Actions

Work Header

Beyond Sparkles

Summary:

Jimin bertemu Jungkook lewat cara paling klise dan tidak terduga. Lantas menemukan fakta bahwa:

1. Jeon Jungkook adalah adik tiri Yoongi,
2. Min Yoongi menyukai Jimin (atau setidaknya begitulah Jimin menduga), dan
3. Jeon Jungkook tahu lebih banyak soal Jimin, lebih dari yang Jimin berencana bagi.

Orang bilang, cinta itu soal waktu. Jimin bilang, cinta itu soal kebetulan-kebetulan. Soal pertemuan acak, soal timing, juga soal orang yang tepat.

Notes:

HAIIIIII. OH MY GOD. AFTER TWO MONTHS (OR MAYBE MORE), FINALLY!!
Terima kasih sebelumnya kuucapkan pada Kak Ay dan Liv, teman beta readku. Pada Chi, Kak Ti, dan Amel, yang mau repot beta read hampir 50-an halaman. Juga pada S yang sudah commis. Semoga cerita ini cocok untuk kalian semua, para calon pembaca yang budiman.

Selamat membaca!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

 

 

Things would never be the same after I met you

 

 

2018

 

PARK JIMIN

LAKI-LAKI DENGAN TAHI LALAT DI BAWAH GARIS BIBIR

 

PERTEMUAN pertama Park Jimin dan laki-laki dengan tahi lalat di bawah garis bibir itu terjadi pada musim gugur. Dua hari setelah ulang tahunnya, di perempatan Seocho-dong. Laki-laki itu menarik pinggangnya setelah Jimin hampir terserempet motor sebab terlalu sibuk membalas pesan pada ponsel pintarnya. Jimin ingat aroma laki-laki itu; sedikit wangi musk, bercampur dengan losion beraroma buah, dan sedikit bau rokok. Jimin yakin laki-laki itu tidak punya aroma khusus. Tapi berbagai wewangian yang ada dalam dirinya membentuk aroma khas yang tidak Jimin temukan pada siapa pun.

“Hati-hati.” Suaranya terdengar lembut. Jimin mengangguk gugup.

Sewaktu Jimin tidak lagi dibuat mabuk oleh wangi yang ada pada laki-laki itu, dia baru menyadari motif baju yang laki-laki itu pakai. Pakaian hijau loreng, rambut yang dipangkas pendek, figur wajahnya yang lembut, rahangnya yang tegas, hidungnya yang bangir, matanya yang bulat, dan tahi lalat kecil di bawah garis bibirnya yang tampak mencolok. Laki-laki itu tampan. Tampan dan wangi adalah perpaduan yang mematikan; khususnya bagi Park Jimin.

“Makasih,” kata Jimin setelah tiga kali menelan ludah. Ia masih gugup, tentu saja. Sentuhan tangan laki-laki itu di pinggangnya masih bisa Jimin rasakan dengan jelas.

No problem ,” laki-laki itu mengulas senyum. “Jangan jalan sambil mandangin ponsel. Bahaya.”

Jimin mengangguk, meraba pipinya yang terasa panas lantaran malu. Laki-laki itu melirik pada lampu penyeberangan yang sudah kembali hijau, lantas mengedikkan bahunya. Ekspresinya terlihat jenaka sewaktu ia berkata; “Udah hijau, tuh. Sebaiknya lo nyebrang sekarang.”

“Ah, iya,” Jimin tergagap lagi. Kembali dia mengecek ponsel untuk kemudian sadar bahwa lima menit sudah berlalu dengan cepat. “Gue harus pergi sekarang. Sekali lagi makasih karena udah nolongin,” ia melirik papan nama pada seragam tentara yang laki-laki itu kenakan, “Jeon Jungkook.”

Jeon Jungkook mengangkat bahu, seolah berusaha menunjukkan bahwa hal yang dia lakukan lima menit lalu bukanlah hal besar. Jungkook melambai pada Jimin sewaktu yang disebut belakangan berlari menyeberangi jalan, dan masih berdiri di sana sampai Jimin berbelok dengan cepat dan terburu-buru. Di perjalanannya, Jimin berkali-kali berpikir ada berapa persen kemungkinan mereka bertemu lagi di tengah padat kota Seoul yang tidak pernah sepi ini?

Entahlah. Mungkin lebih kecil dari sepuluh persen.

 

 

 

JEON JUNGKOOK

COME BACK HOME

 

YOONGI hampir saja menjatuhkan tasnya sewaktu dia menemukan Jungkook duduk dengan tenang di atas sofa ruang tengah. Tangan kanannya menggenggam payung yang diletakkan dekat pintu masuk; yang diambilnya setelah melihat sebuah sepatu asing berdiri di atas rak. Kepalanya yang lelah sehabis seharian berkutat dengan angka dan uang berusaha keras memproses kejadian. Seingatnya, tidak ada satu pun orang selain adik tiri dan kedua orang tuanya yang tahu password apartemen Yoongi. Tapi Ibu dan Ayahnya sedang berkunjung ke Busan dan adik tirinya masih berada di Angkatan Udara. Jungkook seharusnya baru pulang—

Ah, tunggu. Kapan seharusnya Jungkook pulang?

“Kok, lo udah di sini aja, sih?” Yoongi terdengar seperti anjing yang sedang menyalak. Matanya yang semula lelah melotot ke arah Jungkook. “Lo pulang hari ini?”

Jungkook meletakkan semangkuk ramen yang sebelumnya dia peluk dengan mata melebar. “Lo mau mukul gue pakai payung, Hyung ?!” Jungkook nyaris berteriak.

“Bukan salah gue kalau lo balik nggak bilang-bilang!” Yoongi balas berteriak.

Uh, surprise?

Decakan terdengar dari bibir Yoongi sewaktu dia meletakkan payung di samping rak televisi. Laki-laki dengan rambut pendek warna tembaga itu menghela napas keras-keras, tidak habis pikir pada perilaku sembrono adiknya. “Gimana kalau tadi gue langsung telpon polisi, Jungkook? We have this technology called handphones, you know ?”

“Terakhir telepon, Ibu bilang mau ke Busan buat jenguk Bibi. Jadi gue nggak ngomong, deh. Takutnya Ibu udah janji sama Bibi dan harus batalin karena gue.”

“Orang tuh kalau balik military service justru kepingin dijemput sama keluarga,” Yoongi melonggarkan dasinya sebelum menggantung benda itu di gantungan kayu dekat jendela. “Ini, lo malah nggak ngasih kabar sama sekali.”

Yoongi merentangkan tangan. Gesturnya sedikit canggung, tapi dirinya sebisa mungkin mengekspresikan rasa bahagia. Jungkook masuk dalam pelukan singkat yang kakak tirinya berikan sambil menepuk-nepuk punggung lelaki yang lebih tua. Sekarang sewaktu Jungkook berada dalam pelukannya, Yoongi diingatkan kembali bahwa adik kecilnya itu bukan lagi anak laki-laki kecil yang kerap mengekorinya pergi ke tempat kursus. Bukan lagi remaja yang terus-terusan menerobos masuk ke kamar Yoongi tanpa permisi (kebiasaan menerobos Jungkook rupanya masih belum sepenuhnya hilang). Jungkook nya sudah jadi pria dewasa sekarang, sekalipun bagi Yoongi, Jungkook masih adik kecilnya yang selalu manis.

“Lo udah mandi?” Yoongi bertanya setelah Jungkook melepaskan pelukan singkat mereka.

Jungkook mengernyit. “Lo mau bilang gue bau, ya?”

“Sembarangan! Kalau lo udah mandi, kita keluar sekarang,” Yoongi mengusap kepala Jungkook sambil tertawa lebar. “ Gotta give my little brother a dinner he deserve .”

 

 

 

PARK JIMIN

PERTEMUAN KEDUA

 

MUNGKIN probabilitas bagi Jimin bertemu kembali dengan laki-laki itu ada lebih dari sepuluh persen.

“Oh, lo yang waktu itu.”

Sekali lagi Jimin menoleh ke belakang, memastikan bahwa dia mengetuk pintu apartemen yang benar. Tapi angka 701 yang terpasang di depan pintu tidak berubah. Seingatnya— dan kalau dia masih benar —senior satu kantornya Min Yoongi masih tinggal di sini. Tapi alih-alih Yoongi, yang Jimin temui sewaktu pintu membuka adalah figur tinggi dan besar Jeon Jungkook—yang beberapa hari lalu ditemuinya di Seocho-dong—dengan pakaian rumahan, rambut setengah basah, dan wangi tubuh yang sama memabukkannya.

“Ini apartemen Min Yoongi?” Jimin bertanya.

Jeon Jungkook tersenyum miring. “Terakhir gue cek, masih atas nama Min Yoongi.”

“Kenapa lo bisa ada di sini?”

“Kenapa lo kedengaran seperti ngelarang gue ada di sini?”

Alis Jimin berkerut. “Lo muter-muter pertanyaan gue. Lo kenal Yoongi- hyung dari mana?”

Jungkook membuat suara seperti bergumam, kentara sekali sedang berusaha membuat Jimin jengkel. Bibir Jimin perlahan-lahan mengerucut maju seiring dengan semakin lama waktu yang Jungkook buang untuk pura-pura berpikir. Jimin menghentakkan kaki, merasa kesal sebab tangannya yang sejak tadi menjinjing satu tas makanan hangat (yang hendak ia bagikan pada Yoongi setelah memasak terlalu banyak) mulai terasa pegal.

“Ya udah kalau lo nggak mau jawab. Gue bawa pulang aja makanan—“

Ey , tunggu, dong,” cegah Jungkook. Tangannya menarik ujung hoodie yang Jimin pakai. “Yoongi Hyung ada di dalam. Lo bisa masuk,” katanya, sebelum menyingkir dari pintu dan memberi ruang yang cukup bagi Jimin untuk berjalan masuk.

“Kenapa nggak begini aja dari tadi.”

Jungkook tertawa. “Seneng aja bikin lo kesel, Tuan Yang Tidak Hati-Hati.”

Jimin mendelik untuk terakhir kalinya sebelum menghambur masuk, menghampiri Yoongi yang sedang berbaring di atas sofa ruang tengah sambil menonton televisi.

“Hai, Yoongi- hyung .” Senyum Jimin merekah, kontras betul dengan ekspresi jengkel yang dipasangnya sewaktu bicara dengan Jungkook di depan pintu tadi. Dia beranjak ke meja makan, lantas mengeluarkan kotak-kotak berisi berbagai menu di atasnya seolah sudah melakukan ini berkali-kali. “Udah makan? Gue pikir lo izin balik cepet karena nggak enak badan. Ternyata ada tamu di sini.”

“Hai, Jimin,” Yoongi menyapa balik, mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk. “Gue baik-baik aja. Diisengin ya lo sama anak itu?” dagu Yoongi mengedik ke arah Jeon Jungkook yang sekarang sedang memasang wajah pura-pura bodoh.

Jimin terkekeh. “Yah, bisa dibilang gitu. Hyung sama Jungkook kenal dari mana?” Jimin bertanya, berdiri canggung memegang salah satu punggung kursi. “Oh, maaf. Kalian jangan-jangan pacaran, ya?”

“Ha?”

Hoek , jangan bercanda gitu, dong!”

Tawa Yoongi, yang nadanya rendah dan sedikit serak, kemudian berderai. Diikuti oleh tawa Jungkook setelahnya. Kedua laki-laki itu tampaknya menemukan hiburan di balik Jimin yang kebingungan. Entah kenapa tawa mereka terdengar seperti mengejeknya, jadi Jimin kembali memasang wajah sebal dengan dahi berkerut dan bibir mengerucut.

“Bukan pacar,” Yoongi menyudahi tawanya. Kontras dengan Jungkook yang masih sesekali terkekeh geli sambil menarik salah satu kursi makan. “Kenalin, Jimin, Jeon Jungkook ini adik gue .”

 

 

 

JEON JUNGKOOK

A MOTHER’S LOVE

 

IBU barusan telepon gue lagi, katanya lo susah dihubungi. Ayah minta gue ngomong ke lo, karena katanya Ibu khawatir banget.”

Sewaktu Jungkook membuka pintu kamar, ia dihadapkan pada Yoongi dan sorot matanya yang tampak sedang menghakimi. Kakak laki-lakinya itu sudah berada dalam balutan pakaian kantor; kemeja formal warna putih, serta dasi dan celana panjang biru tua. Kontras dengan Jungkook yang masih bertelanjang dada lantaran baru membuka mata.

“Oh, iya. Ponsel gue mati, lupa di charger ,” Jungkook menjawab asal. Kepalanya masih belum berfungsi dengan baik.

Yoongi menghela napas. “Kabarin Ibu, jangan lupa. Kasian dia khawatir.”

Jungkook menggumam panjang sebelum menguap lebar. “Lo hati-hati di jalan,” katanya, sebelum melesat masuk ke kamar mandi. Samar-samar didengarnya suara pintu menutup, pertanda kalau Yoongi sudah berangkat.

Jungkook baru akan menelepon Ibu setelah sarapan dan mandi sewaktu pintu depan dibuka. Dia hanya perlu mendongak sedikit untuk mengintip pintu depan dari sofa ruang tengah, lalu menemukan Ibu berdiri di balik pintu membawa kantong besar yang Jungkook duga berisi makanan. Perempuan favorit Jungkook yang masih bugar meski usianya terus bertambah itu berdiri dengan ekspresi sulit dibaca. Mungkin campuran antara marah dan haru.

“Ibu kenapa nggak bilang mau datang?” Jungkook buru-buru bangkit, lantas membawa tubuh hangat Ibu dalam pelukan rindu. “Maaf Jungkook kemarin capek banget, jadi langsung tidur. Ponselnya mati, baru nyala sekarang.”

“Ibu ‘kan khawatir kenapa kamu nggak angkat telepon, terus ponselnya nggak lama kemudian mati. Nggak ada kabar. Ibu takut anak Ibu kenapa-kenapa.” Nada bicara Ibu terdengar khawatir, dan Jungkook tahu dari mana asalnya. Dia hanya membalas dengan kecupan-kecupan ringan di bahu Ibu. Pertanda sayang sekaligus sebuah afirmasi bahwa dia ada di sini.

Senyum Jungkook terbit lewat usapan tangan Ibu di punggungnya yang terasa akrab. “Iya, maaf ya, Bu. Jungkook salah karena nggak kasih kabar dulu ke Ibu. Ini baru mau telepon, taunya Ibu udah datang aja.”

“Kakakmu bilang kamu masih di rumah, jadi Ibu langsung minta Ayah antar ke sini. Nih, Ibu bawa galbi tang , japchae, mandu sama chonggak kimchi . Kamu udah sarapan?”

Jungkook nyengir lebar. “Udah. Tapi selalu lapar lagi kalau ketemu masakan Ibu.”

Ibu menggigit bibir, seperti berusaha menyembunyikan tawa. Ia memukul pelan bahu anak laki-lakinya guna menutupi rasa malu. “Harusnya kalau kangen masakan Ibu, kamu pulang ke rumah. Jangan malah ngerepotin kakakmu.”

“Nggak apa-apa sekali-sekali ngerepotin Yoongi Hyung .”

