sembari makan, takut akan kuis dadakan yang sering kali dilaksanakan dosen. Jimin dan Taehyung bukan orang rajin, bukan juga ambisius, tapi saat semua orang belajar, percayalah, kalian akan ketularan belajar juga. Sebenarnya lebih ke malu tidak bisa menjawab kuis dibanding takut akan nilai. Karena sialnya lagi, kuis dadakan biasanya mencongak. Jikapun dilaksanakan lewat menulis, dosen akan membacakan jawaban terburuk di depan kelas. Jimin dan Taehyung tentu saja tidak mau itu.
"Jim, lu engga makan nasinya?" Taehyung bertanya karena melihat daru tadi Jimin hanya mengaduk ngaduk nasinya.
"Mual Taee, ngga nafsu makan nasi" Jimin meletakkan sendoknya, dia badmood. Perutnya kosong, tapi mual. Melihat makananya dia malah tidak nafsu.
"Hmm, lu belum makan dari pagi loh Jim? Mau ganti makanan aja? Tapi lagi rame nih, gak keburu. Mau sharing ramen sama gue?" Jimin hanya menggeleng. Taehyung jadi kawatir, pengarus Ibu Sury pada Jm sepertinya besar sekali. Sampai sampai Jimin tidak nafsu makan. Padahal ini juga bukan hari presentasi Jimin.
"Hai Jimin, Tae, boleh iku duduk ngga?" Seseorang datang dengan membawa minum.
"Eh, Jungkook, duduk aja Kook. Mau kelas ibu Sury juga kan?" Taehyung menanggapi. Jimin tapi diam saja
"Iya nih" Jungkook mengambil tempat hadapan Jimin
"Lu juga ga makan Kook? Sama aja kayak Jimin, mual juga lu?" Tae heran melihat Jungkook yang hanya membawa minuman.
"Sudah makan kok, gue dari rumah. Jimin kenapa gak mau makan?" Jungkook mengalihkan perhatiaanya pada Jimin. Jimin sedsri tadi memperhatikan tangannya.
"Katanya mual, ga mau makan nasi, mau ganti menu tapi rame juga" Taehyung menanggapi Jungkook sembari melirik ke antrian mahasiswa di tiap stan makanan. Berharap Jungkook melakukan sesuatu tentang Jimin.
"Kalau jus alpukat mau ga Jim? Ini manis kok, ga bikin mual deh" Jungkook menyodorkan minumannya. Entah mengapa Jimin jadi menginginkan minuman itu. Dingin, manis dan tidak perlu dikunyah. Kenapa tadi tidak terpikir beli itu saja? Pikirnya. Kepalanya diangkat, menatap mata Jungkook. Terkadang Jimin lupa kalau Jungkook punya mata bulat yang sangat bagus.
"Ini belum diminum kok Ji, beneran." Jungkook menganggap tatapan Jimin sebagai keraguan. Dia masih ingat bagaimana pendapat Jimin tenang bertukar saliva denganya. Walaupun dalam konteks yang jauh berbeda. Disisi lain, Taehyung tersenyum melihat interaksi mereka berdua. Bagaimana Jimin yang secara hati hati menarik minuman Jungkook kearahnya, menikmati minuman tersebut dengan mata tertutup. Dan oh, tentu saja Taehyung tidak melewatkan tatapan Jungkook pada Jimin.
---
Ruangan hening seketika saat Ibu Sury datang. Kelompok presenter langsung memulai salam pembuka begitu Ibu Sury duduk di tempatnya. Mereka segera saja memulai presentasi. Kelompok presenter kebahian menbahas pelayanan apoteker di apotek. Materi yang cukup umum dan mudah dibayangkan. Jimin menyimak tiap katanya. Sesekali mencatat karena Ibu Sury seringkali meminta rangkuman atau bertanya hal hal tertentu kepada audiens. Rasa mualnya tidak seburuk minggu kemarin, dan tentu saja terimaksih kepada jus alpukat dan ibu Sury yang belum berkomentar sepatah katapun. Karena sekali mendengar gelegar suara dan nada tinggi yang keluar, mualnya akan kembali. Pastinya.
"Saya sekarang bertanya, landasan hukum mana yang dipakai seorang apoteker untuk melayani seorang wanita yang datang membeli pil kontrasepsi untuk pertama kalinya?" Pertanyaan dari Ibu Sury menggema di ruang kelas. Kelompok presenter membisu, tidak tahu jawabanya. Jimin juga menegang ditempatnya, bukan karena tidak tahu jawabanya, namun telinganya sudah tuli sejak mendengar kata kontrasepsi.
Tentu saja, tentu saja mereka tidak memakai kontrasepsi saat itu. Tentu saja mereka tidak bersiap, tidak terpikirkan sama sekali. Apalagi Jimin. Oh my goodness, batin Jimin. Mual mualnya selama ini bukan karena itu kan? Jimin rasanya mau menangis saja. Bagaimana jika kesalahan sekali dalam seumur hidupnya berbuntut panjang? Jimin mencoba melirik Jungkook yang ada disebelahnya, sang alpha sedang menatap kedepan, dengan mantap menyampaikan pendapatnya atas pertanyaan dari dosen. Jimin rasanya semakin ingin menagis keras keras. Rasa mualnya kembali menyerang dengan kekuatan penuh.
Saat kelas dibubarkan, Jimin langsung lari kekamar mandi dan berjongkok di kloset, mengeluarkan seluruh isi perutnya. Dia diam cukup lama setelah itu, mengusap wajahnya dengan air mengalir demi menghilangkan jejak airmata sekalian. Di depan pintu toilet Taehyung sudah menunggu.
