Work Text:
Sebagai penggemar Our Beat, salah satu grup idola, Jimin hampir tak pernah diejek teman dan rekan kerja. Bagi mereka, kesukaan Jimin itu setara dengan penyuka film atau wisata kuliner. Bila dia memajang acrylic stand Our Beat di meja kantor, paling banter hanya ada satu komentar, "Apa itu? Bonus album baru?" Singkatnya, dia menjadi penggemar grup idola dengan gembira tanpa diusik.
Pada Sabtu siang ini, Jimin datang ke sebuah gedung serbaguna. Berkat menang undian, dia mengikuti fansign Our Beat bersama sekitar seratus penggemar lain. Selagi dia turun dari bus, suasana hatinya secerah langit yang biru jernih.
Sepekan belakangan tak ada lembur. Hari ini dia akan bersalaman dengan semua anggota grup. Pulang nanti dia membawa album mereka yang sudah dibubuhi tanda tangan. Best weekend ever! batinnya.
Para penggemar sudah berkerumun di luar aula tempat fansign berlangsung. Sebagian besar seusia Jimin, dan anak-anak diantar orangtua mereka. Sebentar saja Jimin sudah mengobrol dengan seorang gadis sebayanya.
"Sudah lama suka Our Beat?" tanya gadis itu.
"Sejak debut!" sahut Jimin bersemangat. "Awalnya suka lagu mereka, terus koreografinya yang powerful dan kompak. Habis itu, cari tahu tentang anggota, dan makin suka."
"Wah, sama, dong! Aku sering unggah video dance cover mereka di TikTok. Eh, nama akun kamu apa? Mau jadi mutuals?"
Di antara para penggemar, seorang laki-laki menarik perhatian Jimin. Dia memakai turtleneck sweater dan celana serbahitam, kontras dengan kulitnya yang hampir pucat. Di tengah penggemar yang sama-sama pria usia dua puluhan sekalipun, orang itu tampak mencolok.
Kenapa, ya? pikir Jimin sambil mengamati laki-laki itu. Mungkin karena wajahnya mirip kucing: mata kecil, bibir tipis agak melengkung. Imut sekaligus memancarkan aura manusia yang sulit ditebak. Bukan tipe orang yang memajang acrylic stand grup idola di meja kantor.
Tak lama, staf mengumumkan bahwa acara segera dimulai. Mereka memanggil para penggemar satu persatu sesuai nomor undian. Jimin dan laki-laki baju hitam kebetulan mendapat nomor berurutan.
Para penggemar bergiliran masuk ke aula dan berbaris mengantre. Kursi-kursi berjajar rapi di dalam ruangan; para penggemar akan duduk di sana setelah sesi bersalaman. Di podium terletak meja panjang, dan poster besar menghias dinding. Para staf hilir mudik dan anggota Our Beat duduk di balik meja. Walau dia baru melihat grup itu dari jauh, hati Jimin melambung.
Akhirnya, aku menang undian! Menonton konten dan konser Our Beat memang seru. Namun, bicara langsung dengan mereka pastinya amat berkesan.
Antrean bergerak maju selagi para penggemar mendatangi meja. Mereka menyerahkan album pada staf untuk ditanda tangani para anggota, yang sudah mulai mengobrol dengan penggemar. Sembari menunggu giliran, tatapan Jimin melayang ke ujung meja.
Di sana duduk Jin, anggota Our Beat yang paling disukai Jimin. Sesi bersalaman Jimin akan ditutup dengan menyapa anggota favoritnya. Dia tersenyum-senyum sendiri; jika difoto, pasti mukanya semringah.
Ganteng banget Jin hari ini! Ya, tapi kapan, sih, dia jelek? Barefaced dan bangun tidur saja tetap sempurna. Hari ini dia pakai kaus biru lengan panjang, poninya rada gondrong kayak mahasiswa. Duh, ingin aku bikin jadi homescreen! Sayangnya, penggemar dilarang mengambil foto anggota selama acara berlangsung.
Giliran Jimin pun tiba. Dia mencuci tangan dengan hand sanitizer di tempat yang disediakan. Kemudian dia berlutut di depan meja, bersalaman dan mengobrol dengan para anggota. Sedikit demi sedikit, antrean bergeser dan Jimin makin mendekati Jin.
Anggota Our Beat itu sedang mengobrol dengan penggemar berbaju hitam tadi. Panjang lebar orang itu—si Kucing, demikian Jimin menyebutnya dalam hati—berkisah: ini kali pertama dia hadir di acara fansign, dia mengoleksi semua foto Jin, pengalaman dia menonton konser Our Beat. Sementara itu, lutut Jimin pegal, dan makin lama dia makin geregetan.
Lama amat orang ini! Kapan habisnya ocehan dia? Egois! Tidak lihat penggemar segini banyak ingin ketemu Jin juga? Jimin mendelik pada si Kucing, tapi laki-laki itu terus menyerocos tanpa peduli.
Salah satu staf berkata, "Permisi, tolong geser, beri kesempatan pada yang lain."
"Tak apa-apa, aku senang ada penggemar yang antusias," ujar Jin. Pada si Kucing, dia tersenyum. "Terima kasih sudah datang. Dukung kami terus, ya."
"Pasti!" cetus si Kucing. "Sukses terus, Jin-ah! Aku cinta kamu!"
Jimin menahan diri untuk tidak mendengus. Si Kucing meninggalkan meja dengan wajah berseri. Jimin bergeser ke depan Jin, sedikit terhibur oleh keramahan Jin dan genggaman tangannya.
Baru saja Jimin mengucapkan tiga kalimat, staf meminta dia memberi giliran pada penggemar selanjutnya. Jin diam saja, mungkin sungkan membantah staf dua kali. Sialan! gerutu Jimin dalam hati. Terpaksa dia berdiri, menuju kursi, lalu mengenyakkan badan dengan cemberut.
Selama sisa acara, Jimin berusaha melupakan insiden tadi. Sesekali dia mengobrol dengan penggemar lain di sekitarnya. Di akhir sesi bersalaman, Our Beat berdiri di podium dan mengobrol dengan semua penggemar. Setengah jam berselang, mereka mengundurkan diri dan acara dinyatakan usai.
Para penggemar berduyun-duyun keluar dari aula. Sesuai kebiasaannya, Jimin keluar paling belakang agar tidak ikut berjejalan. Kekesalannya sirna karena telah berhasil bertemu dengan Our Beat. Yang penting, kan, itu. Biar perasaanku tambah enak, beli merch!
Belajar dari pengalaman fansign sebelumnya, staf mendirikan dua merchandise stands alih-alih hanya satu. Mereka pun menyetok barang dalam jumlah besar. Barang incaran Jimin, terutama jaket, sukses terbeli. Dengan puas, dia melenggang pergi dari kasir.
Jimin keluar dari pintu gedung, ingin lekas melihat-lihat hasil belanjanya, dan langsung melihat si Kucing.
Laki-laki itu berdiri di pinggir teras gedung. Dia bersama seorang pria lain yang juga berbaju serbahitam. Si Kucing memegang selembar poster Jin dengan kedua tangan dan membentangkannya.
Ketika Jimin berjalan melewati mereka, si Kucing berbicara pada temannya. "....poster langka, lho! Di stand tadi tinggal satu! Untung aku kebagian."
Pria itu mengiakan. Jimin terus berjalan, berusaha mengabaikan suara si Kucing. Sebaliknya, semangat si Kucing makin membara.
"Jin itu paling cocok, paling elegan, pakai baju warna biru! Contohnya di fansign tadi dan poster ini. Bagaimana? Betul, kan? Cakep, tidak, pacarku?"
Kekesalan Jimin pada sesi bersalaman kembali berkobar. Langkahnya terhenti dan dia berputar sampai menghadap si Kucing. Kaget oleh gerakan Jimin, laki-laki itu menoleh.
"Sembarangan mengaku-ngaku!" tukas Jimin. "Jin itu suamiku!"
Si Kucing menatap Jimin lurus-lurus. Bahkan di tengah kejengkelannya, Jimin sedikit terpesona oleh paras laki-laki itu. Dia tampan, dan kulitnya bukan pucat, hanya sangat putih.
"Ada masalah apa kamu denganku?" tanya si Kucing. Nada suaranya dingin, bertolak belakang dengan saat memuji-muji Jin barusan.
Jimin memajukan rahang dengan sikap agresif. "Tidak sopan kamu tadi. Memonopoli waktu Jin, sampai ditegur staf! Padahal yang ingin ketemu dia bukan cuma kamu!"
Si Kucing memperhatikan Jimin. "Ah, aku ingat. Tadi giliran kamu persis sesudah aku. Ngambek, nih, ceritanya?"
"Ngambek itu anak kecil yang tidak dibelikan permen," sergah Jimin. Ibarat batu menggelinding di bukit, kekesalannya terus melaju tanpa terbendung. "Sikapmu tidak menghargai Jin dan penggemar lain, tahu! Jadi aku keberatan!"
Seulas senyum terbit di wajah si Kucing. Matanya mencermati Jimin tanpa berkedip. Beberapa penggemar yang keluar dari gedung melirik ke arah Jimin, mungkin akibat suaranya yang lantang. Pria yang bersama si Kucing hanya diam tanpa reaksi.
"Keberatan atau cemburu?" tanya si Kucing. "Aku bercanda bilang dia pacarku, tapi kamu barusan sengit betul. Padahal Jin bukan milik kamu, kan? Dia idola bagi semua orang. Buat apa marah-marah ke penggemar lain?"
Jimin sadar, dia terbawa emosi akibat masih kesal gara-gara insiden saat fansign. Sudah waktunya dia mundur teratur. Jimin baru akan membuka mulut saat laki-laki di depannya bertanya.
"Siapa namamu?"
Terkejut oleh pertanyaan itu, Jimin spontan menjawab, "Park Jimin."
"Aku Min Yoongi." Pandangan Yoongi masih melekat pada Jimin. "Dibandingkan aku, kamu lebih mencurigakan. Tahu-tahu menyamperi orang tak dikenal, marah-marah, lalu bilang Jin suamimu. Apa kamu ini penggemar yang terobsesi? Yang berkhayal macam-macam tentang idolanya dan ganggu dia?"
Jimin terbelalak, kaget oleh arah percakapan ini. "Huh? Seenaknya saja nuduh! Aku tidak pernah ganggu Jin!"
"Jadi yang kamu ganggu penggemar lain? Di sini banyak sekali yang suka Jin. Kalau ada yang sebut dia pacar, kamu omeli juga? Atau ini cuma sentimen pribadi padaku?"
Ucapan Yoongi yang bertubi-tubi dan jitu membuat Jimin gelagapan. Dia menyangka pria yang bersama Yoongi akan menengahi mereka, tapi pria itu tetap bergeming. Bahunya bidang, lengannya kekar berotot, dan lehernya kukuh—pertanda fisik yang tangguh. Siapa dia? Teman atau jangan-jangan bodyguard?
"Hei, orang mencurigakan," lanjut Yoongi. "Kamu bilang Jin suamimu, dan ganggu aku tanpa provokasi. Yang seenaknya siapa? Aku? Jelas bukan. Siap-siap aku bikin status SNS tentang tingkahmu ini."
Emosi Jimin kembali meluap. Sudah memonopoli waktu Jin, sekarang main ancam! "Bikin saja! Staf tadi saksinya, kamu yang salah. Kelamaan mengobrol dengan Jin sampai menghambat antrean."
"Artinya staf itu saksi kamu. Nah, terus bagaimana? Kamu kembali ke dalam, minta staf itu bantah statusku di SNS?"
Kontan Jimin membungkam. Emosinya perlahan surut dan logika mengambil alih. Segala ucapannya sejak menghampiri Yoongi mengiang di telinga, dan tiap kata terasa konyol.
Mengapa dia terbawa emosi sampai ke titik ini? Mengapa dia tidak berjalan saja terus, malah terbakar begitu Yoongi berujar Pacarku? Parah! Sudah dewasa begini, masih gampang marah.
Yoongi merogoh dompet dari saku celana. Dia mengeluarkan sehelai kartu nama, dan menyerahkannya pada Jimin. Kartu itu putih dengan bingkai garis emas. Di sana tercetak nama Min Yoongi, diikuti oleh nama sebuah perusahaan. Di bawahnya tertera alamat gedung kantor, nomor telepon, dan akun surel.
Tatapan Jimin terpancang pada huruf dan angka di kartu. Kantor itu beralamat di kawasan elite Yeouido, dan Yoongi didampingi orang yang mirip bodyguard. Sepertinya dia pengusaha papan atas, yang kebetulan penggemar Our Beat pula.
"Kalau berani, berikan nomor teleponmu," ujar Yoongi. "Kita selesaikan secara pribadi, bukan di SNS."
Jimin menengadah dari kartu nama Yoongi. "Serius ini mau dilanjutkan?"
"Kenapa tidak?" balas Yoongi. "Kamu sudah buat aku tidak nyaman dan jadi tontonan. Semua orang yang keluar dari gedung melihat ke sini. Aku yang ingin cepat pulang jadi mesti meladeni kamu. Orang macam kamu ini tak boleh dibiarkan!"
Seketika Jimin tersengat. Berengsek! Mentang-mentang tajir, dia semena-mena! Lupa akan niatnya mundur teratur, Jimin mengambil ponsel dari dalam ransel.
"Miscall," ujarnya singkat. Dia menelepon nomor di kartu nama Yoongi, dan Yoongi mencatatnya di daftar kontak. Tanpa sepatah kata lagi, Jimin melangkah pergi dari teras gedung.
***
"Min Yoongi?" ulang Hoseok. Suaranya dari speaker ponsel agak meninggi. "Jimin, yang betul? Kamu bertengkar dengan Min Yoongi?"
Begitu tiba di apartemen, Jimin mengirim pesan Kakaotalk pada Hoseok. Butuh curhat, kapan bisa telepon? Mereka berteman sejak SMA; kini Jimin bekerja di perusahaan elektronik, dan Hoseok seorang bankir junior. Kadang, bila bosan, mereka menghabiskan waktu dengan friend date.
Mendengar ucapan Hoseok, Jimin mengernyit. "Kamu kenal?"
"Dia lulusan Seoul National University dengan nilai tertinggi di angkatannya. Perusahaan sekuritas di kartu nama itu? Punya dia sendiri. Dia merintis dari nol, networking sejak kuliah. Tapi, lebih dari itu, dia anak menteri hukum!"
Jantung Jimin sesaat berhenti berdetak. Dia terduduk di lantai unit apartemen, memegangi ponsel erat-erat. "Anak.... menteri?"
"Bisa ketemu dia itu bagaimana?" tanya Hoseok. "Kantormu dan kantor dia saja jauh. Masalahnya apa, sampai kalian bertengkar?"
Jimin tertawa sedih. "Masalahnya, aku halu."
"Heh?"
Dengan wajah merah—yang untungnya tidak tampak oleh Hoseok—Jimin menuturkan peristiwa di fansign. Tak ada yang disensor agar Hoseok paham semuanya.
"Penggemar lain juga pernah bilang Jin pacarnya. Aku santai saja. Tapi, tadi gara-gara Min Yoongi, waktuku bicara dengan Jin jadi terpotong. Ternyata aku masih tidak ikhlas sampai acara selesai. Bodohnya lagi, aku menuruti emosi."
Hoseok mendecak. "Dia sudah catat nomormu?"
"Habis, dia beri aku kartu namanya. Masa aku kabur tanpa beri tahu nomorku? Ayah dan Ibu tidak mengajari aku jadi pengecut." Jimin mengurut-urut pelipisnya. "Harus apa aku, Seok? Aku takut dia suruh bodyguard-nya pukuli aku, atau menyusahkan aku pakai pengaruh ayahnya."
"Saranku, bicaralah dengan sopan dan sabar. Yakinkan Min Yoongi, ini cuma masalah kecil, tak perlu diperpanjang. Jangan lupa minta maaf, karena sudah bikin dia tak nyaman di tempat umum."
Jimin terdiam. Yoongi memang salah berlama-lama bicara dengan Jin, tapi Jimin pun tak semestinya mengumbar kejengkelan. Pada akhirnya, memang dia yang salah.
Dia berterima kasih atas usul dan waktu Hoseok. "Good luck," ujar Hoseok. "Telepon aku kalau ada apa-apa." Mereka berdua pun mengakhiri koneksi.
Jimin berdiri, akan membongkar isi ransel, saat nada dering ponselnya berbunyi. Dia meraih gawai itu dan terperangah: layar menerakan nomor Yoongi.
Astaga! Secepat ini dia menelepon. Hhh, aku belum siap! Kalau dia ancam aku, bagaimana?
Nada dering terus berbunyi. Setengah terpaksa, Jimin menggeser tombol virtual. "Halo."
"Halo. Tidak sedang sibuk? Bisa terima telepon?"
Suara Yoongi di telepon berat, sedikit lebih lambat, dibandingkan bila mendengarnya langsung. Seolah dia hati-hati mengukir kata. Dalam situasi berbeda, Jimin dengan senang hati mendengarkan suara berat itu. Dalam situasi ini, dia hanya ingin percakapan lekas tamat.
"Bisa. Silakan bicara."
Yoongi berdeham kecil. "Kamu duluan."
Lho? Dari apatis, Jimin berubah bingung. Dia yang menelepon, aku yang disuruh ngomong. Apa orang ini mengigau?
"Pasti banyak yang ingin kamu ungkapkan," imbuh Yoongi. "Tapi malas bertengkar di muka umum. ya, kan? Sekarang kita hanya berdua. Aku sudah di rumah. Kita bebas bicara apa saja."
Jimin menghirup udara penuh-penuh. "Asal kamu tahu, fansign itu acara buat semua penggemar, bukan cuma seorang."
"Huh. Betul, sih. Tadi itu aku kelewat senang. Tidak sangka menang undian dan bisa bicara dengan Jin. Tapi—"
"Tapi aku juga tak seharusnya damprat kamu di muka umum. Aku terbawa emosi, karena lama sekali ingin ikut fansign. Makanya, aku kesal kamu menyita waktu Jin, sampai staf memotong waktu jatahku. Kesal itu meledak sewaktu kamu bilang Jin pacarmu. Spontan aku balas, itu suamiku."
"Hmm."
"Itu halu biasa, kok. Yah, kalau halu bisa dibilang biasa. Sebagai penggemar, aku tahu aturan. Tidak pernah, misalnya, kasih komentar tak pantas di status SNS Our Beat."
Yoongi kembali diam. Jimin menanti dengan khawatir dan berdebar. Lalu Yoongi berkata, "Jin anggota favorit kamu? Kenapa?"
Jimin tercengang. Tadi disuruh ngomong duluan, sekarang ditanya anggota favorit! Buset, makin absurd saja hari ini.
"Jin gantengnya kelewatan," jawabnya. "Perhatian ke anggota lain, suka bercanda. Suami-able banget. Tapi alasan utamaku suka Jin adalah dia pekerja keras. Selalu belajar olah vokal, rajin latihan koreografi. Sampai dia jago dance dan bisa freestyle."
"Sama, anggota favoritku juga dia," kata Yoongi. "Baru sekarang aku kenal sesama penggemar Jin di dunia nyata. Selama ini cuma di dunia maya. Bagaimana kalau kita ketemuan, sambil ngobrol tentang Jin?"
***
Makan malam, kata Yoongi, dan lokasinya restoran di salah satu mal di Gangnam. Sebelum berangkat, Jimin meriset daftar menu. Memalukan jika nanti dia gelagapan membaca nama-nama makanan yang berbahasa asing.
Seperempat jam sebelum waktu janjian, Jimin tiba di mal. Dalam jas dan celana cokelat tua, serta rambut rapi sehabis keramas, dia merasa seperti hadir di wawancara kerja. Dia naik lift dan keluar di lantai mal paling atas.
Seorang pramusaji yang memakai bow tie dan rompi menyambut Jimin di pintu restoran. Jimin menyebutkan nama Yoongi, dan pramusaji menjawab, "Mari saya antar." Mereka masuk ke dalam ruangan yang benderang oleh lusinan lampu dan kandil.
Dari jendela tampak gedung-gedung dan Sungai Han di bawah langit biru tua. Para tamu umumnya orang asing dan figur publik. "1. Sinfonie", satu-satunya gubahan Brahms yang dikenal Jimin, mengalun dalam ruangan.
Yoongi sudah menunggu di meja dekat jendela. Sama seperti pada saat fansign, bajunya turtleneck sweater dan celana panjang, tapi kali ini serbaputih. Perpaduan baju itu dengan rambutnya yang hitam legam membuat Yoongi tampak mirip malaikat.
Jimin mengerjap, berusaha menekan rasa terpesona yang menyeruak. Pintar, kaya, ganteng. Nyaris tak nyata. Aku sendiri masih takjub, bisa makan bareng dengan laki-laki seindah ini.
Yoongi mempersilakan Jimin duduk, dan meminta pramusaji mengantarkan daftar menu sepuluh menit lagi. Ketika itulah Jimin menyadari kehadiran pria yang bersama Yoongi pada saat fansign. Pria itu duduk di meja lain dan menghadap mereka. Tentu saja—lumrah jika anak menteri selalu dikawal bodyguard.
"Terima kasih sudah datang, Jimin," ujar Yoongi.
Jimin memalingkan tatapan dari si bodyguard. "Sama-sama. Maaf, bisa langsung saja? Untuk apa aku kemari? Apa benar cuma mengobrol soal Jin?"
Yoongi tersenyum simpul. "Buru-buru amat. Tenang, dong. Kamu memang anaknya kurang sabaran, ya?"
"Cuma kalau habis bertengkar dengan orang."
Senyum Yoongi melebar. "Ya, sudah, jangan bahas itu. Kita ke sini, kan, sebagai sesama penggemar. Bahas Jin saja."
Meski masih waswas, Jimin mengiakan. "Oke, kalau itu maumu."
