Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-12-31
Words:
945
Chapters:
1/1
Kudos:
9
Hits:
104

Letupan Tahun Baru

Summary:

"Tadinya mau ngajak stargazing," katanya, "Tapi ternyata langitnya mendung. Bintangnya gak kelihatan, kayanya pada minder sama Bintang yang ini, deh."

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Setelah menempuh dua puluh menit perjalanan, Renjun memarkirkan mobil berwarna grey metallic miliknya tepat di depan kediaman keluarga Bintang. Ia turun dari mobil dan menuntun tungkainya mendekat ke pintu utama.

Diketuknya daun pintu itu sebanyak tiga kali, sebagai tanda untuk tuan rumah kalau ada seseorang yang datang. "Bintang?" panggilnya agak kencang.

Tak lama kemudian, suara seorang perempuan yang begitu familiar untuk Renjun terdengar, disertai suara langkah kaki yang sedikit terburu. Papan kayu di hadapannya terbuka, menampilkan sosok Bintang dalam balutan kaos putih polos dengan lengan pendek, celana training berwarna hitam, serta rambut hitam legamnya yang dibiarkan terurai. Sederhana, tapi tetap sama di mata Renjun, cantik.

Bintang terlihat sedikit terkejut dengan kedatangan Renjun yang bisa dibilang terlalu tiba-tiba, padahal biasanya laki-laki di hadapannya ini akan memberitahu terlebih dulu sebelum datang ke rumahnya. "Ngapain?" tanya Bintang, heran.

"Mau ngajak pergi."

Bintang mengangkat sebelah alisnya. "Kapan?"

"Lebaran besok!" katanya, "Sekarang dong! Nih, buktinya aku udah di sini buat jemput kamu."

"Serius, Renjun? Jam segini?" setelah melemparkan pertanyaan itu, Bintang menyipitkan matanya, menelisik penampilan Renjun dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bintang baru sadar kalau saat ini Renjun hanya mengenakan kaos putih dilapisi jaket abu-abu kesayangannya, celana jeans di atas lutut, serta topi hitam. "Tapi dandanan kamu gak kaya mau ngajak pergi, tau gak?"

"Aku sengaja. Lagi pula, sekarang ini malam tahun baru, mau jam berapa pun kita keluar, pasti tetap ramai. Mendingan sekarang kamu ambil jaket, habis itu kita pergi, biar gak tambah kemalaman."

Bintang mengangguk kecil sebagai jawaban. Menyuruh Renjun untuk masuk dan menunggu di ruang tengah terlebih dulu, kemudian berbalik menuju kamarnya untuk mengambil jaket. Namun, baru beberapa langkah ia lalui untuk menuju kamarnya, suara Renjun sudah menginterupsi lagi. "Eh, Bintang … hati-hati."

_____

Sekarang sudah hampir pukul sebelas malam, tapi padatnya arus lalu lintas saat ini seperti memberikan isyarat kalau para cucu Adam belum ingin menutup hari dengan bercumbu bersama ranjang mereka —terlebih didukung dengan sebuah fakta bahwa beberapa jam lagi akan terjadi pergantian tahun.

Mobil Toyota Yaris berwarna grey metallic yang sempat berhenti di tengah-tengah kemacetan kini kembali memacu mesinnya, menembus jalanan malam dengan kecepatan sedang.

Udara terasa semakin menusuk kulit sesaat setelah mobil yang ditumpangi dua anak manusia itu berbelok, masuk ke area yang banyak ditumbuhi pohon rindang di sisi kanan dan kiri jalanan. Satu per satu pertanyaan kian bermunculan di kepala Bintang, seperti; Kemana kiranya Renjun akan membawanya?

Belum sempat membuka mulut untuk melemparkan salah satu pertanyaan yang tumbuh di kepalanya, tiba-tiba mobil tersebut berhenti di sebuah lahan kosong yang cukup luas. Renjun langsung turun dari mobil setelah melepas seatbelt yang melingkar di tubuhnya, berlari kecil menuju bagasi mobil untuk mengambil beberapa bawaan mereka. Meninggalkan Bintang yang masih termangu di kursi samping pengemudi dengan netra yang terfokus pada pemandangan di depannya —di sana, beberapa meter tepat di depan mobil, ada sebuah tikar menjereng dan sebuah teleskop besar terletak di sisi kanan tikar yang Bintang yakini milik Renjun. Menyadari hal itu, Renjun mengetuk pelan kaca mobil di samping Bintang. "Mau di situ terus? Gak mau turun?"