"Lu gapapa Jim?" Jimin menggeleng
"Pulang yuk Tae, pengen cepet dirumah" merasakan mood Jimin yang buruk, Taehyung menuruti saja. Sebelum pulang, Jimin meminta Taehyung berhenti di apotek, lalu menuruhnya menunggu dimobil saja. Jimin beralasan dia ingin membeli minyak angin.
" Minyak anginya hanya untuk obat luar ya, dan alatnya lebih efektif jika dipakai dipagi hari saat kencing pertama. Apakah ada pertanyaan lain?" Si apoteker yang merangkap sebagai kasir bertanya setelah memberikan edukasi singkat. Jimin menggeleng dan langsung mengucapkan terimakasih. Dirinya sungguh ingin segera pergi.
"Semoga sehat selalu" sapaan selamat tinggal khas apotek menggema seiring langkah Jimin kembali ke mobil Taehyung. Tidak lupa dia simpan katung belanja di tas pundaknya.
Setelah sampai dirumah, Jimin langsung tidur dan menangis. Ketakutan akan kemungkinan yang dihadapinya esok pagi. Dirinya sama sekali menghiraukan pesan masuk dan beberapa panggilan di handphonenya.
--
Jimin bangun dengan rasa mual yang luar biasa. Lagi. Dia juga sedikit pusing karena tidak makan malam. Matanya bengkak dan suaranya serak. Tapi sungguh bukan mata panda yang dia takutkan sekarang. Jimin mencoba mengumpulkan keberanian untuk mencoba alat uji kehamilan yang dibelinya kemarin. Rasanya dia ingin dimana saja selain berada disini. Ketakutan akan ketidakpastian sudah melekat pada diri Jimin. Namun kali ini, dia berharap dia salah, dia berharap kemungkinan dalam pikirannya tidak menjadi nyata. Setelah menampung urinenya, dia membuka kemasan alat dan membaca petunjukknya dengan hati hati.
"Tunggu sampai 5 menit", begitu sampai ujung langkah, dia dengan cemas berdiri memperhatikan lantai kamar mandi. Beberapa skenario terburuk berlarian dikepalanya. Bagaimana jika keluarganya tau? Teman temannya? Apa dia masih bisa berkuliah? Sampai suara bel apartemen membangunkan dia dari lamunanya. Melupakan masalahnya sejenak, Jimin beranjak untuk membuka pintu.
" Tae??"
" Yoi, Jim, gue Kim Taehyung the conquer. Minggir dikit sis, gue mau masuk" Taehyung yang membawa dua kantong besar berjalan masuk menuju pantry. Membongkar belanjaan dan menatanya di kulkas. Jimin mengikutinya di belakang dan memilih duduk di meja pantry. Dia bersyukur sempat cuci muka dan sikat gigi tadi. Jimin tidak mau orang lain tau dia menangis semalaman.
" Nih kesukaan lo, yogurt mangga. Fresh from your bestie"
Taehyung duduk di sebelahnya sambil membuka milkshake stroberi. Dia memang selalu begitu, datang datang hanya untuk makan camilan yang dibawanya dari rumah. Katanya sekalian donasi pada Jimin. Jimin sih okay saja. Cuma masalahnya Taehyunh suka buah buahan asam. Jimin suka manis. Jadi agak mengherankan saat dia melihat banyak mangga, alpukat, dan pisang di belanjaan Taehyung.
" Gue kira elu sakit tau, ga bales chat gue, ga angkat telepon dari malem."
" Eh lupa, hp gue mati kayaknya, langsung tidur nih kemaren. Ga buka sama sekali."
" Kan, orang kaya lu aturan punya roomate, atau ga tinggal sama siapa gitu. Lu ilang semingguan kalau bukan gue yang sadar ya kagak ada yang nyari Jim"
" Ya maaf. Capek banget nih kemaren"
Mereka lalu memutuskan untuk pindah ke sofa TV. Menonton film lawas dan heboh mengomentari setiap scene konyol. Tertawa ngakak saat di pemeran utama selalu kalah dengan takoh antagonisnya. Jimin masih terfokus dalam film saat Taehyung kembali dari kamar mandi yang langsung menodongnya dengan pertanyaan.
" Jim, ini bukan punya lo kan?" Tanyung datang menyodorkan testpack dengan wajah menuntut.
Jimin mencelos seketika. Dia lupa pada si alat kehamilan itu. Dia lupa dia punya masalah seberat gunung himalaya. Tiba tiba dia pening mendadak. Rasa mualnya muncul lagi.
Jimin berlari ke sink dish dan memuntahkan semua yougurt yang dimakanya tadi. Gilak perutnya jadi tambah buruk dibanding saat bangun tidur.
Disisi lain Taehyung berdiri mematung di dekat pantry. Dia tentu saja sudah mendapat jawabnya. Tentu saja dia juga ingat kalau mual muntah yang dialami Jimin bukan sekali ini saja. Dan tentu saja, siapa omega yang tingga disini, selain Jimin, yang butuh testpack positif itu.
"Tae... Hiks... Hikss" Jimin jadi menangis tersedu sedu dipelukan Taehyung.
---
Hallo salam kenal, untuk pembaca, review dan kudos kalian akan sangat berharga💜
Lebih dari itu, terimakasih sudah membaca cerita ini💜
Mochi