Mereka mengobrol tentang Jin dan Our Beat sampai pramusaji datang membawa daftar menu. Jimin lega dengan risetnya, yang membantu dia memilih makanan dengan tenang. Obrolan berlanjut dan, sesuai janji, Yoongi tak mengungkit soal pertengkaran.
Topik percakapan berpindah ke profesi masing-masing. "Aku tahu siapa kamu," cetus Jimin. "Anak tunggal Min Hajong, menteri hukum."
Seperti pada saat menelepon, Yoongi membungkam beberapa saat. Pramusaji datang kembali dengan membawa makanan pembuka: sup tomat beraroma bawang putih, cabai, dan daun basil. Setelah pramusaji meninggalkan meja, barulah Yoongi menjawab.
"Apa itu alasannya kamu minta maaf di telepon?"
"Maksudmu?"
"Kamu kira, aku pakai pengaruh ayahku untuk menggencet rakyat kecil?"
Jimin mengangkat bahu. "Yah, aku tak kenal kamu, sih. Tak tahu juga apa kebiasaanmu. Hanya...."
"Hanya apa?"
Beberapa kali tersiar rumor tentang Menteri Min. Tentang pihak tertentu yang lolos dari jerat hukum, serta pihak lain yang mendekam di balik terali besi dengan bukti ala kadarnya. Pihak yang lolos diduga selamat berkat koneksi dengan sang menteri hukum.
Ketika tahu siapa Yoongi, Jimin teringat segala rumor miring ini. Karena dia tak kenal sifat Yoongi, tak etis jika Jimin menuduhnya ini itu. Maka dia menggumam, "Bukan apa-apa."
Yoongi tidak mendesak, dan mereka makan tanpa berbicara lagi. Menu yang terhidang agak asing di lidah Jimin. Berbagai jenis jamur yang ditumis dengan bawang putih, daun parsley, dan mentega; daging has sapi dilumuri saus blue cheese; pasta linguini carbonara dengan bacon, telur, dan keju parmesan. Namun, semuanya lezat, maka dia pun makan dengan lahap.
Musik klasik terus berkumandang dan meja-meja di sekitar makin ramai. Di antaranya Jimin mengenali seorang aktris senior dan sejumlah pensiunan jenderal. Benar-benar rasanya seperti di planet lain.
Selesai mereka makan, pramusaji menyajikan white wine. "Geonbae," ujar Yoongi. Mereka saling mendentingkan gelas dan menyesap wine. "Dari sini, kamu langsung pulang?"
Jimin mengangguk. "Besok Minggu, waktunya bangun siang dan mager seharian."
Yoongi mengecek arloji Rolex di tangannya. "Masih sore. Mau temani aku sebentar?"
"Menemani kamu? Ke mana?" Kalau ke tempat sekelas ini lagi, mendingan aku langsung cabut.
"Putar-putar saja, naik mobilku. Tenang, tak akan kuculik, kok." Yoongi menunjuk pria yang diduga Jimin sebagai bodyguard. "Nanti Cho ikuti kita dengan mobilnya. Kita aman."
"Makan dulu."
Dahi Yoongi berkerut. "Kamu ingin makan lagi?"
"Bodyguard-mu. Dari tadi cuma melihat kita. Sudah makan belum dia?"
Keheranan Yoongi pupus dan senyumnya merekah. "Ya ampun! Baik sekali, sih, kamu? Jangan cemaskan Cho—dia bawa bekal, makannya sambil menyetir."
Jimin tetap duduk di kursinya. "Apa jalan-jalan ini syarat kita berdamai?"
"Tepat sekali," sahut Yoongi. "Kamu sedang aku sandera. Baru bisa bebas sehabis kita jalan-jalan, dan kamu jadi pacarku."
Jimin terpana. "Eh?"
"Hahaha! Bercanda, ding. Pacarku, kan, Kim Seokjin dari Our Beat."
Yoongi tersenyum, tapi suaranya lirih dan sorot matanya sendu. Pada saat itu, dia tampak terkucil di tengah keriuhan restoran. Datang sendirian, dan pulang pun sendiri; persis siklus hidup dan mati manusia. Begitu rapuh, mengundang Jimin untuk mendekat—
Dia menarik napas keras-keras. Apa-apaan? Aku ini kena manipulasi, atau otakku miring sendiri? Dalam beberapa jam saja, opini Jimin atas Yoongi berubah sebegini drastis. Apa gerangan yang terjadi?
"Aku senggang, sih," katanya. "Tidak ada acara selain ini. Ayo, kita jalan-jalan!"
Yoongi mendongak. Wajahnya berseri seperti saat di fansign, tapi kali ini ditujukan pada Jimin. Raib sudah aura manusia yang sulit ditebak; Yoongi di hadapan Jimin semata-mata orang yang bahagia oleh kehadiran manusia lain.
Detik berikutnya, sensasi hangat menyebar dari dada sampai ujung kaki Jimin. Sesaat dia heran, lalu teringat satu pepatah. Berbagi bahagia akan memberi kita bahagia juga.
Tapi malam ini saja. Cukup satu malam aku berurusan dengan orang sepenting Min Yoongi. Mulai besok, aku kembali ke kehidupanku yang normal.
***
Besok aku akan menyesali ini, dan lusa semuanya tinggal kenangan, pikir Jimin.
Dia berbaring menyamping di tempat tidur Yoongi, membelakangi laki-laki itu. Baju mereka berserakan di lantai. Napas Yoongi sama sekali tak terdengar; seperti kucing, dia tidur tanpa bunyi. Tirai jendela terbuka, hingga Jimin ingin tahu apakah tadi ada yang menonton mereka dari gedung seberang.
Padahal awalnya cuma jalan-jalan. Mereka keluar dari restoran dan langsung meninggalkan mal. Diikuti oleh mobil Cho, Yoongi membawa sedan Kia-nya menyusuri sejumlah jalan utama. Dia dan Jimin jarang mengobrol—lebih banyak menikmati pemandangan malam hari dan musik dari pemutar CD.
Setelah satu jam lebih menjelajahi jalanan di Seoul, Yoongi berbelok ke sebuah gedung apartemen. Tempat tinggalku, ujarnya selagi mobil meluncur ke halaman gedung. Mampir dan minum dulu, sini.
Yoongi menelepon Cho dan menyuruh dia pulang: Tugasmu malam ini selesai. Jimin sempat mendengar suara Cho yang ragu, tapi Yoongi mengulangi perintahnya dengan tegas. Lalu mereka berdua naik ke lantai sebelas dan masuk ke salah satu unit apartemen.
Mereka menaruh sepatu masing-masing di rak sepatu. Setelah itu, semua peristiwa kabur, berbaur satu sama lain. Yang terekam di benak Jimin hanya kilasan-kilasan: jemari berjalin, bibir saling memagut, bisikan Kamu boleh menolak, dan Tidak, aku juga ingin.
Sejak kapan lelatu mulai memercik di antara mereka? Di restoran? Atau lebih dini lagi, di teras gedung? Untuk saat ini, Jimin tak ambil pusing. Jiwa dan raganya melebur dalam momen-momen menyatunya tubuh mereka, dan tenggelam makin dalam; begitu terus berulang-ulang.
Kini, berbaring dengan kepala bersih dari kabut birahi, Jimin mulai mengira-ngira langkah berikut. Menyelinap pergi, dan besok bersikap seolah tak ada apa-apa? Sialnya, tidak bisa. Tamu di gedung ini wajib datang dan pergi dengan diiringi penghuni. Minimal, dia harus menunggu Yoongi bangun.
Mana dia bukan sembarang orang, lagi. Ayahnya pejabat negara. Gawat kalau ada wartawan memergoki aku masuk dan keluar gedung ini. Tapi aku bukan seleb, tak bakal jadi berita. Atau iya?
Lelah oleh kerisauannya sendiri, Jimin jatuh tertidur. Dia bermimpi namanya terpajang di situs berita dengan tajuk bombastis. Foto dia dan Yoongi di restoran beredar luas di internet. Hoseok memarahinya: Dari semua orang, kenapa pilih anak menteri?
Kami bukan pacaran! protes Jimin. Aku cuma menginap semalam di apartemennya, tidak lebih!
Sama saja! sergah Hoseok. Beritanya sudah telanjur tersiar. Lihat, tidak, akibat ulahmu? Orangtuamu sampai shock!
Ketika Jimin terjaga, lengan Yoongi tengah melingkari pinggangnya. Mata Jimin membuka, setengah mengantuk, semantara otaknya masih terbelit mimpi tadi. Saat itu sebuah kecupan lembut mendarat di tengkuknya.
"Hei," gumam Yoongi.
"Hei. Pukul berapa ini?"
"Pukul lima. Kenapa tanya waktu?"
"Uh, supaya aku bisa pergi sebelum hari terang...."
Lengan Yoongi merangkul pinggangnya makin rapat. "Duh, dasar kurang sabaran." Dia terkekeh pelan. "Kamu di sini saja dulu. Mau, kan? Ada sikat gigi ekstra dan baju dalam sekali pakai. Aku beli untuk sepupuku—dia sering menginap di sini tiap dinas ke Seoul."
"Sungguh? Tidak merepotkan?"
Satu kecupan lagi. "Repot apanya? Hari libur begini, aku juga tak ada janji. Kecuali kamu—?"
"Tidak, aku juga lowong," sahut Jimin cepat-cepat. Mimpi tadi mulai menguap bagai embun tersapu sinar matahari. "Tidak menginap lagi, ya, soalnya Senin aku berangkat kerja pagi-pagi."
"Bagus." Menilik suaranya, Yoongi tersenyum. Dia menggumamkan sesuatu, tak tertangkap oleh Jimin, tapi kata-katanya mirip Terima kasih.
***
"Kenapa bisa suka grup idola?" tanya Jimin. "Bukannya aku main pukul rata, tapi kusangka pengusaha sekaligus anak menteri seleranya musik artis luar."
Mereka duduk di meja dapur sambil menyarap. Yoongi membuat waffle dengan cetakan, lalu memanggang roti. Jimin bertugas membuat telur mata sapi dan mengiris keju serta tomat untuk isi roti panggang. Ketika waffle matang, mereka menyiramkan madu dan menyantapnya panas-panas.
"Musik Our Beat masuk di kupingku." Yoongi memotong waffle dengan pisau. "Koreografi mereka juga cakep, menontonnya tidak bikin bosan. Aku tidak malu, kok, jadi penggemar mereka. Karyawanku saja tahu. Suka grup idola bukan aib, kan?"
Jimin mengulum senyum. "Memang bukan. Jadi penggemar grup idola itu seru. Kadang ada yang rebutan bias, tapi bisa diselesaikan baik-baik."
"Oh? Ngomongnya kayak yang pengalaman, nih. Berapa orang yang kamu labrak gara-gara suka Jin?"
"Hih!" Sambil meringis. Jimin menyenggol lutut Yoongi dengan lututnya. "Jangan disinggung lagi, itu masa lalu."
Seusai sarapan, mereka sama-sama mengecek ponsel. Yoongi menjawab surel pekerjaan serta sejumlah pesan pribadi. Selagi Yoongi mengetik, Jimin bersandar sejenak di sofa.
Di tempat tidur tadi, dia sempat berniat pergi tanpa pamit karena berbagai alasan. Yang pertama adalah menjaga martabatnya. Jangan sampai Yoongi membangunkan dia dan berkata: Terima kasih, tadi malam kamu lumayan. Sekarang, silakan angkat kaki.
Tentu saja ucapan Yoongi tak akan sekasar itu. Bayangan Jimin ini tercipta dari rasa rendah diri. Di lingkup pergaulannya, Yoongi pasti berjumpa banyak orang hebat. Dibandingkan mereka, karyawan seperti Jimin sekadar butiran debu.
Akan tetapi, hingga detik ini, sikap Yoongi pada Jimin tulus dan tidak meremehkan. Insting Jimin yang peka pasti mengirim sinyal jika Yoongi berpura-pura. Sekalipun Yoongi kesepian dan hanya butuh manusia lain, siapa pun orangnya, Jimin tak tersinggung. Dia pun agak kesepian, maka mereka bisa saling menemani.
Dia menyisir situs berita: tak ada satu pun artikel tentang putra Menteri Min. Para penggemar Our Beat yang sempat melihat pertengkaran di teras gedung mungkin tak mengenali Yoongi. Setidaknya kali ini, Jimin dapat bernapas lega
Jimin berpaling pada Yoongi, akan melaporkan temuannya, saat pintu depan diketuk.
Yoongi tersentak dan berhenti mengetik. Matanya terarah ke pintu dengan setengah nanar. Jimin menaruh ponsel dan ganti memandang Yoongi.
"Siapa?"
Yoongi menggeleng. "Entah? Aku tidak sedang tunggu siapa-siapa. Resepsionis juga tidak menelepon dan bilang ada tamu."
Sekali lagi pintu diketuk. Yoongi berjalan ke pintu, lalu mendekatkan mata ke lubang pintu. Seketika itu dia mundur, seolah ada yang mendorong.
Jimin bangkit dari sofa. "Siapa itu? Kalau urusan pribadi, aku masuk ke dalam saja."
Begitu Yoongi mengangguk, Jimin bergegas menuju kamar tidur. Dia menutup pintu, tapi tidak sampai rapat. Lancang sedikit biarlah. Jika ada apa-apa, aku harus bantu Yoongi. Sambil maju selangkah, Jimin menempelkan telinga di daun pintu.
"Ayah."
Hanya satu kata, tapi telak memukul Jimin. Seperti Yoongi tadi, dia mundur dengan tergesa. Darahnya berdesir kencang di sekujur nadi.
Menteri Min. Datang ke rumah putranya. Tepat saat Jimin berada di sini. Syukur aku masuk kamar, jadi tak wajib menjelaskan apa-apa.
"Hari ini kamu di rumah saja?" ujar seorang pria. Suaranya sama berat dengan Yoongi dan agak serak. Jimin berusaha mengingat wajah Menteri Min, tapi gagal; pejabat yang wajahnya dia hafal hanya Presiden.
"Kemarin sempat kelayapan sebentar," sahut Yoongi. "Selebihnya, akhir pekan ini recharge sebelum Senin."
"Sendirian? Tidak ada teman?"
Deg. Jantung Jimin melonjak, degupnya bertalu-talu hingga dia agak pening. Sepatuku di mana? Tersimpan jauh di sudut rak? Apa ada barang milikku tercecer di luar? Demi Yoongi, jangan sampai aku tepergok!
"Ada perlu apa Ayah kemari?" balas Yoongi. Gaya bicaranya nyaris tak acuh, hingga Jimin sukar menerka apakah dia gugup.
"Kamu makan malam bersama seseorang," ujar Menteri Min. "Dia ikut kamu pulang ke sini. Cho yang lapor. Jangan marahi dia, itu kewajibannya."
"Aku tidak marah pada Cho. Itu memang tugasnya. Yang aneh justru Ayah, menyempatkan diri kemari. Siapa pun yang kuundang ke rumahku itu urusan pribadi."
"Menjadi urusan Ayah juga, kalau orangnya Park Jimin."
Darah Jimin bagai berhenti mengalir. Wajahnya dingin sampai ke leher. Dia mundur selangkah lagi, takut Menteri Min tak sengaja melihatnya di celah pintu.
Ada apa ini? Apa yang dia lakukan sampai menarik perhatian seorang menteri? Setahu Jimin, dia patuh hukum dan tak punya catatan kriminal.
"Memangnya kenapa? Park Jimin itu siapa?"
Kendati masih tak acuh, suara Yoongi goyah. Kentara bahwa dia amat terkejut dan berupaya mati-matian menahannya. Jimin ingin menggenggam tangan Yoongi, menyalurkan nyali padanya, sekaligus terlalu takut untuk bergerak.
"Park Jimin dan keluarganya tak boleh berurusan dengan kita," kata sang menteri. "Sama sekali tidak boleh. Mulai sekarang, putuskan hubunganmu dengan dia."
"Salah apa mereka? Keluarganya pernah berseteru dengan Ayah? Aku tak kenal mereka, ketemu Jimin juga baru kemarin."
Suara Yoongi tetap rendah dan goyah. Jimin merasa sama gamangnya, sebab Ayah dan Ibu tak pernah menyebut-nyebut Menteri Min. Mengapa orang yang begitu berkuasa sampai mengenal keluarga Park? Dia menahan napas, menanti jawaban sang menteri.
"Panjang ceritanya," kata Menteri Min. "Yang harus kamu lakukan sekarang hanya satu. Membuang Park Jimin dari hidupmu. Paham?"
"Ayah bilang dulu dia salah apa! Kulihat anaknya baik, keluarganya pasti baik juga."
"Berhenti membantah! Atau kamu yang tanggung jawab jika dia ditemukan tewas."
Kalimat terakhir itu hampir membobol pertahanan Jimin. Tubuhnya limbung ke belakang; dia menyambar tepi meja, mati-matian menguatkan diri agar tidak terjatuh. Kemudian telinganya menangkap bunyi pintu ditutup.
Unit apartemen itu senyap. Dari Yoongi tak ada suara apa pun. Tampaknya bunyi pintu tadi isyarat kepergian Menteri Min. Jimin mengambil barang-barangnya—dompet, ponsel, dan kunci apartemen—dari nakas. Dia menghitung sampai tujuh, lalu memberanikan diri mengintip dari celah pintu.
Yoongi berada seorang diri di ruang tengah. Dia memunggungi Jimin hingga ekspresinya tak tampak. Tak ada tanda kehadiran Menteri Min maupun orang lain.
Jimin berjalan ke arah Yoongi dan berhenti di sampingnya. Tatapan Yoongi menerawang, seolah dia menyangka Jimin hanya ilusi. Selusin pertanyaan bersimpang siur dalam kepala Jimin.
Ayahmu main-main, kan? Tidak serius dengan ancamannya tadi? Biarpun beliau menteri, masa iya seenaknya menghabisi nyawa orang.
Pastinya Yoongi akan tertawa dan mencetus: Ya, kan? Jangan percaya sama omongan Ayah. Beliau Cuma menakut-nakuti kita!
Dan jika bukan itu reaksi Yoongi? Jika Yoongi berkata: Hati-hati, Jimin. Selalu jalan di tempat terang dan ramai. Jangan berimpitan di tempat umum, nanti ditusuk pisau dari belakang.
Sekuat tenaga Jimin mengusir bayangan kelam itu. "Aku pulang dulu,” katanya. “Tolong antar sampai ke luar gedung. Terima kasih makan malamnya."
Yoongi menoleh pada Jimin. Tatapannya tak lagi menerawang dan aura sulit ditebak kembali memancar darinya. Dia telah menjadi jauh, tak tersentuh—dan karena apa? Karena berkenalan dengan Jimin?
Alih-alih memberi penjelasan, Yoongi hanya berkata, "Ayo, kita ke bawah." Dengan kepala tertunduk, dia melangkah ke pintu, dan Jimin pun menyusulnya.
***
"Menteri Min?" seru Ayah. "Kamu bertemu menteri hukum? Jiminie, kenapa bisa?"
Setibanya di apartemen, Jimin mengirim pesan pada Ayah: Darurat, butuh bicara. Saat Ayah menelepon, Jimin bertanya apakah Menteri Min dan keluarga mereka pernah terlibat konflik.
"Aku kenalan dengan anaknya, Yoongi," jawab Jimin. "Menteri Min suruh Yoongi tidak menghubungi aku lagi. Padahal aku belum pernah bertemu muka dengan beliau."
"Dia ancam akan mencelakai kamu?"
Jimin tertegun. "Dari mana Ayah tahu?"
Di latar belakang terdengar suara Ibu. Ayah menjauhkan ponsel, bicara pada Ibu, baru ganti menjawab Jimin. "Panjang ceritanya."
Persis kata-kata Menteri Min. "Kebetulan waktuku luang, Yah. Tolong beri tahu kisah lengkapnya. Ayah, keluarga kita cuma pengusaha kecil, kenapa Menteri Min bisa kenal?"
Suara Ibu menjawabnya. "Jimin?"
"Eh—ya, Bu?"
"Ayah masih kaget, tahu-tahu kamu tanya tentang Menteri Min. Sampai bingung pilih kata-katanya. Trauma lama juga terbuka lagi. Ibu saja yang jawab."
Trauma? Orangtua Jimin pernah mengalami trauma akibat sang menteri hukum? "Kapan Ayah dan Ibu ketemu Menteri Min?"
"Sewaktu kamu bayi. Dan bukan sekadar bertemu. Menteri Min dan Ayah dulu rekan sekantor."
Kisah Ibu pun mengalir sederas curah hujan. Kala itu Ayah dan Min Hajong bekerja sebagai staf di kementerian hukum. Karier mereka sama-sama menanjak, hingga timbul prediksi salah satu dari mereka kelak menjadi menteri.
Sementara itu, Ayah dan beberapa rekannya mengetahui rahasia Min Hajong. Dia bekerja sama dengan Mirror, organisasi kriminal terbesar di Seoul. Mirror menguasai berbagai jaringan, dari peredaran narkoba sampai pencucian uang. Min membantu anggota Mirror lolos dari polisi, bahkan vonis penjara. Sebagai imbalan, mereka menyediakan dana dan dukungan lain baginya.
Ayah berusaha membongkar kerja sama ini di hadapan publik. Nahasnya, Min Hajong mengendus upaya tersebut dan menjegalnya. Ketika persiapan Ayah belum matang dan bukti baru sedikit terkumpul, Min melancarkan serangan.
Berbekal bukti-bukti palsu, Min menuduh keluarga Park-lah yang bersekongkol dengan Mirror. Ayah tak berkutik sebab tak punya cara membalas. Sebelum kasus berlarut-larut atau Ayah dipecat dengan tidak hormat, beliau mengundurkan diri dari kementerian.
Jimin hanya mampu menyimak dengan terpana. Kisah ini sama sekali baru baginya. Sejak dia kecil, Ayah dan Ibu mengelola usaha tembikar, jauh dari pusat kota Seoul. Mereka berdua maupun kerabat lain tak pernah menyinggung profesi Ayah sebelum itu.
