Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-12-17
Words:
2,183
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
27
Bookmarks:
2
Hits:
420

Sara's Day Off

Summary:

Sara diberikan cuti sehari seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat, tapi ternyata malah dihabiskan oleh geng Arataki; terutama oleh bosnya yang berisik itu.

Notes:

Ini diketik hanya 2-3 jam sebagai pelarian dari UAS hehehe, jadi maaf kalo ada typo dan lainnya

Mungkin OOC dan beberapa ada bahasa tidak baku, tapi semoga puas membacanya! Terima kasih

Work Text:

Sebagai kepala klan Kujou yang baru, pemerintahan Kujou Kamaji seolah memberikan angin segar kepada Tenryou Commission yang selalu terikat oleh mandat keras Kujou Takayuki. Kebaikan hatinya berimbang bersama kemampuan diplomatisnya, alhasil membuat Kamaji mudah akrab serta dihormati oleh pasukan Tenryou. Suatu hari, Kamaji memberi izin pada Sara untuk ambil cuti, karena si Tengu selalu menyendiri bekerja; semenjak pulang dari perang sampai ketika ayah mereka lengser, Sara tidak mau beristirahat. Tentu Sara mengangkat sebelah alisnya, tapi Kamaji memberi senyum. "Aku bukan Ayah yang tegas dan dingin. Lagipula, ini adalah perintahku sebagai kepala klan Kujou, jadi jangan tolak, ya."

Masalahnya, Sara tidak tahu mau kemana selama cuti. Dia berjalan tanpa arah di kota, sampai akhirnya memutuskan untuk menyicipi pizza racikan Kiminami Anna. Disaat menikmati makanannya, Sara kaget mendengar suara lantang nan maskulin memanggil namanya-- lebih tepatnya, meneriakkan julukan jelek yang ia benci. Benar saja, Itto berjalan menghampiri. "EHHH KUJOU TENGU DISINI TOH! WEH SINI DUEL SEKARANG."

Sara mau pergi tapi ketika ingin berdiri, dia dihadang anggota geng Arataki. Itto kemudian duduk di samping bangku Sara. "Ohhhh atau kita lomba makan ramen pedas saja disini hehehe. Siapa yang paling cepat habisin 2 mangkok, dia yang menang!"

Sara langsung pening mendengarnya, apalagi dia sudah hampir kenyang makan. Si Tengu tidak peduli, dan karena ingin penderitaannya cepat selesai, dia meng-iyakan saja permintaan Itto. Anna memasak 4 porsi ramen pedas, dengan tambahan 3 shoyu ramen untuk geng Arataki. Selagi masak, geng-an Itto duduk dan mengobrol santai, Sara hanya diam dan menatap; atmosfir mereka berbeda dibandingkan hubungan Sara dengan bawahannya. Lalu setelah dipikir-pikir, Sara tidak punya teman akrab seperti geng Arataki.

Sara diam-diam iri.

Akhirnya Anna menghidangkan ramen yang dipesan dan menghitung mundur. Sara hanya bisa melihat warna merah melapisi permukaan ramennya, aroma tajam dari bubuk cabai Jueyun Chilli Liyue mengguncang indera Sara; menciumnya saja ia merasa mual, apalagi memakannya. Tapi Itto mampu meneguk kuah dan melahap cepat 1 mangkok ramen. Adrenalin si Oni sedang tinggi, Itto sangat fokus ke mangkok di depannya; tidak sempat menyeka keringat yang tengah membasahi wajahnya, sampai tidak melihat Sara yang makan dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Itto mengambil mangkok kedua, dan begitu dia membereskan kuahnya sampai tetes terakhir, dia berteriak bangga bahwa dia pemenangnya. Akhirnya dia menengok ke kanan; ke arah Sara, yang tengah menyuruput ramennya pelan.

"WOITTT KAMU ANGGEP SERIUS GAK SIH LOMBANYA?" Itto rewel sambil gebrak meja

"Selamat kamu menang duelnya. Karena kamu menang, kamu akan diam dan tidak akan mengganggu ku lagi kan?" 

Itto makin geram. Dia merasa dianggap remeh dan hampir memukul Sara, tapi berhasil ditahan. Itto memang kuat, tapi mata tajam dan daya refleks Sara berhasil menahan kepalan bertenaga si Oni. "Berisik, kamu mengganggu orang-orang sekitar, Oni bodoh. Kamu kan sudah menang, kamu masih belum puas?" 

Itto masih marah-marah sampai akhirnya muncul seorang anak laki-laki yang berjalan bersama ibunya. Mereka mendekat ke Itto, otomatis Itto menekan emosinya. Anak ini memberitahu bahwa dia berhasil menemukan onikabuto keren saat jalan-jalan sore, dan mau ajak duel Itto jika sempat. Itto sih yes, dia sepakat terus melambai ketika keduanya jalan menjauh.

"Aku tidak kaget kamu kenal banyak anak di kota ini, tapi apa seharusnya aku khawatir ya..."

"Heh jangan suuzhon gitu." Itto melipat tangan di depan dada. Dia kemudian bercerita ke Sara, 

Waktu itu, seperti biasa Itto bermain bersama anak-anak Inazuma. Saat sore sudah jam pulang, ada 1 anak yang menolak balik karena tengah berselisih dengan ibunya. Anak ini rindu bapaknya yang sedang berperang, tapi belum kembali. Ibunya muak mendengar rengekan yang sama berulang kali, setiap hari. Sang ibu menjadi kesal lalu meledak memukul si anak, hingga akhirnya si anak tidak mau ke rumah. 

Itto akhirnya membawa anak ini ke rumah gang Arataki. Malamnya ketika anak ini tertidur, Itto ke luar mencari rumah si anak lalu menceritakan semuanya ke orang tuanya. Pagi tiba, munculah pengumuman gencatan senjata, perang akhirnya selesai. Si anak dijemput oleh ibu dan kembali ke rumah dengan bahagia; tidak sabar menunggu kepulangan ayahnya. 

Itto sendiri menunggu kemunculan Sara di pelabuhan Ritou, tapi Sara tengah sibuk mengangkut tentara yang terluka. Itto kemudian tertawa kecil karena aslinya mau tantang Sara di detik itu juga, tapi dia mengurungkan niat, dan menunggu beberapa hari sampai Sara bisa lowong, yang, sayangnya tidak pernah lowong; makin sibuk malah. 

Sara menatap lantai, dan tanpa sadar dia meminta maaf kepada Itto karena perang itu. Itto geleng kepala, "Perang itu bukan salahmu. Kamu kan bawahan Raiden Shogun, ya kamu bisa apa selain menuruti perintah dia?" 

Itto akhirnya berdiri setelah semua anggota gengnya selesai makan, Sara menahan tangan kiri Itto. "Ayo kita duel lagi. Di luar kota. Sekarang." 

Itto pun langsung tersenyum lebar.

.

.

.

Dalam perjalanan ke desa Konda, Itto memaksa Sara untuk lomba lari. Hasilnya, Sara kehabisan nafas sebelum tiba di pinggir desa. 

"Tumben gak pakai sayap."

"Kan lomba lari, bukan lomba terbang. Kamu pikir aku akan curang?" Sara masih berusaha mengatur nafas. Dia kira pengalaman serta latihan kerasnya bisa membantu sedikit dalam mempertahankan stamina, tapi dia masih kalah dari Itto. 

Sara menengok ke belakang dan melihat anak buah Itto lari tergopoh mengikuti ritme Itto dan Sara, tapi mereka menyerah juga. Mereka lucu sekali, Sara tertawa dalam hati.

Akhirnya mereka berkumpul dan geng Arataki membantu mempersiapkan peralatan untuk duel. Itto memakai claymore andalannya, sementara Sara meminjam busur dan panah berburu geng Arataki. Busurnya tidak sebagus seperti yang biasa dia pakai; hanya terbuat dari kayu aralia tua. Demi menjaga keselamatan, panah yang dipakai dibuat dari sekumpulan kayu dan berujung tumpul.

...Dan tentu saja Itto kalah walaupun sudah melakukan 3 kali duel. Ayunan Itto sangat berbahaya, dan Sara sangat waspada akan hal itu. Selama duel, Sara sesekali terbang untuk menghindar, sekaligus mencari titik bagus untuk membidik Itto. Si Oni akan berlari menjauh jika diserang, tapi adakalanya Itto menghadang tembakan Sara dengan claymore. Itto sendiri juga menang karena disalah satu pertarungan, Sara tidak sengaja tersandung saat lari, dan kemenangan tetaplah kemenangan. Naas Itto kalah 2 ronde dari 3 pertarungan. 

Matahari hampir terbenam, baik Itto dan Sara sudah lelah tapi Itto masih mau memaksa untuk melanjutkan sampai malam, atau setidaknya sampai skor mereka imbang. Sara menolak keras, energi dia sudah terkuras habis-habisan. Tapi Arataki 'Keras Kepala' Itto malah mengejek Tengu malang itu; pengecut lah, lemah lah, rabun senja lah. Beruntung Sara diselamatkan oleh bunyi perut Itto yang tidak kalah kencang dari suara si Oni. Ditambah teman gengnya pulang membawa ikan hasil tangkapan dari Ritou. Sara bisa bernafas lega.

