Work Text:
Pintu menuju surga Jihoon terbuka. Sedikit cuek. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya?
"Tumben bener sih, udah bangun?" Jihoon meregangkan lengan. Stik PS tetap jadi fokus bidik. Layar di depan pun sama, tak mau ia abaikan.
Junkyu menggaruk kepala. "Lo tau gak, sih .... Gara-gara gue nugas mulu mood gue jadi produktif, dah." Junkyu menahan tubuh sendiri dekat sofa. Lanjut menata barang bawaan samping sofa. "Lo harus tau kalo gue udah berhasil masakin Ruto kwetiau kuah."
"Si Jeongwoo lo masakin juga gak? Anaknya ngambekkan," balas Jihoon.
"Gak demen katanya."
Jihoon mengangguk.
Junkyu duduk di sebelah pemuda yang sibuk dengan dunia sendiri itu. Laki-laki depan matanya itu tenang sekali. Ya memang kalau begini sih, sudah pasti jadi prioritas utama Jihoon.
Dan Junkyu ... tak mau ganggu. Junkyu terlewat hapal tentang gelagat yang dimiliki kekasih.
Junkyu membuka ponselnya, sekedar melihat wajah teman yang ada. Mungkin juga meng-update lamannya sendiri. Memang kalau hari minggu itu banyak sekali yang mengunggah foto baru.
Lama-lama pundak milik Junkyu semakin berat. Ada Jihoon rupanya. Menyender. Mungkin berada di sisi paling nyaman.
"Ini game yang lo bilang semalem itu?" Junkyu menutup ponsel sebentar.
"Iya," jawab Jihoon yang kepalanya masih tak mau bergerak.
Junkyu mengangguk. Lanjut dirinya yang kembali membuka ponsel.
"Idupnya si Ruto katanya makin rumit, ya?"
Waduh, tiba-tiba jadi gibah.
Junkyu menepuk paha semangat. "Itu! Kan gue bilang abis masakin Ruto, ya ada Jeongwoo juga. Gue masakin aja Jeongwoo-nya. Gue kira dia demen-demen aja. Taunya pas sejam didiemin doang makanan gue. Yang makan Ruto doang. Jeongwoo-nya malah diem aja main HP."
Jihoon memutar kepalanya, menatap kekasih bingung. "Kok bisa? Perasaan tiap malem suka ngacir ke abang nasgor, gak demen kwetiau dia?"
"Gak tau. Trus pas gue ke kamar mandi, diem-diem bunyi suara orang ribut. Berantem gitu mereka. Gue gak ngerti apa yang diberantemin." Jihoon terkekeh. Junkyu berkomat-kamit dengan mulutnya yang dibuka maju. Kayak kucing, ya?
"Emang mereka hobi banget memperrumit masalah kalo kata gue," final Junkyu.
"Ada saatnya nanti jujur sama perasaan masing-masing."
Junkyu mengangguk. Lima detik habis, ia kembali membuka mulut. "Lagian satpam apart Yoshi juga tau kalo Ruto bucin banget sama si Jeongwoo. Masa udah sejelas itu gak ada yang sadar, sih? Ruto juga. Kayak denial banget."
Jihoon tertawa, sesekali mengangguk. "Emang picisannya anak SMA suka ribet banget."
Junkyu kembali mengangguk.
"Lo mau nonton Netflix, gak?"
Junkyu menengok pemuda di sebelah yang ternyata sudah sibuk merapihi alat permainan. Alisnya bertaut. "Nonton Netflix bukan budaya kita," katanya.
"Terus budaya kita apa emang?"
"Makan lumpia basah mang Oleh."
Jihoon mendecih. "Gas gak?"
"Gue gak demen gitu dah, kalo nonton sama orang," jawabnya dengan mata semakin melebar.
"Anggep aja gue gak ada."
Junkyu mengangguk. Toh, mungkin benar menonton seperti biasanya saja. Anggap tidak ada orang lain.
Jadi, Jihoon menyiapkan tontonannya. Junkyu juga tak diam, sedari tadi mengulik sediaan makanan di lemari dapur.
"Di episode tiga belas dia mati."
"Eh! ... Oh! Ternyata dia yang bikin ceweknya berantem!"
"Jihoon, lo harus tau kalo abis ini ceweknya bakal mati! Lo jangan mau ketipu muka polos kayak dia!"
"Tuh, kan! Mati dia!"
"Abis ini mereka berantem! Tuh, kaaan! Anjir, sadis banget."
Kalau begini ..., serunya menonton film ada dimana?
Junkyu, jangan banyak teriak. Kalau begini sudah tidak jadi mengagetkan tentang alurnya.
Junkyu, kata Jihoon, dia malas menonton film bersamamu lagi. Kamu terlalu berisik.
Jadi, Jihoon tutup saja ya, mulutmu?
Jihoon membungkam mulut kekasihnya itu dengan bibir lembut milik sendiri. Kalau otaknya sudah kalut karena polusi suara, dikalutkan segalanya saja sekalian, kan? Persetan benda di sekeliling. Kenyal merah muda di depan jauh lebih menarik.
Jihoon mengalun lembut di area sana.
Halo! Di sini televisimu menyala. Jangan sampai televisi yang menonton kalian, ya?
Junkyu, jangan lupa memberontak. Nanti kamu dibuat mati kehabisan napas.
