Work Text:
Babak 1 : Kabar
Hugo.
Paras orang itu menawan sekali. Sejuta manusia menggemari, dan Kilo hanya salah satu diuntungi.
Memang, Kilo itu kekasihnya. Menemani berdiri sampai 4 tahun. Bukan waktu yang sebentar. Mereka telah menghabiskan 8 loyang kue bersama untuk meriahkan acara ulang tahun masing-masing.
Dan memori.
Orang bilang, “Jangan mendengarkan lagu sambil disangkutpautkan dengan kekasihmu, nanti kau susah lupa.” dan Kilo mengiyakan.
Bagaimana dengan kisah tiap malam? Hampir tiap-tiapnya Kilo dirayu tidur. Nampaknya Hugo telah menguasai semua genre lagu.
Hugo tidak hanya meninggal memori suara, dia bahkan memaksa Kilo ingat pada tiap detik dunia berputar kala bersama.
Kilo rindu.
Jingle bells, Jingle bells, Jingle all the way.
Natal sudah dekat. Dengar, bahkan pengeras suara di toko merayakannya. Kamu masih belum datang?
“Hujan deres banget, Kil. Mungkin kita bakal di sini dulu." Suara orang di seberang tempat.
Kilo meneguk ludah kasar, meringis sakit. “Nanti keburu banjir lho, Kak.”
“Kayaknya enggak. Doain aja. Hugo belum mau pulang, yang lain juga masih nunggu di sini,” jawabnya.
Kilo mengangguk. Lalu tersenyum getir. “Bilangin ke dia, selamat natal.”
“Mari jemput Nini." Juan menghampiri, di telapak tangannya ada kantung plastik menggantung, Kilo tahu itu dodol.
Kilo diam sebentar, lalu mencari ibunya yang entah dimana. “Mah, Nini udah sampe?”
“Katanya sebentar lagi, Kil. Udah, berangkat aja. Cari makan sekalian. Takutnya ambil kopernya gak lama." Kilo mengangguk. Dengan mata yang sayu, ia berjalan memimpin di depan Juan.
“Apa kata Nini kalo kau gak jemput bareng Hugo?” Juan menyindir. Kini apel yang berada di telapak tangannya.
“Semoga aja Nini lupa.”
“Natalan bareng tiga tahun masa iya lupa?”
Kilo tersentak. Ia membalikkan tubuhnya. “Ju, gak usah kayak anjing. Lo ngerti kondisi gue, sekarang lo malah manas-manasin gue?”
Juan tak peduli. Kini setir mobil sudah ada di genggamannya. Selamat tinggal untuk pikiran berkecamuk milik Kilo.
“Halo! Aduh, masih pada seger,” sapanya sambil meneliti cucunya satu persatu. “Udah pada makan?” tanya Nini, mengira cucunya lemas tak berdaya karena belum makan. Yang ayalnya mereka berdua malah mengangguk.
“Eh, Hugo dimana, Kil?” Kilo meringis. “Di mobil?” tanyanya lagi membuat Kilo tersenyum pahit.
“Gak ikut.” Kilo terkekeh.
Nini bingung. “Kenapa gak ikut?”
“Jadwalnya padat, Ni.”
Nini terdiam. Juan di tempatnya masih tak acuh, lebih memilih menggendong tas Nini dalam dekapannya.
Feliz navidad. Feliz navidad. Feliz navidad, próspero año y felicidad.
Gereja riuh. Sontakan gembira melambung tinggi, membaloni gedung.
“I wanna wish you a merry christmas." Kilo menatap Nini gembira. “I wanna wish you a merry christmas.” Kini beralih pada ibunya. Lalu ayahnya. “I wanna wish you a merry christmas, from the bottom of my heart."
Pujinya untuk Tuhan, tak ada kendala untuk merayakan. Kilo tersenyum riang, membagi kehangatan, jelas untuk masing-masing keluarga.
Babak 2 : Rumah
Kilo merogoh ponselnya tak sabaran. Kata Saka, kekasihnya itu telah pulang.
“Kacau, Kil. Malah minum sama temen-temennya,” kata Saka.