Purnama muncul selagi Itto dan gengnya melahap ikan bakar dan nasi. Sara sebenarnya ingin kembali, tapi kaki dan sayapnya menyerah. Mau tidak mau dia terpaksa menetap sementara di rumah geng Arataki. Dia merasa ada yang berbeda disini, dari kesehariannya makan malam di kastil Tenryou. Sara mendengar canda dan tawa Itto beserta anggota gengnya, mendengarkan cerita ketika teman Itto terpleset di dermaga dan hampir menendang ember ikan tangkapannya. Semuanya tertawa, dan Sara sepertinya terbawa suasana; dia ikut tersenyum dan tertawa pelan. 

Itto memiliki sekumpulan orang asing yang akrab layaknya keluarga, dibandingkan Sara yang memiliki keluarga namun bersikap seperti orang asing.

Ah... Sara semakin iri. 

Adakalanya dia berkumpul dengan tentara Tenryou saat perang dulu, tapi di kondisi suram dimana banyak yang terluka dan tertekan, sangat sedikit-- bahkan jarang bagi Sara menjumpai kehangatan dan kebersamaan seperti sekarang. Kelimanya meneruskan makan, sampai tengah malam bersama beberapa botol sake dari Shimura Kanbei sebagai rasa terima kasih karena geng Arataki telah membantu berburu daging tempo hari lalu. 

.

.

.

Ketika semuanya tertidur dan lampu dimatikan, Sara diam-diam keluar dan menjumpai Itto yang meneguk segelas sake. "Oh kamu tidak tidur Kujou Tengu?" 

"Aku harus kembali," Sara membalas pelan supaya tidak membangunkan yang lain. "Di luar dingin, dan pakaianmu hanya seperti itu. Apa kamu tidak takut masuk angin?" 

Itto menahan tawa, sakenya hampir muncrat, "Aku ini Oni. Oni! Cuaca seperti ini tidak mungkin membuatku tumbang lah." Itto akhirnya menatap Sara yang masih berdiri di samping, "Kamu serius ingin pulang di tengah malam begini?" 

Sara membuang wajah dan menatap ke depan, "Kamu punya gengmu, aku punya Tenryou Commission." Tanpa sadar lagi, Sara tersenyum tipis. "Mereka tidak seperti gengmu, tapi tetap saja, mereka keluargaku."

"Burung dalam sangkar." Itto menghela nafas. "Tapi bedanya, burung gagak ini akan kembali karena dia tidak tahu ingin melakukan apa setelah bebas dari jeruji." Si Oni menegak sakenya lagi, "Lambat laun kehidupan seperti itu akan menghancurkanmu dari dalam, Kujou Tengu. Kamu sadar tidak? Lagipula bukannya Tengu adalah makhluk bebas?" 

Sara melotot ke arah Itto, dia menggertak. "Kamu tahu apa tentang aku dan masa laluku, sampai seenaknya membicarakan analogi bodoh itu. Hanya karena kita berbicara seharian bukan berarti kamu berhak menilaiku dan prinsipku. Sampai jumpa."Sara berjalan buru-buru sekaligus berusaha meredam emosi.

"Lalu kenapa kamu terlihat senang disini, dibandingkan di Tenryou?" 

Sara terdiam 

Si Tengu menarik nafas. Dia memejamkan mata dengan kencang, lalu berbalik ke Itto. 

Sara menggigit bawah bibir menahan tangis. 

Sara hanyut dalam kesedihannya. Dia bersedih pada dirinya sendiri yang tidak bisa menentukan jati dirinya. Seumur hidup dia terkekang oleh ayahnya, membuat hatinya sekeras batu. Kepercayaan itu membentuk dirinya menjadi dingin dan tangguh, serta disegani. Tapi di sisi lain Kamaji mengatakan bahwa Sara terlalu keras, sangat susah untuk diajak bicara. Apa yang Kamaji bilang menggoyahkan diri Sara, perlahan menghancurkan hal yang ia yakini benar dari didikan semasa kecilnya. 

Lalu apa yang benar? Sara harus seperti apa? Ucapan Itto barusan hanya menambah beban mental Sara. Ia kesal dan labil. "Itu sisi yang seharusnya tidak kutunjukkan. Aku harap kamu melupakannya." 

Ditengah kebingungan itu, Sara kembali melanjutkan perjalanannya ke kota, masih memegang erat kain bajunya. Tangan kiri Sara mengusap mata. Tiba-tiba si Tengu mendengar derap langkah kencang dari belakang, dia tahu itu langkah siapa.

"Hei hei! Mana mungkin aku akan membiarkan seorang perempuan berjalan sendirian malam-malam begini." Itto masih mengatur nafasnya selagi berbicara. Entah efek mabuk dari sake atau apa, Itto menawarkan diri untuk menggendong Sara di punggung, yang tentu saja Sara tolak mentah-mentah. 

"Aku lebih memilih mati daripada ke punggungmu." 

"Yaudah kamu akan mati dengan tenang kalau begitu." 

