Actions

Work Header

Next to You

Summary:

“Mau tidak mau sepertinya tempat ini akan menjadi tempat kita bermalam,” kata Childe seraya kembali terkekeh usil. Dia bersandar sesaat di ambang pintu, mengusap rambutnya yang basah kebelakang sebelum duduk sambil masih bersandar.

Sepasang bola mata merah Diluc memutar kesal, Yeah, mau tidak mau, pikirnya pasrah.

 

Note: mereka terjebak bersama di sebuah rumah tua kecil karena hujan yang deras di luar sana.

Merry Christmas

Notes:

Selamat membaca dan menikmati ^^//

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Next to You

 

 

 

Hujan semakin deras di luar sana.

Sepasang bola mata merah Diluc terpejam sesaat, ia kemudian menghela napasnya lega seraya mengusap poni rambutnya yang basah ke belakang. Untung saja ia berhasil menemukan sebuah rumah kecil tua yang sepertinya sudah lama ditinggalkan pemiliknya, jika tidak, mungkin saat ini ia masih menyusuri pesisir pantai Yaongguang Shoal.

Sudah Diluc duga pertama kali saat ide menyusuri pantai hanya untuk mencari Starconch dengan kondisi langit gelap, deru angin dingin juga ombak yang menggulung mengerikan adalah ide buruk. Lagi pula, tidak perlu menjadi orang paling pintar untuk memperkirakan cepat atau lambat hujan deras akan segera datang.

Diluc mendengkus keras, ia lalu menatap sebal laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya yang sibuk mengacak-acak rambut ginger basahnya sambil bersenandung pelan, “Lain kali, jika kau begitu ingin berjalan-jalan di pesisir pantai hanya untuk mencari Starconch perhatikan baik-baik cuacanya. Padahal aku sudah memperingatkanmu,” grutunya.

“Yeah, mau bagaimana lagi. Aku baru ingat tadi siang kalau aku harus mengumpulkan beberapa Starconch. Setidaknya bersyukurlah, kita bisa menemukan tempat untuk berteduh,” kata Childe seraya menyunggingkan senyum usil.

Diluc mengernyit tidak senang. Jujur saja, menyebalkan sekali rasanya mendengar nasihat waras keluar dari mulur seorang Harbinger Fatui, terlebih lagi dari Harbinger yang di kepalanya kebanyakan hanya diisi oleh pertarungan.

“Kalau begitu kenapa tidak membelinya saja,” gumam Diluc. Ia melepas jaket tebalnya yang basah lalu melemparnya asal pada papan yang terlihat seperti tempat untuk beristirahat. “Aku ingat ada penjual Starconch di Pelabuhan Liyue.”

“Kalau masih bisa dicari kenapa harus membeli.” Childe melepas pakaian luarnya yang kemudian melemparnya asal ke tempat Diluc melempar jaketnya, “Lagi pula, ini hadiah, kalau dibeli jadinya tidak special,” katanya. Dia kemudian berjalan malas ke arah sudut ruangan, mengambil beberapa batang kayu sebelum melemparnya asal ke dalam perapian yang berdebu. “Dan lagi, kita bisa sebut ini sebagai kencan.”

Kening Diluc kembali mengernyit, kali ini sedikit lebih dalam. Ia lalu menggeleng seraya mendecak sebelum berjongkok tepat di depan perapian, mengirim api dari Vision Pyro-nya untuk menyalakan perapian.

“Sepertinya hujannya akan lama,” gumam Childe.

Refleks Diluc menoleh. Menatap Childe sesaat kemudian ke luar. Di luar hujan terlihat semakin deras, deru anginnya bahkan terasa semakin kencang sampai-sampai api di perapian begoyang-goyang seperti bisa mati kapan saja.

“Mau tidak mau sepertinya tempat ini akan menjadi tempat kita bermalam,” kata Childe seraya kembali terkekeh usil. Dia bersandar sesaat di ambang pintu, mengusap rambutnya yang basah kebelakang sebelum duduk sambil masih bersandar.

Sepasang bola mata merah Diluc memutar kesal, Yeah, mau tidak mau, pikirnya pasrah.

Ia kemudian berjalan menghampiri Childe yang duduk nyaman di ambang pintu, memperhatikan Si Harbinger sesaat. Sepasang Deep Bluenya terlihat fokus sekali menatap ke luar sana, dengan satu kaki yang ditekuk sejajar dengan dada juga satu lengannya yang dia biarkan beristirahat di atas lututnya. Diluc bisa melihat dengan jelas bagaimana rambutnya yang perlahan mengering itu bergerak-gerak ringan saat angin berembus ke arah mereka. Dan saat Childe perlahan menoleh padanya buru-buru Diluc mengalihkan pandangannya ke luar.

Ia menghela napas, kemudian duduk sambil bersandar di ambang pintu tepat berhadapan dengan si Harbinger. Sepasang mata merahnya akhirnya menatap ke arah yang sama dengan yang Childe tatap sebelumnya, hujan yang turun dengan deras, tanaman yang bergoyang-goyang liar di mainkan angin, lalu gemuruh ombak yang mengulung-gulung mengerikan. Ia melepas ikatan rambutnya, membiarkan rambut merah panjangnya yang masih basah jatuh ke sisi tubuhnya. Ia lalu menekuk kedua kakinya sebelum menyamankan pipi kirinya di atas lutut sambil memeluk kedua kakinya erat.

Hening, yang terdengar hanya suara alam yang perlahan tapi pasti mulai sedikit lebih tenang. Tidak ada tawa mengejek atau dengusan menyebalkan sebagai balasan, atau debat tidak berguna yang kerap terdengar saat mereka sedang bersama.

Diluc tersenyum tipis, membiarkan angin malam memainkan ujung rambut merahnya yang perlahan mulai mengering. Terlintas keinginan di kepalanya agar waktu sesaat berhenti pada moment ini, sebelum ia mendengkus lucu lalu menyingkirkan pemikiran konyolnya barusan jauh-jauh.

Seperti ini, meski hanya sebentar saja juga cukup.

Notes:

Merry Chrismas Guys
dan terima kasih karena sudah menyempatkan mampir dan membaca ^^//

Series this work belongs to: