Actions

Work Header

(one) long way run

Summary:

Soonyoung, seorang mahasiswa yang sedang dikejar deadline tugas, tapi malah harus juga mengejar seorang pencuri.

Notes:

warning: please read it wisely, tinggalkan yang buruk, ambil yang baiknya. disini ada kejadian copet mencopet, ada sedikit mention event 1998 di indo. bisa langsung di skip aja ya kalau sensitif dengan topik ini.. aku gak mengalami tapi hanya mendengar cerita orang, i'm so sorry for mentioning this issue here dan maaf kalau ada yang salah, you can tell me right away! so, enjoy the ride!

Work Text:

Pada suatu hari, ada seorang— ah tidak-tidak. Soonyoung menghapus kembali tulisan yang telah ia ketik. Bingung juga mengapa ia memakai kalimat pembuka seperti cerita pendek anak sekolah. Soonyoung memperhatikan jalan di depannya yang masih ramai seperti ketika agenda rutinnya dengan berbelas-belas kucing liar yang menghampirinya kala ia siap dengan makanan di tangan, lalu menyuruh kucing-kucing itu untuk berbaris. Agar tidak serta merta anarkis. Mereka ajaibnya bisa menurut tanpa pandang ia yang biasa saja atau seorang kaum borjuis. Tapi siapa juga kucing yang akan berpikir kritis. Juga Soonyoung harus segera berhenti memikirkan para kucingnya dan lanjut menulis.

Halte yang ia singgahi sekarang ini juga ramai sekali. Jam-jam pulang yang di nanti. Manusia-manusia disini ramai datang dan pergi. Ada yang sudah naik bis atau angkutan umum lainnya terlebih dahulu, ada juga yang sepertinya menjadikan halte sebagai tempat bersendu. Soonyoung tersenyum prihatin saat menyadari perempuan disampingnya mendengarkan lagu sambil tersedu-sedu. Niat ingin memberi sapu tangan atau tissue, tapi ia tak punya. Jadi ia urungkan niat baiknya dan memilih membiarkan perempuan itu menikmati waktunya.

Soonyoung kembali menaruh fokus pada essay yang merupakan tugas mata kuliah umumnya. Ia memijat pelipisnya berulang. Ponselnya sebentar lagi kehabisan baterai. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan tugasnya sebelum deadline yang bertepatan satu jam lagi.

Soonyoung merasa sebentar lagi ia bisa gila. Kenapa juga ia baru mengingat tugas ini saat ia menduduki kursi halte beberapa saat lalu. Saat sedang mengetik kata ke seribu sekiannya, ia merasa ada yang bergerak di bagian belakangnya. Badannya langsung memberi respon dengan bergidik. Soonyoung sadar bahwa benda itu berasal dari sebelah kirinya. Mungkin itu adalah sebuah tangan.

Iya, benar, sebuah tangan. Tangan yang sepertinya sedang bekerja untuk mengambil sesuatu pada perempuan di sebelah kanan Soonyoung. Ini.. bukan hanya panjang tangan karena mencuri, tapi juga karena tangannya memang panjang. Bisa-bisanya dia mengambil dari sisi yang jauh dari korbannya. Soonyoung merasa organ dalam dadanya bergerak terburu-buru. Soonyoung merasa takut. Ia ingin menolong perempuan ini, tapi ia juga takut jika pencuri ini membawa senjata tajam. Tau-tau nanti tugasnya tidak jadi terkumpul.

Tapi masa bodoh!

Soonyoung mundur ke belakang dengan kuat. Ia menyikut tangan pemuda pencuri itu dengan keras. Lalu ia berteriak, “WOY ADA MALING!” Semua manusia yang berada di halte langsung riuh ikut panik. Perempuan yang tadinya belum fokus itu langsung berdiri dan berteriak memanggil polisi yang berada di pos tak jauh dari halte. Pemuda itu terlihat risau dan gelisah tak tentu arah. Sebelum akhirnya langsung melarikan diri berlengah-lengah.

Soonyoung mengerutkan keningnya. Dengan tas digendongan dan ponsel yang sudah dimasukkan kedalam saku, ia mengejar pencuri itu. Diikuti polisi dibelakangnya. Ia berlari tak kalah cepat dengan laki-laki yang juga berlari seperti harimau yang mengejar mangsanya.

“Woy copet, berhenti!” teriaknya.

Pencuri itu menoleh sambil berlari. Ingin menjawab tapi sepertinya diurungkan, lalu memilih untuk kembali berlari. Ia terus berbelok ke jalan-jalan kecil jauh dari pertigaan awal ia memilih jalan dari arah halte.

Polisi terus mengejar, tapi lumayan jauh dari Soonyoung. Soonyoung berlari lebih cepat dari pencuri itu juga dari polisi. Ia berbelok pada sebuah gang sesuai objek di depannya tadi. Tapi saat sudah jauh lari berbelok tak ada siapa-siapa dihadapannya. Soonyoung memberhentikan langkahnya. Ia terengah-engah. Dahi dan punggungnya dibanjiri peluh. Ia merotasikan kepalanya, sampai seseorang yang bersembunyi dibalik gerobak tak jauh di depan sebelah kirinya menarik tangan Soonyoung. Soonyoung siap memukul orang tersebut sampai orang dihadapannya dengan cepat menangkis pukulan Soonyoung.

“Heh, pencuri!” seru Soonyoung siap untuk menarik tangan pencuri itu.

“Tai. Gue gak jadi nyuri gara-gara lo! Jadi stop panggil gue pencuri!” jawab pemuda dihadapannya sambil bersungut marah. Ia masih lelah dan kesal karena acaranya sudah gagal total.

“Tapi tadi gue liat lo udah pegang dompet cewek tadi!”

“Gue simpen lagi!”

Tempat sepi itu jadi berisik dan bergema karena teriakan keduanya.

“Mana buktinya? Coba sini gue geledah!” tangan Soonyoung sudah akan menggapai badan pemuda dihadapannya, sebelum mereka menyadari bahwa ada langkah kaki cepat yang siap menghampiri mereka. Pemuda di hadapan Soonyoung panik. Ia menggunakan keputusan satu sekonnya dengan menarik tangan pemuda pengganggu itu untuk berlari bersamanya menjauhi para polisi yang mengejar.

“Eh, kok gue dibawa?!” Soonyoung panik dan berusaha melarikan diri. Tapi lari mereka kali ini terasa lebih cepat dari larinya sebelumnya. Ia tak punya kekuatan lebih kali ini. “Cepet banget sih! Tangan sama kaki gue sakit tau gak?!”

“Jangan banyak bacot! Ikut aja. Gue udah pusing!”

“Kalau gak salah yaudah gak usah lari dong harusnya?”

“Nanti tetep harus ikut mereka! Lo juga bakal terseret. Ribet. Ini tuh gue mau bantuin lo!”

Mereka berteriak sambil berlari kencang menyusuri jalan di malam yang baru saja berganti. Jalanan gelap dan semakin gelap saat mereka sudah berlari sangat jauh.

Pemuda itu akhirnya berhenti berlari, diikuti Soonyoung, saat sudah sadar tak lagi ada polisi yang mengejar. Mereka akhirnya berjalan dengan pelan, tanpa obrolan. Hanya terdengar suara napas yang diambil dan dibuang acak-acakan. Mereka terus berjalan sampai terdengar suara keramaian. Kedua pemuda ini keluar dari gang tersebut, lalu muncul di keramaian dengan anggapan, Soonyoung sudah aman.

“Mau ikut gue dulu gak?”

Soonyoung bingung dengan pertanyaan pemuda itu. Kembali merasa takut dengannya, takut terjadi apa-apa. Lawan bicaranya terlihat seperti orang baik yang jahat.

Ia menyadari ketakutan laki-laki berkemeja santai itu. “Santai. Gak akan gue apa-apain sumpah. Disini rame. Lo bisa hajar gue terus teriak kalau gue macem-macem.”

“Dan membiarkan lo nanti diem-diem curi barang gue, gitu?” Soonyoung menatap penuh selidik laki-laki berambut semi acak-acakan yang hanya memakai kaos biasa dan celana jeans agak lusuh itu.

Yang ditatap mengangkat kedua tangannya ke udara. “Sumpah. Gak akan. Asli.”

“Yaudah deh.”

Wonwoo sempat terpikir tentang rasa ingin mengelabui laki-laki dihadapannya. Tapi akhirnya tidak jadi, kali ini ia punya belas kasihan. Kalau Wonwoo boleh meninjau, mungkin akan asik bagi anak ini untuk diajak jalan-jalan malam. Tapi ia bingung harus kemana.

“Gue laper. Mau makan. Lo mau ikut?” Ini bukan Wonwoo, tapi Soonyoung yang mengajak. Wonwoo tersenyum lalu mengangguk. Mereka berjalan terus mencari tempat makan yang bisa mengisi perut mereka.

Wonwoo berhenti di sebuah tenda dengan banyak lagi tenda-tenda disampingnya. Dengan berbagai macam makanan yang diperjualkan. “Disini aja lah, nanti jauh lagi. Lo mau makan yang mana?”

Soonyoung memajukan bibirnya sedikit. Lalu berpikir. “Hm, soto ada gak sih?”

“Oh.. bentar. Coba ke sebelah sana,” Wonwoo berjalan duluan, maju lagi untuk melihat tenda-tenda lain. “Noh, ada sotonya. Macem-macem soto. Yok.”

Soonyoung mengikuti Wonwoo yang mulai memesan makanan dengan pesanan yang sama. Setelah itu mereka duduk di kursi tak jauh dari penjualnya.

“Nama lu siapa?” Tanya Wonwoo, membuka obrolan.

“Soonyoung. Lo?”

“Gua Wonwoo.”

Kaki Soonyoung bergerak gelisah di bawah sana. Lalu tak sengaja lututnya bersentuhan dengan lutut Wonwoo. “Ehe.. Sorry,”

Wonwoo hanya tersenyum kecil dan mengangguk. “Lu baru balik kuliah? Tadi nunggu bis?”

“Heem. Gak jadi kan naik bisnya gara-gara lo.” Soonyoung memutar bola matanya dan menaruh kedua tangannya diatas meja, terlipat.

“Sori.. nanti gimana dong pulangnya?”

“Minta jemput Abang paling.”

Pesanan pun tiba. Mereka mulai memakan makanan berkuah dengan asap yang mengepul itu. Wonwoo meletakkan garpu di piring dan mulai melahapnya terburu-buru dengan sendok.

Selagi mengunyah, Soonyoung akhirnya memutuskan bertanya hal yang sudah ia tahan sedari tadi. “Lo tuh kenapa nyuri? Kan gak bener,”

Wonwoo melepaskan sendok yang tadi berada di tangannya. Matanya menatap mata Soonyoung yang menatapnya penasaran dengan sedikit rasa takut di sana. Wonwoo kembali mengambil sendoknya dan kembali makan. “Udah kebiasaan.”

“Dari kapan? Kok bisa sih yang kayak gitu jadi kebiasaan..” Soonyoung menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa aneh dengan Wonwoo.

“Gak tau dah. Dari kecil.”

“Emangnya gak ada kerjaan lain? Gak diajarin orang tua? Gak diajarin di sekolah dulu gitu?” Tanya Soonyoung beruntun, tetapi detik berikutnya ia tersadar. “Eh maaf, maaf..”

“Santai. Ada kok kerjaan lain mah,” Wonwoo mengambil dua gelas dan mengisi keduanya dengan air teh dari teko. Ia tertawa kecil sambil memberi satu gelas ke arah Soonyoung dan meminum yang lainnya sebelum kembali melanjutkan. “Gue gak pernah ketemu orangtua gue. Eh pernah deng, ada di botol! Hahaha.”

Soonyoung menautkan kedua alisnya. Ia memilih serius. “Kok bisa?”

Wonwoo sudah tak lagi tertawa. “Bisa-bisa aja. Gue lahir tahun 1998. Lu ngerti lah gimana. Eh udah lahir belom?” Wonwoo melihat Soonyoung menggeleng. “Tapi ya masa iya gak tau. Yaudah gitu pokonya. Ikut keseret. Rumah gua kebakar abis. Saat itu gue baru sebulanan. Cuman gue yang selamat. Gue akhirnya dibawa bapak-bapak pergi dari situ. Gak tau detailnya gimana. Gak nanya.”

Entah mengapa Soonyoung merasa tidak baik-baik saja. “Dibawa bapak-bapak itu kesini gitu? Terus tinggal dimana?”

“Pinggir sungai.” Wonwoo menjawab dengan santai sambil memakan suapan terakhirnya.

“Hah?! Lo tidur di pinggir sungai kosong gitu?” Soonyoung sangat terkejut.

“Gak lah. Ada rumah-rumah kecil.”

Mendengar jawaban itu Soonyoung merasa hatinya tergores. Seperti ada gerakan aneh di dalam sana. Entah mengapa. Mungkin karena baru pertama kali secara eksklusif mendengar cerita seperti ini. Ini terlalu menyedihkan bagi Soonyoung. Kesulitan-kesulitan yang pemuda ini alami selama 21 tahun hidupnya.. tak bisa lagi ia bayangkan. Rasanya dadanya ingin meledak.

Wonwoo mengerti tanggapan itu. Pasti akan didapatkan dari tipe-tipe anak yang pastinya sudah merasa cukup, atau lebih, atas apa yang dia miliki.

“Lanjutin makannya.”

Soonyoung mengangguk pelan. Ingin kembali bersua, tapi sesuatu di tenggorokan seperti menguncinya. Ia memilih melanjutkan makannya terlebih dahulu dalam diam.

Wonwoo melihat Soonyoung yang memakai jam tangan ketika pemuda dihadapannya sedang menyimpan gelas, setelah meminum isinya. “Sekarang jam berapa?” Tanyanya.

Soonyoung melihat jam di lengannya. “Jam tujuh.”

Wonwoo mengangguk-anggukan kepalanya. “Eh, lu yang bayar ya? Yang punya gua juga.”

Soonyoung terkejut. Ingin protes, tapi setelah melihat wajah Wonwoo yang hanya cengengesan, ia urungkan.

“Nanti sumur yuk. Udah pernah coba belom?”

“Hah? Minum air sumur gitu? Gak ah ngapain anjir emang bisa diminum?” Tanyanya terheran.

“Bukan, anjir. Sumur tuh susu murni.”

Soonyoung membulatkan bibirnya. “Ooh, boleh.”

“Yaudah abisin tuh makanannya.”

Soonyoung terus menghabiskan makanannya hingga tak ada yang tersisa. Kemudian ia minum dan membayar makanan mereka.

Wonwoo terlebih dulu keluar, disusul Soonyoung berikutnya. Lalu ia memimpin jalan menuju kedai susu murni. Mereka sudah mulai banyak mengobrol, bercanda, dan bertukar cerita. Mereka sudah menemukan frekuensi yang sama.
“Emangnya lo gak punya saudara gitu?”

“Eh ya, kan gua udah bilang yang nyisa tinggal gua. Punya mah punya, tapi udah jadi abu duluan.” Jawab Wonwoo sambil menggeser Soonyoung ke kiri dan ia berjalan di sebelah kanan Soonyoung, yang bersisian dengan jalan. “Sori. Lu jalan jangan terlalu pinggir. Biar gak keserempet.”

Soonyoung sempat menegang sedikit. Wonwoo menyentuh pundaknya tiba-tiba, kan kaget. Soonyoung kembali mengangguk mengerti. “Makasih. Tapi Bapak yang sekarang sama lo tuh baik?”

“Baik dalam hal apa nih maksudnya? Baik mah baik ini gua sampe sekarang masih napas, kan? Meski dia gak kerja jadi ya gitu, gua yang gantiin tapi gua juga masih suka sesekali nyuri. Gimana menurut lu?”

Soonyoung tak tahu detil apa saja yang selama ini terus dihadapi oleh Wonwoo. Tapi mengingat kehidupannya sekarang yang cukup, ia punya rumah layak, bisa makan makanan 'sehat', dan bisa mengenyam pendidikan. Rasanya pedih melihat Wonwoo yang bisa berjalan tanpa kelihatan punya rasa sakit yang menusuk pundaknya.

Wonwoo memperhatikan raut wajah Soonyoung. Ia hanya tersenyum tipis. Wonwoo menepuk kepala Soonyoung dua kali. “Biasa aja kali ekspresinya. Lagian hidup mah jalanin aja kali. Ikhlasin ampe napas abis.”

Soonyoung menoleh kearah Wonwoo. Rasanya duri-duri itu seperti masih saja singgah di benaknya. “Apa ih emangnya muka gue gimana?” Ia terlihat malu. “Ngaco looo!”

Selanjutnya mereka tertawa bersama. Seperti malam itu, indah terasa ada eksistensinya. Menyentuh sanubari kedua pemuda ini. Tak mereka tolak kehadirannya. Malah mereka sambut dengan suka cita. Berharap indah itu akan bersemayam lebih lama.

Wonwoo dan Soonyoung akhirnya tiba di sebuah kedai susu murni. Penjualnya menggunakan sebuah mobil antik, sebagai tempat dia meracik. Disediakannya alas duduk dengan sebuah karpet tak jauh dari mobil itu.

“Sana pesen, gue susu murni original, dingin ya,”

Soonyoung mendelik tak suka. “Udah malem masa yang dingin sih. Susu gini enaknya yang anget. Gue pesen yang anget aja.”

“Eh, belum malem ah ini. Yang dingin dong plis, ya ya? Duh gue pengennya itu, kapan lagi bisa minum sumur.” Wonwoo sedikit memelas kepada Soonyoung. Menyuarakan keinginannya.

Soonyoung terdiam. Hatinya kembali bergejolak. Ia mencoba tersenyum. “Yaudah deh.”

Wonwoo tersenyum lebar. Ia menepuk pipi Soonyoung pelan. “Lu mantep jiwa pokoknya!”

Soonyoung memutar bola matanya malas lalu pergi memesan dan kembali dengan susu murni original dingin dan susu murni coklat hangat. “Rasanya ada macem-macem ternyata.” Ia meletakkan kedua gelas itu dihadapan Wonwoo lalu ia duduk disampingnya.

“Wah iya? Tau gitu gua pesen yang paling aneh!”

“Dih masih untung dibeliin.”

“Ya kan tadi gak tau.” Wonwoo meminum susunya sampai tersisa setengah dari gelasnya.

Soonyoung meminumnya sedikit-sedikit, panas. “Kita pembeli pertama hari ini ternyata. Abangnya baru buka beberapa menit yang lalu.”

“Iya lah. Kata orang-orang enaknya tuh jam sembilan keatas minum sumur tuh. Ini kepagian,”

Soonyoung menarik ujung-ujung bibirnya keatas sampai pipinya menggembung lucu, yang membuat Wonwoo ikut tersenyum melihatnya. “Yaudah nanti lagi jam sembilan aja kesininya. Seru deh,” kata Soonyoung. Karena biasanya ia kalau membeli susu murni, diminumnya didalam mobil.

Wonwoo mulai menghabiskan susu murni miliknya. Sama halnya dengan Soonyoung.

“Eh, minta nomor lo dong, boleh gak? Biar gampang komunikasinya.” Pinta Soonyoung, yang mengharapkan pertemuan kedua, sambil mengeluarkan ponselnya dan menyalakan data selulernya.

“Gak punya hp gua.”

“Hah serius?”

“Apa sih lu. Napa masih kaget?”

Hari ini perasaan Soonyoung campur aduk seperti bubur yang biasa dimakan Abangnya. Baginya, rasanya aneh, seperti perasaannya kini. “Maaf..”

Wonwoo tertawa. “Santaaaai. Eh gua denger ada musik-musikan gitu. Kesono dulu yuk sebelom balik?”

“Iya gue juga denger, yuk yuk!” Mereka pun menghabiskan minuman mereka. Setelah habis, lega di dada terasa. “Tapi temenin pipis dulu ya? Kata abangnya ada di sebelah sana,”

“Oh iya ayo,” Wonwoo dan Soonyoung berdiri. Mereka berjalan beriringan ke sebuah toilet. Soonyoung masuk kedalam, buang air kecil. Wonwoo menunggu diluar sambil bersandar pada pintu.

Soonyoung telah selesai lalu membuka pintunya—yang dibuka kedalam dan Wonwoo hampir saja menimpanya di bagian depan. “Ih lo tuh hati-hati! Ngapain diem disitu!” Soonyoung mendorong punggung Wonwoo perlahan.

Wonwoo berbalik badan dan melihat wajah Soonyoung. “Maap, maap. Yuk cabut.”

Soonyoung mengangguk dan mereka berjalan tak jauh dari kedai susu murni. Benar-benar dekat. Ada seorang pengamen yang memangku gitar dan bernyanyi. Di kelilingi oleh orang-orang yang menikmati lagunya.

Mereka berdiri bersisian dan ikut menikmati lagu yang dibawakan. Menurut Soonyoung, memang terdengar enak. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Wonwoo. “Ngomong-ngomong soal nyuri..”

Wonwoo menoleh, melihat Soonyoung yang ternyata tengah menatapnya. “Hm? Kenapa?”

“Um.. tapi lo tau kan nyuri atau sesuatu sejenis itu bukan hal yang seharusnya dilakuin?” Kata Soonyoung, akhirnya, mengajukan pertanyaan retorik, yang dijawab Wonwoo dengan anggukan sambil tertawa kecil. “Maaf kalau gue kelewat batas tapi gue cuman mau ngingetin sebagai sesama manusia aja.. for your own good.. belajar ngurangin, ya?”

Wonwoo tersenyum sambil menatap mata Soonyoung. “Lagi, kok.” dan ia paham

Berdiri diantara beberapa orang di taman itu, tetapi hanya Soonyoung yang dapat melihat eye smile milik Wonwoo. Soonyoung lebih menegakkan badannya, tersenyum senang, entah mengapa. "Okay, keep it going. Gue tau lo ngerti yang lebih baik dipilih yang kayak gimana.”

Wonwoo masih dengan senyumnya, merasa gemas ketika melihat Soonyoung yang tampak senang.

“Btw, lo tuh tadi kenapa sih sumpah malah narik gue? Padahal lo cabut sendiri aja lagi.”

“Gak tau anjir refleks gua. Kepikirannya narik lu aja gitu.”

“Terus emang bener gue nanti bakal ikut ke kantor polisi kalau ketauan? Kan nyuri dompet doang? Mana gak jadi kan kata lo?”

Wonwoo akhirnya tidak kuat untuk tidak mengacak-ngacak rambut Soonyoung. “Iya lah, ganteng, buat jadi saksi. Dan polisinya udah kenal gua.”

“Dih genit!” Soonyoung mencoba menahan getaran dihatinya. “Kok bisa kenal?”

“Gua dulu pernah di penjara.”

“Hah?!”

“Biasa aja, biasa. Iya beneran pernah. Makanya gua gamau lu kesana juga meski cuman jadi saksi. Lu tadi udah bareng gua, kalau keliatan nanti dikira komplotan.”

“Lah sekarang?”

“Udah jauh.” Jawab Wonwoo. “Yang dekat mah kita.”

“Alay lu.” Soonyoung menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Ih tapi yang bener.. lo kok bisa? Lo ngapain sampe bisa sefatal itu?”

“Gitu dah. Mong omong, menurut lu dia siapa? Kok ditontonin gini? Kek di sinetron yang ditonton Bu Dika.”

listen to this song!

Soonyoung sedikit kecewa tak mendapatkan jawaban. Ia hanya mengangkat bahunya. “Bu Dika siapa pula,”

Andai kau ijinkan
Walau sekejap memandang

“Tetangga gua,” jawab Wonwoo sebelum kembali melanjutkan, “mungkin terkenal kali ya dia disini. Wah lagunya Iwan Fals ini,”

“Iya? Lo tau? Judulnya apa?” Soonyoung bertanya sambil tersenyum kecil, ia semangat, sambil memperhatikan penyanyi yang sudah mengawali verse 1 lagunya.

Kubuktikan kepadamu
Aku memiliki rasa

“Ijinkan Aku Menyayangimu.”

“Enak lagunya.” Mendengarnya senyum Soonyoung semakin lebar. Lalu Soonyoung menoleh kearah Wonwoo berdiri. Tapi, tak ada siapa-siapa disana. Senyumnya luntur, turun. Indahnya senyuman itu hilang ditelan gelapnya malam. Kosong. Beberapa langkah darinya, disana hanya ada beberapa orang termasuk perempuan yang menggandeng laki-laki disampingnya. Tetapi, Wonwoo tak ada.

Cinta yang ku pendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau tlah memilih
Menutup pintu hatimu

Soonyoung tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya kembali melihat kearah penyanyi itu dengan tangan memegang tasnya erat. Tangannya yang lain mengeluarkan ponselnya, menelepon Abangnya untuk datang menjemputnya, setelah mencoba mengerti, atas alasan Wonwoo yang memilih pergi.

Ijinkan aku membuktikan
Inilah kesungguhan rasa
Ijinkan aku menyayangimu

Sayangku
Dengarkanlah isi hatiku
Cintaku
Dengarkanlah isi hatiku

Bila cinta tak menyatukan kita
Bila kita tak mungkin bersama
Ijinkan aku tetap menyayangimu