Tanpa aba-aba, Itto merangkul sisi bawah lutut Sara, lengan kirinya menyokong punggung Tengu. Itto tertawa kencang sebelum melihat wajah Sara yang memerah padam. "Woah ternyata badanmu lebih kecil dari yang kukira. Tanganku saja hampir berhasil menutupi 2/3 punggungmu tadi!"

Dalam keadaan setengah mabuk, Itto menggotong Sara melewati Byakko Plains. Lampu jalanan remang membantu mengarahkan mata sayunya, dan dikala Itto tengah berusaha mempertahankan kesadarannya, Sara memandang ke langit malam. Bintangnya begitu banyak dan terlihat sangat cantik.

"Dulu sekali," Sara memecah kesunyian malam, "Aku sempat terluka karena terjatuh. Kujou-sama yang merawatku sejak kecil. Tanggungjawabku sekarang adalah bentuk balas budiku atas pertolongan beliau." Sara terdiam sejenak, lalu melanjutkan. "Aku tidak diizinkan untuk memiliki teman sebaya, aktivitasku selalu latihan, latihan, dan latihan. Hanya itu." 

Si Tengu memejamkan mata, "Sampai akhirnya Dekrit Perburuan Vision digalakan. Aku mempercayai keputusan Shogun-sama dan ayahku, jadi aku tidak punya pilihan lain selain menuruti; sama seperti yang kamu bilang sebelumnya. Aku melakukan banyak hal buruk demi memenuhi ego ayahku, dan aku sebenarnya menyadari itu, tapi memilih diam saja. Aku takut, aku takut dibuang dan tidak memiliki tujuan jika aku membangkang dari Tenryou.

"...maafkan aku." 

Si Oni diam seribu bahasa, untuk pertama kalinya. Sara ngelantur, Itto jadi ikutan ngelantur.

"Ternyata kita tidak jauh berbeda ya, Kujou Tengu. Yaah, memang sulit sih bagi kita yang berasal dari ras kuno untuk hidup bersama manusia. Mereka memaksa kita untuk menerima mereka apa adanya, padahal banyak dari mereka berperilaku licik dan jahat karena kita berbeda dari mereka. Aarghh aku ngomong apasih--" Itto menggeleng cepat kepalanya. "Tapi karena itu aku kagum padamu, Kujou Tengu. Tidak seperti si mbak rubah kuil Narukami, kita berdua selalu di kota ini; hidup berdampingan langsung dengan manusia. Pendapat mereka ke kita, hujatan mereka; semuanya bisa kita dengar. Tapi yang bisa kita lakukan hanyalah bergerak maju. Mengasihani diri sendiri tidak akan mengubah apa-apa, jadi kita harus bisa tersenyum dan kuat menghadapi hari baru. Sayang sekali Shogun tidak memahami demikian. Makanya aku tidak suka dengannya--" 

Itto baru menyadari perkataan terakhirnya lalu meneguk ludah. Sara adalah pemuja nomor satu Shogun, dia sudah siap dimarahi habis-habisan. 

"Aku paham, aku juga sependapat. Tapi ya, aku tidak bisa menolak titah Shogun-sama. Tetap saja, aku menghormati Shogun-sama atas segala keputusannya sebagai bukti pengabdianku kepada Inazuma. Yah, aku bersyukur saja Dekrit Perburuan Vision akhirnya diberhentikan." Sara menghela nafas. Kelopak matanya kian melemah, belum lagi tubuh hangat Itto membuat badannya yang kedinginan menjadi nyaman. Sara tidak ingin mengakui bahwa dia suka dimanjakan seperti ini, apalagi sosok yang bersamanya sekarang adalah berandal nomor satu Hanamizaka. Si Oni pasti akan mengejeknya, dan entah apa yang akan dibicarakan anak buah Sara di Tenryou jika atasan mereka ini menjadi akrab dengan Itto.

Terlebih, ada sebuah kelembutan dan kejujuran ketika Itto membalas Sara barusan. Ternyata, Itto juga sempat kehilangan yang dicintainya saat muda. Benar-benar deh, mereka memang sama, Sara mengelus dada. 

Setelah berjalan cukup lama, sepasang penjaga yang berpatroli melihat Itto dan Sara. Spontan para penjaga menghunuskan ujung tombak ke Itto, tapi Sara menginterupsi dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Sara kemudian diturunkan perlahan, kemudian izin undur diri kembali ke kastil Tenryou Commission.

"Terima kasih, Itto." 

.

.

.

Itto pulang ke rumahnya, tapi sepanjang perjalanan dia merutuk, menendang kerikil maupun batu kecil dengan kekanak-kanakan. Kedua telinganya memerah panas.

"Tengu sialan, kenapa dia sok baik dan anggun sih tadi! Manggil pakai nama akrab juga! Aku tidak akan luluh lagi lain kali, awas saja!"