“Gak pulang? Keluarganya gimana?”
“Ibunya masih di Bali, sih.” Saka mendudukkan tubuhnya. “Irene paling ikut natalan sama bapaknya.”
Irene, adik dari laki-laki yang terkulai lemas itu.
Kilo mengangguk. Titelnya sebagai kekasih, mungkin ia akan tetap di sini menemani.
“Pulang dulu,” pamit Saka yang mendekati ambang pintu.
“Nini gimana?”
Masih menanyakan kabar Nini-nya itu, ya?
“Baik,” jawab Kilo. Sekenanya.
Hugo mengangguk. Kepalanya sumpah-demi-Tuhan sakit sekali. Mudah sekali ia tergoda kawan-kawannya untuk mabuk bersama itu.
Sebentar, ia melewatkan malam natal? Mabuk? Irene?
Hugo mengaduh ribut. “Irene gimana, Yang?”
“Kata kak Saka ikut sama bapak." Hugo mendesah lega.
“Aku udah janji buat jalan-jalan sama kamu, ya?” Hugo menggenggam tangan kekasih di sebelah.
Kilo tersenyum.
“Maaf, ya?”
Lembut sekali. Kilo hampir tergoda. Namun Kilo tak mau. Harus menunggu satu tahun lagi untuk bisa menyanyikan lagu natal bersama.
“Sesibuk itu kamu?” Kilo menghela napas. “Natal, lho. Kamu dicariin Nini.”
Hugo menunduk. “Maaf. Aku keasikan main sama mereka.”
Siapa yang butuh kata maaf?
“Istirahat. Kamu masih kecapekan. Aku pulang dulu.” Kilo berdiri, merapikan barangnya lalu pergi.
Babak 3 : Januari
Tirta, apa kabar? Lo masih seger, sih. Natalie gimana? Sehat?
Kilo hening. Masih menonton serial televisi yang dibintangi kekasihnya.
Di sana, namanya Tirta.
Iya, El, tolong tanyakan kabar si Tirta itu. Takutnya ia terjangkit maag lagi. Tanyakan lagi, ia sudah makan apa belum.
Dan di sinilah Kilo. Menatap serial itu lekat-lekat. Si bencana pada hubungannya.
“Halo,” sapa dia.
"Halo,” balas orang di seberang.
“Jaket kamu udah dicuci. Bisa ambil?”
"Aku lagi sama anak-anak. Lagi nonton bareng.”
“Ya udah.” Kilo menutup panggilannya.
Kini ia kembali mengadah, tak lupa berpasrah.
“Pindah aja deh, ke Surabaya. Biar sama Nini kita di sana.”
Juan tak setuju, kunyahan di mulutnya jadi tak teratur. “Kehidupan kita di sini gimana, Buk?”
“Emangnya ada kehidupan kamu di sini?” Tangan sang Ibu masih sibuk melipat baju.
“Kebetulan enggak, Buk.” Juan mengambil sepotong donat lagi. “Tapi Juan orang Medan, Buk. Masa tinggal di Surabaya?”
Ibu Kilo mendesah panjang. “Mau kamu orang Cileunyi tapi tinggal di Los Angeles juga gak masalah.”
“Beda lah, Buk, budayanya,” tuturnya lemah, sengaja agar tak bisa didengar.
Tak lama, Ibu Kilo mengagetkan.
“Mau kamu Kil, di Surabaya?”
Juan memiringkan kepalanya. “Lah, ntar si Hugo gimana?”
Kilo gegas menggeleng. “Enggak, Mah. Kilo di sini aja.”
“Eh, kau tau Tangerang itu pembawa memori buruk? Tinggal aja lah kau di sana. Biar segar otak kau.”
Kilo mendecih. “Ngatur.”
“Kata Mamah, mendingan aku ke Surabaya aja.”
“Ngapain?”
“Ya tinggal bareng Nini,” tegas Kilo.
“Kamu mau? Aku gimana?”
Kilo hening. Hamparan luas ladang sawah memberinya seribu tenang. “Aku gak mau lagi sama kamu." Kilo bahkan tak menjemput mata kekasihnya. “Aku capek. Aku mau kita berhenti aja.”
Kilo tak memberi kesempatan orang lain menyergahnya. “Kamu pikir aku kuat punya pacar kayak kamu? Waktu buat pacarnya aja gak punya.” Plastik permen di tangannya dibuka. “Seminggu tanpa kamu, aku ngerasa bahagia. Gak ada lagi pikiran negatif tentang kamu. Intinya, aku tenang.”
“Kalo sama-sama lebih suka pisah ya kenapa kita gak pisah aja? Dari awal emang kita gak keliatan cocok. Si sibuk dan si butuh afeksi tiap waktu,” final Kilo.
Hugo masih kaku. “Kenapa gak diskusi dulu?”
“Kamu butuh diskusi? Ada waktu emangnya? Coba tanya kak Saka, ada jadwal kosong gak.”
Kilo itu keras kepala.
Dan Hugo si penurut yang bodoh.
Menurutmu, apa kelanjutan dari kisah ini?
Naasnya, hanya tersisa pamit.
Mau dikemanakan sang memori?
Entah, tanyakan saja pada Kilo. Aku dengar, ia itu pelupa yang handal.
Pesawat menuju Surabaya mungkin sudah dekat. Sedang berparkir mungkin? Menunggu akhir dari kisahnya.
Hugo pernah bilang, katanya teman sesama aktornya itu seperti rumah.
Dan sekarang mereka pulang, ke rumah masing-masing.
Kilo pergi tanpa tangis. Lanjutnya, “Selamat tinggal.”
Puluh juta waktu telah terlewati. Kini, Kilo sedang berbaring di kamar yang tidak lagi asing.
Surabaya, yang kalau kata orang panas.
Kilo membuka ponselnya. Lagi, ia memanggil memori. Sudah tujuh puluh kali ia memanggilnya, memuaskan si rindu.
Lucu banget gak sih, Manis? Aku sampe guling-guling dengernya.
Udah tidur, ya? Ya udah. Kalo gitu selamat tidur, Manis. Semoga mimpi indah, yang indah banget pokoknya. I love you, pacarnya Hugo, Kilo Dewantara.
Sudah … Sudah …, ponselmu sudah seperti kaset rusak. Jangan pakai lagi.
Anjing tetangga sudah ribut menyuruhmu memakai selimut.
“Mah, rindu itu sakit banget, ya?”
Memang. Siapa suruh kamu memutuskan untuk berpisah.
Babak 4 : Suara
Feliz navidad. Feliz navidad. Feliz navidad, próspero año y felicidad.
Gereja riuh. Sontakan gembira melambung tinggi, membaloni gedung.
“I wanna wish you a merry christmas.” Kilo menatap Nini gembira. “I wanna wish you a merry christmas.” Kini beralih pada ibunya. Lalu ayahnya. “I wanna wish you a merry christmas, from the bottom of my heart.”
Pujinya untuk Tuhan, tak ada kendala untuk merayakan. Kilo tersenyum riang, membagi kehangatan, jelas untuk masing-masing keluarga.
Kilo terkejut. Ponselnya berbunyi kencang. Hanya pesan masuk ternyata.
Dari rumahnya.
selamat natal. ini hugo. kabar kamu gimana? aku baik. bersyukur tahun ini banyak dapet pencapaian. im alright. as you said, aku kembali pulang kalau kita berpisah. beruntung kamu bilang pas hari itu. hope you’re alright too! kapan-kapan ke sini lagi dong. makan sayur bening berdua maybe? haha. byebye kilo! titip salam buat nini, mamah, papah, juan, semuanya. selamat natal <//3
Kilo tersenyum. Indah sekali pesannya.
“Selamat natal, aku udah balik ke Tangerang, kabarku rindu.”
Selesai.
Kilo bilang, pisah itu kembali ke rumah masing-masing. Tanpa ricuh lapar afeksi lagi. Nyatanya Kilo salah. Rindu itu ada. Penyesalan itu ada.
Kilo ingin kembali.
Tapi, untuk membuat Hugo tak sakit lagi, Kilo harus pergi.
Dan lagi, Kilo meninggalkan kotanya. Kali ini tanpa kembali.