"Mau lah! Minggir, jangan di situ," titah Bintang.

Renjun mengedikan bahu dan berbalik, menggerakkan tungkainya ke arah tikar yang telah membentang dengan Bintang mengekor tepat di belakang.

"Kita mau ngapain ke sini?" pertanyaan itu muncul dari belah bibir si hawa saat mereka berdua telah menumpukan semua beban di atas kain dengan motif kotak-kotak berwarna blue baby dan putih.

Renjun merebahkan tubuhnya, menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan untuk kepala bagian belakangnya. Netra rubahnya berpusat pada langit gelap yang menjadi atap mereka, menarik nafas berat, dan menghembuskan perlahan. Renjun sedikit merotasikan wajahnya untuk menghadap figur indah yang berada di sebelah kirinya. "Tadinya mau ngajak stargazing," katanya, "Tapi ternyata langitnya mendung. Bintangnya gak kelihatan, kayanya pada minder sama Bintang yang ini, deh."

Setelahnya, suara tawa menyelimuti mereka. Keduanya terlarut dalam suasana, hingga Renjun menginterupsi dengan suaranya yang lugas. "Bintang," ucapnya.

Bintang merespons dengan berdehem, kepalanya Ia rotasikan untuk menatap Renjun. "Kita udah kenal lama banget, ya, kita juga selalu mengisi keseharian satu sama lain. Ke mana-mana kita selalu bareng, sedih ataupun senang kita bareng." Bintang masih diam menatap Renjun, menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari belah bibir Renjun.

Renjun menarik napas dalam-dalam sebelum meneruskan kalimatnya yang terputus tadi. "Aku udah terbiasa bareng-bareng kamu di setiap kegiatanku. Mungkin ini terlalu mendadak, tapi aku takut kalau nanti tiba-tiba kita gak bisa nerusin kebiasaan ini. Aku mau kita selamanya, sebagai pasangan," ucapnya menggantung. Renjun memiringkan tubuhnya, kini atensinya penuh tertuju pada Bintang. "Aku sayang kamu, lebih dari sekadar teman," lanjutnya.

Bertepatan dengan cahaya warna-warni yang bermekaran di langit kelabu, miliaran kupu-kupu imajiner muncul dan beterbangan di perut si hawa, memberikan rasa geli yang menyenangkan akibat pernyataan Renjun.

Cairan bening lolos dari kedua manik yang bersinar dengan indah, membuat Renjun panik bukan kepalang. Ia takut ada yang salah dengan ucapannya hingga membuat gadisnya menangis. "Are you okay?" Tangannya mengelus lembut rambut Bintang, menyingkirkan anak rambut yang hampir masuk ke mata.

"Stupid, you are so stupid! Aku selalu menunggu hari di mana kamu mengatakan itu, tahu gak?! I love you, I love you more than a friend, Ren," balas Bintang dengan suaranya yang sudah berubah parau. Ibu jari Renjun bergerak menghapus cairan bening yang terus keluar dari manik cantik itu.

Renjun bangkit dari posisinya. "Yes, I know I'm so stupid. So, kamu mau ngerayain tahun 2023, 2024, 2025, dan seterusnya bareng si bodoh ini?" tanyanya, kedua tangannya terbuka lebar, menanti jawaban dari gadisnya. Tanpa menunggu lama Bintang langsung menabrakan tubuhnya dengan tubuh Renjun, mendekapnya dengan erat. Wajahnya Ia sembunyikan pada dada bidang sang adam, membuat suaranya teredam, tapi masih bisa didengar. "Iya, aku mau."

Malam itu, dua anak adam saling menyatakan perasaan satu sama lain dengan beratapkan langit kelabu bertabur ribuan cahaya warna-warni yang bermekaran.

 

 

Notes:

I finally finished this! t_____t Ini pertama kalinya saya nulis sampai selesai. Terima Kasih banyak untuk teman-teman yang sudah mau direpotin. ❤