Work Text:
A Mitsuzuha AU
mitsuya takashi x shiba yuzuha
written by rumikana
.
.
.
Password netflix
Clarification
Kuncinya memang komunikasi.
“Hai,” hanya satu kata saja yang bisa terucap oleh lelaki bersurai lilac itu untuk memulai pembicaraan setelah sekian lama tak berjumpa. Gadis yang disapanya hanya mematung setelah membukakan pintu baginya.
“Aku masuk ya?” Yuzuha hanya mengangguk, bibirnya masih membisu, memperhatikan sang lelaki dengan saksama.
Sedikit kehitam-hitaman terpatri pada kantung mata Mitsuya. Janggutnya pun sudah bertumbuh sedikiiiit, biasanya Yuzuha selalu membantu Mitsuya untuk membersihkan dagunya sambil mengatainya jorok dengan tawaan manisnya. Ah, sebuah kenangan manis mereka kembali terputar Yuzuha segera menggeleng-gelengkan kepalanya guna mengusir kenangan yang mulai merusak pertahanannya itu.
“Kamu gapapa, Zuha?” Yuzuha hanya menanggapi pertanyaan Mitsuya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Zuha... Mitsuya masih memanggil namanya dengan sebutan Zuha, sedangkan dirinya sudah tak lagi memanggil nama Mitsuya dengan Taka.
“Hakkai ngga di rumah?”
“Nginep di rumah Koko.” Mitsuya hanya bisa mengangguk.
“Nontonnya di kamar kamu?”
“Hah, ngga mau!”
“Loh kenapa?”
“Gamau pokoknya.”
“Belum diberesin ya?” kekeh Mitsuya.
“Udah.”
“Terus?”
“Takaa... Udah di ruang tamu aja.” Gue kok malah keceplosan ngerengek ke Mitsuya sih mana manggilnya Taka lagi...
“Okay.” Mitsuya mengacak-acak rambut coklat Yuzuha kemudian memberikan usapan lembut untuk merapikan kembali rambut Yuzuha.
Yang diacak-acakin rambut gue tapi yang berantakan malah hati.
Mereka akhirnya menonton film di ruang tamu, tak ada sepatah kata pun yang keluar, yang ada hanya cahaya dari layar yang menampilkan sebuah film dan audio yang menyertainya.
“Takut...”
“Ada aku di sini.” Mitsuya menggeserkan badannya mendekati Yuzuha, melingkarkan tangannya dan membubuhkan sebuah ciuman pada pucuk kepalanya.
Yuzuha tahu ini salah tapi rasanya sangat hangat dan nyaman. Film yang berputar tak lagi menjadi pusat atensinya, ketika ia mendongak, pahatan wajah tampan Mitsuya langsung menjadi sorotannya. Mitsuya pun balik menatap Yuzuha dengan intens, tak sedikitpun ada keinginan melepaskan pandangannya dari sang puan.
“Jangan liatin aku, itu filmnya di depan.”
“Iya tau.”
“Kenapa masih liatin aku!?”
“Aku ke sini cuma ingin nemenin kamu sama liat kamu.” Aku kangen kamu, Zuha. Satu kalimat yang sulit terucap, hanya bisa Mitsuya taruh di dalam hati.
Yuzuha hanya terdiam. Pikirannya tidak lagi terbagi dua, tetapi hanya terfokus pada kalimat terakhir Mitsuya. Sedangkan Mitsuya sudah kembali memusatkan fokusnya pada layar di depannya, takut Yuzuha marah jika ia tatap terus-terusan.
Apa dia kangen gue? Nggak mungkin juga sih. Cuma gue aja yang kangen sama dia. Ini semua terlalu curang.
Lo curang banget Mitsuya... Rasanya gue pingin benci sama diri gue sendiri, gue ngaku gue masih sayang sama lo. Bahkan rasa sayang itu ga pernah ilang.
Tanpa sadar air mata Yuzuha menetes, gadis itu mencoba menggigit bibirnya dengan susah payah agar Mitsuya tak mendengar senggukannya, ia pun memalingkan pandangannya ke pinggir sofa agar Mitsuya tidak melihat dirinya yang sedang susah payah menyeka air matanya.
“Kamu nangis?” Mitsuya mengusap pundak Yuzuha yang bergetar. Mitsuya tahu Yuzuha sedang menangis.
Tayangan film pun terpaksa diberhentikan, Mitsuya mencoba menyalakan kembali lampu.
“Zuha, maafin aku.” Tangisan Yuzuha semakin memuncak, suara senggukan mulai terdengar dan Mitsuya hanya bisa terduduk sambil memeluknya, membiarkan gadis itu meluapkan segala emosinya.