"Kabar terakhir yang kami terima," lanjut Ibu, "kini Min Hajong bukan hanya bekerja sama dengan Mirror. Dia bahkan diangkat jadi ketua. Sebagai menteri, dia leluasa memakai fasilitas negara, dan Mirror makin merajalela."
Kamu yang tanggung jawab jika dia ditemukan tewas. Ternyata kata-kata Menteri Min bukan gertak sambal belaka. Ketua organisasi kriminal jelas sanggup membuat ancaman jadi nyata. Jimin menelan ludah.
"Sesudah Ayah keluar dari kementerian, Min Hajong pernah ganggu keluarga kita?"
Ibu menghela napas berat. "Setahun pertama setelah mengundurkan diri, Ayah sempat takut keluar rumah. Ibu, dibantu mantan rekan Ayah, merintis usaha tembikar. Tidak, Min Hajong tak pernah ganggu kita. Ibu rasa, dia anggap keluarga kita sudah tak berbahaya. Tapi...."
Darah Jimin sirap dari wajah. "Tapi sekarang aku kenalan dengan anaknya. Jangan-jangan dia kira aku mengincarnya lewat Yoongi—"
"Di mana kamu, Jiminie?" potong Ibu. "Apartemen?"
Jimin melompat berdiri. Isi otaknya kacau balau, adrenalinnya berpacu. Demi meredamnya, dia memusatkan diri pada satu pikiran: harus selamat. Harus menghindar sejauh dan selama mungkin dari Min Hajong.
"Sekarang aku pergi, Bu. Ke tempat aman. Ayah dan Ibu jaga diri, nanti aku telepon!"
Dia mengantongi ponsel dan berlari ke kamar. Di sana, dia menyambar benda-benda penting—termasuk charger dan dokumen seperti akta kelahiran—dan menjejalkannya ke dalam ransel besar. Sesekali dia menajamkan pendengaran, tapi tak ada bunyi yang tak lazim.
"Keluar gedung saja dulu," ujar Jimin keras-keras. "Kurangi bengong, juga bicara sendiri seperti ini."
Dari unit apartemennya, Jimin turun ke lantai bawah lewat tangga. Saat berpapasan dengan sesama penghuni, dia lega bahwa tak ada wajah asing di antara mereka. Sekeluarnya dari gedung, dia menuju toko 7-Eleven yang terletak dua ratus meter jauhnya.
Dia membeli makan siang serta melakukan top-up pada kartu T-Money. Saldo kartunya harus penuh agar dia mudah naik taksi, bus, dan subway. Siapa tahu, nanti dia bahkan terpaksa pergi jauh dari Seoul.
Salah satu meja ditempati sekelompok remaja yang mengobrol dengan heboh. Jimin pun duduk di samping mereka, sebab anak buah Min Hajong tak akan meringkusnya di tengah orang banyak. Paling tidak, menurut teori.
Selagi dia makan, pikiran Jimin terus beradaptasi dengan situasi. Sebagian dirinya masih percaya ini paranoia. Tingkah lakunya berlebihan; dia bergaya seperti tokoh film yang dikejar penjahat.
Salah! Aku dengar ancaman ayah Yoongi dengan kupingku sendiri. Juga cerita Ibu-mustahil Ibu berbohong padaku! Semuanya cocok dengan rumor tentang Menteri Min.
Pada Ibu, Jimin mengaku akan menuju tempat aman. Nyatanya, dia belum memutuskan tempat apa itu. Capsule hotel? Murah dan nyaman, meski dia mudah pula disudutkan.
Di atas meja, ponsel Jimin bergetar. Dia melirik layar dan kontan mematung: nomor Yoongi.
Apa ini? Kemarin Yoongi meneleponnya untuk mengajak makan malam. Sekarang mereka sudah saling tidak punya urusan; terlebih lagi, ayah Yoongi melarang dia jadi teman Jimin. Ayah Yoongi, orang yang pernah nyaris menghancurkan keluarga Jimin.
Toko 7-Eleven sepi, bahkan dari bunyi langkah kaki; Jimin satu-satunya pelanggan. Dengan resah bercampur penasaran, dia menggeser tombol virtual, lalu mendekatkan ponsel ke telinga.
"Jimin?"
Suara Yoongi lirih. Persis tadi malam, saat di restoran. Apakah sorot matanya pun sendu? Ataukah ini strategi demi melunakkan hati Jimin dan memancingnya?
"Ya?"
Hening sejurus. Lalu Yoongi berkata, "Ayahku tidak main-main. Dia sudah mengusut nama dan keluargamu. Siang ini dia mencari alamatmu."
"Begitu, ya? Memfitnah ayahku masih kurang? Dia mesti menyasar anaknya juga?!"
Desisan marah Jimin mengejutkan dirinya sendiri. Buyar sudah tekadnya berkepala dingin di depan semua orang, terutama Yoongi. Namun, wajar bila dia marah. Menteri Min menyerang Ayah demi menutupi boroknya, dan kini mengancam Jimin pula.
"Kamu sudah tahu semuanya?" tanya Yoongi.
"Sudah. Ayahku terpaksa berhenti kerja dan trauma, ayahmu jadi pimpinan Mirror. Ternyata rumor tentang Menteri Min benar-"
"Jimin, dengarkan aku!" sela Yoongi. "Kamu tidak aman. Keluar dari apartemen, sekarang!"
Yoongi bicara tergesa-gesa dan tetap lirih, seperti cemas tepergok. Mungkin Cho atau bodyguard lain sedang mengawasinya. Mungkin pula ini akting agar Jimin percaya pada Yoongi dan masuk jebakan.
Bukan! sangkal hati kecil Jimin. Yoongi bukan sedang mengecohnya. Sejak awal dia tulus. Telepon ini pun upaya Yoongi dalam menolong Jimin.
"Sudah punya tempat sembunyi?" tanya Yoongi.
Jimin melayangkan pandangan ke sepenjuru ruangan. Karyawan berada di balik meja kasir, jauh dari Jimin. Tak ada pengunjung atau orang lain yang tampak mengawasinya.
"Belum," katanya jujur.
"Sebentar lagi aku kirim alamat ke nomormu. Tempat itu aman, Ayah tidak tahu. Lekas ke sana, nanti kususul. Satu jam dari sekarang, bisa?"
"Kamu tawarkan aku tempat bersembunyi dari ayahmu? Kenapa?"
"Karena kamu dalam bahaya!" seru Yoongi. "Barusan Ayah meneleponku—dia yakin, kamu sedang menyasarnya lewat aku. Anak buahnya sudah mulai menuju apartemenmu."
Jimin berusaha mencerna ucapan Yoongi. "Ayahmu anggap aku ancaman, jadi anak buahnya melacak aku?"
"Ya! Cepat, sehabis ini, baca alamat yang kukirim dan segera ke sana!"
"Imbalannya apa?"
Jeda beberapa detik. "Imbalan?"
Ransel Jimin terletak di kursi sebelah. Dia mengambil dan memangku tas hijau itu, merasa lebih nyaman bila barang-barangnya ada dalam jangkauan. "Kamu diam-diam menentang orangtua sendiri demi aku. Minta apa sebagai gantinya?"
Kembali hening di ujung sana. Lebih lama daripada tadi, hingga Jimin mengira koneksi terputus. Dia hampir bertanya saat Yoongi berkata, "Aku berubah pikiran. Mirror sangat gesit, lihai melacak orang. Satu jam terlalu lama—temui aku setengah jam lagi."
***
Alamat itu adalah gedung apartemen di Jamsil-dong. Wilayah ini familier bagi Jimin; seorang rekan sekantornya bahkan tinggal di gedung tersebut. Seraya keluar dari lift bersama Yoongi, Jimin berharap tidak bersilang jalan dengan rekannya, apalagi ditanyai kondisinya saat ini.
"Unit ini kubeli setahun lalu," kata Yoongi sambil mengeluarkan kartu kunci. "Untuk tempat menyepi. Sengaja tidak bilang keluarga, supaya seratus persen jadi markas rahasiaku."
Begitu masuk ke unit apartemen, Jimin terkesiap. Lalu tawanya tersembur. "Waduh!" serunya. "Betul-betul penggemar Jin nomor satu, nih. Pantas saja kamu lupa diri, keasyikan mengobrol dengan dia!"
Ruang tengah semarak oleh poster Our Beat dari berbagai era. Foto-foto para anggota, terutama foto Jin, dibingkai dan berderet di atas bufet rendah. DVD, album, lightstick, photobook, dan beragam merchandise lain mengisi rak-rak dalam bufet.
Yoongi menanggalkan sepatu, sama sekali tak tampak rikuh. "Ini gunanya punya hobi. Melepas stres, sambil merasa disemangati idola. Tidak melanggar hukum imi. Aku menyetel lagu mereka juga pelan saja, tidak ganggu tetangga."
Jimin mengacungkan ibu jari. "Boleh lihat-lihat?"
"Bebas. Banyak poster dan postcard Jin yang langka, tuh."
Selagi Yoongi mengambilkan minuman soda, Jimin mengirim pesan ke grup Kakaotalk khusus dia dan orangtuanya. Aku aman, di rumah teman. Kukabari lagi nanti. Ibu membalas: Ayah sedang hubungi mantan rekan kerjanya dulu. Jangan jauh-jauh dari ponsel!
Jimin dan Yoongi duduk bersila di depan bufet sambil menyesap soda. Kata Yoongi, dia biasa memborong merchandise pada event seperti fanmeet dan konser. "Biar tidak pakai tunggu pengiriman." Mereka pun bertukar kisah pengalaman konser: Jimin pernah kehujanan sampai pilek, dan Yoongi lupa di mana memarkir mobil.
Suasana ini amat santai, begitu membuai. Jimin serasa menemukan teman baru yang satu frekuensi dengannya. Teman yang sesama penggemar Our Beat—sekaligus anak menteri Min.
Jangan terlena! perintahnya pada diri sendiri. Ingat alasan aku ada di sini! Yah, tapi tak apa bersenang-senang sebentar. Momen indah kian manis justru karena singkat.
Di luar jendela, hari beranjak gelap. Untuk makan malam, mereka memanaskan frozen dinner. Yoongi mengaku suka memasak dan mencoba resep baru. Namun, karena ini tempatnya bermalas-malasan, kulkasnya penuh makanan siap saji. "Sedap, praktis pula," katanya.
"Sama," sahut Jimin selagi mereka membuang wadah makanan dan sumpit. "Tapi aku malasnya tiap hari. Rajin masak cuma di rumah orangtua. Di apartemen sendiri, menimbun masakan siap saji."
Yoongi manggut-manggut dengan wajah setuju.
"Terima kasih sudah dibawa ke sini," lanjut Jimin. "Aku tertolong sekali. Kapan ditagih bayarannya?"
Senyum Yoongi memudar. Dia menarik kaki dari injakan tempat sampah agar kembali tertutup. Sudut mulutnya melengkung ke bawah. "Bayaran?"
"Iya, seperti yang kutanya di telepon. Kamu mau apa? Aku—yang bisa kuberikan cuma seks. Semoga itu cukup."