Tangan Ibu memukul bahu Jungkook lagi. “Jangan dibiasakan.”

Jungkook melenguh pendek, mengusap-usap bagian bahu yang baru saja dipukul Ibu. “Ayo kita makan aja, Bu. Aku lapar!”

Ibu menghela napas. Seratus persen sadar bahwa Jungkook hanya sedang berupaya mengalihkan topik. Tapi perempuan paruh baya itu tidak membalas lagi. Ia biarkan anaknya duduk di meja makan selagi tangannya membuka satu persatu kotak makanan, pelan-pelan menikmati momen sederhana ini; melihat anak tersayangnya makan.

“Oh iya, Jungkook. Nanti coba kamu tanyakan ke Yoongi, kapan dia pulang. Ibu mau kirim makanan ke atas.”

“Atas?”

Ibu mengangguk. “Iya. Ke Jimin.”

 

 

 

PARK JIMIN

AH, MUNGKIN SAJA INI TAKDIR?

 

ORANG bilang, cinta itu soal waktu. Jimin setuju dengan anggapan bahwa untuk mencintai seseorang, ada langkah-langkah yang harus dilalui. Ada syarat kondisi yang harus terpenuhi. Mencintai tidak datang begitu saja dan butuh proses. Tapi Jimin belum pernah satu kali pun berpikir bahwa mungkin kalimat itu mengacu pada kebetulan-kebetulan. Pada pertemuan-pertemuan acak, pada timing yang pas, pada kondisi dan orang yang tepat.

Seperti sewaktu Jeon Jungkook muncul di depan pintunya dengan tiga susun kotak makan dan ekspresi iseng. Hanya untuk menemukan Jimin dalam balutan hoodie kebesaran, rambut berantakan, dan peluh membanjiri leher serta pelipis.

“Ibu ngirim makanan. Harus dibagi sama lo, katanya.”

Ekspresi Jeon Jungkook tidak berubah. Alisnya masih naik, sorotnya masih teduh, dan senyum jahilnya masih terpasang dengan baik. Jimin menunggu pertanyaan-pertanyaan itu datang, tapi Jungkook hanya berdiri di sana dengan tangan terulur, menunggu Jimin mengambil kotak makan yang ia bawa.

Canggung, Jimin mengambil susunan kotak makan itu sambil menggumamkan terima kasih yang nyaris tidak terdengar. Ia pikir, pertemuan mereka akan berhenti sampai di sana. Sampai Jeon Jungkook menjegal pintu dengan kakinya sewaktu Jimin menariknya hendak menutup.

“Lo nggak nyuruh gue mampir dulu?”

Jimin berdecak. “Jangan ajak berantem. Gue lagi sibuk.”

“Ngapain?”

Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan bagian dalam apartemen Jimin yang berantakan. “Masang rak buku.”

Jungkook mengintip dari balik bahu Jimin, lantas terkekeh. “Gue bantuin, sini, biar cepet selesai.”

Sejenak, Jimin terlihat skeptis. Menilik kebiasaan Jungkook yang kerap menggodanya untuk hal-hal sederhana, Jimin rasanya kurang bisa percaya kalau laki-laki ini betul-betul hendak membantunya.

“Serius, gue mau bantu.” Jungkook, seolah bisa membaca keragu-raguan dalam jeda di antara mereka berdua, berujar. “Lebih cepet kalau dikerjain berdua.”

Jimin pikir, takdir punya skenario yang kerap lucu. Beberapa hari lalu, keberadaan Jeon Jungkook belum bersinggungan dengan hidup Park Jimin yang biasa-biasa saja. Jeon Jungkook adalah entitas yang keberadaannya tidak Jimin ketahui. Lalu laki-laki bertubuh tegap dengan senyum congkak dan tahi lalat di bawah garis bibir itu berubah menjadi manusia menjengkelkan merangkap adik laki-laki seniornya di kantor. Orang yang menolongnya dari malapetaka, sekaligus manusia menyebalkan yang membuat Jimin marah-marah sendiri di berbagai kesempatan.

Hari ini, Jeon Jungkook menjadi tetangga yang Jimin tahu bisa ia mintai bantuan kapan saja. Ah, takdir memang kerap kali berjalan ke arah paling tidak terduga.

 

 

 

JEON JUNGKOOK

KISAH YANG TIDAK SENGAJA DICERITAKAN

 

PUKUL sepuluh malam dan di sinilah Jeon Jungkook duduk. Di sebuah kedai minum pinggir jalan dengan botol soju kedua dan Park Jimin di hadapannya. Wajah Jimin sudah sedikit memerah akibat terlalu banyak minum. Di sisi lain, Jungkook masih tampak baik-baik saja. Laki-laki yang yang berada di akhir usia dua puluhan itu bersikukuh berkata bahwa ia tidak hendak menemani Jimin pingsan setelah minum-minum. Harus ada yang menggendong Jimin pulang nanti kalau ia terlalu mabuk.

“Lo pasti seneng, punya Ibu yang hangat, yang mau nganterin lo makanan kayak gitu.” Jimin mengangkat cangkir soju miliknya, meminta Jungkook mengisinya kembali. “Gue udah nggak bisa lihat Ibu gue lagi, Jungkook. Dia udah nggak mau ketemu gue, nggak mau liat muka gue. She cut me off completely, dan lanjut hidup kayak gue nggak pernah ada.”

Jungkook tidak menimpal. Dia mengisi gelas soju Jimin tanpa mengatakan apa-apa. Dirinya mengerti bahwa Jimin rupanya sudah mabuk. Cukup mabuk untuk bercerita soal hidupnya pada orang yang baru ia kenal beberapa hari.

“Ibu nggak suka sama gue, Kook. Ibu bilang gue anak yang cuma bisa bikin dia malu. Anak gagal didikan.” Jimin terkekeh. “Aneh, ya, Ibu gue? Kalau gue salah didikan, seharusnya dia nyalahin dirinya sendiri. Kenapa nyalahin gue? Satu-satunya kesalahan gue adalah jadi diri gue sendiri. What’s so wrong with being myself?

“Lo bukan anak salah didikan, Jimin.” Jungkook meletakkan gelas soju di depan Jimin sedikit jauh dari jangkauan. Berjaga-jaga andai laki-laki itu menjatuhkan wajahnya ke meja seperti kebiasaan sahabatnya, Hoseok. Kepala Jungkook memproses informasi tidak lengkap yang Jimin sampaikan, dan tiba pada kesimpulan bahwa Ibu Jimin barangkali menyangkal sesuatu dalam diri putranya. Sesuatu yang Jungkook enggan prediksi, sebab itu bukan hal yang bisa ia campuri.

Jimin mengangkat wajah, menatap Jungkook dengan tatapan sayu. Iris cokelat tuanya berbinar oleh air mata yang mulai menggenang. “Menurut lo gitu?”

“Bukan menurut gue. Gue tau lo bukan anak salah didikan,” Jungkook meyakinkan Jimin. “Lo punya arti yang jauh lebih besar dari itu . Lo nggak boleh lupa hal itu. And if she can’t see your worth , that’s her loss .”

Lalu air mata yang sejak tadi menggantung di pelupuk Jimin akhirnya jatuh juga. Jungkook rasanya tidak asing pada ekspresi sedih yang kental di wajah Jimin. Barangkali laki-laki ceria yang baru Jungkook temui beberapa hari ini menyimpan lebih banyak hal dari yang bisa ia tampung. Jungkook tidak ingin berpendapat banyak, atau memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk membangun berbagai spekulasi. Ia tidak punya hak untuk ikut campur lebih dari yang Jimin minta.

 “Malam ini lo nggak nyebelin,” Jimin bergumam.

Jungkook terkekeh. “Khusus malam ini, gue kasih lo servis Jeon Jungkook yang pengertian.”

Takdir kerap menyajikan skenario yang lucu . Kata-kata itu mendadak bergema di kepala Jungkook. Malam ini, suara-suara dalam kepalanya teredam oleh bunyi penggorengan, oleh denting gelas dan botol soju , oleh suara Jimin yang sedang bersenandung Let It Be dari The Beatles. Hari ini, untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, Jungkook merasa hidupnya ternyata tidak begitu buruk juga.

 

 

 

PARK JIMIN

THE LUNCH (AND AN ACCIDENTAL MEETING)

 

TERHITUNG sudah satu minggu kira-kira Jimin menghindari Jungkook. Setiap kali hampir berpapasan di lift, di halte bus, atau di toko kelontong dekat apartemen, Jimin akan langsung berbalik dan mengambil langkah seribu. Ia belum siap menghadapi Jungkook setelah bangun di pagi hari dan mengingat setiap detail kejadian di malam sebelumnya. Soal dirinya yang mabuk, cerita-cerita yang terucap lancar dari mulutnya, tangisannya, dan racauan-racauan Jimin sewaktu Jungkook menggendongnya pulang.

Jimin merasa malu. Ia tidak pernah menangis di depan siapa pun sebelum ini. Mungkin beberapa kali di depan Taehyung, di masa lalu. Tapi Taehyung bukan orang asing buatnya. Kapan terakhir kali ia menangis, ya? Jimin sudah lupa. Ia tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan kesedihan, atau kemarahan. Yang Jimin pahami hanya bagaimana orang-orang lebih menyukai dirinya yang ceria, yang penuh energi. Orang-orang menyukai Jimin yang riang dan bahagia. Mereka tidak punya ruang untuk menampung Jimin yang sedih dan kesepian.

Lalu entah bagaimana, alam bawah sadar Jimin berpikir bahwa Jungkook adalah orang yang tepat. Yang bisa jadi temannya berbagi selain Taehyung serta jarak dan kesibukan yang memisahkan mereka. Jimin tidak tahu kenapa ia duduk di depan Jungkook, telanjang dan terang-terangan membuka sisi paling rapuh dalam dirinya. Kalau saja Jimin tahu ia akan bangun dengan segunung rasa malu, Jimin tidak akan mengizinkan dirinya mabuk sama sekali malam itu.

“Udah, sih, nggak usah dipikirin mulu.” Adalah nasihat yang Taehyung berikan pada Jimin di siang hari yang dingin di awal bulan November. Kulitnya sedikit terbakar matahari setelah pergi ke Mesir untuk bekerja selama dua pekan. Ia beberapa kali bersin. Terkena flu sebab perubahan suhu antara Mesir dan Korea terasa ekstrim baginya. Meski tentu saja, Taehyung tetap terlihat tampan seperti biasa.

Jimin menghela napas. “Nggak bisa. Kepikiran terus. Malu, gue, Tae.”

“Lo kebanyakan mikir. Padahal gue di sini karena seneng akhirnya sahabat gue yang keras kepala akhirnya punya orang selain gue yang bisa dia ajak ngomong.”

“Sekarang setiap ngeliat gue, Jungkook bakal mikir kalau gue messy . Both inside and out .”

Taehyung memutar bola matanya dramatis. “Lo nggak pernah berantakan di mata gue, Jimin. It’s just like Jungkook said . If your mother can’t see your worth, that’s her loss . The same goes for your father . Lo nggak gagal sebagai anak, atau sebagai manusia. This society sucks , but there will always be someone who accepts you for the way you are .”

Taehyung menyeruput teh hangat miliknya, mengisi tenggorokannya yang terasa kering. Di hadapannya, Jimin masih sesekali melamun. Terkadang kedua alisnya akan saling bertaut dan dia akan menghela napas seolah beban di kedua bahunya amat berat. Taehyung belum pernah bertemu Jungkook, tapi ia hampir saja merasa bahwa Jeon Jungkook yang Jimin ceritakan adalah bagian dari kesehariannya (saking seringnya Jimin bercerita).

“Lo nggak usah khawatir berlebihan,” kata Taehyung. “Padahal bisa aja dia—“

“Lho, Jimin?”

Bahu Jimin menegang. Taehyung mendelik pada laki-laki bertubuh tinggi yang baru saja menghampiri meja mereka berdua. Tubuhnya dibalut sebuah kemeja formal berwarna abu-abu, dengan celana panjang warna hitam. Laki-laki itu pasti orang yang Jimin kenal, meski Taehyung tidak begitu ingin tahu siapa.

“Hai, Jungkook.” Suara Jimin terdengar gugup. Matanya susah payah menghindar dari tatapan Jungkook. “Kok bisa di sini?”

Jungkook mengedikkan dagu, menunjuk pada barisan gedung di seberang kedai kopi. “Kantor gue gedung ketiga dari perempatan di sana. Anak-anak bilang di sini kalguksu nya enak. Jadi gue mau coba,” jawabnya. “Ini siapa?”

“Hai,” Taehyung menyapa. Bangkit dari kursinya sebelum mengulurkan tangan ke arah Jungkook. “Kenalin, Taehyung. Gue temen Jimin.”

“Jungkook.”

Taehyung menangkap tatapan Jimin, putus asa memberinya sinyal untuk berkata ‘tidak’. Tapi Taehyung bukan orang yang begitu saja menurut. Lagi pula, instingnya berkata bahwa Jimin akan kembali bercerita panjang lebar soal Jungkook kalau Taehyung tidak kabur saat ini juga.

“Kebetulan Jungkook ada di sini. Lo sibuk, nggak?” Taehyung, tanpa tahu malu, bertanya.

Jungkook menggeleng. “Nggak terlalu, sih. Abis ini paling mau balik kantor.”

“Gue kebetulan mau makan siang bareng sama temen kantor," Taehyung berbohong. “Tapi Jimin belum makan siang, tuh. Untung ada lo sekarang, Kook. Gue boleh titip ajakin dia makan siang, nggak, kalau lo nggak keberatan?”

“Lo dateng ke sini tapi nggak mau makan siang?” Jungkook mengerutkan alis, kelihatan tidak percaya.

Jimin rasanya sudah hampir ingin menangis sewaktu Taehyung bangkit dari kursi. Ingin rasanya menarik pergelangan tangan sahabatnya itu untuk kembali duduk dan menyelamatkan Jimin dari kecanggungan; tapi Taehyung tetaplah Taehyung. Laki-laki yang sudah ia kenali bertahun-tahun itu tetaplah manusia iseng yang senang mengerjai Jimin.

“Kangen doang sama temen gue. Emang nggak boleh?” Taehyung berkilah. Alasan sampah, kalau Jimin boleh mencela.

Seolah tidak memberikan kesempatan bagi Jungkook untuk berpikir lebih jauh, Taehyung buru-buru pamit. Ia abaikan total mimik wajah Jimin yang penuh permohonan, lantas berjalan ke pintu keluar tanpa satu kali pun menoleh ke belakang.

Suara derak kursi yang didorong ke belakang membuat jantung Jimin terasa hampir melompat keluar dari tulang rusuknya. Lalu aroma itu datang lagi; wangi yang hanya dimiliki oleh Jeon Jungkook seorang. Wangi musk, dengan sedikit aroma buah bercampur bau rokok. Tercium sedikit menyengat barangkali karena parfum laki-laki itu tinggal lebih lama pada kemejanya ketimbang seragam militernya.

"Temen lo unik," kata Jungkook, yang entah bermaksud memuji atau mengejek. Jimin tidak menimpal.