“Aku ada disini, aku bakal dengerin kamu,” ucap Mitsuya.
Gadis itu memandang Mitsuya dengan matanya yang sedang berkaca-kaca, “aku kangen kamu, Taka. Aku jujur, sampai sekarang masih sayang sama kamu.” Hati Mitsuya mencelos, kedua tangannya mulai meraih tangan Yuzuha dan menggenggamnya dengan erat. Ia menangguk kemudian menunggu gadis itu meneruskan ucapannya.
“Tapi kenapa, Taka? Sekalipun aku ga pernah denger kamu bilang kalimat kamu sayang sama aku ataupun kamu kangen sama aku. Kenapa? Aku ngerasa kalau aku cuma sayang sepihak sama kamu. Aku iri sama Luna, Mana, yang bisa kamu ucapin sayang, apa aku ngga spesial di mata kamu? Mulai dari situ aku sering ragu kalau kamu sebenernya sayang aku atau engga.” Yuzuha mencoba mengatur napasnya, “Aku mutusin kamu dan pura-pura deket sama Kak Ran biar kamu ngejauh, tapi semua sakit ini malah balik nyerang aku. Ini ga adil, Taka. Aku capek, aku ga bisa ngelak tiap aku ingat suatu hal, yang muncul di pikiran aku itu cuma kamu.”
Ah, gadis itu menangis lagi, hati Mitsuya sedikit tersayat. Ia memeluk Yuzuha dengan erat, “Zuha...” Perkataan gadis itu benar-benar membuat Mitsuya terdorong.
“Aku juga...” lanjut Mitsuya. “Aku juga masih sayang, bukan, aku masih cinta sama kamu, baik kemarin, sekarang maupun besok. Aku cuma sayang kamu, Zuha. Aku takut kalau aku bilang aku sayang kamu, kamu bakal bosen. Aku juga takut saat liat Ran deketin kamu, dia terlihat jauh lebih sempurna dibanding aku, Zu. Aku sempat mikir kamu memang layak disandingkan dengan orang hebat kayak Ran, Zuha. Dan saat kamu bilang kita putus, hati aku yakin kalau kamu saat itu bohong tapi aku juga ga bisa berbuat apa-apa lagi untuk bikin kamu stay karena kamu saat itu bilang kamu suka sama Ran dan udah engga sayang lagi sama aku, kamu engga pernah bohong sama sekali ke aku, Zuha.”
Semua benang kusut yang menggumpal sedikit demi sedikit terurai, semua yang dipendam setelah sekian lama oleh keduanya berhasil keluar. Tak ada lagi yang disembunyikan.
Mitsuya kemudian mencium Yuzuha, menuangkan seluruh perasaannya dalam lumatan lembut yang ia bubuhkan pada gadis itu. Disela tangisan Yuzuha, gadis itu pun mulai membalas panggilan Mitsuya. Hangat. Terlampau hangat. Semuanya membuncah begitu saja. Keduanya saling merenggut dengan rakus seakan tak akan ada lagi hari esok.
Ketika pagutan tersebut terlepas, keduanya hanya saling menatap. Mitsuya dengan senyuman teduhnya berkata, “I love you, Yuzuha.”
Yuzuha memeluk kembali Mitsuya. Rasanya sangat melegakan. Semua keraguannya sirna, yang timbul hanyalah sebuah keinginan bahwa dirinya tak ingin ditinggalkan oleh lelaki yang saat ini ia peluk.
“Aku kangen kamu, Zuha.”
“Aku lebih,” balas gadis itu.
“Kayaknya aku yang lebih.”
“Aku setiap hari kangen kamu.”
“Masa iya? Kerjaan kamu kan cemberut terus tiap liat aku?”
“Mana ada!”
“Iya engga ada, kamu kerjaannya cantik terus di mata aku, tiap detik ga liat foto kamu aku galau.”
“Lebay banget.”
“Liat, lockscreen hp aku aja masih kamu.”
Mitsuya menyodorkan ponselnya dan menekan tombol on, tampilan wajah cantik milik Yuzuha langsung terpampang, mau tak mau wajah gadis itu jadi bersemu.
“JELEKKKKKK, Aku mau nangis malah jadi blushing.” Mitsuya terkekeh mendengar rengekan Yuzuha.
Ah, rasanya kurang cukup memeluk Yuzuha seribu kali untuk hari ini. Mitsuya benar-benar tak ingin melepaskan genggaman tangan keduanya, begitu juga Yuzuha.
END!!
a/n : mitsuzuha fanfic tuh rarely founded written in bahasa ya :(( so i just made it untuk ngasup sendiri! hope yall like it!