Tiba-tiba saja badan Jimin gemetar. Kakinya bergoyang dan lantai terasa miring. Dia mengeraskan otot demi menekan gemetar itu.
Min Yoongi tak perlu mengecoh Jimin. Dia sudah terkecoh oleh angannya sendiri. Kata teman tadi sempat melengahkan dia; membuatnya lupa bahwa, di mata Yoongi, mereka bukan teman. Yoongi membantunya karena iba dan Jimin membalas budi. Sesederhana itu.
Rupanya aku lebih kesepian daripada Yoongi. Jarang ketemu teman-temanku, lagi. Belakangan ini, waktu mereka tersita pekerjaan dan masalah pribadi. Kapan kali terakhir aku dan Hoseok pergi untuk friend date? Lima bulan lalu?
Astaga, lama sekali! Pantas hati Jimin mudah tertambat pada orang pertama yang memberinya perhatian. Ugh, ini halu yang lebih kritis daripada menyebut Jin suaminya.
"Kapan pun ditagih, aku siap," gumam Jimin. Dia menunduk, tak kuasa memandang mata Yoongi—melihat rasa iba maupun geli. Iya, aku tahu, kok, aku menyedihkan. "Tinggal bilang, nanti aku—"
"Park Jimin."
Panggilan namanya itu memotong ucapan Jimin. Perlahan dia mengangkat muka. Yoongi berdiri di depannya, bersedekap dengan air muka datar.
"Sewaktu Ayah memfitnah keluarga Park, aku masih kecil," ujarnya. "Tahu tentang insiden itu saja baru sekarang. Tapi soal Mirror, aku tahu sejak dulu. Ayahku ...."
Dia tertawa, pendek dan sumbang.
"Beliau seharusnya menjunjung hukum. Tapi malah jadi ketua organisasi kriminal. Ibuku marah sekali, sampai-sampai minta bercerai."
Saat mengucapkan kalimat terakhir, Yoongi mengernyit seperti menahan sakit.
"Segala perbuatan Ayah tak ada sangkut-pautnya denganku. Meski begitu, aku tetap anaknya. Punya sedikit kewajiban membantu orang-orang yang kena imbas perbuatan Ayah. Menolong kamu, contohnya."
Jadi benar. Yoongi sekadar kasihan pada Jimin. Bertukar kisah sebagai sesama penggemar adalah bagian dari rasa iba itu. Mereka bukan teman—tak akan pernah jadi teman. Bodohnya aku, berkhayal ketinggian!
Di pinggir meja dapur, ponsel Yoongi berdering. Dia berpaling dengan ekspresi tetap datar, tapi rahangnya sedikit tegang. Membiarkan ponsel tetap di atas meja, Yoongi menyalakan speaker.
"Ya, Ayah?"
Tubuh Jimin kaku. Seperti roh jahat saja, pikirnya, diomongkan langsung muncul. Sama seperti tadi pagi, dia risau meski tak melihat wajah Menteri Min.
"Masih di rumah?" tanya ayah Yoongi. Suaranya dari speaker begitu jelas hingga Jimin merinding.
"Masih."
"Rumah yang mana? Di Jamsil-dong?"
Mulut Yoongi ternganga. Dia menatap ponsel seolah gawai itu hewan liar yang siap menerkam. Jimin sendiri merasa lantai di bawahnya kembali miring.
"Kamu pikir itu rahasia?" tukas Menteri Min. "Ayah memantau laporan keuangan kamu, Yoongi. Kamu memesan poster grup idola saja Ayah tahu. Apalagi membeli apartemen! Kamu di sana bersama Park Jimin, bukan?"
Jantung Jimin serasa jatuh dan menggelepar. Wajahnya panas dan nadi di lehernya berdenyut cepat. Yoongi terus menatap ponsel, membatu seperti kena sihir.
"Ayah dapat laporan tadi sore," imbuh Menteri Min. "Kamu dan anak itu masuk ke apartemen. Padahal Ayah suruh kamu tidak menghubungi dia lagi! Apa maksudnya? Kamu membangkang?"
"Apa salah Jimin?" balas Yoongi. Suaranya tidak meninggi, bahasanya tetap formal, tapi dadanya kembang kempis. Jelas bahwa dia menahan gejolak emosi. "Dia tidak pernah berbuat apa-apa pada Ayah! Justru Ayah yang bersalah pada keluarga Park. Juga pada jabatan yang diamanahkan pada Ayah!"
Sunyi. Bahkan tak ada gemeresik dari speaker ponsel. Suasana begitu mencekam sampai Jimin ingin berteriak untuk memecahkan kesunyian.
"Kamu membela keluarga lain, bukan ayahmu sendiri?" tanya Menteri Min. Suaranya makin berat dan serak, mendirikan bulu roma Jimin. "Demi siapa? Park Jimin?"
"Demi rakyat dan negara yang Ayah khianati," jawab Yoongi. Dia sedikit terengah dengan wajah memerah. "Demi Ibu, yang tak sanggup tinggal seatap dengan ketua Mirror. Dan demi aku yang kecewa pada Ayah."
Menteri Min tertawa. Respons itu tak terduga hingga menggedor saraf Jimin. Ketika Menteri Min berbicara lagi, suaranya bernada mencemooh.
"Sejak kecil kamu makan enak, liburan ke luar negeri, dan belajar di sekolah terbaik. Berkat siapa, Yoongi? Berkat ayahmu, yang kerja keras siang malam. Sekarang mendadak kamu jadi pahlawan kesiangan?"
"Terserah," tukas Yoongi. "Sebut aku apa saja. Sedari dulu pun aku tak setuju dengan tindak-tanduk Ayah. Tapi aku tak berdaya—aku hanya satu orang. Puncaknya saat Ayah jadi ketua Mirror dan tak peduli Ibu pergi. Saat itulah, aku sadar Ayah akan seterusnya menempuh jalan ini."
"Yoongi," kata Menteri Min. "Ayah menelepon bukan untuk mendengar keluh kesahmu. Ayah tak suka kamu berteman dengan Park Jimin. Anak dari keluarga kurang ajar yang coba menghancurkan Ayah. Jadi, ini peringatan terakhir. Tinggalkan dia sekarang, dan Ayah akan maafkan kamu."
"Tidak."
Yoongi mencetuskan satu kata itu dengan teguh. Rona merah sirna dari wajahnya dan suaranya mantap. Jimin bangga padanya, tapi dia pun ngeri. Yang dilawan Yoongi adalah pejabat yang disokong organisasi kriminal: sebuah kombinasi maut.
"Banyak keluarga yang rusak gara-gara Ayah dan Mirror," ujar Yoongi. "Kehilangan kerja, sumber nafkah, bahkan orang terdekat. Keluarga kita sendiri terpecah belah. Tak kubiarkan Ayah merusak lebih banyak lagi keluarga. Jadi aku akan mendampingi Jimin—melindunginya."
"Itu keputusanmu? Tidak berubah? Sungguh kamu yakin?"
"Yakin."
Menteri Min tertawa lagi. "Baik. Kalau begitu, ultimatum dari Ayah yang berubah. Yang nanti ditemukan tewas bukan Park Jimin, melainkan kalian berdua."
***
Yoongi meninggalkan mobilnya di lantai parkir gedung. "Jangan naik mobilku, mudah dikenali." Dia dan Jimin menyelinap keluar lewat pintu karyawan, dan naik bus sampai ke daerah pinggiran Seoul. Mereka memakai masker dan Jimin meminjam beanie dari Yoongi, menutupi seluruh rambutnya.
Hingga mereka turun dari bus, tak ada orang yang terus-menerus berada di dekat mereka. Ini bukan jaminan bahwa mereka aman; dua atau tiga anggota Mirror bisa saja membuntuti secara bergantian. Namun, sampai mereka masuk ke sebuah motel, orang di sekitar tampaknya hanya pejalan kaki biasa.
Mereka menyewa kamar atas nama Jimin. Kamar itu terletak di dekat tangga dan berbau kapur barus. Jimin menaruh ransel di lantai, belum berani membongkarnya; dia harus siap kabur kapan saja.
"Yoongi," bisiknya. "Ultimatum ayahmu tadi.... Apa benar ada orang sampai hati melenyapkan anak sendiri?"
Dia dan Yoongi duduk bersisian di pinggir tempat tidur. Jam ponsel menunjukkan pukul setengah satu malam. Lampu kamar dimatikan, dan satu-satunya cahaya berasal dari lampu meja.
Yoongi mendesah. "Kadang, Ayah tidak memandang status sanak keluarga. Dulu Ibu minta cerai bukan cuma karena Ayah jadi ketua Mirror. Adik Ibu, pamanku, wartawan di surat kabar. Paman sempat menulis tentang kejahatan terorganisir di Seoul. Di dalam artikelnya tersirat nama Ayah."
Kalimat dalam artikel itu cukup ambigu. Disinyalir, pejabat tinggi negara terlibat kegiatan sebuah sindikat yang masif. Dua hari setelah artikel terbit, paman Yoongi ditabrak mobil dalam perjalanan pulang kerja. Mobil yang menabraknya kabur tanpa saksi.
Ibu Yoongi percaya, tabrakan itu bukan murni kecelakaan. Bila tidak sedang menunggui adiknya, beliau bertengkar hebat dengan Menteri Min. Setelah paman Yoongi pulang dari rumah sakit, ibu Yoongi menggugat cerai suaminya.
"Ibu memperjuangkan hak asuhku, tapi gagal. Pengaruh Ayah terlalu kuat. Terpaksa Ibu menyerahkan aku pada Ayah, dengan syarat dirawat dengan baik. Jika terjadi apa-apa padaku, Ibu akan mengambil jalur hukum."
"Jadi ancaman ayahmu ini melanggar syarat dari ibumu."
"Ayah memang begitu. Tak suka dilawan. Aturannya mutlak harus dituruti. Aku ketahuan menolong anak dari orang yang hampir membongkar kedok Ayah, maka wajib dihukum."
Jimin menggeleng tak percaya. "Apa tidak kelewatan, mengancam bunuh anak sendiri?"
"Pengaruh dari Mirror, kurasa." Yoongi kembali mendesah. "Berkat organisasi itu, Ayah bebas membungkam lawan-lawannya. Pamanku hanya satu contoh. Aku bisa menjadi contoh lain. Sekalipun Ibu memperkarakan Ayah, belum tentu menang. Salah-salah, Ibu yang celaka."
Rasa bersalah menyergap Jimin. "Maaf. Gara-gara aku, kamu bentrok dengan ayah sendiri."
Yoongi mengetuk-ngetukkan buku jari ke lutut. Dalam kamar yang temaram, matanya berkilat oleh pantulan sinar lampu meja. Dia tak berkata apa-apa, maka Jimin melanjutkan.
"Aku ingin bilang sesuatu. Ayahmu menuduh kamu pahlawan kesiangan. Itu salah—dalam membela orang lain, tak ada tanggal kedaluarsa. Yoongi, aku sangat berterima kasih kamu membelaku, tapi cukup sampai di sini. Aku sudah mengacaukan hidupmu. Pulanglah, siapa tahu Menteri Min memberi maaf."
"Sekarang kamu yang salah."
Jimin terkejut. "Aku? Maksudnya, kamu tak akan dimaafkan?"
"Ayahku keras kepala, pantang menarik perintahnya. Sebagai ketua Mirror, memalukan jika Ayah tak sanggup mengatur anak sendiri. Malam ini kita lolos, mungkin besok terkejar."
Dada Jimin sesak oleh rasa bersalah yang kian menggelegak. Yoongi mengacungkan dua jari, lalu menekuk salah satunya.
"Giliranku yang bilang sesuatu padamu. Satu, keluargamu bukan pihak pertama yang kuketahui pernah mengusik Ayah. Beberapa tahun ini, aku dan teman-teman menggalang upaya khusus membantu pihak-pihak seperti keluarga Park. Kami carikan sumber nafkah, pendampingan, dan sebagainya. Aku sudah paham risiko menolong kalian."
Korban Menteri Min tentu bukan hanya tiga-empat orang. Maka upaya Yoongi dan teman-temannya pasti lumayan rumit. Walau Jimin kagum, di hatinya pun terselip sejumput pedih. Aku bagian dari upaya Yoongi itu, tidak lebih.
Yoongi menurunkan tangan. "Dua, persis sebelum Ayah menelepon tadi, aku mau bilang—" Dia tampak bimbang, lalu meluruskan bahu. "Mau bilang alasan aku menolongmu, selain kamu anak keluarga Park."
Air muka Yoongi jengah. Dia membuang muka, menghindari tatapan Jimin.
"Di restoran...." Dia berdeham canggung. "Aku minta kamu jadi pacarku. Aku—aku sungguh-sungguh, tidak bergurau."
Mata Jimin membundar. "Apa?"
"Lalu aku takut sendiri. Takut kamu pikir ini pemaksaan, mentang-mentang ayahku menteri. Biarpun ayahku bukan pejabat, tetap saja seram, kan? Mendadak kamu diajak makan dan diminta jadi pacar, padahal kita baru kenal beberapa jam."
Sejak pagi emosi Jimin naik-turun, terbanting, menapaki jalur berliku-liku. Alih-alih kebas, perasaannya kini tertusuk oleh pernyataan Yoongi. Pernyataan yang seindah mimpi, juga sama mustahilnya. Atau barangkali dia mempermainkan aku?
"Yang benar?" tukas Jimin. "Secepat itu kamu suka pada orang yang baru dikenal? Kalau aku penjahat, bagaimana?"
Yoongi menatap Jimin dengan tajam. "Tidak, aku tidak biasa nembak orang yang baru dua kali ketemu. Aku bukan orang macam itu. Mengaku begini pun aku malu."
"Jadi kenapa—"
"Kamu istimewa." Jimin terkesima, dan Yoongi menambahkan, "Sulit kalau dijabarkan, tapi itulah yang kurasakan. Seumur hidup, ini pengalamanku yang paling unik. Dimarahi orang, tapi fokusku malah pada betapa lucunya dia. Marah-marah ke orang asing, padahal sesama penggemar halu."
Tatapan Yoongi meredup.
"Aku penasaran. Ingin mengenalmu lebih jauh. Makanya kuundang kamu makan malam. Dan ternyata, makin aku mengenalmu, kamu makin menawan. Sampai aku nekat menembak. Jelas saja kamu bingung. Dan pasti makin bingung bila tahu, sebelum Ayah menelepon tadi, aku lagi-lagi serius akan minta kamu jadi pacarku."
Jimin terpaku, kehilangan kata-kata, Seumur hidup, ini pun pengalaman paling tak terlupakan: seseorang jatuh hati padanya di pandangan pertama. Bukan sembarang orang pula, melainkan anak dari orang yang pernah mencemari nama baik orangtua Jimin.
"Terus terang, aku pesimis bakal diterima," gumam Yoongi. "Buktinya, tawaran kamu barusan. Kamu sangka, aku menolongmu dengan pamrih, kan?"
"Yoongi, aku—"
Tiba-tiba punggung Jimin kaku. Telinganya yang peka menangkap bunyi gesekan. Sol sepatu? Bukan dari kakinya atau kaki Yoongi; mereka melepas alas kaki begitu masuk ke kamar. Dan arah bunyi itu—
"Jimin?"
"Ssh," bisik Jimin, menempelkan telunjuk di bibir. "Di luar ada orang."
Yoongi terperanjat, dan Jimin memberinya isyarat agar tidak bersuara. Selagi mereka berdiri, Jimin mengukur jarak antara posisi mereka dan pintu.
Sejak SD sampai kuliah, dia mengikuti sejumlah kelas bela diri. Badannya terlatih menuruti refleks dan bergerak lincah. Tergantung jumlah orang di luar, Jimin dapat berkelit dan kabur.
Namun, bagaimana dengan Yoongi? Tak mungkin aku tinggalkan dia. Kami saling jaga satu sama lain, tak boleh berpisah. Tiba-tiba dia terpikir satu hal yang mengerikan: Sudahkah mereka mengunci pintu?
Klak. Pintu dibuka dari luar, menjawab pertanyaan Jimin. Seorang pria memakai masker berjalan masuk ke kamar. Tubuhnya tinggi tegap dan rambutnya dipotong model buzzcut. Mudah diduga, dia bodyguard yang bekerja pada Menteri Min.
"Tuan Muda, ada pesan dari ayah Anda," kata pria itu.
Yoongi menegakkan punggung. "Cuma pesan, Seo? Perintah lain tidak ada?"
"Saya hanya membawa pesan," sahut pria bernama Seo itu. "Tuan Muda dan teman Anda diminta pulang. Saya bertugas mengantar Anda berdua ke rumah beliau. Silakan ikut ke mobil."
Otak Jimin berputar cepat. Motel ini terletak di daerah sepi, dan sepertinya hampir tak ada tamu lain. Jika pun Jimin dan Yoongi berteriak, belum tentu ada yang berani menolong.
Meski masih sangsi dengan ultimatum Menteri Min, Jimin percaya pada Yoongi. Dia yakin ayahnya tega, maka aku pun begitu. Sekarang, apakah Seo sendirian atau bawa teman?
"Baik," kata Jimin. "Kami ikut."
Seo melengak. Rupanya dia sudah siap melancarkan bujuk rayu atau paksaan. Yoongi, yang lebih kaget lagi, menyambar lengan Jimin. "Jangan! Jangan pasrah begini! Kita—"
"Yoongi." Jimin meletakkan tangan di siku Yoongi. "Tenanglah. Aku di sisimu. Tak akan kubiarkan hal buruk menimpamu. Aku bersumpah."
Menilik ekspresi Yoongi, dia jeri dengan sumpah Jimin—yang mungkin dibayar dengan nyawa. Tangannya makin erat memegangi lengan Jimin. Sementara itu, Seo berkata, "Tuan Muda, Tuan Park, silakan."
Dengan enggan, Yoongi melepaskan lengan Jimin. Dia menyandang ransel dan keluar dari kamar, disusul oleh Jimin. Seo keluar paling belakang dan menutup pintu.
Mereka bertiga turun ke lantai satu dan menuju pelataran motel. Hawa malam dingin menggigit; jalanan kosong tanpa ada manusia maupun kendaraan lewat. Dua mobil diparkir di pelataran: satu merah, satu hitam.
Jimin berhenti di luar pintu motel. "Seo ssi, yang mana mobilnya?"
Seo menunjuk sedan berwarna hitam. Di dalam samar-samar tampak satu orang lagi. Walau Jimin sudah menduga, tak urung jantungnya mencelus.
Dia dan Yoongi berhenti di depan mobil. Yoongi menggosok lengannya yang hanya ditutupi kaus katun tipis. Seo berdiri di samping pintu pengemudi, merogoh kunci mobil dari saku jaket.
Detik itu juga, Jimin mengait belakang lutut Seo dengan kakinya, dan menarik dengan sekuat tenaga.
Seo, yang sama sekali tak siap, hilang keseimbangan. "Argh!" Pria itu terpelanting ke aspal; Jimin langsung mundur dan merenggut lengan Yoongi.
"Yoongi, lari!"
Yoongi melompat, nyaris tersandung, lalu memelesat. Pintu belakang mobil terbuka; rekan Seo keluar selagi Jimin dan Yoongi terus berlari. Tak ada suara teriakan—sebagai gantinya adalah bunyi detap sol sepatu.
Jimin dan Yoongi berlari di trotoar saat dari belakang terdengar bunyi klakson. Diiringi decit ban, sebuah sedan biru berhenti di samping mereka. Dari jendela yang terbuka, Hoseok berseru.
"Naik!"
Kembali Jimin merenggut lengan Yoongi; dia menarik handel pintu, dan mereka melemparkan badan ke jok mobil. Hoseok menginjak pedal gas selagi Jimin membanting pintu. Mobil pun melaju kencang, menjauhi motel.
Tersengal-sengal, Jimin meluruskan badan. "Terima kasih, Hoseokie," gumamnya. "Waktunya pas banget."
Hoseok melirik kedua penumpangnya dari kaca spion. "Yang mengejar kalian tadi siapa?"
"Bodyguard ayahku," sahut Yoongi. "Sengaja mereka yang dikirim, sebab baru mulai kerja. Cho terlalu sering mengawalku, pasti Ayah takut dia kasihan dan melepaskan kami."
"Kira-kira, apa mereka mencatat nomor pelat mobilku?" gumam Hoseok cemas.
"Moga-moga tidak sempat lihat," ujar Jimin. "Mereka cukup jauh, mobil ini juga cuma sebentar berhenti."
Hoseok tak menyahut dan terus menyetir. Sedan biru itu tiba di perempatan jalan, lalu berbelok ke kanan. Bila Seo dan rekannya menyusul, mereka harus memilih arah yang tepat.
Kini setelah dia dan Yoongi selamat, meski hanya sementara, badan Jimin lemas. Lengannya gontai saat dia menjatuhkan ransel ke lantai mobil. Yoongi mengusap dahi dengan punggung tangan dan mengembuskan napas panjang.
Di motel, Jimin lupa mengunci pintu sebab terburu-buru menelepon Hoseok. Minggu malam adalah me-time Hoseok, terutama bila sedang single and not looking seperti sekarang. Dengan cepat, Jimin meringkas segala kejadian hari ini.
Yoongi yakin anak buah Mirror ada di mana-mana, katanya. Lebih baik curiga daripada menyesal. Hoseok, bisa tolong jemput kami?
Hoseok sempat takut karena yang dihadapi adalah pejabat tinggi sekaligus ketua Mirror. Jimin pun tak tega membahayakan sahabatnya. Dia akan membatalkan permintaan saat Hoseok berkata: Oke, kujemput kalian. Kalau aku berpangku tangan dan kamu kena musibah, sedihnya tak bisa dihapus. Kirimkan lokasi motelnya.
Mobil Hoseok tiba di jalan raya yang ramai. Lampu lalin menyala hijau hingga mereka meluncur tanpa hambatan. Jimin memindai jalan di sekitar, dan tak melihat mobil hitam milik Seo. Namun, dia belum bisa lega—belum tahu sampai kapan mereka lolos.
