Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Jaemjen Writing Fest
Stats:
Published:
2021-12-31
Words:
737
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
152
Bookmarks:
5
Hits:
3,003

Jaemin kalau Jeno cemburu

Summary:

where Jaemin lives together with his boyfriend, Jeno.

Notes:

Part of Jaemjen Writing Fest, written by @lekturmantik

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tidak banyak akhir-akhir ini kegiatan yang membuat kedua sejoli sibuk dengan urusan masing- masing. Dilihat dari seberapa dini nya mereka pulang itu termasuk cepat.

 

Sampai sore itu, Jeno asik menonton Teve dengan sebungkus ciki dari alfamart depan terusik oleh ocehan Jaemin.

 

"Je, makannya jangan berantakan banyak semut nanti." Nasehat cowok itu sambil memunguti remahan yang mengotori karpet berbulu di ruang tengah.

 

Jeno hanya acuh, sedikit mengangkat kakinya saat Jaemin mencoba menyapu remah-remah ciki akibat dirinya.

 

"Kalo ga denger, telinga nya buta."

 

Jeno memutar bola mata malas, "Tuli kali." Koreksinya. Jaemin mengedikan bahunya acuh, "Tuh ngerti."

Jeno melihat Jaemin ga suka, apa-apaan didikte kayak anak bayi gini.

 

Setelah menaruh sapu di dapur belakang, Jaemin ikut bergabung duduk tepat di sebelah Jeno yang masih saja mengabaikannya dengan bibir yang mengerucut lucu.

 

Jaemin melirik Jeno, terbesit rasa kebingungan. Ga biasanya Jeno ga ngoceh dalam kurun waktu lama. Paling engga, mukanya penuh ekspresi entah gemesin atau konyol. Ada yang aneh.

 

Jaemin lalu berinisiatif menarik perhatian Jeno dengan berpura-pura mendapat pesan.

 

"Sayang banget voucher mcd, ga ada yang bisa di ajak buat makan.." ujarnya sengaja dikeras- kerasin.

 

Melihat cowok itu yang menoleh ke arahnya, Jaemin sontak bersorak dalam hati.

 

Pada awalnya, karena jawaban dari Jeno sama sekali tak terduga. "Ajak aja cowok yang makannya ga berantakan, atau ga malesan.."

Jaemin engga bodoh buat menyadari kalimat itu berupa sindiran, apalagi Jeno mengatakannya tanpa ekspresi sembari melempar pandang ke arahnya.

 

"Jeno, bersih itu penting.. bukan berarti kamu jorok atau apa, cuma dijaga aja." Jawab Jaemin senetral mungkin. Ia malas berdebat untuk yang kali ini.

 

Jeno masih asik mengunyah Cheetos, pura-pura tertawa menonton serial teve anak-anak di depannya.

 

"Jee.. " Jaemin panggil lagi, namun sembari cowok itu menyandarkan kepalanya di bahu Jeno.

 

"Hei.. Aku salah apa, hm?" Tanya Jaemin, kali ini dengan badan yang di tegakan dan sedikit mengikis jarak dengan Jeno.

 

Karena geram, Jaemin mengambil remot tv di depannya dan mematikan tv itu. Berbeda dengan saat sebelumnya, Jeno menatap Jaemin.

 

Namun, dengan pandangan tak terima. "Balikin!!" Seru Jeno protes.

Jaemin menggeleng, menyembunyikan remot itu di belakangnya. "Kenapa?" "Kenapa apanya sih?!" Sentak Jeno malas.

"Tuhkan marah!"

 

Jeno memiringkan tubuhnya berusaha menggapai remot di belakang Jaemin. Namun dengan cepat, Jaemin melempar remot nya jauh di belakang—entah kemana, sampai suara tubrukan dengan lantai terdengar.

 

"Heh, jadi jauh!" Protes Jeno kesal, namun Jaemin malah tertawa karena gemas dengan ekspresi cowok ini.

 

Sebelum Jeno mengikis jarak mundur, dengan cepat Jaemin menangkup pipi gembil cowok itu. "Ngambek kenapa, Sayangg?"

 

Jeno mengalihkan tatapannya, asal tak melihat Jaemin. "Eh, ini ada cowok ganteng malah ga ditatap," ujar Jaemin yang malah membuat Jeno memukulnya, namun juga berhasil membuat cowok itu kembali bersitatap dengan nya.

 

"Kenapa?" Ulangnya lagi. "Lepasin dulu," gumam Jeno.

Jaemin menggeleng, mau tak mau Jeno harus bercerita dulu. Kan ia sedang merajuk! Harusnya Jaemin peka akan hal ini, huft..

 

"Di radio kampus kemaren, ada yang bilang kalo tipe nya itu cowok perfeksionis," cibirnya malas. Jaemin melepas tangannya dari wajah Jeno, "Perfeksionis? Siapa? Aku?"

Jeno mengangguk ribut, "Ya terus siapa? Anak tetangga?"

 

"Baik, lucu, ramah, emang kayak gitu perfeksionis?" Tanya Jaemin bingung.

 

"Iyalah! Renjun bilang, kalo cowoknya perfect, pantesnya sama cowok yang perfect juga lah! Sia- sia banget.."

 

Jaemin sepertinya mengerti akar permasalahan disini, Haechan saat siaran radio kampus membual- bualnya dengan kata perfect, terkenal bijak, baik hati, ramah, pintar, tampan pantas saja ia mendapat julukan agung seperti itu.

 

Mungkin, Jeno salah menangkap arti dari tipe ideal Jaemin, jelas-jelas itu dia!

 

"Emang harusnya tipe ideal Aku yang kayak gimana?" Tanya Jaemin penasaran dengan memancing Jeno untuk, setidaknya mengobrol.

 

"Ya.. ya, yang agak berisi, terus bawel, suka ga jelas terus agak cakep, gitu kali!" Jawab Jeno, mencoba mendeskripsikan dirinya, kurang-lebih.

 

"Ga mau, ga bagus amat tipe ideal nya." Tolak Jaemin.

 

"Yang ganteng, lucu, ramah, baik, perhatian, lebih mirip ke Jeno, dibanding yang tadi." Jeno merasakan pipinya panas, ya ampun baru digoda sedikit saja dirinya sudah malu! "Tumben cheesy.." ejek Jeno.

Namun tak dipungkiri jika batinnya berjerit senang, dengan muka yang sedikit lebih rileks dan sadar tak sadar bersandar di dada bidang Jaemin.

 

"Kurang galak sama labil deh kayaknya," tambah Jaemin seraya mengelus surai madu cowok itu dalam dekapannya.

 

"Berisik, udah bagus tadi!" Protes Jeno, tapi kali ini tanpa ada kekerasan. "Iya-iya.."

Jaemin mulai menyalakan tv, dan kembali menikmati moment berharga ini. Sampai Jeno membalik ke arahnya,

 

"Voucher MCd nya, masih berlaku kan?" Tanya cowok itu tak sabaran.

 

Astaga! siapapun tolong Jaemin gak kuat lihat lucunya Kak Jeno!! walau secara gak langsung sedang memerasnya.

Notes:

Don’t forget to leave kudos or feedback!

twitter

tellonym

Series this work belongs to: