Actions

Work Header

Untuk Mencintaimu[Chiluc]

Summary:

Ajax yang malang, bodoh dan tidak pakai otak,

Tiga tahun lamanya saya mengembara keliling Teyvat, kamu tidak pernah tahu apa yang kulakukan disana. Apakah saya jatuh cinta dan berbahagia? Atau selama itu saya hanya duduk saja memandang matahari terbit dengan perasaan kehilangan, sementara langit yang tadinya merah keemas-emasan perlahan-lahan menerang kebiru-biruan – aku juga tidak tahu bagaimana caranya menikmati fajar sendirian Ajax, sebuah ruang yang sungguh-sungguh terdiri dari waktu. Apakah waktu bisa diulang atau bagaimana, aku belum pernah memasuki fajar tanpa kesal melihatmu. Atau, apakah didunia ini sebetulnya seperti didalam amplop ya Ajax, dimana kita tidak tahu apa yang berada di luar diri kita, dimana kita merasa hidup penuh dengan makna padahal yang menonton kita tertawa-tawa sambil berkata, “Ah, kasihan betul manusia.” Apakah begitu Ajax, kamu yang suka berkhayal barangkali tahu.

-Diluc, to Ajax.
(Dikutip dengan alterasi dari "Jawaban Alina" karya Seno Gumira Ajidarma)

Chapter 1: Prolog.

Chapter Text

Genggaman itu hangat; seperti biasanya.
Ajax menggesekkan dagunya ke puncak kepala Diluc. Sudah berapa lama Diluc duduk di pangkuan Ajax? Waktu terasa terhenti.
“Rambutmu wangi stroberi, Diluc.”
“Lantas?”
“Aku suka.”
“Jadi kamu cuma suka aku kalau rambutku wangi stroberi?”
“Aku suka semua bagian dari kamu; karena kamu itu kamu.”
Diluc terdiam, membenamkan dirinya di dada bidang Ajax. Jemarinya berpindah dari genggaman Ajax ke belakang pinggang rampingnya. Lengan besar Diluc memeluk Ajax erat.
“Aku nggak mau kamu balik ke Snezhnaya…”
“Lantas?” Jawab Ajax meniru suara Diluc, iseng.
“Tinggal.”
“Bagaimana kalau kamu yang ikut?”
“Hah?”
Diluc menaikkan kepalanya. Menatap lurus Ajax yang tersenyum hangat. Bukan, bukan senyum sadis seakan mengajak baku hantam. Senyuman manis Ajax yang seperti anak kecil polos.
“Sekalian kukenalkan ke mama.”
Wajah Diluc memerah. Tidak bisa begitu, dong? Diluc belum siap, Diluc AMAT SANGAT tidak siap. Lagian, ia berarti harus memberitahu Charles dan Elzer terlebih dahulu.
“Tidak usah pikirkan kerjaan, firefly.”
Diluc menghela nafas. Meninggalkan kertas catatan adalah sesuatu yang bisa dilakukan besok pagi, di meja bar. Bukan pertama kalinya Diluc pergi mendadak, tapi tentu saja kejutan bukan sesuatu yang Diluc benar-benar sukai.
“Bantu aku berberes, kalau begitu.”
“Nggak usah, aku yang bereskan barangmu. Anggap saja karena sudah mengajakmu dengan tiba-tiba begini.”
Ajax membuka lemari. Empat lembar kemeja, empat celana panjang, empat set pakaian dalam- Ajax sedikit memerah saat menariknya. Lemari Diluc benar-benar rapi, dengan pakaian yang hampir mirip semua. Ajax berjinjit dan mengambil koper yang berada di atas lemari dengan mudah, memasukkan pakaian Diluc setelah mengelap kopernya dari sisa-sisa debu lalapan waktu.
Yang lain bisa diurus nanti.
“Diluc~”
Diluc masih memeluk erat selimut. Ajax duduk di kasur kembali, menyingkap Diluc di bawahnya.
“Ayo tidur. Besok kita harus berangkat pagi”
Diluc mengangguk. Ajax merebahkan dirinya di kasur Diluc, memeluknya erat.
“Sayang Diluc banyak-banyak.”
“Manja.”

˚˙༓࿇༓˙˚˙༓࿇༓˙˚˙༓࿇༓˙˚