Selagi Jimin sibuk merancang langkah berikut, jemari Yoongi menyusup ke dalam genggamannya. Sentuhan itu ibarat air yang meresap sejuk ke hati Jimin. Tatapan mereka berserobok dan Yoongi tersenyum kecil.
Jimin menggenggam jemari laki-laki itu, berpikir: Dia tak punya tempat pulang lagi. Gara-gara membela aku. Tak ada pilihan, kami harus berjuang hingga kasus ini tuntas.
"Sampai lupa tanya, saking konsen ngebut tadi," kata Hoseok. "Kita ke mana?"
Jimin mengalihkan pandangan pada sahabat karibnya. "Ke tempat yang paling gampang ditebak Menteri Min, tapi justru jadi tempat aman. Rumah orangtuaku."
***
Mulanya Yoongi sungkan berjumpa Ayah dan Ibu. "Reputasi ayahmu rusak karena ayahku," bisiknya saat mobil Hoseok tiba di depan rumah. "Orangtuamu pasti tak ingin bertemu keluarga Min Hajong. Aku di mobil saja, nanti cari motel lagi."
"Jangan khawatir, ada aku." Jimin balas berbisik. "Akan kuterangkan semuanya pada mereka. Ayah dan Ibu juga pasti tak menyalahkan kamu."
Hoseok mematikan mesin mobil. Mereka bertiga turun dan menuju pagar rumah; di daerah pinggiran Seoul, tersedia cukup lahan untuk rumah pribadi. Jimin lahir dan tumbuh besar di sini, sebuah rumah hijau muda dengan halaman yang semarak oleh bedeng bunga.
Ayah dan Ibu menunggu di beranda rumah. Dalam balutan kaus dan celana olahraga, mereka tampak bugar dan awas. Rambut keduanya mulai berubah kelabu; mereka tidak mewarnainya, sebab bangga telah mencapai usia ini.
Begitu Jimin mendorong pagar, Ibu berkata, "Min Hajong dan Mirror punya mata di mana-mana. Ayo, kita langsung masuk. Hoseok, parkir mobilmu di balik pagar."
Hoseok kembali ke dalam mobilnya. Yoongi, Jimin, dan orangtuanya masuk ke ruang tamu. Selagi Jimin bercerita pada orangtuanya, Hoseok tiba dan duduk di sampingnya.
Di akhir cerita Jimin, Ayah bertanya pada Yoongi, "Punya tempat tinggal selain yang ayahmu tahu?"
"Hanya dua alamat itu. Niatnya, sementara ini saya pindah-pindah motel."
"Tinggal di sini saja dulu."
Yoongi tercengang. "Di sini? Maaf, saya tak berani menyusahkan Anda...."
"Sama sekali tidak," sahut Ibu. "Sekalian kita saling jaga dan awasi."
"Kamu dan teman-teman membantu korban ayahmu," kata Jimin pada Yoongi. "Ayah, Ibu, dan mantan rekan-rekan di kementerian juga aktif selama ini. Mengumpulkan bukti dan saksi demi membuka kedok Menteri Min."
Ayah mengiakan. Wajahnya muram sekaligus penuh tekad. Dua puluh tahun lebih Ayah dan Ibu mengabdikan diri pada satu tujuan: menghentikan Min Hajong. Kini, berkat upaya gigih, tujuan itu makin terang tampak di depan mata.
"Persiapan kami jauh lebih matang dibandingkan dulu," ujar Ayah. "Kali ini, kami pastikan Min Hajong tak bisa lagi mengelak."
***
Dua hari kemudian, Republik Korea digemparkan oleh satu berita: identitas Menteri Min sebagai ketua Mirror terkuak. Saksi kunci tak lain adalah anggota Mirror yang mendapat perlindungan hukum. Bukti berupa foto, rekaman video, dan dokumen diajukan selama sidang.
Banyak pihak yang awalnya sukar percaya. Mereka menuduh keluarga Park iri dan mengada-ada. Akan tetapi, seiring makin kuatnya bukti yang digelar di pengadilan, semua orang terpaksa mengakui fakta tentang sang menteri hukum.
Jimin mengikuti berita pemrosesan kasus dengan hati tak keruan. Alih-alih bersorak sorai, dia gelisah. Selaku pelapor, orangtuanya dan mantan rekan kerja Ayah dijaga ketat. Namun, pihak-pihak yang mendendam lama bergiat di dunia kriminal. Mereka banyak akal, hingga ditakutkan mampu menembus penjagaan itu.
Selama dalam penjagaan, Ayah dan Ibu dilarang menjalin komunikasi dengan siapa pun. Jimin hanya bisa percaya bahwa mereka selalu sehat. Dia sendiri membatasi kegiatan: sepulang kerja: langsung pulang dan tak pernah jalan-jalan.
Di sisi lain, Yoongi dan ibunya menanggung beban bertumpuk. Mereka dimaki sebagai anak dan mantan istri penjahat, juga mungkin diincar pihak yang dirugikan Mirror. Untuk sementara, Yoongi mengambil cuti dan tinggal dengan ibunya di rumah aman.
"Menghibur dia saja susah," keluh Jimin pada Hoseok. "Dilarang kirim dan terima pesan, kecuali lewat polisi yang menjaganya. Gila apa, bertukar pesan lewat orang lain?"
"Hmm. Memangnya apa isi pesanmu? Mesum jangan-jangan."
Jimin menyikut rusuk Hoseok. "Coba, ya, jangan berlagak pilon! Pesan antara aku dan Yoongi cuma boleh dibaca kami berdua, tahu."
"Wow." Hoseok mengangkat-angkat alis dengan gaya meledek. "Sudah besar, nih, Jiminie. Malu-malu meong kalau ketahuan ngobrol sama pacar."
Jimin memutar bola mata, dan topik tentang Yoongi berhenti sampai di situ.
Di tengah sidang, Min Hajong resmi dipecat dari jabatan. Status seorang menteri tak boleh ternoda oleh dugaan sebagai bos kriminal. Polisi menahan anggota Mirror dan menutup lokasi usaha mereka—proses yang pelik, panjang, dan menelan korban sebab Mirror sempat melawan.
Bukti dan keterangan saksi kian memberatkan Min Hajong. Dia tinggal menunggu masuk penjara tanpa segelintir pun peluang bebas. Demi Yoongi dan ibunya, Jimin berharap vonis cepat dijatuhkan dan kasus dinyatakan selesai.
***
"Sidang kasus pejabat tinggi kadang bertele-tele," komentar Yoongi. "Banyak backing kuat dan halangan dari pihak berkuasa. Kasus ini beda, terlalu hitam putih. Menteri hukum merangkap ketua organisasi kriminal itu sulit dimaafkan. Masyarakat ingin keadilan lekas ditegakkan."
"Dan kamu, apa perasaanmu?" tanya Jimin. "Di luar segala peristiwa ini, beliau tetap ayahmu."
Dia dan Yoongi tengah berada di rooftop gedung apartemen Jimin. Awan mendung menyebar di langit, dan angin di ketinggian ini tak terlalu kencang. Bagi Jimin, sore ini bahagianya ganda: menonton pemandangan dari rooftop dan berada di samping Yoongi.
Untuk kali pertama sejak Min Hajong ditahan, Yoongi dan ibunya diizinkan keluar dari rumah aman. Paginya, mereka berdua mengunjungi kerabat. Yoongi memanfaatkan sisa waktu dengan bertemu Jimin. Dia datang bersama seorang detektif yang kini berjaga di pintu rooftop.
Yoongi membenamkan tangan di saku jaket. "Yang jelas, aku lega," ujarnya pelan. "Para korban mendapat keadilan. Mirror hampir pasti akan bubar. Tapi aku juga sedih atas nasib Ayah. Hanya akibat salah ambil jalan, hidupnya dan banyak orang jadi berantakan."
Jimin menepuk-nepuk punggung Yoongi. Lalu, masih tanpa sepatah kata, dia menggandeng lengan laki-laki itu. Ketika Yoongi tidak menampik, Jimin merapat dan mengeratkan gandengannya. Mereka berdiri dalam diam, berbagi kehangatan tubuh di tengah sore yang dingin.
"Imbas kasus ini bukan main, ya," cetus Jimin. "Banyak nama terkenal yang ternyata pernah dibantu dan membantu Mirror. Walikota, CEO, bos entertainment agency. Mirror betul-betul merajai Seoul selama bertahun-tahun."
Yoongi hanya mengangguk.
"Kamu sendiri? Apa kasus ini pengaruh ke pekerjaanmu?"
"Lumayan. Harga saham perusahaan agak anjlok. Salah satu karyawan sempat dirisak di internet, dituduh kaki-tangan penjahat. Aku tak sabar ingin lekas kembali kerja, menangani segala kekusutan itu."
Jimin mengelus-elus pinggang Yoongi dengan penuh simpati.
"Untungnya, banyak teman dan kenalan yang percaya padaku. Di SNS, mereka bercerita bahwa aku tak pernah setuju dengan sepak terjang Ayah. Hanya saja tak bisa mencegah, dan menentang dengan cara membantu korban."
"Ahh, begitu. Baguslah. Aku sumbang dukungan moral saja." Jimin ragu sesaat, lalu dengan cepat menambahkan, "Sebagai pacar."
Yoongi berpaling dengan sama cepat. Mata dan mulutnya terbuka lebar. "Sebagai....?"
"Kenapa? Tidak senang? Mau ditolak? Kamu nembak duluan, jadi aku jawab—atau yang waktu di restoran itu sudah tidak berlaku?"
"Hei, setop!" Yoongi menarik lengan dari gandengan Jimin. Suaranya bergetar, entah menahan tawa atau sebal. "Kasih waktu aku jawab dulu!"
Jimin mengatupkan mulut. Tadi dia sengaja menyerocos demi menutupi gentar. Sekian bulan telah berlalu sejak Yoongi dua kali meminta Jimin jadi pacarnya. Dalam kurun waktu itu, hidup Yoongi terjungkir balik. Perasaannya pada Jimin pun mungkin berubah atau bahkan lenyap. Kalau iya, ugh, malunya setengah mati.
Yoongi mengeluarkan tangan dari saku jaket. "Aku terima."
Jimin, yang tengah menyiapkan hati untuk ditolak, tertegun. "Eh?"
"Kurang jelas? Sini, aku ulangi. Kamu minta aku jadi pacarmu. Aku bersedia. Bagaimana? Perlu kontrak tertulis?"
Senyum Jimin mengembang. Rasa hangat, seperti yang dia rasakan saat makan malam di restoran, lagi-lagi menyebar dari dada. Seraya kembali menggandeng Yoongi, dia berbisik, "Terserah Min Yoongi ssi saja. Aku pacar yang penurut."
"Mmm. Aku juga, sih. Kayaknya kita bakal cocok. Omong-omong, aku punya syarat."
"Syarat?" Mata Jimin mengerjap. "Berat?"
Yoongi menyeringai. "Ringan, lah. Gampang pula. Kamu boleh jadi pacarku, asal bisa bagi waktu dengan menyayangi suamimu, Kim Seokjin."
