Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-01-02
Words:
1,039
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
30
Hits:
570

Mau nggak?

Summary:

Doyoung itu bukan tsundere, cuma suka malu-malu aja. Apalagi kalau berurusan dengan kekasihnya, Taeil.

Work Text:


 

 

 

Taeil menaruh gelas terakhir yang baru saja ia selesai cuci pada rak. Menggantungnya terbalik agar airnya cepat turun dan dapat kering dalam waktu yang cepat. Maklum, gelas itu bukan gelas biasa, melainkan gelas spesial pemberian adik tingkat sekaligus yang menjadi pacarnya hingga saat ini. 

Lelaki berumur 27 tahun itu berjalan mendekat kearah sofa ruang tengah apartmentnya yang berwarna krem. Mendudukan dirinya di samping sang kekasih yang sedang asik melakukan sesuatu pada tabletnya.

"Eh! Jaehyun bego munduran! Woy woy tolongin gue! Eh- ARGHH!!"

Seruan yang keluar dari bibirnya itu membuat Taeil sedikit berjengit kaget, lalu terkekeh pelan.

"Mati lagi?"

"Jangan ketawa ya!"

"Lho, kakak nanya ini sayang."

"Ish sebel banget, Jaehyun bego soalnya." Ucap Doyoung sambil mengerucutkan bibirnya. 

Lantas Taeil mengusak pelan surai halus milik lelaki yang memiliki paras seperti kelinci itu. 

"Bahasanya, sayang."

"Eh, iya maaf. Ini beneran kesel aja kok, serius, jangan marah kak yaa?"

Mendengar nada bicara Doyoung yang sedikit mendayu membuat Taeil merasa gemas dan kembali mengusak rambut kekasihnya.

"Kak udahan berantakin rambut aku deh."

"Ya, maaf. Gemes soalnya, siapa yang tahan liat kamu gemes gitu?"

"Aku nggak pernah kayak gini ke orang lain deh perasaan."

"Nah iya gitu, bagus. Jangan kayak gini ke orang lain, ke kakak aja."

"Posesif."

"Buat kamu doang, sayang."

"STOOOP! Kesambet kamu ya kak? Biasanya kaku juga."

Tangan Doyoung kembali menghidupkan tablet berwarna putih itu, ingin kembali bermain untuk menutupi rasa malunya.

"Malu ya kamu, Oyi?"

Doyoung membulatkan matanya begitu mendengar panggilan Taeil. 

"KAK!!" Doyoung beranjak dari posisinya, menjauh dari Taeil.

Sementara yang menggodanya, tertawa puas melihat reaksi yang Doyoung berikan. Taeil memukul pelan bantal sofa yang ada di dekatnya sebagai pelampiasan karena sikap gemas yang Doyoung tunjukan.

"Jangan menjauh dong, nanti nggak bisa kakak peluk."

Doyoung memutar bola matanya malas.

"Biasanya juga aku duluan yang peluk kakak. Di bilang kamu mah kaku huuu"

Sebenarnya, Taeil sedikit setuju dengan pernyataan yang Doyoung lontarkan. Semuanya memang benar. Jauh sebelum mengenal Doyoung, Taeil merupakan pribadi yang pendiam dan tidak suka bertele-tele. Ia juga malas berurusan dengan orang banyak dan kurang menyukai keramaian.

Entah apa yang membuat Doyoung malah menyukai segala sifat yang Taeil miliki dan berani untuk mengikis sedikit demi sedikit tembok tebal yang Taeil miliki. Usahanya membuahkan hasil ketika sore itu Taeil terlebih dahulu mengajaknya keluar untuk sekedar makan di angkringkan favortinya. Dan selanjutnya mereka semakin dekat, meski sifat Taeil belum berubah sepenuhnya, Doyoung masih berusaha dan berjuang untuk perasaannya sendiri.

Sampai ketika Taeil memantapkan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Doyoung. Respon yang lelaki itu dapatkan sangatlah diluar dugaan, Doyoung tertawa keras hingga hampir menangis. Lelaki bermarga Kim itu mengatakan bahwa hampir saja ia yang menembak Taeil terlebih dahulu jika malam itu Taeil tidak menyatakan perasaannya.

"Ih malah bengong, mikirin apa sih?" Ucapan Doyoung membuat Taeil sadar dari lamunannya.

Taeil tersenyum tipis, ia berjalan mendekati Doyoung dan kembali duduk disebelahnya. Badannya mendekati tubuh Doyoung lalu melingkarkan tangannya pada pinggang ramping kekasihnya itu.

"Eh eh kak? Kenapa nempel-nempel gini ih, minggir! Aku mau ngegame."

"Aku nggak bakal kaku lagi, Doyoung."

"Oh? Ya bagus. Gitu dong."

"Kok gitu aja responnya? Seneng dong?"

"Kamu udah ngomong kayak gitu berapa kali coba? Udah hapal aku mah. Bakalan tetep sama, nggak berubah."