Oke, Park Jimin. Tarik napas, buang. Ulangi. Tarik napas, buang. Entah bagaimana caranya, Jimin harus melalui siang ini seperti laki-laki dewasa. Jungkook mungkin saja tidak mengingat malam itu, dan selama lelaki itu tidak berkata apa pun, Jimin akan berpura-pura tidak ingat.

“Lo udah pesen kalguksu nya?” Jimin bertanya. Suaranya sedikit bergetar, tapi ia harap Jungkook tidak menyadari itu (atau kalau pun iya, Jimin harap lelaki itu bisa diam saja).

Jungkook menggeleng. “Tadi liat lo pas masuk, terus langsung gue samperin aja. Lo udah pesen?”

Jimin mengangguk.

“Kalau gitu gue pesen dulu, ya? Lo tunggu di sini–”

“Eh, jangan!” Jimin mencegah, meraih ujung lengan kemeja Jungkook.

Alis Jungkook, yang baru Jimin sadar dihiasi oleh sebuah tindik di bagian ujung, terangkat heran.

“Itu… anu…” Jimin menggigit bibir. “Gue tadi pesen dua, kok, kalguksu nya.”

“Buat siapa?”

Jimin menelan ludah. Tidak tahu alasan macam apa yang hendak ia berikan pada Jungkook yang terlihat menunggu jawaban. Mana mungkin ia beri tahu Jungkook kalau ia hendak makan siang dengan temannya yang iseng sebelum The Kim Taehyung memutuskan untuk meninggalkannya makan siang berdua dengan Jeon Jungkook? Apa yang harus Jimin katakan kalau Jungkook bertanya perihal alasan kenapa Taehyung melakukan itu?

“Buat gue. Tadi gue laper banget jadi pesen dua mangkok.”

Sudut-sudut bibir Jungkook berkedut, pertanda bahwa ia sedang menahan tawa. Jimin merasa seluruh tubuhnya mendidih oleh rasa malu, tapi ia memutuskan untuk tidak bicara lagi. Berharap diamnya bisa menyelamatkan harga diri yang tinggal sedikit. Jungkook berdeham, berhasil menahan tawa meski gagal sewaktu mencoba untuk tidak tersenyum.

“Sekarang udah nggak selaper tadi?” tanyanya dibarengi senyuman kecil.

Jimin tidak menjawab.

“Ya udah. Gue nggak pesen,” kata Jungkook. “Tapi kalau lo kelaperan, jangan salahin gue, ya. Ini lo yang nawarin, lho.”

Jimin tidak menjawab, tidak menemukan kalimat balasan yang tepat untuk ia berikan pada Jungkook dan tawa yang lelaki itu berusaha tahan sekuat tenaga.

“Lo udah sering makan di sini?” Sepuluh menit habis oleh Jimin yang bungkam dan Jungkook yang sibuk sendiri akhirnya pecah oleh pertanyaan itu. Jimin mengangkat kepala, sejenak memindahkan perhatian dari layar ponselnya yang— kalau Jimin boleh berkata jujur —tidak terlalu menarik. “Kok bisa ya, kita nggak pernah papasan padahal kantor deket banget begini?”

Jimin mengangkat bahu, berusaha tampak tidak peduli. “Temen kantor gue memang lebih seneng Yeoksam-dong atau ke Gangnam sekalian kalau lagi banyak uang. Nggak terlalu banyak restoran menarik di deket sini.”

True . Varian makan siang gue selama satu minggu ini juga nggak terlalu menarik,” Jungkook mengamini. “Boleh, tuh, lain kali gue minta saran ke lo dulu sebelum makan siang.”

“Seminggu doang mah bisa, lah, nyobain dulu kuliner sini sampai muak. Baru deh nanti gue kasih rekomendasi yang banyak ke lo,” kata Jimin sambil terkekeh. “Gimana kerja di kantor berita beneran? Eh, bener kan kalau kantor lo itu Hankyang?”

Jungkook mengangguk. “Nggak beda jauh sama klub gue pas kuliah. Bedanya lebih ketat aja soal deadline , dan lebih luas koneksinya kalau masalah peliputan berita.”

“Oh ya? Lo ikut klub apa di kampus, emangnya? Eh, gue bahkan nggak tau lo kuliah di mana?”

“Satu-satu, dong, Jimin,” Jungkook terkekeh lagi. Jimin langsung bungkam mendengar bagaimana suara manis itu memproduksi tawa. Sempat ia berpikir, barangkali tawa Jungkook punya sebuah sihir yang memaksa Jimin untuk betah mendengarkan. Atau mungkin itu cara ujung hidungnya berkerut, atau cara matanya menyipit. Jimin tidak tahu ia terpukau oleh yang mana.

Sorry ,” Jimin mencicit. Suaranya terdengar gugup.

“Nggak masalah. Gue jawab, kok, tapi satu-satu. Lo bisa tanya semua hal sama gue pelan-pelan. Tapi nggak sekarang,” ucapan Jungkook terjeda oleh kedatangan pramusaji. “Kita makan dulu. Lo ‘kan lapar.”

Ah, hari ini Jimin benci kata lapar .

 

 

 

JEON JUNGKOOK

THE FEELING(S)

 

KEPALA Jungkook sedikit berdenyut nyeri sewaktu ia membuka pintu depan. Sepatu Yoongi duduk manis di atas rak, pertanda bahwa laki-laki itu sudah pulang setelah menghabiskan sepanjang minggu lembur dalam rangka persiapan closing tahunan. Jungkook juga tidak protes. Ia bahkan menghabiskan lebih banyak waktu di kantor ketimbang rumah, mengurusi peluncuran rubrik baru yang dijadwalkan selesai sore tadi. Jungkook menyukai kesibukan ini, sebab tidak terasa waktu berlalu tanpa ia perlu merasa bosan.

“Udah balik, lo?” Yoongi bertanya retorik. Laki-laki itu sedang duduk di atas sofa dengan segelas anggur di tangan kanan. Kakinya ia tekuk di depan dada, membuatnya tampak jauh lebih kecil dibanding biasa.

“Lo bisa liat sendiri,” jawab Jungkook asal. Tidak bermaksud membuat kakaknya kesal meski toh Yoongi tetap saja berdecak.

“Ibu telepon lo, nggak?” lagi, lelaki yang lebih tua bertanya.

Jungkook mengangkat bahu. “Ponsel gue nggak aktif dari tadi siang, kayaknya. Nggak sempet nge charge .”

“Padahal cuma launching doang tapi lo kok sibuk bener.”

“Ya lo pikirin aja lah gimana rasanya jadi Editor rangkap Layouter.”

Gantian Yoongi yang mengangkat bahu. Ia tidak paham rasanya jadi Jungkook. Ia tidak tahu apa yang adiknya kerjakan sebagai Editor, atau Layouter, atau untuk apa sebenarnya posisi itu. Tapi Yoongi mengerti bahwa mereka berdua lelah, dan atas dasar itu ia siapkan satu gelas kosong yang sejak tadi menunggu Jungkook pulang.

“Sini, minum,” ajak Yoongi selagi menuangkan anggur ke dalam cangkir Jungkook.

Sejujurnya, Jungkook hanya ingin tidur sekarang. Tubuhnya bau daging, dan kepalanya pening setelah minum entah berapa cangkir soju dalam makan malam perusahaan. Tapi anggur dan percakapan dengan Yoongi tidak pernah bisa ia tolak. Lagi pula, besok adalah Sabtu. Dan sekalipun Jungkook mungkin bangun dalam keadaan yang buruk, ia akan bisa menghabiskan hari dengan hanya bermalas-malasan saja.

“Jadi, Ibu ngomong apa?” Jungkook memutar gelas anggur, merasa bahwa ia harus melakukan itu untuk bisa menikmati isinya dengan benar. “Gue tebak, soal Natal?”

Bingo .”

“Ya gue nggak keberatan, sih. Tapi angkat tangan banget, deh, kalau misalnya Ibu minta disopirin ke temen-temennya.”

“Lho, ya emang itu fungsi lo sama gue, kan?” Yoongi membalas jenaka. Matanya hilang sewaktu ia tertawa. “Lo keberatan nggak, kalau gue ajak Jimin gabung sama kita buat Natal?”

Bibir Jungkook yang hampir menyentuh ujung gelas sewaktu gerakannya terhenti. Yoongi terlihat gugup. Laki-laki yang berperan sebagai kakak tirinya itu memutar-mutar gelas tanpa terlihat ingin menyesap isinya. Jungkook enggan berspekulasi, tapi Yoongi membuat perasaannya terlihat jelas sekali. Binar di matanya tidak pernah berbohong, dan perasaannya pada Jimin mungkin jauh lebih dalam dari yang Jungkook berani perkirakan. Ibunya bahkan mengenal Jimin dengan baik; cukup baik untuk mengiriminya makanan setiap kali berkunjung datang.

“Menurut lo, gue kasih apa buat Jimin pas Natal nanti?” Yoongi bertanya lagi, suaranya sedikit bergetar. “Gue udah mikirin hadiah-hadiah yang mungkin dia suka, tapi gue takut terlalu berlebihan jatohnya. I want to make it special, but I don’t want to put a burden to him .”

Just say you like him and go ,” Jungkook berujar, menghabiskan sisa anggur pada gelasnya.

Yoongi tertawa. “Gue keliatan banget, ya?”

Jungkook mengangkat bahu. “Siapa pun yang denger cara lo ngomong barusan juga bakal mikir hal yang sama kayak gue,” tukasnya jujur. “Tapi, Hyung , gue mau tanya soal dia.”

Suara gumam Yoongi beri sebagai persetujuan.

“Jimin ada masalah apa sama ibunya, Hyung?” lepas menelan ludah, tanya itu akhirnya Jungkook layangkan juga. “Gue pernah nemenin dia minum, diajak Jimin karena gue bantu dia pasang rak buku. Pas mabuk, he said something about his mother. About him not being good enough as her son. It sounded complicated. I couldn’t help but be curious.”

Ada jeda panjang setelah Jungkook selesai bertanya. Jeda yang diisi oleh bunyi jarum jam di dinding di belakang mereka berdua. Jungkook merasa hatinya berat oleh rasa tidak sabar. Yoongi yang terus diam membuat lelaki yang lebih muda mau tak mau mulai berpikir bahwa barangkali keputusannya untuk bertanya adalah salah. Mungkin seharusnya ia tidak peduli dan berpura-pura tuli pada apa pun yang Jimin katakan malam itu.

“Kalau dia belum cerita sama lo, tandanya dia masih belum mau berbagi sama lo,” Yoongi akhirnya bicara setelah mengisi gelas anggurnya dua kali. Matanya terlihat menerawang. “Gue juga nggak terlalu paham detailnya. But I do know that his family leave a very bad memories on his life. He always look sad and hurt if someone starts talking about family and such . Jadi gue minta lo jangan terlalu iseng sama dia, Kook. Hidupnya Jimin udah berat, dan kalau dia bisa cerita sama lo saat dia mabuk, mungkin aja suatu saat dia mau cerita sama lo pas dia sober .”

Jungkook tidak bertanya lagi. Mungkin ia harus betul-betul mematikan keingintahuannya, dan bersikap tidak peduli. Toh, siapa pula Park Jimin di hidupnya?

Tapi sudut di hatinya berkata bahwa Jungkook harus peduli. Bahwa ia harus memastikan kalau Jimin tidak merasa sakit; baik itu lahiriah, atau batiniah. Entah atas dasar apa, Jungkook tak tahu. Kenapa ia harus peduli, kenapa ia harus ingin tahu, kenapa ia harus memikirkan semua ini sekarang; Jungkook tidak menemukan jawabannya.

 

 

 

PARK JIMIN

THOUSANDS OF UNSPEAKABLE SORRY(S)

 

MAAF jadinya ngerepotin lo, Jimin.”

Yoongi berdiri di depan pintu dengan ekspresi berat. Koper di tangan kanan, dan backpack berisi laptop serta alat elektronik lain tersampir di punggung. Pesawatnya akan terbang kurang lebih dua jam lagi. Namjoon sudah menunggu di lobby dengan pesan yang tidak henti-hentinya membombardir ponsel Yoongi. Di sisi lain, Jimin terlihat santai. Senyumannya bahkan tampak cerah tanpa beban. Masih dalam setelan rumahan, laki-laki yang hari ini sedang libur itu berulang kali berkata ‘tidak apa-apa’ pada Yoongi yang masih merasa tidak enak.

“Santai aja, Hyung . Gue juga nggak terlalu banyak kerjaan kok, belakangan ini. Kalau buat ngecek keadaan adik lo selama lo pergi ke Singapore, sih, gue bisa.”

Yoongi berdecak. “Lagian itu anak kenapa pakai sakit pas gue mau ada trip gini, sih?” gerutunya.

Jimin tertawa. “Udah, mending lo sekarang cepetan pergi, deh. Kasian itu Namjoon Hyung nungguin lama. I’ll send you updates , biar lo nggak khawatir.”

Thank you so much. Lo penyelamat gue banget, pokoknya,” kata Yoongi, sebelum membuka pintu depan. “Maaf ngerepotin lo, sekali lagi.”

“Udah, santai aja! Lo jadi nggak berangkat-berangkat nih, gara-gara minta maaf mulu. Sana!”

Bunyi bip pelan menandai kepergian Yoongi di pagi hari yang masih gelap itu. Meninggalkan Jimin sendirian dalam apartemen yang bukan miliknya, bersama Jeon Jungkook yang terbaring penuh peluh di dalam kamarnya sendiri. Sewaktu Jimin memutuskan untuk kembali mengecek keadaan Jungkook, laki-laki yang lebih muda darinya itu sedang mengaduh beberapa kali. Barangkali lantaran demamnya tinggi, atau karena ia melihat hal-hal buruk dalam tidurnya yang tidak tenang.

Aneh rasanya melihat Jungkook kepayahan begini. Di mata Jimin, laki-laki itu selalu iseng dan banyak tingkah. Jungkook yang beberapa bulan dikenalnya itu selalu punya alasan untuk menggoda. Jadi sewaktu ia berbaring tanpa daya di atas ranjang, Jimin merasa tidak nyaman. Ia merasa bahwa Jungkook tidak seharusnya kesakitan seperti sekarang.

Lepas mengganti kain pengompres pada dahi Jungkook yang masih panas, Jimin memutuskan untuk pulang. Jam pada nakas menunjuk angka enam lewat lima belas. Ini hari Minggu, dan Jimin bangun terlalu dini. Matanya redup oleh kantuk, dan pulang ke rumah untuk melanjutkan tidurnya yang terjeda kedengaran seperti ide yang sempurna.

“Maaf....”

Belum sempat memproses niatnya untuk pulang, Jimin dikejutkan oleh rintihan Jungkook. Lelaki itu mengerutkan dahi, menangis dalam tidurnya.

“Maaf. Aku minta maaf....”

Ranjang berdecit sedikit sewaktu Jimin duduk di sisi Jungkook yang masih tidur; masih menangis memohon maaf pada entah siapa di dalam mimpinya yang tidak bisa Jimin baca. Matanya masih menelurkan butir demi butir air mata, dan Jimin mau tidak mau merasa penasaran pada rasa bersalah yang Jungkook pendam. Untuk siapa?

“Nggak apa-apa, Jungkook. Nggak apa-apa.”

Pada akhirnya Jimin tahu bagaimana rasanya mengelus kepala Jungkook. Bagaimana rambut laki-laki itu, yang luar biasa halus, bergerak di sela-sela jemarinya. Bagaimana bau mint menguar keluar dari kulit kepala laki-laki itu. Pada akhirnya Jimin urung pulang. Ia memilih untuk membebaskan Jungkook dari mimpi buruknya dengan berulang-kali berkata pada laki-laki itu bahwa segalanya akan baik-baik saja. Meskipun Jimin tidak tahu, segalanya macam apa yang sedang ia bicarakan di sini. Meskipun Jimin tidak mengerti rasa bersalah macam apa yang Jungkook simpan seorang diri.

Jimin pikir, pada akhirnya setiap orang punya luka mereka masing-masing yang enggan mereka bagi. Dia, Jungkook, dan setiap kepala yang hidup di semesta ini. Jungkook pernah membagi telinganya untuk mendengarkan keluh kesah Jimin, jadi Jimin akan membiarkan waktunya habis membantu lelaki itu mengusir mimpi buruknya. Pada akhirnya Jimin biarkan kantuk menjemputnya di samping Jungkook. Membawanya pada tidur lelap yang tidak pernah ia duga akan ia bagi bersama laki-laki yang sampai beberapa bulan lalu tidak pernah bersinggungan dengan hidupnya.

 

 

 

JEON JUNGKOOK

ORANG DARI MASA LALU DAN LUKA YANG BELUM KERING

 

JUNGKOOK tidak tahu cara menerjemahkan letupan di dadanya sewaktu ia lihat Jimin melambai padanya di lobi gedung. Ia tidak tahu kenapa sudut-sudut bibirnya terangkat tinggi, dan mood nya mendadak naik. Tapi begitulah perasaannya sekarang, dan Jungkook memutuskan untuk tidak menyangkal.

“Sumpah deh, ngagetin aja, lo. Ngapain di sini, sih?”

Jungkook pikir ia sudah sedikit gila. Atau mungkin Jimin sudah jadi sosok yang familier baginya untuk tidak merasa terganggu pada omelan laki-laki itu soal apa pun . Alih-alih tersinggung dimarahi di depan belasan pasang mata, Jungkook hanya tertawa. Wajah marah Jimin terlihat lucu, dan cara laki-laki itu mengerucutkan bibir tampak luar biasa menggemaskan.

“Mau ngajak lo makan siang bareng,” kata Jungkook dibarengi tawa yang masih belum luntur. “Sekalian ucapan terima kasih karena lo udah nemenin gue pas sakit. Bikinin bubur, ngomel karena gue nggak mau makan, terus ngomel lagi pas nyuruh gue minum obat, terus ngomel lagi pas bantu lap badan—“

“Kenapa kok kedengerannya kerjaan gue cuma ngomel doang, sementara yang resek dan manja pas sakit ‘kan lo?”

Jungkook tertawa lagi. Kalau dipikir-pikir, ia sering tertawa belakangan ini. Jungkook tidak begitu ingin tahu alasan di balik kebahagiaannya yang mendadak datang berulang-ulang, tapi ia tahu itu berhubungan dengan Jimin dan bagaimana laki-laki itu bersikap di depannya.

“Gue dapet rekomendasi restoran seafood enak, nih. Makan siang sama gue, ya, Jimin? Lo ada alergi seafood , nggak?”

It’s Hyung for you, Brat ,” Jimin mendengus. “Dan gue nggak ada alergi.”

Great, kita ke sana, kalau gitu,” kata Jungkook dibarengi cengiran lebar. “Males, ah, manggil Hyung ke lo. Nanti jadi adik-kakak zone .”

Jimin mengerutkan dahi. Berpura-pura tidak mengerti meski tubuhnya jelas berkhianat dengan mengirim rona pada kedua pipi. “Maksudnya gimana?”

Jungkook tidak menjawab. Lelaki itu sudah dengan kasual menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Jimin, menggenggamnya dengan akrab dan menariknya keluar dari gedung perkantoran tempat Jimin bekerja. Jimin bisa mendengar bisik-bisik iseng dari teman-teman sekantornya yang kebetulan hendak keluar, membuat wajahnya semakin matang oleh rasa malu.

Tapi Jimin memutuskan diam dan menikmati keadaan. Lagi pula, genggaman tangan Jungkook terasa hangat, dan Jimin tidak keberatan sama sekali.

 

∞ 

 

JUNGKOOK membawa Jimin ke Yeongdogjib, sebuah restoran seafood dekat perempatan Seocho-dong tempat mereka pertama kali bertemu. Jungkook memesan paket senilai empat puluh ribu won berisi berbagai hidangan seafood berisi gwamegi, telur rebus, jeon , belut bakar, sekkosi , ikan makarel, lobster, dan semangkuk nasi. Bau segar dari makanan di hadapannya membuat perut Jimin bergemuruh minta segera di isi.

 “Makan yang banyak, Jimin,” kata Jungkook, masih dengan senyum di wajahnya yang terus-terusan membuat Jimin tersipu.

“Jungkook?”

Sebuah suara lembut memecah kesunyian makan siang Jungkook dan Jimin. Datang dari seorang perempuan berambut sebahu dengan mata bulat dan senyuman manis yang berdiri tepat di sisi meja mereka. Jungkook mengenal dengan baik suara ini. Ia tidak akan pernah lupa. Tapi untuk bertemu hari ini, di depan Park Jimin, dalam keadaan hati yang belum siap adalah hal yang berada di luar ekspektasinya.

Park Jihyo masih sama menawan. Masih perempuan yang membuat Jungkook tidak henti-hentinya berdecak kagum. Masih orang yang cantik luar dan dalam. Jungkook ingat pada bagaimana teman-teman kuliahnya kerap berkata bahwa mungkin saja Jungkook pernah menyelamatkan negara di kehidupan sebelumnya untuk bisa mengencani Jihyo. Ia ingat pada bagaimana perempuan itu membuatnya jatuh cinta dan tergila-gila sebelum semuanya redup dimakan waktu.

“Bener ternyata, Jungkook,” Jihyo berkata lagi. Mata bulatnya menyala oleh kehidupan; tidak lagi mati seperti terakhir kali Jungkook tinggalkan. “Maaf, ya, ganggu. Excited banget ketemu kamu lagi setelah... entah berapa lama.”

Jungkook menelan ludah. Berkali-kali ia reka ulang kejadian ini di dalam kepala. Pertemuan pertama mereka setelah perpisahan yang menyakitkan, dan jutaan maaf yang belum sempat Jungkook sampaikan. Tapi segala kalimat permohonan ampun yang telah ia rangkai sejak lama kemudian rontok di hadapan senyum Jihyo yang selalu tulus. Tidak ada dendam, tidak ada kebencian; hanya Jihyo dan segala pengertian yang selalu perempuan itu berikan. Pengertian yang tidak layak Jungkook dapatkan.

“Aku—“ Jungkook tercekat. Mendadak ia didera keinginan kuat untuk menangis di sini, di hadapan Jimin dan belasan kepala dalam ruangan. “Aku baik, Ji. Kamu gimana?”

“Aku juga baik, Kook. Mumpung ketemu, aku mau kenalin seseorang,” kata Jihyo, lantas memberi sinyal pada seorang laki-laki untuk mendekat.

Laki-laki itu tinggi. Mungkin lebih tinggi dari Jungkook sedikit. Kulitnya seputih salju, dan matanya kecil. Pada pandangan pertama, Jungkook menangkap ketidak sukaan darinya. Perasaan yang seratus persen Jungkook yakini datang dari perilaku bajingannya di masa lalu. Jungkook memutuskan untuk menerima dan mengulurkan tangannya terlebih dahulu.

“Jeon Jungkook,” katanya, memperkenalkan diri. “Ini Park Jimin, tetangga apartemen gue.”

Laki-laki itu menjabat tangan Jungkook sedikit kencang. “Kang Eui-gon.”

“Park Jimin,” kata Jimin dengan senyuman tipis. Tangannya bertaut dengan Eui-gon dan Jihyo bergantian.

“Kita harus pergi sekarang. Butiknya udah telepon terus dari tadi.” Itu Eui-gon yang bicara. Kelihatan betul tidak nyaman pada situasi yang memerangkap mereka berempat.

Jihyo mengangguk. “Aku pamit dulu, ya, Jungkook?” Jihyo mengulas senyuman lagi. Jungkook merasa hatinya perih setiap kali ia lihat senyuman yang tampak tulus itu. “Aku nikah satu bulanan lagi. Kamu datang, ya?”

“Pasti,” Jungkook menjawab. Ia bahkan tidak perlu berpikir dua kali.

Mata hitam Jungkook mengawasi punggung Jihyo dan Eui-gon bersisian keluar dari restoran. Sesekali, bahu perempuan itu akan terguncang oleh tawa. Jungkook melihat bagaimana Eui-gon melingkarkan tangannya di pinggang Jihyo dengan kasual; seolah ia sudah ribuan kali melakukan itu. Ayunan langkah mereka terlihat ringan dan bahagia. Dan percayalah, Jungkook tidak merasa iri. Ia hanya belum bisa menepis rasa bersalah dalam hatinya meskipun waktu sudah berjalan lama.

“Siapa itu, Kook?” Jimin, yang sejak tadi susah payah menahan rasa ingin tahunya, akhirnya bertanya.

Jungkook melirik Jimin, memandang pada netra cokelat tuanya yang hangat dan entah kenapa selalu terasa menenangkan. Ia menarik napas dalam sebelum menjawab. “Mantan tunangan gue.”

 

 

KETIKA Hoseok membuka pintu, ia dihadapkan pada senyuman lelah Jungkook dan setitik air mata menggantung di pelupuk. Sudah jam sembilan malam, dan Hoseok tebak Jungkook bahkan tidak repot-repot pulang dan mandi. Lelaki itu masih berada dalam setelan kerjanya, sebuah kemeja pas badan dan celana bahan warna gelap. Sahabat yang dikenalnya belasan tahun itu terlihat kacau, dan Hoseok tahu betul Jungkook jarang sekali terlihat kacau.

“Gue boleh masuk?”

Suara Jungkook terdengar lirih, dan serak, dan penuh oleh perasaan yang barangkali siap membuncah sewaktu-waktu. Hoseok buru-buru memberi ruang bagi lelaki itu untuk berjalan memasuki apartemen, membiarkan Jungkook memasuki teritorinya. Jungkook meletakkan tasnya di atas meja, membuka kancing teratas kemejanya yang sudah kusut, lantas melemparkan tubuh ke atas sofa.

“Ada apa?” Hoseok tidak mampu menahan keingintahuan. “Lo keliatan kacau. Pasti ada apa-apa, kan?”

“Gue tadi ketemu dia.”

Hoseok berdecak. “Dia siapa? Yang jelas bisa nggak sih, kalau cerita tuh?”

“Ambilin minum dulu dong, Hos. Gue haus banget.”

“Lo datang-datang ke rumah orang bukannya bawa bingkisan malah ngelunjak, ya?” cerocos Hoseok. Bibirnya bersungut-sungut sewaktu ia melangkah ke dapur demi mengambilkan Jungkook segelas air dingin; yang langsung lelaki itu tandaskan dalam satu kali tegukan.

Thanks .”

“Lo udah kayak nggak minum dua hari.”

Jungkook terkekeh. “Yah, ada lah dari siang.”

Hoseok tidak membalas. Ada yang berbeda dari Jungkook, pikirnya. Laki-laki yang sudah ia kenal bertahun-tahun itu terlihat kacau. Seolah ia baru saja menghadapi mimpi buruknya dalam perjalanan pulang tadi. “Lo kenapa, sih, Kook? Did something happen?

“Tadi siang, pas gue ajak Jimin makan siang bareng—“

“Bentar, gue potong. Jimin cowok manis yang lo ceritain ke gue?”

Jungkook menganggukkan kepala. “Iya, Jimin yang itu, ” jawabnya. “Gue ketemu Jihyo pas lagi makan siang sama Jimin.”

Ah, Jihyo, rupanya. Sudah lama sekali sejak nama itu meninggalkan bibir Jungkook. Mungkin dua tahun; atau lebih, Hoseok tidak lagi bisa mengingat kapan. Ia hanya tahu kalau Jungkook punya segudang rasa bersalah untuk perempuan yang selalu ceria itu. Jihyo perempuan baik. Tapi perpisahan mereka meninggalkan bekas yang barangkali terlalu dalam untuk Jungkook tanggung sendiri.

She looked happy . Dia punya tunangan sekarang. Mereka keliatan serasi,” Jungkook melanjutkan. Tatapannya terkunci pada dinding apartemen Hoseok yang berwarna gading. “ She deserve it . Tapi pas gue liat dia sekarang, gue ngerasa gagal jadi manusia. Mungkin sewaktu sama gue dulu, dia juga sebahagia itu. Dan gue udah ngehancurin semuanya, Hos. Rasa bahagia dia, harapan kita berdua. All for my own selfishness .”

She deserve it , indeed . Tapi lo nggak boleh lupa kalau lo juga berhak buat bahagia, Kook. Dia udah maafin lo. Lo yang belum maafin diri lo sendiri.”

Jungkook memejamkan mata. Air matanya turun dengan tenang, mengalir ke telinga. Tangisan Jungkook berlangsung tanpa suara, tanpa isakan. Tapi Hoseok merasa segalanya menjadi lebih menyesakkan. Mungkin lebih baik kalau Jungkook berteriak padanya, atau memukulnya, atau mengeluarkan kesedihan itu tidak peduli apa pun bentuknya. Tapi lelaki itu memilih untuk menyimpan semuanya sendiri. Jeon Jungkook selalu begitu, dan Hoseok selalu ikut bersedih untuknya.

“Jangan terlalu keras sama diri lo sendiri, Kook. You need to make peace with your self. You have to accept the fact. Sometimes we love a person, and the next second we don’t love them anymore. She’s not the one for you, and you’re not meant to be together.

“Gue takut kalau mungkin gue cuma bakal terus ngehancurin harapan orang, Hos.”

“Atau mungkin suatu saat nanti, lo akan ketemu orang yang bikin lo merasa bahwa cinta kalian benar . That it feels right, and that you want to fight for it .” Hoseok menepuk bahu Jungkook dua kali. “Lo dan Jihyo sama-sama merasa bahwa cinta kalian nggak bisa diperjuangkan lagi; so you gave up . Nggak salah, Kook. Lo bikin pilihan, Jihyo juga. Dia udah berhasil menerima konsekuensi dari pilihan itu dan ngelanjutin hidup.

Nah, lo sendiri gimana?”

Jungkook mengangkat bahu. “Belakangan ini gue bahagia banget, Hos. He made me happy . Tapi gue takut gue bakal ulangin hal yang sama ke dia. He doesn’t deserve it .”

Deserve, deserve... itu mulu yang lo omongin. Lo emangnya ada niat nyakitin dia?”

“Ya nggak lah, Hos. Udah gila, apa?”

“Itu dia poinnya. Lo nggak pernah berniat nyakitin orang, Kook. Not Jihyo , not anyone . Selama lo nggak meniatkan itu, itu nggak akan terjadi. Sekalipun terjadi, lo tinggal perbaiki diri lo dan mulai lagi. Gitu terus sampai lo akhirnya nggak lagi ngulangin hal yang sama.”

“Gue jadiin Jimin percobaan, kalau gitu?”

“Ya bukan percobaan, dong, bodoh,” Hoseok memukul kepala Jungkook saking gemasnya. “Lo serius sama dia? Jalanin aja. Kalau misal nanti ada sandungan di hubungan kalian, ya perbaiki bareng-bareng. Menurut gue, selama lo berdua rela nyoba terus, it will be worth it .”

Kalimat Hoseok bergema di telinga Jungkook. It will be worth it. It will be worth it . Barangkali yang ia butuhkan adalah orang yang tidak akan menyerah bersamanya, dan Jihyo bukan sosok itu. Mereka berdua sepakat untuk berhenti mencoba, dan Jungkook tidak pernah berhasil sembuh dari rasa bersalah sebab berpikir bahwa ia adalah si brengsek yang memulai keretakan lebih dulu. Tapi seperti yang Hoseok bilang, it takes two to tango .

“Tapi ada satu masalah lagi, Hos,” kata Jungkook setelah jeda yang agak lama.

“Apa?”

Jungkook menelan ludah. “Yoongi Hyung suka sama Jimin juga.”

 

 

 

PARK JIMIN

KE MANA KAPAL BERLABUH

 

JIMIN setengah mati ingin tahu, meskipun ia berpura-pura seolah ia tidak peduli. Ia ingin mendengar cerita Jungkook soal kesedihan yang berkabut di matanya, soal perempuan bernama Jihyo yang pernah merencanakan masa depan bersamanya, soal kemungkinan bahwa laki-laki itu tidak sepertinya , dan soal banyak hal yang sepertinya Jungkook simpan sendirian. Jimin ingin bertanya, tapi ia tidak mau disebut ingin tahu, atau sok peduli. Jimin ingin mendengar cerita Jungkook, tapi ia ingin Jungkook sendiri yang merasa perlu untuk bercerita padanya.

Kompleks, bukan?

Alih-alih mendapat penjelasan dari Jungkook, lelaki itu malah diam sepanjang jalan dari restoran ke kantor. Ia mengucapkan selamat tinggal pada Jimin dengan nada datar, dan lelaki itu bahkan tidak balas melambai pada Jimin sewaktu ia keluar dari gedung perkantoran. Jungkook seperti tersesat dalam labirin pikirannya sendiri, dan Jimin tidak tahu kenapa tapi asumsi soal Jungkook yang merasa resah oleh perempuan yang tidak Jimin kenali membuatnya uring-uringan.

Tapi bukan Jungkook yang menghubunginya tadi malam untuk bertanya apakah Sabtu Jimin senggang. Bukan Jungkook yang mengajaknya menonton film. Bukan Jungkook yang menjemputnya pagi tadi, membawakan Jimin segelas kopi dengan senyuman dan ucapan selamat menyambut hari.

Bukan Jungkook, tapi Yoongi.

This is for you .”

Yoongi menyerahkan pada Jimin sebuah buket bunga mawar merah yang ia ambil dari jok belakang mobil. Jimin menerima buket itu dengan canggung, meletakkannya pada pangkuan.

Jimin menggigit bibir. Enggan berpikir mengenai apa dan kenapa Yoongi mengajaknya keluar dan memberinya bunga. “Dalam rangka apa, nih, Hyung ?”

“Cuma mikir kalau bunganya cantik. And you deserve every beautiful things .”

Jimin tidak menjawab, jadi Yoongi putuskan untuk menyalakan mesin mobil dan mulai berkendara.

“Gue nggak tau ini cocok sama lo atau nggak, gue cuma milih film apa pun yang sekiranya bakal OK,” Yoongi berujar sewaktu mereka sampai di lampu merah. Laki-laki yang biasa tampil santai atau formal (Jimin serius, there’s no in between ) itu terlihat berbeda sewaktu ia menjemput Jimin dengan turtleneck hitam dan jaket kulit. Seperti bukan Yoongi yang Jimin kenal.

Jimin tersenyum maklum. “ It’s okay . Gue suka rom-com juga, kok. I honestly am fine with anything, really .”

Thank God .”

Lalu hening. Radio mobil Yoongi memutar All I Ask dari Adele, dan Jimin tidak pernah tidak bernyanyi tiap kali ia mendengar lagu ini. Andai yang berada di dalam mobil ini bersamanya adalah Taehyung, bisa dipastikan mereka berdua sudah memutar album-album Adele, juga Troye Sivan, Bruno Mars, dan penyanyi-penyanyi lain sampai mobil di belakang perlu membunyikan klakson panjang-panjang sebab mobil mereka tak kunjung bergerak.

Bersama Yoongi, Jimin merasa bahwa ia perlu menahan diri. Sedekat apa pun, Jimin selalu merasa segan. Ia berada pada hubungan profesional dengan Yoongi selama di kantor, dan lelaki itu adalah tetangga yang baik. Tapi hubungan mereka tidak bisa didefinisikan sebagai teman dekat untuk Jimin merasa dapat menjadi dirinya sendiri. Jimin tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kenyamanan . Ia hanya tahu kalau bersama Yoongi, ia tidak seratus persen merasa begitu.

Waktu terasa lambat bagi Jimin sewaktu ia melangkah keluar dari bioskop bersama Yoongi di sisinya. Jimin menyukai filmnya, meski secara garis besar ia tidak merasa bahwa hari ini istimewa. Di sisi lain, Jimin tahu Yoongi sedang merasa gugup. Jimin tidak bodoh. Ia tahu ke mana hari ini akan mengarah. Ia tahu bagaimana membaca cara Yoongi memandangnya. Jimin tahu, tapi ia memutuskan untuk tidak merespons.

Langit sudah lebih gelap, dan mereka sepakat untuk makan malam di sebuah restoran pasta. Menurut keterangan Yoongi (yang sudah repot-repot mencari rekomendasi restoran enak dua hari sebelumnya), restoran itu masih berada dalam komplek mal. Jimin biarkan Yoongi memandunya tanpa banyak bicara.

“Lah, itu anak ngapain di situ?” Yoongi tiba-tiba berujar. Langkahnya terhenti sebelum memijak eskalator turun.

“Siapa, Hyung ?”

Yoongi mengedikkan dagu, menunjuk pada restoran cepat saji di samping mereka. “Jungkook. Kayaknya lagi jalan sama temennya.”

Jimin tidak tahu kenapa tubuhnya merespons cepat sewaktu Yoongi menyebut nama itu— Jungkook . Ia tidak tahu kenapa jantungnya mendadak berdebar, atau kenapa semangatnya kembali naik setelah sepanjang sore sibuk berpikir soal apa yang hendak Yoongi lakukan hari ini setelah jalan-jalan mereka selesai.

Lalu ia temukan Jungkook di sana, di dalam restoran, terlihat tampan dengan jaket denim biru tua dan rambut tertutup topi, berbincang dengan perempuan yang Jimin tidak kenali siapa. Rasanya aneh melihat Jungkook duduk di sana, membiarkan orang lain melihat hidungnya yang mengerut dan matanya yang menyipit sewaktu ia tertawa.

Jimin merasa tidak nyaman. Ia merasa bahwa dadanya mendadak sesak oleh rasa iri dan ketidaksukaan tanpa alasan. Jimin tidak suka melihat tawa itu Jungkook bagi dengan orang lain yang tampak akrab dengannya. Pertanyaan soal siapa perempuan itu dan bagaimana Jungkook memandangnya berputar di kepala Jimin dan membuatnya pening.

Hyung...” Jimin menarik lengan jaket Yoongi, menahannya sebelum ia sempat melangkah pada tangga eskalator. “Kita pulang aja, yuk?”

“Tapi—“

“— please ?”

Maka dengan berat hati, dengan tatapan sayu dan kesedihan berkabut di kedua mata, Yoongi mengangguk setuju. Malam itu, mereka pulang bersama hening yang menemani. Yoongi mengantar Jimin sampai ke depan pintu, tapi tidak ada percakapan di antara mereka selain ucapan selamat tinggal dan terima kasih yang kering. Yoongi terlihat lelah, dan Jimin sibuk dengan apa pun yang berlarian dalam pikirannya. Malam itu Jimin memutuskan untuk bersedih sendiri. Malam itu Jimin memutuskan abai pada fakta bahwa selain hatinya, ada hati lain yang patah juga.

 

 

KALAU menurut gue sih, lo nggak punya hati.”

Pembuka yang Taehyung pilih untuk ceramah pagi harinya ternyata lebih pedas dari yang Jimin duga. Sahabatnya datang pada pukul sembilan, dengan semangkuk bubur pinus dan dua gelas americano . Jimin tidak tahu harus bagaimana merespons kalimat sinis yang Taehyung lontarkan tanpa emosi itu selain memberi ringisan dan merenung sendirian.

“Lo at least bisa ngasih dia proper rejection , Park Jimin. Nggak, jangan potong gue,” peringatan Taehyung membuat Jimin mengatupkan bibirnya rapat-rapat. “Gue tau lo sadar betul kalau dia punya maksud lain sama lo. Siapa yang mau repot-repot pesen buket bunga mawar, ngajak lo nonton film romantis, ngenalin lo ke orang tuanya, perhatian sama lo, dan nggak punya maksud buat ngajak pacaran?”

“Gue juga nggak mau menyangkal,” kata Jimin. “Gue tau dia suka gue, Taehyung. And he was super nice. Dia kayak kakak laki-laki yang nggak pernah gue punya. Tapi pikiran gue kacau banget semalem, Tae. Gue cuma pengen pulang.”

“Dan itu karena lo abis liat Jungkook sama cewek?”

Jimin mengangguk lamat-lamat. Rasanya malu, tapi kesal juga kalau ia ingat kembali. “ Do I like him, Tae? Maksud gue... gue nggak mungkin ngerasa semarah ini kalau gue nggak suka sama dia, kan?”

I don’t know. Gue nggak bisa menerjemahkan perasaan lo. Itu sepenuhnya adalah kuasa lo. Lo adalah orang yang harusnya memikirkan itu sendiri, Jimin. Yang gue tau, lo jadi lebih ceria sekarang. Mata lo selalu kelihatan hidup, dan lo kayak nggak pernah kehabisan cerita soal Jungkook,” Taehyung mengulas senyum. “Gue sampai berasa udah kenal lama sama Jungkook saking seringnya lo cerita soal dia, tau?”

“Secepat ini?” Jimin bertanya, lebih ditujukan pada dirinya sendiri. “Gue baru kenal dia beberapa bulan, dan gue udah suka sama dia? Really ?”

Taehyung menyeruput americano miliknya sambil membuang wajah ke luar jendela; pada pemandangan kota Seoul dari apartemen studio Jimin yang tidak terlalu besar namun tidak juga terlalu kecil. Laki-laki yang sudah mengecat rambutnya jadi berwarna biru menatap hamparan gedung di luar jendela dengan tatapan menerawang.

“Ya emang suka sama orang harus memenuhi standar waktu tertentu? ‘Kan nggak. Lo bisa baru aja ketemu seseorang dan langsung jatuh cinta. Cinta ya, cinta aja. Nggak perlu harus ada A, B, C, dan syarat-syarat lainnya. If it happens, it happens.” Taehyung melirik Jimin. “Daripada lo bingung sendirian di sini, mending lo tanya Jungkook cewek itu siapa. It’s easier that way. Dan jangan lupa kalau lo masih harus ngasih Yoongi Hyung kejelasan. Dia belum nembak, that’s right. Tapi nggak menutup fakta kalau lo udah tau. Lebih baik lo kasih tau dia sebelum dia merasa kalau dia masih punya peluang; while in fact, he’s not.”

 

 

 

JEON JUNGKOOK

TO ADMIT JEALOUSY

 

RASANYA sudah lama sekali sejak Jungkook bertemu Jimin. Mungkin baru satu minggu, atau lebih, Jungkook tidak tahu. Yang ia tahu, sewaktu Jimin berdiri di depan pintu apartemennya dengan piama cokelat susu, Jungkook merasa rindunya membuncah tiba-tiba. Perihal sejak kapan ia memelihara rindu untuk laki-laki yang tinggal tepat di atas apartemen kakaknya, Jungkook juga tidak paham.

“Yoongi Hyung di mana?” Jimin bertanya. Matanya sibuk menghindari iris jelaga Jungkook yang sejak tadi asyik menjelajahi parasnya.

Sebelah alis Jungkook sedikit berkedut. “Pergi sama Seokjin Hyung sama Namjoon Hyung .”

“Gue nitip ini, kalau gitu,” kata Jimin sembari menyerahkan tiga susun kotak makan berbau harum.

Gestur terburu-buru Jimin dibaca Jungkook dengan sempurna. Seperti bagaimana lelaki itu menyerahkan kotak makan secara paksa, sebelum berbalik hendak pergi. Atau bagaimana cara Jimin menghindari matanya. Jungkook tahu lelaki itu merasa tidak nyaman, meski tak tahu apa alasannya.

“Sebentar,” kata Jungkook, mencekal pergelangan tangan Jimin demi mencegahnya kabur. “Jangan ke mana-mana.”

“Gue mau pulang.”

Jungkook mengerutkan dahi. “Lo kenapa?”

Jimin menarik tangannya, maksud hati hendak menepis tangan Jungkook meski berakhir gagal. “Nggak kenapa-kenapa.”

Seharusnya Jimin tahu kalau jawabannya tidak memuaskan. Bagaimana caranya Jimin menjelaskan pada Jungkook bahwa ia cemburu; pada perempuan yang dengannya Jungkook bagi waktu dan puluhan tawa. To admit jealousy is to lower your ego , kata Taehyung setelah ceramah panjangnya kemarin lusa. Tapi Jimin enggan mengakui bahwa bisa jadi ia jatuh sendiri di sini. Bisa jadi Jungkook tidak menginginkan Jimin sebagaimana Jimin menginginkan laki-laki itu.

“Sini, masuk dulu,” ajak Jungkook. Laki-laki itu menarik tangan Jimin dengan lembut, membawanya masuk pada apartemen yang sore itu hanya diisi oleh mereka berdua. Ia menyeret laki-laki yang lebih tua masuk ke ruang tengah, meletakkan kotak yang diambilnya dari tangan Jimin di atas meja makan, lantas menumpahkan seluruh perhatian pada Park Jimin yang kini kelihatan gugup bukan main.

Terpesona adalah kata yang Jungkook pilih untuk menggambarkan kondisinya saat ini. Tangannya sudah berganti tugas; beralih menggenggam kedua tangan Jimin yang sedikit kasar di permukaannya tapi hangat luar biasa. Ia menikmati perasaan ini, sewaktu hatinya berbisik bahwa tangan Jimin begitu pas berada dalam genggamannya seolah mereka memang diciptakan sepasang— untuk saling melengkapi . Jungkook tidak pernah sekali pun berpikir untuk mendefinisikan perasaannya, tapi barangkali sekarang ia harus melakukan itu.

Tapi sebelum itu—

“Gue boleh cium lo, nggak, Jimin?” Jungkook bertanya. Iris jelaganya jatuh pada bibir Jimin yang sedikit terbuka. Pada ranum merah muda yang hari ini rasanya mengiris-iris kewarasannya. “ It’s okay to refuse .”

“Siapa yang mau nolak?” kata Jimin dengan nada menantang.

Maka Jungkook tidak menyisakan ruang baginya merasa ragu. Dengan gerakan lembut, ia tarik tangan Jimin sampai tidak lagi ada jarak di antara tubuh mereka berdua; lantas menyambar bibir itu untuk kemudian melumatnya lembut. Kepala Jungkook terasa penuh oleh belasan baris puisi. Jemarinya beralih ke pinggang Jimin, menariknya mendekat seolah kedua tubuh yang beradu masih terasa terlalu jauh. Tangan lainnya ia selipkan ke tengkuk Jimin, menjaga bibir mereka tetap tertaut tanpa memberi kesempatan bagi lelaki itu menjauhkan diri.

Ciuman mereka berjalan lambat dan dua arah. Jungkook dan Jimin akan bergantian menghisap, menjilat, dan melumat satu sama lain seolah mereka berdua sudah haus akan bibir satu sama lain sejak lama. Sesekali erangan lolos, lenguhan lepas, dan ciuman mereka akan semakin bertambah panas. Ini gila , pikir Jimin. Sepuluh menit yang lalu, Jeon Jungkook masih berhasil membuat hatinya panas oleh nyala api cemburu. Sekarang, laki-laki itu sedang mencicipi bibirnya seperti singa kelaparan yang baru saja menemukan seekor domba gemuk.

Udah, Jungkook ,” Jimin berbisik di tengah ciuman mereka yang masih terus berlanjut. “Udah dulu.”

Jungkook menurut. Berpegang pada kalimat terakhir Jimin yang terdengar seolah akan ada lain kali bagi mereka dan ciuman yang memabukkan ini. Jadi Jungkook kecup bibir Jimin yang sudah bengkak dan memerah untuk terakhir kali sebelum memerangkap lelaki itu dalam dekapan hangat.

“Kemarin aja lo makan siang sama cewek, sekarang udah main cium-cium gue.” Gerutuan Jimin terdengar lucu; tenggelam dalam dada Jungkook yang sore itu dibalut kaos panjang warna putih. “Nggak punya tata krama.”

Alis Jungkook bertaut. “Cewek? Siapa?”

“Di Lotte. Hari Sabtu kemarin.”

Lalu kesadaran menghantam Jungkook, membuatnya tak bisa menahan kekehan geli. Ah, barangkali itu alasan kenapa Jimin bersikap dingin. Ia tahu dirinya mungkin sedang besar kepala, tapi Jungkook ingin berpikir bahwa Jimin sedang cemburu. “Itu Chungha. Pacarnya Hoseok, sahabat gue. Lo nggak liat emangnya kita lagi bertiga?”

Jimin mengangkat kepala, memandang Jungkook tepat di mata. “Hoseok?”

Jungkook mengeratkan pelukan, kembali menyembunyikan Jimin di dadanya. “Iya, Hoseok. Gue kenalin lo ke Hoseok nanti. Dia juga pengen ketemu,” kata Jungkook sambil sesekali mengusap rambut Jimin. “ You looked cute when jealous .”

Even I am surprised by the fact that I got jealous of you .”

Tawa Jungkook berurai lagi. “Gue pikir lo bakal malu,” katanya, mencium pelipis Jimin lagi dan lagi.

Jimin terkekeh geli. Hatinya mendadak hangat oleh rasa memiliki. Jungkook terasa dekat, dan harum yang keluar dari tubuh laki-laki itu memenuhi paru-paru Jimin lewat cara yang menyenangkan. Sulit rasanya percaya kalau Jungkook sedang memeluknya sekarang, dan mereka baru saja berciuman beberapa menit yang lalu. Mendadak kalimat Taehyung kembali terngiang di telinga Jimin. Kalimat yang sebelumnya sempat Jimin tangkis dengan argumen bahwa ia merasa malu dan tidak punya hak untuk merasa ingin tahu.

“Ah, tapi....” Kesadaran menghantam Jimin. Ia menyukai Jungkook, itu benar. Ia tidak lagi berniat menyangkal perasaannya sendiri. Tapi apakah Jungkook menyukainya? Laki-laki itu tidak pernah berkata apa-apa soal perasaannya pada Jimin, dan Jimin tidak berniat mengambil kesimpulan sendiri.

Itu baru persoalan pertama.

Persoalan kedua, Yoongi. Jimin masih belum bertemu laki-laki itu. Jimin masih belum mendapat kesempatan untuk bicara dari hati ke hati; soal perasaan keduanya yang kemungkinan tidak punya kesempatan sama sekali. Dan di sinilah dirinya sekarang, berpelukan dengan Jungkook yang entah mencintainya atau tidak, di dalam apartemen milik laki-laki yang jelas menyukainya.

“Soal— anu— Yoongi Hyung ....”

Membiarkan pelukan mereka berhenti terjalin, Jungkook dapat menangkap maksud yang hendak Jimin sampaikan. Tentu saja, pikirnya. Jimin tidak bodoh. Ia pasti mengerti makna tersirat dalam kedua mata Yoongi setiap lelaki itu menatap matanya. Juga tingkah lakunya, perkataannya, perhatiannya— Jungkook bahkan mulai merasa bersalah . Tapi ia biarkan tangannya naik dan mengusap pipi Jimin selembut yang ia bisa; berharap bahwa elusan tangannya bisa sedikit membantu mengusir keraguan dalam hati Jimin. Entah bagaimana pun bentuk keraguan itu.

“Nanti gue ngomong ke dia juga,” kata Jungkook. Nadanya terdengar yakin sampai Jimin bisa merasakan bahwa hatinya meleleh lagi.

“Ngomong apa?”

That I like you , like a lot , dan gue nggak mau ngalah sekalipun dia kakak gue.”

“Lo kedengaran yakin,” timpal Jimin sangsi.

Jungkook tersenyum miring. “Gue memang seyakin itu.”

Maka Jimin putuskan untuk berhenti merasa takut. Untuk berhenti bertanya. Untuk mulai percaya. Untuk membiarkan Jeon Jungkook merapatkan kembali tubuh mereka seolah laki-laki itu tidak tahan pada jarak sekecil apa pun. Untuk membiarkan napas Jungkook membelai permukaan kulit pipinya, dan ujung hidung mereka saling beresentuhan. Untuk membiarkan dirinya hanyut pada segala goda yang Jungkook punya. Untuk mengangguk sewaktu Jungkook berkata: “Gue boleh cium lo lagi?”

Sebab, demi Tuhan, Jimin jatuh cinta. Pada Jungkook dan segala sesuatu yang laki-laki itu punya.

 

 

 

PARK JIMIN

THE BROKEN FAMILY

 

SEHARUSNYA Jimin percaya pada instingnya. Seharusnya ia mendengarkan Taehyung. Seharusnya Jimin bisa bergelung dalam selimut tipisnya, menonton Netflix, minum es cokelat, memeluk Jungkook, dan menghabiskan hari dengan bermalas-malasan. Seharusnya Jimin tidak datang ke sini hari ini hanya demi memenuhi rengekan ayahnya. Seharusnya Jimin tidak perlu mendengar omong kosong dari bibi-bibinya, dari neneknya, dan dari orang-orang yang tidak lagi sudi ia panggil keluarga.

“Gimana sih, anakmu itu, Jinsung? Bisanya cuma buat malu keluarga saja.”

“Sudah kubilang sebaiknya kita bawa saja dia ke dukun. Aku kenal orang yang berpengalaman mengatasi masalah seperti ini.”

“Harusnya dulu kau tidak menikah dengan perempuan itu, Oppa . Lihat sekarang jadinya? Punya anak yang sakit begini.”

“Makanya kubilang jangan undang dia. Melihat wajahnya saja aku mual.”

Kata siapa rumah biasanya berisi kehangatan? Beri tahu Jimin siapa orang yang pernah berkata begitu agar dia bisa mengajak orang itu berkelahi sekarang juga. Rumah Jimin tidak pernah berisi kehangatan sejak ia sekolah menengah. Rumah Jimin tidak menyisakan ruang baginya untuk bernapas, lebih-lebih menjadi dirinya sendiri. Orang-orang di rumahnya sibuk mencaci Jimin, menghakiminya, mengucilkannya, mencari kesenangan di atas rasa sakit hatinya. Rumah Jimin membencinya, dan Jimin juga sama.

“Iya, buat apa undang aku?” Jimin membalas. Tangannya terkepal di sisi tubuh sewaktu ia bangkit berdiri dan memandang wajah-wajah di depannya dengan tatapan penuh amarah. “Kenapa Nenek tidak tanya ke anak Nenek, kenapa dia terus-terusan minta aku datang? Kalau Ayah tidak menelepon terus sampai terasa mengganggu, memangnya aku mau capek-capek datang ke sini dan mendengarkan omong kosong kalian?”

Nenek balas memelototi Jimin. Pupilnya mengecil dan setiap warna di wajahnya seperti hilang. Hati Jimin mendadak sakit oleh wajah yang tidak pernah bisa ia abaikan itu; wajah perempuan yang pernah dengan bangga mengelu-elukan nama Jimin ke semua orang yang ia kenal. Nenek pernah bersikap baik pada Jimin sebelum keluarganya pecah berkeping-keping.

“Lihat anak itu!? Berani-beraninya berkata kurang ajar pada Ibu!” Minyoung, istri Ayah, berseru marah. Perempuan yang selalu memandang Jimin seperti seorang benalu itu bangkit dan berjalan ke arah Jimin. Tangannya terayun cepat, meninggalkan bekas merah pada pipi Jimin.

Dalam kepala, Jimin mulai bertanya-tanya sejak kapan segalanya mulai berjalan ke arah yang salah.

Ah, itu sejak ia berkata jujur pada Ayah dan Ibu kalau ia mencintai seorang laki-laki.

Maka Jimin tidak perlu berpikir dua kali untuk membalikkan tubuh. Ia tidak bisa tinggal lebih lama di tempat ini. Ini bukan keluarganya. Ia tidak punya keluarga, dan Jimin sudah cukup bisa berdamai pada kenyataan itu. Ia biarkan Ayah menahan amarah Bibi dan makian-makian yang terus datang. Telinganya tidak lagi menangkap kemarahan Nenek, tidak lagi memedulikan hinaan-hinaan yang datang dari para sepupu. Jimin memutuskan ia tidak lagi peduli.

“Oh, satu lagi,” kata Jimin, sewaktu tubuhnya mencapai pintu depan. “Tolong jangan pernah telepon aku untuk datang ke sini lagi, Ayah. Aku menerima Ayah karena Ayah juga menerimaku. Kalau Ayah mau, Ayah bisa datang ke rumahku. Tapi aku nggak mau melibatkan diriku lagi di keluarga Ayah. Aku capek kalau setiap kali hal-hal seperti ini terjadi, Ayah selalu meninggalkanku dan aku harus terus-terusan membela diriku sendiri.”

“Jimin—“

“Aku pergi.”

Bunyi clek pelan meredam suara-suara bising di belakang punggung Jimin. Lorong apartemen malam itu terasa dingin dan hening. Seolah menjadi kompensasi bagi riuh dalam kepala Jimin yang tidak mau berhenti berdengung. Kilasan-kilasan itu mendadak kembali lagi. Kejujurannya, tamparan Ibu, makian Nenek, perceraian orang tuanya, hidup Jimin yang terkatung-katung, kerja sambilan di tiga tempat dalam satu hari, gosip-gosip miring soal dirinya di kampus, dan kesendirian yang mati-matian Jimin coba usir meski tidak pernah berhasil.

Jimin ingin menangis.

 

 ∞

 

JEON Jungkook datang. Ia benar-benar datang.

Sewaktu Jimin secara tidak sadar memencet tombol panggil dan mendengar suara serak Jeon Jungkook di seberang sambungan, ia pikir laki-laki itu enggan mengorbankan waktu tidurnya untuk mendatangi Jimin. Percakapan singkat mereka berakhir dengan kalimat Jungkook, ‘ Tunggu, gue ke sana. Jangan ke mana-mana ’. Jimin dengan patuh menunggu di halte, di depan apartemen ayahnya sambil terus menangis tanpa suara. Ia ingin berhenti menangis. Jimin tidak mau menyambut Jungkook dengan mata bengkak dan hidung memerah. Tapi sesak di dadanya rasanya tidak pernah berkurang; malah terus bertambah.

It’s okay. I’m here, I’m here.

Pelukan Jungkook membuat tangis Jimin menjadi lebih keras dan lebih pilu. Usapan tangannya di tengkuk dan kepala Jimin terasa hangat dan menenangkan. Laki-laki itu berkali-kali berkata bahwa ia ada di sini, ada bersama Jimin, dan bahwa Jimin sudah bertahan dengan sangat baik sampai detik ini. Isakan Jimin terus terdengar, membelah sepi di halte bus yang hanya ditempati mereka berdua.

“Nggak apa-apa, Jimin. Gue di sini.”

 

 ∞

 

IBU dan ayah cerai sewaktu gue sekolah menengah pertama. Ayah selalu merasa bahwa Ibu terlalu asyik dengan dirinya sendiri sampai menelantarkan kami berdua. Ibu bilang, Ayah terlalu membatasi pergerakannya. Gue nggak bisa berhenti bertanya-tanya kenapa Ayah dan Ibu bisa menikah. Sifat mereka terlalu berbeda.”

Jemari Jungkook terselip di antara helai-helai rambut Jimin, membelai kulit kepalanya dengan pelan dan hati-hati. Mereka berbaring berhadapan di atas ranjang Jimin yang sedikit sempit untuk ditempati dua orang. Ditemani temaram lampu meja dan sayup-sayup suara pemanas.

“Lalu dua tahun kemudian, di makan malam keluarga yang selalu Ayah dan Ibu adakan setiap bulan, gue keluar sebagai gay . Gue suka sama seorang kakak kelas waktu itu. Pertama kali gue sadar, gue panik banget, Jungkook. Bener-bener panik sampai gue nggak berani nyapa siapa pun atau bahkan keluar kamar sewaktu ada orang. Gue ngerasa kalau gue nggak normal. Bukan sekali dua kali gue denger keluarga gue ngasih insulting remarks tentang orang-orang kayak gue.

“Tapi sewaktu gue tanya ke Ayah, apa dia bakal nerima gue seandainya gue beda , he said he will, Kook. Taehyung sampai harus terus-menerus ngasih gue dukungan moral sebelum gue berani bilang ke Ayah sama Ibu. Tapi Ibu marah banget. Dia....” Jimin menarik napas. Tangisnya jatuh lagi membasahi permukaan bantal. “...dia bilang gue anak yang gagal. Gue nggak pernah ditatap setajam itu sama Ibu.”

Jimin masuk dalam pelukan Jungkook, menyembunyikan tangisnya pada dada laki-laki itu sambil mencari penghiburan. Jungkook membiarkan Jimin melakukan apa pun yang ia mau, sambil terus berupaya mengingatkan laki-laki yang lebih tua bahwa ia ada di sini. Jungkook akan selalu ada di sini.

“Jangan diterusin kalau nggak sanggup, Jimin.”

“Ayah masih support gue setelah itu, sambil mati-matian nyembunyiin dari keluarga besar kalau gue gay . Dia nikah sama Tante Minkyung tiga tahun setelah cerai sama Ibu. Tante Minkyung nggak pernah liat gue sebagai manusia. Dia bahkan nggak ngebiarin gue deket sama anak sambung Ayah karena takut gue nularin penyakit gue ke anaknya.

Ibu nggak pernah satu kali pun angkat telepon gue. Kalimatnya masih terus-terusan kedengaran di telinga gue, Jungkook. She said I was a failure. She said I was taught wrong. It was actually funny because she never once taught me anything, yet she thought that she had the audacity to criticize my education.”

I am so sorry .”

Jimin menggeleng. Rambutnya menggelitik dagu Jungkook sewaktu kepalanya bergerak-gerak. “Pas Nenek dan Bibi-Bibi yang lain tau, mereka maki-maki gue. Mereka nyuruh gue keluar dari rumah, dan Ayah nggak ngomong apa-apa. Dia cuma diem di belakang mereka, nggak berani ngeliat ke gue. Gue baru tahu setelahnya kalau yang ngasih tau Nenek dan keluarga besar kalau gue gay ternyata ibu tiri gue sendiri.”

Bahu Jungkook menegang, dan Jimin tahu lelaki itu barangkali merasa kaget. Hidup Jimin ternyata tidak secerah apa yang dia perlihatkan di luar. Pelukan laki-laki itu mendadak mengerat, seolah berusaha meyakinkan Jimin bahwa laki-laki itu aman di sini bersamanya .

“Kamu udah lewatin semuanya dengan baik, Jimin. You are so brave. The bravest I have ever met.

“Aneh denger aku-kamu ,” kata Jimin, menyempatkan tertawa di tengah atmosfer sendu yang melingkupi mereka berdua.

Dalam duganya, Jimin pikir Jungkook akan protes. Tapi laki-laki itu hanya diam dan menghujani puncak kepala Jimin dengan kecupan-kecupan ringan. Hangat tubuh dan wangi yang menguar dari fabrik pakaian Jungkook membuat Jimin merasa nyaman. Kesedihan dan kecemasan yang ia simpan rasanya luruh di bawah sentuhan laki-laki itu, dan Jimin tidak keberatan dimanjakan. Dia menikmati segala afeksi yang Jungkook berikan tanpa berniat protes sama sekali .

“Mau aku-kamu terus, boleh, nggak?” tanya Jimin.

Jungkook terkekeh geli sewaktu ia rasakan bibir Jimin mencium tulang selangkanya. “Selalu boleh kalau buat kamu.”

 

 

 

JEON JUNGKOOK

THE NAKED TRUTH

 

ADA empat botol soju, tujuh kaleng bir, dan belasan puntung rokok berserakan di atas meja ruang tengah sewaktu Jungkook berjalan masuk. Yoongi tidur meringkuk di atas sofa. Sesekali erangannya akan terdengar memecah keheningan, diikuti kerutan di alis dan gerakan-gerakan yang lelaki itu buat dalam tidurnya yang tidak nyaman. Jungkook tidak protes. Ia berjalan ke jendela yang membatasi antara ruang tengah dan balkon, membukanya, lantas membereskan sisa-sisa kekacauan yang Yoongi buat semalam.

Jungkook tidak mau menyangkal fakta bahwa hatinya digelayuti rasa bersalah. Sedikitnya, Jungkook berani menduga soal kenapa Yoongi mabuk-mabukan sendirian semalaman. Kakak lelakinya terlihat patah hati, dan Jungkook tahu bahwa ia adalah salah satu penyebabnya.

“Udah balik, lo?” Suara serak Yoongi terdengar sewaktu Jungkook memasukkan kaleng bir dan botol soju ke dalam dua kantong sampah berbeda. Mata lelaki itu menyipit sampai menyisakan hanya segaris celah.

Jungkook bergumam pendek sebagai balasan.

“Jadian lo, sama Jimin?”

Gerak tangan Jungkook terhenti di udara. Pertanyaan itu terdengar jauh di telinganya. Seolah ada jarak belasan meter antara dia dan Yoongi, meski faktanya mereka hanya terpisah beberapa kaki. Jungkook melihat bagaimana Yoongi bangun dan menyisir rambutnya yang berantakan, bagaimana laki-laki itu memakai sandal rumahnya dan bergerak menuju dapur.

I saw his updates . Nggak perlu bingung mau jawab apaan.”

“Gue nggak jadian– belum .”

Bunyi tak terdengar sewaktu Yoongi meletakkan gelas kaca di atas konter dapur. “Lo suka sama dia?”

I do.

“Sebesar apa?”

Jungkook melanjutkan kegiatannya yang tertunda, memasukkan sisa dua botol soju sebelum mengikat plastik yang dipegangnya untuk dibawa keluar nanti. “Nggak tahu.”

Yoongi menggigit bibirnya. “Gue suka sama dia, Kook.”

“Gue tau, Hyung . Dan gue nggak akan mundur karena itu.”

“Gue juga nggak minta lo mundur,” kata Yoongi, tersenyum tipis. “Tapi keputusan terakhir tetep Jimin yang bikin.”

“Gue minta maaf,” Jungkook berkata lirih, tidak berani memandang pada kakaknya yang kacau balau.

“Nggak ada yang perlu dimaafin, Jungkook. Itu perasaan lo. Even you have no power of choosing who to love . Apalagi gue?”

Tidak ada yang salah dari pernyataan Yoongi; pun perasaan yang bercokol di hati Jungkook. Ia hanya merasa tidak berdaya. Pada perasaannya, dan luka yang ia toreh di hati kakaknya. Meski seperti yang Yoongi bilang, Jungkook tidak bisa memilih pada siapa ia jatuh hati. Ia tidak punya kuasa untuk berlagak melindungi orang-orang dari rasa sakit hati. Ia hanya Jungkook.

You’re my brother before anything, Dek.”

“Kalau gue ngelakuin itu lagi gimana, Hyung ? Things I did to Jihyo? Mundur dari apa yang gue mulai sendiri?”

Then I will be there for you as your brother, and be there for him as his friend . Falling out of love pasti terjadi ke hampir semua orang, Jungkook. Masalahnya ada di cara lo menanggapi itu,” timpal Yoongi. “Dan lagi, yakin banget lo bakal diterima sama Jimin?”

I have confidence .”

Yoongi tertawa. Tawa yang rasanya sudah lama sekali tidak Jungkook dengar. Tawa yang membawa Jungkook pada kelegaan luar biasa. Senyum perlahan-lahan terbit di bibir Jungkook, beriringan dengan tawa kecil yang lepas dari tempat Yoongi berdiri.

“Kalau gue mau galau, lo nggak usah nemenin. Nggak usah ngerasa bersalah, nggak usah sedih buat gue. Because I will be fine. I just need time .”

Jungkook mendengus. “Bilang aja lo nggak mau ngelakuin hal itu kalau gue yang galau. Iya, kan?”

Yoongi tergelak. “Lo emang paling tau.”

Pagi itu, Jungkook merasa bahwa beban di kedua bahunya mendadak terangkat. Jungkook tahu bahwa ia terus-menerus berterima kasih pada siapa pun perencana di semesta ini atas kehadiran Yoongi di hidupnya. Pagi ini, rasa syukur itu bertambah. Mungkin akan bertambah lagi, dan lagi, seiring dengan berjalannya waktu.

 

 

 

JIMIN

FINDING HAPPINESS

 

 

 

Jeon Jungkook

Hati-hati di jalan

 

PESAN terakhir dari Jungkook membuat Jimin merasa risau. Padahal ia sudah duduk manis di kursi penumpang mobil Yoongi, menerobos kemacetan rush hour di Seoul untuk pergi ke Gangnam. Suara dari album Speak Now Taylor Swift mengisi kesunyian di dalam mobil yang enggan Jimin pecahkan. Ia memandang ke luar jendela, menatap barisan gedung dan jalanan yang ramai seolah tidak ada lagi hal menarik untuk dilakukan. Kepalanya sibuk berputar pada pesan terakhir dari Jungkook dan spekulasi Jimin yang mulai liar.

Barangkali Jungkook cemburu. Atau barangkali laki-laki itu tidak lagi percaya bahwa Jimin mencintainya. Barangkali Jungkook berpikir bahwa Yoongi lebih baik bagi Jimin. Atau bisa jadi Jungkook sadar bahwa ia tidak mencintai Jimin sebesar itu . Setidaknya, cukup besar untuk menantang kakaknya.

Jimin cemas, dan kecemasannya masih terlihat jelas sekalipun ia sudah susah payah mencoba menyembunyikan. Mungkin sebab kecemasan yang terbaca jelas itu, Yoongi akhirnya meminggirkan mobil. Menjauh sebentar dari barisan roda empat yang sejak tadi ramai lalu-lalang di jalanan Seoul.

“Kok minggir, Hyung ?”

“Lo keliatan nggak nyaman dari tadi. Mau pulang aja?”

Bagaimana caranya Jimin menjelaskan ketidaknyamanan dalam dirinya tanpa membuat Yoongi merasa buruk? Bagaimana caranya Jimin menjelaskan pada Yoongi bahwa ia sedang habis-habisan memikirkan Jungkook, sekalipun ia tahu kalau Yoongi sedang berusaha mengambil kesempatan yang mungkin saja sejak awal tak pernah Jimin beri?

“Maaf, Hyung,” kata Jimin setelah jeda yang agak lama. Entah maaf untuk apa. Dadanya mendadak sesak sewaktu ia lihat bagaimana ekspresi Yoongi mengendur. Seperti melihat anak kecil yang baru diberi tahu bahwa peri gigi tidak meninggalkan uang sebagai ganti gigi mereka yang tanggal di bawah bantal. 

Pegangan Yoongi pada setir mobil mengerat. Pria kepala tiga itu bisa mengerti ke mana arah pembicaraan singkat mereka yang ambigu. Ia sudah menerka. Jujur saja, sejak kencan mereka yang tidak sengaja terinterupsi, Yoongi sudah bisa membaca bahwa ia tidak punya kesempatan sama sekali. Bahwa antara adik tirinya, dan laki-laki yang ia cintai, ada sesuatu yang sudah terjadi. Ada cerita-cerita yang tidak melibatkan Yoongi.

Kalau boleh jujur, Yoongi merasa bingung. Ia merasa marah, merasa sedih, merasa kecewa… dan setiap emosi yang dirasakannya terasa tidak betul-betul nyata. Yoongi merasa tidak berdaya. Sampai akhir, Yoongi masih ingin bermimpi bahwa Jimin menyimpan namanya di suatu tempat di dalam hati. Yoongi masih ingin berpegang pada asa yang tidak seberapa itu, dengan dalih bahwa sampai Jimin secara tegas mengatakan bahwa Yoongi tidak punya kesempatan, ia akan terus mencoba.

Mungkin Yoongi hanya terlalu keras kepala.

“Maaf karena gue udah tau ini lama, tapi terus pura-pura bodoh. Maaf kalau gue bikin lo ngerasa kalau gue kasih lo harapan, padahal akhirnya gue tau kalau perasaan gue nggak ngarah ke lo. Maaf kalau kita harus ngomong di kesempatan kayak gini, di tempat yang kayak gini. Gue betul-betul minta maaf, Hyung.”

Di bawah keremangan lampu jalan, Yoongi melihat Jimin menangis. Ia melihat rasa bersalah pada raut yang biasanya ceria itu. Membuat Yoongi ingin ikut menangis. Sedih sebab tahu ia tidak punya peluang, sekaligus terharu sebab sadar bahwa Jimin merasa dirinya cukup penting untuk ditangisi.

Patah hati bukan tanggung jawab siapa-siapa. Yoongi mengerti hal itu ketika ia mengobrol dengan Jungkook beberapa hari yang lalu. Bukan salah Jungkook dan Jimin kalau pada akhirnya mereka saling jatuh cinta. Bukan salah Yoongi karena mencintai orang yang salah. Pada akhirnya semesta akan selalu punya cara untuk membuat manusia belajar. Patah hati hanya salah satu di antaranya.

“Gue turunin lo di sini nggak apa-apa, Jimin?” kata Yoongi, tidak membalas permintaan maaf yang terus meluncur dari bibir Jimin. Maaf-maaf yang gagal menambal luka di hatinya yang kadung tergores. “Gue perlu waktu sendiri. Gue nggak marah sama lo, atau sama Jungkook–”

“Lo tau?”

Yoongi tersenyum tipis. “Gimana bisa nggak tau? Cara lo liat dia, adalah gimana cara gue liat lo selama ini. Gue nggak mungkin nggak sadar, Jimin.”

Jimin tidak menimpal.

“Gue nggak bakal pulang malam ini. Lo samperin Jungkook sekarang, kasih tau dia perasaan lo, dan fokus sama kebahagiaan kalian berdua.” Sambil berkata begitu, Yoongi terus-menerus mengulang kalimat yang sama di dalam kepala. Bukan salah siapa-siapa, Yoongi .

Yoongi menelan ludah, lantas melanjutkan kalimatnya yang belum selesai. “Jangan mikirin gue. Gue bisa handle perasaan gue sendiri. Tapi lo dan Jungkook, jangan sampai nyesel kayak gue. Bilang saat lo masih bisa bilang. Usahakan saat lo masih bisa usaha.”

Yoongi tahu ia sedang berdusta. Ia tahu dirinya sedang bertaruh pada ketidakpastian. Tapi siapa peduli? Apabila Jimin dan Jungkook memang saling menyukai, maka biarkan saja mereka bahagia tanpa perlu memikirkan dirinya yang kepayahan sendiri. Yoongi bukan lagi remaja yang terombang-ambing perasaan. He can keep his feelings in check .

“Pergi sekarang, Jimin. Adik gue bisa jadi lagi minum sendirian di apartemen karena mikir lo berubah pikiran dan tiba-tiba kepingin sama gue.”

Maka Jimin membuka pintu kursi penumpang, masih dengan jejak tangis di pipi yang belum kering. Angin malam menerbangkan helai-helai rambutnya, yang pernah beberapa kali terselip di balik jemari Yoongi sewaktu ia elus pelan. Matanya sembab, dan hidung kecilnya memerah pasca menangis. Yoongi sempat meragu, dua detik, sewaktu Jimin menoleh padanya sebelum menutup pintu mobil.

Tapi lagi-lagi, kesungguhan di mata laki-laki yang Yoongi sukai itu bukan diperuntukkan baginya. Yoongi bukan orang yang Jimin pilih, dan malam ini menandai berawalnya hari-hari Yoongi berdamai pada kenyataan itu.

“Maaf, Hyung,” kata Jimin lagi.

Lalu pintu menutup. Meninggalkan Yoongi bersama lagu Dear John dari Taylor Swift yang mengalun pelan dari radio. Lewat spion mobil, Yoongi melihat punggung Jimin perlahan menjauh, sebelum hilang dalam taksi jingga yang dicegatnya setelah selang tiga menit. Untuk terakhir kalinya Yoongi ingatkan pada dirinya sendiri bahwa ini adalah akhir bagi perasaannya; dan bahwa cinta Park Jimin tidak ditujukan padanya.

