Work Text:
Haechan tertawa keras saat dirinya menarikan koreo dance dengan urutan yang salah. Matanya menyipit dan bibirnya terbuka lebar kita menatap pantulan dirinya sendiri di depan kaca ruangan itu.
Jam dinding berwarna putih itu sudah menunjukan pukul 11 malam lewat 45 menit. Sudah seharusnya mereka menghentikan kegiatan mereka. Setidaknya beberapa menit lagi mereka harus beristirahat agar mendapatkan istirahat yang cukup pada dorm mereka yang pasti terasa hangat itu.
Selesai dengan tawanya, Haechan duduk dengan bersandar pada kaca ruangan berlatih mereka itu berlawanan dengan seseorang yang menemaninya sedari awal.
"Kak beneran deh, untung aja aku inget kalo aku gak sendirian dari tadi. Coba kalo gak, kakak udah jadi sasaran botol minum ku ini." Ucap Haechan sambil kembali membuka bibirnya karena tertawa pelan.
Yang di ajak berbicara hanya bisa mendengus lalu menggelengkan kepalanya.
Tangan gesit pria itu mengambil handuk kecil lalu melemparkanya yang tepat langsung diambil oleh Haechan.
"Thank youuuu!" Mark mengangguk.
"Mau pulang sekarang?"
"Bentar dulu, masih ngumpulin tenaga."
"Laper nggak?" Haechan mengangguk sekilas.
"Laper, tapi udah capek banget rasanya. Sampe dorm gak usah mandi aja kali ya? Mager."
"Jorok." Jawab Mark singkat.
"Pegel tau kak badanku ini, pengen langsung tidur bawaannya."
"Mau di gendong?"
"Heh gak usah lah, emang aku lumpuh?
"Yang bilang lumpuh siapa?"
"Ya abis kakak nawarin gendong gitu?"
"Ya kan nggak berarti kamu lumpuh?"
"Ya tapi kan? Ish."
Mark terdiam. Berdebat dengan Haechan tidak akan ada habisnya. Ia lebih memilih untuk mengalah ketimbang harus ribut dengan lelaki yang lebih muda setahun dari umurnya itu.
"Makan apa jadinya?" Tanya Mark sambil membereskan barang mereka berdua.
Iya, hanya tersisa mereka berdua. Awalnya mereka berlatih bersama, namun satu persatu member mulai meninggalkan ruangan itu dan menyisakan dua sosok adam tersebut di dalam ruangan.
"Ramyeon aja biar cepet." Kata Haechan sembari bangkit dari tempat duduknya menghampiri Mark.
Tangannya merangkul pundak Mark dan berjalan kearah pintu ruang latihan itu. Tanpa Haechan ketahui, detak jantung Mark memacu lebih cepat dari biasanya.
Tidak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk dapat sampai ke dorm. Yang lebih tua melangkahkan kakinya terlebih dahulu menuju dapur disusul dengan Haechan yang membantu Mark membuat makanan untuk mereka.
"Ngapain ikut? Mandi sana biar seger."
"Nggak ah nanti dapur kebakaran gimana? Takut ninggalin kamu sendirian di dapur kak."
Mark memutar bola matanya malas, lalu memasukan dua keping mie kedalam air yang sudah ia rebus sebelumnya. Terjadi keheningan diantara mereka sembari menunggu ramyeon itu matang.
Namun Haechan tetaplah Haechan.
"Kak telurnya 3 yuk?"
"2 aja, Chan. Jangan boros, ntar dimarahin Kak Doyoung."
"Ih gak bakal ketahuan juga, yayaya? Oke! Aku ambil dulu."
Mark hanya bisa tertawa pelan melihat tingkah usil Haechan yang entah kenapa, Mark sama sekali tidak terganggu dengan itu. Ia malah menyukai segala sifat usil dan lucu Haechan.
"Aku masukin telurnya yaa. Kak Mark jangan bilang ke Kak Doyoung ya? Awas aja."
Dengan cekatan, Haechan memasukkan 3 butir telur itu ke dalam panci ramyeon. Membiarkan dirinya melanjutkan kegiatan memasak dan menyuruh Mark untuk duduk saja melihat dirinya memasak. Tentu saja, Mark sangat menyetujui ide itu, kapan kagi ia dengan leluasa bisa mengagumi dan melihat Haechan tanpa adanya gangguan orang lain?
"Nah, jadi! Duh laper laper."
Haechan menaruh sumpit untuk Mark di atas meja dengan tidak sabaran. Segera lelaki itu mengambil mangkuk kosong untung tempat makannya dan mengambil ramyeon dari panci.
"Selamat makaan!."
"Iya, selamat makan. Pelan-pelan, awas keselek."
Peringatan dari Mark hanya di jawab oleh anggukan Haechan yang sedang menyeruput ramyeonnya. Ah, lucunya. Haechan lucu sekali. Tanpa sadar, Mark kembali menaruh sumpitnya dan fokus memperhatikan Haechan-nya yang sedang makan.
Oh, apa boleh? Apa boleh Mark memanggil Haechan 'Haechan-nya'? Bukankah berarti itu sebuah kepemilikan? Mark mau jika di izinkan. Memiliki Haechan sepenuhnya.
Namun tidak bisa. Mark tidak boleh bersikap egois dan semena-mena terhadap Haechan. Ia harus membuat Haechan tetap nyaman dan bahagia di manapun ia berada.
Haechan layaknya matahari yang selalu dapat menyinari hari-hari gelap yang Mark lewati. Memberikan hangatnya kapanpun Mark merasa sangat lelah. Haechan-nya, matahari-nya.
Kalau boleh jujur, Mark sangat menyayangi Haechan, dengan sepenuh hatinya. Tetapi Mark takut. Takut jika dengan hadirnya perasaan ini, semua akan berubah. Ia tidak dapat lagi melihat Haechan-nya, tidak lagi membuat Haechan-nya nyaman dan bahagia, yang paling penting, ia mungkin akan melihat Haechan-nya meninggalkan dirinya sendirian.
Tidak. Semua itu tidak boleh terjadi. Maka, Mark akan selalu menyimpan perasaan ini rapat-rapat. Tidak ada yang mengetahuinya selain Tuhan serta dirinya sendiri.
Matahari-nya harus tetap tersenyum, matahari-nya harus tetap memancarkan hangatnya, matahari-nya harus tetap bersinar terang.
"Kak? Kok bengong? Nggak makan nih? Aku habisin lho ya." Sumpit di tangan Haechan kembali meraup ramyeon di dalam panci.
Mark hanya bisa terkekeh pelan dan kembali menatap Haechan-nya.
"Jadi mau mandi nggak?" Haechan mengangguk sambil memakan telur kedua dari panci berwarna emas itu.
"Mau mandi bareng?" Tanya Mark tiba-tiba yang membuat aktifitas mengunyah Haechan berhenti.
"Bareng...?"
"Iya, mandi air hangat, biar rileks dikit otot tubuhmu. Sekalian mau aku gosok punggungnya?" Mark meneguk air dalam gelas diatas meja.
Haechan tampang bimbang dan ragu sebelum akhirnya ia menjawab.
"Oke, ayo mandi bareng."
Iya, lebih baik begini saja. Dengan begitu, Mark dengan leluasa bisa memberikan kasih sayangnya kepada Haechan, sang matahari pada hidupnya.