"Kok gitu?"

"Ya emang gitu biasanya? Cium aku aja masih nggak berani sampe sekarang."

"Nanti kalo kakak cium, panik lho kamu."

"Halah kayak berani aja."

"Berani."

"Mana? Sini cium aku sekarang."

Taeil terdiam, asik menyelami seluruh keindahan pada wajah Doyoung.

"Tuh kan, nggak berani kan? Udah ah minggir kak."

Doyoung mendorong badan Taeil sedikit menggunakan lengannya. Namun posisi Taeil tetap sama, malah semakin memeluk Doyoung erat.

"Doyoung, taruh sebentar tabletnya."

Yang lebih muda menurut untuk menaruh tabletnya di meja dan menghadap Taeil.

"Kenapa kak?"

Dengan gerakan cepat, Taeil mengubah posisi Doyoung berada dalam pangkuannya. Kedua tangannya melingkar memeluk pinggang Doyoung dengan erat. Ini merupakan pertama kalinya Taeil dan Doyoung berada dalam posisi se intim ini.

"Kak...?" Doyoung mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap bingung Taeil yang berada sangat dekat dengannya.

Posisi wajah mereka sangat dekat hingga keduanya dapat merasakan deru nafas satu sama lain. Kerja jantung keduanya berubah menjadi lebih cepat.

"Doyoung."

"Iya?"

"Mau nggak?"

"Mau apa?"

"Mau nggak, Doyoung?"

"Apa dulu konteksnya?"

Tanpa Taeil ketahui, Doyoung mengerti arah pertanyaan yang kekasihnya itu lontarkan. Sekali lagi, ia hanya malu jika terlihat agresif diantara mereka berdua.

"Mau kakak cium?"

Akhirnya. Setelah 7 bulan usia hubungan mereka, akhirnya Taeil membahas hal ini.

"Mau kak. Mau cium. Tapi yang lama boleh?"

Taeil mengangguk cepat dan mengecup ringan bibir Doyoung. Selanjutnya, ia memagut bibir tipis itu dan melumatnya perlahan. Doyoung membalas ciuman lembut itu dengan sedikit kasar, ia tidak ingin menahannya lagi. Keduanya melanjutkan pergulatan bibir mereka yang terasa sangat manis, temponya mereka percepat demi saling memberikan kenikmatan. Sesekali Doyounh membuka matanya, memperhatikan bagaimana wajah Taeil yang berkali lipat lebih tampan ketika mencumbu bibirnya.

Ketika Taeil merasakan tepukan pelan pada lengannya, dirinya melepas tautan bibir mereka dan menatap Doyoung lekat. Cantik. Doyoung-nya terlihat sangat cantik dengan bibir yang memerah akibat kegiatan mereka beberapa detik yang lalu. Refleks, Taeil mengusap bibir indah itu dari lelehan saliva mereka berdua.

"Udah lama belum itu ciumnya?"

Pertanyaan Taeil sontak membuat lelaki itu malu dan pipinya merona. Taeil terkekeh gemas saat Doyoung mengumpat pada ceruk lehernya. Tetapi tanpa disangka, Doyoung memukul lengan Taeil dengan keras hingga pria bermarga Moon itu mengaduh kesakitan.

"Aduh sayang, kok di pukul sih?"

"Ya abis?! Nyebelin?!"

"Lah kan kakak cuma nanya? Udah lama belum? Kalau belom ya, ayo lanjut lagi."

"Idih, ketagihan kan lo kak?!"

"Ya bibir kamu manis, makanya ketagihan."

"STOP ASTAGA!"

Doyoung menggigit pelan bahu Taeil yang membuat Taeil sedikit meringis. Mendengar itu Doyoung mengangkat kepalanya, merasa bersalah.

"Eh kak... Maaf, sakit ya? Aku kekencengan ya gigitnya?"

Taeil hanya mengangguk dan diam menatap Doyoung. Tentu saja, ia berpura-pura kesakitan agar bisa menjahili kekasihnya lagi. Namun berbeda dengan Doyoung yang merasa semakin bersalah.

"Kak maaf... Maafin beneran tadi abisnya sebel sama kamu... Maafin ya, ya?"

"Iya, kakak maafin. Tapi dengan satu syarat."

Bibir Doyoung melengkung ke bawah.

"Apa syaratnya?"

"Cium lagi."

"Kamu isengin aku ya kak?" Tatap Doyoung penuh selidik.

"Yaudah kalau nggak mau di maafin."

Taeil beranjak bangun, namun badannya di tahan oleh yang lebih muda.

"Iya iya!"

"Iya apa?"

"Iya ayo itu..."

"Itu apa, Oyi?"

"Kak!"

"Apa? Nggak ikhlas nih?"

"Ih nggak gitu..."

"Jadi, mau nggak?"

 

 

"Mau."