 



 

JUNGKOOK

A STORY OF TWO

 

2020

 

JEON Jungkook, suyuk buatan lo emang paling top!”

“Sumpah, Kim Namjoon, udah kubilang kamu jangan pegang pisau!”

“Bisa ambilin bir di kulkas nggak, Jimin? Aku udah beli stok sama Yoongi semalem.”

Musim panas dua ribu dua puluh dihabiskan Jungkook di depan kompor, dengan perut babi yang hampir matang, dan perut babi-perut babi lain yang menunggu dimasak. Ia baru mandi sekitar pukul empat sore tadi, tapi baru dua jam dan Jungkook merasa ingin mandi lagi. Kaos yang dipakainya sudah hampir dipastikan bau asap dan bumbu, dan ia mulai lelah mendengar hiruk-pikuk yang terjadi di vila yang mereka sewa.

Chungha tidak berhenti merecoki Jungkook sejak tadi, mengintip langkah-langkah Jungkook memasak suyuk untuk ia praktikkan di apartemen nanti. Hoseok sibuk di depan mesin espreso, mengisi gelas kopi kedelapan yang dibuatnya sore ini. Namjoon menunduk dimarahi Jinah lantaran berlagak mengiris bawang bombay sebelum berakhir melukai diri sendiri. Taehyung membantu Jimin membawa dua puluh kaleng bir dari lemari pendingin, meletakkan mereka secara asal di atas meja makan besar di luar. Seokjin sibuk memanggang sisa perut babi dengan Yoongi, sesekali menertawai candaan Seokjin yang mirip orang tua. Jieun sibuk memasak sayur-sayuran, dan tidak ada satu orang pun yang berniat mengganggunya sebab ia bisa jadi sangat galak kalau mau.

“Wangi, deh.”

Pujian itu mampir ke telinga Jungkook dibarengi lengan kecil yang melingkar di pinggangnya. Park Jimin meletakkan dagunya di atas bahu Jungkook, sebelum mengecup bahu kekasihnya yang Jungkook yakini tidak lagi sewangi tadi. Ia sudah berdiri di depan kompor selama dua jam, omong-omong.

“Aku bau, Jimin. Geser dikit.”

“Nggak mau.” Alih-alih lepas, Jimin malah mempererat pelukan. “Dari tadi pacarku diculik Chungha terus, aku kangen.”

Jungkook tertawa. Diletakkannya spatula kayu yang ia pakai mengaduk isi panci, lantas berbalik membiarkan pipi Jimin menubruk tulang selangkanya. “Nanti malam aku punya kamu.”

“Gak, gak,” Seokjin muncul dengan tangan masih memegang penjepit makanan. “Gue nggak mau ada suara-suara aneh. Kamar gue tepat di samping kamar lo ya, Jimin. Jadi awas aja lo berdua aneh-aneh.”

“Biarin aja sih, Seok. Lo kayak gak pernah muda aja.”

Seokjin berdecak, memelototi Min Yoongi yang baru saja meletakkan penjepit makanan bekas pakainya di wastafel. “Emangnya gue udah tua banget, apa?”

Yoongi mengangkat bahu. Jungkook terkekeh, mengeratkan pelukan demi menyembunyikan Jimin yang sudah memerah.

"Jadi gimana, kabar Jihyo? Lo berdua sempet jengukin dia 'kan? Kandungannya sehat?" Itu Jieun, kekasih Yoongi, yang kembali ke dapur setelah beranjak sebentar ke ruang tengah untuk meletakkan tiga piring tumis bayam di atas meja makan.

"Sehat banget. Eui-gon jadi lebih perhatian. Well, dia emang selalu perhatian, unlike someone ," Jimin menjawab. Sekilas memberi lirikan iseng ada Jungkook yang berpura-pura bodoh. "Suka panik dan jadi super protective . Lo harus liat gimana paniknya dia pas Jihyo bilang mau masak."

"Jihyo tuh hamil berapa bulan, sih? Enam?" Jinah, yang selesai memaksa Namjoon untuk duduk di ruang baca alih-alih coba membantu di dapur, datang menimbrung. "Gue agak gak percaya kalau pada akhirnya Jimin sama Jihyo malah lebih rapet daripada Jungkook sama Jihyo."

"Gak boleh deket-deket mantan, karena Jimin cemburuan," Jungkook menimpal jenaka.

Jimin mendengus, melepaskan pelukan demi memberi ruang bagi Jungkook untuk kembali berkutat dengan suyuk yang belum matang. "Cemburu apaan. Aku tau kamu head over heels sama aku. There's nothing to be jealous of. "

Chungha tertawa. " Says the one who once got jealous because of me . Who are you trying to fool, Park Jimin?"

Dan tawa pecah di dapur. Jimin ikut tersenyum. Dalam gelak yang sahut-menyahut itu, waktu baginya terasa bergerak lambat. Melihat Yoongi dan Jieun berdiri di sisi masing-masing dengan tangan melingkar pada pinggang, Jinah dengan gelas americano buatan Hoseok di tangan kanan, Chungha dan kesibukannya menanyai Jungkook soal menu makanan, dan liburan musim panas mereka yang ramai penuh kehangatan. Jimin pikir hidup tidak bisa menjadi lebih baik lagi.

" I love you ," Jungkook berbisik. Tangan lelaki itu, yang penuh tato dalam balutan kaos lengan pendek abu-abu, melingkar kasual di pinggang Jimin.

Jimin tersenyum. Membiarkan bibir kekasihnya mendarat di pelipis. " I love you more. "

Hari ini, Jimin pikir, hidupnya sempurna.



 

2019

 

BUNYI bel mengusik senyap yang dipelihara Jungkook sejak ia pulang ke rumah. Tangan kanannya memegang satu kaleng bir yang tandas setengah. Sibuk menemani penikmatnya melamun memandang kosong ke arah televisi yang mati. Kepalanya sedikit berputar, tapi Jungkook enggan beranjak. Ia ingin menikmati kesendirian ini lebih lama. Hanya dirinya dan suara napasnya dalam kepala.

Ding dong!

Lagi. Jungkook menghitung sudah enam kali bel berbunyi dalam kurun waktu satu menit. Siapa pun yang berdiri di depan pintu apartemen kakaknya saat ini jelas bukan orang yang bisa bersabar. Jungkook bahkan tidak menimbulkan suara, sengaja memberi kesan bahwa tidak ada siapa pun di apartemen malam ini. Tapi orang itu, yang sudah menekan bel untuk ke tujuh  kalinya, seolah tidak peduli.

“Demi Tuhan, lo bisa nggak sih berhenti mencet bel sepuluh detik sekali? Gue lagi–”

Deja vu .

Park Jimin berdiri di depan apartemennya. Seperti pertemuan kedua mereka, di tempat yang sama. Dalam balutan oversized sweater warna putih, celana abu-abu, dan jejak tangis di kedua pipi. Rambutnya sedikit berantakan, dan Jungkook bisa melihat peluh berlinang di pelipis dan lehernya yang bersinggungan dengan sinar lampu lorong. Tapi Park Jimin tetap terlihat menawan. Ia selalu berhasil memesona Jungkook lewat cara-cara paling tidak terduga.

“Jungkook…” Jimin memanggil lirih. Sedikit tercekat di ujung kalimat.

Maka tidak perlu berpikir dua kali, Jungkook menarik laki-laki itu masuk dalam pelukan. Nalurinya berkata bahwa Jimin butuh dipeluk. Jimin butuh merasakan kehadirannya lewat sentuhan. Jungkook ingin memberi Jimin perasaan aman. Kalimat-kalimat itu berputar di kepala Jungkook; silang sengkarut dengan pertanyaan soal kenapa Park Jimin berdiri di sini, berada dalam pelukannya, alih-alih makan malam romantis bersama kakaknya?

“Kamu kok ada di sini?” tanya Jungkook. Tangannya aktif menepuk-nepuk punggung Jimin sambil berharap gestur kecil itu mampu membuat isakan laki-laki kesayangannya berhenti.

Jimin mengalungkan tangannya pada pinggang Jungkook. Sejenak melupakan bahwa mereka masih berada di lorong apartemen, dengan pintu yang masih terbuka dan peluang bisa dilihat siapa saja. “Mau ketemu kamu. Kangen. Sama mau bilang ke kamu perasaanku.”

Kepala Jungkook bekerja lambat di waktu yang tidak tepat. Kalimat Jimin sederhana, tapi entah kenapa ia butuh waktu yang cukup lama untuk mencerna. Apa kata Jimin tadi? Perasaannya? Tunggu, bukankah mereka sudah saling tahu? Jungkook tidak perlu afirmasi, ia sudah mengerti.

“Kamu suka sama aku?”

Jimin mendongak. Bibirnya mengerucut maju, dan mata sembabnya entah mengapa membuat laki-laki itu terlihat berkali-kali lipat lebih lucu. “Harusnya aku yang bilang.”

Jungkook terkekeh. Dikecupnya kedua kelopak mata Jimin bergantian sebelum berkata, “Nggak perlu kamu bilang pun, aku udah tau.”

“Kamu nggak romantis,” balas Jimin sambil menunduk lagi. Hidungnya menusuk dada Jungkook dan membuatnya sedikit kegelian.

“Aku cinta kamu, Park Jimin,” tutur Jungkook di tengah-tengah kekehannya.

Jimin mengulas senyum yang tidak bisa Jungkook lihat. “Cinta?”

“Hu-um. Cinta.”

Kekehan terdengar keluar dari sela bibir Jimin. Embusan napasnya terasa membelai permukaan kemeja yang Jungkook pakai. “Sama, kalau gitu.”

 

 

 

BONUS ㅡ YOONGI

THE ART OF LETTING GO

 

NAMJOON menggeser botol soju kelima Yoongi sewaktu lelaki itu hendak meraihnya. Yoongi berdecak, tapi tidak protes. Toleransi laki-laki itu terhadap alkohol cukup tinggi, tapi baik Namjoon maupun Seokjin tidak mau ambil risiko membiarkannya lebih mabuk lagi. Yoongi terlihat kacau. Sewaktu Yoongi berkata singkat di ruang obrolan mereka bertiga, berkata bahwa ia ‘ mau minum’ , Namjoon tahu bahwa ada yang tidak beres. Dan di sini lah mereka, di kedai minum pinggir jalan bersama Yoongi yang hampir mabuk.

“Jimin suka sama Jungkook,” kata Yoongi, membuka penjelasan soal kenapa ia tiba-tiba mabuk-mabukan sekarang.

“Jimin bilang sama lo?” Seokjin bertanya.

Yoongi menggeleng. “Gue cuma tau ," balasnya ambigu. "Lo harus liat cara mata dia natap Jungkook. Weekend kemarin, waktu gue bawa dia keluar. Kita ketemu Jungkook, sama cewek."

Yoongi menelan ludah. Ia butuh soju . Ia butuh sesuatu untuk membuat kepalanya tidak lagi membawa Yoongi kembali ke sore itu. Sewaktu ia lihat Jimin terluka, dan ia bisa dengar hatinya pecah di saat yang sama.

"Dia keliatan kecewa banget. Kayak mau nangis. Saat itu gue kayak tiba-tiba sadar kalau: ' Oh, gue ternyata gak punya kesempatan '."

Namjoon menghela napas. Ia melirik pada Seokjin, sama-sama tidak tahu harus berkata apa. Keduanya memutuskan untuk tidak menginterupsi lamunan Yoongi. Namjoon pikir, membiarkan sahabatnya itu mengurai sendiri isi kepalanya adalah keputusan yang paling baik.

“Gue harus gimana, ya, Nam?”

Kalau boleh berkata jujur, Namjoon tidak tahu. Ia dan Jinah tidak pernah berada dalam cinta segi tiga. Namjoon tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta pada orang yang sama dengan adik laki-lakinya, karena ia tidak punya adik laki-laki. Meski sedikitnya Namjoon bisa mengerti dari mana datangnya perasaan bingung Yoongi, Namjoon tetap tidak bisa seratus persen paham.

“Apa gue ngalah aja?” Yoongi bertanya.

“Kalau menurut gue, lo nyatain aja. Jimin berhak untuk tau perasaan lo. Lo harus kasih penegasan ke dia, biar perasaan lo nggak selamanya disimpen dan jadi dugaan aja,” Seokjin menandaskan sisa bir yang dipesannya dalam satu kali teguk. “Lo berhak dapat jawaban dari perasaan lo, Yoongi. Hubungan antara Jungkook dan Jimin bukan tanggung jawab lo.”

“Menurut gue,” Namjoon menelan ludah. “Kita gak harus ngorbanin kebahagiaan kita buat orang lain. Tapi pernah nggak sih, lo mikir, kalau ketika kita udah mikir buat berkorban, mungkin sebenernya di situ lah letak kebahagiaan kita. Kita bahagia dengan memberi kesempatan buat orang untuk bahagia. Kita bahagia dengan mengalah.”

“Jadi maksud lo, sebaiknya Yoongi nggak nyatain aja?” Suara Seokjin terdengar sangsi.

Namjoon menggeleng. Ia mengelus pinggiran gelas soju , memilah kata dalam kepala. “Maksud gue adalah, Yoongi emang nggak bertanggung jawab sama hubungan Jungkook dan Jimin. Tapi kita nggak bisa minta dia buat nggak peduli. Jungkook itu adik dia. Yoongi akan selalu peduli.”

Yoongi menatap Namjoon tepat di mata. Menunggu.

“Patah hati bukan tanggung jawab siapa-siapa, Yoongi. Kalau lo cinta, ya lo cinta. Jatuh cinta nggak selalu harus bersambut, seperti dia nggak selalu berakhir patah hati. Gue nggak mau lo berpikir kalau lo harus berkorban, atau kalau berkorban buat Jungkook adalah sebuah beban buat lo karena dia adik lo. Kalau lo merasa bahwa lo pingin berkorban, then do it .”

“Patah hati bukan tanggung jawab siapa-siapa,” Yoongi berkata, mengulang ucapan Namjoon sambil menerawang pada bagian luar kedai yang terlihat buram di balik terpal plastik.

Namjoon mengangguk. “Patah hati bukan tanggung jawab siapa-siapa kecuali lo sendiri. Sama kayak jatuh cinta.”



 

 

 

 

BEYOND SPARKLES - END.









 

 

 

 

 

 

Notes:

FYUH.
Akhirnya.
Selamat sudah menuntaskan kurang lebih 14 ribu kata. Aku bangga!!
Sejujurnya aku sadar bahwa ada banyak hal yang masih jadi pertanyaan di cerita ini. Tapi aku memutuskan untuk tidak menjawab itu, karena keterbatasan kemampuan. Aku minta maaf untuk itu. Aku akan membiarkan kalian merangkai sendiri ceritanya di kepala masing-masing. Semoga tidak mengurangi keasyikan membaca, sekalipun ada banyak hal yang masih menggantung.

Terima kasih sudah mampir.
Salam sayang,
Lou.